Rabu, 24 April 2013

Pertumbuhan Jemaat-Jemaat GMIM Tomohon (1)

                                         Oleh: Adrianus Kojongian



Profil wanita Kristen Minahasa akhir abad ke-19. *)

Ada yang menarik ketika jemaat-jemaat GMIM di Kota Tomohon baru bertumbuh. Bila jemaat-jemaat Talete, Kamasi, Kolongan, Paslaten dan Matani di pusat kota Tomohon secara otomatis beribadah di gereja besar (kini Sion), dengan pendeta yang menanti karena rumah tinggalnya hanya di dekat gedung gereja, jemaat-jemaat di pinggiran Tomohon justru selalu menanti jadwal kunjungan pendeta dengan seremoni dan aktivitas yang unik. Di negeri-negeri itu, penduduk yang bermatapencaharian sebagai petani sengaja berpakaian bersih untuk masuk gereja, dan tidak beraktivitas lain-lain lagi. Penduduk yang sehari-harinya tinggal di kebun (mahento) bilamana kebunnya jauh dari negeri, biasanya dari hari Senin sampai Sabtu mengolah kebun hanya berpakaian cidako dan wuyang, tapi sejak Sabtu pulang (mezu) agar dapat masuk gereja di hari Minggu.
Ketika Walian baru dibuka para pemukim Kamasi dan masih sebagai kawasan perkebunan, penduduknya masih pulang ke Kamasi untuk masuk gereja besar di Paslaten. Begitu juga dengan Kayawu dan Wailan ketika masih sebagai kawasan perkebunan Kakaskasen, mereka kembali ke Kakaskasen hari Sabtunya untuk masuk gereja (kini Pniel). Atau penduduk Pinaras, Lehendong, Tondangow bahkan Rambunan sebelum memiliki gereja, untuk beribadah di gereja Sarongsong (kini Syalom).
Suasana Tomohon awal tahun 1900-an. *)
Para guru jemaat (biasanya kepala sekolah Zending) dan majelis jemaat negeri yang biasanya diangkat dari para anggota sidi terbaik sangat berperan aktif. Bahkan para hukum tua pun ikut berandil. Hukum Tua di Kamasi (Christiaan Lontoh), Pangolombian (Bastiaan Pandelaki Lumowa), Pinaras (Jeheskiel Tulung), Lansot (Karel Frederik Waworuntu), Tumatangtang (Alexander Mandagi), Tondangow (Karel Zacharias Waworuntu), Tara-Tara (Barnabas Poluan Roring), Kayawu (Habel dan Hanoch Wongkar), Kakaskasen (Adrianus Kaunang) dan di banyak negeri lain, justru ‘mengharuskan’ penduduk mengikuti ibadah. Cara yang lazim dilakukan adalah mengumpul anggota jemaat dengan palakat yang dilakukan sejak hari Sabtu, lalu diulang sebelum kebaktian dengan tetengkoren, kemudian lonceng setelah gereja memilikinya. Pendetanya dijemput di pintu masuk negeri dengan tari dan nyanyian Maazani, diringi bunyi-bunyian tetengkoren.
Pelaksanaan pengucapan syukur di masa lalu, termasuk perayaan Natal dan Tahun Baru dilaksanakan secara sederhana. Pandita Nicolaas Philip Wilken dan Jan Louwerier di Tomohon, Pendeta Rudolf Bossert, Nicolaas Graafland, M.Henri Schippers, Jan ten Hove  dan Eduard W.G.Graafland di Tanawangko (membawahi Woloan dan Tara-Tara), serta Pendeta Johan Albert Fraugott Schwarz (yang kelak melayani Sarongsong, Pinaras, Lahendong, dan Tondangow), menekankan agar perayaannya dilakukan secara sederhana. Tidak meniru tradisi pada perayaan Foso dari agama tradisional yang boros dan memiskinkan seperti pernah dilawan Pandita Adam Mattern ketika baru bertugas di Tomohon.
Kuranga Talete awal 1900-an. *)
Di negeri-negeri Tomohon sampai dengan permulaan abad ke-20, pelaksanaan pengucapan syukur benar-benar dilakukan bernafas kegerejaan. Penduduk berpawai keliling negeri setelah ibadah pagi hingga malam. Keesokannya dimeriahkan dengan pembacaan tahlil seperti dilakukan pula di perayaan hari Natal dan Tahun Baru. Pelaksanaan demikian masih berlangsung di Pangolombian hingga tahun 1903.
