Sabtu, 20 April 2013

Jan Louwerier, Tokoh Pendidikan Tomohon

 

 

 

 

Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 

Pandita Jan Louwerier. *)




Pekerjaan Pandita Nicolaas Philip Wil­ken di­­ Tomohon diteruskan oleh Pandita Jan Louwerier, ya­ng telah cukup lama mem­bantunya, yak­ni sejak tiba di Tomohon 22 November 1868. Berbeda dengan dua zendeling pendahulunya dari Jerman, Jan Louwerier asli orang Belanda, kelahiran Rotterdam 10 November 1840. Ia menempuh pendidikan zendeling sedari tahun 1862-1867, dan menikah tanggal 21 April 1870 di Rotterdam dengan Anna Maria van Leenhoff, namun diwakili karena dia berada di Tomohon.

Louwerier merupakan zendeling terakhir, ketika jemaat-jemaat yang berada dalam asuhan NZG bersama para zendeling sejak tahun 1874 dialihkan pada Indische Kerk (yang di kemudian hari menjadi Gereja Protestan di Indonesia). Pos zendeling berubah menjadi Hulppredikkers Afdeeling (Resort), sementara zendeling yang sebelumnya digaji NZG berubah predikat sebagai Hulppredikker (pendeta bantu atau pengkhotbah penolong) yang digaji pemerintah Hindia-Belanda, termasuk para Penolong Injil yang berganti sebutan sebagai Inlands Leraar. Hanya sekolah-sekolah NZG bersama guru-gurunya yang kebanyakan merangkap sebagai guru jemaat beserta Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzer en Voorgangers Kuranga masih diurus dan dibiayai NZG.

Resort Tomohon ketika itu meliputi Tomohon, Walian, Kakaskasen dan Wailan dengan penduduk resort sebanyak 7.066 orang. Pekerjaan Pandita Jan Louwerier masa itu banyak berupaya membendung Katolik yang mulai ikut tumbuh berkembang di Minahasa dan juga Tomohon, setelah Pastor Joannes van Meurs SJ diizinkan menetap di Manado.

Tanggal 25 Desember 1875 van Meurs melakukan permandian terhadap 14 penduduk Tomohon di Paslaten dan membentuk Jemaat Katolik Tomohon. Menyusul di Kakaskasen, Rurukan, Sarongsong, Woloan dan banyak negeri lainnya dikembangkan pengganti-penggantinya. Bahkan kemudian di tahun 1889 Misi Katolik menempatkan Pastor A.Bolsius SJ sebagai pastor menetap.

Pandita Jan Louwerier tak dapat berbuat apa-apa ketika cukup banyak orang pindah agama, bahkan perpindahan bisa berlangsung beramai-ramai, seperti terjadi di Rurukan yang hampir menyulut pertentangan. Perpindahan tersebut bisa dipicu oleh hal-hal sepele saja.

Tapi, Pandita Jan Louwerier tidak berpangku tangan saja. Ia semakin meningkatkan pelayanannya, menguatkan iman para anggota jemaat. Tidak heran jadwal hariannya begitu padat. Lihat saja, setiap hari Senin ia mengajar pelajaran Alkitab di Sekolah Zending (NZG). Malam harinya memberi pelajaran sidi. Setiap Rabu pagi memberi pelajaran agama pada para remaja yang telah lulus sekolah. Malamnya mengadakan pembacaan Alkitab pada para anak muda. Setiap Jumat malam, diadakannya pembahasan cerita-cerita Alkitab. Sabtu malam, pelajaran menyanyi untuk pemuda.

Hari Minggu petang, pelajaran agama di setiap negeri dalam daerah pelayanannya dengan ibadah Salinan berbahasa Tombulu. Kesempatan berkunjung di jemaat-jemaat sekitar Tomohon ini, dimanfaatkannya dengan keluar-masuk rumah, memberi nasihat, mendorong jemaat beribadah di gereja dan kadangkala memberikan obat pada orang sakit.

Minggu pagi sebelum kebaktian orang dewasa, ia mengadakan pelayanan ibadah gereja anak yang dikunjungi lebih seratus anak, termasuk murid-murid Meisjesschool dibawah usia 12 tahun. Lalu setiap Senin minggu pertama pada malam hari, digelarnya Zending Bidston (persekutuan doa untuk para pekabar injil). Selain itu, ia mengajar dua kali seminggu di sekolah pemerintah (gouvernementsschool).

