Tampilkan postingan dengan label Sangihe-Talaud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sangihe-Talaud. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 September 2026

Kisah Dua Bersaudara Suermondt di Talaud


Rumah orang Cina di Lirung tahun 1902.
KITLV 114301.


Kepulauan Talaud sejak masa lampau menarik perhatian banyak pihak. Julukan porodisa, dari bahasa Spanyol paradiso telah timbul ketika ekspedisi dan kapal-kapal Spanyol dan Portugis singgah atau melewatinya sejak abad ke-16. Bahkan jauh sebelumnya dari para pedagang Cina.

Kapal-kapal menyinggahinya untuk memperoleh perbekalan. Banyak pelaut Inggris dan pemburu paus dari Amerika Serikat mengunjungi Talaud pula. Kapten Inggris Thomas Forrest sempat singgah di Lirung Pulau Salibabu pada 22 April 1775.

Perjumpaan penduduk dengan bangsa asing membawa pengaruh mendalam. Residen Albert Jacques Frederik Jansen yang berkunjung tahun 1854 dan 1857 bertemu para raja negeri Talaud yang memakai pakaian dan aksesori Eropa. Di rumah Raja Dalum, lemari pakaiannya sebagian besar terdiri dari pakaian Eropa yang diterimanya sebagai imbalan dari para pemburu paus.

Pengaruh lain dari relasi tersebut dilihat Inspektur Indische Kerk Dr.Steven Adriaan Buddingh yang datang bersama Jansen 20-21 April 1854. Banyak penduduk, termasuk anak-anak yang dapat bercakap bahasa Inggris. Bahkan banyak anak campuran Amerika dan wanita Talaud.

Selain orang Cina, sejak pertengahan abad ke-19 itu, potensi Talaud ikut menarik minat pengusaha Eropa. Dua bersaudara Suermondt dari Batavia menjadi orang Eropa pertama yang mencoba menggarap kekayaannya. Yang tertua adalah Henri Cornelis Lodewijk Suermondt, dan adiknya Johannes Gualtherus Marius Benjamin Suermondt.

Awal tahun 1873, mereka datang ke Talaud dan menetap di Lirung, negeri terbesar di Pulau Salibabu. Mereka merencanakan mendirikan usaha perkebunan. Sebagai administrator adalah Leopold Edgard d’Topolnitzki, alias Pool, seorang Eropa berdarah Polandia, sedangkan L.Jorek, asal Minahasa bertindak sebagai mandor.

Onderneming Suermondt bersaudara akan membudidayakan kelapa dan kopi, dengan tenaga buruh berasal Minahasa, Jawa dan Gorontalo.

Namun belum lama mereka di Lirung, timbul gejolak dan ketegangan besar di kalangan penduduk yang sangat sederhana. Perlakuan Suermondt, pengawas Pool dan Jorek pada penduduk dianggap tidak pantas.

Didukung Zendeling Wilhelm Richter yang ketika itu bekerja di Beo dan Zendeling Petrus Gunther di Lirung, pengaduan oleh penduduk disampaikan kepada Residen Petrus van der Crab di Manado.

Residen menugaskan Kontrolir Hendrik van Heuckelum dan Jaksa Kepala Manado Arnoldus Bernardus Kalenkongan melakukan penyelidikan di Talaud pada Oktober 1873. Turut serta Raja Tabukan Hendrik David Paparang yang menjadi penguasa utama Lirung dan negeri lain di Pulau Salibabu.

Investigasi mengarah pada tuntutan pidana. Terungkap perkebunan dalam keadaan terlantar. Mereka justru menyibukkan diri memberi pinjaman makanan dengan harga yang sangat tinggi kepada para kepala dan penduduk. Salah seorang yang berutang padi, yakni Raja Moeris melunaskan hutangnya dengan memberikan seorang budak dan anaknya kepada Henri.

Ketegangan baru mereda ketika kedua bersaudara dan Pool meninggalkan Talaud.

Penyelidikan lebih lanjut atas tindakan dua pengusaha dilakukan langsung Residen van der Crab yang datang mengunjungi Sangihe dan Talaud tahun 1874.

 

KLAIM 50 BAHU

Salah satu dari dua bersaudara, yakni Johannes Suermondt yang tidak cukup bukti untuk didakwa dalam proses hukum, diizinkan kembali ke Salibabu pada bulan Maret 1874 untuk melanjutkan bisnisnya.

 

Johannes, kelahiran Batavia tahun 1847, meminta izin untuk melanjutkan usahanya. Ia meminta pengakuan hak milik atas tanah-tanah di Lirung. Permintaan diulanginya dari Sumberwangi Kediri pada 8 Agustus 1876. Menurut Johannes, tanah-tanah tersebut telah dibeli dan dibayar dari penduduk setempat. Seluruhnya tanah seluas 50 bahu. 1

 

Pemerintah tinggi di Batavia merasa enggan dalam kondisi demikian memberikan izin pendirian perusahaan perkebunan yang permanen di Salibabu.

 

Penyelidikan atas klaim tanah hak milik Suermondt di Salibabu oleh komisi dari Residen Anthonie Hendrik Swaving Juni dan Juli 1877 membantahnya. Menurut Swaving dalam surat kepada gubernur jenderal, bertanda Manado 16 Februari 1878, para kepala menyatakan mereka tidak menyewakan atau menjual atau melepaskan tanah apa pun dengan cara apa pun. Komisinya menemukan kebun kelapa dan kopi di lokasi dekat bekas tempat tinggal Suermondt dalam keadaan terlantar dan ditinggalkan.

