Rabu, 11 Februari 2026

Leluhur Raja Bolaangitang yang Terlupakan

 



Makam Claas Ponto di dekat bekas komalig Bolaangitang. Foto Iftiqar S.A.Ponto




Ponto adalah dinasti yang pernah memerintah kerajaan kecil Bolaangitang, nama yang sekarang terlestari pada dua kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Silsilah keluarga Ponto mencatat nama Ponto anak Duongo yang beristrikan Kinabi sebagai leluhurnya. Saudara lain Ponto adalah Solagu, Goma, Tegila dan Laidi. Duongo sendiri adalah anak Tuhinga dan cucu Anggapuajo, saudara Pugu-Pugu yang dikenal sebagai Raja Kaidipang Binangkal bersama Mobiling, Dotinggula, Pino, Malimang dan Entebu. 

Surat-surat tinggalan Ratu Dona Magdalena Linkakoa, Jogugu Jeremias Solano serta Jogugu Nicolaas Ponto mengungkap detil-detil yang hilang dari sejarah Bolaangitang. 

Dari silsilah para penguasa Bolaangitang tulisan para mantri (bobato) bertanda Boulangitang 23 Juni 1727, Ratu Magdalena Linkakoa adalah anak dari Raja Pinonja dan cucu Raja Pinankan merupakan keturunan langsung Putri Bilobulawa yang dianggap sebagai ratu pendiri kerajaan Bolaangitang. 

Linkakoa kawin beberapa kali. Setidaknya dikenal empat nama yang menjadi suami Linkakoa. 

Pertama adalah Mobiling. Sebuah perkawinan politik yang dirancang oleh Raja Siau dan Raja Bolaang Mongondow setelah penaklukan Kaidipang, dimana Mobiling diangkat sebagai Raja Kaidipang dan Linkakoa Ratu Bolaangitang. Keduanya memerintah atas masing-masing kerajaan bagiannya serta memerintah bersama kedua kerajaan tersebut. Tapi keduanya memiliki karakter berbeda dan tidak mau begitu saja menerima keputusan para penakluk menyatukan kerajaan mereka. Keduanya bercerai. Mobiling memiliki seorang anak dari perkawinan lain bernama Tiaha yang setelah dibaptis Kristen Reformasi menggunakan nama Willem Cornput. Ketika Mobiling meninggal, saudaranya Binangkal datang dari Buol dan mengklaim tahta Kaidipang. 

Cerai dari Mobiling, Linkakoa kawin dengan Intji Mannis seorang pangeran yang tahun 1674 diangkat menjadi Raja Taywila, sekarang Tawaeli kecamatan di Kota Palu. Linkakoa mengangkat suaminya tersebut sebagai Jogugu Bolaangitang pengganti Barmalipu yang dibunuh atas perintah Linkakoa Juni 1680. 

Nama ketiga yang dikenal adalah Don Carlo yang juga menjabat jogugu dan meninggal sebelum tahun 1690. 

Kendati sudah berusia tua, Linkakoa kembali menikah pada Minggu 19 Agustus 1690 dengan laki-laki muda bernama Augustyn Moloto Boegoe (Bugu) asal negeri Langan. Perkawinannya bersama dua pasangan lain dilakukan oleh Predikant Ternate Ds.Gillius Cammiga yang melakukan kunjungan gereja dan sekolah di Bolaangitang.

                                                                             

PEWARIS

Dari perkawinan-perkawinan itu Linkakoa tidak memiliki anak. Namun Linkakoa telah mengangkat sebagai anak kemenakannya bernama Jeremias Solano. Ia adalah putra dari sangaji bernama Fabian Salabi dengan Dona Maria Duongo atau Dwong, adik wanita Linkakoa. Jeremias dibesarkan sedari kecil dan dididik sendiri oleh Linkakoa sebagai calon dan pewaris mahkota kerajaan Bolaangitang. Jeremias mengawini wanita bernama Maria Ceabo yang ditemui Ds.Cammiga Agustus 1690. 

Tanggal 30 April 1694 Linkakoa meninggal dunia setelah menderita sakit. 

Vandrig David Haak, komisi dari Gubernur Cornelis van der Duyn dalam catatan hariannya bertanda loji Kompeni di benteng Amsterdam Manado 3 Mei 1694 mengungkap pesan terakhir Linkakoa kepada komandan pos Kaidipang Kopral Jacob Jojeus. Ketika Jojeus bertanya apakah Linkakoa memiliki sesuatu untuk diungkapkan kepada Kompeni, Linkakoa mengaku tidak memiliki permintaan apa-apa, selain bahwa setelah kematiannya adalah Jeremias Solano yang akan menggantikannya sebagai raja, dan saudara Jeremias bernama Augustin Solago sebagai jogugu, keduanya putra saudara perempuannya Dona Maria Duongo. 

Sebelumnya juga Linkakoa kepada Fiskal Jacob Claasz serta para bobato telah memesan anak angkatnya Jeremias sebagai raja pengganti. 

Namun Haak menolak keinginan terakhir Linkakoa ini. Ia memerintahkan Jojeus agar pemerintahan Bolaangitang untuk sementara dijalankan oleh para bobato di bawah Kapiten Laut Pedro Goma. 

Pemerintahan Goma dianggap tidak efektif sehingga dengan keputusan Gubernur Duyn 11 Februari 1695 dipilih Willem Cornput anak tiri Linkakoa sebagai regent Bolaangitang. Duyn menjalankan pesan mantan Gubernur Robertus Padtbrugge bahwa sepeninggal Linkakoa penggantinya adalah Willem anak Mobiling. 

