Rabu, 10 Desember 2025

Sejarah Kerajaan Saban dan Limau

 


 Perahu khas rimpolaen kerajaan Tabukan.
Indie, Juni 1921. 

 

(Tulisan disarikan dari naskah Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud).

 

Di Pulau Sangihe Besar pernah berdiri kerajaan Saban dan Limau, bersesakan dengan kerajaan tradisional seperti Tabukan, Manganitu, Tahuna, Kendahe bahkan sempalan Manganitu Cayuris (Kauhistermasuk Tamako kantong Siau di Sangihe. Selain Tabukan yang merupakan kerajaan terbesar, kerajaan-kerajaan ini tergolong mini karena hanya memiliki beberapa negeri. Bahkan hanya satu atau dua negeri dengan penduduk dari ratusan hingga beberapa ribuan orang saja di dekade akhir paruh kedua abad ke-17. 

Kerajaan Saban dan Limaupun masing-masing hanya terdiri satu negeri saja. Kedua kerajaan bukan merupakan kerajaan asli yang didirikan oleh penduduk Sangihe, karena dibentuk oleh kesultanan Ternate yang mengklaim kepemilikan atas Sangihe. Umur kedua kerajaan tersebut hanya singkat berlangsung sedari tahun 1673 hingga tahun 1679. 

Tokoh utama dibalik pembentukan kedua kerajaan ini adalah Don Philip Datunseka atau menurut Gubernur Robertus Padtbrugge bernama Philip Sasukul, seorang bangsawan Tahuna dari negeri Saban yang sekarang dikenal dengan nama Sawang. Philip Datunseka adalah putra dari Don Pedro Melangin penguasa Saban sebelumnya. Bersama ayahnya, ia dibaptis menjadi Kristen Katolik oleh padri Spanyol. 

Don Philip Datunseka kemudian mengawini putri Raja Tahuna Don Juan Buntuan yang masih berkedudukan di negeri Kolongan. Ia menjadi salah seorang penasehat dekat Buntuan bahkan dipromosikan ayah mantunya menjadi jogugu di Saban. Tahuna ketika itu merupakan sekutu Spanyol. Di negeri Kolongan yang kemudian dipindahkan ke Tahuna berada sebuah garnisun kecil Spanyol. 

Pengaruh Kompeni Belanda yang semakin kuat di Kepulauan Sangihe menyebabkan Raja Don Juan Buntuan diam-diam sejak tahun 1663 berkomunikasi menyatakan keinginan dan komitmennya untuk bersekutu dengan Kompeni. 

Tahun 1666 Raja Don Juan Buntuan dan jogugunya di Saban Don Philip Datunseka sengaja datang ke Ternate bertemu dengan penguasa Maluku Komandan Anthony van Voorst.  

Tanggal 25 Agustus 1666 Komandan Anthony van Voorst melaporkan kepada Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker dan Dewan Hindia Belanda, Tahuna dan Saban telah meninggalkan Spanyol. Bersama dengan Raja Tabukan Kaicil Garuda menjadi teman dan sekutu dari Kompeni termasuk Raja Tagulandang Anthony Bapias (Bawias) yang merupakan anak dari Raja Tabukan. Tahuna dan Saban bahkan telah mengirimkan pasokan minyak kelapa untuk Ternate. 

Saban berkembang menjadi negeri semi merdeka karena ketokohan Don Philip dengan kekuatan prajurit yang hampir mengimbangi jumlah prajurit Tahuna. Pengganti van Voorst President Maximilian de Jonge tanggal 6 Juli 1669 mengungkap jumlah pria dewasa Tahuna yang sewaktu-waktu dapat dikerahkan untuk berperang sebanyak 400 orang sedangkan Saban berjumlah 300 orang. 

Dengan kekuatan sebesar itu Don Philip Datunseka menantang perang Raja Tabukan Kaicil Garuda yang memiliki 1.500 pria sebagai prajurit. Pemicunya masalah persipatan Saban dengan negeri Matane yang menjadi milik Tabukan. 

Don Philip Datunseka mengalami kekalahan. Tapberkat campur tangan dari President Maximilian de Jonge perdamaian dideklarasikan dengan Raja Garuda. 

