Selasa, 16 September 2014

Letnan dan Kampung Arab Manado

                                           

 

                                               Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 

Orang Arab di Talise 1920. *)




Kampung Arab Manado, sekarang Kelurahan Istiglal di Kecamatan Wenang, pernah istimewa di masa kolonial Belanda. Penduduknya yang rata-rata orang Arab berasal Jazirah Arab, terutama dari Arab Saudi sekarang dan Hadramaut (sekarang Yaman), dibedakan dengan orang Minahasa umumnya. 

Seperti orang Cina yang pemukimannya bersebelahan, mereka digolongkan sebagai orang timur asing atau vreemde oosterlingen. Mempunyai kepala kampung sendiri yang disebut wijkmeester, dan kepala kaum yang oleh Belanda diberi gelaran tituler Luitenant alias Letnan.

Istimewanya, karena, meski letaknya di wilayah Distrik Manado, namun mereka tidak tunduk kepada Hukum Besar, tapi diperintah langsung oleh Residen Manado lewat tangan Kontrolir Manado. 

Kelak, ketika Manado berstatus kota Gemeente tahun 1919, Kepala orang Arab Manado dan Wijkmeester Kampung Arab diperintah oleh Burgemeester (Walikota).

Tidak diketahui pasti kapan Kampung Arab Manado berdiri. Tapi, diperkirakan pada pertengahan tahun 1850-an, orang Arab yang rata-rata berprofesi pedagang mulai membentuk satu lingkungan pemukiman di Manado. Pemukiman mana lama kelamaan tumbuh dan dikenal dengan nama Kampung Arab.

Tahun 1866, orang Arab di Manado tercatat baru sebanyak 11 orang. Lalu dari perhitungan penduduk akhir bulan Desember 1868 sebanyak 16 jiwa. Namun, di tahun 1930 jumlahnya telah berkali lipat, yakni 315 laki-laki dan 270 wanita.  

Selain di Manado, Kampung Arab tumbuh di Gorontalo dan Donggala. Tokoh Arab di Manado yang dikenal di tahun 1857 adalah Sech Mohamad bin Abdullah Djobran yang memiliki perkebunan di Manado. Kemudian di tahun 1890-an dikenal nama-nama Sech Awab Basalama, Sech Alie bin Selim bin Hyaser dan Said Alie Banzir. 

Sementara tokoh Arab yang diketahui diangkat menjadi Wijkmeester Kampung Arab pertama adalah Said Mansjoer bin Abdoellah Alhasni.  Pada awal bulan Maret 1895 ia dikukuhkan sebagai Luitenant der Arabieren Menado. 

Bulan Mei 1909 atas permintaan sendiri Said Mansjoer diberhentikan. Sebagai penggantinya diangkat Sech Faray bin Mohamad Wakid, yang sementara menjabat sebagai Wijkmeester Kampung Arab.

KAPITEIN TITULER
Sech Faray bin Mohamad Wakid lahir tahun 1863 di Saudi Arabia. Sekitar tahun 1903 Sech Faray Wakid datang ke Keresidenan Manado dari pelabuhan Jeddah. Namun, ia bukan memulai usaha di Manado.

Kotabunan di Bolaang-Mongondow dilihatnya sebagai pasar dagang yang bagus. Ternyata, perkiraannya benar. Toko kecil yang dibukanya di Kotabunan dalam waktu singkat berkembang pesat, sehingga beberapa tahun kemudian Kotabunan dirasanya terlalu kecil. 

Akhirnya, Sech Faray Wakid memindahkan tokonya (kelak bernama Mastoer) ke Manado, dan di sini pun usahanya maju pesat. Di kalangan orang Minahasa apalagi Arab Manado ia sangat menonjol dan dikenal karena kedermawanannya, sehingga menjadi figur yang sangat populer. Di kalangan Belanda pun ia menjalin relasi yang sangat baik, sehingga sangat disukai pejabat Belanda di Manado. 

Tidak lama, Sech Faray Wakid telah dianggap dan diakui oleh sesama orang Arab sebagai kepala mereka, apalagi ketika diangkat menjadi Wijkmeester Kampung Arab. Maka, ketika Said Mansjoer minta berhenti, dengan aklamasi ia dipilih, dan dilantik sebagai Letnan Arab Manado yang baru. 

