Minggu, 24 Februari 2013

PARA KEPALA AMURANG

 

 

Oleh: Adrianus Kojongian

 

 


Sketsa Amurang. *)


Kota Amurang, ibukota Kabupaten Minahasa Selatan, unik pertumbuhannya. Kota ini telah mulai berbentuk sejak Portugis dan Spanyol datang di awal abad ke-16 dan membangun benteng di Amurang dan Kawangkoan Bawah. VOC yang menggantikan memanfaatkan Amurang sebagai markas militer dengan membangun pos yang diperkuat pasukan berasal Ternate dan lalu para Burger yang lebih dikenal dengan sebutan Borgo untuk pertahanan kota (burgerwacht), schutterij, terutama dalam menangkal serangan bajak laut yang masa itu merajalela. Lambat-laun Amurang berkembang menjadi pemukiman para Borgo, dan seperti di tempat lain yang negerinya maju pesat, pendatang Tionghoa pun berdatangan dan membentuk komunitas Cina Amurang.

Sebelum itu, penduduk Tontemboan dari pedalaman Minahasa Tengah pun telah merambah ke pantai Teluk Amurang. Dari Pakasaan dan lalu Balak Tombasian di Tombasian Atas (kini masuk Kecamatan Kawangkoan Barat), pionirnya keluar dan mendirikan negeri-negeri: Pondang, Maliku, Ritei, Malenos, Lopana dan Ranomea (kini di Kecamatan Amurang Timur).

Tidak kalah Balak Kawangkoan, mereka mendirikan negeri Buyungon yang sangat dekat dengan pemukiman kaum Tionghoa dan Borgo Amurang. Di sebelah barat, pemukim Kawangkoan ini mendirikan negeri Kawangkoan Bawah (kini Kecamatan Amurang Barat) sebagai tempat kedudukan Kumarua (Hukum Kedua), untuk memerintah wilayahnya diseberang Ranoiapo.

Balak Rumoong mendirikan Rumoong Bawah berdekatan Kawangkoan Bawah sebagai ibukota baru, dipindah dari Rumoong Atas (kini di Kecamatan Tareran), selain banyak negeri lain yang kini membentuk Kecamatan Tenga, dan Sinonsayang. 
Sisa Benteng VOC di Amurang tahun 1930. *)
Stad Amurang sendiri awalnya tidak terhitung pada kepunyaan satu pun distrik Minahasa itu. Penduduk baik orang Belanda, para Borgo (Kristen mau pun Islam) diperintah langsung oleh seorang Opziener lalu Controleur (Kontrolir), diawali Opziener van den Broek di tahun 1817. Kontrolir Amurang yang berperan rangkap sebagai Komandan Schutterij Detasemen Amurang (pernah sampai Tanawangko), sekaligus mengawasi dan memata-matai pemerintahan bumiputera di Distrik Sonder, Kawangkoan, Tompaso, Tombasian dan Rumoong. 

Penataan pemerintahan untuk stad Amurang ini adalah para kaum Borgo dipimpin kepalanya yang disebut Wijkmeester, sementara orang Tionghoa dikepalai oleh seorang Letnan Cina. Orang Borgo yang memiliki hak-hak istimewa melebihi kaum pribumi --sampai kemudian disamakan sebagai orang Minahasa di tahun 1911-- bermukim di kompleks dinamai Leter yang kelak memekar menjadi Leter A (kini masuk Kelurahan Uwuran I dan Uwuran II), serta Leter B (kini Kelurahan Ranoiapo). Sedangkan perkampungan Cina, sekarang masuk wilayah Kelurahan Buyungon, semuanya kawasan Kecamatan Amurang.

