Jumat, 05 April 2013

Kisah Supit, Lontoh dan Paat (3)

 

 

                                               

 

                                              Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 


Monumen 250 tahun Kontrak Belanda-Minahasa dibangun 1929. *)



Dari tiga serangkai penguasa Minahasa, yang pertama meninggal adalah Lontoh Tuunan di tahun 1719, menyusul Paat Kolano tahun 1725 dan terakhir Pacat Supit Sahiri Macex bulan Maret 1738. Lontoh Tuunan digantikan anaknya Rondonuwu (Lontoh) sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Sarongsong, Paat Kolano digantikan putranya Manengkeimuri sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Tomohon, dan Pacat Supit diganti putranya Mongi sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Tombariri. Anak Supit Sahiri bernama Rondonuwu (Supit) kelak mengambilalih posisi Manengkeymuri di Tomohon.

Kematian Lontoh Tuunan dikisahkan meninggal karena sakit, dan diwarugakan di ibukota Sarongsong saat itu, sekarang lokasi bernama Tulau-Amian Nimawanua. Sayang waruganya tidak diketahui lagi posisinya, terlupakan oleh waktu dan kemungkinan hancur atau tertimbun tanah setelah persitiwa gempa bumi tahun 1845 yang menyebabkan penduduknya pindah ke lokasi Sarongsong sekarang di bagian timur ‘kota’ tua itu.

Versi lain yang berlatar kisah yang banyak berkembang sebelumnya (terutama di periode pemerintahan Gubernur H.V.Worang) sampai waruga Lontoh dan Paat ada di Treman Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara (di samping gereja GMIM ‘Eben Haezar’) adalah karena mereka merupakan pribadi dan kepala orang Tonsea. Bahkan ada penulis menggambarkan Paat Kolano sebagai Kepala Tombulu, Supit Kepala Toulour dan Lontoh Kepala Tonsea. 

Versi Treman, Lontoh ini sebagai pendiri Treman di tahun 1776. Versi lainnya yang mempertegas klaim waruga Treman ini sebagai milik Lontoh dan Paat adalah silsilah yang mengungkapkan mereka sebagai tokoh asal Tonsea juga kerabat dekat. Lontoh adalah anak Regar dan Ringking, serta mengawini Amben putri Runtulangi dan Tolang Pinorotan. Lalu Supit adalah anak Tidadas (kakak Amben) dengan Kowulan, sedangkan Paat anak Kokory Pinasoke (kakak kedua Amben) dengan Soerensina.

Waruga di Treman dikisah kubur Paat. *)
Tentang kematian Paat Kolano selain kisah meninggal wajar di usia tua dan diwarugakan di Tomohon, meski juga buktinya tidak ada lagi, karena Nimawanua bekas lokasi kota lama Tomohon sampai tahun 1845 telah menjadi kompleks hunian cukup padat di Kelurahan Kolongan, berkembang versi kalau nasibnya berakhir tragis. Paat meninggal karena dibunuh, bahkan sampai dipenggal kepalanya.

Konon, kejadiannya ketika ia pergi ke Tonsea dari Tomohon, ia dihadang di lokasi berdekatan Airmadidi lalu dibunuh dan mayatnya dilempar ke dalam jurang. Namun, di Tondano beredar kisah lain kalau Paat telah dibunuh di Tataaran, malahan musuh-musuhnya sampai memenggal kepalanya.

Memang, mengherankan Belanda seakan enggan mengusung nama Lontoh dan Paat. Berbeda dengan Pacat Supit Sahiri yang jasa-jasa dan namanya kemudian begitu dihormati Belanda sejak dekade kedua abad ke-20. Setiap tahun sampai dengan Belanda angkat kaki dari Minahasa di tahun 1949, saban tanggal 10 Januari dilakukan peringatan penandatanganan Kontrak 10 Januari 1679.

Gubjen de Jonge di monumen 250 tahun Perjanjian Belanda-Minahasa. *)

Upacara resminya dengan dipimpin Residen Manado bertempat di monumen peringatan 250 tahun perjanjian Belanda-Minahasa yang dibangun tahun 1929, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ziarah  ke waruga sahiri (saksi) perjanjian tersebut, Pacat Supit di depan gereja Protestan Woloan (kini gereja GMIM ‘Eben Haezar’ Woloan II) yang ikut dipugar di tahun 1929 dibawah petunjuk Asisten-Residen Manado Max Hamerstar.
   