 

Pemerintah tinggi di Batavia memastikan tidak ada larangan bagi Johannes berada di mana pun. Sebagai penduduk Hindia Belanda sejak lahir, ia bebas berada di Kepulauan Sangihe dan Talaud, termasuk di wilayah Tabukan, selama tidak mengganggu perdamaian. Karena raja mempunyai hak pemerintahan sendiri, ia harus tunduk pada ketentuan khusus yang berlaku di sana. Begitu pun untuk menetap di pedalaman dan memperoleh tanah, perlu izin dari raja yang tidak dapat memberikannya tanpa izin sebelumnya dari pemerintah Belanda.

 

Namun dalam perkara Johannes karena fakta yang terjadi, dengan keputusan pemerintah tinggi di Batavia 7 September 1878, izin demikian tidak dapat diberikan.

 

Apa yang dilakukan Johannes sejak itu tidak banyak diketahui. Bulan Juli 1880 residen baru Mr.Pieter Adriaan Matthes berkunjung di Sangihe dan Talaud di Salibabu. Johannes dilaporkan tinggal di hutan belantara.

 

DIBUNUH PEROMPAK

Kabar kematian Johannes Suermondt pertama datang dari laporan Residen Ferdinand Lodewijk Wattendorf 15 Mei 1883 kepada Gubernur Jenderal Frederik s’Jacob. Johannes dibunuh dalam pelayaran dagang dan awak perahunya dibawa pergi sebagai budak. Wattendorf yang mengakhiri masa jabatannya mengaku dengan kapal uap Sing Tjin yang berangkat ke Sangihe telah menugaskan kontrolir untuk melakukan pemeriksaan lengkap.

 

Johannes pergi berdagang di Mindanau pada akhir tahun 1882 dengan kapal kecil bernama Aurora bersama 7 awak penduduk asli Talaud. Johannes bertindak sendiri sebagai kaptennya. Mereka menjadi korban bajak laut Mindanau. 2

 

Gubernur dan Kapiten Jenderal Filipina Joaquin Jovellar y Soler dalam surat tertanggal Manila 26 Oktober 1883 pada Gubernur Jenderal s’Jacob menjelaskan penyelidikan kasus pembunuhan Suermondt terus dilakukan pihaknya. Dari laporan gubernurnya di Mindanau, Sultan Mindanau telah diminta bantuan untuk menyelamatkan empat awak yang diperbudak.

 

Sultan dengan kapal bersenjata telah menghancurkan sarang bajak laut dan menangkap dua pembunuh yang ditahan di penjara Cotabato untuk diadili. Tapi upaya untuk menyelamatkan empat penumpang tidak membuahkan hasil.

 

Seorang awak yang berhasil melarikan diri dari tangan para perompak, harus tinggal beberapa waktu di bawah pengawasan gubernur di Cotabato. Ia akan didengar sebagai saksi di persidangan.

 

Tidak diketahui kabar selanjutnya dari persidangan para pembunuh atau nasib empat awaknya, karena sejak itu tidak ada komunikasi dari pihak berwenang Spanyol di Manila. 


 

1.  Satu bahu, sekitar 7000 hingga 7400  meter persegi atau 0,74 hektar.

2.  Dari catatan genealogis Ancestry, Johannes meninggal di Talaud 1895.

 

Sumber: Kerajaan-kerajaan di Nusa Utara. (Sejarah Tabukan, Tahuna, Kendahe, Kendahe-Tahuna, Manganitu, Siau, Tagulandang dan Talaud). Naskah buku.


Senin, 21 September 2026

Pius Waworuntu, Orang Minahasa yang memimpin Siau selama 4 bulan

 



Pius Waworuntu dan Mien Warokka.
Foto: koleksi keluarga Waworuntu.


Seorang Minahasa yang selama ini dikenal pernah menjadi raja di Siau, Frans Pieter Parengkuan. Awalnya menjadi pejabat raja pada bulan Desember 1935, lalu menjadi raja sejak tahun 1941 hingga 1946. 

Namun sebelumnya diketahui ada orang Minahasa lain yang pernah ikut memimpin kerajaan Siau. Dia adalah Exaverius Walewangko Jacob Waworuntu. Laki-laki asal Sonder Minahasa yang memiliki nama akrab Pius. Keturunannya percaya jabatannya di Siau sebagai raja pula. 1

Pius sebenarnya berdarah Tombulu. Ia adalah cucu dari Majoor Herman Carl Waworuntu (1781-1854), Kepala Distrik Sarongsong di Kota Tomohon sekarang, tokoh pertama menjadi Kristen Protestan di Tomohon. Ayahnya Albertus Bernadus Waworuntu (1820-1897) adalah putra kedua Majoor Herman. Saudara tua Albertus yakni Zacharias (1816-1881) menjadi majoor kepala distrik Sarongsong sejak 1854. 2

Tahun yang sama ayahnya Albertus diangkat menjadi Jaksa Kepala (Hoofddjaksa) Landraad Manado hingga tahun 1861, menjadi Kepala Distrik Sonder bergelar majoor sebagai pengganti Majoor Tololiu Hermanus Willem Dotulong, menjadi orang Tombulu pertama memimpin wilayah Tontemboan. Dari istri ketiganya Aaltje Lasut, putri Kepala Distrik Ares Majoor Rares Johakim Bernard Lasut, Majoor Albertus memperoleh anak yang menjadi terkenal, Albert Lasut dan Exaverius Walewangko Jacob Waworuntu. 

