Jumat, 03 Februari 2017

Wijk, Kampung Masa Kolonial di Manado













Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 

 

Pemandangan Teluk Manado dan Bukit Tumpah 1930-an. *)

 

 

   

Pemerintah kolonial Belanda ketika menjajah Indonesia, suka membagi-bagi klas masyarakat. Tidak terkecuali di Sulawesi Utara. Tentu saja, orang Belanda dan bangsa Eropa lain menduduki tempat tertinggi. Kemudian klas istimewa, yakni orang Borgo yang terbagi Borgo Kristen dan Borgo Islam. Berikut, penduduk yang digolong orang timur asing (vreemde oosterlingen), orang Tionghoa, Arab dan India. Paling bawah, yakni penduduk lokal, yang disebut Inlanders atau inlandsch alias pribumi, terdiri orang Minahasa, Bantik dan lain sebagainya. Meski kemudian sejak akhir 1800-an banyak orang Minahasa yang berada di tingkatan tertinggi, seperti para kepala, kerabatnya dan guru boleh jadi ‘istimewa’ karena memiliki beslit gubernemen Belanda yang mengangkat statusnya sebagai orang berderajat Eropa.

 

Klas dan keistimewaan ini pun berlaku di Manado, pusat Keresidenan Manado. Orang Belanda dan penduduk istimewa memiliki pemukiman khusus di pusat Kota Manado, yang telah mulai dirintis sejak awal penjajahan, masa Kompeni (VOC, sebelum berganti pemerintah Hindia-Belanda).

 

Kampung-kampung istimewa tumbuh di Bendar Manado, sekarang masuk Kecamatan Wenang, lokasi yang di masa lalu disebut 'distrik' hoofdplaats Manado, pusat pemerintahan dan perdagangan. Hunian orang Belanda yang pernah terdiri enam kampung, tersebar di utara dan selatan Benteng Nieuwe Amsterdam. Di dekatnya, Kampung Cina di Calaca sekarang, dan kemudian Kampung Arab di Istiqlal sekarang. Berikut Kampung Borgo, sekarang di Kecamatan Tuminting, Kampung Borgo Kristen di Sindulang dan Kampung Borgo Islam di Kampung Islam.

 

Orang Borgo istimewa, karena sejak masa Kompeni mereka bekerja jadi serdadu di Garnisun Schutterij Manado. Mereka berdinas di Manado, Kema, Amurang dan Belang, bahkan sebelum dihapus sampai Likupang dan Tanawangko. Itu sebabnya, hingga tahun 1878, mereka tidak harus membayar pajak kepala atau pun bekerja Hereendienst atau kerja rodi seperti mesti dilakukan penduduk Minahasa. Sisa keeksklusifan Borgo baru hilang tahun 1911, ketika mereka disamakan orang Minahasa umumnya.

 

Wijk lah, kampung-kampung istimewa dari orang Belanda, Borgo Kristen, Borgo Islam, Tionghoa dan kemudian Arab di ibukota Manado ini. Kepala Kampung digelari Wijkmeester. Mereka semua tidak bertanggungjawab kepada Kepala Distrik Manado atau Ares, tempat pemukimannya berada, tapi langsung dibawah Kontrolir Manado yang dipegang ambtenar Belanda. Nama kampung-kampung ini, seperti bentukan Belanda di kota-kota lain Indonesia, adalah Leter. Bukan karena bentuk kampungnya seperti huruf abjad. Tapi, sekedar nama administrasi, yang dapat bertambah atau berkurang tergantung kebijakan kolonial.

 

Selain Wijkmeester, orang Borgo Kristen, Borgo Islam, Tionghoa dan kelak timur asing lain ini memiliki kepala kaum pula. Orang Borgo kepala kaum sendiri, oleh Belanda diberi titel kehormatan Luitenant. Orang Cina kepala kaum bahkan dua orang, Kapitein dan Luitenant. Para kepala kaum otomatis menjadi pemimpin seluruh warga, tidak terbatas yang bermukim di stad Manado, sebab ada orang Borgo atau Tionghoa bermukim di luar kampung istimewa, di distrik-distrik lain yang kepalanya orang Minahasa.

 


Kampung Cina tahun 1880.

