 |
| Makam Claas Ponto di dekat bekas komalig Bolaangitang. Foto Iftiqar S.A.Ponto |
Ponto adalah dinasti yang pernah memerintah kerajaan kecil Bolaangitang, nama yang sekarang terlestari pada dua kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Silsilah keluarga Ponto mencatat nama Ponto anak Duongo yang beristrikan Kinabi sebagai leluhurnya. Saudara lain Ponto adalah Solagu, Goma, Tegila dan Laidi. Duongo sendiri adalah anak Tuhinga dan cucu Anggapuajo, saudara Pugu-Pugu yang dikenal sebagai Raja Kaidipang Binangkal bersama Mobiling, Dotinggula, Pino, Malimang dan Entebu.
Surat-surat
tinggalan Ratu Dona Magdalena Linkakoa, Jogugu Jeremias Solano serta Jogugu Nicolaas Ponto mengungkap detil-detil
yang hilang dari sejarah Bolaangitang.
Dari silsilah
para penguasa Bolaangitang tulisan para mantri (bobato) bertanda Boulangitang 23
Juni 1727, Ratu Magdalena Linkakoa adalah anak dari Raja Pinonja dan cucu Raja
Pinankan merupakan keturunan langsung Putri Bilobulawa yang dianggap sebagai ratu
pendiri kerajaan Bolaangitang.
Linkakoa
kawin beberapa kali. Setidaknya dikenal empat nama yang menjadi suami Linkakoa.
Pertama
adalah Mobiling. Sebuah perkawinan politik yang dirancang oleh Raja Siau dan
Raja Bolaang Mongondow setelah penaklukan Kaidipang, dimana Mobiling diangkat
sebagai Raja Kaidipang dan Linkakoa Ratu Bolaangitang. Keduanya memerintah atas
masing-masing kerajaan bagiannya serta memerintah bersama kedua kerajaan
tersebut. Tapi keduanya memiliki karakter berbeda dan tidak mau begitu saja
menerima keputusan para penakluk menyatukan kerajaan mereka. Keduanya bercerai.
Mobiling memiliki seorang anak dari perkawinan lain bernama Tiaha yang setelah
dibaptis Kristen Reformasi menggunakan nama Willem Cornput. Ketika Mobiling meninggal,
saudaranya Binangkal datang dari Buol dan mengklaim tahta Kaidipang.
Cerai
dari Mobiling, Linkakoa kawin dengan Intji Mannis seorang pangeran yang tahun
1674 diangkat menjadi Raja Taywila, sekarang Tawaeli kecamatan di Kota Palu. Linkakoa
mengangkat suaminya tersebut sebagai Jogugu Bolaangitang pengganti Barmalipu
yang dibunuh atas perintah Linkakoa Juni 1680.
Nama
ketiga yang dikenal adalah Don Carlo yang juga menjabat jogugu dan meninggal
sebelum tahun 1690.
Kendati
sudah berusia tua, Linkakoa kembali menikah pada Minggu 19 Agustus 1690 dengan
laki-laki muda bernama Augustyn Moloto Boegoe (Bugu) asal negeri Langan.
Perkawinannya bersama dua pasangan lain dilakukan oleh Predikant Ternate
Ds.Gillius Cammiga yang melakukan kunjungan gereja dan sekolah di Bolaangitang.
PEWARIS
Dari
perkawinan-perkawinan itu Linkakoa tidak memiliki anak. Namun Linkakoa telah
mengangkat sebagai anak kemenakannya bernama Jeremias Solano. Ia adalah putra
dari sangaji bernama Fabian Salabi dengan Dona Maria Duongo atau Dwong, adik wanita
Linkakoa. Jeremias dibesarkan sedari kecil dan dididik sendiri oleh Linkakoa
sebagai calon dan pewaris mahkota kerajaan Bolaangitang. Jeremias mengawini
wanita bernama Maria Ceabo yang ditemui Ds.Cammiga Agustus 1690.
Tanggal
30 April 1694 Linkakoa meninggal dunia setelah menderita sakit.
Vandrig
David Haak, komisi dari Gubernur Cornelis van der Duyn dalam catatan hariannya
bertanda loji Kompeni di benteng Amsterdam Manado 3 Mei 1694 mengungkap pesan
terakhir Linkakoa kepada komandan pos Kaidipang Kopral Jacob Jojeus. Ketika
Jojeus bertanya apakah Linkakoa memiliki sesuatu untuk diungkapkan kepada
Kompeni, Linkakoa mengaku tidak memiliki permintaan apa-apa, selain bahwa
setelah kematiannya adalah Jeremias Solano yang akan menggantikannya sebagai
raja, dan saudara Jeremias bernama Augustin Solago sebagai jogugu, keduanya
putra saudara perempuannya Dona Maria Duongo.
