Kamis, 04 Juli 2013

Tubagus Buang dan Kampung Jawa Tomohon

                                          

 

 

 

                                              Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 


Pemberontakan Cilegon 1888. *)


Di Tondano ada Kampung Jawa yang didirikan Kyai Modjo, dan di Tomohon pun ada Kampung Jawa yang didirikan para pejuang kemerdekaan berasal Banten. Wilayah Kampung Jawa Tomohon dulunya masuk pinggiran bekas kota Distrik Sarongsong, sekarang merupakan kelurahan di Kecamatan Tomohon Selatan. Penduduknya seratus persen Islam, dan lain dari itu tak ada yang mencolok membedakan dengan pemukiman sekitarnya yang berpenduduk Kristen. Lihat saja rumah-rumahnya, layaknya rumah orang Minahasa lainnya, bahkan bahasa pun, banyak penduduknya fasih berbicara Tombulu.

Kalau ditanya siapa pendiri Kampung Jawa ini, penduduknya spontan akan menjawab Tubagus Buang. Namun, siapa Tubagus Buang ini sangat misterius. Para tokoh Kampung Jawa Tomohon di tahun 1980-an dan 1990-an meyakini Tubagus Buang dimaksud adalah Ratu Bagus Buang, seorang pemimpin pemberontakan di Banten tahun 1750-1752 yang berjuang bersama Kiai Tapa untuk mengenyahkan Kompeni Belanda di Kesultanan Banten.

Pemberontakan Ratu Bagus Buang dan Kiai Tapa, menurut penulis-penulis Banten, dipicu ulah Ratu Syarifah istri Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin (1733-1750). Ia membuang putra mahkota, menyebar fitnah suaminya gila sehingga ditangkap, lalu dengan persetujuan VOC, mengangkat menantunya sebagai sultan baru.

Kampung Jawa Tomohon. *)

Maka, timbul pemberontakan dipimpin Ratu Bagus Buang, keponakan Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin, dan Kiai Tapa masih saudara seayah Sultan Muhammad Zainul Arifin. Tubagus Buang dikabarkan masih melakukan perlawanan di Banten hingga tahun 1757, dan dari versi Banten ia meninggal dan disebut dimakamkan di Pagutan Jasinga. 

VERSI
Ada pendapat lain yang menyebut Tubagus Buang dimaksud adalah Tubagus lebih muda yang dibuang Belanda di periode 1850-an. Bangsawan Banten ini bernama asli Tubagus Mansur, tapi karena dibuang lebih dikenal dengan julukan Tubagus Buang. Menurut sejarawan Kampung Jawa Tondano Abdul Razak Tumenggung, Tubagus Mansur ini adalah cucu dari Tubagus Buang. Ia dibuang ke Kampung Jawa Tomohon bersama-sama Patih Tubagus Diningrat, Jaksa Tubagus Jayakarta, Demang Tubagus Suramarja, Kadi Abu Salam dan Mas Djibeng. Mereka terlibat dalam pemberontakan yang dikenal dengan nama Gudang Batu. 

Pemandangan lain Kampung Jawa. *)

Dari sejarah Banten, disebut tanggal 24 Februari 1850 terjadi kerusuhan dan pembunuhan Demang Cilegon yang tengah menginspeksi Rohjambu. Kerusuhan dipimpin Raden Bagus (Tubagus) Jayakarta, Tubagus Suramarja, Tubagus Mustafa, Tubagus Iskak, Mas Derik, Mas Diad, Satus, Nasid, Asidin, Haji Wakhia dan Penghulu Dempol. Nama Tubagus Mansur tidak disebut, begitu pun Kadi Abu Salam dan Mas Djebeng.
 
Peran Mas Djebeng atau Mas Jabeng ada disebut dalam pemberontakan di Banten tahun 1839 yang dipimpin oleh Ratu Bagus Ali, Pangeran Kadli dan dirinya. Mas Jabeng disebut sebagai putra Mas Jakaria, pemimpin pemberontakan di Pandeglang tahun 1811 dan 1827.

Seperti siapa adanya mereka, tahun kedatangan para tokoh Banten yang dibuang Belanda dan kelak bermukim di Tomohon ini pun berbeda-beda versi. Ada menyebut tahun 1790, lalu 1816 dan juga 1875. Yang pasti adalah di tahun 1850-an penduduk Islam di Kampung Jawa Tomohon, dicatatkan sebanyak 85 jiwa.

