Tampilkan postingan dengan label Minahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minahasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Mei 2023

Kapataran, Kisah Negeri Kristen Tondano Pertama

 

 

Lukisan Danau Tondano tahun 1820-an (New York Public Library).

 

 

Kapataran sekarang adalah ibukota Kecamatan Lembean Timur di Kabupaten Minahasa.


Sebelum dikenal dengan nama Kapataran, sampai awal abad ke-19, nama negerinya dalam berbagai dokumen adalah Atep, karena penduduk masih terkonsentrasi tinggal bermukim di pantai Atep di dekatnya. 

 

Atep didirikan oleh para pemukim Tondano (Touliang) yang pindah dari negeri besar Tondano pada abad ke-18. Bersama dengan Tataaran, Koya dan Telap, Atep termasuk negeri awal yang didirikan penduduk Tondano ketika masih tinggal di atas air Danau Tondano.


Keunikan Atep karena sejak awal berdiri masa Kompeni Belanda telah menyandang predikat sebagai negeri Kristen orang Tondano. Sebab penduduk Atep yang pertama menerima Kristen Protestan. Sementara Tondano pada umumnya masih pagan.

 

Sejarahnya, menurut dokumen Kompeni Belanda, dimulai tanggal 2 September 1779 ketika para Hukum Tondano menyatakan kepada Residen Manado bernama Koene Koenes (1778-1780) keinginan mereka untuk masuk Kristen dan meminta seorang guru untuk mengajar agama.

 

Kepala-kepala Tondano yang bertanda krois dalam surat tersebut adalah Hukum Tua (Oud Hoekum) Sumondak, Pangalila, Lensun dan Walintukan, serta para Hukum Muda (Jonge Hoekum) terdiri Mandagi, Rumende, Mogot, Kosegeran, Tambahani, Mamentu, Supit, Lowing, Wulur, Andu dan Rantung.

 

Untuk mewujudkan keinginan tersebut Rumende yang menjadi Hukum Muda di Atep dipercaya menjadi utusan dari para Hukum Tondano untuk pergi langsung ke Ternate menemui Pejabat Gubernur (Gezaghebber) Maluku Alexander Cornabe. Rumende dipilih dan ditunjuk mereka untuk menjadi pemimpin orang Kristen Tondano.

 

Permintaan para kepala Tondano melalui Rumende dipenuhi Cornabe. Predikant Ternate Ds.Georgius Jacobus Huther datang langsung ke Tondano bulan Agustus tahun 1780 dan melakukan pembaptisan pertama Tondano di negeri Atep. 

 

Hukum Rumende disetujui oleh Cornabe sebagai kepala orang Kristen Tondano dengan akte pengangkatan serta memperoleh simbol kehormatan sebagai tanda jabatan berupa rotan dan kenop perak.

 

Atep segera menjadi pusat komunitas Kristen Tondano. Padahal awalnya para kepala Tondano sengaja menyiapkan negeri baru Kolongan di pantai Tondano sebagai lokasi khusus untuk orang Kristen Tondano. 

 

Johannes Boot, pengganti Residen Koenes diperintahkan Cornabe  mengumpulkan semua penduduk Tondano yang telah masuk Kristen. Mereka harus pindah dan tinggal di negeri Atep, terpisah dengan penduduk yang masih pagan.

 

Sebuah sekolah dibuka pula oleh Predikant Huther, dengan menempatkan guru Urbanus Matheosz seperti keinginan para kepala Tondano.

 

BEDA FAM

Hukum Rumende memiliki saudara muda bernama Wuysang. Keduanya masuk Kristen dan memilih nama masing-masing sebagai fam.

 

Hukum Rumende dengan nama baptis lengkap Alexander Agatha Rumende. Nama depan Alexander untuk menghormati Cornabe. Sedangkan adiknya memilih nama Gerrit Jan Wuysang.