Bahkan untuk mempererat kekerabatan Don Philip Datunseka kawin kembali dengan seorang saudara wanita dari Raja Garuda. Istri pertamanya putri Raja Don Juan Buntuan telah meninggal dunia. 

Raja Don Juan Buntuan wafat tahun 1668. Dan yang menggantikannya dari antara dua orang putranya Don Juan Pacarila dan Don Martin Tatandam, dipilih oleh President Abraham Verspreet tahun 1669 adalah putra bungsunya Don Martin Tatandam sehingga menyulut pemberontakan. Pacarila harus kalah dan lari dengan seratus pengikutnya meminta perlindungan dari Raja Siau Don Francisco Xavier Batahi di Tamako. 

Don Philip Datunseka yang ambisius tidak menghormati Raja Don Martin Tatandam, karena negeri Saban yang dipimpinnya hampir menyamai Tahuna, baik prajurit dan jumlah penduduk. Don Philip Datunseka tidak puas, ia ingin menjadi raja.  

Kesempatan ini datang ketika President Cornelis Francx datang di Manado bersama Ds.Daniel Brouwerius dengan jagt de Fortuyn dan chialoup de Perkit tahun 1673. Francx akan menandatangani kontrak persahabatan dengan Kapten Spanyol Andreas Serano dan Padri Francisco Miedes atas nama Raja Siau Don Francisco Xavier Batahi di Benteng Amsterdam Manado 13 Juli 1673 untuk tidak saling menggunakan kekerasan dalam keadaan apapun. Don Philip Datunseka dari Katolik pindah menganut agama Kristen Reformasi (Protestan).  

Menurut Predikant Jacobus Montanus yang berkunjung di Manado tahun 1673 dan 1675, President Cornelis Francx telah menjanjikan kepada Don Philip Datunseka sebuah tongkat rotan dan topi sebagai hadiah untuk konversi agamanya tersebut.  

Sementara President Francx ketika itu hanya mengukuhkan kembali Don Philip Datunseka dalam posisi jogugu di Saban dan Don Francisco Gotou di Tahuna. Mereka bersama tiga kapiten laut lainnya diberikan sebagai tanda jabatan satu tongkat rotan, serta hadiah kain poti


PEMBENTUKAN KERAJAAN

Meski belum lama dikukuhkan Francx dalam jabatan jogugu, Don Philip Datunseka berangkat ke Ternate bersama Kapiten Laut Tabukan Takaluman. Keduanya menemui Sultan Mandarsaha di istananya yang segera melantik Don Philip Datunseka sebagai pejabat Raja Saban, dan Takaluman pejabat Raja Limau. Don Philip Datunseka diislamkan pula oleh seorang kasisi. 

Don Philip Datunseka menafsirkan hadiah darpresident ketika ia menjadi Kristen Reformasi sebagai janji pengangkatannya sebagai raja. Menurut Ds.Jacobus Montanus pula, Don Philip Datunseka berangkat ke Malayu dan muncul di rumah President Cornelis Francx. Tapi Don Philip Datunseka tidak menerima apapun dari apa yang dijanjikan. Dari sana ia pergi ke istana Sultan Mandarsaha. Dia ditanya Mandarsaha apakah hadiah yang dijanjikan telah diberikan kepadanya. Segera setelah mengetahui bahwa hadiah belum diberikan, Mandarsaha menghadiahinya dengan serban. 

Fiskal Daniel Hellemans mencatat pengangkatan Don Philip Datunseka sebagai Raja Saban dengan anugrah topi, tongkat rotan, tulband, rok dan selendang dilakukan oleh Kaicil Majuda, sekretaris Sultan Mandarsaha, sadaha dan imam bernama Balangtangara. Sedangkan pejabat Raja Limau dilantik oleh Imam Bessi, Kapiten Laut Rheti dan seorang kimelaha. Ia pun menerima kehormatan sama. 

Kerajaan Saban mengambil penduduk dan wilayah milik Tahuna. Begitu pula kerajaan Limau mengambil penduduk dan wilayah Tabukan. Sultan Mandarsaha tidak merasa perlu meminta izin Raja Tahuna dan Raja Tabukan. 