Willem Cornput mendapat dukungan kuat dari pamannya Raja Kaidipang Maurits Binangkal yang menginginkan Bolaangitang menjadi satu dengan Kaidipang. Binangkal termasuk Padtbrugge selalu menganggap Bolaangitang adalah bagian Kaidipang yang terpisahkan ketika diinvasi dan dibagi dua oleh Siau dan Bolaang Mongondow. Cornput sebelumnya telah dipercaya Binangkal sebagai Jogugu Kaidipang dan calon penggantinya kelak. 

Keputusan Gubernur Duyn diprotes Jeremias Solano beserta ayahnya Fabian Salabi dan ibunya Dona Maria Duongo serta hampir semua bobato Bolaangitang yang ingin mengikuti wasiat Linkakoa. Tapi penolakan mereka berakhir ketika Sekretaris Pieter Alsteyn yang dikirim sebagai komisi mengancam akan menggabungkan Bolaangitang di bawah Dauw Kaidipang apabila tidak mendukung Willem Cornput. Alsteyn beralasan Willem Cornput berhak menjadi pengganti Linkakoa, karena ayahnya Mobiling pernah menikah dan memerintah bersama dengan Linkakoa. 

Dalam jurnalnya Alsteyn mencatat pertemuan yang dipimpinnya di rumah Kopral Jojeus Rabu di Dauw 1 Juni 1695 dihadiri Raja Binangkal, Jogugu Willem Cornput serta mantri Kaidipang dan di lain pihak para mantri Bolaangitang terdiri Jeremias Solano, Augustin Solago, Sangaji Fabian Salabi dan Kapiten Laut Pedro Goma. Pertemuan yang berlangsung hingga esok hari menyepakati Willem Cornput menjadi Raja Bolaangitang dengan Jeremias Solano sebagai jogugu. 

Keputusan resmi dari pemerintah tinggi di Batavia untuk Solano sebagai jogugu turun 28 Januari 1696 bersama pengangkatan Raja Tahuna Don Louis Melangin.

 

SENGKETA PANJANG

Kendati demikian hubungan antara Jogugu Solano dan Raja Willem tidak mulus, meski mereka berbesanan.

Putra tertua Jeremias dari istrinya Maria Ceabo bernama Nicolaas atau Claas Solano yang belakangan menggunakan nama Claas Ponto kawin dengan Jacomina Kinabi, putri Willem Cornput. 

Tahun 1697 ketegangan kembali timbul. Dona Maria Duongo dalam surat bertanda Boulang Itang 11 Oktober 1697 bermohon pada Gubernur Lesage supaya mahkota Bolaangitang diberikan kepada cucunya Claas Solano. Permintaan ini didukung Jogugu Jeremias Solano. 

Namun komisi di bawah Fiskal Pedagang Daniel Fiers dan Boekhouder Pedagang Muda Jan Walraven de la Fontaine mendamaikan mereka dalam pertemuan di Dauw dan Bolaangitang 6 dan 8 Agustus 1698. Jeremias Solano dan Willem Cornput menandatangani perjanjian kesepahaman, pengakuan terhadap Raja Willem sekaligus penyelesaian masalah-masalah budak tinggalan Ratu Linkakoa. 

Kuasa Raja Willem justu makin besar ketika Raja Kaidipang Maurits Binangkal meninggal 19 September 1699. Gubernur Lesage ingin Bolaangitang disatukan dengan Kaidipang. Dengan surat bertanda Ternate 29 Mei 1700 Lesage melapor kepada Gubernur Jenderal Mr.Willem van Outhoorn telah menginstruksikan Komandan Manado Sersan Henry de Chieze, agar Kaidipang dan Bolaangitang berada di bawah kekuasaan Willem Cornput. 

Tanggal 17 Maret 1702 Willem Cornput diangkat resmi sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang berkedudukan di Dauw Kaidipang. Satu kerajaan tapi dengan dua mantri terpisah di Kaidipang, dan mantri di Bolaangitang yang memiliki otonomi sendiri di bawah Jogugu Jeremias. 

Tapi pengabungan Bolaangitang dengan Kaidipang tidak menyudahi perselisihan mereka. Raja Willem berkali melaporkan Jogugu Jeremias kepada gubernur dan Dewan Maluku sebagai tidak setia kepadanya.

Perselisihan memuncak tahun 1723, 1724 dan 1727. Jogugu Jeremias Solano dan mantri Bolaangitang meminta Gubernur Jacob Cloek mengangkat Claas Ponto sebagai raja. 

Kepada Pedagang Kepala Jacob Boner yang menjadi pemangku sementara gubernur Maluku, Jogugu Jeremias dalam surat bertanda Boulang Itam 23 Juni 1727 kembali mengingatkan Bolaangitang sejak awal merupakan kerajaan merdeka dan terpisah dari Kaidipang dimulai Ratu Bilobulawa hingga Ratu Linkakoa. Dirinya sebagai pewaris sah Linkakoa menagih Kompeni untuk mengangkat anaknya Claas sebagai Raja Bolaangitang. 

Namun dalam surat bertanda Kastil Oranje Ternate 24 Mei 1727, Raja Willem Cornput menentang pemisahan kembali. Alasannya bertentangan dengan kontrak 1702 yang mengakui dirinya sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang. Perjanjian mana dihadiri dan ikut ditandatangani oleh Jogugu Jeremias. 