 

Jabatan Alexander Agatha Rumende dari Hukum Muda menjadi Hukum Tua dengan gelar resmi adalah Penghulu orang Kristen Tondano.

 

Gerrit Wuysang sendiri diterima menjadi serdadu (soldaat) Kompeni Belanda pada tahun 1781 dengan gaji 9 gulden. Gerrit masuk kesatuan milisi Borgo Manado, dan bekerja di garnisun benteng Amsterdam Manado dengan ikatan dinas selama 5 tahun. Masa kerjanya berulang diperpanjang residen karena kualifikasi dan kualitasnya.

 

Tahun 1791, Hukum Tua Atep sekaligus Penghulu orang Kristen Tondano Alexander Agatha Rumende jatuh sakit dan meninggal karena cacar. Wabah cacar di Minahasa ketika itu menelan korban jiwa yang besar.

 

Dengan persetujuan Gubernur Cornabe, adiknya Gerrit Wuysang diangkat sebagai Hukum Tua negeri Kristen Atep. Gerrit yang berusia 34 tahun diberhentikan terlebih dahulu sebagai serdadu di benteng Amsterdam Manado. Dalam dinas tersebut Gerrit menggunakan nama Jan Wuysang.

 

Gerrit Wuysang berperan besar dalam perang Minahasa di Tondano tahun 1808-1809. Gerrit pun membangun negeri Kapataran dengan memindahkan penduduk dari pantai Atep.

 

KRISTEN BARU

Setelah Pendeta Huther, Atep/Kapataran masih dikunjungi pula oleh Ds.Johan Ruben Adams tahun  1791. 

 

Kemudian masa Hindia Belanda, pada Maret 1819 Predikant Semarang Ds.Dirk Lenting datang dan tinggal beberapa hari di Kapataran, di mana Lenting membaptis beberapa orang setiap hari. Sebagian besar adalah penduduk Kapataran sendiri, bahkan ada dari negeri-negeri di tepi danau dan dekat Tondano. Sebanyak 530 orang dibaptis dan semuanya masih muda.

 

Tahun 1819 ini oleh Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) dicatat sebagai pendirian dari Jemaat (Gemeente) Kapataran dengan Lenting sebagai pendiri.

 

Setelah kunjungan Lenting, Predikant Ambon Ds.Joseph Kam ikut mengunjungi Kapataran dan membaptis beberapa penduduknya.1

 

Namun, pekerjaan para predikant sejak periode Kompeni tersebut kemudian terbengkalai hingga Zendeling NZG Johan Friedrich Riedel datang bekerja di Tondano. 

 

Pendeta Sierk Coolsma mengungkap orang-orang Kristen di Kapataran sangat bangga dengan nama Kristen mereka. Tapi masih tenggelam dalam kekafiran dan tanpa kehidupan spiritual.

 

Ketika Riedel pertamakali mengunjungi Kapataran tahun 1833 dia menemukan hanya sisa beberapa orang Kristen, dan sebuah sekolah yang telah berdiri di Kapataran sejak masa Kompeni.

 

Tapi selama bertahun-tahun, Riedel hanya membaptis beberapa anak dari orang tua Kristen, dan menolak untuk membaptis orang dewasa.

 

Riedel kecewa karena meski ada sekolah, gereja, guru (meester) yang merangkap guru jemaat (voorgangers), kehidupan jemaat menyedihkan. Anak-anak tumbuh dengan bingung karena contoh buruk. Dibesarkan dalam ketidaktahuan dan ketidakpedulian. Orang yang dibaptis hanya melihat gereja dari luar dan hanya dua atau tiga orang yang masuk gereja di hari Minggu. Sebaliknya ia melihat kesombongan yang sia-sia atas nama agama Kristen karena mengikuti kebiasaan lama.

 

Masa sebelumnya pembaptisan selalu massal. Banyak orang dibaptis dalam ketidaktahuan, tidak siap dan tanpa pemeriksaan atau penguatan iman. 


