Rabu, 03 April 2013

Kisah Supit, Lontoh dan Paat (2)


                                     

 

                                                 Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 


Lukisan (lain) wajah Supit. *)





Kehebatan Pacat Supit Sahiri Macex bukan sekedar pada kepintaran, wibawa dan karismanya saja, tapi juga pada senyumnya yang memikat. Bilamana senyumnya merebak, dan ia mulai berbicara, orang-orang akan terpesona, apalagi bagi kaum hawa. Kilauan dari barisan gigi putihnya, yang terbiasa  mengunyah sirih-pinang mengumbarkan daya tarik yang akan membuat wanita gampang jatuh cinta. Bentuk gigi-giginya itu konon kecil persis gigi tikus sehingga sangat memikat siapapun yang memperhatikannya.

Gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta adalah Laya berasal Kamasi. Dari perkawinannya lahir putra bernama Rondonuwu dan seorang putri bernama Liwun. Tidak berselang lama kemudian Supit jatuh cinta kepada Suanen. Dikisahkan bila Supit berkunjung ke Manado untuk urusan jabatannya di Benteng VOC dan bertemu Residen ia akan singgah dan banyak kali bermalam di rumah Kepala Balak Ares bernama Rumondor di Tikala. Sang kepala Ares telah berusia tua, namun mempunyai banyak istri, dan istri mudanya bernama Suanen benar-benar jatuh hati kepada Supit pada pandangan pertama.

Saat acara pesta setelah panen memetik padi baru di Ares, yang di masa itu biasa menjadi ajang perkawinan penduduk Minahasa, Suanen yang menari dan menghibur di depan suaminya Rumondor dan Supit terang-terangan mengungkapkan isi hatinya kepada Supit. Rumondor yang maklum dengan rela hati menyerahkan istri mudanya yang cantik itu menjadi istri Supit. 

Mendengar kejadian tersebut, Laya istri pertama Supit marah dan mengancam akan mencabik-cabik Suanen. Maka, Supit yang takut pada istrinya tidak berani membawa istri barunya ke Katingolan ibukota Balak Tombariri. Di Ares ia membangun rumah baru untuk Suanen yang kelak melahirkan anak lelaki dinamai Tololiu.

Beberapa waktu kemudian, di sekitar tahun 1682 Supit memimpin pasukan Minahasa membantu komandan Benteng Manado Sersan Herman Smith menghukum Balak Pasan-Ratahan, Tonsawang dan Ponosakan. Balak-balak tersebut telah masuk Minahasa tapi masih membangkang dengan berupeti kepada Raja Bolaang (Mongondow).

Mendengar Supit yang memimpin langsung pasukan penyerbu, Kepala Balak Pasan (bangko) bernama Watuseke merasa gentar. Ia menggunakan siasat wanita, sebab kesukaan Supit pada wanita cantik bukan rahasia lagi. Putri cantiknya bernama Woki Konda disuruh menyambut kedatangan Supit dan pasukannya di luar Ratahan. Dengan diantar pengiring sambil berhiaskan emas permata, ketika bersua Suanen spontan membuat Supit jatuh cinta. Perkawinan pun berlangsung di Ratahan, membuahkan hasil lain Pasan-Ratahan, Tonsawang dan Ponosakan tidak lagi mendua dan dengan resmi bergabung mutlak sebagai balak-balak Minahasa.

Lagi-lagi Laya istri pertama Supit cemburu dan marah. Sambil merajuk pulang ke Tomohon dan tinggal kembali di rumahnya di Kamasi, ia mengancam akan merobek-robek (kese’en) wajah cantik Woki Konda bila ditemuinya. Pulangnya Laya ke Tomohon justru dianggap kesempatan bagus oleh Supit. Ia membawa istri barunya dari Ratahan ke Katingolan dengan memotong jalan di Sarongsong, sehingga tidak melewati Tomohon karena takut akan ancaman Laya. Woki Konda melahirkan Mongi, Tinangon dan gadis bernama Kaampungen. Ketika Supit meninggal, Mongi membawa ibunya ke Lolah tua, ibukota baru Tombariri sampai meninggal dan diwarugakan di situ.

Supit Sahiri di masa kemudian ketika diangkat menjadi Kepala Balak Tondano di tahun 1710 memperistri dua gadis Tondano bernama Riri dan Wair. Dari Riri ia memperoleh anak bernama Nulu yang dikawini Rambek serta kemudian menurunkan kepala-kepala di Tondano. 