Tahun 1874 penulis dan zendeling Nicolaas Graafland menggambarkan negeri Amurang seperti Manado tidak terhitung pada barang distrik, tapi diperintahkan oleh Kontrolir, berpenduduk 8 orang Belanda, 777 Burger (Borgo) Masehi, 97 Burger Islam dan 57 orang negeri, serta 156 orang Cina. Penduduk seluruh Amurang 1.095 orang. Di Amurang, ada pelabuhan yang baik, ada satu Kota (benteng) yang tua dan terbiarkan, lalu gudang kopi dan sebuah sekolah yang dipakai untuk gereja. Di sini juga kediaman Kontrolir, pendeta, Majoor Tombasian dan Pakhuismeester (kepala gudang kopi).
Jembatan ponton Amurang dihancurkan RAAF 3 Februari 1945. *)
Seperti di Balak dan Distrik Minahasa lain, para penguasa Balak lalu Distrik Tombasian yang sejak awal tahun 1800-an telah bermukim di Amurang (meski ibukotanya baru resmi di Amurang sejak tahun 1882), turun-temurun hampir seabad berada di tangan keluarga Tambajong. Dinasti Tambajong ini turun dari Majoor Tambajong lewat anaknya Majoor Jurian Benjamin Tambajong dan Majoor Laatzar Tambajong.

Bekas Balak lalu Distrik Rumoong sendiri awalnya dikuasai keluarga keturunan Tumbelaka, namun kemudian beralih kepada keluarga Runtuwene yang turun lewat Lokey (Lo’key) dan Lao (Laoh). Sementara Distrik Tompaso yang sebelumnya di negeri Tompaso (lama) dekat Kawangkoan dikuasai oleh keluarga keturunan Sondakh, seakan  berakhir setelah pindah ke ibukota baru di Motoling. Sepeninggal Majoor Willem C.Sondakh tahun 1892, posisi kepala distriknya digilir Jotham Runtuwene lalu William Wakkary. Memang, masa itu para kepala distrik dan kepala distrik kedua telah digaji pemerintah Hindia-Belanda, sehingga otomatis boleh berganti-ganti wilayah tugas. Namun di Tompaso (lama) yang telah masuk Distrik Kawangkoan, beberapa keluarganya masih memerintah sebagai Hukum Kedua Tompaso Distrik Kawangkoan.

Dari para kepala di kawasan Amurang muncul pula nama Gaspar Tumbuan (hidup 1780-Mei 1864) yang menyebut dirinya sebagai Kepala Balak Sarani. Kemungkinan seorang kepala Kawangkoan Bawah yang juga sering dimasa lalu disebut Sarani, selain pernah ada negeri Sarani (Serani) di ibukota Rumoong, Rumoong Bawah.
Pemakaman kembali tokoh Amurang Dr.Roland Tumbelaka 29 November 1948. *)
Distrik Rumoong dan Distrik Tombasian mengalami penggabungan tanggal 8 Oktober 1909, dengan nama Distrik Rumoong-Tombasian. Lalu di tahun 1918 tinggal sekedar nama ketika dibentuk distrik baru bernama Distrik Amurang sebagai hasil penggabungan bekas dua pakasaan dan balak tua itu. Distrik Tompaso pun ikut berakhir di tahun 1922, digabung ke Distrik Amurang. Distrik Amurang yang baru ini dipimpin Kepala DIstrik bertitel Hukum Besar berkedudukan di Amurang, dibantu dua Kepala Distrik Kedua (Onderdistrik, bertitel Hukum Kedua), yakni di Amurang lalu Ongkau untuk Onderdistrik Amurang-Tenga (pesisir pantai), dan Onderdistrik Tompaso Kolonisasi (kelak Onderdistrik Motoling).



             TOMBASIAN

-Tahun 1874 Distrik Tombasian digambarkan Nicolaas Graafland, kecil. Ibukotanya Tombasian-atas, meski bukan kediaman Majoor (berdiam di Amurang). Penduduk Tombasian-atas 774 orang, ada sekolah. Negeri lain: Pondang (298) dengan sekolah, Sarani (260), Ranolambot (148), Tumaluntung (268), Maliku (319) dengan sekolah, Ritei (304), dengan sekolah, Malenos (132), Lopana (108) serta Ranomea (171). Seluruh Distrik Tombasian berpenduduk 2.782 orang.
Sungai Ranoiapo di Amurang 1929. *)
-Kalangi Mopololewo.
 Dianggap kepala balak pertama.
-Runtuwene, 1808.
 Dengan Kumarua di Tombasian Bawah Mamarimbing.
-Majoor Tambajong.
 Diganti anaknya.
Nisan baru Jurian B.Tambajong dan anaknya Joost. *)
 -Majoor Jurian Tambajong, (?  -1853).
 Dibaptis Kristen Jurian Benjamin Tambajong. Dengan Hukum Kedua adiknya  Laatzar Tambajong.
Nisan Laatzar Tambajong. *)
-Majoor Laatzar (Lazarus) Tambajong, (1853-Desember 1881).
 Dengan Hukum Kedua kemenakannya Joost Tambajong, lalu diganti anaknya P.B.Tambajong. Ada versi digantikan sebagai Kepala Distrik oleh Joost Tambajong. Catatan lain sebut Kepala Distrik Tombasian di tahun 1864 adalah Z.Tambajong.


