Rabu, 18 Januari 2017

Manado Tahun 1873

















Rumah di Tondano. *)






Selalu menarik mengikuti perjalanan sejarah Provinsi Sulawesi Utara, termasuk Provinsi Gorontalo, bahkan Sulawesi Tengah ketika masih bernama Keresidenan Manado.

Keresidenan Manado, telah berdiri sendiri, lepas dari Provinsi Maluku dengan beslit 31 Agustus 1861 (Staatsblad 128). Minahasa-Manado terbagi 5 afdeeling, yakni: Manado, Kema, Tondano, Amurang dan Belang, serta Afdeeling Gorontalo mencakup kerajaan-kerajaan di sepanjang pantai utara Sulawesi hingga wilayah di Teluk Tomini dan pulau-pulaunya.

Penduduk, dicatat pribumi Minahasa sebanyak 114.979 jiwa, Tionghoa 1.634, Eropa 746 dan Arab 18. Jumlah ini tidak dihitung dengan Sangihe-Talaud sekitar 86.500, penduduk pantai utara Sulawesi 24.500 dan Gorontalo 287.500 jiwa (mencakup pula penduduk di kawasan Sulawesi Tengah sekarang).

Kehakiman di Manado masih ditangani oleh lembaga bernama Land-of Minahassaraad (bukan Minahasaraad bentukan 1919 yang merupakan Dewan Minahasa). Lembaga ini kemudian dimoikan menjadi Landraad. Ketuanya belum dipimpin seorang Hakim, tapi masih dirangkap jabatan oleh Residen Manado. Anggotanya selalu dua ambtenar atau warga Eropa, serta wakil Minahasa Kepala Distrik, selalu pula yang ada di pusat kota Manado. Bertindak sebagai Jaksa Kepala (Hoofddjaksa) adalah A.B.Kalenkongan sejak 22 Agustus 1861, jurutulis (Griffier) adalah komies dari kantor Residen, dan jurusita (deurwaarder) J.E.Pattijnama.

Keamanan diayomi Schutterij, dengan komandan adalah J.Schoe (sejak 20 Januari 1859) berpangkat Kapitein. Staf terdiri Letnan Dua A.Willigen (17 Februari 1867) sebagai ajudan, dan kwartiermeester Letnan Dua J.P.Tokaija (12 Oktober 1866). Perwira lain adalah Letnan Satu J.H.B.Schutz (10 Oktober 1866), Letnan Dua D.H.C.Verploegh Chasse (10 Maret 1870), dan Letnan Dua Kitjil Ali (7 Maret 1862), pimpinan orang Islam Manado.

Di Kema, komandan Schutterij adalah Letnan Satu H.van Heuckelum (10 Juni 1872). Komandan Amurang Letnan Satu F.A.Hennige (10 Juni 1872), dan di Belang, dipegang J.Manuhurapon (3 Oktober 1872).

Tulisan ini menyambung kronika Manado Tahun 1831, Manado Tahun 1848, Manado Tahun 1850, Manado Tahun1859, dan Manado Tahun 1870. Kali ini dirangkum dari Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie tahun 1873. Tahun disini harus dibaca sebagai aktivitas serta apa dan siapa Manado tahun sebelumnya 


PERSONIL KERESIDENAN
Residen: P.van der Crab (sejak 27 Desember 1871).
Sekretaris Residen: P.F.L.Kist (5 Mei 1872). Merangkap fungsi notaris dan vendumeester.
Kommies: N.H.Hartman (28 November 1866).
Kommies Ketiga: F.A.Hemmelmann (27 Februari 1872).
Kapitein Cina: Ong Bondji (5 Maret 1871.
Luitenant Cina: Que Ing Hin (5 Maret 1871).
Kepala Orang Islam dengan rang Luitenant: Kitjil Ali (19 Maret 1862).
Landmeter: F.W.Paepke Bulow.

BRANDSPUITWEZEN
Algemeen brandspuitmeester: J.C.Motta.
Brandspuitmeester van de spuit no. 1: A.A.Graswinkel.
Adjunkt brandspuitmeester van de spuit no. 1: A.Niels.
Brandspuitmeester van de spuit no.2: N.H.Hartman.
Adjunct brandspuitmeester van de spuit no 2: F.J.Alling.

WIJKMEESTER
Wijkmeester van de wijk lit.A  : J.E.Pattijnama.
Wijkmeester van de wijk lit.B  : B.Salomonsz.
Wijkmeester van de wijk lit.C  : N.H.Hartman.
Wijkmeester van de wijk lit.D  : J.P.Tokaija.
Wijkmeester van de wijk lit.E  : J.C.Dircks.
Wijkmeester van de wijk lit.F  : W.Palenkahu.
Wijkmeester van de wijk lit.F1: Tan Tjoe Seng.
Wijkmeester van de wijk lit.G  : Po An.
Wijkmeester van de wijk lit. H : Kitjil Ali.

