Senin, 11 Juni 2018

Bintauna, Dua Kerajaan Bersaudara (2)







 





Kerajaan Bintauna di Bolaang-Mongondow masih mengklaim Bintauna di Gorontalo sampai pertengahan abad ke-19 ketika dilarang resmi oleh Residen Manado Albert Jacques Frederic Jansen. Residen Jansen bulan September 1857 melakukan kunjungan ke Bintauna dari persinggahan Bolaang-Itang menggunakan kapal perang Z.M.stoomschip Phoenix, di bawah komandan Letnan klas satu pelaut F.R.Toewater.

Ketika meneken perjanjian di Bintauna dengan Residen Jansen 24 September 1857 yang memuat 21 artikel (pasal), Raja Elias Datunsolang dan mantrinya berjanji tidak ikut campur urusan Bintauna di bagian Gorontalo, sebab berada dalam otoritas Raja Bone (ayat 2 artikel 4).

Yurisdiksi raja hanya terbatas pada populasi Bintauna semata (artikel 6). Penduduk pun dilarang sembarang pindah ke kerajaan tetangga, sebaliknya warga lain dilarang di Bintauna (ayat 1 artikel 13), sehingga mesti diekstradisi, termasuk Bintauna dari Gorontalo (ayat 2 artikel 13).

Perjanjian yang disahkan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda C.F.Pahud 22 Februari 1858 itu diteken pula para mantri Bintauna. Jogugu adalah K.Sjeman Kolomkomol (sesuai tulisan), Kapitein Laut Adrian Datoensolang, Kapitein Laut Kornelis Datoensolang, Marsaole Albertus Tinunbaija, Marsaole Sadrak Nakora, Walaapulu Simon Binolombanjan, Majoor Paulus dan Majoor Lodewijk Sampongan.

Kerajaan Bintauna dalam artikel 1 perjanjian tersebut, ditegas sebagai ‘milik’ Belanda. Raja Belanda dan pemerintah Hindia-Belanda diakui menjadi kepala dan tuan (opper-en leenheer). Pemerintah Hindia-Belanda pun, berhak memberhentikan serta menunjuk pengganti raja setelah berkonsultasi dengan para mantri. Sedangkan Jogugu dan Kapitein Laut diangkat dan diberhentikan oleh Residen Manado setelah konsultasi dengan raja dan para mantri (artikel 6).

Raja Elias Datunsolang sendiri mulai bertahta di Bintauna sejak tanggal 5 September 1855. Menurut Almanak resmi Hindia-Belanda, ia menggantikan Raja A.S.Datunsolang.

Penduduk Bintauna sejak kontrak 1857 mesti membayar pajak rumah tangga yang disebut hacil (hasil, uang kepala) untuk penggantian pasokan emas. Nilainya adalah 5 gulden tiap rumah tangga. Pajak mana dapat dibayar tunai, atau diganti emas atau produksi lain seperti tripang, penyu sisik, kapas dan koffo.

Insentif untuk raja dan mantri, adalah sepersepuluh dari total pajak Bintauna sebesar 250 gulden (dengan hitungan penduduk Bintauna sebanyak 50 rumah tangga). Bagian sepersepuluh itu pun mesti dibagi pula. Untuk raja --yang berkewajiban harus secara pribadi membawa hacil atau barang penggantinya ke Manado (dua kali setahun, di bulan Juni dan Desember)-- memperoleh 5/25 dari sepersepuluhnya. Sedang mantrinya, yakni jogugu 3/25, kapitein laut 6/25, marsaole 6/25 serta walaapulu 8/25.

Raja dan mantri Bintauna masih dibebani untuk tetap membayar hutang pasokan emas Bintauna sejumlah 1.056 real emas, karena pengiriman terlambat, di bawah kontrak 18 November 1829.

BUNTUT PEMBAJAKAN
Peristiwa pembajakan yang terjadi bulan Februari 1864 telah menyebabkan pemberhentian Raja Elias Datunsolang.

Raja Elias Datunsolang bersama Raja Kaidipang Mohamad Nurdin Korompot yang bergelar Prins van Diets Korompot dituduh kolonial Belanda telah mengetahui insiden tersebut. Mereka dianggap lalai melakukan kewajiban di bawah kontrak 1857. Terutama, artikel 9, yang mewajibkan raja untuk membantu memerangi serta tidak mentolerir pembajakan.

Kebetulan, tokoh yang dituding Belanda sebagai otak pembajakan, yakni Pangeran Matoko asal Bone, berdomisili di Bintauna. Untuk mengatasi peristiwa itu, Belanda sampai mengirim kapal perang Zr.Ms.stoomschip Haarlemmermeer (baca: Tiga Raja Bolaang dan Bajak Laut).

Tapi, berbeda dengan Raja Kaidipang Prins Diets van Korompot yang diasingkan ke Ambon, Raja Elias Datunsolang tidak sampai dihukum buang oleh Belanda, karena pertimbangan usia yang sudah tua. Raja Elias sekedar diberhentikan dari martabat raja pada bulan Juni 1865, setelah hampir sepuluh tahun berkuasa.

Untuk penggantinya, sempat timbul pertikaian, sehingga mesti ditengahi Residen Manado. Para mantri Bintauna yakni jogugu, kapitein laut, marsaole dan hukum yang membentuk majelis kerajaan, kemudian memilih Salmon Datunsolang, anak raja almarhum sebelumnya.

Salmon Datunsolang resmi diangkat raja 29 Juni 1865. Tapi baru dilantik di Manado tanggal 15 September 1866 oleh Residen Manado Frederik Justus Herbert van Deinse. Ketika meneken acte van bevestiging dan verklaring, Raja Salmon Datunsolang hanya bertanda kruis pada namanya. Pengukuhannya sebagai raja turun dengan beslit Gubernur Jenderal Hindia-Belanda P.Mijer 20 April 1868.



