Minggu, 14 April 2013

Adam Mattern Sang Perintis Injil

                                      

 

                                              Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 


Sketsa Tomohon 1839. Penduduk menari Kabasaran menyambut tamu. *)




Sulit membayangkan Tomohon di permulaan abad ke-19 masih animisme bila melihat kekhasannya sekarang sebagai kota gereja, bahkan pusat dari Gereja Masehi Injili di Minahasa, dan sedari 1934-1968 sebagai pusat Vikariat lalu Keuskupan Manado, dan juga pusat Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Sulawesi Utara dan Gorontalo selang 1951-2007.

Masa itu, Kepala Balak Tomohon  Mayoor Mangangantung dan Kepala Balak Sarongsong Mayoor Waworuntu bertindak langsung sebagai pemimpin-pemimpin agama asli Minahasa (walian wangko) yang animisme dan dinamisme. Para pemimpin dan warganya percaya pada arwah orang meninggal, dan magi-magi, beranggapan seluruh alam mempunyai roh dan jiwa. Begitu pun terhadap kekuatan-kekuatan tidak berwujud seperti pada batu, pohon atau benda yang dianggap mempunyai kekuatan rahasia.

Mengatasi marabahaya dan memuja kekuatan-kekuatan gaib, maka harus diadakan upacara Foso (korban), yakni mempersembahkan sesuatu kepada roh-roh dan memintakan perlindungan sang Esa yang dikenal sebagai Empung atau Opo Wailan Wangko, Opo Manembo-nembo, Opo renga-rengan yang bermukim di Kasendukan. Itu sebabnya upacara foso menjadi dominan dalam kehidupan masyarakat di wilayah yang sekarang membentuk Kota Tomohon ini, bahkan di seluruh Minahasa.

Upacaranya biasa dilaksanakan berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Hampir setiap peristiwa atau kejadian harus diatasi dengan Foso, apakah panen, perburuan besar, pendirian negeri, naik rumah baru, bahaya atau  penyakit dan lain sebagainya. Foso-foso wajib dan lekat dalam keseharian warga, sehingga ada foso umum maupun foso keluarga. Tentu saja upacara-upacara ini menelan biaya besar dan tidak membuat masyarakat menjadi kaya dan sejahtera.

Kuatnya tradisi foso di Tombulu ini dibuktikan masih marak justru ketika Kristen telah mulai tumbuh mekar. Saat itu Tomohon digambarkan sebagai tempat paling banyak menggelar foso di Minahasa. Hanya selang bulan Desember dan Januari 1848 saja berlangsung 44 foso umum dan 124 foso keluarga. Tentu memiskinkan, karena biayanya hampir 20 ribu gulden.

Bukit Inspirasi 2005. Dulu kompleks peribadatan purba, disumbang Kel. Hans Pandelaki.

Bibit-bibit kekristenan awal di Tomohon telah tumbuh beberapa dekade sebelum datangnya penginjil menetap pertama di Tomohon. Komunikasi yang mulai lancar dengan Manado serta balak-balak lain, perjumpaan dengan keluarga Kristen atau pertemuan dengan satu-dua pekabar injil yang sudah rutin mengunjungi dan bekerja di Tanah Minahasa, bahkan lewat jalinan perkawinan di antara tokoh-tokoh dan penduduk Tomohon dengan balak-balak sekitarnya menyebabkan segelintir orang telah menjadi Kristen.

Memang pengaruhnya tidak seberapa, meski diperkirakan lingkaran keluarga ‘atas’  justru yang pertama menganutnya secara diam-diam. Orang yang diduga telah menjadi Kristen pertama di Tomohon sebelum kedatangan Johan Adam Mattern adalah istri Kepala Balak Tomohon Mayoor Manopo Supit yang berkuasa tahun 1809-1824. Wanita ini telah memakai nama Maria Posumah. Tapi, siapa yang membaptis dan dimana kejadiannya tidak ada data-data.  Selain dia, ada wanita lain bernama Tumete Liwun. Putri bekas Kepala Balak Sarongsong Mayoor Tamboto yang kemudian diperistri Hukum Kamasi Pangemanan Lontoh ini memakai nama Maria Lontoh.

