Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2016

Raja-raja Manado yang Diinternir Belanda (2)






Oleh Adrianus Kojongian






Kota Manado masa Raja Johannis Manoppo. *).





JOHANNIS MANUEL MANOPPO
Raja Bolaang-Mongondow, dilantik menggantikan Adrianus Cornelis Manoppo dengan meneken acte van bevestiging en van verklaring di Manado tanggal 15 Juli 1864 dengan Residen Manado Willem Christiaan Happe. Meski ia  sebenarnya telah memimpin Bolaang-Mongondow sebagai pejabat sejak 6 September 1862.

Janji yang dibubuhi tandatangannya sebanyak 15 poin. Paling pokok, mengaku akan hormat dan taat kepada pemerintah Hindia-Belanda, sebagai tuan (opperheer). Ia pun berjanji setia memenuhi kontrak perjanjian 8 September 1858 yang telah dibuat ketika Raja Adrianus Cornelis Manoppo naik tahta, dimana pemerintah Hindia-Belanda memiliki hak istimewa untuk menunjuk dan memberhentikan seorang raja.

Pasal-pasal lain dalam janjinya antara lain akan mensejahterakan rakyatnya, memerintah dengan kebenaran, menjaga perdamaian dengan tetangga, mencegah perdagangan budak, melindungi pertanian, perdagangan dan lain sebagainya.

Kerajaan Bolaang-Mongondow di masanya berpenduduk 35 ribu jiwa. Sepertiga penduduknya dilaporkan telah memeluk agama Islam, sementara sisanya masih kafir.

Ketika Zendeling Wilken dan Schwarz menemuinya di Bolaang Juni 1866, ia digambarkan sebagai seorang pria setengah baya bertubuh kecil tanpa banyak ekspresi. Ia lebih banyak berdiam dan balasan pertanyaan selalu dijawab oleh Jogugu.

Ternyata, pemerintahannya mendatangkan banyak keluhan dan laporan kepada Residen di Manado. Tanggal 17 September 1865 ketika Z.M.stoomschip Coehoorn tiba di Manado dari Bolaang-Mongondow, ikut serta Penghulu Mokoginta dan beberapa kepala lain yang melakukan oposisi terhadap wewenang sah sang raja.

Begitu pun saat Zendeling-leerar kembali September 1866 setelah tinggal tiga bulan di Bolaang-Mongondow. Mereka mencatat kondisi moral penduduk menyedihkan, dengan banyak pencurian dan pembunuhan.
                               
Namun, Raja Johannis Manuel Manoppo sangat tegas menentang Koffiecultuur. Ia menolak dengan ketus praktek tanam paksa kopi masuk kerajaannya ketika diminta selama kunjungannya ke Residen Anthonie Hendrik Swaving (1876-1878) di Manado.

Padahal, setiap tahunnya Bolaang Mongondow diperkirakan menghasilkan sekitar 300 sampai 400 pikul kopi. Kopi mana dengan kebijakannya, dijual bebas kepada pedagang di Manado, sehingga menimbulkan kerugian besar kepada pemerintah kolonial.

Laporan dan keluhan-keluhan atas dugaan terjadinya pembunuhan di Bolaang-Mongondow semakin santer tiba di Manado pertengahan tahun 1879. Maka Raja Johannis diundang datang ke Manado untuk memberikan klarifikasi terhadap berbagai tuduhan tersebut.

Dengan menggunakan dua kano dengan rombongan besar terdiri 300 orang pengiring, pada bulan Juli 1879 Raja Johannis Manuel Manoppo tiba di Manado. Ia tinggal selama dua bulan.

Semula keadaan tenang saja. Tapi, ketika kapal perang Belanda Zr.Ms.Tromp tiba di Manado dari Makassar, entah dari mana asalnya, muncul rumor bahwa Raja Johannis dengan pengikutnya hendak melakukan serangan umum serta membuat amuk di pasar. Tentu saja segera timbul kecemasan di kalangan pejabat Belanda, dan utamanya penduduk bangsa Eropa di Manado.