KONTROLIR BINNENLANDSCH BESTUUR
Klas Satu: J.S.van den Broek (8 Oktober 1864).
Klas Dua: F.A.Hennige (16 Maret 1871); J.P.van Harencarspel (4 April 1872).
Klas Tiga: H.van Heuckelum (30 Juni 1869); H.L.van der Waarden (22 Februari 1870); G.A.Wilken (22 September 1870); P.J.Kooreman (28 Mei 1871); F.von Faber (19 November 1871); J.P.Th.van Nunen (4 April 1872).
Ambtenar ter beschikking: Jhr.W.H.W.de Kock (26 Mei 1872).

PERSONIL LAIN DI PEDALAMAN
Afdeeling Manado
Kontrolir klas 1: J.S.van den Broek.
Klerk, juga onderpakhuismeester di Tanawangko: W.J.Lefrandt.

Afdeeling Kema
Kontrolir klas 3: H.van Heuckelum.
Klerk, juga onderpakhuismeester dan onderhavenmester: C.Th.H.Winckler.

Afdeeling Tondano
Kontrolir klas 2: J.P.van Harencarspel.
Koffij-pakhuismeester Tondano: D.Hartman.
Koffij-pakhuismeester Kakas: J.G.Wilson.
Koffij-pakhuismeester Remboken: J.Lang.
Koffij-pakhuismeester Tomohon: J.J.Tokaija.

Afdeeling Amurang
Kontrolir Klas 2: F.A.Hennige.
Klerk, juga onderpakhuismeester dan onderhavenmeester Amurang: D.F.Cellose.
Koffij-pakhuismeester Sonder: J.D.A.Cellose.
Koffij-pakhuismeester Wakan: S.Tumbuan.
Koffij-pakhuismeester Motoling: J.E.Jacob.

Afdeeling Belang
Kontrolir klas 3: G.A.Wilken.
Koffij-pakhuismeester dan havenmeester Belang: J.Manuhuruapon.
Koffij-pakhuismeester Tompasak: L.L.Z.Mamahit.

Afdeeling Gorontalo
Asisten-Residen, juga fungsi notaries dan vendumeester: J.G.F.Riedel, (7 Februari 1864).
Jaksa Rijksraden Gorontalo: W.B.Kalenkongan (23 Oktober 1863).
Kepala Borgo pribumi (Inlandsche burger): P.Wenas.
Kapitein Orang Bugis di Gorontalo: Lamato.
Kapitein Orang Bugis di Kepulauan Togian: Oewa Gauw.

BRANSPUITWEZEN
Algemeen branspuitmeester: A.Esink.
Brandspuitmeester: W.D.van Baak.
Adjunct Brandspuitmeester: H.Repi.

BINNENLANDSCH  BESTUUR
Kontrolir klas 3 berkedudukan di ibukota Gorontalo bertanggungjawab mengontrol distrik-distrik Kota, Telaga dan Tapa (afdeeling Gorontalo): P.J.Kooreman.
Kontrolir klas 3 berkedudukan Bone, mengontrol distrik-distrik Kabila, Bone, Bintauna dan Suwawa (afdeeling Bone): H.L.van der Waaeden.
Kontrolir kals 3 berkedudukan Limboto, mengontrol distrik-distrik Tibawa, Batudaa dan Paguyaman (afdeeling Limboto): F.von Faver.
Kontrolir klas 3 berkedudukan Kwandang mengontrol distrik-distrik Kwandang dan Atinggola, juga mengawasi kerajaan Bwool: J.P.Th.van Nunen.
Ambtenar ter beschikking berkedudukan Paguat mengontrol distrik Paguat, Pentadu dan Potanga (afdeeling Boalemo), juga mengawasi negeri-negeri di pedalaman Teluk Tomini: (kosong).

RAJA-RAJA
Raja Bolaang Mongondow: Johannis Manuel Manoppo, (6 September 1862).
Raja Bolaang Uki: Moehammad Aliyoe’d-Dini IskandarAli van Goebal, (30 Desember 1867).
Raja Bintauna: Salmon Datoenselang, (29 Juni 1865).
Raja Kaidipang: Gongala Koromput, (13 Maret 1865).
Raja Bwool: Teroengkoe, juga bernama Siradjoe ‘d-Din, (10 Oktober 1863).

Raja-raja masuk Afdeeling Gorontalo:
Raja Gorontalo: Djainal Abidin (Zainoe ‘l-Abidin) Alhabsi Monoarfa, (6 Juni 1850).
Raja Limboto: (kosong).
Raja Bone: (kosong).
Raja Atinggola: (kosong).
Raja Boalemo: (kosong).
Raja Moeton: Mangkaoem, (26 Mei 1856).
Raja Parigi: Prins Tjali, (17 September 1862).