Sebelumnya
juga Linkakoa kepada Fiskal Jacob Claasz serta para bobato telah memesan anak
angkatnya Jeremias sebagai raja pengganti.
Namun
Haak menolak keinginan terakhir Linkakoa ini. Ia memerintahkan Jojeus agar
pemerintahan Bolaangitang untuk sementara dijalankan oleh para bobato di bawah
Kapiten Laut Pedro Goma.
Pemerintahan
Goma dianggap tidak efektif sehingga dengan keputusan Gubernur Duyn 11 Februari
1695 dipilih Willem Cornput anak tiri Linkakoa sebagai regent Bolaangitang.
Duyn menjalankan pesan mantan Gubernur Robertus Padtbrugge bahwa sepeninggal
Linkakoa penggantinya adalah Willem anak Mobiling.
Willem
Cornput mendapat dukungan kuat dari pamannya Raja Kaidipang Maurits Binangkal
yang menginginkan Bolaangitang menjadi satu dengan Kaidipang. Binangkal termasuk
Padtbrugge selalu menganggap Bolaangitang adalah bagian Kaidipang yang
terpisahkan ketika diinvasi dan dibagi dua oleh Siau dan Bolaang Mongondow.
Cornput sebelumnya telah dipercaya Binangkal sebagai Jogugu Kaidipang dan calon
penggantinya kelak.
Keputusan
Gubernur Duyn diprotes Jeremias Solano beserta ayahnya Fabian Salabi dan ibunya
Dona Maria Duongo serta hampir semua bobato Bolaangitang yang ingin mengikuti
wasiat Linkakoa. Tapi penolakan mereka berakhir ketika Sekretaris Pieter
Alsteyn yang dikirim sebagai komisi mengancam akan menggabungkan Bolaangitang
di bawah Dauw Kaidipang apabila tidak mendukung Willem Cornput. Alsteyn beralasan Willem Cornput berhak menjadi pengganti
Linkakoa, karena ayahnya Mobiling pernah menikah dan memerintah bersama dengan
Linkakoa.
Dalam
jurnalnya Alsteyn mencatat pertemuan yang dipimpinnya di rumah Kopral Jojeus di Dauw Rabu 1 Juni 1695 dihadiri Raja Binangkal, Jogugu Willem Cornput serta
mantri Kaidipang dan di lain pihak para mantri Bolaangitang terdiri Jeremias
Solano, Augustin Solago, Sangaji Fabian Salabi dan Kapiten Laut Pedro Goma.
Pertemuan yang berlangsung hingga esok hari menyepakati Willem Cornput menjadi
Raja Bolaangitang dengan Jeremias Solano sebagai jogugu.
Keputusan
resmi dari pemerintah tinggi di Batavia untuk Solano sebagai jogugu turun 28
Januari 1696 bersama pengangkatan Raja Tahuna Don Louis Melangin.
SENGKETA PANJANG
Kendati
demikian hubungan antara Jogugu Solano dan Raja Willem tidak mulus, meski mereka
berbesanan.
Putra tertua Jeremias dari istrinya Maria Ceabo bernama Nicolaas atau Claas Solano yang
belakangan menggunakan nama Claas Ponto kawin dengan Jacomina Kinabi, putri
Willem Cornput.
Tahun
1697 ketegangan kembali timbul. Dona Maria Duongo dalam surat bertanda Boulang
Itang 11 Oktober 1697 bermohon pada Gubernur Salomon Lesage supaya mahkota Bolaangitang
diberikan kepada cucunya Claas Solano. Permintaan ini didukung Jogugu Jeremias
Solano.
Namun
komisi di bawah Fiskal Pedagang Daniel Fiers dan Boekhouder Pedagang Muda Jan
Walraven de la Fontaine mendamaikan mereka dalam pertemuan di Dauw dan
Bolaangitang 6 dan 8 Agustus 1698. Jeremias Solano dan Willem Cornput
menandatangani perjanjian kesepahaman, pengakuan terhadap Raja Willem sekaligus
penyelesaian masalah-masalah budak tinggalan Ratu Linkakoa.
