Minggu, 27 September 2026

Kisah Dua Bersaudara Suermondt di Talaud


Rumah orang Cina di Lirung tahun 1902.
KITLV 114301.


Kepulauan Talaud sejak masa lampau menarik perhatian banyak pihak. Julukan porodisa, dari bahasa Spanyol paradiso telah timbul ketika ekspedisi dan kapal-kapal Spanyol dan Portugis singgah atau melewatinya sejak abad ke-16. Bahkan jauh sebelumnya dari para pedagang Cina.

Kapal-kapal menyinggahinya untuk memperoleh perbekalan. Banyak pelaut Inggris dan pemburu paus dari Amerika Serikat mengunjungi Talaud pula. Kapten Inggris Thomas Forrest sempat singgah di Lirung Pulau Salibabu pada 22 April 1775.

Perjumpaan penduduk dengan bangsa asing membawa pengaruh mendalam. Residen Albert Jacques Frederik Jansen yang berkunjung tahun 1854 dan 1857 bertemu para raja negeri Talaud yang memakai pakaian dan aksesori Eropa. Di rumah Raja Dalum, lemari pakaiannya sebagian besar terdiri dari pakaian Eropa yang diterimanya sebagai imbalan dari para pemburu paus.

Pengaruh lain dari relasi tersebut dilihat Inspektur Indische Kerk Dr.Steven Adriaan Buddingh yang datang bersama Jansen 20-21 April 1854. Banyak penduduk, termasuk anak-anak yang dapat bercakap bahasa Inggris. Bahkan banyak anak campuran Amerika dan wanita Talaud.

Selain orang Cina, sejak pertengahan abad ke-19 itu, potensi Talaud ikut menarik minat pengusaha Eropa. Dua bersaudara Suermondt dari Batavia menjadi orang Eropa pertama yang mencoba menggarap kekayaannya. Yang tertua adalah Henri Cornelis Lodewijk Suermondt, dan adiknya Johannes Gualtherus Marius Benjamin Suermondt.

Awal tahun 1873, mereka datang ke Talaud dan menetap di Lirung, negeri terbesar di Pulau Salibabu. Mereka merencanakan mendirikan usaha perkebunan. Sebagai administrator adalah Leopold Edgard d’Topolnitzki, alias Pool, seorang Eropa berdarah Polandia, sedangkan L.Jorek, asal Minahasa bertindak sebagai mandor.

Onderneming Suermondt bersaudara akan membudidayakan kelapa dan kopi, dengan tenaga buruh berasal Minahasa, Jawa dan Gorontalo.

Namun belum lama mereka di Lirung, timbul gejolak dan ketegangan besar di kalangan penduduk yang sangat sederhana. Perlakuan Suermondt, pengawas Pool dan Jorek pada penduduk dianggap tidak pantas.

Didukung Zendeling Wilhelm Richter yang ketika itu bekerja di Beo dan Zendeling Petrus Gunther di Lirung, pengaduan oleh penduduk disampaikan kepada Residen Petrus van der Crab di Manado.

Residen menugaskan Kontrolir Hendrik van Heuckelum dan Jaksa Kepala Manado Arnoldus Bernardus Kalenkongan melakukan penyelidikan di Talaud pada Oktober 1873. Turut serta Raja Tabukan Hendrik David Paparang yang menjadi penguasa utama Lirung dan negeri lain di Pulau Salibabu.

Investigasi mengarah pada tuntutan pidana. Terungkap perkebunan dalam keadaan terlantar. Mereka justru menyibukkan diri memberi pinjaman makanan dengan harga yang sangat tinggi kepada para kepala dan penduduk. Salah seorang yang berutang padi, yakni Raja Moeris melunaskan hutangnya dengan memberikan seorang budak dan anaknya kepada Henri.

Ketegangan baru mereda ketika kedua bersaudara dan Pool meninggalkan Talaud.

Penyelidikan lebih lanjut atas tindakan dua pengusaha dilakukan langsung Residen van der Crab yang datang mengunjungi Sangihe dan Talaud tahun 1874.

 

KLAIM 50 BAHU

Salah satu dari dua bersaudara, yakni Johannes Suermondt yang tidak cukup bukti untuk didakwa dalam proses hukum, diizinkan kembali ke Salibabu pada bulan Maret untuk melanjutkan bisnisnya.

 

Johannes, kelahiran Batavia tahun 1847, meminta izin untuk melanjutkan usahanya. Ia meminta pengakuan hak milik atas tanah-tanah di Lirung. Permintaan diulanginya dari Sumberwangi Kediri pada 8 Agustus 1876. Menurut Johannes, tanah-tanah tersebut telah dibeli dan dibayar dari penduduk setempat, seluruhnya tanah seluas 50 bahu. 1

 

Pemerintah tinggi di Batavia merasa enggan dalam kondisi demikian memberikan izin pendirian perusahaan perkebunan yang permanen di Salibabu.

 

Penyelidikan atas klaim tanah hak milik Suermondt di Salibabu oleh komisi dari Residen Anthonie Hendrik Swaving Juni dan Juli 1877 membantahnya. Menurut Swaving dalam surat kepada gubernur jenderal, bertanda Manado 16 Februari 1878, para kepala menyatakan mereka tidak menyewakan atau menjual atau melepaskan tanah apa pun dengan cara apa pun. Komisinya menemukan kebun kelapa dan kopi di lokasi dekat bekas tempat tinggal Suermondt dalam keadaan terlantar dan ditinggalkan.