Pemandangan lain di stad Tomohon. *)
Berikut saya turunkan sejarah pertumbuhan jemaat-jemaat GMIM di Kota Tomohon, disusun per bekas Resort dan Klasis serta wilayah pelayanan Zendeling (lalu Hulpprediker) Tomohon, Tanawangko (lalu Tara-Tara), serta Sonder, asal mulanya, tidak menurut Wilayahnya sekarang. Karena cukup panjang, tulisan dibagi dua bagian.
TALETE
Jemaat Talete diperkirakan telah tumbuh sejak akhir tahun 1840-an, apalagi rumah kediaman Pandita Nicolaas Philip Wilken berada di sini. Tokoh bernama Werwer (1800-1881) yang di tahun 1853 menjadi Hukum (Hoofd, lalu Hukum Kedua dan Hukum Besar Tomohon), disebut-sebut sebagai tokoh pertama yang dibaptis Kristen, diduga di tahun 1848 bersama istri (kedua) bernama Ringkitan memakai nama Elisabeth Pangemanan Lontoh serta dua anak tertua yang masih kecil bernama Petrus (kelahiran 1841, kelak Hukum Kedua) dan Herman Wenas (kelahiran 1843, kelak Hukum Besar). Dengan masuknya Kristen, penduduk berangsur-angsur memeluknya. 
Werwer kelak Lukas Wenas. *)
Majelis Jemaat (Kerkeraad) Talete dibentuk Pandita Wilken di tahun 1874 yang setahun kemudian menjadi Wijkgemeenten (jemaat negeri). Penggembalaan berikutnya dilakukan Pandita Jan Louwerier dengan dibantu para Penolong Injil lalu Inlands Leraar lulusan STOVIL.
Kendati demikian, jemaat Kristen Talete masih beribadah di Gereja Besar (Sion) di Paslaten. Bangunan Kanisah (tempat pengajaran) baru dibuat di Talete seusai Perang Dunia II di tahun 1946, meski versi lain telah dibangun di tahun 1929 menggunakan sisa bangunan Gereja Besar yang dibongkar untuk dibangun permanen. Kanisah sederhana itu direhab menjadi lebih besar di tahun 1951 dengan aksi pengumpulan dana melalui kegiatan pengucapan syukur hasil pertanian. Baru bulan Februari 1955 ditahbiskan gedung gereja permanen, dinamai ‘Bait Lahim’.
Para inlands leraar lalu pendeta yang memimpin Jemaat Talete adalah: Richard Polii (1937-1942), M.Rampengan (1942-1946), Manuel Lumowa Wangkai (1946), D.Kawulur (1947), M.Sinaulan (1948-1950), J.Sondakh dan E.Tulung (1950), N.S.Tirie (1951-1952), J.Runtukahu (1953-1954), Daniel Wajong (1954-1960), D.Kawulur (1960-1972). Kemudian Pdt.Daan Wenas (1972-1975), Pdt.J.A.Tampemawa (1975-1980), Pdt.M.Repi (1980-1983) dan Pdt.Ny.J.Doringin-Wuisang (1983-1989).
Gereja GMIM 'Kuranga' Talete II. *)
Di Talete pun dibuka Sekolah Rakyat (kelak SD GMIM II Tomohon) tanggal 1 Agustus 1948 dipimpin Sepang Tampi, lalu di tahun 1963 dimekarkan dengan pembukaan SD GMIM VII Tomohon (kini di Talete II). Dari Jemaat ‘Bait Lahim’ tahun 1992 kelak dimekarkan Jemaat ‘Kuranga’ di Talete II.
KAMASI
Di Kamasi, istri Hukum Pangemanan (Lontoh) bernama Tumete Liwun, putri Kepala Balak Sarongsong Mayoor Tamboto dengan Banon, diduga menjadi orang Kristen pertama di Kamasi dan Tomohon. Putri mereka bernama Ringkitan dibaptis bernama Elisabeth Pangemanan Lontoh, diperistri Hukum Talete Lukas Wenas. Protestan makin tumbuh di masa Hukum Tua Christiaan Lontoh (hidup 1841-22 Februari 1902), yang dikisahkan menjadi penganjur penduduk untuk masuk Kristen. Majelis Jemaat Kamasi dibentuk Pandita Wilken tahun 1874 yang di tahun 1875 menjadi Wijkgemeenten (Jemaat Negeri) Kamasi.
