Kamis, 05 Mei 2016

Mengenal Raja-Raja Kandhar-Taruna





                                                    Oleh: Adrianus Kojongian







Raja Christiaan Nomor Ponto. *)





Kandhar-Taruna adalah dua kerajaan bertetangga di Pulau Sangihe yang pernah saling bersaing, tapi kemudian disatukan jadi satu kerajaan. Kandhar atau sering ditulis juga Kandahar atau Kandar, sekarang lebih dikenal sebagai Kendahe, sebuah kecamatan di  Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Taruna sebagai Tahuna, kini ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Kedua kerajaan ini kecil saja. Hanya di pulau Sangihe yang tidak seberapa luas, sebelum tahun 1898 selain kerajaan Kandhar dan Taruna, berada pula kerajaan Manganitu dan Tabukan. Sementara kerajaan Siau turut memiliki yurisdiksi disitu, yakni wilayah Tamako.

Kerajaan Kandhar terletak di baratlaut pulau Sangihe; diperinci dari Kontrak 24 November 1885 yang diteken Raja Daniel Petrus Janis dengan Residen Manado Jhr.Johannes Cornelis Wilhelmus Diedericus Adrianus van der Wijck, batas-batasnya sepanjang laut. Baratnya dari Sahmute ke Tanjung Batu Boekala. Kemudian ada negeri Ngalipaeng di sebelah tenggara pulau Sangihe dengan batasnya sepanjang laut dari Batu Mehangoe ke Tanjung Lanang dan salahsatu dari dua titik ke atas Gunung Toemalede.



Peta Sangihe-Talaud 1894. *)


Kerajaan Taruna yang lebih luas di pantai barat pulau Sangihe Besar, dalam kontrak sama yang diteken Raja Taruna Egenos Laurens Tamarol Rasubalah dengan Residen van der Wijck, memiliki batas-batas, barat dari Batu Boekala ke Tanjung Limbawoehe. Lalu batas utara dari tanjung disebut pertama ke kawah gunung berapi Awu. Batas selatan dari tanjung terakhir ke puncak gunung Pedaweta. Batas timur dari kawah gunung berapi Awu, atas puncak-puncak gunung Malinsoh dan Bowondego ke puncak Pedaweta.

Termasuk kerajaan Taruna, di utara negeri besar Sawang, dengan batas di baratlaut dan utara mulut sungai Biwai berakhir ke kampung Kalasoege milik Tabukan. Milik Taruna pula, di utara Sangihe Besar, pulau-pulau Lipang (Lipong), Kabio (Kawio) dan Kabasoeloe (Kawaloeso); dan di Kepulauan Talaud masih depedensi Taruna, pulau-pulau Nanusa tujuh jumlahnya. Pulau Karatung dengan kampung senama, Pulau Mehampi dengan kampung senama dan kampung-kampung Laloehi dan Dampoeri. Selanjutnya Taruna memiliki pulau-pulau tidak berpenghuni: Garete, Mangoepoe, Intata, Kakelotan dan Maroh. Bahkan juga pulau Melangis (Palmas, Miangas).

Penduduk kedua kerajaan pun sedikit. Tahun 1860-an, penduduk kerajaan Taruna 5.000 jiwa. Setelah bersatu, kedua kerajaan itu dari angka tahun 1915 dicatat berpenghuni 6.000 jiwa, termasuk beberapa orang Eropa, 300 orang Tionghoa dan 50 orang Arab. Sensus kemudian penduduk Kandhar-Taruna sebanyak 15.885 jiwa, terdiri 15.248 pribumi, 34 Eropa dan yang disederajatkan, ditambah 59 Tionghoa dan 74 orang Timur Asing

Sebelum bergabung, kerajaan Kandhar dipimpin terakhir oleh Raja Daniel Petrus Ambat Janis yang memerintah sejak tanggal 25 Juli 1861. Raja Ambat Janis sering bertengkar dengan Raja Taruna soal tapal batas. Tahun 1894 ia meninggal dunia, dan tidak ditunjuk seorang raja pengganti. Untuk menjalankan pemerintahan sementara diangkat Salmon Ponto yang berpangkat Jogugu.

Salmon Ponto dalam status demikian telah mewakili kerajaan Kandhar pada penandatanganan kontrak tambahan 28 September 1894 dengan Residen Manado Eeltje Jelles Jellesma. Begitu pun pada kontrak 16 Maret 1896.

