Jumat, 26 April 2013

Pertumbuhan Jemaat-Jemaat GMIM Tomohon (2)

                                     

 

 

                                              Oleh: Adrianus Kojongian

 
 


Rumah Hulpprediker Johannes Hendrik Duyverman di Tara-Tara. *)



Zendeling lalu Hulppredikker Tomohon melayani jemaat-jemaat di bekas Distrik Kakaskasen yang kini masuk Kota Tomohon, yakni jemaat negeri Kakaskasen, Kinilow, Tinoor, Kayawu dan negeri terakhir yang dibentuk Wailan. Baru di tanggal 1 Januari 1951 jemaat-jemaat ini dipisah dari Klasis (telah bernama Jemaat Lingkaran) Tomohon. Pendeta Marthin Luther Mathindas menjadi Ketua Lingkaran sekaligus Ketua Badan Penyelenggara Jemaat Kakaskasen yang di masa berikut menjadi Wilayah Kakaskasen.

Sementara jemaat-jemaat bentukan Pandita Nicolaas Philip Wilken dan Pandita Jan Louwerier di bekas Distrik Sarongsong (kini masuk Wilayah Tomohon Tiga), awalnya masih dilayani mereka, tapi kemudian diserahkan pelayanannya ke Resort (lalu Klasis) Sonder, di bawah penanganan Pendeta Sonder Johann Albert Fraugott Schwarz, yang bekerja di Sarongsong sejak tahun 1886 hingga 1904. Kendati demikian, Jan Louwerier kadangkala datang melayani di Sarongsong. Negeri-negeri ini adalah Sarongsong (Tumatangtang dan Lansot, sedang negeri Koror dan Pinangkeian termasuk jemaatnya telah digabung ke Lansot dan Tumatangtang di akhir abad ke-19). Negeri lainnya adalah Lahendong, Pinaras, Tondangow, serta juga Pangolombian. Jemaat-jemaat bagian Sarongsong ini kemudian digabung ulang, dilayani pendeta Klasis Tomohon sejak tanggal 1 Januari 1942.

Hulpprediker Johann Albert Schwarz. *)

Jemaat Woloan dan Tara-Tara sendiri dibentuk oleh para zendeling dari Tanawangko. Bahkan kemudian Tara-Tara menjadi tempat kedudukan Hulppredikker setelah turun beslit Gubernemen tanggal 6 Oktober 1903 nomor 33 tentang pembentukan Resort Tara-Tara dengan menggabungkan wilayah bekas Resort Tanawangko. Resort Tara-Tara baru berakhir di tahun 1934 ketika disatukan ke Klasis Tomohon.

KAKASKASEN
Di Kakaskasen, Pandita Nicolaas Philip Wilken telah melakukan pembaptisan per­­tama tanggal 21 Januari 1845 terhadap 70 warga yang baru pindah dari negeri lama (Nawanua, kini Kakaskasen III). Di nomor urut satu buku baptisan, orang tertua yang dibaptis berusia 84 tahun memakai nama Jusuf Tumbelaka. Pembaptisan di Kakaskasen ini ter­hi­tu­­ng hasil pertama upaya keras Wilken di wilayah yang sekarang membentuk Kota Tomohon. Ke-70 orang inilah yang menjadi Jemaat Protestan Kakaskasen pertama (resminya dalam laporan NZG, Jemaat Kakaskasen disebut berdiri tahun 1849 oleh N.Ph.Wilken). Pembaptisan kedua dilakukan Pandita Wilken di Kakaskasen ta­nggal 28 Januari 1849. Salah seorang yang dibaptis bernama Si­mon Petrus (Lasut?).

Mimbar Gereja Protestan Tomohon tahun 1928. *)

Gereja Kakaskasen pertama te­­lah dibangun Wilken tahun 1845 di lokasi sekarang (gereja ‘Pniel’, masuk Kelurahan Kakasasen II). Sementara, sekolah NZG Kakaskasen sudah dibuka Pandita Johan Adam Mattern sejak ta­hun 1841. Sekolah Zending awalnya dipimpin muridnya bernama Samuel Elias, asal Pondang Tombasian (Amurang). Ke­­mudian di tahun 1849 Pandita Nicolaas Wilken menempatkan murid piaranya ber­­nama Jusuf Tumbelaka sebagai ke­pala sekolah, sekaligus bertindak sebagai pemimpin jemaat Kakasken.

Jusuf Tumbelaka dimaksud kelahiran Tondano (tidak diketahui pasti apakah identik dengan Jusuf Tumbelaka yang dibaptis 1845). Guru Jusuf Tumbelaka dalam pekerjaannya dibantu is­­trinya Wilhelmina Lensun, bekas anak piara di rumah tangga Wil­­ken. Cukup banyak orang Kakaskasen dapat diajak masuk Kristen dan dibaptis Wilken di masa berikutnya. Perbaikan-perbaikan gedung gereja masa itu merupakan karya Jusuf Tumbelaka yang dikenal sebagai tukang trampil.