-Hukum Besar Klas 1 Petrus Benjamin Tambajong, (14 Desember 1881-24 Mei 1898).
 Dengan Hukum Kedua anak bersaudaranya J.B.Tumbelaka, lalu Jan Nicholaas Tambajong. 

Keluarga Jan N.Tambajong. *)
 -Hukum Besar Theodorus Estefanus Gerungan, (24 Mei 1898-3 Juli1904).
Sebelumnya Hukum Kedua Klas 1 Kawangkoan.
-Hukum Besar J.D.Inkiriwang, (3 Juli 1904-8 Oktober 1909).



                 RUMOONG

-Tahun 1882 Distrik Rumoong digabungkan dengan Distrik Kawangkoan, sedang onderdistrik (distrik kedua atau distrik bawahan) di dekat Amurang jadi Distrik Rumoong (baru).
Meriam VOC di Rumoong 1930, dimiliki keluarga Runtuwene. *)
-Tahun 1874 distriknya tidak besar. Graafland menulis, tanahnya lebih besar di sebelah selatan dari Ranoiapo. Ibunegerinya ada di mulut kuala Ranoiapo, yakni Rumoong, tempat kediaman Majoor dan ada sekolah. Negerinya dibagi tiga bagian atau kampung, yakni: Sendangan (554), Talikuran (557), dan Serani (155). Seluruhnya 1.266 orang. Negeri lainnya  di gunung antara Wuwuk dan Tombasian-atas adalah: Rumoong-Atas (567) dengan sekolah. Lalu, di sebelah Ranoiapo: Wijauw (158), Elusan (336) dengan sekolah, Winajan (115), Tawaan (238) dengan sekolah, Radei (182), Tengah (Tenga, 110) dengan sekolah, dan Poigar (124). Seluruh Distrik Rumoong berpenduduk 3.096 orang.
-Tanggal 8 Oktober 1909 Distrik Rumoong digabung dengan Distrik Tombasian.

-Pelle Daniel Tumbelaka, 1808.
 Tanggal 14 September 1810 meneken kontrak perjanjian dengan Residen Inggris Thomas Nelson.
 -Lokke.
 -Lao (Laoh, Lauw), 1829.
 Disebut pula Lao Runtuwene. Dengan Kumarua anaknya Manuel Runtuwene.
-Majoor Manuel Runtuwene, (1838-Januari 1878).
 Dengan Hukum Kedua adiknya Runtuwene, lalu diganti anaknya Jotham Runtuwene.


-Hukum Besar Jotham Manuel Runtuwene, (27 Januari 1878-6 Oktober 1895).
Dengan Hukum Kedua adiknya A.A.Runtuwene hingga Januari 1890, lalu Hukum Kedua Klas 2 sampai akhir September 1895 F.H.Dotulong.


-Hukum Besar Frederik Hendrik Dotulong, (6 Oktober 1895-21 September 1904).
Dengan Hukum Kedua 1897 L.A.Warokka. 
-Hukum Besar A.Dengah, (21 September 1904-8 Oktober 1909).
September 1909 peroleh titel Hukum Besar Klas 1. 