PINDAH DUA KALI
Ketika Pacat Supit Sahiri Macex meninggal di Tomohon bulan Maret 1738 terjadi keributan besar. Jenasahnya saling diperebutkan balak-balak besar Minahasa. Ares, Tombariri, Tondano dan Tomohon. Masing-masing ingin Supit diwarugakan di wilayahnya. Putranya dari istri Ares Suanen, yakni Hukum Mayoor Tololiu yang sangat dekat dengan Residen Manado menginginkan Supit dikuburkan di Tikala ibukota Ares. Putranya dari istri Woki Konda di Tombariri yakni Hukum Mayoor Mongi ingin Supit dikuburkan di Katingolan ibukota Tombariri. Begitupun putranya di Tondano mengklaim ayahnya lebih pantas dikubur di Tondano. 

Namun kemudian semuanya tidak berdaya, karena kakak tiri mereka yang merupakan putra paling tua Supit dari istri pertama Laya, yakni Hukum Mayoor Rondonuwu mengambil keputusan Pacat Supit akan dikuburkan di Kamasi, berdampingan waruga Laya.

Putra-putra lain Pacat Supit cukup puas, namun tidak demikian dengan Mongi serta para kepala Tombariri lainnya di Katingolan. Mereka merencanakan akan mencuri waruga Supit di Kamasi. Rencana tersebut dijalankan pada suatu malam ketika penduduk Kamasi benar-benar tertidur pulas. 

Puluhan pria Tombariri menarik waruga Pacat Supit dari liangnya dengan menggunakan tali yang terbuat dari bambu teling muda (buluh tumatikak). Selama penggalian waruga itu, para wanita Tombariri melakukan tarian Sinauan untuk memberi semangat. Maka, tidak lama waruganya terangkat, lalu dipikul beramai-ramai ke barat ke lokasi ibukota Tombariri di Katingolan sekarang. Ritual Sinauan memimpin mereka sampai waruga tiba di negeri, dan kemudian dikuburkan ulang.

Rondonuwu awalnya marah dengan ulah adik tirinya, namun kemudian setelah Mongi memberi alasan bahwa ayah mereka paling layak dan pantas dikubur di Katingolan tempatnya lama memerintah, ia menerima.

Setelah Mongi memindahkan ibukota Balak Tombariri ke Lolah, bekas ibukota lama di Katingolan tinggal menyisakan negeri bernama Woloan yang kemudian dihancurkan gempabumi dahsyat tanggal 8 Februari 1845. Gempa yang sering dikaitkan dengan letusan gunung Lokon itu berlangsung selama sembilan hari sembilan malam, menelan banyak korban jiwa, terjadi retakan besar di sana-sini dan ancaman longsor di bagian utara dan selatan Katingolan yang memang bertebing. Penduduk Woloan makin sengsara karena saat itu pun berjangkit wabah penyakit.

Gereja Protestan di belakang waruga bersama pejabat Belanda dan pribumi. *)

Para pemimpin Woloan di Katingolan ketika itu, dihadiskan Tonaas Rumondor, Walian Pontoh, Putoosan Kapoh dan Teterusan Makal menyepakati memindahkan Woloan ke tempat aman di bagian selatan, lokasi sekarang. Untuk rencana pemindahan tersebut sampai dilakukan tiga kali acara Linigauan, baru diperoleh tanda baik. Pemindahan Woloan di tahun 1845 itu juga berlangsung semarak. Waruga Pacat Supit ikut ditarik dari liangnya dan diusung beramai-ramai ke lokasi baru yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer.

Pemindahan negeri serta waruga Supit tersebut dimeriahkan dengan pesta rakyat. Penduduk menabuh bunyi-bunyian serta memainkan musik lengdeng, yakni gitar dari bambu yang diketik-ketik dan berbunyi deng-deng. Khusus ritual waruga Pacat Supit yang ditarik mengunakan tali buluh tumatikak disemaraki wanita-wanita yang menarikan tari Mangaloong. Akhirnya waruganya ditanam kembali di tengah-tengah pemukiman baru (kini masuk Kelurahan Woloan II Kecamatan Tomohon Barat).

Waruga Supit setelah dipugar 1929. *)

Ketika Zendeling Tanawangko Nicolaas Graafland melakukan pembaptisan pertama di Woloan 14 Oktober 1860, ia segera membangun gereja sederhana di dekat waruga Pacat Supit Sahiri yang saat itu menjadi pusat kegiatan agama alifuru warga Woloan. Gereja yang berkembang dengan nama gereja Protestan bersimbol ayam dan kemudian bernama Eben Haezar kini, seakan identik dengan waruga Supit yang telah berkali mengalami pemugaran.

Inskripsi nisan Pacat Supit Sahiri dalam bahasa bahasa Melayu tua dengan huruf kapital adalah : ‘Inilah Coubur:Der.Hocom Majo:r.Soupit:Ter:D:B: M:S:1738.’ ***



       *). foto: Koleksi KITLV Digital Media Library.
Posting Komentar