Kamis, 21 Februari 2013

PARA KEPALA TONDANO

Oleh: Adrianus Kojongian



Kawasan Benteng Moraya Tondano.

Residen Inggris Thomas Nelson konon adalah orang yang pertama membangun Kota Tondano sekarang ini. Ia disebut memindahkan Tondano ke hilir dari pulau delta Minawanua, pemukiman awal Tondano, yang sebelumnya dihancur-leburkan Belanda setelah terjadi Perang Minahasa di Tondano 1808-1809. Penduduk yang bercerai-berai bersembunyi di pengungsian dikumpulkan dibawah pimpinan Jacob Supit. Meniru pemukiman awal di Minawanua, maka dengan pembatas sungai Manado (sungai Tondano) negeri Tondano baru ini dibangun dan terbagi dua bagian. Sebelah barat sungainya bernama Touliang (Tondano-Touliang), dan kawasan sebelah timur bernama Toulimambot (Tondano-Toulimambot).

Jacob Supit van Tanawangko adalah keturunan dari Pacat Supit Sahiri Macex, Hukum Majoor Kepala dari Tombariri, yang sempat memerintah Tondano di Minawanua. Supit Sahiri memang banyak memiliki istri. Selain istri resmi yang disebut bernama Laya, Suanen dan Woki Konda, ia pun mengambil sejumlah istri lain. Dari Tondano pun ia memperistri Riri serta Wair (Waar), dan Jacob Supit ini turun dari Riri. Majoor Jacob Supit kelak menurunkan para penguasa keturunan Supit di Tondano-Toulimambot, lewat Werias yang dikenal dengan nama Hendrik Supit, serta cucu mantunya Alexander Kawilarang. Hampir seabad pemerintahan di Toulimambot silih berganti di tangan keluarga Supit dan Kawilarang.

Penari Kabasaran sambut turis Amerika di Walterplein 1929. *)

Sementara di Touliang keturunan Matulandi lewat Ratumbuysang dan keturunan Dotu Singal lewat Gerungan yang kemudian dijalin lewat perkawinan Jacob Gerungan dengan Wilhelmina Ratumbuysang membentuk klan Gerungan yang berkuasa. Dr.Sam Ratulangi yang menjadi Gubernur Sulawesi pertama adalah cucu Jacob Gerungan.

Di bekas Pakasaan, Balak dan Distrik Remboken keluarga keturunan Mamahit membentuk ‘dinasti’ keluarga yang memerintah Remboken dan kelak distrik gabungan Kakas-Remboken. Perkawinan di kalangan keluarga berbangsa pun melahirkan para penguasa berasal keluarga Mogot dan Sumayku. 

Demikian pun di bekas Pakasaan, Balak lalu Distrik Kakas, kekuasaan dipegang oleh keluarga Kalalo dan kemudian Inkiriwang.

TONDANO
 -Tahun 1750 Tondano dihadiskan pecah 2 balak, yakni Balak Tondano-Toulimambot dan Tondano-Touliang.
-Tahun 1880 Distrik Remboken digabungkan dengan Distrik Kakas, jadi Distrik Kakas-Remboken. Remboken tinggal diperintah seorang Hukum Kedua.
-Tahun 1917 Tondano-Touliang dan Tondano-Toulimambot digabung satu jadi Distrik Tondano.
-Tahun 1927 Distrik gabungan Kakas-Remboken  dihapus, digabung dengan Distrik Tondano.