Pada pertengahan tahun 1850-an bagian ter­besar penduduk Kakaskasen dilaporkan telah beralih men­jadi Kristen. Nama Jusuf Tumbelaka masih tercatat se­bagai kepala sekolah NZG Kakaskasen di tahun 1868, sedang gerejanya menurut Zendeling Nicolaas Graafland kecil, namun bagus. Pandita Wilken sangat memuji Jusuf Tumbelaka sebagai orang pa­ling miskin, tetapi sangat setia dalam pekerjaan.

Jemaat Protestan Kakaskasen makin tumbuh ketika di­­tangani Pandita.Jan Louwerier yang membantu dan kemudian meng­­gantikan Wilken. Louwerier dibantu para Penolong Injil la­­lu Inlands Leeraar lulusan Sekolah Penolong kelak STOVIL, serta para guru jemaat yang sehari-harinya seba­gai kepala sekolah zending. Jemaat dan sekolah zending setelah Tum­­belaka dipimpin oleh N.Sundah. Pelajar sekolahnya di bu­­lan Desember 1885 dilaporkan sebanyak 112 orang.

Jemaat Kakaskasen karena makin tumbuh dibagi rayon atau kampung, yakni Amian, Talikuran, Sendangan, Uner dan Timuh. Tiap rayon dilayani 2 penatua dan 2 syamas. Salah seorang tokoh terkenal masa itu adalah Jan Lala, syamas yang sebelum tahun 1879 masih se­­bagai Walian agama tradisional.

Dibawah Pemimpin Jemaat Karel Mathindas, Je­­maat Kakaskasen sejak tahun 1908 membangun gedung gereja baru di lokasi lama. Gereja yang di­­namai ‘Pniel’ (hadirat Allah), ditahbiskan tanggal 15 November 1915, oleh Hulpprediker Opleider Tomohon Ds.Dr.Samuel Schock, peng­­­ganti Pandita Jan Louwerier. Menara gereja dibangun  setinggi 16 meter dengan lambang ayam jantan berkokok di­ atas­nya.

Sejak tanggal 30 September 1934 di Jemaat Kakaskasen di­­­tempatkan Inlands Leraar Karel Mathindas dan Lukas Wi­­lar sebagai pemimpin dibantu guru-guru. Periode ta­­­hun 1934-1942 terbentuk Serikat Pemuda Minahasa (SPM) de­­­ngan kegiatan koor dan Salinan Ahad Tengah Hari.

Ketika Jepang berkuasa 1942, ge­­reja GMIM Pniel disita, dan kegiatan iba­dah dilarang. Gerejanya bahkan dijadikan bengkel. Oleh usaha Pen­deta Miyahima Hi­demasa tanggal 16 Juni 1942 gedung gereja di­kembalikan pa­da Jemaat. Seusai kekuasaan Jepang, Je­­maat GMIM Ka­kas­ka­sen dibagi 8 kampung, yakni: Amian, Ta­­likuran, Sen­da­ngan, Paslaten, Uner, Timuh A, Timuh B dan Pondol. La­lu diterapkan Paroki Utara dan Paroki Se­­latan dipimpin se­orang guru jemaat. Jemaat (Wilayah) Kakasakasen berhasil memperjuangkan Sekolah Kerajinan di Kaaten dipindah ke Kakaskasen Agustus 1962 dipimpin Leopold Myendert E.Matindas. Sekolahnya tahun 1964 menjadi Sekolah Teknik Kristen III, lalu 10 September 1977 diintegrasikan jadi SMP Kristen Kakaskasen.

Jemaat Pniel Kakaskasen kemudian memekar. Pertama di Kakaskasen III. Sejak tahun 1960 anggota jemaatnya membangun kanisah. Baru di tanggal 20 Mei 1980 kanisahnya berstatus gereja mandiri dari Pniel, dengan nama jemaat ‘Maranatha’. Menyusul di Kakaskasen I, mandiri jemaat baru ‘Bait El di tahun 2003.

KINILOW
Di Kinilow, Pandita Nicolaas Philip Wilken melakukan pembaptisan pertama tanggal 31 Mei 1863 terhadap 4 orang anak, sehingga segera terbentuk jemaat negerinya. Ketika Ni­colaas Graafland melihat Ki­nilow di tahun 1850-an, Kinilow disebutnya tidak ber­arti banyak dan hanya ne­geri kecil. Lalu di tahun 1874 ditulisnya Kinilow ber­penduduk sebanyak 432 orang, masuk Distrik Ka­kaskasen yang berkedudukan di Lota, memiliki fasilitas sabuah tempat belajar (sekolah).

Sekolah Zending Kinilow telah dibuka sebelum tahun 1868, dengan kepala sekolah sekaligus pe­mimpin jemaat pertama adalah guru E.Malonda. Peng­gan­tinya adalah E.Nangka yang dilaporkan di bulan Desember 1885 memimpin sekolah NZG dengan 41 orang pelajar. Na­ma Nangka masih dicatatkan di tahun 1896.

