Sabtu, 30 Mei 2015

Kisah Lain Gempa 1845










                                                                Oleh: Adrianus Kojongian










 

Pemandangan Tomohon  1847. *)









Gempa bumi hari Sabtu 8 Februari 1845 meninggalkan banyak cerita rakyat yang ditutur serta diingat sampai sekarang. Hampir semua negeri berusia tua yang berada di kaki Gunung Lokon (sekarang kelurahan-kelurahan di Kota Tomohon dan desa-desa di Kecamatan Tombariri dan Tombariri Timur Kabupaten Minahasa) memang terkait dengan peristiwa gempa tersebut.

Kerusakan parah dengan rumah-rumah roboh, jatuhnya korban tewas dan cedera, tanah longsor, tanah terbelah serta pengungsian besar-besaran yang terjadi ketika itu, masih tersisa di bekas-bekas negeri lama dan tempat pengungsian.

Meski data resmi bahwa gempa berkekuatan 7 pada Skala Richter ini berasal dari tengah Laut Sulawesi, mungkin di lepas pantai Tanawangko yang memakan korban jiwa terbesar, namun hadis-hadis yang berkembang, merujuk ke Gunung Lokon. Bahkan, gempanya diikuti dengan letusan Lokon yang disertai lontaran berbagai material mengerikan dari kawahnya.

Guru Zendeling Nicolaas Graafland menyebut gempa 1845 jelas (disebut-sebut) berasal dari Gunung Lokon. Graafland di tahun 1850-an bisa menyaksikan bekas letusan dan longsoran akibat gempa tersebut. Menurut Graafland, akibat gempa bumi besar 1845 terjadi retakan di tanah sekitar Tanawangko yang memuntahkan air dan api dan setelah itu tertutup kembali.

Di Kakaskasen yang tepat berada di lereng Lokon, kuat  kisah, peristiwa gempa terjadi bersamaan dengan letusan Gunung Lokon. Penduduk Kakaskasen (sekarang terbagi empat kelurahan di Kecamatan Tomohon Utara) yang saat itu menjadi salahsatu negeri di Distrik Kakaskasen yang berikota Lotta, telah pindah meninggalkan negeri lamanya di Nawanua (sekarang masuk Kakaskasen Tiga). Kepindahan mereka dari Nawanua ke lokasi sekarang masuk Kakaskasen Dua, gara-gara mereka telah melihat tanda-tanda bakal terjadi bencana alam dahsyat bersumber Gunung Lokon.

Penduduk Kakaskasen diliputi kekhawatiran, muntahan lahar yang disertai semburan pasir, batu berapi dan debu akan menghancurkan pemukiman mereka di Nawanua, seperti pada berbagai peristiwa letusan Lokon di masa silam.

Pata tetua Kakaskasen mendapat pertanda bagus untuk negeri baru setelah menggelar upacara adat Komba (mengantar per­sem­ba­­han) dipimpin Walian di Watu Pasuwengan yang ada di utara kompleks Bukit Inspirasi Kakaskasen kini. Ini setelah mereka Menonsoring, yakni mendengar burung malam dilakukan tonaas yang meniup suling kecil dari bambu, mendengar tanda burung malam yang hinggap di sebatang pohon rindang.

Pemindahan Kakaskasen dari Nawanua ke Kakaskasen baru yang lebih strategis karena berada di pinggir ruas jalan Manado-Tomohon via Lota dan Kali itu, telah dipimpin oleh Kawengian Lasut yang dianggap sebagai Hukum (tua) pertama.

Perkiraan mereka terbukti ketika Gunung Lokon meletus disertai gempa bumi itu. Lahar Gunung Lokon mengalir melalui sungai Pasahapen yang menyatu dengan sungai Taingkere menuju ke utara liwat Kinilow. Sisa-sisa lahar yang membeku masih bersisa hingga sekarang di lokasi mataair panas Pasahapen di Kakaskasen Satu, licin seperti porselin.

Meski data resmi mencatat akibat gempa di Kakaskasen ada empat korban tewas dan dua puluh orang terluka, pemindahan ke tempat baru sebelum peristiwa itu telah meminimalisir jatuhnya korban lebih besar, bila mereka masih bermukim di Nawanua. Masa itu, penduduk harus menanak nasi menggunakan buluh tambelang.