Janji dan sumpah Raja Salmon. *)

Koloniaal Verslag 1887 menyebut Raja Bintauna Salmon Datunsolang mengundurkan diri tahun 1886. Putranya Israel Datunsolang baru mulai bertahta 1887.

Terakhir nama Raja Salmon Datunsolang dicatat Almanak resmi pemerintah Hindia-Belanda 1887, sementara Raja Israel Datunsolang mulai diterakan sejak 1888.

Kendati demikian, hingga akhir kekuasaannya, Raja Israel Datunsolang tidak pernah dicatatkan resmi tanggal pelantikan. Termasuk kapan beslit pengukuhan dari Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, seperti lazim terjadi.

Tradisi baku kerajaan-kerajaan di Keresidenan Manado ketika itu, raja dipilih oleh Majelis Kerajaan (rijksraad) yang beranggotakan para mantri (rijksgrooten), menerima pengangkatan dari Residen Manado, sambil mengambil sumpah setia kepada pemerintah Belanda. Dan, paling pokok, memperoleh pengukuhan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda.

Sejak pertengahan abad ke-19, tanggal dari beslit pengukuhan Gubernur Jenderal, dianggap ‘resmi’ Belanda sebagai hari ketika seorang raja mulai memerintah.

MOHAMMAD DATUNSOLANG
Tanggal 28 November 1894 Raja Israel Datunsolang meninggal dunia. Pemerintahan Bintauna untuk sementara dijalankan pemangku jabatan raja, yakni Mohammad Toradju Datunsolang, dengan gelaran President Raja.

Mohammad Toradju Datunsolang baru dilantik di Manado sebagai Raja Bintauna oleh Residen Manado Eeltje Jelles Jellesma pada 22 Juli 1895.

Ia meneken acte van verband, sekaligus bersama mantrinya kontrak panjang (lange contract) sebanyak 34 artikel. Titel yang disematkan adalah Paduka Raja. Secara resmi, pengukuhan dari Gubernur Jenderal Hindia-Belanda C.H.A.van der Wijck bertanggal 13 Oktober 1895.

Raja dan mantri tetap memperoleh pendapatan dari persentase pajak (hacil atau uang kepala) yang dibayar penduduk, yakni tiga gulden tiap tahunnya kepada pemerintah kolonial (turun dari 5 gulden sebelumnya). Total pajak dari penduduk Bintauna adalah 300 gulden, dengan hitungan dari Kampung Baludaa 84 gulden, Bahuta 83 gulden, Paude 83 gulden dan Doloduo 50 gulden.

Besaran persentase dari hacil yang diperoleh raja dan mantri adalah sepersepuluhnya. Untuk Raja Mohammad Datunsolang 7/20, lalu mantri (saat naik tahtanya 1895), yakni jogugu 4/20, president raja 3/20 dan kapitein laut 6/20. Raja dan mantri masih menerima insentif sepersepuluh bagian dari pajak hasil perdagangan untuk ekspor, yang kemudian diambilalih kolonial Belanda pula.  

Raja Mohammad Toradju Datunsolang masih meneken perjanjian tambahan dengan Residen Jellesma 25 Juli 1897, 9 September 1897, 26 Maret 1901, dan 21 Februari 1907 tentang batas kerajaan.

Kalau sebelumnya raja dibantu para mantri seperti jogugu, president raja, dan kapitein laut, sejak awal tahun 1930-an, Raja Mohammad Datunsolang boleh dikata berkuasa mutlak, karena tinggal dibantu oleh seorang schrijver (penulis).

Raja kemudian memperoleh gaji. Di tahun 1930-an besarnya adalah 150 gulden per bulan, dengan potongan 17 persen, tapi, menerima tunjangan berupa uang saku untuk ongkos perjalanan dan akomodasi yang berasal dari kas onderafdeeling. Kepala kampung, Sangadi tidak dibayar, hanya menerima upah dari persentase hasil (pajak rumah tangga), serta bantuan pengerjaan kebun dan rumah dari penduduk.

Anggaran Landschap Bintauna memang kecil. Di tahun 1940 anggarannya dilaporkan hanya cukup untuk membayar gaji raja dan sekretarisnya.

Dalam memerintah. Raja Mohammad Toradju Datunsolang dipuji surat kabar Hindia-Belanda sangat berwibawa, dihormati masyarakat dan dikenal sangat taat serta adil mengemudikan kerajaannya. Apalagi sejak tidak ada para mantri, ia mengontrol sendiri segala urusan pemerintahan.

Ia dipujikan Residen Manado Anton Philip van Aken karena perannya dalam pemberantasan penyakit malaria yang mewabah di Bintauna ketika itu. Juga dipuji terbuka oleh penggantinya Dr Frans Herman Visman. Kemudian pula oleh Residen M.van Rhijn.

Raja pun dianggap sangat toleran. Meski mayoritas penduduk Bintauna Islam, tapi di Kampung Huntuk penduduk beragama Kristen, setelah sebelumnya masih kafir.

Harian Het Nieuws van den Dag 1933 mencatat Raja Mohammad Datunsolang awalnya menginginkan semua penduduk Huntuk masuk Islam. Tapi, penduduk Huntuk keberatan, karena makanan biasa bagi mereka, justru adalah yang dihalalkan Islam. Karena tidak dapat merobah pola makan demikian, mereka meminta izin Raja untuk tetap mengkonsumsinya. Atas dasar ini, penduduk Huntuk dinyatakan tidak lulus Islam. Mereka kemudian diseranikan oleh seorang Zendeling.