Paulus Mogot tercatat sebagai penatua pemimpin Jemaat Kamasi yang kemudian pindah ke Walian dan jadi pemimpin Jemaat Walian pertama. Selain dia, tokoh jemaat awal Kamasi yang ikut pindah ke Walian adalah Eduard Potu, berjabatan Marinu (Marinio), bertugas mengajak orang-orang agar setia mengunjungi gereja serta katekisasi. Karena tugas tersebut Potu sangat ditakuti anak-anak yang lalai masuk sekolah mau pun pemuda yang malas ikut katekisasi. Penolong Injil Wellem Mawuntu ikut berperan mengkristenkan penduduk Kamasi hingga meninggalnya bulan Mei 1886.
Perpustakaan lalu Kantor Wilayah di Kamasi. *)
Pelayanan di Jemaat Kamasi dilakukan juga oleh para Kepala Sekolah NZG di Kamasi (kini lokasi Akper 'Bethesda'), yakni: E.Lasut, K.Palar dan L.Undap. Di tahun 1929 mulai dibangun Kanisah menggunakan papan bekas dinding Gereja Besar Tomohon (kelak Sion). Jemaatnya dipimpin para penatua dengan pendeta pelayanan seperti di Talete, Kolongan, Paslaten dan Matani, adalah Ketua Resort  lalu Klasis (Hulpprediker) Tomohon dibantu para Inlands Leraar, seperti Inl.Le­ra­ar Elias Teng­ker, Petrus Ti­rie, Richard Po­lii dan B.S.Supit tahun 1937. Pemuda gereja Kamasi di­­dirikan ta­ng­gal 31 Agustus 1931 dengan  nama ‘Lofstem’. Kendati demikian hingga beberapa dekade, penduduk Ka­­masi masih beribadah hari Minggu di Gereja Besar di Pas­­laten. Sore harinya, di rumah-rumah anggota jemaat dilaksanakan ibadah Sa­­linan dalam bahasa Tombulu. Kemudian empat pendeta dari Klasis Tomohon yang bergan­­ti-ganti mela­ku­kan pelayanan di Je­maat Kamasi ada­lah: Pdt.F.Ch.Ta­ng­kere, Pdt.J.To­reh, Pdt.D.Kawulur di tahun 1960 ser­ta Pdt.N.S.Tirie di tahun 1950-an dan 1960-an. Oleh jemaat GMIM, di tahun 1954 di­­dirikan SD GMIM VI di Lewet dipimpin kepala sekolah Ni­­colaus Pojoh. Kemudian juga didirikan TK ‘Dorkas’.
Jemaat Kamasi baru ber­­diri sendiri tanggal 19 Oktober 1966 dengan nama ‘Bait-El’. Guru Jemaat Philep Kapoh bertugas sebagai Pemimpin Jemaat sejak 1960, lalu jadi Ketua BPMJ Bait-El pertama hingga 1980. Ia diganti Pdt.Ny.Beatrix Bernardine Be­­renike Pandeirot-Lengkong MTh, lalu Pdt.Hein Ari­na MTh. Berikutnya Pdt.Ny.Nietje Tuegeh-Pinaria STh, Pdt.Othniel Parera STh (2002-2007), Pdt.Handry M.Dengah STh dan Pdt.Jemmy P.Sinubu MTeol sejak 2010. Dari Jemaat Bait-El, dimekarkan Jemaat ‘Efrata’ tanggal 4 Januari 2009, dengan Ketua BPMJ pertama Pdt Ny.Jennie Masje Naharia-Waani STh.
PASLATEN
Di Paslaten, Hukum Wahani (kelak Hukum Kedua) jadi tokoh penganjur Kristen. Ia dibaptis memakai nama Nicolaas Wa­hani. Paslaten malah menjadi pusat aktivitas Pandita Nicolaas Wilken dan Jan Louwerier, dengan adanya Gereja Besar Tomohon dan Sekolah Penolong Injil lalu STOVIL. Umat Kristen Paslaten dilaporkan telah terbentuk sejak awal, se­­hingga di tahun 1874 Wilken membentuk Majelis Je­­maat (Kerkeraad) Paslaten pertama.