 

Pemerintah tinggi di Batavia memastikan tidak ada larangan bagi Johannes berada di mana pun. Sebagai penduduk Hindia Belanda sejak lahir, ia bebas berada di Kepulauan Sangihe dan Talaud, termasuk di wilayah Tabukan, selama tidak mengganggu perdamaian. Karena raja mempunyai hak pemerintahan sendiri, ia harus tunduk pada ketentuan khusus yang berlaku di sana. Begitu pun untuk menetap di pedalaman dan memperoleh tanah, perlu izin dari raja yang tidak dapat memberikannya tanpa izin sebelumnya dari pemerintah Belanda.

 

Namun dalam perkara Johannes karena fakta yang terjadi, dengan keputusan pemerintah tinggi di Batavia 7 September 1878, izin demikian tidak dapat diberikan.

 

Apa yang dilakukan Johannes sejak itu tidak banyak diketahui. Bulan Juli 1880 residen baru Mr.Pieter Adriaan Matthes berkunjung di Sangihe dan Talaud di Salibabu. Johannes dilaporkan tinggal di hutan belantara.

 

DIBUNUH PEROMPAK

Kabar kematian Johannes Suermondt pertama datang dari laporan Residen Ferdinand Lodewijk Wattendorf 15 Mei 1883 kepada Gubernur Jenderal Frederik s’Jacob. Johannes dibunuh dalam pelayaran dagang dan awak perahunya dibawa pergi sebagai budak. Wattendorf yang mengakhiri masa jabatannya mengaku dengan kapal uap Sing Tjin yang berangkat ke Sangihe telah menugaskan kontrolir untuk melakukan pemeriksaan lengkap.

 

Johannes pergi berdagang di Mindanau pada akhir tahun 1882 dengan kapal kecil bernama Aurora bersama 7 awak penduduk asli Talaud. Johannes bertindak sendiri sebagai kaptennya. Mereka menjadi korban bajak laut Mindanau. 2

 

Gubernur dan Kapiten Jenderal Filipina Joaquin Jovellar y Soler dalam surat tertanggal Manila 26 Oktober 1883 pada Gubernur Jenderal s’Jacob menjelaskan dari laporan gubernurnya di Mindanau, Sultan Mindanau telah diminta bantuan untuk menyelamatkan empat awak yang diperbudak.

 

Sultan dengan kapal bersenjata telah menghancurkan sarang bajak laut dan menangkap dua pembunuh yang ditahan di penjara Cotabato untuk diadili. Tapi upaya untuk menyelamatkan empat penumpang tidak membuahkan hasil.

 

Seorang awak yang berhasil melarikan diri dari tangan para perompak, harus tinggal beberapa waktu di bawah pengawasan gubernur di Cotabato. Ia akan didengar sebagai saksi di persidangan.

 

Tidak diketahui kabar selanjutnya dari persidangan para pembunuh atau nasib empat awaknya, karena sejak itu tidak ada komunikasi dari pihak berwenang Spanyol di Manila. 


 

1.  Satu bahu, sekitar 7000 hingga 7400  meter persegi atau 0,74 hektar.

2.  Dari catatan genealogis Ancestry, Johannes meninggal di Talaud 1895.

 

Sumber: Kerajaan-kerajaan di Nusa Utara. (Sejarah Tabukan, Tahuna, Kendahe, Kendahe-Tahuna, Manganitu, Siau, Tagulandang dan Talaud). Naskah buku.


Senin, 21 September 2026

Pius Waworuntu, Orang Minahasa yang memimpin Siau selama 4 bulan

 



Pius Waworuntu dan Mien Warokka.
Foto: koleksi keluarga Waworuntu.


Seorang Minahasa yang selama ini dikenal pernah menjadi raja di Siau, Frans Pieter Parengkuan. Awalnya menjadi pejabat raja pada bulan Desember 1935, lalu menjadi raja sejak tahun 1941 hingga 1946. 

Namun sebelumnya diketahui ada orang Minahasa lain yang pernah ikut memimpin kerajaan Siau. Dia adalah Exaverius Walewangko Jacob Waworuntu. Laki-laki asal Sonder Minahasa yang memiliki nama akrab Pius. Keturunannya percaya jabatannya di Siau sebagai raja pula. 1

Pius sebenarnya berdarah Tombulu. Ia adalah cucu dari Majoor Herman Carl Waworuntu (1781-1854), Kepala Distrik Sarongsong di Kota Tomohon sekarang, tokoh pertama menjadi Kristen Protestan di Tomohon. Ayahnya Albertus Bernadus Waworuntu (1820-1897) adalah putra kedua Majoor Herman. Saudara tua Albertus yakni Zacharias (1816-1881) menjadi majoor kepala distrik Sarongsong sejak 1854. 2

Tahun yang sama ayahnya Albertus diangkat menjadi Jaksa Kepala (Hoofddjaksa) Landraad Manado hingga tahun 1861, menjadi Kepala Distrik Sonder bergelar majoor sebagai pengganti Majoor Tololiu Hermanus Willem Dotulong, menjadi orang Tombulu pertama memimpin wilayah Tontemboan. Dari istri ketiganya Aaltje Lasut, putri Kepala Distrik Ares Majoor Rares Johakim Bernard Lasut, Majoor Albertus memperoleh anak yang menjadi terkenal, Albert Lasut dan Exaverius Walewangko Jacob Waworuntu. 

Karena usia tua, Majoor Albertus tanggal 17 Desember 1887 menyerahkan jabatan kepala distrik atau hukum besar Sonder pada anak tertuanya Albert Lasut, kelahiran tahun 1861, yang juga memperoleh gelar majoor. Adiknya Exaverius atau Pius dipercayakan sebagai wakil dari kepala distrik kedua Sonder.

Karena cakap, Pius yang lahir tanggal 27 Juli 1868, ditarik ke Manado, diangkat menjadi Kepala Distrik Kedua atau Hukum Kedua Manado. 3

Di Manado, Pius mendampingi pamannya dari pihak ibu Samuel Bernard Lasut yang menjabat kepala distrik.