-Singal Mamapekasa, (1400-1460).
-Tombokan Mamapekasa, (1460-1490).
-Lonkia Mamapekasa, (1490-1520).
 Dengan pemimpin lain Mononimbar.
-Rauw Mamapekasa, (1520-1555).
-Inelewan Mamapekasa, (1570-1600).
-Teoe (Tewu) Mamapekasa, (1600-1630).
-Pangemanan Mamapekasa, (1630-1650).
-Hukum Majoor Sumual Mamapekasa, (1650-1710).
DIhikayat meneken Verbond 10 Januari 1679.
-Hukum Majoor Begalij, 1691.
-Kapitein TamboerySeptember 1699.
Kepala Tondano yang meneken Kontrak 10 September 1699 atas nama Balak Tondano dengan pihak VOC yang diwakili Kapitein Paulus de Brievings dan Ondercoopman Samuel Hattingh di Fort Amsterdam Manado. (Hadis mencatat Tambahani sebagai Hukum Majoor Tondano sejak 1707, dan yang dianggap meneken Kontrak 10 September 1699 itu).
-Hukum Majoor Kepala Pacat Supit Sahiri Macex, (1710-1730).
-Hukum  Majoor Zakarias Sangari, (1730-1745).
-Hukum Majoor Moningka, (1745-1750).
Tondano kemudian pecah jadi 2 Balak, yakni: Tondano-Toulimambot dan Tondano-Touliang.


TONDANO-TOULIMAMBOT

-Nicolaas Graafland menulis negeri-negeri Distrik Tondano-Toulimambot tahun 1874: Luaan (565), Ranowangko-atas (448), Wengkol (347), Kendis (389), Katingolan (403), Liningaan (422), Taler (454), dan Kiniar (552). Semua ibukotanya 3.585 orang.  Negeri lain adalah: Papakelan (257), di pinggir danau: Touliang Kecil (451), dan Watumea (366). Di pantai Tondano: Tulap (229), Lalumpe (268), Ranowangko (224), Kombi (230) satu tempat dengan Sosolongan (122), Sawangan (168), Kolongan (293), Rerer (351) dengan sekolah. Lalu Makalisung (130), serta negeri baru Kinaleosan (158). Dekat negeri Tondano ada Kampung Jawa (618). Penduduk seluruh distrik 7.450 orang.  

-Mogot, (1750-1760).

Tondano tempo-dulu. *)

-Pangalila, (1760-1790).
-Kilapong alias Walintukan, (1790-1791).
-Sepang.
-Alexander Ruminde.
-Theodorus Frederik Lumingkewas.
-Korengkeng, (    -1808).


TONDANO UTUH

-Majoor Jacob Mantilen Supit, (1809-1817).
Diangkat Residen Marinus Balfour, dan diangkat Residen Inggris Thomas Nelson lagi 5 Agustus 1810 sebagai kepala kaum pengungsi. Tanggal 14 September 1810 meneken kontrak dengan Residen Nelson atas nama Balak Tondano (utuh). Tahun 1817 setelah Belanda berkuasa ulang Tondano dimekar dua balak lagi.


TONDANO-TOULIMAMBOT

-Korengkeng, (31 Desember 1817-1819/1825).
-Abraham Lotulong, (1819/1825-1847).
Dengan Hukum Kedua Johanis Sangare.
-Johanis Sangari.
-Majoor Johanis ‘Umpel’ Kawilarang, (1847-1848).
-Majoor Hendrik Jacob ’Werias’ Supit, (1846/1848-1850).
Dengan Hukum Kedua anak mantunya A.J.Kawilarang.
-Majoor Alexander Johanes Kawilarang, (1850-Oktober 1888).
Dengan Hukum Kedua iparnya A.Supit.

Majoor Tondano 1870. *)
-Hukum Besar lalu Majoor Appeles Hendrik Supit, (27 Oktober 1888-Mei 1907),
Dengan Hukum Kedua Klas 1 J.A.Kawilarang hingga Mei 1902, lalu Hukum Kedua Klas 1 J.E.Maengkom hingga Mei 1907.
-Hukum Besar lalu Majoor Jan Alexander Kawilarang, (6 Juni 1907-1917).
Titel Majoor diperoleh Agustus 1909.
-Hukum Besar Jan Eduard Maengkom, pejabat (1917-8 Agustus 1921)