 

Letnan Kepala Kaum sering merangkap Wijkmeester, kepala kampung. Luitenant Cina Manado sampai tahun 1860-an otomatis jadi Wijkmeester Kampung Cina. Begitu pun Luitenant Islam Manado sampai tahun 1903 bertindak langsung sebagai Wijkmeester Kampung Islam.

 

Kepala Borgo Manado, terutama Borgo Islam karena kaumnya mayoritas bekerja di Schutterij Manado, sampai tahun 1898 otomatis menyandang pangkat tituler dalam kemiliteran, yakni Letnan Dua. Letnan Islam Manado pertamakali dicatat sebagai Letnan Dua di korps Schutterij Manado di tahun 1848.

 

PENDUDUK

Penulis terkenal Dr.Pieter Bleeker ketika menyertai kunjungan Gubernur Jenderal Mr.A.J.Duymaer van Twist di Manado 1855, menggambarkan Kampung Belanda, berada di utara dan selatan Benteng Nieuwe Amsterdam. Kampung Cina berbatas di utara dengan sungai Manado, di batas timurnya ada rumah Residen. Kampung Borgo sendiri ada di batas barat dan utara dari Kampung Belanda.

 

Wenangpark 1930-an *).

 

 

Bleeker mencatat akurat komposisi penduduk Manado akhir tahun 1854 yang baru 8.969 jiwa. Selain distrik hoofdplaats Manado, ada Distrik-distrik: Manado, Ares, Negeri Baru, Klabat di-Bawah dan Bantik. Di 'distrik' pusat kota Manado bermukim sebanyak 291 orang Belanda. Orang Borgo 1.043 (482 Kristen, 561 Islam). Orang pribumi 398 (139 Kristen, 86 Islam dan 173 kafir). Kemudian orang Tionghoa  630 jiwa, dan budak (slaves) 167. Total penghuni pusat kota ketika itu 2.529 orang.

 

Di luar stad Manado, di Distrik Manado, ada 241 Borgo (Kristen 219 orang dan 22 Islam), pribumi 166 orang (158 Kristen, 8 Islam) dan 15 kafir. Total penduduk Distrik Manado 422 jiwa. Di Distrik Ares 4 orang Borgo (2 Kristen, 2 Islam), pribumi 1.533 orang (142 Kristen, dan 1.391 kafir). Total Ares 1.537 jiwa. Di Distrik Negeri Baru 15 orang Borgo (14 Kristen, 1 Islam), dan 522 pribumi (17 Kristen, 22 Islam dan 329 kafir), ditambah 1 slaven, totalnya 538 jiwa.

 

Di Distrik Klabat di-Bawah, terdapat 5 orang Borgo, semua Kristen; 1.469 pribumi (hanya 47 Kristen, sisa masih kafir), dengan total penduduk1.474 jiwa. Terakhir, di Distrik Bantik, dengan jumlah penduduk seluruh distrik 2.469 jiwa, ada 7 orang Borgo (5 Kristen, 2 Islam), 2.462 pribumi (2 Kristen, 5 Islam dan 2.455 kafir).

 

Schutterij Manado masa itu diperkuat 264 serdadu. Selain serdadu Belanda, mayoritas serdadunya adalah orang Borgo, baik Kristen maupun Islam. Dengan rorehe atau kapal distrik, mereka berdinas melakukan patroli keamanan di pesisiran pantai untuk menghadapi bajak laut. Kekuatan maritim yang diperbantukan pada Residen Manado, selain 8 rorehe tersebar di Manado dan lokasi strategis lain, ditambahi tiga kora-kora dari Sultan Ternate, berkekuatan 50 prajurit Ternate yang dikomandai kepala dengan titel Utusan yang juga di Manado tinggal di Wijk Borgo.

 

Ruas jalan di pusat kota Manado 1930-an. *)

Berbeda kampung istimewa, kampung-kampung orang Minahasa, yakni negeri, di Manado diperintah oleh para hukum tua yang bertanggungjawab langsung pada para Kepala Distrik. Bleeker mencatat kondisinya tahun 1852. Distrik Bantik ada delapan negeri. Singkil ibukotanya 391 jiwa, Malalayang 688; Buha 404; Bengkol 363; Bailang 197; Molas 169; Meras 182, dan Talawaan 163. Dari total penduduk Bantik 2.557, baru 2 warga di Singkil yang menjadi Kristen.

