![]() |
| Pius Waworuntu dan Mien Warokka. Foto: Keluarga Waworuntu. |
Seorang Minahasa yang selama ini dikenal pernah menjadi raja di Siau, Frans Pieter Parengkuan. Awalnya sebagai pejabat raja pada bulan Desember 1935, lalu menjadi raja sejak tahun 1941 hingga 1946.
Namun sebelumnya diketahui ada orang Minahasa lain yang pernah ikut memimpin kerajaan Siau. Dia adalah Exaverius Walewangko Jacob Waworuntu. Laki-laki asal Sonder Minahasa yang memiliki nama akrab Pius. Keturunannya percaya jabatannya di Siau sebagai raja pula. 1
Pius sebenarnya berdarah Tombulu. Ia adalah cucu dari Majoor Herman Carl Waworuntu (1781-1854), Kepala Distrik Sarongsong di Kota Tomohon sekarang, tokoh pertama menjadi Kristen Protestan di Tomohon. Ayahnya Albertus Bernadus Waworuntu (1820-1897) adalah putra kedua Majoor Herman. Saudara tua Albertus yakni Zacharias (1816-1881) menjadi majoor kepala distrik Sarongsong sejak 1854. 2
Tahun yang sama ayahnya Albertus diangkat menjadi Jaksa Kepala (Hoofddjaksa) Landraad Manado hingga tahun 1861, menjadi Kepala Distrik Sonder bergelar majoor sebagai pengganti Majoor Tololiu Hermanus Willem Dotulong, menjadi orang Tombulu pertama memimpin wilayah Tontemboan. Dari istri ketiganya Aaltje Lasut, putri Kepala Distrik Ares Majoor Rares Johakim Bernard Lasut, Majoor Albertus memperoleh anak yang menjadi terkenal, Albert Lasut dan Exaverius Walewangko Jacob Waworuntu.
Karena usia tua, Majoor Albertus tanggal 17 Desember 1887 menyerahkan jabatan kepala distrik atau hukum besar Sonder pada anak tertuanya Albert Lasut, kelahiran tahun 1861, yang juga memperoleh gelar majoor. Adiknya Exaverius atau Pius dipercayakan sebagai wakil dari kepala distrik kedua Sonder.
Karena cakap, Pius yang lahir tanggal 27 Juli 1868, ditarik ke Manado, diangkat menjadi Kepala Distrik Kedua atau Hukum Kedua Manado. 3
Di Manado, Pius mendampingi pamannya dari pihak ibu Samuel Bernard Lasut yang menjabat kepala distrik.
Pius mengawini Mien yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Jacomina Warokka. Pius dan Mien menikah ketika Mien baru berusia 15 tahun. Mien adalah putri dari Kepala Distrik Kawangkoan Majoor Hendrik Alanus Warokka. Mien adalah wanita modern di masanya. Ia bersekolah di Meisjesschool atau Sekolah Nona yang dibuka di Tomohon dan lulus tahun 1886. Mien pintar sehingga diangkat menjadi guru Sekolah Nona. Mien tercatat sebagai guru wanita pertama di Minahasa.
BANTU BERESKAN MASALAH SIAU
Kondisi Siau sendiri di awal tahun 1890-an penuh gejolak dan tidak stabil. Raja Jacob Ponto telah ditahan Residen Marinus Cornelis Emanuel Stakman Agustus 1889 dan diberhentikan Gubernur Jenderal Pijnacker Hordijk 16 Oktober 1889, karena berbagai tuduhan. Raja Ponto diasingkan dan meninggal karena kolera di Cirebon Mei 1890. Penggantinya Presiden Pengganti Raja Andries Salindeho yang ditunjuk sementara sejak 14 Agustus 1889 dianggap gagal, bertindak ceroboh dan bias dalam memungut pajak hasil. Ia pun disebut berada di bawah kendali penuh pengikut setia mantan raja Ponto.
Tidak sampai satu bulan, Residen Stakman menggantikan Salindeho 5 September 1889 dengan Jogugu Ulu Lemuel David alias Dadae. Baru tanggal 11 Februari 1890 David diangkat sebagai wakil raja dengan gelar presiden pengganti raja.
Pemerintahan David bersama beberapa pembantunya dianggap gagal pula, karena muncul ketidakpuasan penduduk yang mengeluhkan terjadinya tindakan sewenang-wenang.