Sementara, di kerajaan Taruna, raja terakhir adalah Egenos Laurens Tamarol Rasubala. Raja Egenos naik tahta dengan meneken Akte van Verband 31 Desember 1880 menggantikan Raja Martens Jacobz (Jacobus), dan memerintah hingga tahun 1898.

Untuk efisiensi, tahun 1898 itu Kandhar dan Taruna dengan persetujuan para kepalanya sepakat bersatu, dengan nama kerajaan Kandhar-Taruna beribukotakan Taruna. 

SALMON DUMALANG
President Raja Taruna Salmon Dumalang yang telah mulai berdinas dibawah Raja Egenos Rasubala sebagai Jogugu, dipilih menjadi raja pertama Kandhar-Taruna. Ia tokoh disegani, dan menyandang penghargaan Gouden medaille voor Burgerlijke Verdienste dari Gubernur Jenderal. Bintang emas itu diterimanya bulan September 1892 karena jasa-jasanya dalam penanggulangan akibat letusan Gunung Awu yang telah menelan korban jiwa cukup besar di tiga kerajaan daratan pulau Sangihe.

Salmon Dumalang dilantik dengan meneken Akte van Verband dengan Residen Manado Eeltje Jellesma tanggal 31 Agustus 1898. Ia memperoleh titel Paduka Raja. Beslit dari Gubernur Jenderal mengukuhkan posisinya turun 27 April 1899 nomor 23. Kemudian dengan Residen Jellesma pula ia meneken kontrak 22 November 1899 dan kemudian tambahan kontrak 17 Juni 1901.

Raja Salmon Dumalang meninggal di Tahuna tanggal 30 November 1902.

MARKUS MOHONIS DUMALANG
Raja Kandhar-Taruna kedua adalah Markus Mohonis Dumalang, anak Raja Salmon. Ia naik tahta dengan meneken Akte van Verband yang dibuat dengan Kontrolir Engelbertus Eliza Willem Gerards Schroder tanggal 8 April 1903, dan peroleh titel Paduka Raja. Ia meneken kontrak tambahan dengan Residen Steven Jan Matthijs van Geuns 16 November 1905. Ia berhenti akhir tahun 1905.



Antara Raja Markus Dumalang atau Salmon Ponto.*)
.

SALMON PONTO
Jogugu Kandhar Salmon Ponto dipilih dan diusul Rijksraad Kandhar-Taruna sebagai pengganti Raja Markus Dumalang, dengan posisi sebagai President Pengganti Raja sejak 14 November 1905. 

Salmon Ponto baru didefinitifkan sebagai Raja Kandhar-Taruna hampir lima tahun kemudian. Ini setelah ia meneken Korte Verklaring tanggal 9 Maret 1910, dan dikukuhkan dengan beslit Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 6 Juni 1911 nomor 9.

Ia kemudian mengundurkan diri, dan disahkan dengan beslit Gubernemen 3 Februari 1914 nomor 29.

CHRISTIAAN NOMOR PONTO
Menggantikan Raja Salmon Ponto adalah anaknya Christiaan Nomor Ponto, yang menjabat Jogugu, menjalankan pemerintahan sementara sejak Februari 1914. Ia baru dinobatkan sebagai raja 21 Desember 1916 dan disahkan Gubernur Jenderal dengan keputusan nomor 91 tanggal 24 Maret 1917.

Raja Christiaan adalah raja pertama Kandhar-Taruna yang mendapat didikan tinggi ketika itu. Ia lulus dari Hoofdenschool (Sekolah Raja) Tondano serta kursus dua tahun di Middelbare Landbouwschool Buitenzorg (Bogor) September 1909.



Kapal uap KPM 'Van Overstraten' di Teluk Tahuna sekitar 1913. *).