Karena masih segar diingatan mereka serangan oleh Syarif  Pagoe alias Mansoer hari Kamis 26 Agustus 1875di masa Residen Mr.S.C.J.W.Musschenbroek yang sempat membuat huru-hara besar di Manado. Sejak saat itu, kedatangan para raja yang memang diwajibkan, tapi bila disertai banyak pengiring akan selalu diwaspadai.

Hari Sabtu tanggal 4 Oktober 1879, Residen Manado Mr.P.A.Matthes menerima surat yang menyatakan bahwa Raja Bolaang-Mongondow ingin melakukan serangan terhadap Manado. Residen segera mengumpulkan Asisten Residen A.C.Uljee, Komandan Militer Benteng Nieuwe Amsterdam dan Jaksa. Mereka membahas poin kunci. Lokasi tempat raja bermukim harus diduduki, dijaga 38 Schutters. Benteng Nieuwe Amsterdam dan pemukiman penduduk dijaga ketat untuk tempo 2 bulan. Lalu dengan dibekingi kapal perang Tromp dan sebuah stoombarkas milik sebuah firma yang sengaja disewa, peluang jalan lari Raja melalui laut dengan kano telah diblokade ketat.

Dilaporkan, penduduk Eropa yang cemas banyak berdiam di rumah membekali diri dengan senjata, bahkan ada dengan senapan Beaumont di balik pintu. Siapa pun yang lewat di jalan tak akan luput dari pemeriksaan.

Situasi tersebut berlangsung sampai hari Senin tanggal 6 Oktober 1879. Raja yang melihat gelagat mencurigakan kemudian melakukan kunjungan perpisahan kepada Residen pada jam 9 pagi, karena ia berencana untuk segera kembali ke Bolaang-Mongondow.

Tanpa disertai mantrinya, ia mendatangi rumah Residen. Tapi, Residen tidak mau menerimanya di rumah, meminta Raja Johannis ke kantor. Residen secepatnya berembug bersama Asisten-Residen A.C.Uljee dan Sekretaris Residen Petrus Kist. Mereka memutuskan untuk menangkap Raja.



Residen Manado dan keluarga di rumahnya. *).


Untuk tujuan ini, Asisten Residen Uljee dan Jaksa meminta Raja menemui Residen yang sengaja menunggu di kantor.

Tapi, Raja Johannis yang kecewa dan curiga telah kembali ke rumahnya. Ia lalu dikirimi surat yang memberi tenggat waktu sampai jam 11siang untuk datang bertemu Residen di kantor. Namun, raja tetap menolak untuk kembali.

Kontrolir Manado dan Jaksa dikirim menjemputnya. Keduanya dikawal seorang Kopral dan 12 anggota Garnisun Manado, yang semuanya dipersenjatai dengan senapan Beaumont. Mereka menuju rumah tinggal sementara raja yang berada di sisi lain dari sungai.

Ketika bertemu Raja, Kontrolir Manado memberitahu bahwa Residen sedang menunggunya sekarang. Dengan sangat terpaksa Raja mengikuti mereka pergi ke seberang sungai, menaiki kereta Residen yang telah menunggu, didampingi Kontrolir dan Jaksa dengan kawalan tentara.

Ternyata, keretanya bukan menuju ke kantor Residen yang ada di bagian kiri, tapi ke kanan, dan langsung ke penjara. Kepadanya lalu dinyatakan kalau ia dipecat, atas nama Raja Belanda, ditangkap dan menunggu perintah lebih lanjut ia akan dipenjara.

Selain tuduhan akan menyerang Manado, ia pun disebut salah urus. Raja Johannis ditahan di penjara Manado, dengan pengawalan pasukan Schutterij Manado. 

Ikut ditahan Penghulu dan pejabat Penghulu. Sementara pengiringnya kembali hari itu, dan sebagian esok harinya dengan kano ke Bolaang Mongondow. Kekhawatiran bahwa para pengiringnya akan kembali untuk membebaskan raja yang dicintainya ternyata tidak terbukti. 