Pius mengawini Mien yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Jacomina Warokka. Pius dan Mien menikah ketika Mien baru berusia 15 tahun, hal yang terhitung lumrah ketika itu.  Mien adalah putri dari Kepala Distrik Kawangkoan Majoor Hendrik Alanus Warokka. Mien adalah wanita modern di masanya. Ia bersekolah di Meisjesschool atau Sekolah Nona yang dibuka di Tomohon dan lulus tahun 1886. Mien pintar sehingga diangkat menjadi guru Sekolah Nona. Mien tercatat sebagai guru wanita pertama di Minahasa. 

 

BANTU BERESKAN MASALAH SIAU

Kondisi Siau sendiri di awal tahun 1890-an penuh gejolak dan tidak stabil. Raja Jacob Ponto telah ditahan Residen Marinus Cornelis Emanuel Stakman Agustus 1889 dan diberhentikan Gubernur Jenderal Pijnacker Hordijk 16 Oktober 1889, karena berbagai tuduhan. Raja Ponto diasingkan dan meninggal karena kolera di Cirebon Mei 1890. Penggantinya President Pengganti Raja Andries Salindeho yang ditunjuk sementara sejak 14 Agustus 1889 dianggap gagal, bertindak ceroboh dan bias dalam memungut pajak hasil. Ia pun disebut berada di bawah kendali penuh pengikut setia mantan raja Ponto.

Tidak sampai satu bulan, Residen Stakman menggantikan Salindeho 5 September 1889 dengan Jogugu Ulu Lemuel David alias Dadae. Baru tanggal 11 Februari 1890 David diangkat sebagai wakil raja dengan gelar president pengganti raja.

Pemerintahan David bersama beberapa pembantunya dianggap gagal pula, karena muncul ketidakpuasan penduduk yang mengeluhkan terjadinya tindakan sewenang-wenang.

Sejumlah penduduk Siau awal tahun 1896 berangkat ke Tahuna mengeluh pada Kontrolir Francois Cornelis Vorstman. Mereka dipulangkan dengan janji masalah mereka akan diperiksa. Namun, setelah kembali, mereka ditangkap dan dijatuhi hukuman. Beberapa di antaranya dipenjara selama satu tahun.

Akibatnya ketidakpuasan umum begitu besar. Eeltje Jelles Jellesma yang menjadi residen pengganti Stakman datang ke Siau Februari 1896. Ia memeriksa langsung keberatan-keberatan yang ditujukan terhadap wakil raja David, jogugu dan dua anak mendiang Raja Ponto yang menjadi kapiten laut. Keputusannya, pengaduan yang diperiksanya benar. Jellesma segera memberhentikan mereka semua.

Jellesma lalu mengangkat dua kepala baru sebagai president pengganti raja dan jogugu. Manalang Dulag Kansil, yang menjadi jogugu Ulu diangkat menjadi president pengganti raja. Namun untuk membereskan masalah yang ada, Jellesma memperbantukan Hukum Kedua Manado Pius Waworuntu, lulusan Hoofdenschool atau Sekolah Raja di Tondano, yang berpengalaman dalam administrasi pemerintahan.

Pius hanya bekerja selama kurang lebih empat bulan. Tapi sukses membereskan dan menata kembali administrasi pemerintahan serta mewujudkan situasi yang lebih baik di Siau. Jellesma merasa Siau memerlukan pengawasan langsung, sehingga sebagai pengganti Pius diangkat Bernardus Christianus Anthonius Jacobus van Dinter sebagai aspiran kontrolir berkedudukan di Ulu.

Manalang Dulag Kansil kemudian dilantik Jellesma di Manado sebagai raja baru Siau pada tanggal 31 Agustus 1898 bersama raja-raja baru Manganitu dan Kendahe-Tahuna.

Karir Pius sendiri cemerlang. Begitu kembali di Manado, pada tanggal 17 Juli 1896, posisi baru menanti. Ia dipromosikan menjadi Hukum Besar Kepala Distrik Sonder. Pius menggantikan kakaknya Majoor Albert Lasut.

Pius menjabat hingga 17 September 1904, digantikan Majoor Frederik Hendrik Dotulong. Setelah pensiun ia menjadi anggota Gemeenteraad Manado 1920-1923, dan Minahasaraad 1919-1926.

Dari Mien, Pius memperoleh delapan anak. Di antaranya dua putri yang menjadi guru seperti ibu mereka. Anak laki-laki yang bernama Albertus Bernadus Hendrik Waworuntu menjadi Wakil Walikota Manado masa Jepang dan kemudian Walikota Manado tahun 1945.

Pius sendiri meninggal di Manado 9 Februari 1928.

 

1.Fam sering ditulis Wawo-Roentoe, Wawo Roentoe, atau juga Waworoentoe.

2.Kepala Distrik dengan gelar hukum besar di Minahasa (setingkat wedana) memimpin wilayah hingga penghapusan tahun 1966. Sedangkan Kepala Distrik Kedua dengan gelar Hukum Kedua, sebagai pembantu hukum besar, ganti menjadi pemimpin wilayah dengan gelar camat.

3.Majoor, adalah gelar kehormatan sipil (rangking tertinggi) bagi kepala distrik yang dianggap berjasa. Titel yang diperoleh kepala distrik setelah melalui rang hukum besar klas 2 dan klas 1, biasanya dianugerahkan gubernur jenderal pada peringatan hari lahir raja atau ratu Belanda.

 

 

 

Sumber: Kerajaan-kerajaan di Nusa Utara.