Gedung gereja Kinilow (kini ‘Petra’) dibangun semi permanen tahun 1928, dimanfaatkan ganda untuk sekolah NZG hingga tahun 1956, ketika sekolahnya dipindahkan di selatan Kinilow.

TINOOR
Di Tinoor, Pandita Nicolaas Philip Wilken melakukan pembaptisan pertama 5 warganya tanggal 20 Oktober 1860. Orang tertua bernama Albertus Pu­ru­kan berusia 19 tahun dan paling muda Erthus Pangkey ber­usia 6 bulan. Lainnya Karel Sulu 16 tahun, Daniel Mundoh 11 tahun, dan Nicolaas Longdong. Wilken juga membuka sekolah yang dipimpin guru Seke yang mati martir di Poso Sulawesi Tengah tahun 1867. Seke juga sebagai pemimpin jemaat Tinoor pertama. Penggantinya adalah Semuel Liuw asal Kakaskasen (1867-1886). Nama Liuw dicatatkan bulan Desember 1885, memimpin sekolah dengan 47 siswa. Lalu mengganti Arnold Longdong, pemimpin jemaat dan sekolah (namanya sebagai kepala sekolah masih dicatatkan di tahun 1896).

Gedung gereja Ti­noor te­lah dibangun tahun 1860, dari bambu lalu papan, selain sebagai tempat ibadah, ju­­ga dimanfaatkan untuk sekolah hingga tahun 1935, ketika dibangun gereja lebih memadai dibawah pendeta pelayanan Inlands Leraar Karel Mathindas. Gerejanya seperti lazim gereja di Tomohon bersimbol ayam di puncaknya. Gedung gereja baru dibangun tahun 1977, ditahbiskan 1980, dengan nama ‘Solafide’ (hanya oleh iman).

Setelah Arnold Longdong, pengganti berturut-turut sebagai pemimpin Jemaat Ti­noor (Solafide) adalah: Ludwiq (Lodewjk) Ma­thin­das asal Kinilow, Johan Sondakh asal Tinoor, Ro­tinsulu Purukan asal Tinoor, Semuel Mamuaja asal Kinilow, Wil­liam Kaparang asal Tinoor, Johanis Toreh asal Tinoor, Semuel Mamuaja, John E.Watung (1946-1947) asal Kinilow. Lalu Joram Purukan dan William J.Sondakh, keduanya pelaksana 1947. Baru sejak tanggal 15 Mei 1949 Guru Jumat Tinoor Herling W.Datu asal Wori. Kemudian Dirk Pang­key (1958-22 Desember 1959, diculik dan dibunuh Permesta), Johan L.Longdong (1960-1970), Johanis M.Purukan (1971-1981), Alex B.Lendo (1982-1983) asal Karimbow Moto­li­ng, Drs.W.J.Karinda asal Tinoor dan Johanis M.Purukan (1984-1985).

Berikutnya ditempatkan Pdt.Ny.Evlien Rondo-Liow STh (1985-1986), Pdt.Hans Sumakul STh (1986-1989), Pdt.Ny.K.L.Rundengan-Pelleh STh (1989-1993), Pdt.Lenny Tangka-Kolulub STh (1993-1998), Pdt.Sintje Pandelaki-Ngantung STh (1998-2003), Pdt.Meike Kawet-Maleke STh (2003) dan sejak 2010 Pdt.Meggy A.V.Y.Pandey-Walintukan STh.

WAILAN
Wailan awalnya merupakan wilayah perkebunan penduduk Kakaskasen, lalu ditinggali mulai tahun 1880-an, meski baru  berstatus sebagai negeri dalam Distrik Kakaskasen di tahun 1895. Para pionirnya Johanis Sumendap, Lefinus (Lepinus) Lala dan Ruland Polii telah dibaptis dari Kakaskasen. 

Gereja GMIM 'Baitel' Wailan. *)

Dibawah Guru Jemaat Daniel Liuw yang di tahun 1930 terpilih sebagai Hukum Tua, anggota jemaat (kini Jemaat ‘Baitel’) memperbaiki gedung gereja yang terbuat dari bambu, yang direnovasi lagi tahun 1966 dan tahun-tahun selanjutnya, hingga menjadi gedung permanen. Jemaat pun membuka sebuah sekolah rakyat (kini SD GMIM Wailan) di tahun 1954, dibawah kepala sekolah H.A.Maengkom.

KAYAWU
Begitu pun Kayawu yang berstatus negeri tahun 1860, penduduknya kebanyakan dibawah pimpinan Perewis Habel Wongkar telah Kris­­ten ketika datang dari Kakaskasen di tahun 1850-an. Pandita Nicolaas Philip Wilken baru melakukan pembaptisan per­ta­ma dua orang warganya tahun 1861, lalu diikuti warga-warga la­in. Jemaat negerinya terbentuk di tahun 1861 itu. Wilken membuka sekolah NZG dengan 3 mu­rid, juga gereja sederhana di tahun 1861 (kini gereja GMIM ‘Pniel’). Ia mendidik beberapa nyong dan nona Kayawu untuk untuk menjadi guru bagi warga lainnya.