Meski pun ia memiliki seorang putra, dengan beslit gubernemen tanggal 13 Desember 1879 nomor 8, telah diangkat Abraham Sugeha sebagai Raja Bolaang-Mongondow yang baru. Ia resmi dilantik dalam posisi tersebut 12 Juli 1880. Raja Abraham Sugeha memerintah hingga meninggal 3 Desember 1891. 

Mantan Raja Johannis Manuel Manoppo telah diasingkan ke Pulau Jawa, di Bagelan. Putranya tersebut, yakni Riedel Manuel Manoppo baru dilantik jadi Raja di Manado 1 Juli 1893 sebagai pengganti Abraham Sugeha.

JACOBUS PONTO
Pangeran Bolaang-Itang, anak Raja Daud Ponto. Diangkat menjadi Raja Siau pada tanggal 26 September 1850, menggantikan pamannya Nicolaas Ponto. Ia meneken perjanjian dengan Residen Manado W.C.Happe 8 Juni 1865 serta kontrak 11 Desember 1884 dan 26 November 1885 dengan Residen O.M.de Munnick. 

Raja Jacobus Ponto banyak melakukan pembaruan untuk mensejahterakan rakyatnya. Antara lain di tahun 1880 ia melakukan budidaya pala besar-besaran di Siau.

Raja Jacobus memerintah hingga ia ditahan dan dibawa ke Manado di bulan Agustus 1889. Bulan Oktober martabat rajanya dicabut oleh Gubernur Jenderal. Menanti di penjara Manado, kemudian turun beslit Gubernemen tanggal 11 Februari 1890 nomor 7, dimana untuk kepentingan perdamaian, ia diputus dibuang ke Pulau Jawa di Cirebon.

Ia telah ditangkap dengan tuduhan menentang diam-diam pemerintahan Belanda dan hendak membarter wilayahnya untuk kekuatan asing. Kemudian juga tuduhan salah urus. Tanggal 3 Mei 1890 ia meninggal dunia dan dikuburkan di Sangkanhurip, sekarang masuk Kabupaten Kuningan. 

Di Siau telah ditunjuk pejabat sebagai President Raja, Gemuel David menggantikan ketidakhadiran raja, sampai kemudian Manalang Dulag Kansil diangkat Residen E.J.Jellesma 31 Agustus 1898 sebagai Paduka Raja Siau yang baru.

LAMBERT PONTO
President Pengganti Raja Manganitu sejak tahun 1886. Jabatannya semacam mantri utama menjalankan pemerintahan pengganti raja yang lowong setelah Raja terakhir Manuel Mocodompis meninggal 20 Agustus 1880.

Memerintah cukup lama, pada bulan Oktober 1892 Lambert Ponto diberhentikan oleh Residen Manado dengan hormat. Penggantinya adalah Johannis Mocodompis.

Kemudian dengan tuduhan memprovokasi kerusuhan serta menghasut kepala bawahan lain untuk membawa keluhan terhadap penggantinya, ia ditahan Residen Manado. Penahanannya dilakukan setelah berlangsung pemeriksaan, dimana tuduhan tersebut ternyata tidak berdasar. Dengan beslit gubernemen Belanda tanggal 14 Januari 1895 nomor 9, ia diasingkan di Manado dengan alasan untuk kepentingan perdamaian dan ketertiban di Manganitu

Johannis Mocodompis sendiri naik dari posisi sekedar President Pengganti Raja menjadi Paduka Raja Manganitu, setelah meneken acte van verband 31 Agustus 1898 di Manado.

Nasib bekas penguasa Manganitu Lambert Ponto cukup lama terkatung di pengasingan. Baru bulan Januari 1899, ia diizinkan pulang kembali di Manganitu. Permaisurinya Janna Gantohe (1855-1945) telah tinggal dan kemudian meninggal di Tomohon, dimakamkan di Tumatangtang Sarongsong.