Di pengungsian negeri-negeri Tomohon, dihikayatkan guncangan gempa berlangsung selama sembilan hari sembilan malam. Penduduk tidak dapat memasak di dodika (tungku), karena getaran gempa. Mereka terpaksa memasak menggunakan belanga (periuk) yang digantung pada tiang ditanam.

Negeri-negeri eks Distrik Tomohon (sekarang masuk Kecamatan Tomohon Tengah dan Tomohon Timur), sama menderita akibat peristiwa gempa. Talete yang pindah 1831 dari negeri lama Tomohon di Nimawanua (sekarang wilayah Kelurahan Kolongan Satu), hancur lebur pemukimannya. Penduduk yang ketakutan, lari kocar-kacir mengungsi ke perkebunan dan bahkan balik ke Nimawanua. Berkat usaha Hukum Tua Lukas Wenas penduduk dapat ditenangkan, dan setelah marabahaya usai, dibawanya kembali penduduk Talete ke lokasi Talete di dekat mataair Sineleyan. Rumah-rumah model tiang tinggi yang tersebar luas di Tomohon ditinggalkan. Penduduk dianjurkan para penginjiil dan residen membangun rumah berukuran lebih kecil dan teratur.

Kamasi yang hampir menyatu dengan Nimawanua, bersama Kolongan yang pindah dari Nimawanua 1843, ketika gempa, lari mengungsi pula ke berbagai tempat aman. Bahkan pengungsian mereka sampai ke Rurukan (sekarang Kecamatan Tomohon Timur) yang kemudian dijadikan negeri tahun 1848. Penduduk awalnya adalah kaum pengungsi dari Paslaten, Talete, Kolongan, Kamasi dan Matani.

Kebanyakan orang Kamasi bersatu di pengungsian Walian berbatasan dengan Matani. Di tempat tersebut hingga kini masih terdapat sisa-sisa pemukiman dan sebuah mataair yang hingga sekarang dinamai Rano ne Kamasi, kini masuk kelurahan Matani Dua.

Di pengungsian Walian, tampil sebagai pemimpin dengan gelaran Rarangkang um Wanua atau pelindung negeri Tinaras alias Timon Tudus yang ditunjuk sebagai Hukum Tua Kamasi pertama. Tinaras dapat menghimpun kembali dan menentramkan rasa takut masyarakat. Ketika situasi mulai aman, pada tahun 1846 dipimpinnya penduduk pulang kembali ke Kamasi yang telah porak-poranda. Sebagian lagi penduduk tetap memilih tinggal di Walian dan pergi ke Pangolombian (sekarang dua kelurahan di Kecamatan Tomohon Selatan). Kedua negeri ini sejak beberapa waktu sebelumnya telah berkembang menjadi pemukiman orang Kamasi, yang diperintah langsung dari Kamasi.

Kolongan baru dibawah Hukum Tua Tololiu dibangun mendekati ruas jalan ‘raya’ di bagian utara negeri awalnya, yakni di wilayah dekat Loko-Lokon.

Sementara Paslaten (sekarang dua kelurahan di Kecamatan Tomohon Timur),  adalah negeri eks Distrik Tomohon terakhir yang meninggalkan kota lama Tomohon di Nimawanua. Dikisah setelah usai peristiwa gempa, para tua-tua mengadakan musyawarah untuk  membangun Paslaten. Untuk itu digelar upacara adat Sumoring (memberikan persembahan) kepada Opo Empung dipimpin Moningka Tuneng Kaparang. Pertanda bagus diperoleh bahwa penduduk harus menempati lokasi witi ni Pinaselat ne Matani wo ne Talete, atau di antara Matani dan Talete.

Oleh petunjuk itu, Moningka Tuneng Kaparang mengangkat seorang cucunya bernama Bastiaan Kaunang menjadi Tumuturu (panglima perang atau penunjuk). Ternyata lokasi terawang sangat pas, karena di situ ada lahan cocok untuk pertanian dan sumber mata air yakni, Malangen, Mangangaya dan Kalimpesan. Ditunjuk sebagai Hukum Tua dengan sebutan Nima’endo Tua um banua atau Kelung Wanua Wahani.