Karena usia tua, Majoor Albertus tanggal 17 Desember 1887 menyerahkan jabatan kepala distrik atau hukum besar Sonder pada anak tertuanya Albert Lasut, kelahiran tahun 1861, yang juga memperoleh gelar majoor. Adiknya Exaverius atau Pius dipercayakan sebagai wakil dari kepala distrik kedua Sonder.

Karena cakap, Pius yang lahir tanggal 27 Juli 1868, ditarik ke Manado, diangkat menjadi Kepala Distrik Kedua atau Hukum Kedua Manado. 3

Di Manado, Pius mendampingi pamannya dari pihak ibu Samuel Bernard Lasut yang menjabat kepala distrik.

Pius mengawini Mien yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Jacomina Warokka. Pius dan Mien menikah ketika Mien baru berusia 15 tahun, hal yang terhitung lumrah ketika itu.  Mien adalah putri dari Kepala Distrik Kawangkoan Majoor Hendrik Alanus Warokka. Mien adalah wanita modern di masanya. Ia bersekolah di Meisjesschool atau Sekolah Nona yang dibuka di Tomohon dan lulus tahun 1886. Mien pintar sehingga diangkat menjadi guru Sekolah Nona. Mien tercatat sebagai guru wanita pertama di Minahasa. 

 

BANTU BERESKAN MASALAH SIAU

Kondisi Siau sendiri di awal tahun 1890-an penuh gejolak dan tidak stabil. Raja Jacob Ponto telah ditahan Residen Marinus Cornelis Emanuel Stakman Agustus 1889 dan diberhentikan Gubernur Jenderal Pijnacker Hordijk 16 Oktober 1889, karena berbagai tuduhan. Raja Ponto diasingkan dan meninggal karena kolera di Cirebon Mei 1890. Penggantinya President Pengganti Raja Andries Salindeho yang ditunjuk sementara sejak 14 Agustus 1889 dianggap gagal, bertindak ceroboh dan bias dalam memungut pajak hasil. Ia pun disebut berada di bawah kendali penuh pengikut setia mantan raja Ponto.

Tidak sampai satu bulan, Residen Stakman menggantikan Salindeho 5 September 1889 dengan Jogugu Ulu Lemuel David alias Dadae. Baru tanggal 11 Februari 1890 David diangkat sebagai wakil raja dengan gelar president pengganti raja.

Pemerintahan David bersama beberapa pembantunya dianggap gagal pula, karena muncul ketidakpuasan penduduk yang mengeluhkan terjadinya tindakan sewenang-wenang.

Sejumlah penduduk Siau awal tahun 1896 berangkat ke Tahuna mengeluh pada Kontrolir Francois Cornelis Vorstman. Mereka dipulangkan dengan janji masalah mereka akan diperiksa. Namun, setelah kembali, mereka ditangkap dan dijatuhi hukuman. Beberapa di antaranya dipenjara selama satu tahun.

Akibatnya ketidakpuasan umum begitu besar. Eeltje Jelles Jellesma yang menjadi residen pengganti Stakman datang ke Siau Februari 1896. Ia memeriksa langsung keberatan-keberatan yang ditujukan terhadap wakil raja David, jogugu dan dua anak mendiang Raja Ponto yang menjadi kapiten laut. Keputusannya, pengaduan yang diperiksanya benar. Jellesma segera memberhentikan mereka semua.

Jellesma lalu mengangkat dua kepala baru sebagai president pengganti raja dan jogugu. Manalang Dulag Kansil, yang menjadi jogugu Ulu diangkat menjadi president pengganti raja. Namun untuk membereskan masalah yang ada, Jellesma memperbantukan Hukum Kedua Manado Pius Waworuntu, lulusan Hoofdenschool atau Sekolah Raja di Tondano, yang berpengalaman dalam administrasi pemerintahan.

Pius hanya bekerja selama kurang lebih empat bulan. Tapi sukses membereskan dan menata kembali administrasi pemerintahan serta mewujudkan situasi yang lebih baik di Siau. Jellesma merasa Siau memerlukan pengawasan langsung, sehingga sebagai pengganti Pius diangkat Bernardus Christianus Anthonius Jacobus van Dinter sebagai aspiran kontrolir berkedudukan di Ulu.

Manalang Dulag Kansil kemudian dilantik Jellesma di Manado sebagai raja baru Siau pada tanggal 31 Agustus 1898 bersama raja-raja baru Manganitu dan Kendahe-Tahuna.

Karir Pius sendiri cemerlang. Begitu kembali di Manado, pada tanggal 17 Juli 1896, posisi baru menanti. Ia dipromosikan menjadi Hukum Besar Kepala Distrik Sonder. Pius menggantikan kakaknya Majoor Albert Lasut.

Pius menjabat hingga 17 September 1904, digantikan Majoor Frederik Hendrik Dotulong. Setelah pensiun ia menjadi anggota Gemeenteraad Manado 1920-1923, dan Minahasaraad 1919-1926.

Dari Mien, Pius memperoleh delapan anak. Di antaranya dua putri yang menjadi guru seperti ibu mereka. Anak laki-laki yang bernama Albertus Bernadus Hendrik Waworuntu menjadi Wakil Walikota Manado masa Jepang dan kemudian Walikota Manado tahun 1945.

Pius sendiri meninggal di Manado 9 Februari 1928.