Rekonsiliasi ditandatangani 2 Juli 1727 di depan Boner di Kastil Oranje antara Claas Ponto yang mewakili ayahnya bersama mantri Bolaangitang dengan Raja Willem dan mantri Kaidipang. Keputusan Bolaangitang tetap mengakui Willem Cornput sebagai raja mereka. 

Raja Willem kemudian mengundurkan diri dan putranya Albertus Cornput dilantik 4 Agustus 1729 sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang. Jeremias Solano yang lanjut usia ikut mengundurkan diri. Claas Ponto dilantik Gubernur Elias de Haeze sebagai jogugu baru Bolaangitang 3 Oktober 1729. 

Perselisihan justru melebar. Ketika Claas kembali dari Ternate 8 November 1729 setelah pelantikannya ia tidak menemukan istrinya Jacomina Kinabi. Kinabi yang telah memberinya empat anak, 3 perempuan dan 1 laki-laki telah diambil kembali oleh ayahnya mantan Raja Willem serta saudaranya Raja Albertus. Kinabi membela ayahnya dan saudaranya. Dalam surat bertanda Caudipan 10 April 1732 Kinabi mengaku tidak bahagia, karena Claas memiliki wanita lain, bahkan sampai enam orang dan ada yang memiliki anak. 

Sengketa mahkota Bolaangitang terus berlanjut diantara keturunan Jeremias Solano dan Willem Cornput. 

Ketika Claas Ponto meninggal April 1752, pemerintahan Bolaangitang untuk sementara waktu dijalankan bobato, karena Raja David Cornput menolak Israel Ponto anak Claas menjadi jogugu pengganti. Sampai tiga kali dipanggil ke Ternate oleh Gubernur Jan Elias Mylendonk baru Raja David setuju.

Israel Ponto diangkat sebagai jogugu Bolaangitang oleh Residen Jan Smith dengan keputusan gubernur baru Abraham Abeleven 23 Februari 1757. 

Seperti ayahnya Israel Ponto memperjuangkan kemerdekaan Bolaangitang dari Kaidipang. Untuk meredakan tuntutan Bolaangitang Abeleven menaikkan jabatan Israel dari jogugu menjadi Jogugu Penghulu atau regent. 

Israel Ponto meninggal akhir tahun 1769. Pengganti sebagai jogugu penghulu sejak 1770 adalah putranya yang bernama Nicolaas Ponto. Namanya sama seperti kakeknya Claas.1 

Nicolaas bertindak berani. Tahun 1771 ia menunjuk Anthony Daniaenu menjadi jogugu dan dua orang lainnya sebagai kapiten raja. Raja Jacobus Cornput menolak sebab jabatan kapiten raja adalah hal baru. Kepada Gubernur Jacob Valckenaer ia beralasan Nicolaas bukan raja. Komisi di bawah Sekretaris Bartholomeus van de Walle dan Dirk Vrymoet menyetujui promosi tapi dengan koreksi pada posisi kapiten raja. Ia diingatkan pengangkatan mantri harus dengan izin dan sepengetahuan raja di Kaidipang dan Kompeni. 

Pada tahun 1788 Nicolaas Ponto kembali berselisih dengan Raja Willem David Cornput. Ia meminta rakyat menghormatinya dengan gelar raja, dan untuk merayakan dilaksanakan pertunjukan kolintang sepanjang malam. Residen Johan Daniel Schierstein dalam surat kepada Gubernur Alexander Cornabe bertanda Benteng Amsterdam Manado 11 Desember 1788 mengutip utusan yang menemuinya bahwa, ‘’Tuan Raja Boelangitam minta bermain koelintang entero malam.’’ 

Schierstein mengaku menegur Nicolaas Ponto karena Kompeni belum membuat kontrak pribadi dengannya. Ia memastikan bahwa tidak ada satupun hak istimewa yang diberikan kepadanya oleh Kompeni. Nicolaas Ponto menjawab utusannya mungkin telah menggunakan nama raja karena ketidaktahuannya. 

Bolaangitang baru menjadi kerajaan kembali ketika anak Nicolaas yakni Salomon Ponto menyatakan Bolaangitang menjadi kerajaan independen yang terpisah dari Kaidipang pada masa pemerintahan Kompeni Inggris.2 

Salomon Ponto diakui sebagai Raja Bolaangitang ketika bersama mantrinya pada 1 April 1811 menandatangani kontrak politik dengan Residen Inggris Kapten Charles Forbes di Benteng Amsterdam Manado.

  

 

1.Dari tradisi Bolaangitang anak dan pengganti Israel Ponto bernama Antogia Ponto.

2.Tradisi menyebut pula Salomon Ponto mengganti ayahnya Antogia dan dilantik sebagai Raja Bolaangitang pertama pada 21 November 1793. Mantan Residen D.F.W.Pietermaat, J.B.J van Doren dan Komisaris Emanuel Francis memastikan peristiwa ini baru terjadi masa pemerintahan Kompeni Inggris. 

 

 

(Sumber tulisan naskah Bolaang Mongondow Masa Kompeni dan Hindia-Belanda).

 

SUMBER LAIN:  

Coolhaas, W.Ph., Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel 7 1713-1724; deel 8 1725-1729; deel 9 1729-1737.

