Minggu, 20 April 2014

Ridder dan Medali Keberanian Orang Manado (2)

                                        Oleh: Adrianus Kojongian 

 

Lukisan pasukan Marechaussee. *)


Keberanian orang Manado, terutama Minahasa, mengharum, dalam kesatuan Amboineesche. Tentara rekrutan berasal Indonesia Timur, baik Ambon, Timor dan Manado sengaja digabung dalam Amboineesche, sehingga sangat menonjolkan kiprah korps tersebut. Selang tahun 1870-an hingga tahun 1924, muncul banyak tokoh militer pemberani yang kebanyakan berpangkat bintara asal Manado. Mereka hampir selalu menjadi maskot tentara pribumi Hindia-Belanda dalam Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger alias KNIL.

Baru tahun 1924, tentara asal Manado bisa membanggakan diri dalam kesatuan sendiri, yakni Menadoneesche, yang terpisah dari Amboineesch. Kesatuan Menadoneesche baru berakhir ketika kekuasaan Belanda berakhir.

Keberanian orang Manado dibuktikan dengan puluhan orang Manado meraih tanda jasa keberanian tertinggi Ridder Militaire Willems Orde, dan hampir seratus lainnya menerima medali kehormatan (eere-medaille) Orde van Oranje-Nassau, terutama medali zilver (perak) dan brons (kuningan), tapi jarang memperoleh medali emas (gouden). Tanda jasanya dikeluarkan dengan beslit kerajaan . Kemudian, dengan beslit Gubernur Jenderal, medali -- terutama juga--, zilver dan bronzen voor moed en trouw, lalu voor moed, beleid en trouw.  Ada pula penghargaan eervol vermeld.  Semua penghargaan tanda jasa, baik dari koninklijk mau pun dari Gubernur Jenderal selalu disertai pedang kehormatan. Di masa akhir kekuasaan Belanda, sejumlah orang Manado memperoleh pula Bronzen Kruis, dan Kruis van Verdienste.

Para penerima berbagai penghargaan Belanda rata-rata bertugas sebagai tentara dalam berbagai operasi militer di Lombok, Sulawesi Selatan, Kalimantan dan paling utama di Aceh. Kebanyakan dari kesatuan infantri, lalu penerima mulai awal tahun 1900-an dari korps elit KNIL Marechaussee atau Marsose.

Tahun 1877 setidaknya ada sembilan orang Manado meraih penghargaan untuk tindak keberanian dalam operasi militer di Aceh. Dari operasi tanggal 28 Desember 1875 hingga 9 Maret 1876, melalui beslit Gubernur Jenderal tanggal 10 Mei 1877 nomor 17, sebanyak 5 orang fuselier Amboineesche asal Manado dalam Batalion Infantri ke-3 memperoleh penghargaan medali tanda jasa Bronzen. Mereka adalah J.Dumanauw, J.Wagiu, S.A.Nelwan, Rarumangkay (ditulis Rarumangky), dan J.Rindengan (ditulis Rindingan). Fuselier lain A.Posumah (ditulis Pasuma), menerima eervol vermeld.

Masih di tahun 1877, dengan beslit kerajaan tanggal 13 September 1877, tiga orang Manado menerima Ridder Klas 4 Militaire Willems Orde, berdampingan dengan perwira tinggi sampai bintara berkebangsaan Belanda. Mereka sekaligus memperoleh kenaikan pangkat istimewa. Ketiganya adalah: A.O.Malonda yang dipromosi Fuselier dari Kopral. Lalu  A.Dengah dan D.Rotty menjadi Kopral.


Tahun 1895, untuk operasi militer di Lombok selama paruh kedua tahun 1894, untuk tindakan berani dan luar biasa, Fuselier Amboineesche T.Tambuwun (ditulis Tamboewoeng) menerima Ridder Klas 4 Militaire Willems Orde. Lalu dengan beslit Gubernur Jenderal tanggal 10 April 1895 voor keberanian dan loyalitas, 2 Amboineesche, yakni Fuselier J.Pangkerego dan handlanger F.C.Kambey (ditulis Kamby) menerima Bronzen Medaille. Kopral Amboineesche S.Mandagi dan Fuselier W.Koropit memperoleh eervol vermeld.


Kemudian banyak orang Manado lain, berturut menerima Ridder Militaire Willems Orde Klas 4. Untuk operasi militer di Aceh Marechausse Jesajas Pongoh menerima tahun 1903 dan  Fuselier M.Rambing tahun 1906. Marechausse J.Mandagi memperolehnya tahun 1906 untuk operasi militer paruh pertama tahun 1905 di Doesoen en Dajaklanden Zuider-en Oosterafdeeling van Borneo (wilayah yang sekarang masuk Kalimantan Tengah).

Dalam operasi militer di Sulawesi (Selatan), selama periode 12 Juli 1906 sampai 1 Agustus 1906, Sersan Amboineesche Jesajas Pongoh (untuk kali kedua) dengan beslit kerajaan tanggal 28 Maret 1907, menerima bintang Ridders Militaire Willem Orde Klas 3. Penghargaan buat Jesajas Pongoh ini merupakan sebuah peristiwa yang sangat luar biasa dan langka, apalagi untuk tentara pribumi (Inheemsche militairen).