Sekolah Zending Kayawu di tahun 1868 dipimpin oleh guru O.Turangan. Penggantinya adalah guru J.Walanda, memimpin pe­lajar sebanyak 56 orang di bulan Desember 1885. Belakangan Guru Je­maat sekaligus ke­pa­la sekolah Zending adalah Ha­noch Wongkar (meninggal 8 Juni 1928). Tanggal 6 Agustus 1891 ia dipilih pula sebagai Hukum Tua, namun dicatat ta­hun 1896 masih memimpin sekolah. Ikut ber­ja­sa mengkristenkan pen­duduk Kayawu awal ada­lah guru Seth Lan­ta­ng, seorang murid pi­a­ra Nicolaas Graaf­land.

Gereja 'Pniel' Kayawu, loncengnya tertukar 'Pniel' Kakaskasen. *)

Setelah Hanoch Wongkar berkonsentrasi dalam jabatan hukum tua, penggantinya sebagai pemimpin jemaat (Pniel) berturut-turut: Samuel Sumendap, Arnold Longdong (1914-1940), Is­­­rael Rombon (1940-1943), Sadrak Arnold Rares (1948-1968), Wellem M.Manopo (1968-1973), Sadrak A.Rares (1973-1977), Arie E.Longdong (1977-1978), dan Justus N.Pa­­­­ngau sejak 1978. Lalu Pdt.J.Puasa-Patiwael STh, Pdt.W.R.Pondaag STh (sejak Ja­­nuari 1987), Pdt.R.An­­tow-Tambariki STh, dan Pdt.Makalew-Mamboh STh (2002). 

Sementara peng­gan­ti Hanock Wongkar sebagai Kepala SD GMIM berturut-tu­­rut: Arnold Long­do­ng, Israel Rombon (1948), Sadrak A.Rares (1968), Philep Po­­joh (1976), Elia K.Mo­­ningka (wakil 1977), Jermias P.Moningka (1978), Daud Pa­­ngau (1978), Elia K.Mo­ni­ng­ka (1982) dan Daniel Lasut.

SARONGSONG
Di Sarongsong, setelah pembaptisan Herman Carl Wa­wo-Roentoe dan istri bersama anak-anaknya, segera dibangun ge­­reja sederhana, yang kemudian menggunakan bangunan bekas Loji (pasanggrahan) di Tumatangtang tahun 1853. Jemaat pertamanya terbentuk bulan April 1851 (menurut laporan-laporan NZG, Jemaat Sarongsong dibentuk Wilken tahun 1846). Sedangkan sekolah NZG telah berdiri sejak 1840 di­­pimpin guru Alexander Wajong murid Pandita Johan Adam Mattern. 

Kubur guru Alexander Wajong dan istri. *)

Alexander Wajong masih di­la­por­­kan memimpin sekolah di tahun 1868. Meski dipuji fasih berkotbah, Pandita Nicolaas Wilken melaporkannya lebih banyak makan pinang daripada mengajar, sedang murid-muridnya masih bertelanjang duduk di lantai. Ia adalah menantu Mayoor Herman Carl Wawo-Roentoe. Penggantinya adalah cu­­cu menantunya bernama Soleman Rotty, yang juga me­mim­­pin jemaat. Soleman Rotty dicatatkan telah memimpin sekolah di Sa­­rongsong tahun 1885 dan juga masih di tahun 1896. Zendeling Nicolaas Graafland mencatat tahun 1874 gedung gerejanya bagus. Gereja ini digunakan Jemaat Sarongsong berasal negeri Tumatangtang, Lansot, dan dua negeri yang kemudian dihapus tahun 1882 Koror dan Pinangkeian.

Gereja GMIM 'Syalom' tahun 2005. *)

Pendeta-pendeta yang melayani pembaptisan, peneguhan dan pemberkatan nikah di Jemaat Sarongsong (pertama masuk Resort Sonder, lalu sejak 1 Juni 1942 digabungkan dengan Klasis Tomohon) adalah: Pdt.N.Ph.Wilken (1847-1878), Pdt.Jan Louwerier (1867-1886), Pdt.Johann Albert Fraugott Schwarz (1886-1898), Pdt.Dr.Samuel Schoch (1903-1908), Zendeling J.G.de Haan (1903-1904), Zende­li­ng H.A.Loeff (1906-1908), Pdt.M.Birkhoff (1908-1910), Pdt.J.Rijks (1911-1915). Kemudian: Pdt.­ H.L.Langevo­ort 1915-1916, A.van der Linden (1916-1917), Pdt.Gustav F.Schroder (1917-1924), dan Pdt.Bertus Moen­­­do­eng (1930-1935).

Sejak tanggal 18 Agustus 1930 ditem­patkan Gu­ru Jemaat Persis Mo­ningka untuk melayani Jemaat Sarongsong. Kemudian bertugas In­lands Leerar Philips Lasut 4 April 1931, Inlands Leraar G.A.Pa­nge­ma­­nan 15 Juli 1932, Inlands Leraar Petrus Tirie 10 Agustus 1933, Inlands Leraar Richard Polii 15 September 1933, Inlands Leraar Richard Polii 22 Mei 1936.