Berbeda Raja Garuda dari Tabukan yang menahan dirkarena putrinya Somporiboan dijodohkan dengan Kaicil Sibori Amsterdam putra Sultan Mandarsaha dan tinggal di istana Sultan Ternate, Raja Tahuna Don Martin Tatandam tidak terima. 

Pembentukan kerajaan baru di tanah Tahuna ini membangkitkan kemarahan Raja Don Martin Tatandam. Kepada President Cornelis Francx tahun 1673 ia mencela tindakan Sultan Mandarsaha mengintervensi kerajaannya serta sikap plin-plan Don Philip. Tapi President Maluku tersebut tidak bertindak apa-apa. 

Raja Don Martin Tatandam menaruh harapan President baru Willem van Cornput akan menyelesaikan masalah tersebut. Dengan surat bertanda Taroena 14 April 1675 kepada pengganti Francx itu ia memprotes Don Philip karena Saban adalah negeri miliknya termasuk rakyatnya yang diambil dan dari Kristen dijadikan Islam. Tapi jawaban yang diperolehnya dari Ternate tanggal 19 Juni 1675 Cornput meninggal pada 15 Juni beberapa hari sebelumnya. 

Sultan Kaicil Sibori Amsterdam pengganti Mandarsaha justru bertindak lebih jauh. Ketika datang ke Pulau Sangihe Besar Maret 1675 untuk memerangi Raja Manganitu Don Santiago, di Tabukan ia mengukuhkan Don Philip Datunseka menjadi raja berkuasa penuh negeri Saban.

Lalu pada tanggal 24 Mei 1675 pejabat Raja Limau dikukuhkannya sebagai raja absolut Limau. Don Philip dihiasi dengan cassis Moor oleh Sultan Amsterdam. 

Raja Don Martin Tatandam masih menaruh harapan dengan menyurati pengganti sementara Cornput, Gezaghebber Pedagang Kepala (oppercoopman) Jacobus de Gheyn 5 Januari 1676, yang juga sia-sia.

Tapi Gubernur baru Robertus Padtbrugge berbeda. Padtbrugge yang ingin Kristen Reformasi dianut penduduk bersikap tegas terhadap kedua kerajaan tersebut. 

Raja Tabukan Kaicil Garuda yang kemudian menggunakan nama Don Francisco Makaampo sejak tahun 1675 terang-terangan pula menolak keberadaan kerajaan Limau setelah putrinya dipulangkan Sultan Amsterdam. Tuntutannya makin kuat setelah Padtbrugge memberi jaminan perlindungan tanpa keterlibatan atau campur tangan dari Ternate lagi. 

Raja Limau sejak tahun 1677 itu telah membentengi negerinya, dan Raja Garuda menuduhnya hendak melawan Tabukan. Pada tanggal 3 Desember 1677 Padtbrugge disertai Raja Garuda dan Raja Tahuna Don Martin Tatandam mendatangi Limau dan menemukan Limau membangun garis pertahanan terhadap Tabukan serta sedang membangun sebuah benteng kecil. 

Raja Limau mengaku ia tidak memperkuat diri terhadap Tabukan yang berada di bawah Kompeni, melainkan terhadap Manganitu di selatan karena takut diserang. Tapi Padtbrugge mendesaknya untuk membongkar pertahanan tersebut dan mengembalikan ke keadaan sebelumnya. 

Limau ternyata tidak membongkar pertahanan mereka. 

 

TIDAK DIAKUI

Padtbrugge bertindak tegas dengan kerajaan bentukan Ternate Limau dan Saban. Ia menolak keberadaan kedua kerajaan tersebut. Tahun 1679 Padtbrugge memutuskan Limau adalah milik dari Tabukan dan Saban milik Tahuna. Don Philip Datunseka hanya dianggap sebagai satu jogugu dari Raja Tahuna Don Martin Tatandam dan Takaluman sebagai satu jogugu Raja Don Francisco Makaampo. 

Penolakan terjadi. Tapi Padtbrugge tidak lagi menoleransi. Ia mengirim ekspedisi dengan jagt Sampson, Amsterdam, Experiment dan chialoup den Eendragt di bawah pimpinan komandan militer Maluku Kapten Cornelis Sweerus dengan 98 serdadu yang berlabuh di Teluk Petta Tabukan pada 23 Maret 1679. 