                Sejarah Tabukan, Tahuna, Kendahe, Kendahe-Tahuna, Manganitu, Siau, Tagulandang dan Talaud, naskah buku.


Rabu, 11 Februari 2026

Leluhur Raja Bolaangitang yang Terlupakan

 



Makam Claas Ponto di dekat bekas komalig Bolaangitang. Foto Iftiqar S.A.Ponto




Ponto adalah dinasti yang pernah memerintah kerajaan kecil Bolaangitang, nama yang sekarang terlestari pada dua kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Silsilah keluarga Ponto mencatat nama Ponto anak Duongo yang beristrikan Kinabi sebagai leluhurnya. Saudara lain Ponto adalah Solagu, Goma, Tegila dan Laidi. Duongo sendiri adalah anak Tuhinga dan cucu Anggapuajo, saudara Pugu-Pugu yang dikenal sebagai Raja Kaidipang Binangkal bersama Mobiling, Dotinggula, Pino, Malimang dan Entebu. 

Surat-surat tinggalan Ratu Dona Magdalena Linkakoa, Jogugu Jeremias Solano serta Jogugu Nicolaas Ponto mengungkap detil-detil yang hilang dari sejarah Bolaangitang. 

Dari silsilah para penguasa Bolaangitang tulisan para mantri (bobato) bertanda Boulangitang 23 Juni 1727, Ratu Magdalena Linkakoa adalah anak dari Raja Pinonja dan cucu Raja Pinankan merupakan keturunan langsung Putri Bilobulawa yang dianggap sebagai ratu pendiri kerajaan Bolaangitang. 

Linkakoa kawin beberapa kali. Setidaknya dikenal empat nama yang menjadi suami Linkakoa. 

Pertama adalah Mobiling. Sebuah perkawinan politik yang dirancang oleh Raja Siau dan Raja Bolaang Mongondow setelah penaklukan Kaidipang, dimana Mobiling diangkat sebagai Raja Kaidipang dan Linkakoa Ratu Bolaangitang. Keduanya memerintah atas masing-masing kerajaan bagiannya serta memerintah bersama kedua kerajaan tersebut. Tapi keduanya memiliki karakter berbeda dan tidak mau begitu saja menerima keputusan para penakluk menyatukan kerajaan mereka. Keduanya bercerai. Mobiling memiliki seorang anak dari perkawinan lain bernama Tiaha yang setelah dibaptis Kristen Reformasi menggunakan nama Willem Cornput. Ketika Mobiling meninggal, saudaranya Binangkal datang dari Buol dan mengklaim tahta Kaidipang. 

Cerai dari Mobiling, Linkakoa kawin dengan Intji Mannis seorang pangeran yang tahun 1674 diangkat menjadi Raja Taywila, sekarang Tawaeli kecamatan di Kota Palu. Linkakoa mengangkat suaminya tersebut sebagai Jogugu Bolaangitang pengganti Barmalipu yang dibunuh atas perintah Linkakoa Juni 1680. 

Nama ketiga yang dikenal adalah Don Carlo yang juga menjabat jogugu dan meninggal sebelum tahun 1690. 

Kendati sudah berusia tua, Linkakoa kembali menikah pada Minggu 19 Agustus 1690 dengan laki-laki muda bernama Augustyn Moloto Boegoe (Bugu) asal negeri Langan. Perkawinannya bersama dua pasangan lain dilakukan oleh Predikant Ternate Ds.Gillius Cammiga yang melakukan kunjungan gereja dan sekolah di Bolaangitang.

                                                                             

PEWARIS

Dari perkawinan-perkawinan itu Linkakoa tidak memiliki anak. Namun Linkakoa telah mengangkat sebagai anak kemenakannya bernama Jeremias Solano. Ia adalah putra dari sangaji bernama Fabian Salabi dengan Dona Maria Duongo atau Dwong, adik wanita Linkakoa. Jeremias dibesarkan sedari kecil dan dididik sendiri oleh Linkakoa sebagai calon dan pewaris mahkota kerajaan Bolaangitang. Jeremias mengawini wanita bernama Maria Ceabo yang ditemui Ds.Cammiga Agustus 1690. 

Tanggal 30 April 1694 Linkakoa meninggal dunia setelah menderita sakit. 

Vandrig David Haak, komisi dari Gubernur Cornelis van der Duyn dalam catatan hariannya bertanda loji Kompeni di benteng Amsterdam Manado 3 Mei 1694 mengungkap pesan terakhir Linkakoa kepada komandan pos Kaidipang Kopral Jacob Jojeus. Ketika Jojeus bertanya apakah Linkakoa memiliki sesuatu untuk diungkapkan kepada Kompeni, Linkakoa mengaku tidak memiliki permintaan apa-apa, selain bahwa setelah kematiannya adalah Jeremias Solano yang akan menggantikannya sebagai raja, dan saudara Jeremias bernama Augustin Solago sebagai jogugu, keduanya putra saudara perempuannya Dona Maria Duongo. 

Sebelumnya juga Linkakoa kepada Fiskal Jacob Claasz serta para bobato telah memesan anak angkatnya Jeremias sebagai raja pengganti. 

Namun Haak menolak keinginan terakhir Linkakoa ini. Ia memerintahkan Jojeus agar pemerintahan Bolaangitang untuk sementara dijalankan oleh para bobato di bawah Kapiten Laut Pedro Goma. 

Pemerintahan Goma dianggap tidak efektif sehingga dengan keputusan Gubernur Duyn 11 Februari 1695 dipilih Willem Cornput anak tiri Linkakoa sebagai regent Bolaangitang. Duyn menjalankan pesan mantan Gubernur Robertus Padtbrugge bahwa sepeninggal Linkakoa penggantinya adalah Willem anak Mobiling. 