Berikutnya, Guru Jemaat Persis Mo­ningka 31 April 1937, Guru Jemaat H.Wowor 29 Mei 1937, Pdt.A.H.D.Wajong (1947-1963), Guru Jemaat W.O.Mawuntu dan Pdt.N.Pangemanan 1964, Pdt.J.Ka­liey (1965-1967), Guru Jemaat W.O.Mawuntu (1967-1968), hingga Jema­at Sa­ro­ng­song dibagi dua sejak tanggal 15 Januari 1968 dan berlaku bulan Okto­ber 1968, yakni Jemaat Tumatangtang dan Jemaat Lansot. Kemudian melayani Guru Jemaat A.Kalalo (1968-1977), Pdt.L.Legoh SmTh (1978-1981), Pdt.S.Lumingkewas (1982-1983), serta sejak Februari 1983 Pdt.Ny.Montolalu-Peleng.

Gereja GMIM 'Getsemani' Lansot. *)

Mulai dari pemekaran Jemaat Sarongsong dalam nama Jemaat Tumatangtang dan Jemaat Lansot, gereja bernama ‘Syalom’ (kelak dimanfaatkan Jemaat Tumatangtang) dijadwal pemanfaatannya. Sedari jam 10.00-12.00 ibadah untuk Jemaat Tumatangtang, dan dari jam 08.00-09.00 ibadah Jemaat Lansot.

Anggota Jemaat Lansot sejak 1983 membangun gedung gereja sendiri, ditahbiskan tanggal 6 Januari 1986 dengan nama ‘Getsemani’. 

Gereja GMIM 'Sarongsong'. *)

Jemaat Sya­lom Tumatangtang kemudian di­me­kar lagi dengan pem­ben­tukan Je­ma­at ‘Sa­rongsong’ di  Kelurahan Tu­ma­­tangtang I.

PINARAS
Pembaptisan warga Pinaras telah berlangsung di akhir tahun 1840-an oleh Pandita Nicolaas Philip Wilken yang kemudian membangun jemaat dengan mendirikan gereja yang digunakan pula untuk sekolah NZG di tahun 1854 (tahun resmi dicatat sebagai pendirian jemaat Pinaras oleh Wilken). Sebelum ada gereja warga jemaatnya masih beribadah di gereja Sarongsong (kini Syalom). Salah seorang tokoh yang dibaptis adalah Hukum Tua Jeheskiel Tulung yang dikisahkan jadi salah seorang penganjur penduduk masuk Kristen.

Pemimpin jemaat awal Pinaras adalah guru Mesak Gosal yang memimpin sekolah NZG. Nama Mesak Gosal masih dicatatkan di tahun 1868. Masanya gereja sederhana diperbarui di tahun 1885. Penggantinya sebagai kepala sekolah Zending dan pemimpin jemaat Pinaras adalah Daniel Moningka asal Rurukan, tercatat  arsip tahun 1885 memimpin sekolah Zending Pinaras yang memiliki 95 pelajar terdiri 45 laki-laki dan 24 anak wanita. Moningka diganti guru E.Kelung tercatat di 1887. Kemudian memimpin kembali Moningka.

Murid gereja anak berpesiar di air terjun Tumimperas 1928. *)

Ketika Daniel Moningka terpilih sebagai Hukum Tua Pinaras 1902, menggantikannya sebagai kepala sekolah sekaligus pemimpin jemaat guru Elli Ogi yang menggalakkan kesenian jemaat. Jemaat Pinaras (kelak bernama ‘Elim’) sejak tahun 1934 diketuai Penatua Jelle Bororing dengan Syamas Walla. Di tahun 1942 pelayanan jemaat Pinaras ditangani kembali Klasis Tomohon.

Gereja GMIM 'Elim' Pinaras. *)

Gedung gereja yang telah pisah dari sekolah di tahun 1936, dibangun megah tahun 1977 dan ditahbiskan dengan dihadiri Gubernur Gustaf Mantik tanggal 31 Mei 1984. Dari jemaat ‘Elim’ Pinaras berdiri mekarannya Jemaat GMIM ‘Nimahesaan’.

LAHENDONG
Agama Kristen di Lahendong telah disebarkan oleh Pandita Ni­colaas Wilken di akhir tahun 1840-an, sehingga jemaat Lahendong telah terbentuk di tahun 1849. Wilken membangun  gereja sederhana (kini ‘Damai Sejahtera’) yang dipkaai ganda sebagai sekolah NZG, dengan kepala sekolah pertama adalah A.Siwu. Sela­in sebagai kepala sekolah, Siwu pun memimpin jemaat per­tama Lahendong. Nama Siwu masih dicatatkan di tahun 1868.