Hambatan dari para pemimpin yang berfungsi ganda sebagai pendeta agama tradisional ini membuat pekabar injil (zendeling) Johan Adam Mattern yang diutus de Nederlaandsche Zendeling Genootschap (NZG atau Badan Pekabaran Injil atau Noskap dalam bahasa Tombulu) banyak menghadapi kesukaran dalam upaya mengkristenkan penduduk Tomohon.

Johan Adam Mattern lahir tahun 1807 di Spiers. Ia menerima pelatihan sebagai seorang zendeling tahun 1829-1832 dari J.W.Rückert di Institut Janicke di Berlin dan kemudian dilanjutkan di Rotterdam. Ia ditakdirkan untuk Minahasa dan tiba di Manado tahun 1835. Oleh Predikant Manado Ds.Gerrit Jan Hellendoorn, ia diserahi tugas pokok mengurus percetakan NZG untuk mencetak buku-buku sekolah termasuk buku pelajaran agama. Percetakan ini adalah yang pertama di Indonesia telah digunakan di Manado sejak tahun 1827. 

Bulan Juli 1838 Johan Adam Mattern ditugaskan dan tiba di Tomohon bersama percetakan yang ikut dipindahkannya. Kedatangan Mattern yang didampingi istrinya Jacoba Oudshoff menjadikan Tomohon pos pekabaran injil keempat di Minahasa sesudah Tondano dibawah Johann Friedrich Riedel, Langowan dibawah Johann Gotlieb Schwarz dan Amurang Carl Traugot Herrmann.

Tugas utamanya tetap mencetak buku. Dibantu istrinya, ia menerjemahkan buku-buku ke bahasa Melayu. Namun semangatnya sangat menyala-nyala untuk menseranikan penduduk Tomohon dan sekitarnya. Ia sangat rajin mengunjungi negeri-negeri di Tomohon, juga negeri-negeri di Balak Sarongsong dan Kakaskasen. Sayang, warganya di siang hari selalu ke kebun, sehingga ia hanya dapat bertemu dengan para penjaga negeri atau perempuan, lelaki tua dan anak-anak yang ditinggalkan di negeri. Kepercayaan dan banyak  takhyul sangat melekat dan berakar kuat dalam pandangan hidup mereka. 

Adam Mattern mengetahui belum akan dapat menggantikan kepercayaan dan takhyul demikian dalam waktu singkat. Medan pendidikan dipikirnya merupakan sarana yang ampuh untuk menggantikan dunia yang gelap menjadi terang. Saat kedatangannya, di Tomohon hanya ada dua sekolah pemerintah (gubernemen) yakni di Tinoor (masuk Balak Kakaskasen) dan Pangolombian (Balak Tomohon). Ia kemudian mendapatkan izin pimpinannya, dan dengan segera ia mendirikan sekolah-sekolah zending. Masa itu penduduk Tomohon memang sangat berminat pada pendidikan, tapi tidak tertarik mendengarkan injil. Sampai tugasnya berakhir, Mattern mengasuh 14 sekolah dengan 770 orang murid.

Untuk calon guru ia memilih 6 orang yang kelak menjadi 10 pemuda dididik di rumahnya sebagai murid piara. Pelatihan yang singkat ternyata menghasilkan beberapa murid yang unggul. Tiga orang diantara muridnya yang menjadi terkenal adalah  Alexander Wajong, anak Wajongkere, di­tunjuk sebagai guru di Sarongsong tahun 1840. Kemudian Samuel Elias berasal Pondang Tombasian sebagai guru di Kakaskasen tahun 1841 dan Corneles Wohon guru di Tomohon  juga tahun 1841.