Masjid 'Nurul Iman'. *)

Kampung Jawa sendiri baru memperoleh status negeri, dipimpin seorang Hukum Tua di tahun 1928.

KISAH DARI TOMOHON
Empat tokoh Kampung Jawa Tomohon yang diwawancarai tahun 1980-an dan 1990-an, Haji Hassan Tubagus (kelahiran 1914), saat itu Imam Masjid ‘Nurul Iman’ Kampung Jawa, dan tiga mantan Hukum Tua: Abdulrahman Tubagus (kelahiran 1916), Rebo Tubagus (kelahiran 1934), dan Djaber Tubagus, seyakin-yakinnya Tubagus Buang, leluhur mereka, adalah seorang pemimpin besar pemberontakan Banten. ‘Ini adalah cerita dari ayah saya Bustari Tubagus, bekas imam, yang diturunkan dari ayahnya Tubagus Abdullah dan diturunkan langsung oleh ayahnya lagi Tubagus Buang sendiri,’’ kisah Haji Hassan Tubagus (lihat silsilah).


Keminahasaan yang kental. *)

Tubagus Buang adalah bangsawan tinggi Kesultanan Banten, menjabat Hulubalang. Malah, menurut Haji Hassan, Tubagus Buang masih sebagai cucu dari Sultan Hasanuddin dan cicit Fatahillah (Sunan  Gunung Jati), pendiri Banten. Meski dari sejarah Banten, Fatahillah mendirikan Kesultanan Banten tahun 1527, sedangkan anaknya Sultan Hasanuddin memerintah Banten 1552-1570, sehingga terdapat jeda panjang.

Tubagus Buang sangat menentang Kompeni Belanda karena intervensinya terhadap Kesultanan Banten, terjadinya kemelaratan, pemerasan, pelecehan agama, pajak yang banyak dan sistem rodi yang membuat rakyat Banten menderita sekali.

Tubagus Buang dengan pengikut-pengikutnya yang tidak membawa istri mereka mengawini gadis-gadis Minahasa, terutama wanita-wanita dari Sarongsong, Sonder, Pineleng dan Tondano. Tubagus Buang sendiri mengawini wanita ber­fam Supit dari Lahendong, sehingga dikisahkan memperoleh hadiah perkawinan wilayah yang meliputi Kampung Jawa kini. Dari istrinya itu, Tubagus Buang memperoleh 3 orang anak le­la­ki, masing-ma­si­ng: Tubagus Agus, Tu­bagus Baii dan Tu­­bagus Abdullah.

Ku­­buran Tubagus Bu­­ang hingga kini ber­­ada di tempat ber­­nama Kayu Pa­yu­­ng. Meski demikian, ada keturunannya yang mempercayai Tubagus Buang telah gaib ketika sedang bersembahyang. Sementara yang lain lagi menutur ia telah balik dan meninggal di Serang Banten.

Selain Tubagus Buang, para tokoh lain yang dibuang bersamanya dan bermukim di Kampung Jawa Tomohon adalah Penghulu Abusalam, Mas Djebeng, Mukali, Abdur Rasjid, Ab­dul Wahid Abdul Haji, Abdur Rais dan lain-lain. Dari antara in­ter­niran Banten ya­ng mempunyai ba­nyak keturunan hingga sekarang di Kampung Jawa, terutama ada­lah Tubagus Buang sendiri, Penghulu Abusalam, imam per­­tama, bekas penghulu perang di Banten (makamnya ki­ni berada di Kampung Kodo Manado), serta Mas Djebeng.

Pengikut lainnya ketika Belanda melonggarkan pengawasan­nya, menyebar di beberapa tempat di dalam dan luar Mi­nahasa. Abdur Rasjid alias Islam adalah anak Penghulu Abu­salam. Sedangkan Abdul Wahid dan Abdur Rais tidak mem­punyai keturunan di Kampung Jawa.

Para pemimpin Geger Cilegon yang ditahan. *)

Berikutnya, datang pula Kasim Maskun pada tahun 1888. Maskun semula adalah Lurah di Cilegon Banten. Ia terlibat dalam pemberontakan yang dikenal dengan nama Geger Cilegon yang tercetus tanggal 9 Juli 1888. Maskun digambarkan oleh keturunannya sebaga tokoh tinggi be­­­sar dan perkasa yang meninggal tahun 1926 dalam usia 117 tahun. Konon, Maskun berambut panjang menggerai hi­ngga kaki, dan sampai berumur 110 tahun sangat kuat, ma­sih memanjat kelapa dan dapat memikul ratusan biji kelapa.