                TOMPASO

Tahun 1882 distriknya digabungkan ke Kawangkoan, sedangkan bagian di seberang sungai Ranoiapo yang sebelumnya diperintah seorang Hukum Kedua, ditingkatkan jadi Distrik Tompaso (baru), beribukotakan Motoling. Wilayah kekuasaannya sekarang telah membentuk Kecamatan Motoling, Motoling Timur, Motoling Barat serta Kecamatan Kumelembuai, termasuk kawasan di selatannya hingga ke perbatasan Bolaang-Mongondow yang kelak membentuk Tompasobaru dan Modoinding, meski para pendiri dan penduduknya telah pusparagam hasil Kolonisatie Zuid Minahasa yang diupayakan Minahasaraad (Dewan Minahasa) di dekade kedua abad ke-20.
Paduan suara Tompaso (baru) 1929 sambut Gubjen de Graeff. *)
-Majoor Willem Sondakh, (1850-Mei 1882).
Telah memimpin Distrik Tompaso sejak masih di Tompaso (lama).
 

-Majoor L.J.Sondakh, (Mei 1882-September 1886).
-Majoor Willem C.Sondakh, (22 September 1886-dipensiun akhir September 1895).
 Dengan Hukum Kedua anak bersaudaranya Sondakh.


-Majoor Jotham Manuel Runtuwene, (6 Oktober 1895- dipensiun 21 September  1904).
 Dengan Hukum Kedua Motoling N.Cussoij hingga April 1901.
-Hukum Besar Klas 1 Jan Nicholaas Tambajong, (21 September 1904-6 Juni 1907).
Kemudian pindah Hukum Besar Kepala Distrik Maumbi. 
-Hukum Besar A.Manoppo, (6 Juni 1907-dipensiun 31 Desember 1911).
Titel Hukum Besar (Klas 1) sejak 8 Oktober 1909. Diganti W.A.Wakkary.




RUMOONG-TOMBASIAN
 
Dua mobil di Kolonisasi Minsel 1930. *)
-Hukum Besar Jan Nicholaas Tambajong, (8 Oktober 1909-Desember 1911).
-Hukum Besar Willem Abraham Wakkary, (31 Desember 1911-1918).
Peroleh titel Hukum Besar Klas 1 Juni 1914.




                AMURANG
Hukum Besar Tambajong, Aspiran Kontrolir W.E.C.Veen, Jaksa, dan para Schrijver tahun 1913. *)

-Hukum Besar J.C.Tambajong,. (     -1929)  
Kubur Notji Tambayong. *)
-Hukum Besar Nicholas ‘Nico’ Frederik G.Mogot, (1929-1931).
-Hukum Besar  F.O.Ompi, (1931-1935).
-Hukum Besar Dirk ‘Dicky’ August Theodorus Gerungan, (1938-1943).
-Hukum Besar (Guntjo) Herman Karel Waworuntu, (1943-1946). 
-Hukum Besar Phill Maurits Tangkilisan, (1946-1949).
-Hukum Besar Gerardus Samuel Ruata, (1949-1952).
-Lexi Tambajong.
-Lengkey Ondang.  ***


*). Foto koleksi KITLV Digital Media Library, Nationaal Archief, Tropenmuseum, Australian War Memorial, Dienst voor Legercontracten Indonesia, dan Bodewijn Talumewo.

PUSTAKA:
-N.Graafland, ‘Inilah Kitab Deri Hal Tanah Minahasa’ Rotterdam, 1874.
-Catatan Mayoor tua Sonder A.B.Wawo-Roentoe. 
-Koninklijke Bibliotheek-Delpher Kranten (De Locomotief 7 Januari 1875, 20 Desember 1881, 22 Januari 1890, 2 Juni 1898, 16 April 1901 dan 16 Juli 1901; Bataviaasch Nieuwsblad 30 Agustus 1895, 23 September 1904 dan 20 Juni 1914; Java Bode 30 Januari 1878, 23 Desember 1892, 30 Agustus 1895, 9 Oktober 1895; Het Nieuws  van den Dag 8 Juni 1907 dan 9 Oktober 1909; Soerabaiasch-Handelsblad 28 Desember 1889).
-Regeeringalmanak voor Nederlandsch-Indie 1892,1895,1896,1898,1899,1903,1905,1910,1912.
-Adrianus Kojongian dkk., ‘Ensiklopedia Tou Manado’.
Posting Komentar