Raja-raja di Kepulauan Sangihe
Raja Tabukan: Hendrik David Paparang, (8 Agustus 1851).
Raja Taruna: Martens Jacobsz, (12 September 1870).
Raja Siau: Jacobs Ponto, (22 September 1850).
Raja Kandar: Daniel Petrus Janis, (25 Juli 1861).
Raja Manganitu: Manuel Mocodompis, (14 Juli 1864).
Raja Tagulandang: (kosong).

PENDIDIKAN
Kweekschool Nederlandsche Zendeling Genootschap di Tanawangko, direkturnya adalah N.Graafland, dan guru bantu (Hulponderwijzer) L.Maukar.

Sekolah Gubernemen (Gouvernement School) sebanyak 12 buah. Manado dipimpin M.Makaampo (9 Januari 1860); Lotta: D.Sarajar (30 Maret 1866); Tateli: M.Salmon (29 Otober 1866); Tanawangko: J.Marcus (1853); Paniki di bawah: M.Gosal (6 Januari 1870); Kema: M.Cumantas (22 Juli 1857); Likupang: J.Codoati (12 April 1852); Tondano: N.E.Paath (25 September 1852); Kapataran: D.Maukar (29 April 1867); Kakas: L.Palilingan (15 April 1865); Langowan: S.Warouw (29 September 1866); dan Amurang: P.Lutam (15 Desember 1868).

Sekolah negeri (Negorij School) 26 buah. Lobu: M.Wawointana; Koka: C.Lumowa; Tinoor: S.P.Liow; Warembungan: D.Pangemanan; Senduk: W.Tombes; Maasing: J.Pangemanan; Airmadidi: K.Dededaka; Tonsea Lama: J.A.Dimpudus; Maumbi: J.Pinontoan; Kuwil: J.Bojoh; Pangolombian: D.Wajong; Kembes: S.Rengku; Teep: S.Runturambi; Tangkunei: N,Kolondam; Suluun: N.Malingkonor; Popontolen: J.Ratag; Lelema: J.Pangkej; Munte: W.Rorimpandej; Tenga: J.Tambuwun; Pakuweru: J.Kumaat; Elusan: T.Runtunuwu; Radei: C.Tarore; Maliku: Z.Rantung; Pinaling: J.Turangan; Poopo: K.Rantung dan Picuan: J.Sampoh.

Sekolah Genootschap sebanyak 114 buah dengan para guru (onderwijzer). Atep: G.Tampenawas, Palamba: S.Warouw; Talawatu: N.Lalu; Passo: A.Montolalu; Toulian: P.Sumampouw; Panasen:A.Winokan; Kayuwatu: N.Rumajar; Karor: N.Paoki; Somboki: J.Tawan; Remboken: J.Pangemanan; Kasuratan: J.Kaligis; Tompaso: H.Kalangi; Tolok: M.Mandang; Kanonang: J.Umboh; Tondegesan: A.Kuhu; Kawangkoan: J.Surentu; Kayuuwi: M.Kaligis; Tombasian di atas: J.Kumaseh; Sonder: J.Woeten, Kiawa: P.Soemoeal, Leilem: J.Regar; Tincep: A.Wajongkere; Pinapalangkow: E.Koho; Mapanget: T.Mantiri; Kapoya: F.Sangeroki; Rambunan: H.Geroeng; Tara-Tara: J.Tiwow; Lolah: J.Roring; Woloan: D.Pangemanan.

