Jumat, 22 Februari 2013

PARA KEPALA KAWANGKOAN

                            

 

                                                 Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 




Profil wanita Minahasa di akhir abad ke-19. *)



Distrik Kawangkoan sampai dihapuskan tahun 1966 merupakan gabungan dari Distrik Kawangkoan, Distrik Tompaso, Distrik Sonder, Distrik Langowan, Distrik Rumoong dan Distrik Tombasian. Di luar Langowan, bekas-bekas distrik ini memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang khas. Masyarakat Kawangkoan, Tompaso, Sonder, Rumoong dan Tombasian di masa lalu telah memiliki semangat untuk berekspansi ke Minahasa Selatan. Mereka mendirikan negeri-negeri baru dan membentuk koloni-koloni bahkan enklave di dalam koloni lain, mulai dari sebelah sungai Nimanga hingga ke seberang sungai Ranoaipo.

Kawangkoan umpama mendirikan Paslaten (kini di Tumpaan). Di negeri Amurang didirikan Buyungon, lalu menyeberang Ranoiapo ada Kawangkoan Bawah di mulut sungai Ranoiapo. Kemudian di sebelah Ranoiapo ke selatan, negeri-negeri bagiannya adalah: Tewasen, Wakan, Kumelembuai, Teep, Saut, Poigar (bagian Kawangkoan) dan Wuwuk-Malola.

Tompaso mendirikan di sebelah sungai Ranoiapo negeri-negeri: Tokin, Wanga, Lompad, Pontak, Mapolo, Poopoh, Raanan,  Motoling dan Picuan.

Sonder selain mendirikan negeri Kiawa, Pinapalangkow, Kapoya, Lelema, Popontolen, Tinundek (Tumpaan-matani), Tumpaan dan Munte, maka di sebelah dari sungai Ranoiapo, para pionirnya mendirikan Tenga, Paku (ure) dan Pakuweru.

Rumoong awalnya beribukota di Rumoong (Atas), tapi karena kawasannya di pedalaman terbatas, penduduk memperluas wilayah dengan mendirikan Rumoong (Bawah) di mulut sungai Ranoiapo. Meski ada versi kebalikannya, justru dari Rumoong (Bawah) baru didirikan Rumoong (Atas). Rumoong Bawah memang telah menjadi ibukota Balak dan Distriknya sejak awal abad ke-19. Selain Rumoong Bawah, pemukimnya telah mendirikan negeri-negeri di sebelah Ranoiapo: Wijauw, Elusan, Winajan, Tawaang, Radei, Tenga dan Poigar.

Teluk Amurang, rambahan Tombasian, Kawangkoan dan Rumoong. *)

Distrik Tombasian di kawasan Amurang sekarang berasal dari Tombasian Atas, sebagai ibukota. Sejak awal para penduduk Tombasian telah turun ke pantai, dan mendirikan negeri-negeri: Pondang, Sarani, Ranolambot, Tumaluntung, Maliku, Ritei, Malenos, Lopana dan Ranomea.

Pendirian negeri-negeri koloni awal Tontemboan ini telah dimulai sejak Minahasa masih berbentuk pakasaan-pakasaan sebelum dan ketika menghadapi invasi kerajaan Bolaang (Mongondow). Awalnya dilakukan penduduk Tombasian yang wilayah pedalamannya sempit, terhimpit Kawangkoan (Tongkimbut) dan Rumoong. Lalu pemindahan secara besar-besaran berlangsung  di permulaan abad ke-18, terpicu sengketa-sengketa antar-balak, dan tudingan bahwa ketiga Hukum Majoor Kepala Supit, Lontoh dan Paat pilih kasih membela lawan mereka.

Pendirian negeri-negeri baru di kawasan yang kini membentuk Kabupaten Minahasa Selatan itu selalu dimintai dan mendapat persetujuan dari para kepala balak masing-masing, yang kemudian menunjuk seorang hukum atau hukum tua untuk memimpin negeri koloni tersebut. Cukup unik, di satu negeri semisal Tenga ada 2 pemimpin, satu bertanggungjawab langsung kepada Kepala Balak lalu Distrik Sonder, dan satunya bertanggungjawab pada Kepala Distrik Rumoong. Begitu pun dengan Poigar, satu pemimpinnya di bawah kendali Kepala Distrik Kawangkoan dan lainnya pada Kepala Distrik Rumoong.