Setelah penduduk makin bertambah dan pemukiman meluas, di tahun 1935 Jemaat Paslaten membangun kanisah, meski tetap beribadah di gereja Sion. Guru STOVIL Paul Lodewijk Mandagi (1878-1951) menjadi pendeta pelayanan dari Klasis Tomohon sampai masa Jepang. Di tahun 1947 dibangun gereja pertama berlambang ayam yang diresmikan 1948. Gedung gereja sekarang dibangun dua tahun dan diresmikan 14 Oktober 1984
Gereja GMIM 'Maranatha'. *)
Jemaat Paslaten ditingkatkan menjadi jemaat dewasa tahun 1961 dengan nama ‘Maranatha’ dipimpin para penatua dengan pendeta pelayanan dari Klasis Tomohon. Baru di tahun 1978 BPMJ diketuai pendeta, diawali Pdt.F.J.Suma­kul (1978-1965). Kemudian berturut-turut: Pdt.Markus M.M.Lengkong MTh (1985-1986), Pdt.Nona Sintje M.Lantang (1986-1987) dan Pdt.Ny.M.F.Kondoy-Lapian (1988-1990). Kemudian Pdt.Ny.Th.R.Sompie-Liwe STh (1990-1995), Pdt.M.I.Sompie (1993-1999), Pdt.Ny.E.Lolowang-Pua STh (1999-2002), Pdt.Hanny M.Ma­ca­rau­ STh, Pdt.Ellen Kiling-Robot STh 2008 hingga meninggal awal 2011 serta Pdt.Daniel Sompe STh. 
Ka­rena pertumbuhan jemaat, Maranatha dimekarkan dengan pendirian Je­maat ‘Anu­ge­rah’ di Paslaten II tanggal 6 Januari 2008. Pnt.Drs.Andrikus Wuwung menjadi Ketua BPMJ ‘Anugerah’ pertama.
Gereja 'Sion' di Paslaten I. *)
Gedung gereja Sion yang monumental di Paslaten I, tempat diproklamasikannya Gereja Masehi Injili Minahasa 30 September 1934 yang sempat dua kali dikunjungi Presiden Soekarno di tahun 1954 dan 1957, masih berfungsi sebagai gereja utama Tomohon hingga akhir 1970-an. Namun, setelah pembangunan poliklinik rumah sakit  GMIM ‘Bethesda’ di bagian pekarangan depannya, peribadatan Jemaat Kategorial ‘Sion’ dipindahkan ke Auditorium Bukit Inspirasi di Kakaskasen III, sebelum kembali lagi ke tempat semula. Gerejanya yang telah kalah megah dan besar dari gereja-gereja mekarannya, sempat direncanakan dijadikan museum GMIM.
KOLONGAN
Jemaat Protes­tan Kolongan dila­por­kan telah ter­ben­tuk se­jak 1874, ke­tika Pandita Ni­co­laas Wilken mem­ben­tuk Ker­ke­ra­ad (majelis jema­at) Kolongan, ya­ng kemudian men­ja­di Wijkgemeenten (je­maat negeri) Ko­lo­ngan, setelah ge­­reja ditangani In­­dische Kerk. Tokoh awal Je­ma­at Protestan Ko­lo­ngan yang dikenal adalah Jo­na­than Tumurang, se­orang pensiunan kopral yang tahun 1923 diangkat men­jadi Penatua. 
Pemudi Kolongan tahun 1934 di Sion. *)
Perkembangan Je­­maat GMIM Kolo­ngan makin pesat, sehingga warganya berinisiatif membangun kanisah. Pada ibadah padang tanggal 30 Ap­­ril 1935 yang dipimpin In­­lands Leraar Eli­as Tengker di lokasi perkebunan Ranozui, berhasil terkumpul dana sebesar 36,54 gulden, dipakai mem­­ba­ngun kani­sah dari dinding bam­bu lantai ta­nah dan seng bekas. Kanisah tersebut diperbaiki ulang ta­hun 1939 de­ngan ra­ngka kayu. Meski de­mikian jemaat Kolongan masih te­­tap ber­ibadah ha­ri Mi­ng­gu di Ge­reja Be­sar Tomohon (Si­­­on) di Pasla­ten. Pokok kotbah pendeta nanti diulang dalam ibadah Sali­n­an ber­­ba­­hasa Tom­bu­lu di ru­mah-ru­mah ang­go­ta sore harinya.