 

Distrik Negeri Baru tiga negeri, beribukota Titiwungen, berpenduduk 338 jiwa semua Kristen. Lalu Tongkeina 238 jiwa, baru 3 Kristen, dan Tiwoho 179 jiwa baru 4 Kristen.

 

Distrik Ares ada sembilan negeri, yakni Ares 274 jiwa, 38 sudah Kristen; Sonder ares 82, 5 Kristen; Tikala 96 jiwa, semua Kristen; Sawangan 361, semua Kristen; Kamanta 211 jiwa, semua Kristen; Pandu 169, semua Kristen; Sonder Pandu 155, Kristen semua; Talawaan, 171 jiwa, baru 24 Kristen dan Pamuli 108 jiwa, masih kafir semua.

 

Terakhir, Distrik Klabat di-Bawah, ada lima negeri. Klabat di-Bawah 288 jiwa, 33 Kristen. Paniki di-Bawah 582 jiwa, 17 Kristen, lalu semua penduduk 2 negeri lainnya masih kafir, yakni Tombuluan 289 jiwa dan Kairagi 114.  

 

WIJKMEESTER

Wijk di Manado mengalami pasang-surut. Tahun 1843, ada 7 wijk. Belum langsung disebut Leter. Para Wijkmeester pertama yang dicatat adalah: Johannes Nicolaas Agaatsz sebagai Wijkmeester over de wijk Menado en Bantik; Alexander Mollet, over het noordelijk gedeelte van Ares en Negeri Baru; Johan Lodewijk Meijer, over het zuidelijk gedeelte van Ares en Negeri Baru; Herman Carl Dircks, over Pondol en Titiwungen, Franciscus van Delden, over de wijk Tikala, Hassan Nurlakip, over de Islamsche Kampong. Sementara Pauw Djoe, over de Chinesche Kampong. Tahun  1845 bertambah Charles Ferdinand Bendsneijder yang jadi Wijkmeester over de wijk Klabat beneden.

 

Orang Belanda ketika itu tersebar di berbagai tempat, seperti di Distrik Bantik, Distrik Manado, di utara dan selatan Distrik Ares dan Distrik Negeri Baru, Pondol dan Titiwungen, Tikala dan Klabat di-Bawah.

 

Tahun 1848 wijk jadi 8 kampung, penduduk Belanda terpusat di Bendar Manado, dan nama kampung mulai dicatat sebagai Leter. Orang Belanda dan Borgo Kristen menghuni 6 kampung, Leter A sampai Leter F. Wijkmeester kampung-kampung ini rata-rata orang Belanda, tapi ada pula Borgo Minahasa. Orang Borgo Islam diam di Leter H, yakni Kampung Islam, dan orang Tionghoa di Wijk Leter G, atau Kampung Cina.

.

Tahun 1869 wijk tinggal 7. Kampung Belanda dan Borgo Kristen jadi 5. Kampung Cina berubah nama Wijk Leter F, dan Kampung Islam Wijk Leter G. Tapi, tak lama kembali 8 wijk.

 

Hingga awal abad ke-20 ada empat orang Minahasa yang digolongkan sebagai Borgo, karena perkawinan atau beribu orang Belanda dan Eropa lainnya yang pernah jadi wijkmeester di Manado. A.B.Kalengkongan, A.D.Wakkary, W.Pelenkahu dan Ch.Jocom.

 

Arnoldus Bernardus Kalenkongan, tercatat Borgo Minahasa pertama menjadi Wijkmeester Leter E tahun 1847 hingga 1869. Kalenkongan tahun 1852 diangkat pula sebagai Kepala Distrik Likupang, dan Hoofddjaksa 1861. Ia pun sebagai Kepala orang Borgo Kristen di Schutterij Manado dengan pangkat Letnan Dua, sejak 1833.

 

Abraham Donatius Wakkary, bekas Groot Majoor dalam Perang Diponegoro menjadi Wijkmeester Leter B, Willem Pelenkahu Wijkmeester Leter F, dan Ch.Jocom Kepala Kampung Borgo Kristen.