Betapa repotnya para Hukum dan Hukum Tua di kawasan seberang Ranoiapo sampai akhir abad ke-19 bilamana ada keperluan mendesak umpama mengurus hal penting di ibukota balak atau distrik masing-masing. Mereka harus menempuh perjalanan bolak-balik berhari-hari dengan melalui medan berat menggunakan kuda mau pun berjalan kaki. 

Tidak heran bilamana Kepala Distrik Rumoong sejak awal telah menetapkan Rumoong (Bawah) sebagai ibukotanya. Demikian pun dengan Kepala Distrik Tombasian, meski formalnya masih beribukota Tombasian Atas, namun memilih tinggal dan bermukim di Amurang. Kepala balak lain memilih mengirim seorang Kumarua atau Hukum Kedua untuk memimpin langsung negeri-negeri kolonisasinya.

Soputan tahun 1923. *)

Langkah praktis ditempuh pemerintah Hindia-Belanda lewat Residen Manado yang mereorganisasi sistem pemerintahan. Tahun 1882 Distrik Tompaso, Distrik Tombasian dan Distrik Rumoong di pedalaman dimatikan. Wilayah kekuasaannya digabungkan dengan Distrik Kawangkoan. Kawangkoan meluas ke arah selatan dan bagian baratnya. Selain utuh menerima semua negeri Tompaso, menerima pula dari Distrik Tombasian negeri Tombasian Atas, serta dari Distrik Rumoong negeri Rumoong  Atas dan wilayah sekitarnya. Sebaliknya, distrik kedua yang ada di Amurang dan seberang Ranoiapo ditegakkan sebagai distrik baru dari Distrik Tombasian, Distrik Rumoong dan Distrik Tompaso (baru) beribukotakan Motoling. 

Imbal-balik dari reorganisasi itu, negeri-negeri bekas wilayah Onderdistrik Kawangkoan di seberang Ranoiapo diberi terbanyak kepada Distrik Tompaso (baru), serta sisanya kepada Distrik Tombasian dan Rumoong.


KAWANGKOAN

-Pakasaan, Balak lalu Distrik Kawangkoan dihadiskan didirikan oleh tonaas-tonaas: Tantering, Karusa, Lalawi, Mangentas dan Rontos. Tokoh-tokoh lain terkenal dalam legenda Kawangkoan adalah: Tumbelaka, Mamarimbing, Waraney, Rincim-Mbene (Rincembene) dan Sela Liow. Negeri awalnya diduga di lokasi Leler dekat Kiawa bernama Malemboly dan Paweletan yang disatukan Rumbai, penghulu (hulu bangsa) pertama menjadi Tongkimbut. Dari sini Tongkimbut memecah. Tongkimbut Atas menjadi Kawangkoan dan Tongkimbut Bawah menjadi Sonder sebagai balak tersendiri. Kawangkoan kini baru dibangun di lokasi sekarang, pindah dari Leler, dibawah pimpinan Kepala Balak Poluakan 1831, meski ada versi dipindahkan Alanus Mambu sejak tahun 1820-an.

Kiawa tahun 1910. *)

-Tahun 1874 Kawangkoan termasuk salahsatu distrik besar di Minahasa. Selain di bagian Kawangkoan sekarang, ada juga wilayahnya di sebelah Ranoiapo. Ibukotanya Kawangkoan, ditulis Nicolaas Graafland, ada gereja yang dipakai untuk sekolah dan tempat kediaman Majoor. Negeri Kawangkoan dibagi tiga bagian atau kampung, yakni: Sendangan (483), Talikuran (704) dan Uner (457). Penduduk ibukota 1.644 orang. Negeri lain: Tondegesan (427), Kinali (228), Kayuuwi (304) dengan sekolah, Lansot (390), Lapi (335); Sarongsong (265) yang satu tempat dengan Wuwuk (494) dengan satu sekolah dan gereja bagus. Lalu Koreng (229), Kaneyan (271), dan Pinamorongan (416). 
Lalu di Teluk Amurang pada sebelah lain dari Nimanga (sungai) ada Paslaten (137) dengan sekolah. Berikut satu bagian dari negeri Amurang, yakni Buyungon (424). Lalu menyeberang Ranoiapo, Kawangkoan Bawah di mulut sungai Ranoiapo (334). Kemudian di sebelah Ranoiapo ke selatan: Tewasen (422), Wakan (361) dengan gudang kopi dan kediaman Pakhuismeester; Kumelembuai (791) dengan gereja dan kediaman pendeta. Lalu, Teep dan Saut (196), Poigar (349) yakni bagian Kawangkoan, sedang lain bagian dibawah perintah Rumoong. Dan terakhir Wuwuk-Malola (227). Seluruh Distrik Kawangkoan berpenduduk 8.713 orang.