Sejak tahun 1951 pelaksanaan ibadah Minggu Jemaat Pro­­­testan Kolongan mulai dilakukan di Kanisah. Kecuali pe­­layanan baptis­an dan sidi masih di Sion. Baru ta­hun 1966 Jemaat GMIM Kolongan ber­diri sendiri, dan di­­la­ku­­kan peleta­kan batu pertama pem­bangunan ge­du­ng gereja ta­­nggal 8 September 1968. Ge­rejanya yang di­na­makan ‘Elim’ ditahbiskan 8 No­vem­ber 1970.
Jemaat GMIM Ko­lo­­ngan membangun sekolah rakyat (kini SD GMIM VIII) ta­hun 1957 dari ro­ng­­sokan gedung be­kas Ver­volgschool Ku­­ranga yang di­sum­­bangkan Sinode GMIM. Se­kolahnya ber­diri diatas ta­nah ya­ng baru di­be­li jemaat ta­hun 1963. Kelak juga, Je­maat GMIM ‘Elim’ membangun Ta­­man Kanak-kanak  ta­hun 1973, ser­­­ta Wa­le Syalom di ta­hun 1994 dipakai un­tuk ber­bagai ha­ja­tan je­maat dan ma­­sya­rakat Kolo­ngan.
Gereja 'Elim' tahun 2005. *)
Pendeta pelayanan di Jemaat Kolongan adalah para Inlands Leraar tamatan STOVIL yang juga pendeta di Klasis Tomohon. Antaranya: Inl.Leraar Elias J.Te­ngker, Inl.Leraar Paul L.Mandagi, Inl.Leraar Petrus Tirie di tahun 1930-an. Berikutnya: Pdt.D.Kawulur, Pdt.Wenas. Ketua Jemaat Pnt.Simon Go­ni hingga tahun 1966 dengan pendeta pelayanan Rampengan, Wowor dan Na­lo S.Kamuh. Ketua Jemaat berikut Pnt.Lodewijk J.Mait (1966-1970), dengan pen­deta pelayanan William Langi MTh, dan Pdt.Junius L.Posumah STh; Ketua Je­maat Pnt.Johan Wondal (1971-1976), dengan Pendeta Wenas dan Pdt.Cornelius Si­mon Su­pit. Kemudian Ketua BPMJ ‘Elim’ dipegang para pendeta, dimulai Pdt.Dan Wenas, Pdt.Paul F.Th.Sondakh (1981), Pdt.Ny.Ge­­­isye Mariane Parengkuan-Bolompapueng (1965-1989), Pdt.Frank Sumerah STh (1995-2000). Kemudian Pdt.Ny.M.Mandagi-Gurusinga STh; Pdt.Hanny Palendeng STh, Pdt.Ny.E.K.Th.Sumakul-Kaunang STh, Pdt Dirk Wohon STh (2006-2011) dan Pdt.Julfi Kandowangko STh sejak Mei 2011.
MATANI
Di Matani, sejak pembaptisan Mayoor Ngantung Palar, ke­luarga dan saudaranya, penduduk otomatis ikut di­bap­tis. Kepala Sekolah NZG Tomohon di Kamasi K.Palar disebut sebagai salah seorang pemimpin jemaat Matani di tahun 1885. Penduduk Matani rata-rata telah menjadi Kristen, se­­hingga di tahun 1874 Pdt.Wilken membentuk Majelis Je­­maat (Kerkeraad) Matani. Setelah K.Palar, pemimpin je­ma­at lain adalah Gerrit J.Palar, Kepala Gouvernementschool Matani lalu Timomor (kini SD Negeri 2 Tomohon).