Di tahun 1933 itu, Bintauna dihubungkan ’jalan’ sejauh 40 Km di sepanjang pantai dari Boroko, tempat kedudukan Raja Kaidipang Besar. Namun jalan tersebut hanya dapat dilewati kendaraan di musim kemarau, apalagi satu-satunya mobil yang ada saat itu hanya milik Raja Kaidipang Besar Ram Soeit Ponto.

Ketika musim hujan, kuda yang melewatinya di beberapa tempat akan sulit melalui lumpur yang dalam. Padahal, setiap tahun ratusan penduduk memperbaikinya lewat kerja Herendienst.

Raja Mohammad Datunsolang menerima penghargaan bintang dari pemerintah kolonial Belanda untuk pengabdiannya, sehingga beroleh julukan Raja Bintang. Pertama, penghargaan bintang emas kecil (Kleine Gouden ster) van verdienste diterimanya Agustus 1933. Kemudian, pada perayaan 45 tahun berdinasnya sebagai raja yang dirayakan besar-besaran di Bintauna tanggal 22 Juli 1940, dengan beslit 13 Juli 1940, ia menerima penghargaan bintang emas besar (Groote Gouden ster) voor trouw en verdienste.

Raja Mohammad Toradju Datunsolang kelahiran tahun 1873 mencatatkan diri sebagai raja paling lama memangku jabatannya di Indonesia. Rekor memerintahnya hampir genap 54 tahun.

Sejak tahun 1940 ia berkeinginan mundur, tapi baru terwujud 1 Juli 1948. Penggantinya adalah putra sulungnya yang berpendidikan barat. Ia baru meninggal di Bintauna Februari 1950. Kerajaan Bintauna sendiri berakhir 11 Juni 1950.

KECIL DAN SEDIKIT
Bintauna memang kecil. Panjang kerajaan di pantai utara Sulawesi ini, dilukis Het Nieuws van den Dag tahun 1933, hanya sejauh sepuluh kilometer di sepanjang pantai dan lebih dari dua puluh kilometer pedalamannya.

Ketika Raja Salmon Datunsolang dilantik 15 September 1866, Bintauna dinyatakan berbatas di timur dengan kerajaan Bolaang Uki. Di barat dengan Bolaang-Itang. Selatan dengan Asisten Residensi Gorontalo, dan utara dengan Laut (Sulawesi). Sementara saat pentahtahan Paduka Raja Mohammad Datunsolang 22 Juli 1895 dijelaskan batas di bagian utara dan timur menjadi kerajaan Bolaang-Mongondow.

Batas-batas Landschap Bintauna lebih ditegaskan pada tambahan kontrak 21 Februari 1907 antara Raja Mohammad Datunsolang dan Kontrolir Bolaang-Mongondow Abraham Coomans. Utara dengan Laut Sulawesi. Timur di Sungai Biau ke Sungai Sangkub dan alirannya di muara Laut Sulawesi (batas dengan Landschap Bolaang-Mongondow). Selatan daerah aliran sungai berbatas Bolaang Uki. Kemudian di barat dengan Sungai Biontong atau Sungai Bunong ke Laut Sulawesi (Bunong-diti, batas Landschap Kaidipang Besar).

Tahun 1840 digambarkan ibukota Bintauna berada sepuluh jam dari Bangka (Uki), dan enam jam dari pantai, berada di antara Sungai Biau dan Gambuta.

Seluruh kerajaan kecil ini, tahun 1868 hanya terdiri tiga negeri. Ketiga negeri adalah Bintauna, Baludawa (Baludaa) dan Doloduo.

Ibukotanya, negeri Bintauna, di tahun 1869, telah berada di pantai utara, di 123°37' Bujur Timur, di tepi sungai senama. Bintauna, adalah tempat kedudukan raja. Meski raja sering tinggal di tempat lain, termasuk di daerah Bolaang-Mongondow.

Tahun 1895 pada kontrak pelantikan Raja Mohammad Datunsolang, Bintauna dinyatakan memiliki 4 kampung. Ibukota Bintauna terbagi atas tiga kampung, yakni Baludaa, Bahuta dan Paude, semuanya terletak di tepi sungai Sangkub. Lebih di luar masih ada Kampung Doloduo, dekat dengan hulu sungai Dumoga, berbatas anak sungai Owei dengan Kampung Dumoga milik Bolaang-Mongondow.

Tahun 1852 penduduk Bintauna dicatat 880 jiwa, ketika penggalian emas masih jadi sandaran utama penghidupan. Kemudian turun tinggal 500 atau 600 jiwa. Tahun 1857, 50 rumah tangga. Tahun 1862, 703 jiwa. Tahun 1866 ketika dikunjungi Wilken dan Schwarz 100 kepala keluarga. Begitu pun dilaporkan tahun 1895 hanya 100 rumah tangga.

Di tahun 1916 Bintauna berpenduduk sebanyak 2.427 orang, terdiri Islam 2.270 dan kafir 150 orang. Tahun 1932 berjumlah 2.278 jiwa, yakni 4 orang Eropa dan yang sederajat, 2.172 pribumi, 18 Cina dan 84 orang timur asing. Kemudian tahun 1940 penduduk sekitar 2.000 jiwa.

Mata pencaharian utama di tahun 1868 masih menggali emas. Kemudian sumber utama adalah dari melaut dan bertani. Bintauna di tahun 1895 banyak menghasilkan bahan ekspor seperti damar, kopra, beras, rotan, bangkudu, sagu, coklat, kulit kerbau, dan tripang. ***

                  
                                   *).Dari Staten Generaal Digitaal.



Raja Bintauna
(versi Riedel)
di Bintauna, Gorontalo.


Tendeno, Ratu, awal 1700-an.
Bauda.
Talu-e-daa.
Talu-e-kiki.