 

1.Fam sering ditulis Wawo-Roentoe, Wawo Roentoe, atau juga Waworoentoe.

2.Kepala Distrik dengan gelar hukum besar di Minahasa (setingkat wedana) memimpin wilayah hingga penghapusan tahun 1966. Sedangkan Kepala Distrik Kedua dengan gelar Hukum Kedua, sebagai pembantu hukum besar, ganti menjadi pemimpin wilayah dengan gelar camat.

3.Majoor, adalah gelar kehormatan sipil (rangking tertinggi) bagi kepala distrik yang dianggap berjasa. Titel yang diperoleh kepala distrik setelah melalui rang hukum besar klas 2 dan klas 1, biasanya dianugerahkan gubernur jenderal pada peringatan hari lahir raja atau ratu Belanda.

 

 

 

Sumber: Kerajaan-kerajaan di Nusa Utara.

                Sejarah Tabukan, Tahuna, Kendahe, Kendahe-Tahuna, Manganitu, Siau, Tagulandang dan Talaud, naskah buku.


Minggu, 18 Januari 2026

Kisah Putri Hester Manoppo dan Raja Ismael Jacobs

 


Makam Raja Ismael Jacobs di Ondong. Foto Istimewa.


Sejarah Sulawesi Utara mencatat banyak wanita cantik, yang pesonanya melampaui batas kerajaan asalnya, sehingga tersiar dan menjadi buah tutur di mana-mana.

Hal ini yang terjadi dengan Hester Manoppo, seorang putri dari kerajaan Bolaang Mongondow. Ia sangat cantik, apalagi ia bukan wanita sembarangan, karena putri dari Raja Salomon Manoppo yang berkuasa di Bolaang Mongondow tahun 1735-1746, dan ulang memerintah selang tahun 1756-1764. Ayahnya sempat diasingkan selama delapan tahun oleh Kompeni Belanda di Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), Afrika Selatan sekarang. 

Putri Hester adalah anak bungsu Raja Salomon, sehingga sangat disayangi ayahnya. 1   

Kecantikannya menyebabkan ia menjadi dambaan banyak bangsawan, termasuk raja dari kerajaan tetangga, bahkan kerajaan yang berada di Nusa Utara. 

Salah seorang raja yang mendengar kecantikan Putri Hester dan jatuh cinta padanya adalah Ismael Jacobs. Ismael juga rupawan, kaya raya dan menjadi Raja Siau. Ayahnya adalah Raja Daniel Jacobs dan ibunya Pieternella Doelang anak mantan Raja Tabukan Don Mattheus Francisco Makaampo. Setelah ayahnya Raja Daniel meninggal 31 Desember 1751, Ismael Jacobs dilantik menjadi Raja Siau 1 Desember 1752 di Kastil Oranje Ternate. 2 

Tahun 1759, sudah hampir tujuh tahun menjadi raja, Ismael belum memiliki seorang permaisuri. Meski sekedar mendengar dari kisah-kisah banyak orang akan kecantikan Putri Hester, ia jatuh cinta dan ingin mengawininya. 

Kecantikan Putri Hester didengarnya langsung dari Elias Jacobs yang menjadi kapiten laut dan Anthony Jacobs, dua adiknya yang banyak melakukan perjalanan ke kerajaan-kerajaan di pesisir utara dan selatan Sulawesi. 

Lamaran Putri Hester segera diajukan Raja Ismael kepada Raja Salomon Manoppo. Namun pinangan dengan barang hantaran harta ditolak Raja Salomon. Ia tidak ingin berpisah dengan putrinya, karena Siau berada di pulau yang jauh dari Bolaang, negeri kedudukannya. Apalagi ia baru pulang di Bolaang kembali pada 25 Oktober 1756 setelah pengasingan dan belum lama berkumpul dengan anak-anaknya. Putri Hester pula enggan karena sangat mencintai ayah dan tanah kelahirannya. 

Penolakan terjadi berulang. Namun bukannya mundur, Raja Ismael semakin bertekad untuk mengawininya. Untuk menunjukkan keseriusannya, dengan korakora kebesarannya serta banyak kapal dan bangsawan pengiringnya pada bulan Agustus 1759 Ismael berlayar ke negeri Bolaang ibukota Bolaang Mongondow tanpa menyinggahi Manado untuk melapor tujuan perjalanannya kepada Residen Gerard Reynier de Cock yang baru menjabat. Perjalanan masa itu selalu membutuhkan izin sersan komandan pos di Tabukan atau residen di Manado. 

Penolakan secara halus masih diterima Raja Ismael dari Raja Salomon. Namun Ismael sangat bertekad dan gigih, tidak mau meninggalkan Bolaang Mongondow tanpa membawa Putri Hester. Kejadian ini sampai berlangsung berbulan-bulan. 

Akibatnya rombongan Raja Ismael dari Siau membuat hiruk pikuk negeri Bolaang, karena sebagai raja ia harus diperlakukan dengan kehormatan sesuai adat berlaku antarkerajaan. Penduduk Bolaang, bahkan dari pelosok menjadikan mereka tontonan menarik. 

Kesabaran Raja Ismael membuahkan hasil, setelah menunggu beberapa bulan di Bolaang, ketika Raja Salomon merestui dan melangsungkan pernikahan Ismael dan Putri Hester yang meriah pada tanggal 20 Juni 1760. 