Don Philip Datunseka dimakzulkan dari kedudukan raja. Don Philip akhirnya menyerah ketika Saban diduduki Sweerus yang dibantu pasukan tulungan dari seluruh kerajaan di Sangihe, Siau dan Tagulandang April 1679. Don Philip segera menyatakan kesetiaannya kepada Don Martin Tatandam dan menerima kembali jabatan sebagai jogugu Tahuna. Tapi Raja Limau menolak. Ia makin membentengi kuat negerinya yang berpenduduk 1.200 orang. 

Sultan Amsterdam dari Ternate mencoba membela kedua raja yang telah diangkatnya tersebut sebagai orang yang dihormatinya. Ia mengatakan dalam surat kepada Padtbrugge apabila Raja Limau seperti kakeknya sendiri sedang Raja Saban Don Philip sebagasaudara muda. Sultan Amsterdam telah mengirim ke Saban Jogugu Pangeran Alam bersama Kapiten Laut Rheti dengan satu perahu dan 6 orang pengiring. Tapi tidak mempengaruhi kebijakan Padtbrugge. 

Perlawanan raja dan penduduk di Limau sangat gigih selama dua bulan dan baru berakhir dengan terbunuhnya Raja Limau Takaluman pada tanggal 22 Juli 1679. Putra raja Pangeran Lauta serta Sangaji Cacana ditangkap bersama 30 wanita dan anak-anak.   

Pemimpin ekspedisi Kapten Cornelis Sweerus terbunuh di Limau pada 8 April 1679 akibat luka yang dideritanya. Korban lainnya empat serdadu Belanda. Dua serdadu terbunuh di Limau 6 April serta dua serdadu lain yang luka parah menyusul tewas tanggal 26 April. 

Selama ekspedisi yang telah dimulai sejak akhir Agustus 1678 tercatat sebanyak 52 orang Belanda meninggal. 

Limau hilang dari peta Tabukan. Penduduk sisa digabungkan dengan negeri Tabukan dan Matane. 

Seperti negeri Limau, Saban dihancurkan Padtbrugge pada November 1680. Semua penduduk dipindahkan Padtbrugge ke Tahuna. Sebanyak 416 laki-laki terdiri 46 dewasa yang telah dibaptis, 188 dewasa belum dibaptis, dan 182 anak laki-laki belum dibaptis, serta 392 perempuan (12 perempuan dewasa yang telah dibaptis, 290 perempuan dewasa belum dibaptis, dan 190 anak perempuan belum dibaptis). Terhitung dengan 60 tambahan baru, total penduduk yang dipindahkan ke Tahuna berjumlah 868 orang. Semua rumah di negeri Saban dibakar habis. 

Kerajaan Saban dan Limau berakhir. 

Nasib Jogugu Don Philip Datunseka berakhir tragis pula. Tahun 1687 ia ditahan atas perintah Gubernur Joan Henric Thim bersama Jogugu Siau Jeronimo Daras. Datunseka dituduh hendak melakukan pemberontakan terhadap Raja Don Martin Tatandam dan Belanda. Bekas Raja Saban tersebut dengan dirantai dibawa ke Batavia, dan kemudian dibuang dan meninggal di Pulau Ceylon sekarang Sri Lanka, sedangkan Daras dibuang di Pulau Obi Maluku. 

Putra Don Philip Datunseka Pangeran Carlos Cacambon pada tahun 1702 diangkat menjadi jogugu kedua negeri Saban yang menjadi bagian dari negeri Tahuna. Kejoguguan Saban dihapus ketika Carlos Cacambon meninggal tahun 1721, tinggal kejoguguan Tahuna dan Kolongan. Joannes Carlos Cacambon anak Carlos Cacambon ditunjuk sebagai jogugu Tahuna tahun 1727. Belakangan negeri Saban berdiri kembali di bawah perintah seorang jogugu pula. 

Salah seorang keturunan Raja Limau yang selamat Pangeran Lauta memilih dibaptis Kristen dengan nama Pieter Lauta. 