Tahun 1907 banyak orang Manado mengondol penghargaan. Bersama Jesajas Pongoh, untuk penghargaan operasi militer Sulawesi itu, tiga orang Manado lain menerima Ridder Militaire Willems Orde Klas 4. 


Mereka adalah Fuselier N.Mocodompis untuk pertempuran di  benteng batu Kautoe Masenrempoeloe, Sersan G.L.Rumamby untuk tiga peristiwa dianggap luar biasa: tanggal 17 Oktober 1905 di Gunung Bambapoeang Masenrempoeloe, di Kampung Sawieto 5 Januari, dan peristiwa bulan Februari 1906 di Kali Riwa dekat Enrekang. Penerima lain Militaire Willems Orde Klas 4 tahun 1907 adalah Marechausse J.Supit untuk pertempuran di Bonto Batoe tanggal 16 Mei 1906.

Masih di tahun 1907, dengan beslit Koninklijk tanggal 14 November, 2 orang Minahasa turut meraih Ridder Militaire Willems Orde Klas 4, sekaligus promosi naik pangkat. R.Kaeng jadi Sersan dari Kopral, dan K.Langi promosi dari Kopral ke Fuselier.

Tahun 1908, di bulan Mei Marechausse N.Walangitan, memperoleh Ridder Militaire Willems Orde Klas 4 untuk operasi militer di Aceh selama semester pertama tahun 1907. Kemudian di bulan Desember 1908 Ridder Klas 4 Militaire Willems Orde diperoleh Fuselier A.Paslah dan A.Wowiling.

Berikutnya, dengan beslit 12 November 1926 Sersan D.Kaligis memperoleh Ridder Militaire Willems Orde Klas 4. Dan, terakhir tahun 1947, Sersan Infantri KNIL Irot meraih Ridder Militaire Willems Orde Klas 4 di bulan Februari 1947.

Selain mereka yang disebut, ada sejumlah militer asal Manado yang terdaftar dalam Register Kanselarij der Nederlandsche Orde sebagai penerima Ridder Militaire Willems Orde Klas 4, tapi terbunuh dalam operasi militer di Sulawesi Selatan. Amboineesche Fuselier (dipromosi dari Kopral) A.Rumawung penerima dengan beslit kerajaan tanggal 28 Maret 1907, tewas dalam pertempuran tanggal 25 Agustus 1906 di Paberassang Sidenreng.


Lalu Amboineesche marechaussee J.Pangau, terbunuh tanggal 16 Mei 1906 di Bonto Batu. Juga didaftar dalam register sebagai penerima Militaire Willems Orde Klas 4 adalah Amboineesche Fuselier S.E.Wowor, yang terbunuh tanggal 28 Maret 1906 di Masenrempoeloe, serta Amboineesche hoornblazer J.Pondaag yang meninggal 6 September 1905. 

Para penerima Militaire Willems Orde dilukiskan luar biasa gagah-berani. Fuselier M.Rambing, yang menerima di tahun 1906, dicatat saat menjadi komandan patroli di Moege Rajeu (Boven Meulaboh) pada tanggal 17 Maret 1905 diserang lawan bersenjatakan klewang yang sangat kuat. Meskipun sudah terluka parah di awal pertempuran, dengan kerjasama pasukan, musuh dapat dipukul mundur.

Kemudian, Fuselier S.E.Wowor. Hanya ditemani Fuselier M.Kaihena, meski tidak diikuti oleh orang-orang lain dalam divisinya, dengan pantang-mundur terus maju di benteng batu Kautoe Masenrempoeloe yang dijaga ketat. Maka, di tanggal 28 Maret 1906 bersama Kaihena, ia tewas mengorbankan diri.

Sersan Klas 2 Menadoneesche D.Kaligis yang menerima Ridder der Militaire Willems Orde Klas 4 tahun 1926 terkenal karena keberanian serta aba-aba ‘ayo madjoe’ yang menjadi penyemangat pasukannya, dari terpukul musuh, berbalik menjadi kemenangan dalam pertempuran bulan Juli 1926 di Missigit Kroeeng Loeas. Kelak pula Kaligis menerima medali emas untuk 24 tahun masa dinasnya, dan pensiun di tahun 1937.

JESAJAS PONGOH
Ketika pensiunan Sersan Jesajas Pongoh meninggal di Rumah Sakit Militer di Surabaya pukul 04.00 pagi hari Kamis tanggal 11 Oktober 1934, ia menerima penghormatan luar biasa dan dimakamkan dengan upacara kebesaran militer. Koran-koran Hindia-Belanda, antara lain Soerabaiasch-Handelsblad, hari itu juga, sengaja menurunkan berita kehilangan veteran dan salah satu prajurit paling berani, menyebut penyandang Militaire Willems Orde Klas 3 itu sebagai  'pahlawan Aceh'.