Makalisung: P.P.Mangi; Rerer: J.Loing; Kolongan: J.H.Rotinsulu; Sawangan: E.Tumbel; Kombi: S.Bengij; Ranowangko: J.Regah; Lalumpe: J.Rambitan; Tulap: E.Togas; Kayuroya: E.Sanggor; Watulanei: C.Tawaeng; Telap: P.Makaleweij; Watumea: M.Legoh; Eris: J.Adam; Touliang Kecil: A.Lewuh; Koya: J.Giroth; Ratahan: A.Lengkej; Pangu: E.Kolinoh; Lindanen: E.Supit;  Bentenan: W.Sandag; Tatengesan: C.Rotuhoi; Wiau: J.Kardenas; Mundung: P.Supit; Tombatu: J.Borung; Kali: J.Poluan; Silian: J.Liwan; Liwutung: S.Ginsu; Watulinei: P.Lowongan; Wuwuk: A.Roemengan; Talaitad: P.Ondang; Lapi: G.Rompas; Koreng: Z.Sinjal; Kaneyan: L.Ratag; Pinamorongan: J.Worotitjan; Paslaten: W.Kaoenang; Rumoong Atas: J.Toemiwa; Tumpaan: D.Jacobusz; Paslaten: O.Ratag; Tandengan: A.Kawengian; Pondang: S.Girot; Kumelembuai: Z.Lapian; Wuwuk: J.Liando; Karimbow: M.Kaligis; Wakan: L.Toemiwa; Tewasen: J.Toemoejoe; Rumoong Bawah: S.Pangkej; Pakuure: L.Lumintang; Pontak: M.Rantoeng; Mopolo: J.Rompas; Lompad: J.Rasoew; Motoling: J.Lampoes; Wanga: J.Salangkar; Tokin: J.Mowoto; Tomohon: E.Lasut; Tataaran: S.Lantong; Rurukan: S.Lengkong; Kakaskasen: J.Tumbelaka; Kayawu: N.Sandah; Kinilow: E.Malonda; Sarongsong: A.Wajong; Lahendong: A.Pijoh; Pinaras: M.Gosal; Sawangan: J.Bolang; Singkil: W.Woeloer; Kolongan: K.Umboh; Talawaan: J.Mantiri; Tetei: J.Tirajoh; Lumpias: D.Tankilisan; Sawangan: H.Tikoaloe; Batu: L.Roring; Treman: N.Dumais; Kaasar: D.Bolang; Tumaluntung: J.Inarai; Sawangan: H.Sontej; Tangari: F.C.Walanda; Sukur: E.Wulur; Matungkas: J.Maramis; Tatelu: S.Pandej; Lilang: A.Maramis; Tanjung Merah: C.D.Worotikan; Lansot: A.Wuisan; Pakuweru: J.Kumaat dan Raanan: M.Sarongsong.

Di Afdeeling Gorontalo terdapat 4 Sekolah Gubernemen. Khusus di Gorontalo 2 buah, yakni Sekolah Gubernemen dengan guru S.H.Paulus (27 Oktober 1866), dan satu lainnya dengan guru M.Emor (17 Oktober 1860). Sekolah lain di Bone dipimpin guru W.P.Wowor (27 Oktober 1866), dan di Limboto dengan guru B.Tangkudung (29 Desember 1864).

Di Kepulauan Sangihe terdapat 25 Sekolah Gubernemen. Tabukan: J.Lalenoh (1865); Kulur: P.Manoempil (10 Agustus 1870); Manalu: N.Parain (10 Juni 1869); Tarian: P.Andaria (28 Februari 1870); Kuma: L.Jacob (1863); Manganitu: M.Liando (1862); Tawoali: M.Berhimpon (11 Mei 1872); Lapango: J.Jacob; Taruna: Z.Makahanap (11 Mei 1879); Kolongan: Z.Waroka (19 November 1861); Kandar: P.Ontol (16 Januari 1866); Tagulandang: J.Sondag (6 Desember 1871); Haas: J.Makasihi (23 Februari 1866); Minanga: S.Ponto (20 April 1861); Mahumu: J.Elieser (10 Agustus 1867); Dagho: J.Judas (10 Agustus 1867); Tamako: J.Makagiansar (1866); Ulu: L.Takainginan (27 Maret 1863); Sawan: P.Nathan (10 Agustus 1867); Talawid: J.Arerus (10 Agustus 1867); Lia: S.Kabschun (10 Agustus 1867); Kiawang: Kalampung (1 November 1872); Siau: (kosong); Saluran: B.Tamunu serta Sawang-Siau: N.Sakoedoe (1867).

Terdapat pula 15 Sekolah Negeri. Ondong: P.Pasandaran (11 Februari 1860); Makalehi: L.Johannis (1 Mei 1847); Riauw: J.Lombo (1 Februari 1858); Mala:  S.Sigandong (4 April 1867); Barauw: S.Bangka (1 Maret 1868); Kanawong: J.Kramen; Lai: J.Berkati (1 Juni 1866); Beong: M.Labeij; Bunias: J.Dramuh; Parat: A.Kudaboru (12 Februari 1859); Lehi: J.Bawole (1 April 1866); Karakitan: E.Nusa; Kalama: (kosong); Mulingen: D.Bawole (1871); serta di Karatung-Tagulandang: (kosong).

Di Kepulauan Talaud sendiri terdapat 4 sekolah negeri. Di Loba dan Beo, gurunya belum diisi, tapi di Menarang dijabat P.Picauli sejak 8 Oktober 1870, sementara sekolah di Moronge dipegang J.Rumouw.

AGAMA
Majelis Jemaat Protestan Manado dipimpin pejabat Predikant F.H.Linemann selaku president. Untuk Jemaat Eropa ouderlingen (penatua) adalah J.Schoe dan F.W.Paepke Bulow. Penatua untuk jemaat berbahasa Melayu E.Pattijnama dan H.Scholtz. Sebagai diaken adalah G.H.B.Hofman, N.H.Hartman, Z.Scholtz, J.P.Tokaija, J.E.Pattijnama dan A.B.Kalenkongan.   