STOVIL DAN MEISJESSCHOOL 
Pandita Jan Louwerier menjadi terkenal se­­bagai seorang tokoh pendidikan besar di Tomohon. Selain memimpin Resort Tomohon, ia juga Direktur Sekolah Penolong Injil, yang telah menjadi Kweek­school voor Hulpzendelingen lalu School tot Opleiding voor Inlandsche Leraar (STOVIL). Karenanya berbeda Hulppredikker lain, Jan Louwerier serta para pengganti berikutnya berpredikat Huppredikker Opleider, selain memimpin resort juga memimpin STOVIL. 

STOVIL Tomohon di Paslaten ini menjadi yang kedua di Indonesia Timur. Pelajar sekolahnya kecuali hari Sabtu, belajar dari jam 08.00-12.00 dan jam 14.00-16.00 serta malamnya belajar sendiri dari jam 19.30-22.00.


Gedung Meisjesschool di Kaaten tahun 1920-an. *)

Dalam pekerjaan yang beragam, Louwerier dibantu 3 penolong in­­jil tamatan sekolah yang dipimpinnya itu. Mereka juga mem­­bantunya mengajar di STOVIL. Menyusul guru-guru STO­­VIL diambil dari tamatan terbaik sekolah itu yang di­­didik selama 5 tahun. Lulusan sekolahnya menjadi penolong injil lalu inlands leraar, ditempatkan di penjuru Minahasa bahkan sampai ke luar daerah. Tidak heran bila kelak Pandita Jan Louwerier digelari Bapa Inlands Leraar.

Usahanya di bidang pendidikan tidak sampai di STOVIL saja. Pandita Jan Louwerier pada tanggal 1 November 1881 mem­­buka de Kost- en Dagschool voor Dochters van Hoofden en Aanzienlijken in de Minahassa (sekolah siang dengan asrama bagi putri para kepala dan tokoh-tokoh di Minahasa) dengan topangan dana 20.000 gulden dari Nederlandse Hervormde Kerk di Negeri Belanda.

Murid Meisjesschool awal abad ke-20. *)

Sekolah yang telah diusulkan sejak akhir tahun 1867 itu, untuk sementara wak­­tu bertempat di Sekolah Penolong Injil dan bekas rumah Pandita Wilken lalu di Kuranga, dan terakhir setelah gedungnya selesai dibangun di Kaaten Matani (kini ditempati SD GMIM III Tomohon). Seko­lah­ yang lebih dikenal dengan nama Meisjesschool (Sekolah Nona) didirikan dengan pemikiran para anak gadis harus berpengetahuan sebelum menikah. Bukan hanya anak-anak perempuan elit Minahasa, tapi siswanya juga anak-anak Tionghoa.

Sekolah dasar enam tahun berasrama dengan pelajaran dalam bahasa Belanda ini merupakan imbangan dari Sekolah Raja (Hoofdenschool) yang didirikan pemerintah Hindia-Belanda di Tondano tahun 1865. Mata pelajaran yang diajarkan adalah membaca, menulis, berhitung, geografi, sejarah, Melayu, agama, menggambar, menyanyi dan kerajinan. Kepala sekolah pertamanya adalah Gysbertha Ca­­tharine Krook, kelahiran Amsterdam 30 November 1850, dengan mu­­rid pertama 26 orang (15 kost 11 tidak), tahun 1889 27 orang (23 kost 4 tidak), tahun 1898 sebanyak 33 siswa (29 kost 4 tidak). Siswanya di tahun 1905 sebanyak 111 orang (90 kost 11 tidak). Tahun 1917 ada 17 siswa dari Sangihe.

Nisan Catharine Krook di Talete I. *)

Setelah meninggal karena terkena wabah kolera 16 Mei 1886 Nona Krook diganti Nona W.C.de Ligt (kelak kawin dengan Hendrik C.Kruyt), dibantu murid terpintar dan paling maju sebagai guru belajar (kwekeling) Nona Wilhelmina Warokka, anak Kepala Distrik Kawangkoan Mayoor Hendrik Alanus Warokka. Direktur pria di sekolah wanita itu pertamakali dipegang A.Limburg 9 April 1894. Lalu berikutnya H.Beunders, A.Verkuyl dan Nico van der Post. Siswa pria mulai diterima tahun 1898 sebanyak 5 orang, dan tahun 1905 sebanyak 10 orang.


Wilhelmina Warokka. *)


Untuk jasa-jasanya, Louwerier menerima penghargaan Ridder in de orde van Oranje-Nassau dengan beslit Ratu Wilhelmina tanggal 31 Agustus 1898. Ia menerimanya bersama-sama Johann Albert Fraugott Schwarz pendeta dari Sonder dan Zendeling Tagulandang Friedrich Kelling.

Pandita Jan Louwerier bertugas di Tomohon 40 tahun lamanya, sampai tahun 1909, ketika pensiun dan kembali ke Negeri Belanda. Istrinya Anna Maria van Leenhoff meninggal di Tomohon tanggal 28 Juni 1901, sedangkan kelima anaknya bernama: Dirk, Johannes, Thomas, Appolonia Anna Maria dan Margje Magdalena, semuanya lahir di Tomohon.