Pertigaan Matani (III) tahun 1900-an. *)
Ibadah ha­ri Minggu, pen­du­duk Matani melaksanakannya di Gereja Be­sar Protestan (ki­ni Sion) di Paslaten serta sebagian lagi di gereja Walian sejak 1914. Di masa Hukum Tua Wilhel­mus Ngan­tu­ng, ge­du­ng gereja (kelak di­namai ‘Bai­­tani’) di­bangun ta­hun 1935, menja­di gereja ketiga di To­mohon. Pendeta ya­ng me­laya­ni di Ma­tani selama pe­ng­­­gabungan Matani dengan Wa­lian dalam nama Timomor ada­lah Pe­trus Ti­rie, de­mi­ki­an ju­ga ketika Wa­lian di­pisah­kan. Ikut me­layani Je­maat Ma­­tani adalah Ds.H.Goni yang men­jabat sebagai Se­­­kretaris Badan Pekerja Sino­de GMIM. Di tahun 1950-1960 bertugas Pdt.J.Toreh lalu diganti Pnt.Petrus A.Rondonuwu (1966-1969), Pdt.Ny.Rondonuwu (1970-1971), Pdt.Joula Wuisang (1970-1971), Pdt.J.R.Pandeirot (1973-1974) dan Pdt.J.Toreh ulang (1974-1979). Berikut: Pdt.Ny.S.Lumopa-Pandeleke (1979-1984), Pdt.A.Lumopa STh (1984-1991), Pdt.Frank J.Sumerah STh (1992-1998) dan Pdt.Ny.S.Goni-Rau MTh (1999-2005). Lalu Pdt.D.Tandjaja-Lengkong STh (2005-2010), dan Pdt.Daniel Y.Polii STh sejak 2010.
Gereja 'Baitani' tahun 2005. *)
Dari Jemaat ‘Baitani’ di Matani III, kelak dimekarkan Jemaat ‘Eben Haezar’ di Kaaten Matani I serta Jemaat ‘Nazareth’ di Matani II tanggal 7 Januari 2000, dengan Ketua BPMJ pertama Pdt.Ny.Antouw-Tambariki STh.
WALIAN DAN ULUINDANO
Di Walian, warganya telah dibaptis Kristen di Kamasi. To­koh-tokoh jemaat awal adalah Paulus Mogot yang jadi pe­natua pertama dan Eduard Potu, sebagai Marinu yang ber­tugas mengajak penduduk beribadah dan belajar ka­te­kisasi. Lalu ada Kere Pangkerego (dibaptis Johanis), Elfianus Polii, Gerret Wangkay, Jacobus Su­pit, Israel Sumakul, Dirk Lumowa, Liander Sualang dan lain-lain. Walian ketika itu menjadi satu Jaga ja­uh yang diperintah langsung Hukum Tua Ka­masi.
Meski baru resmi berstatus negeri tahun 1897, Jemaat Walian pertama sudah terbentuk di tahun 1868, sehingga di tahun 1874 Pan­dita Nicolaas Philip Wilken telah membentuk Kerke­ra­ad (Majelis Jemaat) Walian pertama dibawah Penatua Paulus Mogot dan Syamas Supit Wondal. Tempat per­iba­da­tan pertama telah diba­ngun da­­lam bentuk se­­der­hana beratapkan katu dan lantai tanah sejak pem­ben­tukan jema­at, meski versi la­in ba­ru dibangun 1898. Kemudian dibangun gedung semi permanen, ditahbiskan Hulppredikker Opleider Ds.M.de Koning Mei 1914. Lalu gedung permanen, diarsiteki Insinyur Praktek Experius Wajong dari gambar Insinyur Praktek Jonathan Tular. Bangunannya ditahbiskan tanggal 30 Oktober 1935, sebagai gereja kedua di Tomohon setelah Gereja Besar (Sion).
Gereja 'Imanuel'. *)
Pendeta pelayanan yang bertugas di Walian antaranya Penolong Injil Jan Rapar. Kemudian Inlands Leraar Petrus Tirie tahun 1926 yang juga melayani Matani dalam nama negeri Timomor. Saat itu pun Hulppredikker Opleider Tomohon Ds.Gustav Ferdinand Schroder menjadikan gereja Walian tempat praktek pelajar tingkat lima STOVIL. Tempat praktek ini sampai tahun 1928, ketika Ds.A.Z.R.Wenas menjadikan seluruh jemaat di Tomohon sebagai tempat praktek siswa STOVIL.