LAIN-LAIN
Ada pula tiga raja Sangihe lain yang bersamaan diinternir Belanda ke Sulawesi Tengah. Raja Kandhar-Taruna (Kendahe-Tahuna) Christiaan N.Ponto di Luwuk selang 1930-1933, Raja Siau Lodewijk N.Kansil 1930-Desember 1932 di Parigi, serta Raja Tabukan Willem A.K.Sarapil di Kolonedale (baca: Tiga Raja Sangihe dan Residen Schmidt, serta Mengenal Raja-Raja Kandhar-Taruna).

Dari kalangan bangsawan pun banyak yang diasingkan Belanda. Terkenal umpama Jogugu Taruna Philip Datunseka (Philip d’Atonseka, atau juga Philip de Antonseca) yang ditahan Gubernur Belanda Johan Hendrik Thim tahun 1687. Ia dibawa ke Batavia 1689 kemudian diasingkan ke Ceylon (sekarang Srilanka).

Zacharias Makaampo, pangeran dari Tabukan, yang berkuasa di akhir pemerintahan Raja Markus Jacobus Dalero, ditahan tahun 1722, serta diasingkan ke Kaap de Goede Hoop Afrika Selatan.

Pangeran Manganitu Tambiengo yang berkaitan masalah dengan Raja Jacob Marthin Lazarus, tahun 1751 dibawa ke Ternate, kemudian diinternir di Pulau Edam, Kepulauan Seribu sekarang. ***

*). Foto koleksi KITLV.


BAHAN OLAHAN                                                                                 
Corpus Diplomaticum, Bijdragen tot de Taal-,Land-en Volkenkunde, Deel 96 (1939).  
Delpher Kranten:
Arnhemsche Courant 1879, Bataviaasch Handelsblad 1879, De Locomotief 1879, De Standaard 1875, Java Bode 1876, Nederlandsche Staats-Courant 1865, Rotterdamsche Courant 1867, Soerabaiasch Handelsbald 1879, 1880; Sumatra-Courant 1879.
Ensiklopedia Tou Manado.
Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII der Verenigde Oostindische Compagnie, Resources Huygens.
Over de Vorsten van Bolaang Mongondow, W.Dunnebier, Bijdragen tot de Taal-,Land-en Volkenkunde, Deel 105 (1949).
Staten-Generaal Digitaal.

Minggu, 11 Desember 2016

Raja-raja Manado yang Diinternir Belanda (1)

 

 

 

 

 

Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 

 

 

Raja Loloda Mokoagow salah seorang penentang Belanda. 
Kuburnya di sipat Motoboi dan Poyowa. *).


 

 

 

Selama pemerintahan kolonial Belanda, baik masa Kompeni (VOC) mau pun Hindia-Belanda, ada banyak raja dan bangsawan di bekas Keresidenan Manado yang menentang kekuasaan Belanda. Kendati perlawanannya berbeda-beda, latarbelakangnya adalah bentuk penolakan terhadap perjanjian-perjanjian yang dibuat, dengan banyaknya pasal larangan yang harus diteken ketika mereka dilantik secara resmi. Para raja merasa memiliki kekuasaan adat yang tidak terbatas dan melampaui janji dalam kontrak serta sanksi hukum buatan kolonial.

Dari sekian banyak raja yang ditangkap kemudian diasingkan oleh Belanda, perlawanan tiga raja, yakni Salomon Manoppo dan Johannis Manuel Manoppo dari kerajaan Bolaang Mongondow, serta Jacobus Ponto dari Siau paling terkenal.

Raja Salomon Manoppo ingin mengembalikan luasan wilayah yang pernah dikuasai kakeknya.  Raja Johannis Manuel Manoppo mencoba menghancurkan kekuasaan Belanda di Manado, sementara Raja Jacobus Ponto berupaya melawan Belanda dengan bantuan kekuatan asing.

Perlawanan para raja tidak sampai meletus menjadi pemberontakan resmi, karena segera tercium dan ditangkal dengan penangkapan. Upaya Raja Johannis Manuel Manoppo dengan 200 orang pengiringnya untuk menduduki Manado dengan menyerang pusat kekuasaan Belanda, bocor terlebih dahulu, sehingga dirancang siasat untuk menyergapnya ketika ia datang bertemu Residen Manado.