Para Zendeling Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) yang bertugas di Minahasa terdiri: Tondano:  H.Rooker (8 April 1855); Langowan: M.Brouwer (1869); Tomohon: N.P.Wilken (7 Mei 1842) dan J.Louwerier (8 Oktober 1868); Kumelembuai: S.Ulfers (18 Januari 1848); Tanawangko: H.Bettink (30 Mei 1868); Airmadidi: H.J.Tendeloo (30 Agustus 1857); Sonder: J.A.F.Schwarz (30 Agustus 1857); Ratahan: J.N.Wiersma (3 April 1863); dan Amurang: C.J.van de Liefde.

Selain NZG yang bekerja di Minahasa, di Kepulauan Sangihe dan Talaud bekerja  para zendeling dari Gossnersche  Zendingvereeniging. Di Sangihe zendeling C.J.M.L.Schroder (15 Juli 1854) bertempat di Tabukan, C.F.Steller (15 Juli 1854) di Manganitu; A.Grohe (15 Juli 1854) di Tamako, C.F.W.Tauffman (15 Juli 1854) di Ulu dan J.F.Kelling (15 Juli 1854) di Tagulandang.

Sementara di Kepulauan Talaud bertugas zendeling W.Richter (15 Juli 1856) di Rainis, dan P.Gunther (15 Juli 1856) di Kabaruan. ***


*).Foto koleksi Rijksmuseum nl. 

SUMBER TULISAN
                        Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie tahun 1873 
                                koleksi Sammlungen der Staastbibliothek zu Berlin.                                                                                           

Senin, 09 Januari 2017

Dua Kampung Cina Manado





Oleh: Adrianus Kojongian









Barongsai di Tahun Baru Cina di Manado. *)








Kampung Cina Manado pernah terbagi menjadi dua kampung di penghujung abad ke-19. Pesatnya kemajuan orang Tionghoa di Manado, ditandai dengan pertumbuhan kaum peranakan,dan membanjirnya pendatang Tionghoa dari tanah leluhurnya, mau pun dari kota-kota besar lain di Indonesia.
   
Dengan penduduk hampir 2.000 jiwa di tahun 1871, pemerintah kolonial Belanda merasa perlu membagi Kampung Cina Manado menjadi dua Wijk (kampung), dipimpin oleh kepala yang disebut Wijkmeester. Saat itu Kampung Cina Manado dikenal dengan nama Leter F dan posisi Wijkmeester terakhir dijabat oleh Ong Bondjie yang merangkap Letnan, yang sejak tanggal 5 Maret 1871 naik jabatan sebagai Kapten Cina (Kapitein der Chineezen) Manado.

Kampung Cina Manado telah dibagi menjadi Wijk Leter F1 dan Wijk Leter G. Saat itu kampung di Manado terbagi atas sembilan Wijk. Diangkat sebagai Wijkmeester Leter F1 adalah Tan Tjoe Seng, sementara Wijkmeester Leter G bernama Po An.

Tahun 1878 kepemimpinan Wijk Leter G berubah. Po An digantikan oleh Tjia Goan Tho, sedangkan Tan Tjoe Seng masih sebagai Wijkmeester Leter F1. Tjia Goan Tho tidak lama menjabat, karena tahun 1879 ia digantikan oleh Teng Pian.

Tahun 1881 Wijkmeester Leter F Tan Tjoe Seng diganti Sie Boen Tiong (Sie Boentiong), sedangkan Wijkmeester Leter G Teng Pian berganti pada Oeij Boetjin.

Tahun 1882 posisi Wijkmeester Leter G kembali berganti. Kali ini diisi oleh Ong Tan Seng, sedang Sie Boen Tiong tetap Wijkmeester Leter F.

Hanya berumur tigabelas tahun, di tahun 1884 dua Kampung Cina Manado kembali disatukan, tinggal satu kampung saja, yakni Wijk Leter C. Residen Manado mengadakan reorganisasi perkampungan bagi orang Eropa, Borgo, Tionghoa dan Islam Manado. Bila sebelumnya terdiri atas sembilan wijk, kini disederhanakan tinggal tiga wijk saja, yakni Wijk A dan Wijk B untuk penduduk Eropa, dan Wijk C untuk orang Tionghoa.