 

Raja Bintauna
(dari berbagai data, sampai terbagi dua)


Kitjili Tolucci, Raja, sejak 2 April 1735-1755.
Putri Manilha, Ratu, 21 Oktober 1755-1777.
Salmon Datunsolang, Jogugu lalu Regent  Bintauna (utara) sejak 1755/5/ Agustus 1769-1776.
Adriaan Salmon Datunsolang, Regent sejak 8 November 1776.



Raja Bintauna
(Di Gorontalo, dari berbagai data, setelah terbagi dua)


Iskander Monoarfa, dari Gorontalo, 1757-1777, suami Putri Manilha.
Muhammad Zain Buingi (Bohinga), sejak 10 April 1777.
Walango dari Gorontalo, Raja Suwawa, sebagai Raja Suwawa dan Bintauna.
Pulumodoing, Raja Suwawa, sebagai Raja Suwawa dan Bintauna; lalu Raja Bone, Bintauna dan Suwawa.
Humungo, Raja Bone,Bintauna dan Suwawa, hingga 1839.
Wartabone (Sapjatidien Iskander Muhammad Warotabone), Raja Bone, Bintauna dan Suwawa, 1839-1856.
Rohobanie, Raja Bone, Bintauna dan Suwawa, 26 Desember 1856-1859.
Abdul Latief Muhammad Tengaho, Raja Bone, Bintauna dan Suwawa 21 Mei 1859, lalu tinggal Raja Bone 1864 hingga 1870.



Raja Bintauna
(sejak tahun 1850-an)
di Bintauna, Bolaang Mongondow.


Adriaan Salomon Datunsolang, Raja, hingga 1855.
Elias Datunsolang, Raja 5 September 1855-Juni 1865.
Salmon Datunsolang,
-President Raja 29 Juni 1865-15 September 1866.
-Raja 15 September 1866-1886.
Israel Datunsolang, Raja 1887-28 November 1894.
Mohammad Toradju Datunsolang,
-President Raja 28 November 1894-22 Juli 1895.
-Raja 22 Juli 1895-1 Juli 1948.
Jan Abdul Rasjid Datunsolang, Raja Muda 1948-1950.
         




LITERATUR
Almanak van Nederlandsch-Indie, 1853,1855,1858,1859,1861,1863,1867,1871,1872.1873,1879,1884,1890,1898,1903,1904,1907,1912. Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin dan Google Boeken.
Bastiaans, J. Batato’s in het oude Gorontalo, in verband met den Gorontaleeschen staatsbouw. Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel LXXIX,1939.
Coolhaas, Dr.W.Ph. Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel IX 1729-1737, dan deel XII 1756-1761. resources.huygens.knaw.nl.
Delpher Kranten, Het Nieuws van den dag 29 Juni 1933; Soerabaijasch-handelsbald 16 Agustus 1940.
Haga, Dr.B.J., De Lima-pahalaa (Gorontalo) volksordening, adatrecht en bestuuurspolitiek, Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel LXXI,1931.
Heeres, Mr.J.E., Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, tweede deel (1650-1675), Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 87, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage, 1931.
Hollander, Dr.J.J., --Aardrijksbeschrijving van Nederlandsch Oost-Indie, Amsterdam (1868).
--Handleiding bij de Beoefening der Land- en Volkenkunde van Nederlandsch Oost-Indie, tweede deel, 1869.
Riedel, J.G.F.. --De Landschappen Holontalo, Limoeto, Bone, Boalemo en Kattinggola, of Andagile. Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-,en Volkenkunde, deel XIX, 1870.
           --De Volksoverleveringen betreffende de voormalige gedaante van Noord-Selebes en den oorsprong zijner bewoners. Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, derde serie 5de jaargang, 1871.
--Het Oppergezag der Vorsten van Bolaang over de Minahasa (Bijdrage tot de Kennis der oude Geschiedenis Noord-Selebes). Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel XVII, 1869.
Rosenberg, C.B.H.von, Reistogten in de Afdeeling Gorontalo, Amsterdam 1865.
Stapel, Dr.F.W., Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, vijfde deel (1726-1752), Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 96, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage (1938).
Staten Generaal Digitaal, Overeenkomsten met Islandsche Vorsten in den Oost-Indischen Archipel, dan Koloniaal Verslag.
Statistieke aanteekeningen over de Residentie Menado, Tijdschrift voor Neerland’s Indie, 1840.
Stibbe, D.G. dan Mr.Dr.F.J.W.H.Sandbergen, Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, achtste deel, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff. 1939.
Valentyn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, Dordrecht-Amsterdam, 1724.
Van der Chijs, Mr.J.A. Inventaris van ‘s Lands Archief te Batavia (1602-1816),  Batavia,1882, Koleksi ANRI. 
Wilken, N.P.dan J.A.Schwarz, Verhaal eener reis naar Bolaang-Mongondow. Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap, elfde jaargang, 1867.


                                         

Minggu, 03 Juni 2018

Bintauna, Dua Kerajaan Bersaudara




                                                 



                        


 
Rumah di Bone --dimana Bintauna Gorontalo bergabung-- tahun 1860-an.*)





Bintauna, sebuah nama yang masih lestari pada salah satu dari enam kecamatan yang berada di Kabupaten Bolaang-Mongondow Utara, pernah terkenal sebagai satu kerajaan. Meski digolongkan mini dibanding lima kerajaan lain yang pernah ada di wilayah Bolaang-Mongondow, namun  --seperti Bolaang Uki-- mempunyai keunikan tersendiri. Punya timpalan di wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Gorontalo. Sama-sama menyandang nama Bintauna.

Kedua kerajaan memang bersaudara dan berkerabat dekat. Leluhur mereka, yakni penduduk asli Bintauna, menurut Encyclopaedie Nederlandsch-Indie 1939, berasal dari Bwool, seperti hal orang Kaidipang.

