Kamis, 11 April 2013

Teken Kontrak Soldadu Minahasa






                                          Oleh: Adrianus Kojongian 

                                            

 



Soldadu KNIL Minahasa di Semarang. *)




Sampai tahun 1940-an menjadi kebanggaan bagi orang tua Minahasa bila anaknya menjadi soldadu, sebutan Minahasa bagi serdadu KNIL. Teken kontrak soldadu, terdengar dimana-mana. Pukul rata saban negeri (sebutan desa dan kelurahan Minahasa sampai tahun 1966) mempunyai putra yang pernah dan berdinas di ketentaraan Hindia-Belanda itu. Kebanggaan akan semakin besar lagi bilamana ada yang terpilih dan berdinas menjadi marsose, tentara spesial KNIL yang kemudian mengakhiri peperangan panjang di Aceh. Jaminan hidup layak dan dihormati, merupakan pilihan utama dan idaman pemuda tempo dulu menjadi tentara. Gengsi soldadu pun mengantar banyak diantara mereka kelak terpilih menjadi Raad-Negeri, tokoh agama, tokoh masyarakat dan bahkan sebagai Hukum Tua.

Kalau dirunut ke belakang, andil ‘tentara’ Minahasa di dinas militer Belanda sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 1700-an di masa Kompeni atau VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Pertahanan Benteng Amsterdam di Manado telah melibatkan pasukan Burger (Borgo), dan Minahasa asli yang disebut pasukan alifuru, sebab belum memeluk agama Kristen. 

Pasukan Borgo selain terdiri warga campuran Eropa, juga berasal Ternate dan wilayah Maluku lainnya digunakan menjaga ‘Kota’Manado, serta ditempatkan di pos-pos militer utama, di wilayah Minahasa di Amurang, Kema, Likupang, Tanawangko dan Belang, serta di wilayah luar seperti Siau dan Tabukan. Seakan warisan, keturunan mereka pun meneruskan tradisi soldadu hingga banyak generasi. Kini keturunan Borgo masih ada di bekas perkampungan Borgo di Amurang, Tanawangko, Likupang dan Belang, kebanyakan Kristen Protestan dan sisanya Islam.

Pasukan alifuru Minahasa terutama berasal dari balak-balak sekitar Manado dan balak berdekatan. Pengerahan pasukan alifuru Minahasa banyak terjadi ketika berlangsung penyerangan oleh bajak laut Mindanau (Mangindano) yang merajalela cukup lama.

Balak-balak Minahasa sampai pertengahan abad ke-19 rutin mengirim pasukan membantu soldadu resmi dan para Borgo menghalau bajak laut  tersebut. Ketika Inggris menduduki Keresidenan Manado untuk pertamakalinya awal Maret 1797, Residen Manado George Fredrik Durr menyerah tanpa melakukan perlawanan, karena Benteng Amsterdam hanya dipertahankan seorang sersan dan 24 prajurit alifuru Minahasa.

Status tentara bantu (tolongan, tulungan) bagi serdadu Minahasa (alifuru) disebut-sebut telah muncul sejak awal abad ke-19 setelah VOC digantikan pemerintahan Hindia-Belanda. Penolakan sempat terjadi di tahun 1808 bahkan sampai memicu berlangsungnya perang Minahasa di Tondano 1808-1809. Namun, ketika Belanda kembali berkuasa, andil serdadu Minahasa pada perang lokal Indonesia telah berkembang. Diawali Perang Pattimura di Maluku 1817, dan berpuncak Perang Diponegoro (1825-1830).

Serdadu dan perwira asal Minahasa dikabarkan sudah aktif berkecimpung dalam pasukan milisi di Ternate dan Ambon, meski resminya masuk dalam kesatuan Ambon. Mereka pun, bertugas di dinas militer Hindia-Belanda. Dicatat, di tanggal 8 Januari 1810 Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Marsekal Willem Daendels mengangkat 2 sersan dalam pasukan Ambon di Resimen Infantri 2, masing-masing Sersan Johan Carl Pangerapan dan Christiaan Rompies. Di daftar pasukan Januari 1811, Rompies dimaksud telah berpangkat Letnan.

Luitenant Rompies (ditulis Rompjes) berada di kesatuan Ambon Resimen Jagers pimpinan Kolonel Bonette. Selain dia, ada nama Eerste Luitenant (Letnan Satu) Manuel. Lalu ada pula Luitenant Panke (Pangkey?) dan Luitenant Manintja (Monintja) yang jelas-jelas asal Minahasa.