Tapi hingga bulan Oktober 1760 Raja Ismael masih bertahan di Bolaang. Karena ayah mertuanya Raja Salomon sangat menginginkan putrinya tinggal selama satu tahun lagi di Bolaang. Sedangkan Raja Ismael tidak ingin pergi tanpa membawa istrinya. 

Masa tinggal Raja Ismael yang lama berbuntut. Pasokan emas dari Bolaang Mongondow yang diwajibkan oleh Kompeni tidak ada. Penduduk tidak menambang atau menggali emas. Bukan hanya Residen de Cock yang gelisah, atasannya Gubernur Maluku di Ternate Jacob van Schoonderwoert menegur keras Raja Ismael dan Raja Salomon. 

Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel bertanda Ternate akhir Juni 1761 Schoonderwoert menyesalkan Raja Ismael yang meninggalkan Siau cukup lama membengkalaikan urusan kerajaannya, selain tanpa izin. Sedangkan Raja Salomon dalam surat kepada Schoonderwoert bertanda Boelang 29 September 1760 mengakui selama menantunya masih berada di Bolaang tidak mungkin ia mengirim rakyatnya untuk menambang, sehingga tidak ada emas yang digali di Bolaang.


SELALU KEMBALI

Putri Hester di Siau terus merindukan Bolaang, dan karena Raja Ismael sangat mencintai istrinya, banyak kali ia mengantarnya. Hal ini menyebabkan ia berkali ditegur residen dan gubernur. 

Ini terjadi pula ketika Raja Salomon Manoppo meninggal tanggal 30 Agustus 1764, dan keduanya turut hadir memakamkannya. 

Dan saat keduanya masih berada di Bolaang, di Siau terjadi serangan Sarangani dan Mindanau. Gubernur Schoonderwoert yang menerima kabar tersebut 29 Mei 1765 meminta Raja Ismael dan adiknya Elias Jacobs segera datang ke Ternate untuk penyelidikan masalah tersebut. Schoonderwoert mengkritik Raja Ismael karena ia berlama-lama di Bolaang, apalagi ketika kembali ia bukan langsung pulang ke Siau, tapi berlayar lebih jauh ke Amurang. 

Awal tahun 1765 itu orang-orang Sarangani dibantu Mindanau menyerbu Siau menghancurkan tiga negeri dan menawan tiga putrinya serta Pangeran Hendrik Jacobs Larabuwatan dan enam orang lainnya. Negeri Pehe dan Lehi paling menderita karena dijarah dan dibakar. Pemicunya peristiwa tahun 1762 ketika Elias Jacobs membunuh dan memenggal kepala lima orang Sarangani berasal Pulau Malurang di Pulau Majau, termasuk seorang pangeran bernama Salobo. Mereka tidak mau meninggalkan Siau menuntut pembunuh diserahkan. 3 

Putri Hester masih sering ke Bolaang, termasuk mendukung saudaranya Eugenius Manoppo menjadi raja pengganti ayah mereka dan bersedih ketika Eugenius kemudian ditahan Desember 1768 dan diasingkan seperti ayah mereka di Tanjung Harapan. Tapi Hester telah dijemput suaminya pulang ke Siau sebelum penangkapan tersebut. Hester pun mendukung Manuel Manoppo menuntut tahta Bolaang tahun 1773, namun Belanda lebih mendukung sepupu mereka Marcus Manoppo.4 

Terakhir kunjungan Putri Hester di Bolaang tahun 1789 memperjuangkan warisan mendiang ayahnya Raja Salomon yang dikelola bobato dan Raja Marcus Manoppo. 

Raja Ismael Jacobs lebih dulu meninggal, dari laporan Residen Willem Fredrik Mertsz, pada tanggal 9 Agustus 1784. 5 

Putri Hester Manoppo masih menyaksikan putra tertuanya Ericus Jacobs menjadi raja pengganti ayahnya 7 Oktober 1786. Putra lainnya Eugenius Jacobs menjadi raja berikut tahun 1796. Seorang putri bernama Filipina Silagonda dikawini Raja Bolaangitang Salomon Ponto.

 

 

1.   Selain Hester, anak Raja Salomon adalah Putri Sarah Manoppo, sedangkan para putra adalah Eugenius Manoppo dan Manuel Manoppo. Kedua putranya belakangan menjadi Raja Bolaang Mongondow pula. Menurut surat Manuel Manoppo 28 Januari 1790 mereka enam bersaudara, selain dia dan Eugenius, empat lainnya adalah wanita yang ketika itu masih hidup. Sementara dari dua surat puluhan bobato Bolaang dan Mongondow bertanda Mogondo 19 Agustus 1752, tiga anak lain Raja Salomon meninggal akibat perlakuan buruk sejak Raja Salomon ditahan dengan tipu muslihat oleh Kompeni 15 September 1746.

2.   Fam raja-raja Siau dalam tulisan menggunakan nama Jacobs atau sering dicatat Jacobsz seperti bukti surat-surat tinggalan dan berbagai laporan masa itu.