Kenapa satu Bintauna, menjadi dua kerajaan (Landschap), dijelaskan dalam memorandum pelantikan Raja Salmon Datunsolang di Manado 15 September 1866.

Penduduk Bintauna telah ada di abad sebelumnya. Terbagi penduduk yang telah menganut agama Islam dan bagian lain yang masih kafir. Yang pertama tinggal di wilayah yang sekarang masuk Gorontalo, sedangkan yang terakhir hidup di sepanjang pantai utara.

Semua orang Bintauna, baik yang Islam mau pun kafir mematuhi satu Raja Bintauna yang berkedudukan di Gorontalo.

Namun, ketika agama Kristen (Protestan) mulai mendapatkan tempat di kalangan penduduk, hal ini melahirkan masalah. Penduduk Bintauna yang masih kafir memeluk agama Kristen. Sedangkan populasi Muslim tetap agamanya dengan Raja Islam yang berkuasa.

Akibatnya timbul perbedaan paham. Orang Kristen Bintauna menolak berada di bawah perintah penguasa Islam. Mereka ingin berada di bawah perintah penguasa Kristen.

Maka, terjadi perpisahan. Terbentuk dua Bintauna yang berdiri sendiri. Bintauna Utara dikhususkan untuk penduduk Kristen. Sedangkan yang Islam berkedudukan di Bintauna Selatan.

Tapi kemudian, ditambahkan penjelasan nota pelantikan Raja Salmon Datunsolang itu, populasi Bintauna Utara, mungkin, karena pengaruh Bugis, berpindah memeluk agama Islam.

Hubungan antara Bintauna Utara dan Selatan dapat dipulihkan, meski pemisahan keduanya tetap terjadi. Bintauna Selatan menjadi bersatu dengan Landschap Bone dan Suwawa, dan terakhir menjadi bagian dari kerajaan Bone dalam Afdeeling Gorontalo.

SURAT MOSSEL
J.Bastiaans dalam Batato’s in het oude Gorontalo mengungkap, pada abad ke-18, Bintauna berpenduduk Islam dan Kristen.

Perpisahan kedua Bintauna, terjadi ketika orang Kristen Bintauna yang bermukim di pantai utara mendirikan pemerintahan sendiri di bawah seorang regent. Kejadiannya terjadi tahun 1755.

Perhubungan dan ‘pengakuan’ dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Kompeni Belanda) terhadap keberadaan Bintauna Utara, ditandai dengan penandatanganan kontrak politik terpisah tanggal 5 Agustus 1769 antara Kristen Bintauna di bawah pimpinan Regent dengan Residen Manado Seidilman (Johan Libregt Seidelman atau Seydelman, 1763-1770). Kemudian nanti penduduk Kristen telah berpindah ke agama Islam.

Peristiwa di dekade tersebut diperkuat oleh surat resmi Gubernur Jenderal Kompeni Belanda Jacob Mossel 31 Desember 1759. Ia menulis adanya permintaan Putri Manilha asal Boni (Bone, Landschap yang berada di Gorontalo), agar kerajaan kecil itu untuk anak kakaknya Pangeran Abouli. Sementara, menurut Mossel, sebagian besar penduduk Bintauna menjadi Kristen. Mereka justru meminta seorang Kristen untuk menggantikannya. 

Kemudian dalam surat resmi 31 Desember 1760, Mossel mencatat pengaduan para mantri (rijksgrooten) Bintauna atas pemerintahan Ratu Putri Manilha. Juga permintaan untuk mengangkat Jogugu Salmon Datunsolang (ditulis Salomon Datonsola), seorang Kristen sebagai Regent pengganti.

Namun, tidak diketahui kapan dan siapa pendeta yang mengkristenkan Salmon Datunsolang serta penduduk Bintauna (utara) ketika itu. Tapi diperkirakan, agama Kristen (Protestan) berkembang di Bintauna Utara, baru pada dekade kedua atau ketiga abad ke-18. Kemungkinan besar karena pengaruh penduduk Kristen, yang telah lebih dulu berkembang di Bolaang-Itang, Bolaang- Mongondow dan Kaidipang; serta dari kerajaan Atinggola di Gorontalo.

Raport para Predikant Belanda di Ternate yang rutin melakukan kunjungan di Sulawesi Utara menguatkan dugaan ini. Predikant Abraham Feilingius tahun 1701 dan Ds.Arnoldus Brands 1705 mencatat di Bolaang (Mongondow) terdapat 153 orang Kristen. Bolaang-Itang 472 Kristen. Bwool 1.618 Kristen. Lewaas dan Attingola 300 Kristen, serta Dauw di Kaidipang 486 Kristen.

Pendeta Brands bahkan membangun sebuah sekolah Kristen di Bolaang tahun 1705. Sekolah tersebut tetap bertahan hingga tahun 1831. Terakhir di bawah pimpinan guru Jacobus Bastiaan.

Sementara di Atinggola terdapat sekolah lain yang tahun 1739 dipimpin oleh guru Bastian Lokkoo, dengan rajanya saat itu Adriaan Patalima (Patilima), juga Kristen. Begitu pun dengan Kaidipang dan Bolaang-Itang, dimana raja dan regent awal masih Kristen Protestan (baca: Mengenal (Beberapa) RajaKaidipang, dan Mengenal Sedikit Raja-Raja Bolaang-Itang).

Regent Salmon Datunsolang lah yang pada 5 Agustus 1769 meneken verbond (perjanjian) dengan Kompeni Belanda diwakili Residen Manado Seidelman. Tandingannya, Raja Bintauna di Gorontalo baru tanggal 4 November 1769 meneken konvensi dengan Kompeni Belanda untuk penyediaan debu emas, bersama-sama Raja Atinggola, Bolango dan Bone.