Doren, J.B.J.van, Bijdragen tot de kennis van verschillende overzeesche landen, volken, enz, 1 Amsterdam, 1860.

Francis, E., Herinneringen uit den levensloop van een Indisch Ambtenaar van 1845 tot 1854, 3, Batavia, 1860.

Leupe, P.A., Het Journal van Padtbrugge's reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, BKI 14, 1867.

Pietermaat, D.F.W., Statistieke aanteekeningen over de Residentie Menado, TNI jrg 3, 1840 (1e deel) no.3.

Silsilah Keluarga Ponto koleksi Iftiqar S.A.Ponto.

Usup, H.T., Sejarah Singkat Kerajaan Kaidipang Besar (Kaidipang dan Bolaang-Itang), 2, Manado, 1979.

Valentijn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, 5, Joannes van Bram dan Gerard Onder de Linden, Dordrecht-Amsterdam, 1724. 

Minggu, 18 Januari 2026

Kisah Putri Hester Manoppo dan Raja Ismael Jacobs

 


Makam Raja Ismael Jacobs di Ondong. Foto Istimewa.


Sejarah Sulawesi Utara mencatat banyak wanita cantik, yang pesonanya melampaui batas kerajaan asalnya, sehingga tersiar dan menjadi buah tutur di mana-mana.

Hal ini yang terjadi dengan Hester Manoppo, seorang putri dari kerajaan Bolaang Mongondow. Ia sangat cantik, apalagi ia bukan wanita sembarangan, karena putri dari Raja Salomon Manoppo yang berkuasa di Bolaang Mongondow tahun 1735-1746, dan ulang memerintah selang tahun 1756-1764. Ayahnya sempat diasingkan selama delapan tahun oleh Kompeni Belanda di Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), Afrika Selatan sekarang. 

Putri Hester adalah anak bungsu Raja Salomon, sehingga sangat disayangi ayahnya. 1   

Kecantikannya menyebabkan ia menjadi dambaan banyak bangsawan, termasuk raja dari kerajaan tetangga, bahkan kerajaan yang berada di Nusa Utara. 

Salah seorang raja yang mendengar kecantikan Putri Hester dan jatuh cinta padanya adalah Ismael Jacobs. Ismael juga rupawan, kaya raya dan menjadi Raja Siau. Ayahnya adalah Raja Daniel Jacobs dan ibunya Pieternella Doelang anak mantan Raja Tabukan Don Mattheus Francisco Makaampo. Setelah ayahnya Raja Daniel meninggal 31 Desember 1751, Ismael Jacobs dilantik menjadi Raja Siau 1 Desember 1752 di Kastil Oranje Ternate. 2 

Tahun 1759, sudah hampir tujuh tahun menjadi raja, Ismael belum memiliki seorang permaisuri. Meski sekedar mendengar dari kisah-kisah banyak orang akan kecantikan Putri Hester, ia jatuh cinta dan ingin mengawininya. 

Kecantikan Putri Hester didengarnya langsung dari Elias Jacobs yang menjadi kapiten laut dan Anthony Jacobs, dua adiknya yang banyak melakukan perjalanan ke kerajaan-kerajaan di pesisir utara dan selatan Sulawesi. 

Lamaran Putri Hester segera diajukan Raja Ismael kepada Raja Salomon Manoppo. Namun pinangan dengan barang hantaran harta ditolak Raja Salomon. Ia tidak ingin berpisah dengan putrinya, karena Siau berada di pulau yang jauh dari Bolaang, negeri kedudukannya. Apalagi ia baru pulang di Bolaang kembali pada 25 Oktober 1756 setelah pengasingan dan belum lama berkumpul dengan anak-anaknya. Putri Hester pula enggan karena sangat mencintai ayah dan tanah kelahirannya. 

Penolakan terjadi berulang. Namun bukannya mundur, Raja Ismael semakin bertekad untuk mengawininya. Untuk menunjukkan keseriusannya, dengan korakora kebesarannya serta banyak kapal dan bangsawan pengiringnya pada bulan Agustus 1759 Ismael berlayar ke negeri Bolaang ibukota Bolaang Mongondow tanpa menyinggahi Manado untuk melapor tujuan perjalanannya kepada Residen Gerard Reynier de Cock yang baru menjabat. Perjalanan masa itu selalu membutuhkan izin sersan komandan pos di Tabukan atau residen di Manado. 

Penolakan secara halus masih diterima Raja Ismael dari Raja Salomon. Namun Ismael sangat bertekad dan gigih, tidak mau meninggalkan Bolaang Mongondow tanpa membawa Putri Hester. Kejadian ini sampai berlangsung berbulan-bulan. 

Akibatnya rombongan Raja Ismael dari Siau membuat hiruk pikuk negeri Bolaang, karena sebagai raja ia harus diperlakukan dengan kehormatan sesuai adat berlaku antarkerajaan. Penduduk Bolaang, bahkan dari pelosok menjadikan mereka tontonan menarik. 

Kesabaran Raja Ismael membuahkan hasil, setelah menunggu beberapa bulan di Bolaang, ketika Raja Salomon merestui dan melangsungkan pernikahan Ismael dan Putri Hester yang meriah pada tanggal 20 Juni 1760. 

Tapi hingga bulan Oktober 1760 Raja Ismael masih bertahan di Bolaang. Karena ayah mertuanya Raja Salomon sangat menginginkan putrinya tinggal selama satu tahun lagi di Bolaang. Sedangkan Raja Ismael tidak ingin pergi tanpa membawa istrinya. 