3.   A.J.van Delden menyebut nama Kapiten Laut Elias Jacobs adalah Lulie. Untuk kasus ini Gubernur Hendrik Breton melaporkan Elias Jacobs dipenjarakan di Manado 26 Desember 1765, dan meninggal 8 Januari 1766 sebelum persidangannya. Raja Manganitu Daniel Katiandagho yang diutus para Raja Sangihe 17 Agustus 1765 berhasil membujuk Sultan Mindanau dan membawa pulang para tawanan. Namun ekspedisi balas dendam atas invasi Sarangani-Mindanau baru dilakukan Oktober 1770 dipimpin Kapten Letnan Francois Le Grand dan Pedagang Muda sekaligus penerjemah Francois Bartholomeus Hemmekam, dengan 956 pasukan, dimana Raja Ismael dipercayakan memimpin sebanyak 750 prajurit Sangihe. Negeri Batu Laki di Sarangani dihancurkan dan dibakar, serta Pulau Malurang dibombardemen dengan meriam dan granat tangan.

4.   Manuel atau Emanuel Manoppo baru dipilih Dewan Politik Maluku di bawah Gubernur Alexander Cornabe menjadi Raja Bolaang Mongondow 25 Januari 1793 sebagai pengganti Marcus Manoppo yang sudah tua.

5.   Inskripsi pada kubur Raja Ismael di Ondong dengan ejaan Indonesia terbaru menerakan masa menjabatnya hingga 1788.

 

 

 

(Sumber tulisan naskah Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, dan Bolaang Mongondow Masa Kompeni dan Hindia-Belanda). 

 

 

SUMBER LAIN:

Delden, A.J.van, De Sangir-eilanden in 1825, Indische Magazijn, 1844.

Dunnebier, W., Over de vorsten van Bolaang Mongondow, BKI 105, 1949.

Wilken, N.P.dan J.A.Schwarz, Allerlei over het land en volk van Bolaang Mongondou, MNZG, 11 1867.


Rabu, 17 Desember 2025

Don Carlos Piantay, Raja Cayuris dan Manganitu

 


Peninggalan rumah Raja Manganitu di Toloarane. Koleksi Persito Lumanauw. 


Selain kerajaan Saban dan Limau, di Pulau Sangihe Besar pernah berdiri pula kerajaan yang berumur pendek, yakni Cayuris atau Cayuhis di negeri yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kauhis, sebagai pecahan dari kerajaan Manganitu. 

Kerajaan ini tak lepas dari tokoh Don Carlos Piantay, saudara muda dari Raja Manganitu Don Santiago atau Don Saint Jago. Setelah Don Santiago dikalahkan Sultan Amsterdam dari Ternate dan dieksekusi dengan dipenggal kepala tanggal 13 Mei 1675 bersama seorang saudara laki-laki lain yang menjadi kapiten laut, Piantay melarikan diri ke gunung dengan sekitar 500 pengikutnya. Ia kemudian ke Tamako negeri kantong milik Siau di Pulau Sangihe Besar mendapatkan perlindungan dari Raja Siau Don Francisco Xavier Batahi dan padri Spanyol. 

Bersama rakyatnya, Piantay membangun negeri Cayuris. Ia memproklamasikan diri sebagai Raja Manganitu di Cayuris menentang Raja Takanetang yang di kemudian hari bernama Don Martin Takanetang. Sultan Amsterdam telah melantik Takanetang anak Imam Tanjawa menjadi Raja Manganitu pengganti Don Santiago pada 15 Mei 1675. 

Padri Emanuel Espanjol menjadi penasehat dekatnya. Piantay juga memeluk agama Katolik dengan nama Don Carlos atau Carolus Piantay atau menurut sumber Spanyol Don Carlos de Espana Bantay. Sebuah gereja dan sekolah dibangun di Cayuris di bawah guru Tamako Juan de Leon. 

Kepada Gubernur dan Kapten Jenderal Spanyol di Manila pada 1 Agustus 1677, Piantay meminta kiriman meriam untuk melawan Ternate yang membunuh saudaranya. Putra tertuanya sengaja dikirim ke Manila untuk memperjuangkan bantuan dari Spanyol. 

Namun dengan bujukan Gubernur Robertus Padtbrugge serta menyerahnya Siau, Don Carlos Piantay bersedia berdamai dengan Kompeni Belanda dan Raja Takanetang. 

Tanggal 10 Desember 1677 di sloep (chialoup, sekoci) den Eendragt yang berlabuh di Teluk Malahasa Tahuna, Piantay dengan bobatonya Hukum Matheos Papaar dan Sangaji Mattheo Adiel meneken perjanjian sebanyak 14 pasal dengan Gubernur Padtbrugge serta Takanetang. Menurut Padtbrugge setelah Raja Saint Jago dibunuh tahun 1675, Piantay telah diminta untuk menggantikan sebagai raja. Tapi Piantay tidak muncul karena takut akan bernasib sama dengan saudaranya, sehingga Takanetang yang diangkat menjadi raja oleh Sultan Amsterdam. 

Piantay diakui sebagai penguasa tertinggi atas semua rakyat yang pernah memisahkan diri dengannya dan menerima dengan segala kehormatan gelar sebagai raja, berhak mengangkat panglima dan pembesarnya. Sebaliknya ia hanya mengamalkan Kristen Reformasi, melarang para padri dan simbol-simbol Katolik dan semua orang Eropa lain serta menebang habis pohon rempah. 

Wilayah Cayuris ditentukan pula dari Cayuris sampai Tanah Marama dimana penduduknya dapat memperoleh sagu dan buah-buahan. Wilayah selebihnya berada di bawah perintah dari Raja Manganitu.  

Padtbrugge menempatkan untuk sementara waktu Sersan Jan Lodewyksz dari Tahuna sebagai komandan pos di Cayuris. 