Kontrak berikut yang diteken atas nama Regent Bintauna (di Bolmong) berlangsung 8 November 1776. Raja Bintauna (di Gorontalo) bersama Raja Atinggola, Bolango dan Bone mendahului pada 5 Agustus 1776 meneken renovasi dan ampliasi dari konvensi 1769. Regent Bintauna (utara) masih meneken verbond 10 April 1777 pula.

Setelah Bintauna (utara) dipimpin oleh anak Salomon Datunsolang, Adriaan Salomon Datunsolang, perjanjian dengan Kompeni Belanda diteken dengan nama Regent Bintauna 24 Juli 1795 berupa acte van assopiatie dengan Raja Bolaang-Mongondow.

Sementara dengan pemerintah Hindia-Belanda (pengganti Kompeni Belanda), Adriaan Salomon Datunsolang sebagai Regent Bintauna meneken kontrak 18 November 1829 untuk pemasukan emas, sebanyak 50 oncen per tahun.

Adriaan Salomon Datunsolang diangkat menjadi Regent Bintauna mengganti ayahnya yang mengundurkan diri karena usia tua. Ia dilantik regent di Kastil Orange Ternate 8 November 1776 oleh Gubernur Maluku Paulus Jacob Valckenaer

TENDENO DAN TOLUCCI
Menurut Dr.J.G.F.Riedel, Tendenolah yang menjadi raja pertama dari kerajaan Bintauna, di masa kerajaan Suwawa diperintah oleh Olongia (Raja) Bumbulo.

Masa Tendeno dan Bumbulo diperkirakan awal abad ke-18. Sementara menurut taksiran satu sumber lain, Tendeno baru menjadi Raja Bintauna, sekitar tahun 1730, sehingga agak mustahil karena hampir sejaman dengan Kitjili Tolucci yang diangkat Kompeni Belanda sebagai Raja Bintauna 1735.

Riedel menjelaskan Tendeno adalah Raja Putri (Ratu) Bintauna, anak Tumungku. Bersama dengan pengikutnya, Tendeno datang ke kerajaan Suwawa untuk mengunjungi kakaknya bernama Gulabu yang telah meninggalkan Bintauna untuk waktu yang lama.

Tendeno meminta kepada Raja Bumbulo agar diizinkan untuk menetap di tempat itu. Karena ia tidak ingin kembali ke Bintauna, dimana ayahnya Tumungku terbunuh.

Raja Bumbulo mengizinkannya. Setelah Tendeno membeli sebidang tanah di Suwawa, dia tinggal di situ sebagai ratu bagi pengikutnya.

Maka, seperti dicatat pula oleh Dr.B.J.Haga, berdiri 3 kerajaan di wilayah tersebut. Suwawa yang memang penghuninya sejak awal. Lalu Bone yang penduduknya datang dari kerajaan Bone di Sulawesi Selatan; serta Bintauna yang datang dari Bolaang-Mongondow; dengan menandatangani kontrak bersama dengan Kompeni Belanda. Masing-masing ketiga kerajaan dengan raja sendiri dan dua orang marsaole.

Riedel bahkan berpendapat, kejadian tersebut terjadi di pertengahan abad ke 18, ketika Raja Bone dan Bintauna mendapat izin dari Kompeni Belanda untuk bergabung dengan Suwawa, dan hidup tanpa gangguan dari kerajaan lain.

Ratu Putri Tendeno digantikan berturut-turut oleh Raja Bauda, Talu-e-daa, kemudian Talu-e-kiki.

Pengganti berikut, menurut Riedel, adalah Iskander Monoarfa dari Gorontalo. Raja Iskander Monoarfa lebih terkenal sebagai Raja Di bawah (Raja Kompeni, to  huliyalio) Gorontalo sejak 1757, sampai ditahan Belanda di Ternate 1777.

Raja Iskander Monoarfa inilah yang pada 4 November 1769 telah meneken verbond dengan Kompeni Belanda atas nama Bintauna (Gorontalo). Juga dalam kapasitas sebagai Raja (Di bawah) Gorontalo.

KONTRAK PERTAMA
Kontrak politik paling awal kerajaan Bintauna dengan Kompeni Belanda sendiri telah berlangsung 2 April 1735 (hampir persis pendapat Riedel), yakni ketika eksploitasi emas di wilayah itu, mulai menarik perhatian Kompeni Belanda.

Dalam Corpus, Dr.F.W.Stapel menggarisbawahi bahwa kontrak 2 April 1735 itu menegaskan Bintauna menjadi kerajaan yang ‘merdeka’ dan independen. Karena sebelumnya masih tunduk ke Gorontalo.

Hari itu, Johannes Bernard Raad-extraordinaris van Nederlands-Indie dan Komisaris Maluku mewakili Gubernur Jenderal Dirk van Cloon melantik Pangeran Kitjili (Kaicil) Tolucci sebagai Raja Bintauna, bertempat di Logie Kompeni di Gorontalo. Sebelumnya di tempat sama, Komisaris Bernard pada 19 Maret 1735, dengan pembaruan kontrak, melantik Kitjili Kilat (Nuwa) sebagai Raja Gorontalo (to tilayo, raja di atas, raja negeri) menggantikan Kitjili Lepe (Lepehulawa alias Tinito).

Perjanjian dengan Raja Kitjili Tolucci pendek, hanya terdiri 3 pasal. Antara lain, raja dan mantri Bintauna bersama Raja Gorontalo, Limboto, Bolango dan Atinggola membantu pembangunan Logie Kompeni di Illolodoa (Doloduo), untuk kelancaran transportasi barang ke sentra emasTomecalang (Tomakalang).