 

Tahun 1884 terjadi reorganisasi wijk di Manado. Wijk tinggal 3. Wijk Leter A dan Leter B khusus orang Belanda, dan Wijk Leter C sebagai Kampung Cina, ketiganya dipimpin seorang wijkmeester. Wijkmeester Leter A adalah W.Tower, dan Wijkmeester Leter B J.E.Paulus, sedangkan Wijmeester Leter C Sie Boen Tiong. Sebelumnya, sejak 1871 Kampung Cina terbagi dua kampung.  

 

Sementara, Kampung Borgo Kristen yang masa itu dicatat pemukiman di utara sungai Manado dan Borgo Islam, pemukiman di selatan sungai Manado, kepalanya berganti istilah. Dari wijkmeester jadi Kepala Kampung. Kampung Borgo Kristen dipimpin Kepala Kampung Ch.Jocom, dan Kampung Islam Kitjil Ali.

 

Tahun 1896 Kampung Belanda ulang menjadi 3 wijk, A,B,C. Kondisi mana bertahan hingga Jepang mengambil alih kekuasaan di Manado 1942.

 

Berikut para Wijkmeester yang dikenal hingga tahun 1912. Tidak dicatat Wijkmeester Kampung Cina, Kampung Islam, dan kemudian juga Kampung Arab Manado.

.

 

Leter A

Anthonie Brachettij 1847.

Jacob Schoe 1858.

Charles Ferdinand Bendsneijder,1869.

J.E.Pattijnama 1870.

 

Leter B

Jan Hendri Wentholt 1847.

A.D.Wakkary 1849.

B.Salomonsz 1858.

Johannes Frederik Bendsneijder 1878.

A.Niels 1879.

 

Leter C

Marthinus Judocus Josephus op de Laeij 1847.

Christoffel Harms Blick 1849.

Livius de Jong 1858.

Zacharis Scholtz 1869.

Nicolaas Herman Hartman 1870.

Daniel Manuel Pietersz 1878.

Carl Friederich Wilhelm Tauffmann 1879.

 

Leter D

Herman Carl Dircks 1842.

Nicolaas Johannes de Graaff, 1863.

D.Niels 1869.

J.P.Tokaija 1872.

F.J.Hanjoel 1878.

 

Leter E

A.B.Kalenkongan 1847.

Lodewijk Diederik Willem Alexander van Renese van Duivenbode 1869.

J.C.Dircks 1872.

C.Z.Laseduw 1878.

 

Leter F

Willem Diderik Semet 1847.

Bernad Sebastiaan Mahlmeester 1849.

Leonard Lendwaij 1863.

W.Pelenkahu 1870.

M.N.Huwae 1878.

 

Tahun 1884 Kampung Belanda dibagi 2 Wijk, dan sejak tahun 1898 kembali 3 wijk.

 

Leter A

A.Tower 1884.

C.F.W.Tauffmann 1885.

A.Baars Wzn 1888.  

J.W.Hesterman 1892.

 A.K.Kock 1902.

F.K.Cock 1904.

J.W.L.Brocx 1908.

C.H.van Essen 1911.

 

Leter B

Johan Elias Paulus 1884.

J.E.Paulus Verburg 1895.

A.F.van Rheeden 1906.

J.van Meulen 1908.

G.J. Kuijk 1911.

 

Leter C

D.G.J.Smith 1898. ***

 

 

 

 

 

*).Foto dari Tropisch Nederland;Veertiendaagsch Tijdschrift 1937 dan 1938 serta KITLV Digital Media Library. 

BAHAN OLAHAN
Bleeker, P., Reis dor de Minahassa en den Molukschen Archipel, Batavia, 1856.
Delpher Kranten.
Ensiklopedia Tou Manado.
Google Boeken, Almanak van Nederlandsch-Indie voor het jaar 1842-1869.
Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin
Almanak van Nederlandsch-Indie voor het jaar 1832-1840.
Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie 1871-1912.

Kamis, 26 Januari 2017

Tateli, Legenda Mandolang dan Pingkan









Oleh: Adrianus Kojongian





 

Parigi Pingkan di Ranowangko Tombariri. *).






Tateli, sekarang lima desa di Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa adalah negeri Tombulu yang telah masyur sejak awal peradaban Minahasa. Telah berdiri jauh-jauh hari bahkan sebelum orang Minahasa berkenalan dengan bangsa asing dan suku-suku lain.