Untuk perang Diponegoro, Minahasa mengirimkan lebih satu batalion pasukan, berkekuatan 1.600 tentara (versi lain 1.400 orang), dipimpin Tololiu Dotulong (1795-1888) yang memperoleh pangkat militer Mayor.
  
Usaha perekrutan serdadu Minahasa dalam Pasukan Tulungan (Hulptroepen) dikabarkan telah dimulai sejak tahun 1823 oleh desakan Gubernur Maluku Pieter Merkus, tapi makin gencar di tahun 1824 ketika Gubernur Jenderal G.A.G.Ph.van der Cappelen berkunjung ke Minahasa. Berkembang versi, pengiriman serdadu Minahasa ke Jawa itu telah dimulai sejak tahun 1824, dan ketika tercetus perang Diponegoro, pengiriman Pasukan Tulungan berlangsung dalam dua tahap, di tahun 1826 dan kemudian 1829.

Residen Manado Mr.Daniel Francois Willem Pietermaat ditemani Tololiu Dotulong melakukan kunjungan ke semua Balak Minahasa. Mereka membujuk para kepala balak dengan iming-iming hadiah untuk tiap kepala yang diserahkan serta jaminan lain untuk calon serdadu dan keluarganya. Kontrak-kontrak yang berlangsung tahun 1829 antara Residen Pietermaat dengan para kepala balak Minahasa (10 Januari 1829 dengan Tondano-Toulimambot; 20 Januari 1829 dengan Sonder, Tombasian dan Rumoong) serta jumlah pasukan sebanyak 1.600 orang menandakan suksesnya misi residen dan Tololiu Dotulong itu. Hampir dipastikan semua balak Minahasa mengirim kontingennya.

PERWIRA PERTAMA
Data-data menyebut Tonsea dibawah Kepala Balak Lukas Pelenkahu (1758-1833) menyediakan 250 serdadu, Sonder yang menginisiatif dibawah Kepala Balak Tololiu Dotulong menyediakan paling banyak serdadu, 377 orang. Tondano-Toulimambot dibawah Kepala Balak Abraham Lotulong sebanyak 120 orang, Tombasian dibawah Kepala Balak Benjamin Tambajong 50 orang serta Rumoong dibawah Kepala Balak Lauw (Laoh Runtuwene) 30 orang.

Sayang, belum ada data-data kapan penandatangan kontrak Residen Manado dengan Kepala Balak Tonsea tersebut. Begitu pun kapan penandatanganan kontrak Residen Pietermaat dengan Kepala Balak Tondano-Touliang Tangka Wenum, Kepala Balak Tomohon Mangangantung (kelak Ngantung Palar, 1776-1853), Kepala Balak Sarongsong Waworuntu (kelak Herman Carl Waworuntu, 1781-1854), dan para kepala balak lain.

Namun dipastikan pasukan dari negeri-negeri di atas ini mengirim kontingen berkuatan di atas 100 serdadu, sebab para komandan pasukannya memperoleh pangkat kapitein. Begitu pun kontrak dengan Kepala Balak Remboken, Kepala Balak Kakas Inkiriwang, Kepala Balak Kawangkoan, Kepala Balak Langowan, Kepala Balak Tompaso Sondakh, Kepala Balak Tombariri Andries, Kepala Balak Kakaskasen Mainalo Parengkuan serta kepala-kepala balak lain seputaran Manado seperti: Klabat di-Bawah, Manado, Bantik, Negeri Baru, termasuk Klabat di-Atas, Likupang, serta Ratahan-Pasan-Ponosakan dan Tonsawang. Hanya, dapat dipastikan kontrak-kontraknya berlangsung semuanya di bulan Januari hingga awal Februari 1829.

Dengan kelengkapannya, maka perwira-perwira pertama Minahasa dikukuhkan. Komandan Pasukan Tulungan Tololiu Dotulong memperoleh pangkat Mayor infantri. Sonder dengan jumlah pasukan terbesar memiliki 3 Kapitein yakni: Sondag Palar (kelak Paulus Palar, terkenal sebagai Palar van Sonder), Kapitein Laoh (Lauw) dan Runtulalo. Letnan Satu adalah: Gerung Sumolang anak mantan Kepala Balak Sumolang, dan Kumajas Lamia. Para Letnan Dua adalah Marentek, Eeman Kaunang, Mongkau Karundeng dan Nusa Pangkey.

Pasukan Tonsea dipimpin Kapitein Daniel Rotinsulu. Tondano-Toulimambot dipimpin Kapitein Johanis Senghari (Supit?), dengan Johanis Kawilarang sebagai Letnan Satu dan Jacob (Hendrik Supit, 1802-1865) Letnan Dua. Tondano-Touliang L.Polingkalim sebagai Kapitein dan Alexander Wuijsang Letnan Dua. Balak Kakas dipimpin Kapitein Johanis Inkiriwang (1776-1852).