Kitjili Tolucci sebelumnya menjabat sebagai Jogugu Bintauna. Ketika masih Jogugu, di tahun 1734 ia sempat dimasalahkan soal pengembalian tiga puluh budak dan barang lain. Kemudian adanya perbedaan yang terjadi dengan Raja Atinggola Adriaan Patilima.

Ada versi menyamakan Kitjili Tolucci sebagai Talu-e-daa, Raja Bintauna ke-3. Sebutan Kitjili atau Kitjil atau Kaicil adalah gelaran pangeran Ternate dan raja serta bangsawan di daerah yang pernah berada di bawah supremasi Ternate, termasuk raja-raja di wilayah Gorontalo.

Nama Tolucci atau mungkin Tolucco atau Terloko atau Toloko pun umum. Entah mengambil nama dari benteng di Ternate. Atau pun karena pamor Pangeran Tolucco, putra Sultan Mandarsjah, yang kemudian bernama Pangeran Rotterdam, dan menjadi Sultan Ternate 1692-1714.

Seorang pangeran dari Gorontalo pun bernama Tolucco dan hidup bersamaan dengan Kitjili Tolucci. Pangeran Tolucco van Gorontalo bersama Pangeran Tuleabo dari Limboto adalah tokoh-tokoh yang meneken kontrak Gorontalo dan Limboto bersama Gubernur dan Direktur Maluku Jacob Christiaan Pielat di Kastil Orange Ternate 26 September 1730.

Ketika meninggal tahun 1755, Kitjili Tolucci diganti Putri Manilha, putrinya yang naik tahta dengan meneken kontrak pada 21 Oktober 1755. Masanya Bintauna terpecah dua, penduduk di bagian utara yang telah memeluk Kristen Protestan memisahkan diri di bawah Jogugu Salomon Datunsolang yang diangkat Residen Manado Seidelman 5 Agustus 1769 di Manado sebagai regent.

Putri Manilha memimpin Bintauna Islam bersama suaminya Iskandar Monoarfa.


BINTAUNA GORONTALO
Setelah Bintauna terbagi dua, kerajaan Bintauna di Gorontalo, dipimpin oleh Muhammad Zain Buingi (Bohinga) yang naik tahta mengganti Putri Manilha dengan meneken kontrak tanggal 10 April 1777. 

Kemudian Bintauna diperintah para Raja Suwawa, di bawah Raja Walango van Gorontalo dan penggantinya Pulumodoiong.

Ketika Raja Bone Hulopango meninggal, Raja Pulumodoing ditunjuk sebagai raja atas ketiga landschap, dengan sebutan Raja Bone, Bintauna dan Suwawa (Haga mencatat sebaliknya, bahwa ketika Raja Suwawa meninggal, kerajaannya ditempatkan di bawah Raja Bone, dan hal yang sama terjadi pada Bintauna).

Raja Pulumodoing digantikan oleh Humungo, dan sejak 1839 Raja Warotabone (Wartabone) yang bernama lengkap Sapjatidien Iskander Muhammad Warotabone Illahu.

Pengganti Raja Wartabone adalah Pangeran Rohobanie 26 Desember 1856.

Paling akhir, Raja Abdul Latief Mohammad Tengaho, memerintah 21 Mei 1859 hingga 1870, ketika landschapnya tinggal disebut Bone. Dengan beslit 4 September 1864 nomor 17, yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap, landschap-landschap berakhir, dan pemerintahan langsung di bawah kendali pemerintah Hindia-Belanda, dimana raja tidak digantikan lagi.

Bintauna Gorontalo pun tinggal sebagai satu distrik, dipimpin seorang kepala distrik dengan gelar adat Marsaole, terdiri atas 3 kampung. Distrik lain adalah Bone dan Suwawa.

Tahun 1864 ketiga distrik tadi resmi digabung satu menjadi Distrik Bone. Sementara Bintauna dan Suwawa tinggal berderajat Onderdistrik (distrik kedua atau distrik bawahan) dipimpin kepala dengan gelar Walaapulu.

Menurut Dr.Haga, penduduk Bone telah campur aduk, sehingga orang tidak tahu lagi apakah mereka berasal dari Bintauna, Bone atau Suwawa.

MORETEO DAN SOLAGU
Tradisi lisan Bintauna mencatat Lepeo Mooreteo, sebagai raja pertama Bintauna di wilayah Bolaang-Mongondow.

Dihistorisasikan awal pemerintahannya tahun 1675. Mooreteo yang kemudian beragama Kristen, menurut satu hadis, adalah anak Tendeno. Ia dipilih sebagai raja, setelah Tumungku terbunuh.

Sayang tidak diketahui nama serani yang dipilih oleh Mooreteo ketika masuk Kristen, seperti lazim terjadi di masa itu. Tapi, sangat kuat dugaan, fam pilihannya ketika itu adalah Datunsolang.

Di dekat makam Mooreteo di Bintauna terdapat kubur seorang ‘pendeta’ asal Ambon, bernama Talahutu. Aslinya pasti hanya seorang guru injil yang ditempatkan oleh seorang pendeta. Sebab, selang akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-19 para pendeta biasanya masih orang Belanda, dan baru satu orang predikant berkedudukan di Ternate, kemudian juga Ambon, yang pada periode tertentu datang mengunjungi, serta melakukan pembaptisan penduduk di kawasan Sulawesi Utara. Para guru injil yang dididik langsung pendeta, baik di Ternate mau pun Ambon, selalu ditempatkan di daerah terpencil di pelosok wilayah Keresidenan Manado. Guru-guru tersebut bertugas untuk mengajar di sekolah, memimpin ibadah di hari Minggu dan mengajak masyarakat masuk Kristen.

Sayang raport-raport para Predikant Ternate mau pun Ambon yang pernah berkunjung dan melakukan pembaptisan di masa silam, banyak belum terpublikasi.