Willem Cornput mendapat dukungan kuat dari pamannya Raja Kaidipang Maurits Binangkal yang menginginkan Bolaangitang menjadi satu dengan Kaidipang. Binangkal termasuk Padtbrugge selalu menganggap Bolaangitang adalah bagian Kaidipang yang terpisahkan ketika diinvasi dan dibagi dua oleh Siau dan Bolaang Mongondow. Cornput sebelumnya telah dipercaya Binangkal sebagai Jogugu Kaidipang dan calon penggantinya kelak. 

Keputusan Gubernur Duyn diprotes Jeremias Solano beserta ayahnya Fabian Salabi dan ibunya Dona Maria Duongo serta hampir semua bobato Bolaangitang yang ingin mengikuti wasiat Linkakoa. Tapi penolakan mereka berakhir ketika Sekretaris Pieter Alsteyn yang dikirim sebagai komisi mengancam akan menggabungkan Bolaangitang di bawah Dauw Kaidipang apabila tidak mendukung Willem Cornput. Alsteyn beralasan Willem Cornput berhak menjadi pengganti Linkakoa, karena ayahnya Mobiling pernah menikah dan memerintah bersama dengan Linkakoa. 

Dalam jurnalnya Alsteyn mencatat pertemuan yang dipimpinnya di rumah Kopral Jojeus di Dauw Rabu 1 Juni 1695 dihadiri Raja Binangkal, Jogugu Willem Cornput serta mantri Kaidipang dan di lain pihak para mantri Bolaangitang terdiri Jeremias Solano, Augustin Solago, Sangaji Fabian Salabi dan Kapiten Laut Pedro Goma. Pertemuan yang berlangsung hingga esok hari menyepakati Willem Cornput menjadi Raja Bolaangitang dengan Jeremias Solano sebagai jogugu. 

Keputusan resmi dari pemerintah tinggi di Batavia untuk Solano sebagai jogugu turun 28 Januari 1696 bersama pengangkatan Raja Tahuna Don Louis Melangin.

 

SENGKETA PANJANG

Kendati demikian hubungan antara Jogugu Solano dan Raja Willem tidak mulus, meski mereka berbesanan.

Putra tertua Jeremias dari istrinya Maria Ceabo bernama Nicolaas atau Claas Solano yang belakangan menggunakan nama Claas Ponto kawin dengan Jacomina Kinabi, putri Willem Cornput. 

Tahun 1697 ketegangan kembali timbul. Dona Maria Duongo dalam surat bertanda Boulang Itang 11 Oktober 1697 bermohon pada Gubernur Salomon Lesage supaya mahkota Bolaangitang diberikan kepada cucunya Claas Solano. Permintaan ini didukung Jogugu Jeremias Solano. 

Namun komisi di bawah Fiskal Pedagang Daniel Fiers dan Boekhouder Pedagang Muda Jan Walraven de la Fontaine mendamaikan mereka dalam pertemuan di Dauw dan Bolaangitang 6 dan 8 Agustus 1698. Jeremias Solano dan Willem Cornput menandatangani perjanjian kesepahaman, pengakuan terhadap Raja Willem sekaligus penyelesaian masalah-masalah budak tinggalan Ratu Linkakoa. 

Kuasa Raja Willem justu makin besar ketika Raja Kaidipang Maurits Binangkal meninggal 19 September 1699. Gubernur Lesage ingin Bolaangitang disatukan dengan Kaidipang. Dengan surat bertanda Ternate 29 Mei 1700 Lesage melapor kepada Gubernur Jenderal Mr.Willem van Outhoorn telah menginstruksikan Komandan Manado Sersan Henry de Chieze, agar Kaidipang dan Bolaangitang berada di bawah kekuasaan Willem Cornput. 

Tanggal 17 Maret 1702 Willem Cornput diangkat resmi sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang berkedudukan di Dauw Kaidipang. Satu kerajaan tapi dengan dua mantri terpisah di Kaidipang, dan mantri di Bolaangitang yang memiliki otonomi sendiri di bawah Jogugu Jeremias. 

Tapi pengabungan Bolaangitang dengan Kaidipang tidak menyudahi perselisihan mereka. Raja Willem berkali melaporkan Jogugu Jeremias kepada gubernur dan Dewan Maluku sebagai tidak setia kepadanya.

Perselisihan memuncak tahun 1723, 1724 dan 1727. Jogugu Jeremias Solano dan mantri Bolaangitang meminta Gubernur Jacob Cloek mengangkat Claas Ponto sebagai raja. 

Kepada Pedagang Kepala Jacob Boner yang menjadi pemangku sementara gubernur Maluku, Jogugu Jeremias dalam surat bertanda Boulang Itam 23 Juni 1727 kembali mengingatkan Bolaangitang sejak awal merupakan kerajaan merdeka dan terpisah dari Kaidipang dimulai Ratu Bilobulawa hingga Ratu Linkakoa. Dirinya sebagai pewaris sah Linkakoa menagih Kompeni untuk mengangkat anaknya Claas sebagai Raja Bolaangitang. 

Namun dalam surat bertanda Kastil Oranje Ternate 24 Mei 1727, Raja Willem Cornput menentang pemisahan kembali. Alasannya bertentangan dengan kontrak 1702 yang mengakui dirinya sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang. Perjanjian mana dihadiri dan ikut ditandatangani oleh Jogugu Jeremias. 

Rekonsiliasi ditandatangani 2 Juli 1727 di depan Boner di Kastil Oranje antara Claas Ponto yang mewakili ayahnya bersama mantri Bolaangitang dengan Raja Willem dan mantri Kaidipang. Keputusan Bolaangitang tetap mengakui Willem Cornput sebagai raja mereka. 