Kristen Reformasi berkembang di Cayuris dengan kedatangan Predikant Zacharias Caheyng lalu Ds.Cornelis de Leeuw dan Gillius Cammiga. Piantay sekeluarga pindah menganut Kristen Reformasi. Gereja di Cayuris juga diperbesar serta sebuah sekolah dibuka di bawah guru Caspar Taydi kemudian Wouter de Lima. Bahkan putranya dibaptis Cammiga dengan nama Carel.

 

BERSATU KEMBALI

Umur kerajaan Cayuris hanya berlangsung selama empat tahun dari tahun 1675 hingga tahun 1679, menjadi satu kembali dengan Manganitu dengan Don Carlos Piantay diakui raja berkuasa penuh Manganitu. Alasan Piantay hak kelahirannya sebagai keturunan langsung para Raja Manganitu putra dari Raja Tompor dan saudara kandung Raja Don Santiago. Sementara Takanetang terhitung kerabat jauh. Ibu Takanetang yakni Putri Ilangsariwu adalah anak dari saudara wanita Santiago dan Piantay yang dikawini oleh Agogo seorang jogugu Tabukan di Salurang.                                                  

Dalam jurnalnya bertanda chialoup den Eendragt di Teluk Tahuna Sabtu 11 Februari 1679, Padtbrugge mencatat Raja Takanetang menyerahkan seluruh wewenang pemerintahannya kepada Piantay. Tapi dengan syarat dan perjanjian yang diikrarkan bahwa setelah kematian Piantay kerajaan akan jatuh ke tangan Takanetang yang akan berkuasa dan memiliki otoritas penuh. Meskipun setelah kematian Takanetang pula posisi raja akan kembali jatuh ke tangan salah satu putra atau keponakan dari Piantay. 

Takanetang akan mempertahankan gelar raja dan mempertahankan tanda kehormatan atau apa pun miliknya baik rakyat dan budak yang menjadi haknya. Tanda kehormatan demikian akan terus ada pada orang yang hidup paling lama. 

Padtbrugge setuju kesepakatan antara Piantay dan Takanetang, menjaminkan Kompeni mendukung dan menjamin Takanetang yang menemuinya di atas kapal dengan akta terbuka dan tersegel. 

Kesepakatan tersebut mengakhiri era dua raja Manganitu, sehingga Raja Piantay menjadi salah seorang raja paling berkuasa di Kepulauan Sangihe. Raja Takanetang beroleh gelar baru raja muda (jongen koning). Keduanya saling menyapa ayah dan anak, dan Takanetang selalu menunjukkan rasa segan, tunduk dan hormat kepada Piantay yang sudah berusia tua. 

Raja Piantay masih bertahan di negeri Cayuris sampai tahun 1680 ia pindah dan mulai memerintah di Manganitu. 

Manganitu jadi terbagi dua negeri. Dari memorinya kepada penggantinya Gubernur Jacob Lobs bertanda Ternate 31 Agustus 1682, Padtbrugge menyebut Raja Piantay berdiam di negeri Leang yang berpenduduk 700 rumah tangga, dan negeri Coejang di bawah Raja Takanetang sebanyak 70 rumah tangga. Manganitu berkewajiban menyediakan tiga korakora dengan 150 tenaga wajib kerja untuk kepentingan Kompeni, dan bersama dengan Kendahe dan Tahuna harus menyetor saban tahun 1.000 tempayan minyak kelapa. 

Padtbrugge ingkar janji. Padtbrugge yang dipromosikan menjadi Komisaris Provinsi Timur (Ambon, Banda dan Maluku) sekaligus Gubernur Ambon, telah menginstruksikan penggantinya sebagai Gubernur Maluku Jacob Lobs untuk memastikan bahwa tidak ada anak Piantay yang diizinkan untuk memimpin kerajaan Manganitu atau menggantikan ayah mereka. Sedangkan kepada Gubernur Jenderal Cornelis Speelman dan Dewan Hindia, 31 Agustus 1682 itu Padtbrugge menggambarkan Raja Piantay sebagai pengikut setia Spanyol yang sangat keras, menuduhnya labil dan tidak stabil dalam semua tindakannya.  

Upaya Piantay sebelum kedatangan Padtbrugge dengan mengirim putra sulungnya ke Manila dengan sebuah korakora besar untuk meminta bantuan Spanyol melawan Kompeni diungkit-ungkit. Piantay tidak pernah dapat dibujuk untuk memulangkan kembali putranya tersebut. 

Hubungan Raja Piantay dengan Takanetang berubah memburuk di tahun-tahun akhir hidupnya. Ia dilaporkan bersengketa pula dengan dua jogugu Tabukan David Pandjalang dan Thomas Wala. 

Bobatonya ikut mengadukannya. Sangaji Simon Makalibu dalam surat kepada Raja Muda Don Martin Takanetang bertanda Manganitu 18 Juli 1689 melaporkan Piantay melakukan tindakan melawan Kompeni lima tahun sebelumnya. Ketika itu Piantay telah mengumpulkan semua bobato di rumahnya dan memutuskan mengirim Louis Coenca ke Manila kepada Gubernur Spanyol, mengaku bahwa dia ingin keluar dari Kompeni dan meninggalkan iman Kristen Protestan.

Surat yang turut diteken Gabriel Tamoesora, guru bantu Anthony Makapedua dan guru Lucas Fortados diteruskan Takanetang kepada Kompeni dan diterima Komisaris Dirck de Haas dan Gubernur Joannes Cops. 