Sie Boen Tiong diangkat sebagai Wijkmeester Leter C ini. Mantan Wijkmeester Leter G yakni Ong Tan Seng diangkat jadi asisten kepala pemadam kebakaran (adjunct brandspuitmeester) Manado, wakil dari orang Belanda bernama J.J.Klaversteijn. Kemudian nanti tanggal 18 Mei 1885 ia diangkat sebagai Letnan Cina Manado.(baca juga: Kapitein Tionghoa Manado (1), Kapitein Tionghoa Manado (2), Kapitein Tionghoa Manado (3) dan Inilah Kepala Tionghoa Manado).

Tahun 1885 jabatan Wijkmeester Leter C dipegang Sie Seng menggantikan Sie Boen Tiong. ***


*).Foto koleksi Rijksmuseum.

BAHAN OLAHAN:
Delpher Kranten.
Ensiklopedia Tou Manado
Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin:
Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie 1872, 1879, 1882, 1883, 1885,1886.

Kamis, 29 Desember 2016

Tomohon, Kota Tua Tanah Minahasa








Oleh: Adrianus Kojongian






Mata air Muung sekarang. *)





Kota Tomohon yang maju pesat sekarang, telah melewati lintasan dan perjalanan sejarah yang sangat panjang. Berawal dari Muung, sebuah lokasi mataair di Kelurahan Matani Dua Kecamatan Tomohon Tengah.

Kisah pemburu yang gagal menombaki babi hutan buruannya, tapi kemudian memunculkan sumber mataair. Konon, ketika tombaknya dicabut, menyembur air deras dengan bunyi mendengung yang kemudian mencetus kata Muung, mengundang orang datang bermukim. Penduduknya membahasakan diri sebagai Tou (orang) Muung yang di masa berikutnya dikenal sebagai Tomohon.

Cerita rakyat mempercayai sang pemburu adalah dotu bernama Wawo Kumiwel, anak leluhur Minahasa pertama Toar dan Lumimuut. Maka bila demikian, usia Tomohon sudah benar-benar sangat tua. Kalau peristiwa pembagian di Watu Pinawetengan ditaksir penulis terkenal Dr.Johan Gerard Friedrich Riedel terjadi tahun 670 (meski ada menaksir berbeda-beda pula), maka penemuan mataairnya masih mendahului, sehingga menjadikan Tomohon sebagai kota paling tua yang ada di Tanah Minahasa.

Cerita-cerita Tombulu banyak menegas keberadaan Toar-Lumimuut dan anak-anaknya di kawasan Tomohon. Wawo Kumiwel yang disebut juga Rumuat ne Tewo bersama istrinya berdiam di Wawo dan juga Kuranga. Berikutnya, Pinontoan yang diagungkan sebagai penguasa Lokon bersama istrinya Ambilingan Wulawan bermukim di kaki gunung itu, Rumengan yang didewakan sebagai penguasa Mahawu bersama istrinya Katiwiei, tinggal di lembah gunungnya.

Lololing dengan istrinya Winerotan, bermukim di Muung, Repi dan istrinya Matinontang dan Tontombene di Lahendong, Siow Kurur di Pinaras. Makalawang dan istrinya Taretinimbang di lembah Masarang dan Manaronsong yang mencetuskan nama Sarongsong.

Kemudian salah satu dotu terkenal Minahasa yakni Mandei bersama istrinya Raumbene dan anak-anaknya berdiam di lokasi yang sampai sekarang dikenal dengan nama Mandei, masuk kepolisian Kolongan Satu. Salah seorang anaknya bernama Reko bermukim lebih ke arah selatan, di tempat yang sekarang masih bernama Reko juga, sementara anak lainnya Porongnimiles pergi berdiam di Muung.



Patung Pinontoan di Kayawu. *)


Pemukiman awal ini kemudian hilang, karena setelah pembagian di Watu Pinawetengan, penduduk suku Tombulu terpusat di Maiesu di lembah Gunung Lokon.

Masa pemerintahan Makiohloz (Makiohlor atau Ohlor), penduduk Maiesu bersebar. Berdiri tiga pemukiman besar Tombulu yang akan membentuk Kota Tomohon sekarang.

Tomohon didirikan Tonaas Mokoagow, Sarongsong di Tulau didirikan Tumbelwoto, dan dari Sarongsong Kaawuan mendirikan Tombariri di Woloan sekarang. Makiohloz sendiri memindahkan Maiesu ke negeri baru yang disebut Kakaskasen.

Negeri awal Tomohon yang didirikan Mokoagow adalah Saru atau Tonsaru (menghadap timur) terletak di lereng Gunung Masarang. Pemukiman Tomohon mulai melebar dan penduduk makin bertambah, karena letaknya yang strategis. Segera berdiri negeri-negeri baru: Kamasi, Kinupit, Limondok, Sumondak, Tou un Maajah dan Lingkongkong yang memunculkan tokoh terkenal Tumalun yang mengalahkan Malonda dari Pareipei Remboken. Para pendirinya menurut Riedel adalah Mamengko, Pondaag, Gosal dan Sambuaga.