Pendeta pelayanan kemudian Bernhard Alfonsus Supit yang juga guru STOVIL 1937, Pdt.Soleman Undap, Pdt.J.Toreh, Pdt.William Langi dan Pdt.Sepatonda tahun 1961 serta Pdt.Daniel Wajong hingga 1965. Lalu bertugas Pdt.N.S.Tirie, J.Toreh dan D.Kawulur. Di tahun 1951 masa Pdt Toreh, dipilih Majelis Jemaat dengan ketua Pnt.F.H.Lantang, lalu Pengantar Jemaat 1966-1968 Pnt.M.Pajow. Pendeta pelayanan adalah Pdt.Josef Manuel Saruan lalu Pdt.J.S.M.Wowor-Wajong.
Ketua BPMJ ‘Imanuel’ berikut adalah Pnt.Karel Lukas Siwi (1982-1989), Pnt.Abraham J.Undap (1990-1994) lalu Pdt.Gretty Novelin Paendong-Rawis (1995-2000). Berikut, Pdt.Novijanthi Mapaliey-Monde STh (2000), Pelaksana Pnt.Karel Siwi, Pdt.Fentje R.L.Mawu STh 2001-2005 dan Pdt.Elisa Buang Walone STh.
Uluindano, kelurahan pemekaran dari Walian tahun 1983, awalnya berstatus Desa Persiapan tahun 1984 lalu kelurahan 1996. Sejak awal, para pemukimnya telah mendirikan gereja yang lalu berkembang sebagai Jemaat GMIM ‘Yobel’ di lokasi Perumnas, serta Kanisah di lokasi KUD. Kanisah ini kemudian menjadi gereja GMIM ‘Kanaan’, dimekarkan dari Jemaat ‘Imanuel’ Walian tanggal 9 September 1984. Terakhir, dibentuk Jemaat GMIM ‘Bukit Zaitun’ di lokasi Perum Bumi Walian Baru masuk Kelurahan Walian II.
PANGOLOMBIAN
Pangolombian adalah negeri yang didirikan para pemukim berasal Kamasi tahun 1806 tapi baru diresmikan sebagai negeri tahun 1830 dengan hukum tua pertama bernama Lumowa. Oleh kegigihan pekerjaan Pandita Nicolaas Philip Wilken, ta­nggal 24 September 1858, Hukum Tua Lumowa berhasil di­baptis menjadi Kristen, dengan nama Bastian Pandelaki Lu­mowa. Ia dibaptis bersama-sama 53 ang­gota jemaat Kristen Pangolombian pertama. Bastian Lu­mowa adalah orang tertua berusia 80 tahun, dan termuda dibaptis adalah Manuel Mantiri berusia 19 tahun. Pembaptisan berlangsung di gereja yang di­di­rikan berkonstruksi kayu beratap rumbia (katu) di lo­kasi gedung gereja ‘Nafiri’ sekarang.
Sekolah Zending didirikan Wilken pula, dipimpin oleh Da­niel Wajong yang bertindak rangkap sebagai pemimpin je­maat awal. Sekolah Zending menggantikan Sekolah Gu­bernemen yang berdiri sebelumnya. Guru Daniel Wajong sa­ngat terkenal, memimpin Sekolah Zending serta Je­maat Pangolombian hingga beberapa dekade. Namanya masih dicatat di tahun 1868 dan juga 1896.
Pertumbuhan jemaat Kristen Pangolombian berlangsung pe­­sat, sehingga di bulan Oktober 1895 ditempatkan di Pa­­ngolombian Penolong Injil Salmon Undap, yang bertugas mem­bantu Pandita Jan Louwerier sampai tahun 1903. Para pendeta yang melakukan pelayanan baptisan, peneguhan dan pemberkatan nikah anggota jemaat Pangolombian hingga Perang Dunia II adalah Jan Louwerier (1877-1886). Lalu Pdt.Johan Albert.Schwarz dari Sonder melayani (1886-1904) dibantu Penolong Injil Habel Pondaag tahun 1890, dan Penolong Injil Salmon Undap 1895-1903. Berikutnya Pdt.Dr.Samuel Schock (1904-1908) dibantu Penolong Injil Jan Rapar, Pdt.M.Berkhoff (1908-1911), dan Pdt.Rimper (1911-1921). Di bulan Januari 1930 bertugas Pdt.Bertus Moendoeng dibantu Penolong Injil A.Kaligis. Kemudian Pdt.Wilken (1932-1933), Pdt.Richard Polii (1933) dan sejak tahun 1937 Pdt.A.Wowor hingga 1945 diganti Pdt.J.J.Rottie.