Tugas Sech Faray Wakid sebagai Bestuur over Vreemde Oosterlingen di Manado mampu meningkatkan pemasukan pajak orang Arab di Manado, sehingga setelah enam belas tahun bertugas sebagai Letnan, untuk penghargaan, dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda nomor 14 tanggal 22 Agustus 1925 ia dianugerahi pangkat tituler rang sebagai Kapitein der Arabier Manado.

Tidak itu saja, untuk jasa besar bagi pemerintah kolonial Belanda, Sech Faray Wakid pun dianugerahi dengan dua penghargaan untuk pengabdian berasal dari Gubernur Jenderal, sehingga orang Arab Manado menyapanya dengan panggilan Kapitein Bintang. Penghargaan pertama adalah Groote Zilveren ster dan terakhir Kleine Gouden ster  voor Trouw en Verdienste dengan beslit nomor 1 tanggal 24 Agustus 1931.

Tanggal 9 Mei 1933, Sech Faray Wakid yang telah mengabdikan diri selama 24 tahun, yakni 16 tahun sebagai Letnan dan 8 tahun sebagai Kapitein meninggal dunia dalam usia 70 tahun, karena penyakit lever yang dideritanya.  Kampung Arab di hari pemakamannya berduka dan rumah-rumah warganya memasang bendera setengah tiang. Hampir semua pejabat Belanda, baik Residen, Walikota dan para ambtenar hadir memberi penghormatan, termasuk para kepala Minahasa dan Cina Manado.

ULANG LETNAN
Putra Sech Faray Wakid, yakni Sech Awad bin Faray Wakid, telah dipercaya sebagai pelaksana Kapten Arab Manado sejak beberapa bulan sebelumnya ketika ayahnya sakit parah. Otomatis ia melaksanakan fungsi kepala orang Arab sampai turun beslit penunjukannya secara resmi sebagai Letnan Arab Manado terhitung mulai  tanggal 4 Juni 1934. Kedudukannya dipegang hingga Jepang berkuasa tahun 1942.

Tahun 1945 setelah Jepang kalah, Belanda kembali menghidupkan jabatan tituler Letnan untuk kepala kaum Arab Manado dengan mengangkat Sech Abdoel bin Faray Wakid, dan kemudian  Letnan Arab Salmin Alkatiri.

Selain di Manado, Kampung Arab Gorontalo dan Donggala yang masa lalu masuk Keresidenan Manado, kepala kampungnya seorang wijkmeester, sementara kepala kaum seorang Letnan, kebanyakan dipromosi dari posisi wijkmeester. Jabatan wijkmeester kelak disederajatkan sebagai Hukum Tua. 

Letnan Arab Gorontalo, umpama Said Mohamad bin Salim Alhadar, bekas wijkmeester sejak awal September 1912. Letnan Arab Gorontalo terakhir adalah Sech Oemar bin Abdoellah Basalama, menjabat bulan Juli 1934 hingga Jepang berkuasa. Sementara di Donggala, Letnan Arab sejak 22 Agustus 1922 dipegang Sech Islam bin Oeboed Bakarama. ***

Luitenant der Arabier Manado

1.Said Mansjoer bin Abdoellah Alhasni, (awal Maret 1895-Mei 1909).
2.Sech Faray bin Mohamad Wakid, (Mei 1909- Agustus 1925).
3.Sech Awad bin Faray Wakid, (4 Juni 1934-1942).
4.Sech Abdoel bin Faray Wakid, (1945-        ).
5.Salmin Alkatiri.

Kapitein der Arabieren Menado

1.Sech Faray bin Mohamad Wakid, (22 Agustus 1925-9 Mei 1933).
2.Pejabat, Sech Awad bin Faray Wakid, (Mei 1933-4 Juni 1934).


*).Foto koleksi Het Geheugen van Nederland.

SUMBER TULISAN
-Delpher Kranten (Java Bode 1857; De Locomotief 1890,1895; Soerabaijasch Handelsblad 1895; Bataviaasch Nieuwsblad 1897,1912,1922; Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie 1933,1934; De Sumatra Post 1925,1930,1934; De Indische Courant 1925,1933.
-Ensiklopedia Tou Manado.
-Travels in the East Indian Archipelago, Albert S.Bickmore MA, London 1868.
-Almanak 1870.
-Telefongids Menado-Amurang 1934, 1949,1951.