Letak beberapa negeri ini masih misterius, terkecuali Kamasi dipastikan di lokasinya sekarang, sehingga menjadi satu-satunya negeri yang namanya paling lestari di Tomohon. Limondok adalah bukit di Talete. Sementara Kinupit, bermakna terjepit, diperkirakan berada di seputaran Paslaten, serta Lingkongkong diduga di kawasan Matani Dua.

Negeri-negeri tua ini dipersatukan oleh cucu Mokoagow bernama Mangangantung dengan nama Tomohon, yang dimasa Kompeni Belanda menjadi Balak dan kemudian Distrik, seperti halnya dengan Sarongsong, Kakaskasen dan Tombariri.

Kemudian karena sebuah peristiwa yang tidak diketahui, entah karena terjadi peristiwa alam, gempabumi atau peperangan diperkirakan sebelum kedatangan bangsa barat penduduk negeri-negeri Tomohon berpindah dan hidup terkonsentrasi di Nimawanua Kolongan sekarang, terkecuali Kamasi dan Talete.

Kondisi inilah yang pasti ditemukan oleh Gubernur Maluku di Ternate Dr.Robertus Padtbrugge dalam kunjungannya di Manado tahun 1677 dan 1679. Dari catatan penduduk Minahasa oleh Opperhoofd (Residen) Manado 1682 yang dikutip oleh Francois Valentijn dalam Oud en Nieuw Oost-Indien, negeri Tomohon yang ditulis sebagai Tomon, adalah satu pemukiman (menyatu) dengan Kamasi yang ditulis Cormasje, dan berpenduduk sebanyak 800 awu atau sekitar 4.000 jiwa, sehingga Tomohon merupakan pemukiman terbesar di Tanah Minahasa yang seluruhnya berpenduduk 3.990 awu, atau sekitar 20.350 jiwa. Sementara negeri Talete yang terpisah dari Tomohon, dicatat sebagai Tontellete berpenduduk 80 awu, sekitar 400 jiwa. 

Dicatat pula, Sarongsong yang ditulis Zeronson (Seronson) berpenduduk 70 awu atau 350 jiwa, Kakaskasen ditulis Cascasse 100 awu (500 jiwa) dan Tombariri (ditulis Tomberiere) 400 awu atau 2.000 jiwa. 

Tombariri saat itu masih terkonsentrasi di Katingolan, negeri tua Woloan, sekarang di kelurahan Woloan Satu Utara. Kakaskasen di lokasi Nawanua, negeri lamanya, di kelurahan Kakaskasen Tiga sekarang, sementara Sarongsong masih di negeri tua, Amian Nimawanua-Tulau.

Talete dan Kamasi kemudian bergabung di kota lama Tomohon Nimawanua. Namun  akhir abad ke-18, Tonaas Ransun dan Rosok keluar dan membuka Matani yang jadi negeri dipimpin Hukum Tua pertama Tololiu Palar 1805, Kamasi tahun 1805 dibawah Sangi dengan hukum tua pertama Tinaras di  tahun 1846, dan Talete 1831 dibawah hukum tua Lukas Wenas.

Dari Kamasi dibuka Pangolombian 1830 dibawah Lumowa yang kelak dibaptis Kristen sebagai Bastian Pandelaki Lumowa sebagai hukum tua pertama. Kamasi pun membuka Walian 1805 oleh Ambei Rumagit Runtunuwu, meski baru berstatus satu negeri 1895 dengan hukum tua pertama Mesak Pangemanan. Kemudian dari Nimawanua dibuka Paslaten tahun 1840 dibawah Bastian Kaunang (versi lain Wahani) yang baru dipimpin hukum tua pertama Petrus Mampouw 1880, dan negeri Kolongan dibawah hukum tua Tololiu tahun 1848.

Peristiwa gempabumi dahsyat 8  Februari 1845 kembali menyatukan penduduk Tomohon di Nimawanua, dan baru kembali setelah keadaan aman. Penduduk negeri-negeri stad Tomohon mendirikan Rurukan (yang telah dirintis sejak 1810 oleh Pangkey Posumah), dengan hukum tua pertama Loho Kaunang tahun 1848 (sekarang terbagi dua kelurahan), juga Kumelembuai 1858 oleh Hendrik Kapoh dari Talete yang jadi hukum tua pertama 1860.

Negeri-negeri lain yang dirikan penduduk Tomohon di masa lalu adalah Tataaran Dua, Suluan, Rumengkor dan Koka.  