 

 

SUMBER:

Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, naskah.

P.A.Leupe, Het Journal van Padtbrugge's reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, BKI 14, 1867.

W.Ph.Coolhaas, Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel III, 1656-1674, deel IV 1675-1676.


Senin, 01 Desember 2025

Kisah Dona Catharina Maimunina Somporiboan dari Tabukan

 



Dua putri bangsawan Tabukan tahun 1927.
KITLV 505389. 

  


Perkawinan politik sejak awal telah membudaya di kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Sulawesi Utara. Putri Somporiboan dari Tabukan, sebuah kerajaan besar yang berada di Pulau Sangihe Besar adalah contoh klasiknya. Ayahnya adalah Raja Tabukan Kaicil Garuda sedangkan ibunya bernama Lolontingo adalah putri Raja Balango dari Tagulandang. Keduanya masih saudara sepupu, karena ayah Kaicil Garuda yakni Raja Francisco Gama bersaudara kandung dengan Raja Balango. 

Kecantikan Putri Somporiboan terkenal di mana-mana. Namun sejak kecil ia telah dijodohkan ayahnya dengan putra mahkota kesultanan Ternate Kaicil Sibori, anak tertua dari Sultan Mandarsaha, demi hubungan politik. Seperti kerajaan lain yang berada di Kepulauan Sangihe, Ternate mengklaim Tabukan sebagai miliknya, meski bolak-balik dibantah oleh para raja Tabukan, termasuk Kaicil Garuda sendiri. 

Putri Somporiboan kemudian dibawa ke Ternate. Kecantikannya memang menawan hati Kaicil Sibori atau dikenal pula dengan nama Kaicil Amsterdam. Di Ternate Somporiboan lebih terkenal dengan nama Putri Maimuna

Namun sampai tahun 1674, ia belum dinikahi secara resmi, sehingga membuat Putri Somporiboan merasa kecewa. 

Kecewa dan rasa gusar yang luar biasa dialami pula oleh ayahnya Kaicil Garuda yang merasa dipandang sebelah mata. 

Kekecewaan Kaicil Garuda kepada Ternate telah tumbuh jauh-jauh hari ketika Sultan Mandarsaha di Ternate membentuk kerajaan Limau dan Saban. Kerajaan boneka Limau mengambil wilayah serta penduduk Tabukan sedangkan kerajaan Saban mengambil penduduk Tahuna sebagai rakyatnya. Seorang kapiten lautnya bernama Takaluman telah diangkat sebagai penguasa Limau.  

Hal itu masih ditahannya. Tapi kehormatan putrinya berada di atas segala-galanya. Raja Garuda merasa kecilnya rasa hormat Sultan Mandarsaha terhadap dirinya. Ia membela putrinya sebab telah dijodohkan dengan Kaicil Sibori dalam jangka waktu lama, tapi tidak ada konsekuensi pernikahan.

Karenanya Raja Garuda bermaksud untuk membawa pulang putrinya dan mengantarnya ke Tagulandang untuk belajar agama Kristen. 

Tagulandang masa itu diperintah wakil raja yang mewakili cucunya Philippus Bawias yang belum dewasa, setelah kematian anaknya Raja Anthony Bawias. Di bawah pemerintahan Anthony Bawias sejak tahun 1664 Tagulandang beralih menjadi Kristen.

Penguasa Maluku dari Kompeni Belanda, President Willem van Cornput ketika berkunjung di Manado tahun 1674 mengkhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ia mendengar kabar tentang kekecewaan Raja Garuda tersebut dari kapiten laut Tabukan Agustus 1674

Untuk mengatasi hal tersebut kepada Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker dalam surat bertanda Malayu di Kastil Oranje 1 September 1674, Willem van Cornput menjanjikan akan menasehati Kaicil Sibori mengenai pernikahannya dengan putri Raja Tabukan. 

 

DIPULANGKAN

Pernikahan Kaicil Sibori dan Putri Somporiboan memang berlangsung. Namun ketika Kaicil Sibori naik tahta Ternate tanggal 1 Februari 1675 menggantikan ayahnya Mandarsaha yang meninggal 3 Januari 1675, bukannya diangkat sebagai permaisuri, Putri Somporiboan justru dikembalikan ke Tabukan.   