-Lempouwpalit.
-Rumbai.
 Sebutan Penghulu
-Topurendeng.
-Kiroyan.
-Mangare.
-Wolo(h).
-Kiwel.
-Legi, 1679.
 Dengan tokoh terkenal Mamarimbing.
-Wilar, (1695-1699).
-Pesik. September 1699
Hukum Kepala Balak Tongkimbut Boven (Atas=Kawangkoan). Dicatat mewakili balaknya dalam Kontrak 10 September 1699 dengan pihak Kompeni diwakili Kapitein Paulus de Brievings dan Onderkoopman Samuel Hattingh. Namanya ditulis Pessick. (Dari kisah setempat, dilegendakan yang meneken Kontrak 10 September ini adalah Lengkong, dihadis memerintah 1699-1740).
-Tumiwa, (1740-1760).
-Umbas, (1760-1790).
-Rondonuwu, (1790-1804).
-Tuyu, (1804-1815).
Meneken Kontrak dengan Residen Inggris Thomas Nelson 14 September 1810. Kumarua (Hukum Kedua ) di wilayah seberang Ranoiapo (Kawangkoan Bawah) adalah Pele (Pelleh) Warokka dan Emesang.
-Kapantouw, (1815-1825). 
-Marimbu.
Kepala Kawangkoan di tahun 1821, ditemui dan mengantar Prof.Dr.Caspar George Carl Reinwardt naik Gunung Soputan.
-Alanus Mambu.
-Poluakan, (1825-1830).
 Dibaptis Kristen bernama Thomas Poluakan.
-Majoor Nicolaas Wilhelm Tumilaar, (1830-4 April 1842).
 Dengan Hukum Kedua Jonathan Musa Sumayku yang memakai gelar Majoor juga, lalu diganti sebagai hukum kedua tahun 1840 oleh Laurenz Maimporong.
-Laurenz Maimporong, (1842-1845).
-Majoor Alanos (Alanus) ‘Kawengian’ Warokka, (26 Mei 1845-1854).
 Dengan Hukum Kedua anak mantunya Daniel Mambu.
-Daniel Mambu, (1852-1854/1856).
 Dengan Hukum Kedua iparnya Hendrik A.Warokka.
-Majoor Apeles ‘Pele’ Willem Maimporong, (1854-1861).
-Hukum Besar lalu Majoor Hendrik Alanos Warokka, (1856/1861-meninggal 3 Juli 1890).
 Dengan Hukum Kedua saudaranya Jansen A.Warokka.

Kubur Jansen A.Warokka. *)


-Hukum Besar lalu Majoor Jansen Alanos Warokka, (10 Oktober 1890-meninggal 20 Februari 1904).
 Dengan Hukum Kedua Theodorus E.Gerungan berkedudukan di Lansot, sejak 1897, dan A.Dengah sejak April 1901.


-Hukum Besar Theodorus Estefanus Gerungan, (3 Juli 1904-8 Oktober 1909).
 Dengan Hukum Kedua Klas 1 L.A.Warokka sejak Oktober 1909. 
-Hukum Besar Lambertus ‘Lalanos’ Alanos Warokka, (8 Oktober 1909-Oktober 1924).
-Hukum Besar Gerrit J.Tambajong, (1924-1927).

Kawangkoan tahun 1930-an.*)

-Hukum Besar Willem F.L.Mogot, pejabat (1927-1929).
-Majoor Carolus Adriaan Waworuntu, (1929/1932-1943).
-Hukum Besar (Guntjo) Herman Jacob Wenas, (1942-1945).
-Hukum Besar Wim ‘Bob’ Momuat, (1945-   ).
-Mien Sumampouw-Lapian.
-Arie Rafles Sumayku.


TOMPASO

-Tahun 1874 ibukotanya Tompaso ada gereja bagus dan sekolah, kediaman Majoor dan ada gudang kopi dan kediaman Pakhuismeester (kepala gudang kopi). Negerinya terbagi kampung-kampung: Lebah (Liba, 352), Sendangan (353), Tempok (429), Talikuran (427), Kamanga (765). Seluruh negeri Tompaso 2.326 orang. Negeri lain: Tolok (403), Kanonang (519), Pinaling (221).