Selain para pejuang yang dibuang Belanda, gelombang pendatang kedua yang menghuni Kampung Jawa Tomohon adalah pedagang Bugis dari Sulawesi Selatan. Tokoh bernama Lasambang dan Lakoro awalnya hanya menyinggahi pelabuhan Kema dan melihat-lihat sambil berdagang. Tapi, kemudian merasa kerasan. Perahu layarnya ditinggalkan. Dua pucuk meriam yang mereka bawa kemudian hilang tidak berbekas.

Para interniran berasal Banten dan pedagang Bugis ini mendapat jodoh gadis-gadis Minahasa dalam ajang baku blantek (barter). Biasanya para tibo-tibo (inang) Minahasa terdiri kaum wanita. Sedangkan warga Kampung Jawa berkebiasaan membuat gula aren yang dalam proses selanjutnya dibeli tibo-tibo dan dijual di pasar Tomohon dan Manado. Dari pertemuan dan barteran itu terjadi perkawinan-perkawinan campuran. 

Rombongan pengikut Tubagus Buang dan anak-istri mereka kelak ditambahi oleh pemukim-pemukim dari Kampung Jawa Tondano. Ketiga keturunan pengikut tersebut berbaur dan berketurunan. Perkawinan masyarakat Kampung Jawa Tomohon pun terjadi dengan warga Islam di Manado, Pineleng, Belang, Bolaang-Mongondow dan Gorontalo. Adat-istiadat Jawa dan agama Islam tetap mereka pelihara. 

Hubungan kekerabatan dominan penduduk Kampung Jawa dengan tanah asalnya Serang lama-kelamaan terjalin kembali dan masih terpelihara dengan baik hingga kini. Dari penuturan Rebo Tubagus, mantan Hukum Tua 1961-1964, di kota Serang ada sebuah tempat khusus. Lokasi di Kampung Kelapa Dua itu, adalah tempat untuk menguji benarkah pejiarah dan pendatang dari Kampung Jawa Tomohon asli keturunan Tubagus Buang.

PINDAH BERKALI
Awalnya para interniran dibawah Tubagus Buang ditempatkan di lokasi Lembuyan Kakaskasen Tomohon, bahkan ada menambahkan sebelumnya lagi pernah di Lota Pineleng, ketika itu ibukota Balak Kakaskasen. Lalu dari Kakaskasen, mereka pindah di Papakanan yang disebut pula Sumboyong (sekitar 1 kilometer dari Kampung Jawa). Tempatnya dinamakan Papakanan karena konon dihuni jin-jin, sehingga penduduk harus melakukan acara Semedi Adat dengan memberi sesajian untuk jin-jin itu. 

Dari Papakanan dipimpin Tubagus Buang mereka kemudian pindah bermukim di Lepo, kini wilayah kebun sawah antara Walian-Lansot, de­kat tempat bernama Mandei. Lalu dari Lepo, tidak la­ma pula mereka pin­dah dan memba­ngun kampung di se­belah selatan (bagian barat Tu­ma­tangtang), pada su­atu daerah hutan lebat yang di masa itu terkenal sangat angker. Lo­ka­si itu kini di­na­mai Lewet atau le­bih dikenal de­ngan nama Kayu Payung atau Kaiwangko (kayu besar), sekitar 2 kilometer selatan Kampung Jawa. 

Disebut Ka­yu Payung, sebab sekitar pemukiman­nya dinau­ngi se­akan dipayungi oleh pohon besar itu, yang diper­ca­­yai mereka dihuni jin-jin dan ke­ra­mat. Di sini Tubagus Buang dan Mas Djebeng meninggal dan dikuburkan.

Berhubung pemu­ki­man Kayu Payung di­rasa terlalu ja­uh da­ri ibukota Dis­trik Tomohon, ju­ga jauh dari ruas ja­lan raya, serta jin-jin yang di­per­caya ada di si­tu, penduduk Kam­pung Jawa me­min­dahkan nege­ri­­nya pada ta­hun 1875 ke tempat se­ka­rang. Ver­si lain, pe­­min­dahan terakhir ini ter­jadi ka­rena berjang­kit­nya penyakit Lu­ti Air (waterpo­ken, cacar air) ya­ng menelan ba­nyak korban jiwa.