Kotbah pertobatan dari Riedel yang tegas memberi pengaruh di jemaat lama Kapataran pada tahun 1847. Dan, pekerjaan Hessel Rooker sejak tahun 1855 berhasil mentobatkan semua penduduknya.

 

 

1.Dari berita tahun 1930, pada 22 November 1929 di Kapataran dilaksanakan pesta gereja memperingati 110 tahun kepala negerinya Wuysang dibaptis di Ambon oleh Pendeta Kam.

 

 

SUMBER:

Dokumen Kompeni Belanda.

Maandbericht van het Nederlandsche Zendelinggenootschap 1856.

Overzicht van Inlandsche en Maleisisch Chineesche pers no.6 1930.

S.Coolsma, Zendingseeuw voor Nederlandsch Oost-Indie, 1901

Rabu, 23 November 2022

Masih Negeri-negeri Minahasa Tahun 1770

 



Negeri Tondano tahun 1820-an. Resepsi Gubernur Pieter Merkus menyambut perwira kapal L'Astrolabe di bawah Laksamana Jules Dumont d'Urville (lukisan Louis Auguste de Sainson, koleksi New York Public Library). 


Sejak pertengahan tahun 1760-an, sebutan kepala negeri Minahasa menjadi Oud Hukum, atau Hukum Tua, untuk kepala negeri besar, sementara negeri kecil dipimpin oleh kepala bergelar Jonge Hukum, atau Hukum Muda. Jajaran bobato tetap seperti sediakala. Belum ada klasifikasi umum pembagian sebagai balk atau balak (walak). Tapi Hukum kepala dari negeri-negeri besar yang telah ada sejak sebelum tahun 1679, rata-rata menjadi pemimpin utama dari hukum negeri-negeri kecil.

Pemimpin negeri-negeri ini pun sejak tahun 1780-an diberi sebutan unik sebagai Penghulu, seperti dilaporkan George Frederik Durr ketika datang sebagai komisi dalam kedudukan fiscaal.

 

Model pemerintahan Minahasa belum tertata baik, karena pada negeri yang kemudian menjadi dasar balak lalu distrik, sering muncul dua kepala, sementara satu negeri dapat memiliki banyak hukum.

 

Ini terjadi sepanjang era Kompeni Belanda di Minahasa. Di banyak negeri utama sering bukan hanya satu kepala saja. Ares umpama, selalu muncul dua kepala utama dengan gelar Hukum Majoor. Dimulai dari Lasut dan Lolabi tahun 1690-an hingga dekade kedua abad ke 18. Pengganti mereka adalah Hukum Majoor Rumondor. Namun tanggal 26 Juni 1726 Residen Jan Swigtman mengangkat Tololiu, anak Supit sebagai Hukum Majoor Ares pendamping Rumondor yang belakangan digantikan Hukum Majoor Lolong.

 

Demikian pula Tombariri. Tahun 1725 terdapat dua kepala bergelar Hukum Majoor. Masih masa Supit, kemudian anaknya Hukum Majoor Tinangon yang berkedudukan di Lolah, sementara di Ranowangko berada Hukum Majoor Kaligis.

 

Tonsea ikut mengalaminya setelah Kema dibuka sebagai pos militer dan pelabuhan penting. Pengganti Hukum Majoor Wenas di Kema adalah putranya bernama Fetor yang sebelumnya berpangkat Kapiten, diberi titel Hukum Majoor. Sementara di negeri tua Tonsea Lama adalah Hukum Majoor Pongoh. 

 

Di Klabat Bawah yang kecil di kawasan Manado bersama pengangkatan Tololiu tahun 1726, sekaligus lima orang kepala diangkat dengan gelar Hukum Majoor. Satu dinaikkan dari posisi Hukum (Makaij), dua dari Kapiten Majoor (Lumentut dan Rohom), dan dua dari Kapiten (Peendang dan Pandong).

 

Kompeni Belanda royal pada pengangkatan banyak kepala. Sebab hanya di satu negeri bisa ada lima, bahkan lebih tokoh dengan gelar hukum.