Meski demikian, ada pula raja yang memang bertindak di luar batas sehingga kemudian ditahan Belanda. Ada yang diduga terlibat pembunuhan, namun ada juga yang sengaja dituduhkan melakukan pembunuhan, pembakaran dan bahkan membiarkan pembajakan, termasuk juga dugaan korupsi.

Berikut beberapa raja yang diasingkan Belanda, hanya khusus dari bekas kerajaan yang pernah ada di wilayah yang sekarang masuk Provinsi Sulawesi Utara, tidak termasuk dari wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Sulawesi Tengah dan Provinsi Gorontalo, karena dari sekian banyak raja yang telah diasingkan Belanda asal eks Keresidenan Manado, paling banyak justru dari kedua daerah tersebut.

SALOMON MANOPPO
Raja yang juga disebut Salmon Manoppo naik tahta dengan meneken perjanjian 15 Januari 1735 menggantikan kakaknya Fransiskus. Seperti ayahnya Raja Jacobus dan kakaknya Fransiskus ia ingin wilayah lama yang sempat dikuasai kakeknya Raja Loloda Mokoagow yakni Manado dan Minahasa. 

Kendati dilarang Belanda, ia meniru kakaknya Fransiskus dan pamannya Salomon Maccalalaq, menerima aliran pelarian orang Minahasa ke Bolaang yang kembali membanjir di tahun 1738.

Kompeni Belanda makin tidak menyukainya karena masalah Mattheus Cacaboel yang terlibat pembunuhan dan pajak seperti tercatat dalam surat resmi Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff 31 Desember 1743.

Tahun 1747 ia ditangkap Belanda dengan tuduhan merusak tanda-tanda perbatasan dengan Minahasa. Namun, dalam surat resmi Gubernur Jenderal van Imhoff 31 Desember 1747 dinyatakan ia ditangkap sehubungan dengan konflik antara kerajaannya dengan kerajaan tetangga Bolaang Itang di perbatasan Biontong yang dimiliki Bolaang Itang.

Raja Salomon Manoppo dari Ternate dikirim ke Batavia dan diputus diasingkan ke Cabo de Goede atau Kaap de Goede Hoop (Tanjung Harapan), koloni Belanda di Afrika Selatan sekarang.

Namun, sepeninggalnya terjadi perlawanan rakyat yang dipimpin Sadaha bernama Janbat, menuntut pemulangan rajanya. Upaya Belanda untuk mengangkat raja pengganti gagal, apalagi Rijksgrooten yang ditunjuk menjalankan pemerintahan yang memang terkenal antiraja dan diduga telah membuat laporan-laporan mendiskreditkannya, yakni Jogugu Simon Damapolii, Pangeran Marcus Boelansa dan Pangeran Hendrik Manoppo tidak mampu mengembalikan ketenteraman.

Akhir tahun 1754 Raja Salomon Manoppo dikembalikan dari Tanjung Harapan ke Batavia, kemudian ke Ternate dan dilantik ulang sebagai raja. Meski berjanji tidak akan membalas dendam, ketiga orang penentangnya kemudian  dibawa ke Manado. Raja Salomon Manoppo meneken kontrak baru 15 Maret 1756, dimana untuk pertamakalinya nama Bolaang-Mongondow dipakai secara resmi. Batas-batas Bolmong dengan Minahasa dipertegas di Poigar dan Buyat.

Raja Salomon Manoppo mangkat  30 Agustus 1764, digantikan anaknya Eugenius Manoppo.

JACOB MARTHIN LAZARUS
Raja Manganitu yang juga disebut Jacob Marthin Lasarus Quesjee. Ia dilantik menjadi raja pada pertengahan tahun 1722, menggantikan ayahnya Don Marthin Takanetang (Takinita) yang mengundurkan diri karena berusia tua. Ayahnya semula memerintah Manganitu bersama Don Carlos Diamanti (Carlos Piantay). 