Kubur Kapitein Mandagi  *)

Tomohon dipimpin Kapitein Mangulu dan Sarongsong Kapitein Mandagi. Tombasian Letnan Satu Andries Runkat dan Letnan Satu Jan Korompis. Rumoong Letnan Satu Jan Korompis dibantu Letnan Dua Sounambela dan Letnan Dua Laurens Gaspar. Langowan dibawah Kapitein Sigar (kelak Benjamin Thomas Sigar, 1790-1879) dibantu Letnan P.Kumolontang (meninggal 1853). Pasukan Balak Kawangkoan dipimpin Letnan Satu Poluakan (kelak Thomas Poluakan), dengan sersan terkenal bernama Tenda.

Usai Perang Diponegoro tahun 1830, mereka dikembalikan ke Minahasa. Kebanyakan memperoleh promosi kenaikan pangkat satu tingkat. Tololiu Dotulong komandan Pasukan Tulungan menjadi Groot Majoor. Selain dia, seorang Minahasa lain yang kembali tahun 1831 dan menyandang gelar Groot Majoor adalah Abraham Donatius Wakkary (1796-1868) asal Balak Negeri Baru dari pasukan berkuda. Para bekas militer ini rata-rata dipromosi Belanda memangku posisi pemerintahan setempat. Banyak diantaranya meraih kedudukan Hukum Tua, Hukum Kedua bahkan posisi Hukum Besar Kepala Distrik di wilayahnya.

MENADONEES.
Rekrutmen resmi orang Minahasa masuk kesatuan militer Hindia-Belanda setelah Perang Diponegoro diperkirakan mulai terjadi setelah Oost-Indische Leger (Tentara Hindia Timur) dibentuk di akhir tahun 1830 juga, yang kemudian dikenal dengan sebutan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger).

Seorang perwira Minahasa dicatatkan berperan dalam hirarki Inlandsch Officieren di tahun 1830. Perwira tersebut adalah C.Rompies berpangkat Letnan Dua dan bertugas di Algemeen Depot. Dari berita Bataviaasche Courant 24 Januari 1818, ia dicatatkan sebagai letnan dua di Batalion Infantri ke-26. Bisa jadi dialah Christiaan Rompies, sersan dan kemudian letnan yang dicatat di tahun 1810 masa pemerintahan Willem Daendels.

Keberanian soldadu Minahasa yang terkenal sebagai Menadonees dalam pertempuran membuat para komandan Belanda antusias merekrut mereka disamping orang Ambon. Jaminan hidup layak dan gengsi yang diperoleh menyebabkan banyak pemuda Minahasa teken kontrak jadi serdadu. Alasan lain banyaknya pemuda masuk serdadu karena menghindar dari kerja wajib Herendienst yang berlaku di masa itu. Soldadu Minahasa ditempatkan di berbagai wilayah Hindia-Belanda, bahkan ke medan pertempuran hebat. Yang berprestasi dengan keberanian luar biasa, banyak dipilih masuk kesatuan elit Marsose (Marechehaussee) di Aceh.

Marsose asal Minahasa di Aceh permulaan 1900-an. *)

Namun, jenjang pangkat yang dapat dicapai soldadu Minahasa hingga tahun 1900-an rata-rata hanyalah bintara, berpangkat tertinggi Sersan Kelas Satu. Sejumlah nama soldadu Minahasa terkenal di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, antara lain Sersan Kelas Satu Jessayas Pongoh, Sersan Kelas Satu J.Katuuk, Sersan Kelas Satu J.N.Najoan, Sersan Kelas Satu H.Pantouw dan Robert Talumewo. Mereka berprestasi di kesatuan Marsose Aceh, dan kisahnya sampai dipublikasi. Katuuk, Najoan dan Pantouw sampai berjuluk KNIL Star Minahasa. Untuk bukti keberanian, Jessayas Pongoh kelahiran Airmadidi 1878 sampai meraih bintang penghargaan prestisius Ridder Militaire Willemsorde klas 3. 