TONDANO-TOULIANG

-Negeri-negeri Distrik Tondano-Touliang: Wewelen (480), Watulambot (625), Rerewokan (442), Wawalintowan (458), Tounkuramber (475), Rinegetan (475), Tutu (495), Roong (551). Semuanya 4.001. Berikut: Koya (719), Tataaran, terdiri 2 bagian, satu masuk Tomohon. Pada kedua bagian ini sama-sama ada satu gereja yang dipakai juga sekolah. Penduduk Tataaran bagian Tondano 649 orang. Negeri-negeri di pinggir danau Tondano: Tandengan (508) dengan sekolah, Eris (595, ada gudang kopi dan Pakhuismeester) dengan sekolah, Telap (589) dengan sekolah. Kemudian negeri-negeri di pantai Tondano: Watulanei (248) dengan sekolah, Kayuroya (231) dengan sekolah, dan Kapataran (491) dengan sekolah. Sebuah negeri baru yakni Marawas di sebelah timur dari Kampung Jawa, berpenduduk 144 orang. Penduduk seluruh distrik 8.175 orang.

Jalan di Tondano 1910. *)

-Wuisang, (1750-1760).
-Sumondak, (1760-1790).
-Moningka.
-Karwur.
-Tewu II.
-Sarapung, (  -1809).
-Matulandi, (1817-1829).
-Tangka Wenum, (1829-1844).
Dengan Hukum Kedua Estefanus Gerungan.
-Majoor Dirk Boeng Ratumbuysang, (1844-1864).
Dengan Hukum Kedua anak mantunya J.Wensen, lalu diganti anak mantu lain Jacob Gerungan.
-Hukum Besar lalu Majoor Jacob Gerungan, (1864-1882).
Dengan Hukum Kedua Herman Carel Mariwoe Maengkom lalu adiknya Estefanus A.Gerungan.
-Hukum Besar lalu Majoor Arnold Estefanus Gerungan, (12 Agustus 1882-12 Mei 1902).
Dengan Hukum Kedua Touliang Theodorus E.Gerungan sampai 1896, lalu J.D.Inkiriwang di Eris 1897.

Putri Kepala Tondano 1910. *)

-Hukum Besar Jan Alexander Kawilarang, (12 Mei 1902-6 Juni 1907).
Sebelumnya Hukum Kedua Klas 1 Tondano-Toulimambot. Pindah Hukum Besar Tondano-Toulimambot.


-Hukum Besar Jan Eduard Maengkom, (6 Juni 1907-8 Agustus 1921).
Sebelumnya Hukum Kedua Klas 1 Tondano-Toulimambot. Dengan Hukum Kedua Tondano-Touliang di Eris A.H.D.Supit Juli 1907 sampai Juli 1914. Lalu Jotham Pangalila, Benjamin Sumayku, dan K.J.Wuysang. Maengkom bertitel Hukum Besar Klas 1 8 Oktober 1909.


TONDANO (TOULOUR)

Tahun 8 Agustus 1921 Distrik Tondano-Touliang, Distrik Tondano-Toulimambot dan Distrik Kakas-Remboken digabung satu jadi Distrik Tondano yang disebut pula dengan Distrik Toulour.

-Hukum Besar Gerald Justus Tambajong, (8 Agustus 1921-30 September 1924).
-Hukum Besar lalu Majoor Alexander Petrus Mambu, (30 September 1924-8 Agustus 1929).

Sungai kecil di Tondano 1928. *)

-Hukum Besar lalu Majoor Efraim Jan Son Lumanauw, (8 Agustus 1929-1942).
-Hukum Besar Paul Po Pande-Iroot, (1942-1945).
-Hukum Besar Alexander Hendrik Daniel Supit, (1 Mei 1945-7 Januari 1946).
-Hukum Besar Herman Jacob Wenas, (1946).
-Hukum Besar Abraham ‘Bram’ Gerard Robert Wenas, pejabat (1946).
-Hukum Besar Efraim ‘Bob’ Willem Lalamentik, (1947-1949).
-Hukum Besar Paul J.A.Kawilarang, (1949).
-Hukum Besar Warokka, (1949-Januari 1951).
-Hukum Besar L.A.Pelenkahu, (7 Januari 1951-1 Februari 1952).
-Hukum Besar Albert Robert ‘Rob’ Warouw, (1952-1953).
-Hukum Besar Willem Josep ‘Hein’ Lalamentik, (1953-1954).
-Hukum Besar August ‘Agie’Peter Supit.
-Hukum Besar Harry Frederik Lumanauw.
-Hukum Besar Alexander Willem Muntu.
-Hukum Besar Adolf Albert Pelealu, (1962-1963).