Dipercayai pula Supit mempunyai banyak selir di setiap tempat. Dia adalah tokoh berkarisma dan dimana-mana bila berkunjung selalu disambut seperti raja, selalu ditandu seperti para Residen Manado, dihadiahi bermacam hadiah, budak-budak (ata) dan harta lainnya. Namun ditutur, ia mengidap penyakit rematik yang disebut supi’. Bahkan nama penyakit itu dikaitkan bersumber dari namanya.

VERSI
Bagaimana naiknya Supit ke jenjang kekuasaan muncul sejumlah versi. Paulus Supit dan Lodewijk Wenas mengisahkan awalnya Supit mengakali ayah tirinya Ombeng yang sementara menjabat Kepala Balak Tombariri di Katingolan. Saat itu Kompeni Belanda mengundang para kepala Minahasa untuk hadir di Benteng Amsterdam Manado. Lodewijk Wenas menyebut peristiwanya berkaitan dengan Kontrak 10 Januari 1679, meski Paulus Supit menegas terjadi ketika VOC Belanda belum lama mendarat di Minahasa dan mencoba berhubungan dengan kepala-kepala Minahasa.

Konon, Supit mengatakan kepada Ombeng kalau Belanda meminta para kepala datang dengan memakai pakaian berwarna merah. Hal mana tentu saja tidak disetujui Ombeng yang sedang berduka karena baru kematian Winuni, ibu kandung Supit. Maka Supit yang akhirnya dikirim mewakili Balak Tombariri dalam pertemuan di Manado.

Karena pintarnya oleh Belanda Supit diberikan gelaran Kapitein dan diakui sebagai Kepala Balak Tombariri. Ombeng yang menyayanginya menyetujui penggantian dirinya tanpa mengindahkan protes anak kandungnya bernama Ogi yang merasa berhak atas posisi tersebut.

Kontrak Perjanjian 10 Januari 1679 itu, pihak VOC Belanda diwakili oleh Gubernur Maluku Dr.Robertus Padtbrugge untuk atas nama Gubernur Jenderal Rijcloff van Goens. Sedang nama-nama tokoh Minahasa yang ditonjolkan adalah Pacat Supit, jurubahasa Bastian Saway, Hukum Mandey dan Pedro Ranty. Nama Lontoh dan Paat tidak disebut kecuali nama balaknya. Tomohon dalam kontrak berada di urutan ke-6, Tombariri urutan ke-7 dan Sarongsong urutan ke-8. 

Dua versi lain dari Paulus Supit, Lodewijk Wenas, Emiel Lontoh dan Arie Mandagi, kenapa sampai Lontoh Tuunan dan Paat Kolano tidak bertanda pada perjanjian itu, adalah karena ulah Supit juga. Versi pertama, Lontoh Tuunan sebagai yang tertua dan pemimpin mereka seperti halnya dengan Paat tidak paham bahasa Melayu. Ketika telah tiba di Manado, sebelum hari pertemuan tersebut, Supit berbicara kepada Lontoh dan Paat. ‘’Kalau Kompeni bertanya, kalian cukup menjawab ene (iya).’’ 

Maka, di hari pertemuan tersebut ketika Belanda  menanya siapa pemimpin mereka, Supit memanfaatkan peluang dengan berbicara Melayu yang dikuasainya bahwa dialah pemimpin mereka, bukannya Lontoh Tuunan. Untuk memperjelas ia bertanya kepada Lontoh dan Paat dalam bahasa Tombulu, ‘’Benar, kan?’’ Tidak mengetahui makna sesungguhnya, Lontoh dan Paat menyahut , ‘’Ene!’’. Maka jadilah Supit yang dianggap kepala sehingga dialah yang meneken Kontrak 10 Januari tersebut. 

Masih cerita berkaitan dengan versi ini. Lontoh Tuunan dan Paat akhirnya mengetahui akal bulus Supit dan menolak untuk meneken kontrak tersebut. Konon, baru di masa berikut ketika Belanda ingin memilih pemimpin Minahasa, untuk meredakan ketidaksenangan Lontoh dan Paat terhadap Supit, ketiganya diberi posisi sama sebagai Hukum Mayoor Kepala, yang menurut sejarawan Bert Supit terjadi di tahun 1689. 