 

Seperti di Kema bulan Juni 1770. Selain Willem Dotulong, ada hukum-hukum Kema lainnya bernama Hendrik Maramis, Rompis, Adriaan Kalempouw, dan Khures.

 

Berikut masih negeri-negeri yang ada di Minahasa di tahun 1770.

 


TONDANO.

Enam negeri, dengan penduduk laki-laki 3.200 orang.

 

1.De grote water negorij (Negeri besar di atas air).

  2.Tatarang (Tataaran).

  3.Kooija (Koya).

  4.Haethae (Atep).

  5.Tellap (Telap), dan

  6.Totto mtollo (?).

 

REMBOKKAN (Remboken).

Dua negeri, dengan penduduk laki-laki 700 orang.

 

  1.Rambokkan (Remboken), dan

  2.Mahatanij (Matani).

 

KAKKAS (Kakas).

Dua negeri, dengan penduduk laki-laki 800 orang.

 

  1.Kakkas (Kakas), dan

  2.Passoe (Paso).

 

TONGKIMBUT-AMOERANG (Tongkimbut-Amurang).

Tujuh belas negeri, dengan penduduk laki-laki 3.000 orang.

 

  1.Kawankoan (Kawangkoan).

  2.Roemong (Rumoong).

  3.Tanbasjang (Tombasian).

  4.Lindaan.

  5.Tanpa-an (Tumpaan).

  6.Tinandek.

  7.Lelema.

  8.Kapaija (Kapoya).

  9.Riteij (Ritei).

10.Pinapalankau (Pinapalangkow).

11.Pina maranga (Pinamorongan).

12.Pale (?).

13.Romong boven (Rumoong Atas).

14.Tombasian boven (Tombasian Atas).

15.Kawankoan (Kawangkoan Bawah).

16.Oewie (Kayuuwi).

17.Makalipsoep (Makalisung).

 

SONDER

Dua negeri, dengan penduduk laki-laki 900 orang.

 

  1.Sonder, dan

  2.Kalongan (Kolongan).

 

TOMPASSO (Tompaso).

Empat negeri, dengan 600 penduduk pria.

 

  1.Tompasso (Tompaso).

  2.Kamanga.

  3.Kinalie (Kinali), dan

  4.Tolok.

 

LANGOAN (Langowan).

Lima negeri, dengan penduduk pria 1.100 orang.

 

  1.Langoan (Langowan).

  2.Tonnollit (Tounelet).

  3.Baelang (Wolaang).

  4.Sallinreko (?), dan

  5.Palanbaeng (Palamba).

 

PONOSAKKAN (Ponosakan).

Lima negeri, dengan kaum pria 900 orang.

  1.Ponosakkan (Ponosakan).

  2.Boeko (Buku).

  3.Moentaij (Muntoi).

  4.Kallanbangan (?), dan

  5.Tawawae (Tobabo).

 

DATAHAN (Ratahan).

Enam negeri, dengan penduduk pria 350 orang.

 

  1.Datahan (Ratahan).

  2.Taliemboekan (Tolombukan).

  3.Waij waijhan (Wawali).

  4.Razzawoe (Rasi).

  5.Tallo mawa (Talumawa), dan

  6.Toewonto (Towuntu).

 

PASSAN (Pasan).

Dua negeri, dengan penduduk pria 250 orang.

 

  1.Passan (Pasan).

  2.Kalie (Kali).

 

TONSAWANG

Tujuh negeri, dengan kaum pria 1.000 orang.

 

  1.Kaijanga (Kuyanga).

  2.Talla malie (Kali?).

  3.Tammimjies (?).

  4.Tanbato (Tombatu).

  5.Katoakan (Katuakan).

  6.Silla (Silian).

  7.Laboe (Lobu).

 

Total seluruh Minahasa seratus dua negeri, dengan jumlah penduduk pria 20.350 orang.***