Masa tinggal Raja Ismael yang lama berbuntut. Pasokan emas dari Bolaang Mongondow yang diwajibkan oleh Kompeni tidak ada. Penduduk tidak menambang atau menggali emas. Bukan hanya Residen de Cock yang gelisah, atasannya Gubernur Maluku di Ternate Jacob van Schoonderwoert menegur keras Raja Ismael dan Raja Salomon. 

Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel bertanda Ternate akhir Juni 1761 Schoonderwoert menyesalkan Raja Ismael yang meninggalkan Siau cukup lama membengkalaikan urusan kerajaannya, selain tanpa izin. Sedangkan Raja Salomon dalam surat kepada Schoonderwoert bertanda Boelang 29 September 1760 mengakui selama menantunya masih berada di Bolaang tidak mungkin ia mengirim rakyatnya untuk menambang, sehingga tidak ada emas yang digali di Bolaang.


SELALU KEMBALI

Putri Hester di Siau terus merindukan Bolaang, dan karena Raja Ismael sangat mencintai istrinya, banyak kali ia mengantarnya. Hal ini menyebabkan ia berkali ditegur residen dan gubernur. 

Ini terjadi pula ketika Raja Salomon Manoppo meninggal tanggal 30 Agustus 1764, dan keduanya turut hadir memakamkannya. 

Dan saat keduanya masih berada di Bolaang, di Siau terjadi serangan Sarangani dan Mindanau. Gubernur Schoonderwoert yang menerima kabar tersebut 29 Mei 1765 meminta Raja Ismael dan adiknya Elias Jacobs segera datang ke Ternate untuk penyelidikan masalah tersebut. Schoonderwoert mengkritik Raja Ismael karena ia berlama-lama di Bolaang, apalagi ketika kembali ia bukan langsung pulang ke Siau, tapi berlayar lebih jauh ke Amurang. 

Awal tahun 1765 itu orang-orang Sarangani dibantu Mindanau menyerbu Siau menghancurkan tiga negeri dan menawan tiga putrInya serta Pangeran Hendrik Jacobs Larabuwatan dan enam orang lainnya. Negeri Pehe dan Lehi paling menderita karena dijarah dan dibakar. Pemicunya peristiwa tahun 1762 ketika Elias Jacobs membunuh dan memenggal kepala lima orang Sarangani berasal Pulau Malurang di Pulau Majau, termasuk seorang pangeran bernama Salobo. Mereka tidak mau meninggalkan Siau menuntut pembunuh diserahkan. 3 

Putri Hester masih sering ke Bolaang, termasuk mendukung saudaranya Eugenius Manoppo menjadi raja pengganti ayah mereka dan bersedih ketika Eugenius kemudian ditahan Desember 1768 dan diasingkan seperti ayah mereka di Tanjung Harapan. Tapi Hester telah dijemput suaminya pulang ke Siau sebelum penangkapan tersebut. Hesterpun mendukung Manuel Manoppo menuntut tahta Bolaang tahun 1773, namun Belanda lebih mendukung sepupu mereka Marcus Manoppo.4 

Terakhir kunjungan Putri Hester di Bolaang tahun 1789 memperjuangkan warisan mendiang ayahnya Raja Salomon yang dikelola bobato dan Raja Marcus Manoppo. 

Raja Ismael Jacobs lebih dulu meninggal, dari laporan Residen Willem Fredrik Mertsz, pada tanggal 9 Agustus 1784. 5 

Putri Hester Manoppo masih menyaksikan putra tertuanya Ericus Jacobs menjadi raja pengganti ayahnya 7 Oktober 1786. Putra lainnya Eugenius Jacobs menjadi raja berikut tahun 1796. Seorang putri bernama Filipina Silagonda dikawini Raja Bolaangitang Salomon Ponto.

 

 

1.   Selain Hester, anak Raja Salomon adalah Putri Sarah Manoppo, sedangkan para putra adalah Eugenius Manoppo dan Manuel Manoppo. Kedua putranya belakangan menjadi Raja Bolaang Mongondow pula. Menurut surat Manuel Manoppo 28 Januari 1790 mereka enam bersaudara, selain dia dan Eugenius, empat lainnya adalah wanita yang ketika itu masih hidup. Sementara dari dua surat puluhan bobato Bolaang dan Mongondow bertanda Mogondo 19 Agustus 1752, tiga anak lain Raja Salomon meninggal akibat perlakuan buruk sejak Raja Salomon ditahan dengan tipu muslihat oleh Kompeni 15 September 1746.

2.   Fam raja-raja Siau dalam tulisan menggunakan nama Jacobs atau sering dicatat Jacobsz seperti bukti surat-surat tinggalan dan berbagai laporan masa itu.

3.   A.J.van Delden menyebut nama Kapiten Laut Elias Jacobs adalah Lulie. Untuk kasus ini Gubernur Hendrik Breton melaporkan Elias Jacobs dipenjarakan di Manado 26 Desember 1765, dan meninggal 8 Januari 1766 sebelum persidangannya. Raja Manganitu Daniel Katiandagho yang diutus para Raja Sangihe 17 Agustus 1765 berhasil membujuk Sultan Mindanau dan membawa pulang para tawanan. Namun ekspedisi balas dendam atas invasi Sarangani-Mindanau baru dilakukan Oktober 1770 dipimpin Kapten Letnan Francois Le Grand dan Pedagang Muda sekaligus penerjemah Francois Bartholomeus Hemmekam, dengan 956 pasukan, dimana Raja Ismael dipercayakan memimpin sebanyak 750 prajurit Sangihe. Negeri Batu Laki di Sarangani dihancurkan dan dibakar, serta Pulau Malurang dibombardemen dengan meriam dan granat tangan.