Versi kedua yang beredar, ketika Belanda mengundang para kepala Minahasa untuk datang menghadiri pertemuan tanggal 10 Januari 1679 di Benteng Amsterdam Manado tersebut, ketiga serangkai Minahasa ini dari Tomohon singgah mandi di sebuah mata air di Pineleng dekat Lota, ibukota Balak Kakaskasen saat itu. Lontoh yang menjadi kepala mereka melepas pakaian kebesaran ketonaasannya dan diambil Supit yang kemudian diterima Residen Manado dan ditunjuk Gubernur Robertus Padtbrugge sebagai pemimpin dengan gelaran kapitein.

Konon, sejak kejadian tersebut, terjadi perang dingin terutama antara Lontoh Tuunan didukung Paat Kolano dengan Supit Sahiri yang berlanjut sampai beberapa keturunan. Apalagi, ketika mereka telah meninggal, masih terjadi perseteruan di kalangan anak-anak mereka. Manengkeimuri anak Paat Kolano dijatuhkan Rondonuwu anak Supit dari Laya sebagai Kepala Balak Tomohon, dimana Rondonuwu dibantu adik tirinya Tololiu dari Ares yang dekat dengan Residen Manado. Perang dingin mereka, menurut Lodewijk Wenas, baru berakhir ketika Lukas Wenas yang membawa ‘darah’ Lontoh Tuunan, Paat Kolano dan Supit Sahiri tampil berkuasa di Distrik Tomohon di tahun 1862, hampir dua abad kemudian.

KONTROVERSI TERNATE
Pacat Supit Sahiri Macex dihadiskan lahir di sekitar tahun 1642, Lontoh Tuunan 1640 dan Paat Kolano tahun 1650. Tentu hadis ini bertentangan dengan tulisan Graafland yang menyebut Supit mencapai usia 110 tahun sehingga tahun lahirnya adalah 1628. Artinya juga mereka tidak pernah ke Ternate di tahun 1654 sebagai duta-duta Minahasa yang mengundang Belanda datang ke Minahasa, seperti banyak dipercayai selama ini. 

Sebab dengan hadis demikian, Paat berarti masih bocah dan Lontoh serta Supit baru beranjak dewasa. Namun memperhatikan ketokohan ayah dan kakek mereka yang masih hidup dan berperang aktif mengusir Spanyol di tahun 1644 sangat masuk akal. Paat Kolano baru menjadi Kepala Balak Tomohon di tahun 1680 menggantikan kakeknya Tonaas Tamboto, sedangkan Lontoh mengganti ayahnya Mandagi 1675, dan Supit Sahiri mengganti ayah tirinya Ombeng di tahun 1678 atau 1680.

Waruga Pacat Supit sekarang di Woloan II. *)

Nama mereka baru resmi tercantum bersama dalam Kontrak 10 September 1699 dengan Residen Manado Kapten Paulus de Brieving dan Asisten-Residen Samuel Hatting.

MABOK KUASA
Setelah belasan tahun, dominasi dari kepala-kepala Tombulu ini tentu saja mendatangkan ketidaksukaan para kepala balak dari sub-etnis lain. Apalagi kemudian kepemimpinan dari ketiga serangkai ini diwarnai berbagai laporan tindak semena-mena, pemerasan, pilih kasih, dan tidak netral, yang belakangan berbuntut eksodus warga ke Minahasa Selatan yang kemudian dimanfaatkan kerajaan Bolaang (Mongondow) untuk menegaskan kembali klaimnya atas wilayah seberang sungai Poigar.

Bert Supit menyebut yang pertama dipecat adalah Pacat Supit Sahiri Macex tanggal 10 Januari 1711, kemudian Lontoh Tuunan 12 Januari 1712  dan terakhir Paat Kolano 3 Februari 1722. Jabatan Kepala Hukum Mayoor ditiadakan dan Supit, Lontoh dan Paat tinggal sekedar kepala balak di wilayahnya sendiri.

Eksperimen terakhir untuk memilih seorang pemimpin Minahasa di atas pemimpin lain coba diterapkan ulang oleh Gubernur Maluku di Ternate Marten Lelievelt (1739-1744) atas usulan Residen Manado Jan Smit di tahun 1739. Sang gubernur menunjuk anak Pacat Supit Sahiri dari istri Suanen bernama Tololiu Supit yang menjabat Kepala Balak Ares sebagai perantara dengan gelaran Hukum Mayoor Kepala. Tapi kembali upaya itu gagal. Seakan para penyandang gelaran kepala hukum mayoor selalu mabok kekuasaan dan lupa daratan. Meski selalu dibela Residen Manado Johannes Pauwen, jabatan Tololiu Supit akhirnya dicopot tanggal 30 Juli 1743. ***

Posting Komentar