Ia ditunjuk menjadi anggota Volksraad dengan beslit 16 November 1920 dan memulai tugasnya di Batavia (Jakarta) sejak 23 Februari 1921. Raja Christiaan tercatat duduk sebagai anggota Fraksi Christelijke-Ethische Partij (CEP), dan bertugas di Volksraad hingga bulan Januari 1924. Dari kerajaan Belanda, di tanggal 22 Agustus 1923 Raja Christiaan Ponto menerima penghargaan bergengsi, yakni Ridder Orde Oranje-Nassau

Tapi, kemudian dengan tuduhan terjadi tekor kas kerajaan, Raja Christiaan Ponto diskors dan akhir tahun 1928 dipaksa mengundurkan diri. Nasib sama menimpa Raja Siau Lodewijk Nicolaas Kansil dan Raja Tabukan Willem Alexander Sarapil. Dengan instruksi resmi dari Residen Manado Harko Johannes Schmidt yang dikenal otoriter, diadili di Tahuna dan bulan April 1929 diputus bersalah dengan vonis pengasingan selama 3 tahun di Luwuk Sulawesi Tengah. Ia kemudian diberhentikan secara resmi dengan keputusan Gubernur Jenderal 14 Mei 1930 nomor 1.

Akhir hidup mantan Raja Christiaan Ponto sangat tragis. Masa pendudukan Jepang, bersama tokoh-tokoh Satal lainnya ia ditangkap Kempetai dengan tuduhan palsu, lalu dipancung di Tahuna 19 Januari 1945. 

ALBERT ABAST BASTIAAN
Ketika Raja Christiaan Nomor Ponto diberhentikan, Albert Abast Bastiaan Mei 1930 diangkat mengganti sebagai pejabat sementara raja. Ia kemudian definitif jadi Raja Kandhar-Taruna 13 September 1930 dengan meneken Akte van Verband, dan memperoleh pengesahan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda dengan beslit 2 Februari 1931 nomor 7.

Raja Albert Bastiaan memperoleh gaji bulanan sebesar 400 gulden dengan korting 17 persen. Gajinya di luar ongkos perjalanan dan akomodasi. Ia memerintah Kandhar-Taruna lebih sepuluh tahun sampai meninggal karena sakit di Tahuna 11 Juni 1941.

ENGELHARD BASTIAAN
Pengganti Raja Albert Abast Bastiaan adalah anaknya Engelhard Bastiaan. Semula Engelhard ditunjuk pejabat awal Agustus 1941, lalu definitif sebagai raja, memerintah hingga tahun 1944.

Nasib Raja Engelhard Bastiaan seperti bekas Raja Christiaan Ponto. Dengan tuduhan dibuat-buat ditangkap Jepang, lalu dieksekusi.

FREDERIK IMANUEL ADRIAAN
Raja terakhir kerajaan Kandhar-Taruna adalah Frederik Imanuel Adriaan. Berpengalaman sebagai Boekhouder (pemegang buku) di Palu dan Kotamobagu dan kemudian beberapa jabatan penting di pemerintahan Sangihe-Talaud, ia ditabalkan raja tahun 1945 dan menjabat hingga tahun 1949.

Setelah kerajaan dihapuskan, eks Raja Frederik Adriaan menjadi pejabat di kantor Bupati Satal, terakhir sebagai Kepala Kantor Agraria Satal. Ia meninggal di Manado 20 Juni 1970. Kerangkanya Juli 1990 dipindah ke Tahuna dari Sindulang Manado, bersama istrinya Boki Marietje Paparang yang meninggal 1965. ***
*). Foto Koleksi Tropenmuseum (Indisch Wetenschappelijk Instituut, National Museum van Wereldculturen-collectie dan Scheepvaartmuseum) serta SGD.
SUMBER TULISAN
Delpher Boeken (Boeken Google):      
Aardrijkskundig en Statistisch Woordenboek van Nederlandsch Indie III, Prof.P.J.Veth, 1869.
Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie 1917-1939.
Delpher Kranten.
Ensiklopedia Tou Manado.
Staten Generaal Digitaal.




Inilah Para Raja Kandhar-Taruna

No.
Nama
Memerintah
Keterangan
1.
Salmon Dumalang 31 Agustus 1898-30 November 1902 Raja
2.
Markus Mohonis Dumalang 8 April 1903-1905 Raja
3.
Salmon Ponto 14 Desember 1905-Maret 1910 President Pengganti Raja
9 Maret 1910- 3 Februari 1914 Raja
4.
Christiaan Nomor Ponto
Februari 1914
Pejabat
21 Desember 1916-14 Mei 1930 Raja
5.
Albert Abast Bastiaan Mei 1930 Pejabat
13 September 1930-11 Juni 1941 Raja
6.
Engelhard Bastiaan Agustus 1941 Pejabat
1941-1944
Raja
7.
Frederik Imanuel Adriaan 1945-1949 Raja