Jesajas Pongoh.*)
Jesajas Pongoh lahir di Airmadidi tanggal 7 Mei 1878. Ia teken kontrak masuk tentara tanggal 10 Februari 1897, saat dimana ratusan pemuda setiap tahunnya meneken kontrak menjadi soldadu. Setelah mengikuti pelatihan, ia masuk Marechaussee, korps yang kelak, menurut sebuah media, akan melihatnya sebagai permata .

Tanggal 27 Februari 1906 ia dipromosi sebagai Kopral, 7 Agustus 1906 Sersan Klas 2 dan tanggal 26 November 1921 Sersan Klas 1. Terhitung tanggal 10 Januari 1932 ia pensiun.

Dari tahun 1898 hingga 1904 Jesajas Pongoh mengambil bagian dalam operasi militer di Aceh, dimana ia terlibat pada operasi di tanah Gayo dan Alas (Gajo en Alaslanden) 1904. Berikutnya, tahun 1904-1905 operasi militer di Sulawesi Selatan, dan selang 1905-1909 di Kleine Soenda eilanden (Nusa Tenggara).

Dengan beslit kerajaan tanggal 30 September 1903 ia dianugerahi Ridder Klas 4 Militaire Willems Orde untuk operasi militer di Aceh selama semester kedua tahun 1902.

Keberanian Jesajas Pongoh terlihat dalam penyerbuan benteng terkenal Tjot Saunoko.  Dengan klewang digigitnya, ia melompat ke dalam benteng sehingga mengejutkan orang Aceh di dalamnya.

Tahun 1904, ia ikut dalam ekspedisi menyeberangi Tanah Gayo yang terkenal dalam sejarah militer Hindia-Belanda dibawah pimpinan Overste G.C.E.van Daalen. Tanah Gayo sebelumnya tidak pernah dimasuki orang Eropa. Bulan Maret tahun itu ia meninggalkan Lho’Seumawe Aceh, dan tiba 5 bulan kemudian di Sibolga (sekarang Sumatera Utara).

Disebutkan di tanggal 18 Maret 1904 Jesajas Pongoh dengan gagah-berani mengambil alih bukit Gemoejang di Gajo Loe Os, meski ditembaki dan terluka lengan kanannya.

Dengan beslit Gubernemen tanggal 18 April 1905 ia memperoleh eervol vermeld untuk tindakannya selama ekspedisi di tanah Gayo dan Alas bulan Februari sampai Juli 1904.

Selang tahun 1905-1907 ia mengambil bagian dalam operasi militer di Sulawesi Selatan. Dibawah komandan Overste H.N.A.Swart, kelak Gubernur militer Aceh dan kemudian Vice-President Dewan-Hindia, Jesajas Pongoh menyerbu benteng di Randjang. Karena operasi militer di Sulawesi ini, ia dipromosikan menjadi kopral dan tidak lama berselang sebagai sersan klas 2. Lalu dengan beslit kerajaan tanggal 28 Maret 1907 ia memperoleh penghargaan Militaire Willems Orde Klas 3 untuk partisipasinya dalam operasi periode 12 Juli 1905-1 Agustus 1906.

Tahun 1915 dan 1916 ia kembali mengambil bagian dalam operasi militer di Gubernemen Celebes en Onderhoorigheden.  Tanggal 28 April 1927 ia memperoleh Medali Emas (Gouden Medaille) untuk penghargaan 25 tahun berdinas militer.

Pada 4 Mei 1927 bersama 27 penyandang Ridder Militaire Willems Orde dari perang Aceh, ia pergi ke Belanda sebagai utusan tentara Hindia-Belanda menghadiri pemakaman Letnan Jenderal J.B.van Heuts, mantan Gubernur Jenderal. Di Huis ten Bosch Den Haag, ia berkesempatan bertemu Ratu (Wilhelmina), Putri (Juliana) dan Pangeran Hendrik. Ayah enam anak ini kemudian mengaku ketika dia mendapat kehormatan berjabat tangan lalu berbicara dengan Ratu Belanda, merupakan salah satu momen paling indah dalam hidupnya. ***

*). Lukisan koleksi Het Geheugen van Nederland dan foto Jesajas Pongoh dari Wikipedia. 

 SUMBER TULISAN:
Koninklijk Bibliotheek-Delpher Kranten (De Locomotief 19 Mei 1877, 1 November 1877, 13 April 1895, 6 Juli 1895; Het Nieuws van den Dag 18 September 1877, 29 Agustus 1906, 10 April 1907; Java Bode  30 Oktober 1877, 11 Desember 1908, 10 Oktober 1934; Bataviaasch Nieuwsblad 1 September 1903, 7 Oktober 1903, 29 Agustus 1906, 11 April 1907, 21 November 1907, 15 Mei 1908; Middelburgsche Courant 16 Maret 1906; Soerabaiasch-Handelsblad 11 April 1907, 25 November 1907, 11 Oktober 1934, 8 Desember 1937; De Tijd 8 Desember 1908).