Legenda-legenda Tombulu kaya dengan kisah-kisah tentang Mandolang, negeri lama yang pernah mentereng di lokasi Tateli saat ini. Mandolang dihikayatkan telah ada sejak anak keturunan Toar-Lumimuut.

Penulis terkenal Dr.J.G.F.Riedel menyebut anak-cucu Toar-Lumimuut dari turunan se Makatelu-pitu, yakni Dotu Pangerapan dan Pontomandolang yang datang ke Mandolang, Keduanya beserta istri-istri mereka Kureisina, Rameipatola dan Raunpatola datang dari Tuur in Tanah, lalu mendirikan Soanga dekat Tateli, selain negeri Lumalengkei di Tanjung Pulisan. Nama Mandolang berasal dari tokoh Pontomandolang.

Setelah pembagian di Watu Pinawetengan, Tombulu mulai menyebar. Mandolang pun didiami. Namun, Mandolang banyak kali ditinggalkan ulang, karena gangguan para bajak laut asal Mindanau yang dikenal sebagai Mangindano yang melakukan pembumihangusan, pembunuhan dan penculikan kaum pria dan perempuan. Mandolang tetap didatangi penduduk Tombulu dan dari pedalaman lain Minahasa untuk mendonasin, mengambil garam.

Ketika itu, Mandolang mulai didatangi suku-suku lain. Perselisihan dengan pendatang tidak terhindarkan, menimbulkan banyak konflik tidak berkesudahan, terutama dengan pengayauan, dimana banyak penduduk Kakaskasen dan Minahasa umumnya sangat menderita. Terkenal di masa itu kisah Lokon Mangundap, pahlawan yang kemudian menjadi kepala di Tombariri. Dari cerita-cerita rakyat Kakaskasen, Tomohon dan Tombariri, Lokon Mangundap bersama Kalalo, Aper, Karundeng, Kapalaan dan Posumah (Riedel menyebut mereka Lokon Mangundap, Kalele, Aper, Karundeng, Kapongoan, Karumah dan Posumah) telah berhasil mengamankan Mandolang dan jalur mendonasin dengan memberantas para pengayau yang suka mengganggu penduduk Tombulu dan Minahasa lain yang pergi ke Mandolang untuk mengambil garam.

Kepadanya, Kepala Kakaskasen telah menyerahkan untuk menjadi milik orang Tombariri, tanah-tanah luas pula. Tombariri yang semula hanya meliputi kawasan Woloan sekarang dan sebelah selatan sungai Ranowangko hingga pantai barat liwat pegunungan Manembo-nembo, ditambahi dengan wilayah yang ada di sebelah utara sungai Ranowangko, meliputi gugusan gunung-gunung Lokon, Kasehe, Tatawiren hingga di tepi pantai sebelah barat. Lokasi mana dikenal sekarang sebagai luasan Kecamatan Tombariri, bersipat di arah pantai dekat Mandolang di timur Mokupa.

Masa Kakaskasen dipimpin Tikonuwu dan Tuera, banyak penduduk Kakaskasen kembali bermukim di Mandolang. Mandolang maju pesat. Penduduknya selain hidup bertani juga menangkap ikan. Rata-rata kaum prianya gagah berani, karena sewaktu-waktu mereka berhadapan dengan para bajak laut asal Mindanau.

Riedel menyebut adanya perang Mandolang di masa itu. Salah seorang pemuda Mandolang bernama Tamuntuan telah pergi ke pulau Manado Tua dan berhasil memperistri gadis cantik bernama Tinontongpatola anak Pongeba yang kemudian dibawanya pulang ke Mandolang. Ternyata, kepala orang Babontehu, pemukim pulau Manado Tua ketika itu, tidak menyukai warganya kawin dengan orang Tombulu.

Sang kepala menyuruh pengikutnya merampas kembali Tinontongpatola. Tapi, karena gagah perkasanya laki-laki Mandolang, orang Babontehu telah dikalahkan, dan perahu-perahu mereka dibinasakan.

VERSI PINGKAN
Sebuah peristiwa yang dihikayatkan penduduk Tateli, dan Tombulu umumnya adalah perang Minahasa dengan Bolaang yang bersumber dari kisah Pingkan. Berbeda versi bahwa kejadiannya terjadi di Maadon atau Maarom Tonsea yang ditulis Riedel atau juga Sydney Hickson, diyakini mereka, justru berlangsung di Mandolang.