REMBOKEN

-Tahun 1874 N.Graafland menulis Remboken terdiri 4 negeri. Pertama Remboken (dari bunyi yang terdengar di satu gua di batu karang di danau, apabila ombak masuk ke dalamnya dengan kuat). Penduduk anggap Remboken pertengahan bumi. Hasilkan kopi. Ada gudang kopi, tempat Hukum Besar dan Pakhuismeester, juga sekolah.

Tempat memandang di Remboken awal abad ke-20. *)

Negeri Remboken terbagi beberapa kampung, yakni: Talikuran (701), Paslaten (678), Sendangan (567), Leleko (559). Seluruh negeri ini 3.085 orang. Negeri lain: Kaima (232), Parepei (385) dengan sekolah, dan Kasuratan (503 orang) dengan sekolah. Penduduk Distrik Remboken seluruhnya 4.205 orang.
-Bulan Desember 1879 Distrik Remboken digabungkan dengan Kakas, menjadi Distrik Kakas-Remboken beribukotakan Kakas.

-Sauma, September 1699.
Hukum Remboken bertanda atas nama balaknya (ditulis Nimbucco) pada Kontrak 10 September 1699 di Fort Amsterdam Manado.
-Sendok (Senduk atau Sendoh?), 1783.
Dengan hukum lain: Kaloh, Mijojoh (Mioyo), Panekenan, Waluijan, Rampengan, Lajang dan Tilaar.
-Mamahit, 1808.
Dengan Hukum Kedua anaknya Sumeru. Meneken Kontrak 14 September 1810 dengan Residen Inggris Thomas Nelson. Namanya ditulis Mamoet.
-Sumeru Mamahit.
-Wanda Mamahit.
-Majoor Elias Pinontoan Mogot, (1838-1876).
Dengan Hukum Kedua kemenakannya W.Endoh lalu anaknya Nicolaas E.Mogot, lalu diganti M.Mamahit.
-Hukum Besar lalu Majoor Manuel Mamahit, (1876 -Desember 1879). Versi lain ia telah menjabat di tahun 1864.



KAKAS

Kakas, ibukota, di pinggir danau pada pantai sebelah timur, kediaman Majoor dan Pakhuismeester, dengan pemandangan bagus pada danau dan gunung keliling danau yakni Lembean dan Kaweng. Negeri ini dibagi beberapa kampung, yakni: Paslaten (780), Sendangan (647), Pahaleten (644), Talikuran (562), dan Tounelet (591). Seluruh negeri Kakas 3.224 orang. Negeri lain: Passo (1.052) dengan sekolah, Panasen (340), Toulian (380), Kaweng (362), Sembokei di pantai (82), Kayuwatu (200), dan Karor (146). Seluruhnya 5.786 orang.

-Lalamentik dan Muri, 1660.
-Masuigy,  September 1699.
Hukum Kakas yang bertanda atas nama balaknya pada Kontrak 10 September 1699 dengan Kapitein Paulus de Brievings dan Ondercoopman Samuel Hattingh di Fort Amsterdam Manado.
-Mumek, 1783.
-Kalalo dan Kawengian, 1808.
Tanggal 14 September 1810 Kalalo atas nama Balak Kakas meneken kontrak dengan Residen Inggris Thomas Nelson.
-Mandolang Hermanus Kalalo.
-Lalamentik, (    -1830).
-Zacharias Telew Kalekean Inkiriwang.
 Dengan Hukum Kedua Johannis Inkiriwang sejak 1816.
-Majoor Johannis Inkiriwang, (1830-1852).
Dengan Hukum Kedua anaknya Daniel Inkiriwang.
-Hukum Besar lalu Majoor Daniel J.Inkiriwang, (1852-minta berhenti dan dipensiunkan Desember 1879).

