Jumat, 17 Oktober 2014

Kisah Kapitein Tionghoa Manado (3)








                                                 Oleh: Adrianus Kojongian






Pria Eropa dan wanita Tionghoa di Manado. *)




Que Tian Po, kelahiran tahun 1872 adalah pedagang dan tokoh Tionghoa Manado yang sangat berpikiran maju. Bulan Februari 1925 dari pangkat tituler Luitenant der Chineezen Manado, ia naik posisi menjadi kapitein. Penggantinya sebagai letnan yang dibeslitkan bersamaan adalah Oei Pek Yong.

Tiga anak Que Tian Po berhasil disekolahkannya ke sekolah dokter. Dokter Que Giok Tong, dokter Que Giok Sien dan dokter Que Giok Tjoan. Putra tertuanya dokter Que Giok Tong, kelak lebih terkenal dengan nama dokter J.Lukas Que, lama menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Katolik ‘Gunung Maria’ di Tomohon sejak 1955. Namanya pun diabadikan di panti asuhan yang berada di Karombasan Sario Manado. 


Kapitein Que Tian Po tidak lama menjabat. Ia minta berhenti. Semestinya pemberhentiannya dengan hormat terhitung per tanggal 15 Desember 1926, tapi baru berlangsung awal Januari 1927 ketika diangkat Bestuur over Vremde Oosterlingen yang baru, yakni Oei Pek Yong, sebelumnya letnan, serta pedagang Lie Oe Kiong sebagai letnan yang baru.

Mantan Kapitein Que Tian Po kelak pindah ke Jakarta, dan meninggal tanggal 5 Desember 1947 dalam usia 75 tahun. Istrinya Tjia Djin An Nio baru meninggal 30 Mei 1956 dalam usia 76 tahun.

Penggantinya, Kapitein Oei Pek Yong yang berpengalaman sebagai Wijkmeester Kampung Cina Manado lalu letnan, dikenal sebagai politisi Tionghoa Manado yang ulung. Saat masih letnan, sejak tanggal 17 Agustus 1926 ia diangkat menjadi anggota Minahasaraad menggantikan Lie Eng Tiong. Posisi wakil golongan Tionghoa masih dilanjutkan saat dilantik sebagai kapitein.

Letnan Lie Oe Kiong masih mendampinginya sampai mundur Januari 1930, digantikan kedudukannya oleh Tan Bian Loe. Tan Bian Loe adalah bekas wijkmeester, dan seorang pengusaha, dikenal sebagai pemilik pabrik es ‘Menado' di Sario. Tan Bian Loe pun seorang kontraktor air dan listrik.


Setelah enam tahun menjabat, Oei Pek Yong minta berhenti sebagai Kapitein Tionghoa Manado, dan disetujui pemberhentiannya terhitung mulai tanggal 30 November 1933. Oei Pek Yong ingin lebih berkonsentrasi memperjuangkan kaumnya di Minahasaraad. 

Berhenti dari keanggotaan di Minahasaraad setahun, terhitung mulai tanggal 21 Agustus 1934 ia dilantik ulang menjadi anggotanya, satu-satunya wakil golongan Tionghoa di Dewan Minahasa. Posisi tersebut dipegang Oei Pek Yong terus-menerus hingga Jepang berkuasa awal tahun 1942.

Namun, begitu Jepang enyah dan Belanda kembali menanamkan kuasanya, Oei Pek Yong bukan hanya diangkat kembali oleh Belanda sebagai Kapitein der Chineezen Manado, tapi juga sebagai salah seorang dari 21 anggota Minahasaraad yang dibentuk kembali dengan beslit Gubernemen tanggal 27 Mei 1946 nomor 1, dan dilantik Conica Manado 31 Mei 1946. Oei Pek Yong menjadi orang pertama dan terakhir yang dua kali dipercaya menjadi Kapitein Tionghoa Manado.

TJIA PAK LIEM
Wijkmeester Kampung Cina Manado Tjia Pak Liem setelah Oei Pek Yong mundur, ditunjuk menjalankan fungsi Kapitein der Chineezen Manado. Ia dikenal pula sebagai pengusaha, pemilik toko 'Banka' yang berlokasi di Jalan Bioskop (Bioscooplaan).


Jabatan Tjia Pak Liem sebagai pengganti sementara kapitein, dijalankannya hingga dilepas resmi terhitung tanggal 30 November 1935, saat turun beslit yang mengangkat Lie Goan Oan, berstatus partikulir sebagai Kapitein Tionghoa Manado yang definitif.  

Tjia Pak Liem kembali ke poisisi resminya sebagai wijkmeester. Tapi, masih untuk sementara waktu, Tjia Pak Liem dipercaya menangani administrasi di kantor kapitein, sebagai tangan kanan Lie Goan Oan.