Setelah hampir dua tahun bergiat mengabarkan injil, barulah di akhir tahun 1839 ia membaptis enam orang. Selama pelayanannya, Johan Adam Mattern hanya dapat membaptis 36 orang dewasa dan 11 anak-anak. Sebagian besar orang dewasa yang dibaptisnya pun berasal dari Tondano dan tempat lain, sehingga ketika penggantinya Nicolaas Philip Wilken datang hanya mendapati 5 atau 6 orang Kristen dewasa.

DITOLAK
Upaya Adam Mattern mendekati para kepala balak selalu menemui jalan buntu. Kepala Balak Tomohon Mayoor Mangangantung sangat bersiteguh dengan kepercayaan lama. Apalagi dikabarkan ia masih suka dan mempertahankan tradisi mengayau. Bahkan bekas rumah tinggalnya di Paslaten tetap berhiaskan tengkorak-tengkorak manusia seperti masih dilihat naturalis Inggris Alfred Russel Wallace di tahun 1859.

Barulah di masa berikut, Mangangantung melunak dengan mengizinkan Mattern untuk mengadakan kebaktian di rumahnya. Tapi, disyaratkan dan diatur bergiliran dengan perayaan-perayaan foso yang dipimpin para Walian.

Lukisan Tomohon tahun 1847, dari arah Talete. *)

Di Sarongsong, Mattern mendapat penolakan keras dari Kepala Balak Mayoor Waworuntu yang memiliki tiga istri. Di tahun 1839 ketika ia berkunjung ke rumah Waworuntu ia sempat diterima. Namun ketika dalam percakapan mereka, Mattern menyinggung tentang kesia-siaan dari upacara foso yang boros dan memiskinkan, Waworuntu marah sekali. Sekonyong-konyong Mayoor Waworuntu dengan amarah yang besar melompat yang dilihat Mattern persis singa yang mengaum.

Istri Adam Mattern, Jacoba Oudshoff meninggal bulan Oktober 1840. Pada tanggal 9 Juni 1841 di Ternate duda 3 anak ini menikah kembali dengan Johanna Eleonora Petronella Jungmichel (kelahiran Ternate 30 April 1826), anak Predikant Ternate Johann Christoph Jungmichel (1787-1844). 

Dalam bahasa Tombulu Mattern menciptakan sebuah katekismus yang dicetak tahun 1841, namun upayanya untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Tombulu tidak berhasil. Matternlah penginjil pertama yang menulis dalam dialek Tombulu. Ia kemudian dipindah pada bulan November, namun tanggal 2 Desember 1841 Johann Adam Mattern meninggal dunia di Manado setelah jatuh sakit. Istrinya Johanna Jungmichel menyusul meninggal 25 Juli 1843. Percetakan yang dipercayakan kepadanya kelak dipakai Zendeling Nicolaas Graafland menerbitkan koran ‘Tjahaja Sijang’ di Tanawangko. ***

              


                  Inilah buku terbitan Johan Adam Mattern di Tomohon

Tahun
Judul
Keterangan
1839
Sawatu tjeritera deri pada hhal dan pangkat perminta‘an do’a
32 bladz. 12°.
1840
Kitab Malajuw 'akan meng’ajar hêdja, pada 'anakh, jang baharuw memula’ij dengan pel’adjaran
Toumohon, 12°. 11 bladz. (tanpa nama penerbit)
1840
Kitab Malajuw jang kaduwa 'akan meng’adjar hêdja guna segala 'anakh, jang sudah bel’adjar sedïkit sadja.
Toumohon, 12°. 31 bladz. (tanpa nama penerbit)
1841
 Kitab midras, 'akan meng’adjar batja güna segala 'anakh, jang sudah bel’adjar sedikit sadja
Toumohon, 12°. 32 bladz. (tanpa nama penerbit)


SUMBER:
Adrianus Kojongian: ‘Tomohon Kotaku’ 2006.
Adrianus Kojongian: ‘Tomohon Dulu dan Kini’, naskah 2007.
Tijdschrift voor Zendingwetenschap, digitized by Google.