Suasana Kakas tahun 1910. *)

Dengan Hukum Kedua anak bersaudaranya P.Sumayku. Distrik Kakas kemudian digabungkan dengan Distrik Remboken.


KAKAS-REMBOKEN

Distrik Kakas dan Distrik Remboken dijadikan satu distrik baru bulan Desember 1879 dengan nama Distrik Kakas-Remboken, dan tempat kedudukan Kepala Distrik di Kakas. Distrik ini kelak dibagi dua Onderdistrik, yakni Onderdistrik Kakas dan Onderdistrik Remboken. Kepala Distrik Remboken ditunjuk menjadi kepalanya.


-Majoor Manuel Mamahit, (Desember 1879/13 Desember 1889-2 November 1893).
Dengan Hukum Kedua Kakas A.M.Sumayku (Sumaijku), sebagai penggganti.


-Hukum Besar lalu Majoor Abednedjo Marius Sumayku, (2 November 1893-8 Oktober 1909).
Dengan Hukum Kedua 1895 E.Mogot, 1896 M.Mamahit lalu Desember 1900 F.Mamahit. Tahun 1905 Hukum Kedua Albert Wenas, dan Hukum Kedua Kakas sejak 1909 Joost Alexander Karel Wenas; Agustus 1909 Hukum Kedua Klas 1 Remboken K.J.A.Kawilarang.

Jalan di Kakas. *)

-Hukum Besar Philep Manuel Mamahit, (8 Oktober 1909-21 November 1912).
Pindah dari Passan-Ratahan-Ponosakan. 
-Hukum Besar Klas 1 Willem Henri Warokka, (21 November 1912-8 Oktober 1918).
Dengan Hukum Kedua Kakas J.Pangalila, dan Hukum Kedua Remboken J.N.Tambajong.
-Hukum Besar Klas 1 Jan Nicolaas Tambajong, (8 Oktober 1918-8 Agustus 1921). 
Distrik Kakas-Remboken digabung jadi Distrik Tondano atau Toulour.  ***


  *). Foto koleksi: KITLV, National Collection (www.awm.gov.au),Tropenmuseum.

PUSTAKA:
-G.Wuntu, ‘Tondano dan Minahasa, 1952.
-Makalah Seminar Penentuan Hari Jadi Daerah Minahasa di Tondano 24-27 Mei 1982.
-Silsilah Keluarga Mamahit, dan keluarga lainnya.
-J.E. Heeres, 'Generale Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie 1602-1800.'  Bijdragen tot de taal-,land-en Volkenkunde van Nederlansch-Indie, Brill Online. 
-L.Mangindaan, 'Oud Tondano'. 
-B.J.D.A.G.Dotulong, Silsilah Keluarga Gerungan 1500-1990, Arnhem, 2006.
-F.S.Watuseke, Sejarah Minahasa, P.N. Manado, 1962.
-L.Mangindaan, 'Oud Tondano'.
-Catatan Majoor tua Sonder A.B.Wawo-Roentoe.
-Koninklijke Bibliotheek-Delpher Kranten (De Locomotief 4 Februari 1873, 22 Desember 1879; Java Bode 23 Desember 1892; Soerabaiasch-Handelsblad 27 April 1895; Het Nieuws van den dag 11 Desember 1900, 8 Juni 1907, 9 Oktober 1909, 29 Desember 1928; Bataviaasch Nieuwsblad 4 November 1893)
-Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie 1892-1942.
-Adrianus Kojongian dkk. ‘Ensiklopedia Tou Manado’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.