Watu Pinawetengan di Pinabetengan. *)

Sedangkan negeri di sebelah Ranoiapo: Tokin (352), Wanga (229), Lompad (285), Pontak (343), Mapolo (419) dan Poopoh (362). Lalu Raanan (408), Motoling (302 orang) dengan sebuah gudang kopi dan kediaman Pakhuismeester. Berikut Picuan (284).
Seluruh Distrik Tompaso, 6.452 orang.
-Tahun 1882 distriknya digabungkan ke Kawangkoan, sedangkan bagian di seberang sungai Ranoiapo yang sebelumnya diperintah seorang Hukum Kedua, ditingkatkan jadi Distrik Tompaso (baru), beribukotakan Motoling.

-Mukuan, 1693.
-Kaawoan, 1808 bersama-sama Sondakh, Waworega dan Mewengkang.
-Sondakh.
 Dengan Kumarua anaknya Lela’,
-Lela’ Sondakh, (1810-1817).
 Meneken Kontrak 14 September 1810 dengan Residen Inggris Thomas Nelson. Namanya sekedar ditulis Lela. Sebagai Kumarua anaknya Lolombulan.
-Majoor Lolombulan Sondakh, (1817-1830).
 Dengan Kumarua (Hukum Kedua) anaknya Kalangi. Reinwardt mencatat di tahun 1821 tokoh bernama Lolombulan van Tompaso. Lalu ada Woworega dari Kamanga, Engris dari Tonkamanga dan Tinangon serta Tumiwa dari Tompaso.
-Majoor Kalangi Johannis Sondakh, (1830-1850).
 Dengan Hukum Kedua adiknya Willem Sondakh.
-Majoor Willem Sondakh, (1850-Mei 1882).
 Dengan Hukum Kedua kemenakannya L.Sondakh.
 Di bawah kepemimpinannya di tahun 1881 Distrik Tompaso dipindah dari negeri Tompaso di dekat Kawangkoan ke ibukota baru di Motoling, di pedalaman Minahasa Selatan.
-Majoor L.J.Sondakh, (Mei 1882-September 1888).
 Dengan Hukum Kedua anak bersaudaranya Willem C.Sondakh.
-Hukum Besar lalu Majoor Willem C.Sondakh, (22 September 1888-1895).


LANGOWAN

-Nicolaas Graafland menulis ibukotanya Langowan di tahun 1874 adalah kediaman pendeta dan Majoor (titel kepala distrik berjasa, sedang biasanya bertitel Hukum Besar). Ada gereja dan satu sekolah yang bagus. Negeri Langowan terbagi atas kampung: Tounelet (582), Wolaang (693), Amongena (628), Waleure (586), Walantakan (723), dan Koyawas (675). Seluruh ibukota: 3.887 orang. Negeri lain di pantai sebelah timur: Atep (323), Palamba (329), Talawatu (229), Rumbia (14). Seluruh Distrik Langowan berpenduduk 4.782 orang.

Masuk gereja di Langowan awal abad ke-20. *)

-Tahun 1919 Distrik Langowan diturunkan status tinggal sebagai Onderdistrik.
-Tahun 1942 Distrik Langowan dihidupkan kembali, hingga tahun 1946, ketika kembali jadi Onderdistrik (Distrik Kedua) dipimpin seorang Hukum Kedua.

-Hukum Majoor Tendean.
 Meneken Verbond 10 Januari 1679.
-Kapitein Mongula (Mangowal?).
Kepala Langowan  ditulis Mangoua. Meneken Kontrak tanggal 10 September 1699 atas nama Balak Langowan, dengan pihak Kompeni yang diwakili Kapitein Paulus de Brievings dan Onderkoopman Samuel Hattingh di Fort Amsterdam Manado.
-Sigar, 1789.
Waruga di Palamba disebut kubur Toar-Lumimuut. *)