Raja Willem kemudian mengundurkan diri dan putranya Albertus Cornput dilantik 4 Agustus 1729 sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang. Jeremias Solano yang lanjut usia ikut mengundurkan diri. Claas Ponto dilantik Gubernur Elias de Haeze sebagai jogugu baru Bolaangitang 3 Oktober 1729. 

Perselisihan justru melebar. Ketika Claas kembali dari Ternate 8 November 1729 setelah pelantikannya ia tidak menemukan istrinya Jacomina Kinabi. Kinabi yang telah memberinya empat anak, 3 perempuan dan 1 laki-laki telah diambil kembali oleh ayahnya mantan Raja Willem serta saudaranya Raja Albertus. Kinabi membela ayahnya dan saudaranya. Dalam surat bertanda Caudipan 10 April 1732 Kinabi mengaku tidak bahagia, karena Claas memiliki wanita lain, bahkan sampai enam orang dan ada yang memiliki anak. 

Sengketa mahkota Bolaangitang terus berlanjut diantara keturunan Jeremias Solano dan Willem Cornput. 

Ketika Claas Ponto meninggal April 1752, pemerintahan Bolaangitang untuk sementara waktu dijalankan bobato, karena Raja David Cornput menolak Israel Ponto anak Claas menjadi jogugu pengganti. Sampai tiga kali dipanggil ke Ternate oleh Gubernur Jan Elias Mylendonk baru Raja David setuju.

Israel Ponto diangkat sebagai jogugu Bolaangitang oleh Residen Jan Smith dengan keputusan gubernur baru Abraham Abeleven 23 Februari 1757. 

Seperti ayahnya Israel Ponto memperjuangkan kemerdekaan Bolaangitang dari Kaidipang. Untuk meredakan tuntutan Bolaangitang Abeleven menaikkan jabatan Israel dari jogugu menjadi Jogugu Penghulu atau regent. 

Israel Ponto meninggal akhir tahun 1769. Pengganti sebagai jogugu penghulu sejak 1770 adalah putranya yang bernama Nicolaas Ponto. Namanya sama seperti kakeknya Claas.1 

Nicolaas bertindak berani. Tahun 1771 ia menunjuk Anthony Daniaenu menjadi jogugu dan dua orang lainnya sebagai kapiten raja. Raja Jacobus Cornput menolak sebab jabatan kapiten raja adalah hal baru. Kepada Gubernur Jacob Valckenaer ia beralasan Nicolaas bukan raja. Komisi di bawah Sekretaris Bartholomeus van de Walle dan Dirk Vrymoet menyetujui promosi tapi dengan koreksi pada posisi kapiten raja. Ia diingatkan pengangkatan mantri harus dengan izin dan sepengetahuan raja di Kaidipang dan Kompeni. 

Pada tahun 1788 Nicolaas Ponto kembali berselisih dengan Raja Willem David Cornput. Ia meminta rakyat menghormatinya dengan gelar raja, dan untuk merayakan dilaksanakan pertunjukan kolintang sepanjang malam. Residen Johan Daniel Schierstein dalam surat kepada Gubernur Alexander Cornabe bertanda Benteng Amsterdam Manado 11 Desember 1788 mengutip utusan yang menemuinya bahwa, ‘’Tuan Raja Boelangitam minta bermain koelintang entero malam.’’ 

Schierstein mengaku menegur Nicolaas Ponto karena Kompeni belum membuat kontrak pribadi dengannya. Ia memastikan bahwa tidak ada satu pun hak istimewa yang diberikan kepadanya oleh Kompeni. Nicolaas Ponto menjawab utusannya mungkin telah menggunakan nama raja karena ketidaktahuannya. 

Bolaangitang baru menjadi kerajaan kembali ketika anak Nicolaas yakni Salomon Ponto menyatakan Bolaangitang menjadi kerajaan independen yang terpisah dari Kaidipang pada masa pemerintahan Kompeni Inggris.2 

Salomon Ponto diakui sebagai Raja Bolaangitang ketika bersama mantrinya pada 1 April 1811 menandatangani kontrak politik dengan Residen Inggris Kapten Charles Forbes di Benteng Amsterdam Manado.

  

 

1.Dari tradisi Bolaangitang anak dan pengganti Israel Ponto bernama Antogia Ponto.

2.Tradisi menyebut pula Salomon Ponto mengganti ayahnya Antogia dan dilantik sebagai Raja Bolaangitang pertama pada 21 November 1793. Mantan Residen D.F.W.Pietermaat, J.B.J van Doren dan Komisaris Emanuel Francis memastikan peristiwa ini baru terjadi masa pemerintahan Kompeni Inggris. 

 

 

(Sumber tulisan naskah Bolaang Mongondow Masa Kompeni dan Hindia-Belanda).

 

SUMBER LAIN:  

Coolhaas, W.Ph., Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel 7 1713-1724; deel 8 1725-1729; deel 9 1729-1737.

Doren, J.B.J.van, Bijdragen tot de kennis van verschillende overzeesche landen, volken, enz, 1 Amsterdam, 1860.

Francis, E., Herinneringen uit den levensloop van een Indisch Ambtenaar van 1845 tot 1854, 3, Batavia, 1860.

Leupe, P.A., Het Journal van Padtbrugge's reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, BKI 14, 1867.

Pietermaat, D.F.W., Statistieke aanteekeningen over de Residentie Menado, TNI jrg 3, 1840 (1e deel) no.3.

Silsilah Keluarga Ponto koleksi Iftiqar S.A.Ponto.

Usup, H.T., Sejarah Singkat Kerajaan Kaidipang Besar (Kaidipang dan Bolaang-Itang), 2, Manado, 1979.