Bagitu pun Matani (sekarang tiga kelurahan di Tomohon Tengah), dibangun ulang dengan rumah-rumah berukuran kecil dibawah pimpinan Hukum Tua Tololiu Palar. Pemukimannya berpusat di lokasi sekarang masuk kelurahan Matani Tiga.

Seperti nasib kota-kota tua lain di Tomohon, Tulau dan Amian-Nimawanua, lokasi pemukiman eks ibukota Distrik Sarongsong lama, hancur ketika gempa bumi bulan Februari 1845. Dikisah gempa bumi berlangsung selama sembilan hari terus-menerus, baik siang dan malam. Rumah-rumah besar dan bertiang tinggi roboh. Penduduk ada yang lari mengungsi. Untuk memasak mereka harus menggunakan bambu (lulut) dan minum pun memakai zaun dari bambu.

Setelah keadaan mulai reda, maka Sarongsong yang ketika itu diperintah Kepala Balak Mayoor Waworuntu (dibaptis Kristen 1847, memakai nama Herman Carl Wawo-Roentoe) meninggalkan negeri lama, pindah dekat jalan umum yang waktu itu telah dibuka beralas batu oleh pemerintah Belanda.

Tanggal 1 Januari 1846 dibawah pimpinan Kepala Balak Waworuntu dan wakilnya Kumarua (Hukum Kedua) bernama Kalalo, penduduk pindah menuju ke tempat barunya. Sebelumnya, sesuai tradisi leluhur diadakan foso negeri, yakni Tumalinga si Kooko’ (mendengar burung), dengan Menengoh dalam tarian Maengket. Di Watu Lelepouan, di bawah sebatang pohon Tumatangtang, sekarang kurang lebih 200 meter dari gedung Gereja GMIM ‘Syalom’ Tumatangtang, dilaksanakan upacara pendirian Sarongsong baru.

Burung Manguni menyahut dan memberi pertanda bagus. Burung tersebut lalu terbang diikuti rombongan penduduk. Awalnya, konon, burung itu bertengger di pohon Lansot (langsat). Lalu terbang ke arah selatan, hinggap di pohon Tumatangtang. Kemudian, ke pohon Koror, singgah (Pinangkeian), dan terbang terus ke ujung (Kapoya).

Maka, segera berdiri lima negeri baru dalam Balak Sarongsong, setelah dilengkapkan segala foso negeri dan kelengkapannya. Lima negeri baru ini, masing-masing: Lansot, Tumatangtang, Koror, Pinangkeian dan Kapoya. Ke lima negeri inilah yang membentuk ibukota Balak lalu Distrik Sarongsong hingga tahun 1881, ketika Kepala Distrik Mayoor Zacharias Waworuntu diberhentikan, dan Sarongsong digabungkan dengan Distrik Tomohon, menjadi Distrik Tomohon-Sarongsong, lalu 1908 tertinggal Distrik Tomohon.

Tapi, ada kontroversi berapa negeri yang membentuk Sarongsong baru di tahun 1845. Sebab data mengungkap ketika itu Sarongsong terbangun dari tujuh negeri sebagai ibukota, yakni: Pinangkeian, Tumatangtang, Koror, Lansot, Regesan, Wuwuk dan Kapoya. Versinya Sarongsong baru di lokasi sekarang sudah pindah sejak beberapa waktu sebelumnya dari negeri lama, dan setelah gempa dibangun ulang di lokasi sama.

Di eks Distrik Tombariri, negeri Woloan (sekarang empat kelurahan di Kecamatan Tomohon Barat), getaran tanah goyang dahsyat dikisah pula selama sembilan hari sembilan malam, menyebabkan retakan besar di sana-sini dan tanah longsor serta rumah-rumah ambruk di negeri lama (Katingolan). Penduduk pun sengsara karena wabah penyakit ikut berjangkit.