Menurut Makalibu, Louis Coenca dengan 18 orang yang berangkat bersamanya akan memanggil Spanyol dan Inggris, dimana Piantay akan menyerahkan kerajaannya kepada Spanyol atau Inggris, dan jika mereka tidak setuju untuk datang membantunya, ia bermaksud melarikan diri ke Manila dan menyerang Kompeni. 

Namun Gubernur Joannes Cops tidak bertindak apa-apa, meski mengkhawatirkan musuh Kompeni akan memanfaatkan keadaan dengan suasana hati Raja Piantay yang berubah-ubah. Tapi Piantay sendiri dalam suratnya berkali-kali menyatakan kesetiaannya kepada Kompeni. 

''Selama-lamanya saya memegang tuan Kompeni. Saya belum lawan sabda dan titah tuan-tuan,’’ demikian jawaban Piantay bertanda Manganitu 2 Juni 1693.

 

SELISIH MAHKOTA   

Raja Carlos Piantay memiliki sejumlah anak dari ratunya bernama Michaela Licotaja serta selir bernama Dominga Belia. Dari inventarisasi warisannya diketahui Piantay sangat kaya, memiliki banyak harta, emas dan budak. 

Raja Piantay meninggal dalam usia tua tanggal 15 Juni 1693. 

Putra keduanya Pangeran Dirk Piantay atau Dirk Oudouman segera menuntut haknya untuk menggantikan ayahnya. Tapi permintaannya tidak disetujui pengganti Cops, Gubernur Cornelis van der Duyn dan Dewan Maluku. Duyn menjalankan pesan Padtbrugge untuk menunjuk raja muda Martin Takanetang menjadi satu-satunya raja berkuasa penuh di Manganitu. 

Menunggu pengangkatan kembali Don Martin Takanetang sebagai raja berkuasa penuh atas Manganitu, pemerintahan Manganitu dijalankan Kapiten Laut Goan Manepugu, Sangaji Simon Makalibu dan Kimelaha Joan Sasasionge.  

Don Martin Takanetang mulai memerintah Manganitu sebagai pengganti Raja Piantay sejak 27 Agustus 1694 dan dikukuhkan kembali menjadi Raja Manganitu di Kastil Oranje Ternate pada tanggal 29 Januari 1695 dengan menandatangani pembaruan dari kontrak yang diteken Raja Piantay 10 Desember 1677. Pengangkatannya diperkuat dengan keputusan Gubernur Duyn 21 Februari 1695 yang menegaskannya sebagai raja absolut Manganitu. 

Klaim atas tahta Manganitu datang dari Pangeran Dirk Piantay. Selain itu ada sepupu Dirk, anak dari mantan Raja Don Santiago yang bernama Ferdinando Saint Jago. Tapi, berbeda dengan Dirk Piantay, Don Ferdinando tidak ambisius. Ia digambarkan komisi yang berkunjung sebagai seorang yang jujur dan berbudi luhur, juga takut akan Tuhan.

Pada Selasa tanggal 9 Juli 1697 dilaksanakan sidang raja dan mantri dengan Daniel Fiers dan Jan Walraven de la Fontaine komisi dari Gubernur Salomon Lesage, untuk memilih posisi jogugu yang selama beberapa tahun tidak diisi. Pangeran Dirk dan Ferdinando menjadi calon yang diusulkan. 

Tapi Dirk Piantay tegas menolak sebab berharap suatu saat akan menjadi raja. Jabatan jogugu dianggap upaya menyingkirkannya menjadi raja karena menyebabkan kehinaan. Dengan suara bulat pertemuan memilih Don Ferdinando Saint Jago yang menerimanya dengan memperoleh pengukuhan dari Gubernur Lesage. 

Sedari tahun 1709 hingga tahun 1715 Dirk Piantay didukung pamannya Kapiten Gillius Salomon Riol gencar menuntut adanya dua raja seperti di zaman ayahnya serta haknya untuk menjadi penguasa bersama Manganitu dengan gelaran raja. Dirk mendasarkan tuntutannya pada kontrak dan kesepakatan antara ayahnya Raja Carlos Piantay dan raja bersama Martin Takanetang. 

Tapi pemerintah Kompeni di Ternate lebih mendukung Manganitu di bawah satu raja, serta anak tertua Raja Martin Takanetang yakni Jacob Martin Lazarus sebagai calon pengganti ayahnya kelak. 

Ketika Martin Takanetang meninggal 13 Desember 1722, putranya Jacob Martin Lazarus yang dilantik sebagai raja, menyisihkan Dirk Piantay putra Raja Don Carlos Piantay ataupun Don Ferdinando Saint Jago putra Raja Don Santiago.

 

(Sumber tulisan naskah Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud).

 

SUMBER LAIN:

Colin, Francisco, Pablo Pastells, Labor Evangelica, ministerios apostolicos de los obreros de la Compania de Iesvs en las Islas Filipina, 1, Imprenta y Litografia de Henrich y compania, Barcelona, 1900.  

Heeres, J.E., F.W.Stapel,Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum 3 (1676-1691), BKI deel 91, Martinus Nijhoff,‘s-Gravenhage, 1934.

Jacobs, Hubert, Documenta Malucencia, vol.III 1606-1682, Instititum Historicum Societatis Iesu (vol.126), Roma, 1984.

Leupe, P.A., Het Journal van Padtbrugge's reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, BKI 14, 1867.

Valentijn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, 5, Joannes van Bram dan Gerard Onder de Linden, Dordrecht-Amsterdam, 1724.