Valentijn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, 5, Joannes van Bram dan Gerard Onder de Linden, Dordrecht-Amsterdam, 1724. 

Minggu, 18 Januari 2026

Kisah Putri Hester Manoppo dan Raja Ismael Jacobs

 


Makam Raja Ismael Jacobs di Ondong. Foto Istimewa.


Sejarah Sulawesi Utara mencatat banyak wanita cantik, yang pesonanya melampaui batas kerajaan asalnya, sehingga tersiar dan menjadi buah tutur di mana-mana.

Hal ini yang terjadi dengan Hester Manoppo, seorang putri dari kerajaan Bolaang Mongondow. Ia sangat cantik, apalagi ia bukan wanita sembarangan, karena putri dari Raja Salomon Manoppo yang berkuasa di Bolaang Mongondow tahun 1735-1746, dan ulang memerintah selang tahun 1756-1764. Ayahnya sempat diasingkan selama delapan tahun oleh Kompeni Belanda di Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), Afrika Selatan sekarang. 

Putri Hester adalah anak bungsu Raja Salomon, sehingga sangat disayangi ayahnya. 1   

Kecantikannya menyebabkan ia menjadi dambaan banyak bangsawan, termasuk raja dari kerajaan tetangga, bahkan kerajaan yang berada di Nusa Utara. 

Salah seorang raja yang mendengar kecantikan Putri Hester dan jatuh cinta padanya adalah Ismael Jacobs. Ismael juga rupawan, kaya raya dan menjadi Raja Siau. Ayahnya adalah Raja Daniel Jacobs dan ibunya Pieternella Doelang anak mantan Raja Tabukan Don Mattheus Francisco Makaampo. Setelah ayahnya Raja Daniel meninggal 31 Desember 1751, Ismael Jacobs dilantik menjadi Raja Siau 1 Desember 1752 di Kastil Oranje Ternate. 2 

Tahun 1759, sudah hampir tujuh tahun menjadi raja, Ismael belum memiliki seorang permaisuri. Meski sekedar mendengar dari kisah-kisah banyak orang akan kecantikan Putri Hester, ia jatuh cinta dan ingin mengawininya. 

Kecantikan Putri Hester didengarnya langsung dari Elias Jacobs yang menjadi kapiten laut dan Anthony Jacobs, dua adiknya yang banyak melakukan perjalanan ke kerajaan-kerajaan di pesisir utara dan selatan Sulawesi. 

Lamaran Putri Hester segera diajukan Raja Ismael kepada Raja Salomon Manoppo. Namun pinangan dengan barang hantaran harta ditolak Raja Salomon. Ia tidak ingin berpisah dengan putrinya, karena Siau berada di pulau yang jauh dari Bolaang, negeri kedudukannya. Apalagi ia baru pulang di Bolaang kembali pada 25 Oktober 1756 setelah pengasingan dan belum lama berkumpul dengan anak-anaknya. Putri Hester pula enggan karena sangat mencintai ayah dan tanah kelahirannya. 

Penolakan terjadi berulang. Namun bukannya mundur, Raja Ismael semakin bertekad untuk mengawininya. Untuk menunjukkan keseriusannya, dengan korakora kebesarannya serta banyak kapal dan bangsawan pengiringnya pada bulan Agustus 1759 Ismael berlayar ke negeri Bolaang ibukota Bolaang Mongondow tanpa menyinggahi Manado untuk melapor tujuan perjalanannya kepada Residen Gerard Reynier de Cock yang baru menjabat. Perjalanan masa itu selalu membutuhkan izin sersan komandan pos di Tabukan atau residen di Manado. 

Penolakan secara halus masih diterima Raja Ismael dari Raja Salomon. Namun Ismael sangat bertekad dan gigih, tidak mau meninggalkan Bolaang Mongondow tanpa membawa Putri Hester. Kejadian ini sampai berlangsung berbulan-bulan. 

Akibatnya rombongan Raja Ismael dari Siau membuat hiruk pikuk negeri Bolaang, karena sebagai raja ia harus diperlakukan dengan kehormatan sesuai adat berlaku antarkerajaan. Penduduk Bolaang, bahkan dari pelosok menjadikan mereka tontonan menarik. 

Kesabaran Raja Ismael membuahkan hasil, setelah menunggu beberapa bulan di Bolaang, ketika Raja Salomon merestui dan melangsungkan pernikahan Ismael dan Putri Hester yang meriah pada tanggal 20 Juni 1760. 

Tapi hingga bulan Oktober 1760 Raja Ismael masih bertahan di Bolaang. Karena ayah mertuanya Raja Salomon sangat menginginkan putrinya tinggal selama satu tahun lagi di Bolaang. Sedangkan Raja Ismael tidak ingin pergi tanpa membawa istrinya. 

Masa tinggal Raja Ismael yang lama berbuntut. Pasokan emas dari Bolaang Mongondow yang diwajibkan oleh Kompeni tidak ada. Penduduk tidak menambang atau menggali emas. Bukan hanya Residen de Cock yang gelisah, atasannya Gubernur Maluku di Ternate Jacob van Schoonderwoert menegur keras Raja Ismael dan Raja Salomon. 

Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel bertanda Ternate akhir Juni 1761 Schoonderwoert menyesalkan Raja Ismael yang meninggalkan Siau cukup lama membengkalaikan urusan kerajaannya, selain tanpa izin. Sedangkan Raja Salomon dalam surat kepada Schoonderwoert bertanda Boelang 29 September 1760 mengakui selama menantunya masih berada di Bolaang tidak mungkin ia mengirim rakyatnya untuk menambang, sehingga tidak ada emas yang digali di Bolaang.