Pengganti Wilken, Pandita Jan Louwerier ada pula mem­baptis penduduk Lahendong. Berikutnya pelayanan di Lahendong termasuk jemaat lain bekas Balak Sarongsong dalam penanganan Resort Sonder dibawah Pendeta (Hulpprediker) Johann Albert Fraugott Schwarz serta para penggantinya seperti Ds.Dr.Samuel Schoch (1903-1908),. J.G.de Haan (1903-1904), H.A.Loeff (1906-1908),  Pdt.M.Birkhoff (1908-1910), Pdt.J.Rijks (1911-1915), Pdt.H.L.Langevoort (1915-1916), A.van der Linden (1916-1917), Gustav F.Schroder (1917-1924), A.Rimper (1924-1930), dan Ds.B.Moendoeng (1930-1935.). Penolong injil yang melayani Lahendong pula adalah Jan Rapar.

TONDANGOW
Begitu pun di Tondangow, jemaat negeri dibentuk Wilken tahun 1852, serta membangun gereja dan sekolah yang dipimpin guru  Z.Pijoh (Pioh). Ia ber­sama-sama Hukum Tua Ka­rel Z.Waworuntu jadi pe­ngan­jur utama. Pijoh masih di­se­butkan sebagai pemimpin se­kolah NZG Tondangow di ak­hir tahun 1885, dengan jumlah mu­ridnya sebanyak 45 ora­ng (26 laki-laki dan 19 perempuan). Na­ma Pijoh juga masih ter­ca­tat di tahun 1896.

Pen­du­­duk rata-rata te­­lah menjadi Kris­­ten karena pe­ker­jaan Pandita Ni­­colaas Wilken, Pandita Jan Lou­werier dan Pandita Sonder Johann Albert F.Schwarz. Seko­lah Zending (NZG) Tondangow dibuka di  tahun 1874. Sekolah yang kini bernama SD GMM Tondangow awalnya hanya sampai kelas tiga. Baru di tahun 1950 menjadi enam tahun sebagai filial Sekolah Rakyat (SD) GMIM Pangolombian.

Sebelumnya pelajarnya harus meneruskan kelas empat hingga enam di Pangolombian atau bahkan Kasuratan di Remboken. Baru tahun 1961 dengan perjuangan jemaat, sekolahnya mandiri dipimpin H.Mawuntu, dan gedung sendiri sejak 1972. Jemaat pun mengupayakan pendirian SMP Kristen di tahun 1981 dipimpin John M. Mathindas.

Gedung gereja (kini ‘Golgota’) telah berdiri secara sederhana berupa sabuah sejak tahun 1874 dimanfaatkan sekolah pula. Di tahun 1954 direstorasi menggunakan papan dari tebangan pohon damar di dekatnya. Kemudian permanen.

WOLOAN
Di Woloan, Zendeling Tanawangko Nicolaas Graafland me­lakukan pembaptisan pertama terhadap 18 penduduk ta­nggal 14 Oktober 1860. Jemaat Woloan resmi berdiri (Zendeling NZG Ds.L.J.van Rhijn, April 1847 melaporkan ia mengunjungi sekolah dan jemaat kecil Kristen Woloan juga Tara-Tara. Sekolahnya masih dilaporkan Dr.Pieter Bleeker tahun 1853 dan 1854).

Oleh Wilken, didirikan gedung gereja pertama tahun 1861 di lokasi waruga Pacat Supit Sahiri Macex (kini lokasi gereja GMIM ‘Eben Haezar’ di Woloan II), yang berfungsi ganda sebagai sekolah Zending, dengan di­pimpin guru N.Rambi, asal Kiawa yang juga menjadi pe­natua. Pelajaran sekolah sering dilakukan di rumah-rumah. Penggantinya guru A.Dendeng asal Tumaluntung tahun 1872, lulusan Kweekschool Tanawangko. Kemudian B.Wagey asal Koya tahun  1876, J.Rantung asal Leilem tahun 1882 dan J.Wehantouw asal Tara-Tara tahun 1885. Mereka semuanya berfungsi sebagai guru jemaat Woloan pula.

Masa gu­ru Wehantouw, dicatatkan di bu­lan Desember 1885 se­kolahnya memiliki sebanyak 78 orang pelajar, terdiri 57 laki-laki dan 21 perempuan. Menurut Graafland di tahun 1874, negeri Woloan menjadi ne­­geri kedua terbesar di Distrik Tombariri, dengan pen­­­duduk sebanyak 890 jiwa.

Kediaman Nicolaas Graafland di Tanawangko. *)

Secara berkala, jemaat Pro­­­testan Woloan dikunjungi zendeling dan pendeta-pen­­deta Resort Tanawangko yakni: Nicolaas Graafland, Hendirk Bettink, M.Henri Schippers (1880-1882), Jan ten Hove (1883-1888), dan Jan Sieters de Vries (1888). Berikutnya bertugas Eduard W.G.Graaf­la­­nd, anak Nicolaas Graafland tahun 1889-1898, lalu C.J.L.Sluyk (1898-1904). Kemudian sejak akhir tahun 1903 mela­­yani jemaatnya, para pen­deta dari Resort Tara-Tara, ma­sing-ma­sing: Pdt.J.G.de Ha­an (1904-1911), Pdt.M.de Ko­ning (1911), Pdt.Johannes Hendrik Duy­ver­man 1911-1919, Pdt.H.G.Thiel 1922 dan Pdt.D.F.Bunte 1925-1927. Mereka me­lakukan pem­bap­ti­san, ser­ta pemberkatan nikah war­ga. 