Sejumlah penduduk Siau awal tahun 1896 berangkat ke Tahuna mengeluh pada Kontrolir Francois Cornelis Vorstman. Mereka dipulangkan dengan janji masalah mereka akan diperiksa. Namun, setelah kembali, mereka ditangkap dan dijatuhi hukuman. Beberapa di antaranya dipenjara selama satu tahun.
Akibatnya ketidakpuasan umum begitu besar. Eeltje Jelles Jellesma yang menjadi residen pengganti Stakman datang ke Siau Februari 1896. Ia memeriksa langsung keberatan-keberatan yang diajukan terhadap wakil raja David, jogugu dan dua anak mendiang Raja Ponto yang menjadi kapiten laut. Keputusannya, pengaduan yang diperiksanya benar. Jellesma segera memberhentikan mereka semua.
Jellesma lalu mengangkat dua kepala baru sebagai presiden pengganti raja dan jogugu. Manalang Dulag Kansil, yang menjadi jogugu Ulu diangkat menjadi presiden pengganti raja. Namun untuk membereskan masalah yang ada, Jellesma memperbantukan Hukum Kedua Manado Pius Waworuntu, lulusan Hoofdenschool atau Sekolah Raja di Tondano, yang berpengalaman dalam administrasi pemerintahan.
Pius hanya menjabat selama kurang lebih empat bulan. Tapi sukses membereskan dan menata kembali administrasi pemerintahan serta mewujudkan situasi yang lebih baik di Siau. Jellesma merasa Siau memerlukan pengawasan langsung, sehingga sebagai pengganti Pius diangkat Bernardus Christianus Anthonius Jacobus van Dinter sebagai aspiran kontrolir berkedudukan di Ulu.
Manalang Dulag Kansil kemudian dilantik Jellesma di Manado sebagai raja baru Siau pada tanggal 31 Agustus 1898 bersama raja-raja baru Manganitu dan Kendahe-Tahuna.
Karir Pius sendiri cemerlang. Begitu kembali di Manado, pada tanggal 17 Juli 1896, jabatan baru menanti. Ia dipromosikan sebagai Hukum Besar Kepala Distrik Sonder. Pius menggantikan kakaknya Majoor Albert Lasut.
Pius menjabat hingga 17 September 1904, digantikan Majoor Frederik Hendrik Dotulong. Setelah pensiun ia menjadi anggota Gemeenteraad Manado 1920-1923, dan Minahasaraad 1919-1926.
Dari Mien, Pius memperoleh delapan anak. Di antaranya dua putri yang menjadi guru seperti ibu mereka. Anak laki-laki yang bernama Albertus Bernadus Hendrik Waworuntu menjadi Wakil Walikota Manado masa Jepang dan kemudian Walikota Manado tahun 1945.
Pius sendiri meninggal di Manado 9 Februari 1928.
1.Fam sering ditulis Wawo-Roentoe, Wawo Roentoe, atau juga Waworoentoe.
2.Kepala Distrik dengan gelar hukum besar di Minahasa (setingkat wedana) memimpin wilayah hingga penghapusan tahun 1966. Sedangkan Kepala Distrik Kedua dengan gelar Hukum Kedua, sebagai pembantu hukum besar, ganti menjadi pemimpin wilayah dengan gelar camat.
3.Majoor, adalah gelar kehormatan sipil (rang tertinggi) bagi kepala distrik yang dianggap berjasa. Jabatan yang diperoleh kepala distrik setelah melalui rang hukum besar klas 2 dan klas 1, biasanya diberikan gubernur jenderal pada peringatan hari lahir raja atau ratu Belanda.
Sumber: Kerajaan-kerajaan di Nusa Utara.
Sejarah Tabukan, Tahuna, Kendahe, Kendahe Tahuna, Manganitu, Siau, Tagulandang dan Talaud, naskah buku.

Saya menulis dua buku sejarah:
BalasHapus1.Bolaang Mongondow masa Kompeni dan Hindia Belanda.
Sejarah kerajaan Bolaang Mongondow, Bolaangitang,
Kaidipang, Kaidipang Besar, Bolaang Uki dan Bintauna,
setebal 301 halaman.
2. Kerajaan-kerajaan di Nusa Utara.
Sejarah Tabukan, Tahuna, Kendahe, Manganitu, Siau,
Tagulandang dan Talaud,
setebal 529 halaman.
Saya mencari sponsor dan penerbit untuk kedua buku ini.
Bole menghubungi email saya: adrianus.kojongian@gmail.com.