4.   Manuel atau Emanuel Manoppo baru dipilih Dewan Politik Maluku di bawah Gubernur Alexander Cornabe menjadi Raja Bolaang Mongondow 25 Januari 1793 sebagai pengganti Marcus Manoppo yang sudah tua.

5.   Inskripsi pada kubur Raja Ismael di Ondong dengan ejaan Indonesia terbaru menerakan masa menjabatnya hingga 1788.

 

 

 

(Sumber tulisan naskah Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, dan Bolaang Mongondow Masa Kompeni dan Hindia-Belanda). 

 

 

SUMBER LAIN:

Delden, A.J.van, De Sangir-eilanden in 1825, Indische Magazijn, 1844.

Dunnebier, W., Over de vorsten van Bolaang Mongondow, BKI 105, 1949.

Wilken, N.P.dan J.A.Schwarz, Allerlei over het land en volk van Bolaang Mongondou, MNZG, 11 1867.


Rabu, 17 Desember 2025

Don Carlos Piantay, Raja Cayuris dan Manganitu

 


Peninggalan rumah Raja Manganitu di Toloarane. Koleksi Persito Lumanauw


Selain kerajaan Saban dan Limau, di Pulau Sangihe Besar pernah berdiri pula kerajaan yang berumur pendek, yakni Cayuris atau Cayuhis di negeri yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kauhis, sebagai pecahan dari kerajaan Manganitu. 

Kerajaan ini tak lepas dari tokoh Don Carlos Piantay, saudara muda dari Raja Manganitu Don Santiago atau Don Saint Jago. Setelah Don Santiago dikalahkan Sultan Amsterdam dari Ternate dan dieksekusi dengan dipenggal kepala tanggal 13 Mei 1675 bersama seorang saudara laki-laki lain yang menjadi kapiten laut, Piantay melarikan diri ke gunung dengan sekitar 500 pengikutnya. Ia kemudian ke Tamako negeri kantong milik Siau di Pulau Sangihe Besar mendapatkan perlindungan dari Raja Siau Don Francisco Xavier Batahi dan padri Spanyol. 

Bersama rakyatnya, Piantay membangun negeri Cayuris. Ia memproklamasikan diri sebagai Raja Manganitu di Cayuris menentang Raja Takanetang yang di kemudian hari bernama Don Martin Takanetang. Sultan Amsterdam telah melantik Takanetang anak Imam Tanjawa menjadi Raja Manganitu pengganti Don Santiago pada 15 Mei 1675. 

Padri Emanuel Espanjol menjadi penasehat dekatnya. Piantay juga memeluk agama Katolik dengan nama Don Carlos atau Carolus Piantay atau menurut sumber Spanyol Don Carlos de Espana Bantay. Sebuah gereja dan sekolah dibangun di Cayuris di bawah guru Tamako Juan de Leon. 

Kepada Gubernur dan Kapten Jenderal Spanyol di Manila pada 1 Agustus 1677, Piantay meminta kiriman meriam untuk melawan Ternate yang membunuh saudaranya. Putra tertuanya sengaja dikirim ke Manila untuk memperjuangkan bantuan dari Spanyol. 

Namun dengan bujukan Gubernur Robertus Padtbrugge serta menyerahnya Siau, Don Carlos Piantay bersedia berdamai dengan Kompeni Belanda dan Raja Takanetang. 

Tanggal 10 Desember 1677 di sloep (chialoup, sekoci) den Eendragt yang berlabuh di Teluk Malahasa Tahuna, Piantay dengan bobatonya Hukum Matheos Papaar dan Sangaji Mattheo Adiel meneken perjanjian sebanyak 14 pasal dengan Gubernur Padtbrugge serta Takanetang. Menurut Padtbrugge setelah Raja Saint Jago dibunuh tahun 1675, Piantay telah diminta untuk menggantikan sebagai raja. Tapi Piantay tidak muncul karena takut akan bernasib sama dengan saudaranya, sehingga Takanetang yang diangkat menjadi raja oleh Sultan Amsterdam. 

Piantay diakui sebagai penguasa tertinggi atas semua rakyat yang pernah memisahkan diri dengannya dan menerima dengan segala kehormatan gelar sebagai raja, berhak mengangkat panglima dan pembesarnya. Sebaliknya ia hanya mengamalkan Kristen Reformasi, melarang para padri dan simbol-simbol Katolik dan semua orang Eropa lain serta menebang habis pohon rempah. 

Wilayah Cayuris ditentukan pula dari Cayuris sampai Tanah Marama dimana penduduknya dapat memperoleh sagu dan buah-buahan. Wilayah selebihnya berada di bawah perintah dari Raja Manganitu.  

Padtbrugge menempatkan untuk sementara waktu Sersan Jan Lodewyksz dari Tahuna sebagai komandan pos di Cayuris. 