BEKAS EMPAT DISTRIK
Kota Tomohon sekarang merupakan gabungan dari empat wilayah bekas distrik. Negeri induk Tomohon sendiri hanya kecil, sampai dekade ketiga abad ke-19 hanya terdiri 5 negeri yang jadi pusat kota Tomohon sekarang, yakni Talete (sekarang dua kelurahan), Kamasi (terbagi dua kelurahan), Paslaten (dua kelurahan), Kolongan (dua kelurahan), Matani (tiga kelurahan) dan Walian (sekarang tiga kelurahan), ditambah negeri pinggiran yakni Rurukan, Kumelembuai, Kembes dan Tataaran Dua. Uluindano sendiri baru berdiri 1983 dari Walian dengan lurah pertama Wenas Rumajar 1999.




Sketsa Tomohon 1839. *)


Pertama digabungkan dengan Tomohon adalah wilayah eks Distrik Sarongsong di tahun 1882. Pusat eks ‘kota’ Sarongsong yang mencakup tujuh negeri (Tumatangtang, Lansot, Koror, Pinangkeian, Regesan, Wuwuk dan Kapoya) disederhanakan tinggal 2 negeri saja yakni Tumatangtang (sekarang dua kelurahan) dan Lansot. 

Tumatangtang, negeri tertua dari bekas Balak dan Distrik Sarongsong dipimpin hukum tua pertama di tahun 1846 Alexander Mandagi, sementara hukum tua pertama Lansot bernama Ombeng.

Negeri eks Distrik Sarongsong lain yang digabungkan adalah Lahendong (berdiri 1750 dibawah Mokalu Rondonuwu, dengan hukum tua pertama Alexander Lukas Wawo-Roentoe 1850); Pinaras (berdiri 1820 dibawah Sumendap Montolalu dan sebagai negeri dengan hukum tua pertama Jeheskiel Tulung 1875), serta Tondangow (berdiri 1785 dibawah Tonaas Mandey, dengan hukum tua pertama 1875 Karel Zacharias Wawo-Roentoe). Kemudian ditambah dengan Kampung Jawa yang dibuka Tubagus Buang 1850-an, dengan hukum tua pertama Djasmani Tabiman di tahun 1928. 

Eks negeri lain dari Distrik Sarongsong seperti Rambunan dan Sawangan tahun 1908 digabung dengan Sonder.

Sedangkan Tataaran Dua dilepas Distrik Tomohon pada Tondano. Begitu pun Kembes dan negeri-negeri Suluan, Rumengkor dan Koka, diserahkan kepada Distrik Manado dan Tonsea.

Kemudian Oktober1909 sebagian besar wilayah eks Distrik Kakaskasen yang mencakup negeri-negeri Kakaskasen (sekarang empat kelurahan), Kinilow (sekarang dua kelurahan), Tinoor (sekarang dua kelurahan), bersama Kayawu dan Wailan; ikut digabungkan dengan Tomohon. 

Kakaskasen adalah salah satu negeri tertua di Minahasa, namun hukum tua pertamanya Kawengian Lasut baru di tahun 1846. Kinilow pun menjadi salahsatu negeri paling tua Minahasa, dihadis di bangun ulang Makiohloz 1753 di lokasi sekarang, tapi baru diperintah seorang hukum tua Liuw (Supit) Kawulusan 1835. Tinoor didirikan 1800 oleh Purukan dan Pangkey, dan jadi negeri dipimpin hukum tua pertama Rundeng Purukan 1845. 

Kayawu sendiri berdiri 1850 dibawah Paat, Surentu dan Ambei, serta Habel Wongkar 1859, namun baru dipimpin hukum tua pertama Jesayas Rompis 1860, sementara Wailan berdiri 1880 dipimpin Lefinus Lala, dan nanti jadi negeri  1895 dibawah hukum tua Johanis Sumendap (versi lain hukum tua pertama Ruland Polii di tahun 1900).

Terakhir Kota Tomohon telah diperbesar oleh sebagian besar wilayah eks Distrik Tombariri, ketika negeri Woloan (sekarang empat kelurahan), bergabung dengan Tomohon tahun 1929, dan paling akhir Tara-Tara (sekarang empat kelurahan) digabungkan tahun 1958.  

Woloan tercatat sebagai negeri tertua di Minahasa pula dan sempat jadi ibukota pertama Balak Tombariri, berdiri kembali 1845 namun dikenal sebagai hukum tua pertama Fransiskus Kojongian baru 1870, sementara hukum tua pertama ketika bergabung Tomohon Jacob Poluan. 

Tara-Tara didirikan 1701 oleh Tulong dan Kalangi, sedangkan yang menjadi hukum tua pertama Wilar di tahun 1809, dan hukum tua yang menggabungkan ke Tomohon 1958 Pieter Tangkuman.***

                       
*). Foto Yootje Umboh dan koleksi Bode.

SUMBER TULISAN:
Riwayatmu Tomohon
Tomohon Kotaku