Mooreteo menurut hadis digantikan anaknya Datu. Lalu anak Datu bernama Patilima Datunsolang dilantik sebagai raja di Ternate 1783. Patilima menjadikan Islam sebagai agama kerajaan. Bintauna kemudian dipimpin berturut oleh dua anak Patilima yakni Raja Salmon Datunsolang dan Raja Elias Datunsolang.

Ada versi lain lagi. Solagu yang menurut silsilah keluarga Ponto dari Bolaang-Itang adalah anak Duongo dan cucu Tuhinga, juga kemenakan Pugu-Pugu (dikenal kemudian sebagai Raja Kaidipang Maurits Binangkal), adalah tokoh yang mendirikan Bintauna di bagian utara. Keturunannya kemudian memakai pula fam Datunsolang.

Perpecahan dua Bintauna seakan terjadi ketika Raja Putri Tendeno pindah ke Suwawa dan mendirikan kerajaan Bintauna Gorontalo serta pengangkatan Mooreteo sebagai Raja Bintauna di Bolmong.

Namun, menilik nota penjelasan dari Raja Bintauna Salmon Datunsolang (kedua) 1866, surat resmi Gubernur Jenderal Jacob Mossel 1759 dan arsip temuan J.Bastiaans 1939, perpecahan dua Bintauna baru terjadi tahun 1755. Sehingga sampai saat pengangkatan Salmon Datunsolang sebagai Regent dengan menggantikan Putri Manilha, maka Bintauna (utara) pun masih diperintah oleh seorang Raja Bintauna di Gorontalo.

Lalu siapa Mooreteo dan siapa Regent Salmon Datunsolang sendiri, memerlukan penelitian dan telaah mendalam dari para peneliti dan sejarawan Bolaang-Mongondow dan Gorontalo. Termasuk sangat penting kepedulian dari pemerintah Kabupaten Bolaang-Mongondow Utara untuk melakukan penelitian serta pengumpulan arsip-arsip berkaitan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di wilayahnya, baik dokumen yang ada di ANRI, Perpustakaan Nasional, bahkan hingga ke Negeri Belanda.

Berbagai kontrak, pembaharuan atau pun perjanjian tambahan, surat-surat para raja, termasuk sumpah pelantikan dan beslit mereka di masa silam, kemudian raport para Residen Manado (juga raport Residen dan kemudian Asisten Residen Gorontalo); bahkan missive para Gubernur Belanda di Maluku dan Gubernur Jenderal, akan membuka lebar tabir sejarah Bintauna yang selama ini gelap dan belum tercatatkan. Dengan demikian akan tersusun sebuah buku sejarah yang sangat mendetil dan benar-benar sahih, bukan hanya sejarah Bintauna saja, tapi juga sejarah dari bekas kerajaan Bolaang-Itang dan Kaidipang yang terakhir bersatu sebagai Kaidipang Besar.

Ambil misal, keberadaan Salmon Datunsolang (pertama) yang sebelum periode raja-raja menjadi Regent Bintauna pertama, serta jauh-jauh hari sebelum Raja Patilima Datunsolang telah memakai fam Datunsolang (berdasar surat Mossel), selama ini tidak terdatakan di sejarah Bintauna.

Sementara, menurut J.Bastiaans, Raja Bintauna berikut, justru adalah keturunan dari Regent Salmon Datunsolang. ***


        

          *).Lukisan dari buku C.B.H.von Rosenberg, Reistogten in de Afdeeling Gorontalo.



LITERATUR
Almanak van Nederlandsch-Indie, 1853,1855,1858,1859,1861,1863,1867,1871,1872.1873,1879,1884,1890,1898,1903,1904,1907,1912. Google Boeken dan dari Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin.
Bastiaans, J. Batato’s in het oude Gorontalo, in verband met den Gorontaleeschen staatsbouw. Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel LXXIX,1939.
Bleeker,P. Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel, eerste del, Batavia, 1856.
Buddingh, Dr.S.A. Neerlands-Oost-Indie, Rotterdam,1860.
Coolhaas, Dr.W.Ph. Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel IX 1729-1737, dan deel XIII 1756-1761, resources.huygens.knaw.nl.
Haga, Dr.B.J. De Lima-pahalaa (Gorontalo) volksordening, adatrecht en bestuuurspolitiek. Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel LXXI,1931.
Heeres, Mr.J.E. Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, tweede deel (1650-1675). Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 87, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage, 1931.
Lasahinda, Hariana (dkk), Kerajaan Bintauna (Kajian historis 1901-1950), Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo,
Riedel, J.G.F. --De Landschappen Holontalo, Limoeto, Bone, Boalemo en Kattinggola, of Andagile. Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-,en Volkenkunde, deel XIX, 1870.
           --De Volksoverleveringen betreffende de voormalige gedaante van Noord-Selebes en den oorsprong zijner bewoners. Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, derde serie 5de jaargang, 1871.
--Het Oppergezag der Vorsten van Bolaang over de Minahasa (Bijdrage tot de Kennis der oude Geschiedenis Noord-Selebes). Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel XVII, 1869.
Rosenberg, C.B.H.von, Reistogten in de Afdeeling Gorontalo, Amsterdam 1865.
Stapel, Dr.F.W. Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, vijfde deel (1726-1752). Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 96, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage (1938).
Staten Generaal Digitaal, Overeenkomsten met Islandsche Vorsten in den Oost-Indischen Archipel, dan Koloniaal Verslag.
Stibbe, D.G. dan Mr.Dr.F.J.W.H.Sandbergen, Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, achtste deel, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1939.
Valentyn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, Dordrecht-Amsterdam, 1724.
Van der Chijs, Mr.J.A. Inventaris van ‘s Lands Archief te Batavia (1602-1816),  Batavia,1882, Koleksi ANRI.