Para Bobato dalam pemerintahannya yang terkenal adalah Jogugu Zacharias Tampungang, Jogugu Pieter Katiandagho, Kapitan Laut Salomon Narondo, Kapitan Laut Jacob Dorondo dan Sangaji Simon Tatagou, yang bersama dengannya meneken kontrak 22 Agustus 1747 di Tabukan dengan Gecommitteerde Johannes Pauwen dan Sersan Komandan di Tabukan Hendrik Meelkop.

Tindakan raja Jacob Marthin Lazarus yang masih berusia muda ini banyak tidak berkenan di mata Kompeni. Ia berselisih lama dengan Raja Siau Daniel Jacobus (arsip mencatat fam sebagai Jacobsz) berkaitan pulau Karakitan dan kemudian wilayah Tamako yang dimiliki Siau. Permusuhan selama tiga tahun tersebut baru didamaikan Gubernur Maluku Jacob Christiaan Pielat tanggal 21 Maret 1729 di Benteng Orange Ternate ketika ia bersama Raja Daniel Jacobus meneken kontrak perjanjian damai.   

Namun, Raja Jacob Marthin Lazarus masih memiliki keinginan mencaplok Tamako yang jadi enklave terpisah di kerajaannya dan masalahnya tetap berlarut-larut hingga di akhir kekuasaannya.

Perselisihan lainnya terjadi dengan Raja Kandhar Andries Manabung dan juga dengan Raja Tabukan Philip Makaampo yang dapat didamaikan Gubernur Pielat 18 Agustus 1729. Berikutnya lagi ia berselisih dengan Raja Taruna yang baru naik tahta, Dirk Rasubala di tahun 1749.

Raja Jacob Marthin Lazarus enggan mengembalikan budak yang lari dari Tahuna mengingkari perjanjian tertulis yang dibuatnya, sehingga ia dituduh menyembunyikan beberapa pembunuh.

Puncaknya ketika ia menyuruh dua lelaki, seorang bernama Habibi mencari kepala manusia untuk dipakai sebagai kehormatan pada pesta raja, dimana Habibi dan temannya memenggal seorang pria bernama Malasa di Batu Tanggolang.

Ia kemudian ditangkap, ditahan di Manado. Secara resmi Belanda menuduh pemerintahannya tidak teratur, suka bertindak brutal dan berbagai tindakan tidak pantas lainnya. Gubernur Jenderal Jacob Mossel 31 Desember 1750 menyebut kesalahannya sangat merugikan Kompeni.

Tanggal 8 Agustus 1750 ia dibawa ke Batavia dan dibuang ke Cabo de Goede Hoop (Tanjung Harapan). Ia digantikan Pangeran Daniel Katiandagho yang dilantik dengan meneken perjanjian tanggal 23 Juni 1752.

MOHAMAD NOERDIN KOROMPOT
Raja Kaidipang. Diangkat menggantikan Raja Tiaha Toeroeroe Korompot dengan beslit Residen Manado 8 September 1859 nomor 172, dan memperoleh persetujuan Gubernur Jenderal dengan beslit 5 Januari 1860 nomor 8. Ia disertai tiga mantri bobatonya di Manado meneken tambahan perjanjian (suppletoire overeenkomst) dengan pemerintah Hindia-Belanda diwakili Residen Casparus Bosscher 18 Juni 1860. Tambahan kontrak tersebut merupakan pelengkap dari perjanjian yang diteken Raja Tiaha Toeroeroe Korompot  21 April 1855 bersama para mantrinya, yang mempertegas kerajaannya sebagai milik Belanda, serta harus mematuhi seluruh isi pasalnya, dengan sanksi pemecatan bila tidak melaksanakan.

Secara resmi pula pada 18 Juni 1860 hari itu ia dilantik sebagai 'Radjah' Kaidipang, setelah meneken acte van bevestiging dan verklaring. Gelaran lengkapnya Mohamad Noerdin Korompot, Prins van Diets Korompot (famnya masih ditulis Korompoet).