Setelah gempa reda, pemimpin Woloan Tonaas Rumondor, Walian Pontoh, Putoosan Kapoh, Teterusan Makal dan Teterusan Karamoi bersepakat memindahkan Woloan ke tempat aman di bagian selatan yang lebih rata.

Untuk itu diadakan acara Linigauan, yakni bertanya kepada Empung (Tuhan) tempat tinggal baru yang layak. Upacara yang dipimpin Walian Pontoh awalnya dilaksanakan di belakang gedung gereja RK ‘Bunda Hati Kudus Yesus’ di Woloan Dua kini. Tapi tidak mendapat jawaban pertanda setuju, sehingga dipindah, dibikin di sebelah barat SD GMIM II Woloan sekarang. Kali ini permohonan mereka dikabulkan, sehingga segera dilakukan pemindahan besar-besaran, termasuk pemindahan waruga Supit Sahiri Macex.

Pemindahan Woloan di tahun 1845 itu dimeriahkan dengan pesta rakyat  dimana penduduk menari tarian Mangaloong, serta memainkan musik Lengdeng. Lengdeng adalah gitar dari bambu yang diketik-ketik dan berbunyi deng-deng. Musik tradisional ini dibuat dari seruas bambu yang diberi berlubang panjang, sepanjang ruas, serta dipasangi 2 tali senar dari kulit ruas bambu.

Negeri Woloan baru segera berdiri, menyebar mulai dari Woloan Dua sekarang. Pemukimannya
dibangun teratur dan berkembang pesat dari waktu ke waktu. Yang menjadi Tonaas um Wanua di Woloan baru ini adalah Rumondor dengan sebutan Perewis, sedangkan ‘pendeta’nya adalah Pontoh.

Bukti pemindahan Woloan dari Katingolan tahun 1845 diperkuat kelahiran 2 warga yang lahir saat itu. Pertama adalah Tingkulendeng. Ia diberi nama demikian oleh orang tuanya untuk mengingati pesta dan kemeriahan musik Lengdeng yang tengah berlangsung (Tingkulendeng dibaptis Kristen oleh Zendeling dan Direktur Kweekschool Tanawangko Nicolaas Graafland tanggal 18 Agustus 1867, berusia 22 tahun, memakai nama serani Thomas Senduk). Sementara anak kedua, dinamai Rumengan, karena lahir bersamaan dengan dimulainya pemindahan Woloan tersebut (Rumengan dibaptis tanggal 6 Agustus 1871 oleh Pdt.Hendirk Bettink, dengan nama Abednedju Kilisan).

Negeri besar lain di Distrik Tombariri, yakni Lolah (sekarang 2 desa di Kecamatan Tombariri Timur Kabupaten Minahasa), masih di negeri lama Nimawanua, akibat gempa 8 Februari 1845, semua rumahnya roboh. Peristiwa ini menyulut terjadinya kebakaran hebat. Penduduk Lolah lari mengungsi ke sebelah tenggara Lolah, antara Ranotongkor dan Tara-Tara sekarang di sebelah hilir dari sungai Makalesung dengan dipimpin Sakul. Mereka menamai wilayah itu Wuwuk (daerah pengungsian). Tapi, disini, karena banyak gangguan ular dan katak, mereka pindah ke lokasi Lolah sekarang yang telah didirikan Keles. 

Lolah baru ini dibangun Keles setelah pindah 1841 akibat sampar yang berjangkit di Lolah Lama. Lolah baru di lokasi sekarang, hanya terpisah sekitar 500 meter dari Lolah lama. Penduduk sisa di Lolah tua, dengan dipimpin Sakul ikut pindah pula ke Lolah baru.

Sedangkan sejumlah pengungsi di Wuwuk yang tidak mau kembali ke Lolah tua dan baru, memisahkan diri. Dengan dipimpin Wohon tahun 1845, mereka pindah mengungsi lalu mendirikan Ranotongkor sekarang. ***



*). Lukisan dari Reis door den Indischen Archipel, L.J.van Rhijn, 1851.

SUMBER:
Riwayatmu Tomohon.       
Tomohon Dulu dan Kini.
Minahasa Masa Lalu dan Masa Kini, N.Graafland/Yoost Kullit,1987.