Sersan J.Katuuk. *)

Dari Tomohon, sejumlah bintara KNIL yang ’masyur’ adalah Sersan Pangkerego Pongoh dan Jusop Mait dari Talete. Mereka digelari Sersan 105, karena uang pen­si­un­nya sebesar 105 gulden (rupiah), padahal beras sekarung saat itu hanya 3 gulden. Berikut, Sersan Makte Tular juga dari Ta­­lete, Sersan Wilhelmus Ngantung, Sersan Kelas 2 Ape­­les Rotikan dan Jan Mawikere dari Matani. Jan Mawikere ini kelak dikenal sebagai politikus, pemimpin partai Twapro/Singa Minahasa dan anggota parlemen NIT. Lalu ada Ser­san Corneles Kalalo, Kopral Jonathan Tumurang di Kolongan, Ser­san Musa Sakul Rambing dan Sersan Kelas 1 Jeremias Ka­ligis di Ru­rukan, Sersan Kelas 1 Jahya Pandeirot Mampuk di Pinaras, serta Kopral Philep Mende di Lahendong.

J.N.Najoan. *)

Bukan hanya berandil sebagai serdadu KNIL, cukup banyak kemudian pemuda Minahasa masuk menjadi polisi, marine dan bahkan ada berdinas di angkatan udara. Salah seorang bintara angkatan laut terkenal adalah Bootsman F(rans) A(lexander) P(andeirot) Pitoy, dari Matani Tomohon yang menjadi politikus, sebagai anggota parlemen NIT lalu anggota parlemen Republik Indonesia Serikat (RIS).


Bootsman F.A.P.Pitoy. *)

Data menyebut, di tahun 1936 ada sebanyak 5.000 soldadu Minahasa dalam pasukan KNIL, sementara orang Jawa 13.000 dan Ambon 4.000 orang.

PERWIRA KNIL
Pribumi Minahasa yang mencapai pangkat perwira dalam tentara KNIL aktif hanya tiga orang. Dua orang adalah lulusan Cursus tot Opleiding van Inlandsche Officieren, sekolah perwira militer pribumi di Meester Cornelis (Jatinegara) tahun 1913, yakni Alexander Herman Hermanus Kawilarang (1889-1944) dari Tondano, dan Benjamin Thomas Walangitan(g) (1890-1944) dari Kakas. Kedua  anak’ bangsawan’ Minahasa ini diderajatkan orang Belanda dan sama-sama mencapai pangkat Mayor KNIL di tahun 1935. Dalam stambuk KNIL, keduanya dicatat berkebangsaan Belanda. Keduanya pun sama-sama tewas di masa Jepang ketika kapal tahanan Junyo Maru yang mereka tumpangi ditenggelamkan kapal selam Sekutu 18 September 1944.

Perwira Minahasa ketiga adalah J.Kaseger dari Tondano. Ia berpendidikan Instituut Aspirant-Officieren, Militaire School di Meester Cornelis tahun 1925, lalu melanjutkan di Hoofdcursus Breda Negeri Belanda, ditamatkan tahun 1927. Berpangkat Letnan Dua infantri awal tahun 1928 ia ditempatkan di Batalion 7 Magelang. Tahun 1930 dipromosi Letnan Satu dan 1939 Kapten.
 
Saat peristiwa Merah-Putih 14 Februari 1946 Kaseger diangkat sebagai Komandan Tentara Keresidenan Manado dengan pangkat Mayor, sampai jabatannya diambilalih Ch.Ch.Taulu 16 Februari 1946. Tanggal 10 Maret 1946 ia melancarkan kontra-kup terhadap pejuang Merah-Putih. Atas jasanya itu diangkat Belanda jadi penguasa militer wilayah Manado/Minahasa dengan pangkat Mayor. Tapi, tidak lama Kaseger diibebastugaskan, dipindah ke markas KNIL di Jakarta. Sesudah pensiun, ia bermukim dan meninggal di Negeri Belanda.


Letkol Nani Kawilarang. *)

Selain mereka, hingga kekuasaan Belanda berakhir, tercatat dua orang Minahasa sempat memperoleh pangkat perwira tituler, yakni dokter Johanis ‘Nani’ A.J.Kawilarang (1880-1953) dari Tondano, dan Dr.dr.Roland Tumbelaka (1880-1946) dari Amurang. Keduanya sebagai perwira kesehatan dengan pangkat Letnan Kolonel. Nani Kawilarang kakak Mayor Alexander H.H.Kawilarang meraih rank Letkol sejak 1931 dan Tumbelaka Letkol tahun 1945.***

   
  *). Foto: Koleksi Jootje/Maurits Umboh, kel. FAP Pitoy dan repro Bode Talumewo.

SUMBER:
Adrianus Kojongian dkk: Ensiklopedia Tou Manado.
Bezittingen, onder het bestuur van den Gouverneur-Generaal Herman Willem Daendels, 's Gravenhage 1814, digitized by Google.
Almanak van Nederlandsch Indie voor het jaar 1831, Batavia ter Lands Drukkerij, digitized by Google.
Adrianus Kojongian: Tomohon Dulu dan Kini.