Raja Mohamad Noerdin Korompot menjabat sampai diberhentikan Belanda karena peristiwa pembajakan tahun 1864. Meski tidak terlibat secara langsung, ia dianggap melindungi para pembajak. Pasalnya dalam perjanjian yang ditekennya ia diwajibkan mencegah pembajakan. Ia dituntut harus membantu dalam memerangi pembajakan, tidak mentolerir, membantu atau mendukung para perompak, atau membeli barang rampasan. Juga harus memberikan bantuan bila ada kapal yang celaka atau karam di wilayahnya.

Awalnya ia ditahan di Bintauna, lalu karena masih berpengaruh dan untuk mencegah terjadinya kerusuhan dari warganya yang masih menghormatinya, pada permulaan tahun 1865 ia diasingkan ke Ambon, dimana ia meninggal. 

Penggantinya adalah Pangeran Gongalah Korompot awalnya sebagai pejabat Raja 13 Maret 1865, lalu resmi 'Radja' dilantik di Manado setelah meneken acte van bevestiging en verklaring 23 Oktober 1865. (baca: Mengenal (Beberapa) Raja Kaidipang, dan Tiga Raja Bolaang dan Bajak Laut).

TOGUPAT PONTO
Raja Togupat Ponto naik tahta Bolaang-Itang tanggal 6 Oktober 1873, dilantik di Manado oleh Residen Petrus van der Crab. Ia dipilih menggantikan Raja Israel Ponto (1864-1873). Sebelumnya, Togupat Ponto menjabat sebagai Jogugu sejak masa Raja Daud Ponto (1832-1864).



Raja Togupat belum sempat memperoleh persetujuan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, karena hanya memerintah beberapa bulan. Pada tahun 1874 ia diberhentikan dan ditahan. Tuduhannya karena perkara lama.  

Perkaranya sendiri tergolong sudah kadaluarsa, karena dilaporkan terjadi di masa pemerintahan Residen Joan Pieter Cornelis Cambier (1832-1842). Ketika itu, oleh Landraad ia dihukum untuk tuduhan pembunuhan dan pembakaran. Tapi, sementara menunggu pengesahan vonisnya dari Ambon, ia berhasil melarikan diri.

Residen van der Crab disalahkan, karena mengangkatnya jadi raja, meski sebelumnya sang residen telah diperingatkan oleh Jaksa. Residen van der Crab menjawab tindakannya tersebut adalah untuk kepentingan Belanda.

Raja Togupat telah diasingkan ke Ternate untuk lama hukuman 4 sampai 6 tahun. Namun, di tahun 1876 ia berhasil melarikan diri dari tahanannya dan pulang kembali ke Bolaang-Itang.

Ia ternyata masih disukai penduduk, sehingga cukup lama Bolaang-Itang tidak dipimpin seorang raja. Baru tanggal 7 Oktober 1875 Ali Padir Ponto dilantik di Manado sebagai Raja oleh Residen Mr.Samuel Corneille Jan Wilhelm van Musschenbroek. Ini setelah Ali Padir Ponto meneken acte van verband dan bevestiging, serta memperoleh persetujuan Gubernur Jenderal J.W.van Lansberge 24 Oktober 1876 nomor 3.(baca pula: Mengenal (Sedikit) Raja-Raja Bolang-Itang). 

Kendati demikian, pemerintahannyapun singkat pula. Dengan berbagai tuduhan, Ali Padir Ponto dicopot Residen Manado A.H.Swaving. Kemudian martabat rajanya dirampas dengan keputusan Gubernur Jenderal van Lansberge tanggal 15 Maret 1877.  ***

 
*).Foto koleksi Ayi Modeong

SUMBER TULISAN:
Delpher Kranten
Algemeen Handelsblad 1875, De Locomotief 1876, Het Nieuws van den Dag 1876, Java-Bode 1873,1876, Sumatra-Courant 1876.
Dunnebier,W., Over de Vorsten van Bolaang Mongondow, Bijdragen tot de Taal-,Land-en Volkenkunde, Deel 105 (1949).
Corpus Diplomaticum, Bijdragen tot de Taal-,Land-en Volkenkunde, Deel 96 (1939).
Ensiklopedia Tou Manado
Generale missive van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heeren XVII der Verenigde Oostindische Compagnie, Resources Huygens.
Staten-Generaal Digitaal.