‘’Belanda memang sengaja mem­perlakukan pa­ra interniran dan ke­­turunannya se­ba­gai pekerja-pekerja paksa. Mereka me­nyiasati warga Kam­pung Jawa menyuruh membabat hutan ang­ker dan membuka pe­mu­kiman, lalu me­nyuruh pindah kem­bali,’’ kisah Haji Hassan Tubagus, yang menjabat imam Kampung Jawa lebih 50 tahun.

Pembuatan kerupuk Kampung Jawa. *)

Selain versi ini, eksodus war­ga Kampung Jawa, dari tuturan tua-tua yang lain ber­­­­awal dari Kayu Pa­­yung, lalu ke Lem­­buyan di Ka­kas­­kasen, dan ke per­­kebunan Man­dei. Dari sini pen­duduk berpen­car, ber­­gabung de­ngan warga Islam lain di beberapa Kam­pung Ja­wa. 

Dice­ri­takan ketiga anak Tu­bagus Buang, yakni Tubagus Agus, Tubagus Baii dan Tu­bagus Ab­dullah yang me­mimpin pemindahan itu beserta ke­­lu­ar­ganya. Mereka pergi ke Tanawangko (Tubagus Agus), Tum­paan (Tubagus Baii) dan malah sampai ke Marisa di Go­rontalo.

Baru di tahun 1890, penduduk kembali ber­kum­pul, dan mulai meng­­huni Kampung Ja­wa sekarang. Dari keturunan Tubagus Buang, yang kembali ke Kampung Jawa adalah Tubagus Abdullah dari Tanawangko. Keturunan Tubagus Bu­­ang yang ada di Kampung Jawa berasal darinya.

SEMPAT KOSONG
Semula Kampung Jawa administratip pemerintahan ma­­sih dipegang oleh Hukum Tua Tumatangtang dan Lansot Sarongsong. Kam­­pung Jawa dibagi atas 2 Jaga Kepolisian. Lalu di ta­­hun 1928 dengan persetujuan Kepala Onderdistrik Tomo­hon dan Kepala Distrik Manado yang membawahinya, Kampung Jawa diresmikan menjadi sebuah negeri oto­nom. Djasmani Tabi­man yang fam asli­nya Rifai dari ga­ris keturunan pe­ngi­kut Kyai Modjo di­angkat menjadi Hu­kum Tua Kampung Ja­wa pertama. Ma­sanya, tahun 1921 to­koh Serikat Is­lam (SI), Haji Omar Said Tjokroa­mi­noto mengunju­ngi Kampung Jawa.


Kantor Lurah Kampung Jawa. *)
 
Tahun 1942 Kampung Jawa mengalami kevakuman pemerintahan, tidak mempunyai hukum tua. Ini setelah Jepang mengeksekusi Hukum Tua Djakaria Kyai Demak dan Kepala Jaga Aminullah Masloman. Se­perti sebelumnya, Kampung Jawa masuk Sarongsong, ber­bentuk 2 jaga, dengan kepala jaga wilayah Lansot Pet Prambahan dan kepala jaga wilayah Tumatangtang Mon­to­ng Kyai Demak. Baru di tahun 1946 Kampung Jawa kembali berstatus negeri ulang, dipimpin Hukum Tua Montong Kyai Demak.

Masa pergolakan daerah Permesta, Kampung Jawa sempat dibumihanguskan dan masjid dijadikan dapur umum serta tahun 1959 terbakar. Penduduk lari mengungsi di kebun-kebun, ke Tomohon dan Manado. Baru ketika Tomohon dibebaskan APRI (TNI), sekitar 700-800 warganya diungsikan ke Manado dibawah Letnan Minu dari Brawijaya. Setelah keadaan aman, penduduk kembali ke Kampung Jawa, dengan pejabat Hukum Tua, ditunjuk Rebo Tubagus sejak bulan April 1961. ***

*). Foto koleks KITLV Digital Media Library dan foto-foto Kampung Jawa: Didi Sigar dan Jootje Umboh tahun 2005 dan 2006.


SUMBER:
Tomohon Kotaku
Tomohon Dulu dan Kini
Berbagai tulisan tentang Banten





              
Posting Komentar