Kemudian ditempatkan pem­bantu pendeta pertama, yak­ni Pe­nolong Injil lalu Inlands Leraar Z.Su­men­dap (14 Agustus 1870-2 Desember 1947) asal Senduk, bertugas hingga tahun 1913. Lalu Inla­nds Leraar J.Pangemanan da­ri Tanawangko.

Gereja GMIM 'Eben Haezar' Woloan, di belakang waruga Supit. *)

Kemudian ber­turut-turut para pendeta: D.K.Kalesaran asal Paslaten 1918, E.Kasiha asal Sonder 1927, J.Kojongian asal Woloan 1928, I.G.A.Maramis asal Ratahan 1933, A.Rawis asal Kanonang 1940, D.Wajong asal Talete 1943, Guru Jemaat B.Lengkong asal W­oloan 1947, Guru Jemaat L.D.Tamboto asal Woloan tahun 1974 dan  Pdt.S.Sumolang da­ri Lahendong.
 
Sekolah NZG di tahun 1935, di masa kepala sekolah Barens Le­ngkong mulai me­mi­liki gedung sen­di­ri, terpisah dari gereja. Sekolah ini tahun 1964 dimekar jadi SD GMIM 1 dipimpin A.K.Pontoh dan SD GMIM 2 dipimpin Elisa Pontoh. Jemaat pun membuka sebuah SMP Kristen tanggal 1 Agustus 1959, sebagai filial SMP Kristen Kaaten Tomohon dengan kepala sekolah Palit S.A.Poluan.

Karena pesatnya pertumbuhan, Jemaat ‘Eben Haezar’ kemudian dimekar dengan terbentuknya 1991 Jemaat’ Sion’ di Woloan I, dan terakhir tahun 2000 Jemaat ‘Bukit Sinai’ di Woloan III.

TARA-TARA
Sementara di Ta­ra-Tara, pembap­ti­san pertama ber­langsung tanggal 16 Februari 1851 terhadap 41 warga oleh Zendeling Tanawangko pertama Ru­­dolf Bossert (1849-1854) berasal Alkmaar. Bossert telah mencoba mengkristenkan penduduk sejak tahun 1850. Setelah pembaptisan yang sukses itu, tanggal 16 Oktober 1851 ia kembali membaptis 6 lalu 8 warga lagi. Hukum Tua Tara-Tara Welan diperkirakan salah seorang da­ri warga yang dibaptis di periode itu. Welan memakai nama Daniel Wohon. Bossert kemudian pindah ke Ambon lalu Saparua.

Rumah Pdt.Eduard, anak Nicolaas Graafland  di Tanawangko. *)

Peng­gan­ti Bossert, guru zendeling Ni­colaas Graafland asal Rotterdam, pindah dari Sonder, melayani se­lang tahun 1855-1870. Graafland berhasil membaptis sebanyak 277 orang. Salah satunya Hukum Tua Tara-Tara Poluan Ro­ring yang memakai na­­ma baptis Barnabas Roring. Sebuah ka­nisah dibangun hu­­kum tua tersebut yang kelak di ta­hun 1910 di­pin­dah­ Hulpprediker Johannes Hendrik Duyverman ke lokasi ge­­­re­ja ‘Imanuel’ se­ka­­­rang.

Zendeling lain dari Tanawangko yang melakukan pem­bap­­tisan di Tara-Tara adalah Hendirk Bettink, asal Vre­­cawijk diutus NZG Mei 1867 dan bertugas sejak 30 Ap­­ril 1870. Adrianus de Lange (kelahiran Schiedam) ya­ng diutus 1872 bertugas di Tanawangko, tapi bekerja di Tara-Tara. De Lange pulang ke Belanda ka­rena sakit. Berikutnya bertugas 1880-1882 Hulpprediker M.Henri Schippers ke­lahiran Engelen dan Jan Louwerier dari Tomohon. Tanggal 21 Agustus 1879 Louwerier membaptis sebanyak 190 warga.

NZG dilaporkan te­lah membuka se­ko­lah pertama Zen­di­ng di Tara-Tara ta­hun 1846 dengan di­pimpin guru Ju­­suf Tum­­belaka, mu­rid Pandita Wil­ken dari Tomohon, ya­­ng ju­­ga memimpin je­maat awal. Peng­gan­tinya di tahun 1849 ada­­lah guru J.Tiwow yang di tahun 1868 masih di­catatkan se­­bagai ke­pala sekolah merangkap pemimpin jemaat. Berikutnya sekolah Zending dipimpin Mar­­kus Ondang.
 