Kristen Reformasi berkembang di Cayuris dengan kedatangan Predikant Zacharias Caheyng lalu Ds.Cornelis de Leeuw dan Gillius Cammiga. Piantay sekeluarga pindah menganut Kristen Reformasi. Gereja di Cayuris juga diperbesar serta sebuah sekolah dibuka di bawah guru Caspar Taydi kemudian Wouter de Lima. Bahkan putranya dibaptis Cammiga dengan nama Carel.

 

BERSATU KEMBALI

Umur kerajaan Cayuris hanya berlangsung selama empat tahun dari tahun 1675 hingga tahun 1679, menjadi satu kembali dengan Manganitu dengan Don Carlos Piantay diakui raja berkuasa penuh Manganitu. Alasan Piantay hak kelahirannya sebagai keturunan langsung para Raja Manganitu putra dari Raja Tompor dan saudara kandung Raja Don Santiago. Sementara Takanetang terhitung kerabat jauh. Ibu Takanetang yakni Putri Ilangsariwu adalah anak dari saudara wanita Santiago dan Piantay yang dikawini oleh Agogo seorang jogugu Tabukan di Salurang.                                                  

Dalam jurnalnya bertanda chialoup den Eendragt di Teluk Tahuna Sabtu 11 Februari 1679, Padtbrugge mencatat Raja Takanetang menyerahkan seluruh wewenang pemerintahannya kepada Piantay. Tapi dengan syarat dan perjanjian yang diikrarkan bahwa setelah kematian Piantay kerajaan akan jatuh ke tangan Takanetang yang akan berkuasa dan memiliki otoritas penuh. Meskipun setelah kematian Takanetang pula posisi raja akan kembali jatuh ke tangan salah satu putra atau keponakan dari Piantay. 

Takanetang akan mempertahankan gelar raja dan mempertahankan tanda kehormatan atau apapun miliknya baik rakyat dan budak yang menjadi haknya. Tanda kehormatan demikian akan terus ada pada orang yang hidup paling lama. 

Padtbrugge setuju kesepakatan antara Piantay dan Takanetang, menjaminkan Kompeni mendukung dan menjamin Takanetang yang menemuinya di atas kapal dengan akta terbuka dan tersegel. 

Kesepakatan tersebut mengakhiri era dua raja Manganitu, sehingga Raja Piantay menjadi salah seorang raja paling berkuasa di Kepulauan Sangihe. Raja Takanetang beroleh gelar baru raja muda (jongen koning). Keduanya saling menyapa ayah dan anak, dan Takanetang selalu menunjukkan rasa segan, tunduk dan hormat kepada Piantay yang sudah berusia tua. 

Raja Piantay masih bertahan di negeri Cayuris sampai tahun 1680 ia pindah dan mulai memerintah di Manganitu. 

Manganitu jadi terbagi dua negeri. Dari memorinya kepada penggantinya Gubernur Jacob Lobs bertanda Ternate 31 Agustus 1682, Padtbrugge menyebut Raja Piantay berdiam di negeri Leang yang berpenduduk 700 rumah tangga, dan negerCoejang di bawah Raja Takanetang sebanyak 70 rumah tangga. Manganitu berkewajiban menyediakan tiga korakora dengan 150 tenaga wajib kerja untuk kepentingan Kompeni, dan bersama dengan Kendahe dan Tahuna harus menyetor saban tahun 1.000 tempayan minyak kelapa. 

Padtbrugge ingkar janji. Padtbrugge yang dipromosikan menjadi Komisaris Provinsi Timur (Ambon, Banda dan Maluku) sekaligus Gubernur Ambon, telah menginstruksikan penggantinya sebagai Gubernur Maluku Jacob Lobs untuk memastikan bahwa tidak ada anak Piantay yang diizinkan untuk memimpin kerajaan Manganitu atau menggantikan ayah mereka. Sedangkan kepada Gubernur Jenderal Cornelis Speelman dan Dewan Hindia, 31 Agustus 1682 itu Padtbrugge menggambarkan Raja Piantay sebagai pengikut setia Spanyol yang sangat keras, menuduhnya labil dan tidak stabil dalam semua tindakannya.  

Upaya Piantay sebelum kedatangan Padtbrugge dengan mengirim putra sulungnya ke Manila dengan sebuah korakora besar untuk meminta bantuan Spanyol melawan Kompeni diungkit-ungkit. Piantay tidak pernah dapat dibujuk untuk memulangkan kembali putranya tersebut. 

Hubungan Raja Piantay dengan Takanetang berubah memburuk di tahun-tahun akhir hidupnya. Ia dilaporkan bersengketa pula dengan dua jogugu Tabukan David Pandjalang dan Thomas Wala. 

Bobatonya ikut mengadukannya. Sangaji Simon Makalibu dalam surat kepada Raja Muda Don Martin Takanetang bertanda Manganitu 18 Juli 1689 melaporkan Piantay melakukan tindakan melawan Kompeni lima tahun sebelumnya. Ketika itu Piantay telah mengumpulkan semua bobato di rumahnya dan memutuskan mengirim Louis Coenca ke Manila kepada Gubernur Spanyol, mengaku bahwa dia ingin keluar dari Kompeni dan meninggalkan iman Kristen Protestan.

Surat yang turut diteken Gabriel Tamoesora, guru bantu Anthony Makapedua dan guru Lucas Fortados diteruskan Takanetang kepada Kompeni dan diterima Komisaris Dirck de Haas dan Gubernur Joannes Cops. 