Tiba-tiba, di akhir bulan Februari 1936, tepatnya sejak tanggal 21, secara misterius Tjia Pak Liem yang sampai saat itu bertindak akting kapitein menghilang. Raibnya tersebut ramai diberitakan media-media Hindia-Belanda bahkan di Negeri Belanda. Dalam pemberitaan selama 2 bulan berturut, De Indische Courant, Soerabaijasch Handelsblad, De Sumatra Post dan De Tijd mensinyalir kalau Tjia Pak Liem telah lari ke daratan Tiongkok menggunakan kapal motor (motorschip=ms) ‘Sibajak’, karena dugaan melakukan penyimpangan.

Lie Goan Oan, Kapitein Tionghoa Manado yang baru menemukan tekor keuangan pajak lalulintas (verkeersbelastingen) yang jadi tanggungjawabnya sebesar 600 gulden, bahkan defisit yang terjadi diperkirakan mencapai ribuan. Tjia Pak Liem dinyatakan buron dan melalui telegraf diminta penangkapannya.

ANAK JUTAWAN LIE TJENG LOK
Lie Goan Oan, bukan sekedar swasta biasa. Ia adalah anak Lie Tjeng Lok dari istri pertama Sie Djok Loe, sekaligus firmant di Firma Lie Boen Yat&Co, seperti adiknya Lie Tek Djien (anak Lie Tjeng Lok dari istri kedua Anthoinetta Lopis) yang menjadi salah seorang politisi Tionghoa di Gemeenteraad Manado. Lie Goan Oan yang lahir tanggal 26 Juli 1894 disekolahkan ayahnya tahun 1912 ke Prins Hendrik School di Batavia dan lulus dari Afdeeling Hogere Burger School (HBS) 1916.

Kapitein Lie Goan Oan dan ayahnya Lie Tjeng Lok awal 1942.*).

Begitu kembali dari Jawa, Lie Goan Oan segera menjadi pembantu utama ayahnya. Ia ikut menjadi pemegang saham di N.V.Handel Maatschappij Lie Boen Yat&Co, N.V.Celebes Molukken Cultuur Maatschappij serta N.V.Bouw Maatschappij Noord Celebes


Almanak Rakyat 1940 mencatat Lie Goan Oan diangkat sejak 18 November 1936. Tapi, dalam pembeslitannya disebut pengangkatannya sebagai Kapitein Tionghoa Manado terhitung mulai tanggal 1 Desember 1935.

Awal-awalnya, Lie Goan Oan belum aktif menjalankan tugasnya, sebab setelah dibantu Tjia Pak Liem hingga Februari 1936, masih ditunjuk sebagai pelaksana kapitein adalah Wijkmeester Kampung Cina bernama Ang Seng Lie.

Baru setelah Ang Seng Lie diberhentikan dengan hormat terhitung mulai 1 Oktober 1937, Lie Goan Oan tampil sendirian. Selama kepemimpinannya, Lie Goan Oan mampu meningkatkan pemasukan pajak bagi orang dan usaha orang Tionghoa di Manado, serta mengayomi komunitasnya. Budaya dan tradisi Tionghoa pun terpelihara dengan baik, dengan rutinnya saban tahun diselenggarakan perayaan, terutama pada keramaian Tahun Baru Cina.

Pusara di Menteng Pulo. *)

Ketika Jepang berkuasa, Lie Goan Oan ditangkap bersama ayahnya Lie Tjeng Lok, adiknya Lie Tek Djien atas laporan Minoru Yanai, Chef Firma Jepang ‘Futaba’. Tanggal 13 Februari 1942 bersama dua hukum tua dari Tomohon, mereka dieksekusi Jepang dengan dipancung di lokasi Gunung Wenang. Kuburan mereka digali kembali tahun 1946 dipindahkan di pekuburan Belanda korban kekejaman Jepang di Menteng Pulo Jakarta.

Istri Lie Goan Oan, Liem Ie Hoa. *)

Lie Goan Oan sendiri mengawini Liem Ie Hoa. Menantunya adalah Prof.Dr.dr.Liem Soei Diong (belakangan terkenal dengan nama Djon Semet Kapojos), dengan mengawini putrinya bernama Lie Giok Lian.

Setelah usai Perang Dunia II, Belanda menghidupkan kembali jabatan Kapitein der Chineezen dengan mengangkat mantan kapitein Oei Pek Yong sebagai kapitein yang baru. Kemudian menggantikannya Tjia Goan Tjong, pengusaha yang di tahun 1930-an adalah pemilik merk Seng Goan.***


*). Foto koleksi KITLV dan keluarga keturunan Lie Tjeng Lok.

SUMBER TULISAN:
Delpher Kranten:
Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie 21 Februari 1925, 21 November 1935,1 Oktober 1937.
Soerabaijasch Handelsblad 24 Agustus 1934, 23 Mei 1935, 29 Februari 1936.
De Indische Courant 20 Agustus 1926, 10 Januari 1927, 28 Januari 1930.
De Sumatra Post 24 Februari 1927, 9 Desember 1933, 5 Maret 1936.
Bataviaasch Nieuwsblad 14 Mei 1914, 8 Januari 1927, 14 Januari 1930.
Het Dagblad 6 Desember 1947.
De Tijd 6 Maret 1935.
Ensiklopedia Tou Manado.