Pendeta Tanawangko lain yang melakukan pembaptisan di Tara-Tara adalah Jan ten Hove, bertugas 1883-1888. Tanggal 9 Desember 1884 ia mem­bap­­tis 194 orang. Kemudian Tara-Tara dilayani Hulppredikker Jan Sietses de Vries 1888, tapi ti­­dak lama, karena dipindah ke Kumelembuai. Penggantinya, Ds.Eduard W.G.Graaf­­land dari Kumelembuai bertugas 1889-1898 la­­lu Ds.C.J.L.Sluyt tahun 1898-1903.

Dengan keputusan Gubernemen tanggal 6 Oktober 1903 nomor 33, Tara-Tara berstatus satu Resort menggabung bekas Resort Tanawangko hingga tahun 1934. Zendeling J.G.de Haan pindah dari Sonder dan memimpin Resort Tara-Tara 1904-1911. Ketika pindah ke Ra­­­­­tahan, Ds.M.de Ko­­ning mengganti, na­mun tidak lama ia pindah di Ma­um­bi kemudian To­mo­hon, sehingga se­­jak ta­­­hun 1911 ber­­tugas Pendeta Johannes Hendrik Duyverman.

Hulppredikker Johannes Duyverman. *)

Duyverman yang pin­dah dari Maumbi dan sebelumnya ber­­tugas di Ra­ta­han, merupakan pendeta pertama yang me­netap di Tara-Ta­ra. Awalnya ia menumpang tinggal di ru­mah bekas Hu­kum Tua Rumajar Kereh. Lalu dibantu ma­­syarakat Duy­ver­man membangun gereja Tara-Tara (kini ge­­reja GMIM ‘Ima­­nuel’), dengan memindahkan kanisah ya­­­ng dibangun ma­sa Barnabas Roring ke lokasi gereja se­­­karang di  Tara-Ta­ra II. Selain memimpin jemaat Protestan Tara-Tara, Duyverman ya­­­ng bertugas di Tara-Tara hingga tahun 1917 mendirikan Se­kolah Per­­tukangan yang melatih warga menjadi pengrajin, teram­­pil membuat perabotan rumah seperti meja, kur­si, lemari dan tempat tidur.

Meng­gan­tinya Pdt.H.G.Thiel, namun hanya si­­­ng­kat ta­hun 1922 karena pin­dah di Kumelembuai. Pe­la­­­yanan kelak dilakukan pen­de­ta dari Tomohon, yak­­­ni: Pdt.M.de Koning 1920, Pdt.H.Groothuis 1920-1922, Pdt.Gustav F.Schroder tahun 1924 dan Pdt.Frederik Hendrik van de Wetering. Ter­akhir ditunjuk sebagai pen­deta Resort Tara-Tara adalah D.F.Bun­­te 1925-1927. Lalu melayani lagi pendeta-pendeta da­­ri Re­sort Tomohon.

Baru di tahun 1926 ditempatkan Inlands Leraar Lefrant Rompis hingga 1935. Penggantinya berturut-turut: Inl.Leraar John Roring Tirie (1936-1940), Inl.Leraar Paul Lodewijk Mandagi (1941-1942), Inl.Leraar J.Wajong (1942-1943), Inl.Leraar John R.Tirie (1943-1945), Gu­ru Jemaat Darius Kaligis (1945-1947) dan Guru Jemaat Israel Rombon (1948-1972). Di masa Rombon, tahun 1959 berdiri SMP Kristen Tara-Tara, filial dari SMP Kristen Tomohon, yang mandiri tahun 1982. Sekolah rakyat (kini SD GMIM I) dimekarkan 1963 dengan pendirian SD GMIM II Tara-Tara. Pengganti Israel Rombon adalah Guru Jemaat Dua Alex Watti Tijow (1967-1972). Kemudian pemimpin jemaat Pnt.Hein Lendeng (6 bulan, 1973), Pnt.Sembel Gerrit Suot (6 bulan,1973), Pdt.Jootje Makarawung SmTh (1974-1978), Pdt.Ny.M.Pangkey-Rindorindo SmTh (1978-1980), Pdt.A.T.Pa­ngemanan (1981), Pdt.Noch Victor Tatontos SmTh (1982-1990), Pnt.H.N.Tom­be­ng (1990-1994). Berikutnya Pdt.Ny.Deetje C.Pelealu-Wowiling STh (1995-2000), Pdt.Ny.Gre­tie Tampi-Senkey STh (2001-2006), dan Pdt.Ruddy Manase STh.

Je­maat  ‘Imanuel’ kemudian dimekarkan tahun 1991 dengan mandirinya Jemaat ‘Siloam’ Tara-Tara II, lalu Jemaat ‘Gloria’ di Tara-Tara III tahun 2011. ***

   
  *). Foto koleksi KITLV, Tropenmuseum, koleksi GMIBM, Jootje Umboh, Didi Sigar dan foto tersebar.


SUMBER:
Adrianus Kojongian: ‘Tomohon Kotaku’ 2006.
Adrianus Kojongian: ‘Tomohon Dulu dan Kini’, naskah 2007.

Posting Komentar