Bulan Januari 1922, gedung gereja Pangolombian di­­renovasi kons­truk­si kayu, din­di­ng bambu, lantai be­ton, atap seng de­ngan 4 tiang ­ka­yu membagi ru­a­ngan, sementara sekolah dibangun terpisah dari gereja tahun 1946. Jemaat kemudian membuka TK ‘Ora Et Labora’ tahun 1976, sedang gedung gereja terus mengalami renovasi 1976 dan tahun 2008.
RURUKAN
Kristen Protestan di Rurukan telah tumbuh ketika sejumlah keluarga dibaptis Pandita Nicolaas Philip Wilken di Tomohon di tahun 1848 serta kemudian di Rurukan. Ba­ngu­nan gereja yang juga berfungsi ganda sebagai sekolah telah ada di tahun 1852 dan dibangun ulang tahun 1902. Guru L.Lengkong menjadi kepala sekolah Zending serta pemimpin jemaat awal seperti dilihat naturalis Inggris Alfred Russel Wallace di tahun 1859. Namanya masih dicatat di tahun 1868. 
Berikutnya ada guru Benjamin Tular yang diambil menantu Hukum Kedua Ru­rukan Petrus Wenas. Lalu Gerrit L.Palar (ayah Babe Palar). Mereka pe­mimpin sekolah NZG serta Jemaat Rurukan hingga awal abad ke-20. Sejak tahun 1903 bertugas melayani Jemaat Rurukan (kelak Jemaat ‘Bukit Sion’) Penolong Injil Parengkuan,  Penolong Injil Rum­bayan asal Tonsea Lama, Inlands Leraar Pangau asal Rurukan, Inlands Leraar Ka­ramoy, Pendeta A.G..Apouw, Pendeta Jansen W.Apouw, Pdt.Nona Bonny Ngan­tung, Pdt.F.B.Sekeon, Pdt.Ny.Montolalu-Sasia STh, lalu Pdt.L.A.Londok-Mu­aja STh.
Gereja 'Bukit Sion' Rurukan. *)

Juga terkenal di masa Jepang Pendeta Manuel Lumowa Wangkay, melayani sampai Kumelembuai dan Suluan. Tiga orang pendeta putra Rurukan pertama yang diluluskan STOVIL Tomohon adalah Semuel Kaligis, Pogalin dan Wowiling.
KUMELEMBUAI
Sedangkan Kumelembuai yang dibuka pemukim dari Talete Tomohon bulan Agustus 1860, para pionirnya telah dibaptis di Tomohon. Kelaw memakai nama baru Hendrik Kapoh sebagai hukum tua. Lalu ada Lola dibaptis Cornelius Pangemanan (kelak mengganti Kapoh sebagai hukum tua) serta Lukas Posumah.
Berperan dalam pengkristenan di Ku­me­­lembuai adalah Hulp Zendeling Cornelis Wohon yang malah mengawinkan anak ga­­disnya bernama Marie Wohon dengan Albert Kapoh yang menjabat Hukum Tua Kumelembuai 1882-1908. Albert Kapoh kemudian membangun sebuah bangsal sebagai tempat sekolah dan mengusahakan gurunya.
Gereja 'Bukit Zaitun'. *)
Josephin (Josephus) Runtukahu yang ditempatkan sebagai kepala sekolah NZG di tahun 1883 jadi pula pemimpin jemaat awal Kumelembuai. Sekolah yang dipimpinnya di bulan Desember 1885 memiliki 39 siswa terdiri 20 siswa laki-laki dan 19 wanita. Berikutnya pemimpin jemaat Kumelembuai (kelak bernama Jemaat ‘Bukit Zaitun’) adalah: Frits Kaunang, Zaka de Royter Mokoagow yang juga kepala sekolah, Enny Esther Mokoagow, Frans B.Seroy, Pdt.Jansen Apouw STh dan Lodewyk Pangemanan. ***

Foto koleksi KITLV, Tropenmuseum, sejarah-gpi.org, Jootje Umboh/Didi Sigar.

SUMBER:
Adrianus Kojongian: ‘Tomohon Kotaku’ 2006.
Adrianus Kojongian: ‘Tomohon Dulu dan Kini’, naskah 2007