Menurut Makalibu, Louis Coenca dengan 18 orang yang berangkat bersamanya akan memanggil Spanyol dan Inggris, dimana Piantay akan menyerahkan kerajaannya kepada Spanyol atau Inggris, dan jika mereka tidak setuju untuk datang membantunya, ia bermaksud melarikan diri ke Manila dan menyerang Kompeni. 

Namun Gubernur Joannes Cops tidak bertindak apa-apa, meski mengkhawatirkan musuh Kompeni akan memanfaatkan keadaan dengan suasana hati Raja Piantay yang berubah-ubah. TapPiantay sendiri dalam suratnya berkali-kali menyatakan kesetiaannya kepada Kompeni. 

''Selama-lamanya saya memegang tuan Kompeni. Saya belum lawan sabda dan titah tuan-tuan,’’ demikian jawaban Piantay bertanda Manganitu 2 Juni 1693.

 

SELISIH MAHKOTA   

Raja Carlos Piantay memiliki sejumlah anak dari ratunya bernama Michaela Licotaja serta selir bernama Dominga Belia. Dari inventarisasi warisannya diketahui Piantay sangat kaya, memiliki banyak harta, emas dan budak. 

Raja Piantay meninggal dalam usia tua tanggal 15 Juni 1693. 

Putra keduanya Pangeran Dirk Piantay atau Dirk Oudouman segera menuntut haknya untuk menggantikan ayahnya. Tapi permintaannya tidak disetujui pengganti Cops, Gubernur Cornelis van der Duyn dan Dewan Maluku. Duyn menjalankan pesan Padtbrugge untuk menunjuk raja muda Martin Takanetang menjadi satu-satunya raja berkuasa penuh di Manganitu. 

Menunggu pengangkatan kembali Don Martin Takanetang sebagai raja berkuasa penuh atas Manganitu, pemerintahan Manganitu dijalankan Kapiten Laut Goan Manepugu, Sangaji Simon Makalibu dan Kimelaha Joan Sasasionge.  

Don Martin Takanetang mulai memerintah Manganitu sebagai pengganti Raja Piantay sejak 27 Agustus 1694 dan dikukuhkan kembali menjadi Raja Manganitu di Kastil Oranje Ternate pada tanggal 29 Januari 1695 dengan menandatangani pembaruan dari kontrak yang diteken Raja Piantay 10 Desember 1677. Pengangkatannya diperkuat dengan keputusan Gubernur Duyn 21 Februari 1695 yang menegaskannya sebagai raja absolut Manganitu. 

Klaim atas tahta Manganitu datang dari Pangeran Dirk Piantay. Selain itu ada sepupu Dirk, anak dari mantan Raja Don Santiago yang bernama Ferdinando Saint Jago. Tapi, berbeda dengan Dirk Piantay, Don Ferdinando tidak ambisius. Ia digambarkan komisi yang berkunjung sebagai seorang yang jujur dan berbudi luhur, juga takut akan Tuhan.

Pada Selasa tanggal 9 Juli 1697 dilaksanakan sidang raja dan mantri dengan Daniel Fiers dan Jan Walraven de la Fontaine komisi dari Gubernur Salomon Lesage, untuk memilih posisi jogugu yang selama beberapa tahun tidak diisi. Pangeran Dirk dan Ferdinando menjadi calon yang diusulkan. 

Tapi Dirk Piantay tegas menolak sebab berharap suatu saat akan menjadi raja. Jabatan jogugu dianggap upaya menyingkirkannya menjadi raja karena menyebabkan kehinaan. Dengan suara bulat pertemuan memilih Don Ferdinando Saint Jago yang menerimanya dengan memperoleh pengukuhan dari Gubernur Lesage. 

Sedari tahun 1709 hingga tahun 1715 Dirk Piantay didukung pamannya Kapiten Gillius Salomon Riol gencar menuntut adanya dua raja seperti di zaman ayahnya serta haknya untuk menjadi penguasa bersama Manganitu dengan gelaran raja. Dirk mendasarkan tuntutannya pada kontrak dan kesepakatan antara ayahnya Raja Carlos Piantay dan raja bersama Martin Takanetang. 

Tapi pemerintah Kompeni di Ternate lebih mendukung Manganitu di bawah satu raja, serta anak tertua Raja Martin Takanetang yakni Jacob Martin Lazarus sebagai calon pengganti ayahnya kelak. 

Ketika Martin Takanetang meninggal 13 Desember 1722, putranya Jacob Martin Lazarus yang dilantik sebagai raja, menyisihkan Dirk Piantay putra Raja Don Carlos Piantay ataupun Don Ferdinando Saint Jago putra Raja Don Santiago.

 

(Sumber tulisan naskah Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud).

 

SUMBER LAIN:

Colin, Francisco, Pablo Pastells, Labor Evangelica, ministerios apostolicos de los obreros de la Compania de Iesvs en las Islas Filipina, 1, Imprenta y Litografia de Henrich y compania, Barcelona, 1900.  

Heeres, J.E., F.W.Stapel,Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum 3 (1676-1691), BKI deel 91, Martinus Nijhoff,‘s-Gravenhage, 1934.

Jacobs, Hubert, Documenta Malucencia, vol.III 1606-1682, Instititum Historicum Societatis Iesu (vol.126), Roma, 1984.

Leupe, P.A., Het Journal van Padtbrugge's reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, BKI 14, 1867.

Valentijn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, 5, Joannes van Bram dan Gerard Onder de Linden, Dordrecht-Amsterdam, 1724.