Pingkan gadis rupawan dari Mandolang telah membuat raja Mongondo mabuk kepayang hanya dari mendengar kecantikannya saja. Meski Pingkan telah bersuamikan Matindas, sang raja tetap memaksa Pingkan untuk menjadi istrinya. Dengan akal yang hebat dari Pingkan, sang raja terbunuh, dan pasukannya di pukul mundur.

DITINGGALKAN
Perkelahian dengan Bantik yang menurut Riedel telah datang di daerah seputaran Malalayang sekarang setelah pindah dari Gunung Bantik dekat Senduk, sebelum akhirnya ke Singkil, telah berlarut-larut kemudian hingga di awal abad ke-20, meski berkali-kali didamaikan oleh pemerintah kolonial ketika itu.

Perseteruan paling hebat terjadi di tahun 1760-an. Soal Malalayang, telah menyebabkan Tateli hancur di tahun 1764, sementara ibukota Balak Kakaskasen Lotta dibakar. Akhirnya, Residen Manado campur tangan. Kepala Balak Bantik Mandagi ditahan Belanda dan dibawa dengan kapal Enkhuizen ke Batavia via Ternate. Tapi, di selat Buton, Mandagi telah terjun dan hilang ditelan gelombang. Ketika itu, terkenal pahlawan Tateli yakni Tonaas Wolla.

Belum lama, Tateli kembali diserbu. Dua pertiga penduduknya menjadi korban. Kali ini, Tateli benar-benar ditinggalkan. Setelah campur tangan balak-balak lain Minahasa, Kompeni Belanda tahun 1789 menahan Kepala Bantik bernama Samola di Benteng Amsterdam.

Tateli baru dihuni kembali setelah tercapai kedamaian antara Kakaskasen-Bantik. Di tahun 1820 datang para pembuat garam dari Kinilow, sekarang kelurahan di Kecamatan Tomohon Utara, yang masa itu masuk Balak Kakaskasen. Lama kelamaan mereka tertarik bermukim dengan membangun rumah-rumah di sebelah barat Tateli lama (Wanua Ure).

Tokoh-tokoh yang dianggap perintis pendirian kembali Tateli di bekas Mandolang adalah Tonaas Sirang, Parengkuan, Dais dan Pangemanan. Awalnya mereka membuat upacara adat mendengar bunyi burung untuk menentukan lokasi pemukiman. Setelah ada petunjuk baik, mereka memasuki tempat itu. Karena menemukan tiga batu yang merupakan tungku, yang disebut dalam bahasa Tombulu tateli, maka dinamailah negeri baru dalam Balak Kakaskasen ketika itu, Tateli. Graafland memberi versi lain, asal nama negerinya dari sungai yang mengalir di tempat itu.

Perkembangan Tateli terbilang pesat, sehingga di tahun 1835 telah dibuka sebuah sekolah gubernemen. Tateli baru dipimpin seorang hukum tua yang dipilih sendiri oleh penduduk di tahun 1850. 

Sekarang, Tateli telah menjadi sebuah ‘kota’, sebagai ibukota dari Kecamatan Mandolang yang dimekar dari Pineleng tahun 2012. Nama Mandolang, untuk mengenang kebesaran masa lalunya. Tateli telah memekar menjadi lima. Tateli, Tateli Satu, Tateli Dua, Tateli Tiga dan Tateli Weru yang dikenal pula dengan nama Buloh, dengan penduduk telah aneka ragam.

Situs tinggalan Tateli masa lalu masih ada. Tanjung Mandolang, sekitar 860 meter dari pusat Tateli di Buloh sekarang. Kemudian Selokan Ranorempeng yang menjadi parit pertahanan dalam perkelahian tempo dulu. Juga bekas negeri tua yang disebut Wanua Ure di timur Tateli. Lalu bekas Loji dan waruga di lokasi Ranoriri.   ***


*).Foto koleksi Bode Talumewo.

BAHAN TULISAN
Kojongian, A., Riwayatmu Tomohon, 1986.
Tomohon Kotaku, 2006.
Riedel, J.F.G., Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu, Batavia 1862. Delpher Boeken.
Taulu, H.M., Sejarah Minahasa, 1955.
Watuseke, F.S., Sejarah Minahasa, 1962.
Wawancara di tahun 1980-1990-an.