Kuasa Raja
Willem justu makin besar ketika Raja Kaidipang Maurits Binangkal meninggal 19
September 1699. Gubernur Lesage ingin Bolaangitang disatukan dengan Kaidipang. Dengan
surat bertanda Ternate 29 Mei 1700 Lesage melapor kepada Gubernur Jenderal
Mr.Willem van Outhoorn telah menginstruksikan Komandan Manado Sersan Henry de
Chieze, agar Kaidipang dan Bolaangitang berada di bawah kekuasaan Willem
Cornput.
Tanggal
17 Maret 1702 Willem Cornput diangkat resmi sebagai Raja Kaidipang dan
Bolaangitang berkedudukan di Dauw Kaidipang. Satu kerajaan tapi dengan dua
mantri terpisah di Kaidipang, dan mantri di Bolaangitang yang memiliki otonomi sendiri
di bawah Jogugu Jeremias.
Tapi pengabungan
Bolaangitang dengan Kaidipang tidak menyudahi perselisihan mereka. Raja Willem
berkali melaporkan Jogugu Jeremias kepada gubernur dan Dewan Maluku sebagai
tidak setia kepadanya.
Perselisihan
memuncak tahun 1723, 1724 dan 1727. Jogugu Jeremias Solano dan mantri
Bolaangitang meminta Gubernur Jacob Cloek mengangkat Claas Ponto sebagai raja.
Kepada Pedagang
Kepala Jacob Boner yang menjadi pemangku sementara gubernur Maluku, Jogugu
Jeremias dalam surat bertanda Boulang Itam 23 Juni 1727 kembali mengingatkan
Bolaangitang sejak awal merupakan kerajaan merdeka dan terpisah dari Kaidipang
dimulai Ratu Bilobulawa hingga Ratu Linkakoa. Dirinya sebagai pewaris sah
Linkakoa menagih Kompeni untuk mengangkat anaknya Claas sebagai Raja
Bolaangitang.
Namun
dalam surat bertanda Kastil Oranje Ternate 24 Mei 1727, Raja Willem Cornput menentang
pemisahan kembali. Alasannya bertentangan dengan kontrak 1702 yang mengakui
dirinya sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang. Perjanjian mana dihadiri dan
ikut ditandatangani oleh Jogugu Jeremias.
Rekonsiliasi
ditandatangani 2 Juli 1727 di depan Boner di Kastil Oranje antara Claas Ponto
yang mewakili ayahnya bersama mantri Bolaangitang dengan Raja Willem dan mantri
Kaidipang. Keputusan Bolaangitang tetap mengakui Willem Cornput sebagai raja
mereka.
Raja
Willem kemudian mengundurkan diri dan putranya Albertus Cornput dilantik 4
Agustus 1729 sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang. Jeremias Solano yang
lanjut usia ikut mengundurkan diri. Claas Ponto dilantik Gubernur Elias de
Haeze sebagai jogugu baru Bolaangitang 3 Oktober 1729.
Perselisihan
justru melebar. Ketika Claas kembali dari Ternate 8 November 1729 setelah
pelantikannya ia tidak menemukan istrinya Jacomina Kinabi. Kinabi yang telah
memberinya empat anak, 3 perempuan dan 1 laki-laki telah diambil kembali oleh ayahnya
mantan Raja Willem serta saudaranya Raja Albertus. Kinabi membela ayahnya dan
saudaranya. Dalam surat bertanda Caudipan 10 April 1732 Kinabi mengaku tidak
bahagia, karena Claas memiliki wanita lain, bahkan sampai enam orang dan ada
yang memiliki anak.
Sengketa
mahkota Bolaangitang terus berlanjut diantara keturunan Jeremias Solano dan
Willem Cornput.
Ketika
Claas Ponto meninggal April 1752, pemerintahan Bolaangitang untuk sementara
waktu dijalankan bobato, karena Raja David Cornput menolak Israel Ponto anak
Claas menjadi jogugu pengganti. Sampai tiga kali dipanggil ke Ternate oleh Gubernur
Jan Elias Mylendonk baru Raja David setuju.
Israel
Ponto diangkat sebagai jogugu Bolaangitang oleh Residen Jan Smith dengan
keputusan gubernur baru Abraham Abeleven 23 Februari 1757.