Gereja Protestan (Sion) ketika selesai dibangun 1930. *)

Pandita Jan Louwerier sempat menyampaikan ucapan selamat dan ucapan puji-pujian kepada Jemaat Tomohon dari Utrecht ketika gedung gereja Sion yang baru, ditahbiskan dalam upacara meriah tanggal 23 Februari 1930. Louwerier yang sempat mengajar di Sekolah Zendeling, mengalami kebutaan sejak tahun 1923.

Ia meninggal dunia dalam usia lanjut, 92 tahun di Utrecht tanggal 16 Februari 1933. Di Tomohon, untuk mengenang teladannya, ketika Jongenschool Tomohon tahun 1933 digabungkan dengan Meisjesschool di Kaaten Matani, sekolahnya sengaja diberi nama Hollands Inlands School (HIS) Louwerier, atau lebih terkenal dengan nama Louwerierschool, dipimpin oleh Elvianus Katoppo.

Selain Wilken dan Louwerier, ada banyak zendeling lain ya­­ng ikut membantu usaha-usaha pemberitaan injil dan mengkristenkan penduduk Tomohon, terutama para direktur dan guru Kweekschool Kuranga. Sekolah ini banyak meng­ha­­silkan tenaga-tenaga cendekia pertama disamping pemimpin-pemimpin jemaat di seluruh negeri Minahasa. Mereka adalah Hen­­drik Cornelis Kruyt (1886-1889, kelak ke Batak), Ate Hulstra (wakil direktur 1889-1890), dan ke­­mu­dian Johannes Hendrik Hiebink Rooker (anak Pendeta Ton­­dano Hessel Rooker, 1890-1926). Berikutnya B.Berends ten Kate (1926-1927) dan Jan Mulder (1927-1930). Selain mereka ada J.L.Moens, dari Ratahan, bertugas ta­hun 1895-1896. Lalu Zendeling A.Limburg ya­ng tahun 1893 menjadi Direktur Jongenschool dan sejak 1898 selaku Direktur Meisjesschool.

Pengganti Pandita Jan Louwerier se­bagai Hulpprediker Opleider adalah Ds.Dr.Samuel Schoch (Leiden 17 April 1873-Weltrevreden 3 Juni 1912), yang ba­ru tiba tahun 1910. Sebagai pejabat memimpin Jemaat To­mohon dan STOVIL di tahun 1909 adalah Ds.J.G.deHa­an dan Ds.J.E.de Vries. Schoch berhasil membangun gedung untuk sekolah dan as­­rama dengan biaya pemerintah, lalu meninggal ketika hendak ke Negeri Belanda. Penggantinya se­­bagai pendeta Tomohon dan direktur STOVIL tahun 1912 Ds.M.de Koning yang dipindahkan dari Tara-Tara. Di tahun 1920 Ds.H.Groothuis pindah dari Langowan memimpinnya. 

Pendeta Gustav F.Schroder. *)

Saat Groothuis pindah ke Ambon tahun 1924 Ds.Gustav Ferdinand Schro­­­der (Tabukan 31 Mei 1868-Barmen 5 Juli 1927) dari Son­der meng­gantinya. Ma­sa Schro­der, je­ma­at Walian ya­­ng baru dipimpin oleh se­orang In­lands Le­raar, di­ja­di­kan tempat siswa STOVIL berpraktek. Di­­si­ni, para pela­jar­nya ber­gi­liran ber­kotbah, ber­ka­­te­ki­­sasi, sekolah ahad (minggu), me­ngajar nya­nyi­an, me­ngun­jungi ru­mah-ru­mah, kebun-kebun bahkan me­ngun­jungi ora­ng sa­kit. Ketika cuti dan meninggal di Barmen Jerman, untuk sementara Je­­maat Tomohon dan STOVIL dipimpin Ds.D.Bunte tahun 1926. 

Setahun kemudian (1927) tiba pengganti Schroder, yak­­ni Ds.Frederik Hendrik van de Wetering (Amsterdam 7 September 1896-‘s-Gravenhage 12 September 1962), sebelumnya Direktur STOVIL Kupang. Namun tak lama, de Wetering meletakkan ja­­ba­­tan ketika bulan Agustus menjadi Burgemeester (Walikota) Manado. Peng­­gantinya Ds.A.Z.R.Wenas sejak tanggal 10 Agustus 1928. Wenas menjadi orang Minahasa pertama yang diper­ca­ya dalam jabatan itu. 