Kaicil Sibori memberi alasan Putri Somporiboan ingin pulang kembali dan ia tidak mampu menahannya. Belakangan Kapten Spanyol di Siau Andreas Serano menuduh putri Tabukan tersebut hanya sekedar selir yang diterlantarkan. Robertus Padtbrugge yang menjadi gubernur sejak 1 Desember 1676 membela Sultan Ternate itu bahwa Kaicil Sibori tidak pernah menahannya, juga tidak ditinggalkan atau mengusirnya, tapi pesan jujur kepada ayahnya sudah cukup.

Francois Valentijn sendiri menyebut alasan Putri Somporiboan dipulangkan Kaicil Sibori pada ayahnya karena tidak diterima rakyat Ternate yang pemarah dan Kaicil Sibori tidak berani mempercayai mereka dengan penolakan itu. Dibalik itu Kaicil Sibori sedang merencanakan mengawini tunangan masa kecilnya Dain Rooze, putri pamannya Kalamata yang tinggal mengungsi di Makassar, meski Rooze telah kawin dengan pangeran Makassar dan sedang hamil.

Raja Garuda masih berharap keduanya rujuk ketika Kaicil Sibori Amsterdam datang untuk memerangi Raja Manganitu Don Santiago (Saint Jago) pada awal tahun 1675 itu, sebab didesas-desuskan kedatangannya adalah untuk menjemput istrinya. 

Kaicil Sibori dan Putri Somporiboan sempat bertemu di Tabukan, bahkan bercengkerama di pantai. Tapi akhirnya berpisah, ketika sultan tersebut kembali ke Ternate pada bulan Juli 1675. 

Kekecewaan Raja Garuda terhadap Sultan Ternate dan Kompeni makin besar di bawah penguasa sementara Maluku Pedagang Kepala Jacobus de Gheyn yang mengganti Willem van Cornput yang meninggal 15 Juni 1675. De Gheyn kembali melontarkan kalimat bahwa Tabukan adalah milik Ternate. Padahal kepada komisi-komisi yang berkunjung Raja Garuda telah menjelaskan Tabukan tidak pernah menjadi wilayah taklukan Ternate, tapi hubungan kesetaraan dalam satu persahabatan sejak buyutnya Raja Makaampo. 

Diam-diam Raja Garuda mencari perhubungan dengan Spanyol dan Siau, yang menjadi musuh Kompeni dan Ternate, bahkan ia menyatakan keinginannya menjadi Katolik dan sekutu Spanyol. Para padri melihat peluang memperoleh sekutu dari kerajaan terbesar di Kepulauan Sangihe dan Talaud itu, dan mengatur rencana perkawinan antara Putri Somporiboan dengan Raja Siau Don Francisco Xavier (XaveriusBatahi yang menduda yang disetujui Raja Garuda dan Puteri Somporiboan

Tahun 1676 Raja Batahi mendatangi Tabukan dengan puluhan korakora dan binintang, lalu awal tahun 1677 ia kembali datang ke Tabukan dengan 30 perahu besar dan kecil untuk urusan perjodohan dengan putri Tabukan.

 

DISERANI DAN KAWIN DENGAN BATAHI

Namun keinginan Raja Garuda berubah setelah Gubernur Padtbrugge menaklukkan Raja Batahi dan Spanyol di Siau 1 November 1677. Apalagi Padtbrugge memberi jaminan perlindungan tanpa keterlibatan atau campur tangan dari Ternate lagi

Pada Jumat 3 Desember 1677 Raja Garuda dibaptis dengan nama Francisco Makaampo oleh Predikant Zacharias Caheyng, dengan saksi Padtbrugge dan Raja Tahuna Don Martin Tatandam. Ia mengambil nama ayahnya serta kakek buyutnya Makaampo yang terkenal. Ratunya Lolontingo bernama Maria. Putranya Mattheus (Francisco Makaampo), Marcus (Francisco Lalero) dan Martinus (Francisco Bankal). Dua putrinya bernama Catharina dan Anna. Sementara anak mantu, istri Marcus, bernama Susanna (Lorolabo). 