SELALU KEMBALI

Putri Hester di Siau terus merindukan Bolaang, dan karena Raja Ismael sangat mencintai istrinya, banyak kali ia mengantarnya. Hal ini menyebabkan ia berkali ditegur residen dan gubernur. 

Ini terjadi pula ketika Raja Salomon Manoppo meninggal tanggal 30 Agustus 1764, dan keduanya turut hadir memakamkannya. 

Dan saat keduanya masih berada di Bolaang, di Siau terjadi serangan Sarangani dan Mindanau. Gubernur Schoonderwoert yang menerima kabar tersebut 29 Mei 1765 meminta Raja Ismael dan adiknya Elias Jacobs segera datang ke Ternate untuk penyelidikan masalah tersebut. Schoonderwoert mengkritik Raja Ismael karena ia berlama-lama di Bolaang, apalagi ketika kembali ia bukan langsung pulang ke Siau, tapi berlayar lebih jauh ke Amurang. 

Awal tahun 1765 itu orang-orang Sarangani dibantu Mindanau menyerbu Siau menghancurkan tiga negeri dan menawan tiga putrinya serta Pangeran Hendrik Jacobs Larabuwatan dan enam orang lainnya. Negeri Pehe dan Lehi paling menderita karena dijarah dan dibakar. Pemicunya peristiwa tahun 1762 ketika Elias Jacobs membunuh dan memenggal kepala lima orang Sarangani berasal Pulau Malurang di Pulau Majau, termasuk seorang pangeran bernama Salobo. Mereka tidak mau meninggalkan Siau menuntut pembunuh diserahkan. 3 

Putri Hester masih sering ke Bolaang, termasuk mendukung saudaranya Eugenius Manoppo menjadi raja pengganti ayah mereka dan bersedih ketika Eugenius kemudian ditahan Desember 1768 dan diasingkan seperti ayah mereka di Tanjung Harapan. Tapi Hester telah dijemput suaminya pulang ke Siau sebelum penangkapan tersebut. Hester pun mendukung Manuel Manoppo menuntut tahta Bolaang tahun 1773, namun Belanda lebih mendukung sepupu mereka Marcus Manoppo.4 

Terakhir kunjungan Putri Hester di Bolaang tahun 1789 memperjuangkan warisan mendiang ayahnya Raja Salomon yang dikelola bobato dan Raja Marcus Manoppo. 

Raja Ismael Jacobs lebih dulu meninggal, dari laporan Residen Willem Fredrik Mertsz, pada tanggal 9 Agustus 1784. 5 

Putri Hester Manoppo masih menyaksikan putra tertuanya Ericus Jacobs menjadi raja pengganti ayahnya 7 Oktober 1786. Putra lainnya Eugenius Jacobs menjadi raja berikut tahun 1796. Seorang putri bernama Filipina Silagonda dikawini Raja Bolaangitang Salomon Ponto.

 

 

1.   Selain Hester, anak Raja Salomon adalah Putri Sarah Manoppo, sedangkan para putra adalah Eugenius Manoppo dan Manuel Manoppo. Kedua putranya belakangan menjadi Raja Bolaang Mongondow pula. Menurut surat Manuel Manoppo 28 Januari 1790 mereka enam bersaudara, selain dia dan Eugenius, empat lainnya adalah wanita yang ketika itu masih hidup. Sementara dari dua surat puluhan bobato Bolaang dan Mongondow bertanda Mogondo 19 Agustus 1752, tiga anak lain Raja Salomon meninggal akibat perlakuan buruk sejak Raja Salomon ditahan dengan tipu muslihat oleh Kompeni 15 September 1746.

2.   Fam raja-raja Siau dalam tulisan menggunakan nama Jacobs atau sering dicatat Jacobsz seperti bukti surat-surat tinggalan dan berbagai laporan masa itu.

3.   A.J.van Delden menyebut nama Kapiten Laut Elias Jacobs adalah Lulie. Untuk kasus ini Gubernur Hendrik Breton melaporkan Elias Jacobs dipenjarakan di Manado 26 Desember 1765, dan meninggal 8 Januari 1766 sebelum persidangannya. Raja Manganitu Daniel Katiandagho yang diutus para Raja Sangihe 17 Agustus 1765 berhasil membujuk Sultan Mindanau dan membawa pulang para tawanan. Namun ekspedisi balas dendam atas invasi Sarangani-Mindanau baru dilakukan Oktober 1770 dipimpin Kapten Letnan Francois Le Grand dan Pedagang Muda sekaligus penerjemah Francois Bartholomeus Hemmekam, dengan 956 pasukan, dimana Raja Ismael dipercayakan memimpin sebanyak 750 prajurit Sangihe. Negeri Batu Laki di Sarangani dihancurkan dan dibakar, serta Pulau Malurang dibombardemen dengan meriam dan granat tangan.

4.   Manuel atau Emanuel Manoppo baru dipilih Dewan Politik Maluku di bawah Gubernur Alexander Cornabe menjadi Raja Bolaang Mongondow 25 Januari 1793 sebagai pengganti Marcus Manoppo yang sudah tua.

5.   Inskripsi pada kubur Raja Ismael di Ondong dengan ejaan Indonesia terbaru menerakan masa menjabatnya hingga 1788.

 

 

 

(Sumber tulisan naskah Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, dan Bolaang Mongondow Masa Kompeni dan Hindia-Belanda). 

 

 

SUMBER LAIN:

Delden, A.J.van, De Sangir-eilanden in 1825, Indische Magazijn, 1844.

Dunnebier, W., Over de vorsten van Bolaang Mongondow, BKI 105, 1949.

Wilken, N.P.dan J.A.Schwarz, Allerlei over het land en volk van Bolaang Mongondou, MNZG, 11 1867.