Ds.A.Z.R.Wenas. *)

Masa Ds.Wenas men­jadi Ketua Kla­sis Tomohon, wijk­ge­­meenten (jemaat ne­geri) menjadi pa­ro­ki dilengkapi dengan kanisah-kanisah yang khusus di­gunakan untuk katekisasi, pertemuan jemaat, pelajaran nya­nyi dan lain-lain. Perjamuan kudus, juga pelayanan bap­tisan dan pemberkatan nikah hanya dilakukan di ru­mah-rumah gereja, terutama gereja Protestan Tomohon di Paslaten untuk je­maat negeri-negeri di pusat Tomohon.

GEREJA BARU
Gereja Besar Tomohon yang telah dipakai selama lebih 80 ta­­hun terbuat da­­ri papan dan beratapkan rumbia, akhirnya dibongkar ta­­hun 1929. Berlokasi di bagian belakang bekas gereja la­­ma dibangun gedung gereja baru, berkonstruksi beton ba­­ik tiang mau pun dinding, dengan arsitek Insinyur Praktek Experius Wajong. Bangunan tersebut dengan lonceng di dalamnya (se­be­lumnya tempat lonceng berada di pekarangan depannya), di­tahbiskan pemakaiannya tanggal 23 Februari 1930. Nama Sion untuk gereja ini baru digunakan di awal tahun 1950-an.

Interior dalam Gereja Protestan (Sion) tahun 1930. *)

Selain rumah gereja besar ini, terdapat gereja Wa­li­an (kini Imanuel), dan sejak tahun 1933 dibangun gedung gereja di Ma­tani (Baitani). Jemaat Kolongan, Kamasi, Paslaten, dan Talete ma­sih tetap beribadah hari Minggu di gereja besar. Ke­baktian di gereja tersebut sejak tahun 1935 berlangsung 2 kali, pagi dalam bahasa Indone­sia dan sore hari kebaktian berbahasa Be­landa yang diikuti oleh orang-orang Belanda serta asi­ng lainnya yang bekerja dan tinggal di Tomohon, sampai tahun 1950.
          
Dengan pendirian GMIM tahun 1934, sebutan Hull­pre­di­kers Afdeling (Resort) berubah menjadi Klasis. Klasis To­mohon terbentuk dari gabungan bekas Resort Tomohon dan Resort Tara-Tara. Wilayah pelayanannya makin besar, ke­tika tanggal 1 Januari 1942 Jemaat Sarongsong yang sebelumnya masuk pelayanan Klasis Sonder ikut di­gabungkan ke Klasis Tomohon.
 

Anak sekolah menyambut tamu di depan Gereja Protestan. *)

Setelah Sidang Sinode GMIM bulan Juni 1951 ke­­luar keputusan menggiatkan aktivitas jemaat ke ke­lom­­pok-kelompok lebih kecil. Klasis Tomohon dijadikan se­­­ba­gai Jemaat Lingkaran Tomohon yang terdiri dari Je­­­maat Bagian Kolongan, Kamasi, Paslaten dan Talete. Di­­­tambah Jemaat Lahendong, Pangolombian, Sarongsong, Pi­­­naras, Walian, Rurukan, Kumelembuai dan Woloan. Ka­kas­­­kasen sejak saat itu menjadi Jemaat Lingkaran sen­di­ri. Jemaat lain di utara Kota Tomohon masuk pelayanan Wilayah Kakaskasen. Jemaat Lingkaran Tomohon kemudian menjadi Wilayah Tomohon, yang be­la­ka­ngan ini terbagi atas Wilayah Tomohon I, Tomohon II dan Tomohon III.  

Kegiatan iba­dah hari Minggu di negeri-negeri pusat ko­ta mulai di­la­ku­kan di gedung-ge­dung kanisah, ke­cuali pelayanan bap­tisan dan sidi ma­sih di Gereja Si­on. Baru setelah Sidang Si­node tahun 1966 berlaku pera­tu­ran yang men­ja­di­kan jemaat-jemaat di pusat Tomohon menjadi berdiri sendiri. Maka ba­ngunan-bangunan kanisah mulai dikembangkan anggota je­maat menjadi gedung semi permanen lalu permanen. Seperti di Paslaten (jadi Maranatha) sejak 1948, Talete (Bait Lahim) Februari 1955, Kamasi (kelak Bait-El) tahun 1955 lalu 1984, serta Kolongan (Elim) November 1970.  ***

       *).Foto: goop.nl, koleksi Jootje/Maurits Umboh, koleksi KITLV dan foto bersebaran.

SUMBER PUSTAKA:
Adrianus Kojongian: ‘Tomohon Kotaku’ 2006.
Adrianus Kojongian: ‘Tomohon Dulu dan Kini’, naskah 2007.

1 komentar:

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.