Catharina adalah nama serani dari Putri Somporiboan. Dalam suratnya kepada Raja Tabukan yang dicatatnya pula dengan nama Francisco Garuda, serta Raja Siau Francisco Xaverius dan Raja Tahuna dan Kolongan Martin Tatandam bertanda Manado di Benteng Amsterdam 31 Desember 1678, Padtbrugge menulis nama lengkapnya adalah Dona Catharina Maimunina (atau Maimonade) Somporiboan. 

Perkawinan antara Putri Somporiboan dan Raja Don Francisco Xavier Batahi terjadi, bahkan mendapatkan restu dari Kaicil Sibori. Keduanya melahirkan 3 putra masing-masing Jacobus Xaverius, Jacobus Raramo (Raramenusa) serta David Manasaribu (Monasehiwu) alias David Xaverius.

Raja Don Francisco Xavier Batahi meninggal awal Januari 1687. Diikuti tidak lama kemudian jandanya Dona Catharina Maimunina Somporiboan pada tahun 1688. 

Menurut laporan Pedagang Isaac van Thye yang memimpin sementara Manado bertanda loji Kompeni Benteng Amsterdam Manado 18 Juli 1689, mantan Ratu Siau tersebut meninggal di negeri kelahirannya Tabukan. Namun ia sempat menyaksikan putra sulungnya calon raja Jacobus Xaverius dibawa ke Ternate untuk mendapatkan pendidikan Belanda. 

 

 

1. Jose Miguel Herrera Reviriego menyebut putri tersebut dikawini oleh Mandarsaha, ayah Kaicil Sibori Sultan Amsterdam.

2. Anthony Bawias adalah putra tertua Raja Garuda menjadi Raja Tagulandang menggantikan kakeknya Raja Balango memerintah tahun 1664-1668. Sedangkan putranya Philippus Bawias atau Philip Balango lebih terkenal dengan nama Don Philip Anthonisz atau kemudian Don Philip Anthonisz Makaampo baru dilantik menjadi Raja Tagulandang 9 Juni 1684.

3. J.E.E Scherrer mengungkap kisah Maimuna tidak ingin lagi menjadi istri Kaicil Sibori, berakibat rambutnya dicukur habis dan ditawan di rumah kecil di tepi pantai. Saudaranya Dalero (Lalero) yang disebut telah menjadi Raja Tabukan bersama Raja Batahi kemudian melarikannya dari Ternate, dan karena keajaiban yang dialaminya, Dalero pindah menganut Kristen.

4. Dalam Een opstand in de Molukkos, Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, kejadian disebut berlatar intrik politik persaingan mahkota Ternate. Pendukung Kalamata melalui budak pelawak kepercayaan Kaicil Sibori sengaja menyebar gosip Putri Tabukan anggun dan cantik, tapi Dain Rooze tunangannya, masih lebih cantik dan pintar, sehingga Kaicil Sibori tergoda ingin menjadikan Dain Rooze sebagai ratu. Ia mengirim jogugu ke Makassar meminangnya, sedangkan Putri Tabukan diantar pulang ke Sangihe oleh Kaicil Ali.

5. Gubernur Joan Henric Thim dalam surat pada Gubernur Jenderal Joannes Camphuys 20 Juni 1687 menyebut keduanya memiliki empat anak laki-laki. Putra keempat tidak diketahui namanya. Namun Predikant Ternate Ds.Gillius Cammiga mencatat ketika berkunjung di Pehe pada 1 Oktober 1697 ia telah membaptis Daniel, putra dari Pieternella Lolosego dengan Francisco Laigan, anak mendiang Raja Batahi serta saudara Raja Jacobus Xaverius. 

 

 

 

SUMBER:

Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, naskah.

Francois Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indien, 5, Dordrecht-Amsterdam, 1724.

J.E.E Scherrer, De afkomst van Makaampo, BKI 115, 1959.

Jose Miguel Herrera Reviriego, Manila y Filipinas en el mundo interconectado de la segunda mitad del siglo XVII. (PhD dissertation), Universitat Jaume I, 2014 .

P.A.Leupe, Het Journal van Padtbrugge's reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, BKI 14, 1867.