Seperti
ayahnya Israel Ponto memperjuangkan kemerdekaan Bolaangitang dari Kaidipang. Untuk
meredakan tuntutan Bolaangitang Abeleven menaikkan jabatan Israel dari jogugu
menjadi Jogugu Penghulu atau regent.
Israel
Ponto meninggal akhir tahun 1769. Pengganti sebagai jogugu penghulu sejak 1770 adalah
putranya yang bernama Nicolaas Ponto. Namanya sama seperti kakeknya Claas.1
Nicolaas
bertindak berani. Tahun 1771 ia menunjuk Anthony Daniaenu menjadi jogugu dan
dua orang lainnya sebagai kapiten raja. Raja Jacobus Cornput menolak sebab jabatan
kapiten raja adalah hal baru. Kepada Gubernur Jacob Valckenaer ia beralasan
Nicolaas bukan raja. Komisi di bawah Sekretaris Bartholomeus van de Walle dan
Dirk Vrymoet menyetujui promosi tapi dengan koreksi pada posisi kapiten raja.
Ia diingatkan pengangkatan mantri harus dengan izin dan sepengetahuan raja di
Kaidipang dan Kompeni.
Pada
tahun 1788 Nicolaas Ponto kembali berselisih dengan Raja Willem David Cornput.
Ia meminta rakyat menghormatinya dengan gelar raja, dan untuk merayakan dilaksanakan
pertunjukan kolintang sepanjang malam. Residen Johan Daniel Schierstein dalam
surat kepada Gubernur Alexander Cornabe bertanda Benteng Amsterdam Manado 11
Desember 1788 mengutip utusan yang menemuinya bahwa, ‘’Tuan Raja Boelangitam
minta bermain koelintang entero malam.’’
Schierstein
mengaku menegur Nicolaas Ponto karena Kompeni belum membuat kontrak pribadi dengannya.
Ia memastikan bahwa tidak ada satu pun hak istimewa yang diberikan kepadanya
oleh Kompeni. Nicolaas Ponto menjawab utusannya mungkin telah menggunakan nama
raja karena ketidaktahuannya.
Bolaangitang
baru menjadi kerajaan kembali ketika anak Nicolaas yakni Salomon Ponto
menyatakan Bolaangitang menjadi kerajaan independen yang terpisah dari
Kaidipang pada masa pemerintahan Kompeni Inggris.2
Salomon
Ponto diakui sebagai Raja Bolaangitang ketika bersama mantrinya pada 1 April
1811 menandatangani kontrak politik dengan Residen Inggris Kapten Charles
Forbes di Benteng Amsterdam Manado.
1.Dari
tradisi Bolaangitang anak dan pengganti Israel Ponto bernama Antogia Ponto.
2.Tradisi
menyebut pula Salomon Ponto mengganti ayahnya Antogia dan dilantik sebagai Raja
Bolaangitang pertama pada 21 November 1793. Mantan Residen D.F.W.Pietermaat,
J.B.J van Doren dan Komisaris Emanuel Francis memastikan peristiwa ini baru terjadi
masa pemerintahan Kompeni Inggris.
(Sumber tulisan
naskah Bolaang Mongondow Masa Kompeni dan
Hindia-Belanda).
SUMBER LAIN:
Coolhaas, W.Ph., Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel
7 1713-1724; deel 8 1725-1729; deel 9 1729-1737.
Doren, J.B.J.van, Bijdragen tot de kennis van verschillende overzeesche landen, volken, enz, 1 Amsterdam,
1860.
Francis, E., Herinneringen uit den levensloop van een
Indisch Ambtenaar van 1845 tot 1854, 3, Batavia, 1860.
Leupe, P.A., Het Journal van Padtbrugge's reis naar
Noord-Celebes en de Noordereilanden, BKI 14, 1867.
Pietermaat, D.F.W., Statistieke aanteekeningen over de
Residentie Menado, TNI jrg 3, 1840 (1e deel) no.3.
Silsilah Keluarga
Ponto koleksi Iftiqar S.A.Ponto.
Usup, H.T., Sejarah Singkat Kerajaan Kaidipang Besar
(Kaidipang dan Bolaang-Itang), 2, Manado, 1979.
Valentijn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, 5, Joannes van
Bram dan Gerard Onder de Linden, Dordrecht-Amsterdam, 1724.