-Rambitan.
-Robot.
-Tumbaijlan.
-Tawaijlan.
-Iro(o)t dan Kojongian, 1808.
Tanggal 14 September 1810 kepala dari Balak Langowan yang mewakili meneken kontrak dengan Residen Ingrgis adalah tokoh bernama Fiskal, ditulis Tiscal di kontrak. Selain itu Kojongian (namun versi lain Kojongian mewakili Sarongsong)
-Majoor Fiskal Irot, (1829-1841).
 Dengan Hukum Kedua Tawaijlan Sigar, 1831-1833.
-Majoor Colano Albert Tendap Saerang, (1841-1848). Di kuburnya ditulis memerintah 1800-1848. Hukum Keduanya Tawaijlan (diserani Benjamin, versi lain Bastiaan Sigar),  menjabat 1841-1848.
-Majoor Benjamin ‘Tawaijlan’ Thomas Sigar, (Februari 1848-Januari 1870).
 Dengan Hukum Kedua P.Kumolontang (1848-1853), lalu diganti anaknya Laurenst R.Sigar.
-Hukum Besar lalu Majoor Lourens Roeland Sigar, (Januari 1870-Februari 1884).
 Dengan Hukum Kedua N.Pande-Iroot sejak Desember 1870.
-Hukum Besar lalu Majoor Nicolaas Pande-Iroot, (Februari 1884-dipensiun Oktober 1891). Digantikan Hukum Kedua Kakas-Remboken.


-Hukum Besar lalu Majoor Nicolaas E.Mogot, (2 November 1891-pensiun Mei 1901).
 Dengan Hukum Kedua R.Maringka lalu diganti W.Warokka.

Jalan di Langowan. *)

-Hukum Besar Klas 1 Everhardus ‘Gerardus’ B.Mogot, (13 September 1901-Agustus 1910).
 Dengan Hukum Kedua B.A.Pelenkahu, lalu A.Dengah sejak 1901.
-Hukum Besar Albert W.R.Inkiriwang, (25 Agustus 1910-1919).
-Hukum Besar Everhardus H.W. ‘No’ (Emil) Mogot, (1942-1944).
-Hukum Besar Bernard Wilhelm Lapian, (1944-1946).


SONDER

-Tahun 1874 salahsatu distrik besar Minahasa, sebab ada bagiannya di sebelah Ranoiapo. Ibukotanya Sonder ada gudang kopi, sekolah yang dipakai untuk gereja, kediaman pendeta, majoor dan pakhuismeester. Terdiri beberapa kampung: Kauneran (728), Sendangan (684), Talikuran (641), Tounelet (631), dan Kolongan Atas (848). Seluruh ibukota 3.532 orang. 
Negeri lain: Kiawa (1.067), Leilem (779), Tincep (337), Timbukar (157), Tangkunei (181), Suluun (579), Pinapalangkow (368), Kapoya (405), Lelema (167), Popontolen (214), Tinundek atau Tumpaan-matani (197), dan Tumpaan (308). Lalu Munte (130). Di seluruh negeri ini ada sekolah. Berikut: Sinengkeyan (85), Sulu (115). Di sebelah Ranoiapo: Tenga (403) dengan sekolah, Paku (390) dengan sekolah, dan Pakuweru (376). Seluruh Distrik Sonder 9.842 orang. 

Sonder dulu. *)

 -Tahun 1920 Distrik Sonder dihapuskan, digabung ke Distrik Kawangkoan.

-Keintjem, (1650-1700).
 Disebut memerintah bersama Palar, Mangowal dan Topurendeng.
-Ranton, (1682).
 Kepala Balak (hoofden) Sonder, dicatat arsip VOC. Kemungkinan besar dia juga kepala Sonder (Tongkimbut Bawah) yang meneken Kontrak tanggal 10 Januari 1679.
-Mokalu.
 Dihadis sebagai Kepala Balak Sonder pertama setelah pisah dari Kawangkoan dan digantikan Pesik tahun 1703.
-Lumanauw, (1700-1750).
 Versi menyebut langsung mengganti Keintjem.
-Sumolang, (1776-1789).
-Pinontoan, (1789-1793).
-Walewangko, (1793-1809).
 Dengan Kumarua (Hukum Kedua) adiknya Palar Tambuwun.
 Pemimpin lain di tahun 1808 disebut Mokalu (Hukum di Kolongan Atas), Masinambouw, Tumbol dan Lumempouw.
-Palar Tambuwun, (1809-1824).
 Dengan Hukum Kedua Keintjem.
Keintjem mewakili Balak Sonder pada penandatanganan Kontrak 14 September 1810 dengan Residen Inggris Thomas Nelson. Namanya ditulis Sentjam Tugo.
Palar Tambuwun dihadis diganti cucu Walewangko yakni Tololiu H.W.Dotulong 1815.
-Majoor Tololiu Hermanus Willem Dotulong, (12 Juni 1824-1861).

Pemandangan lain Sonder. *)

-Hukum Besar lalu Majoor Albertus Bernadus ‘Manopo’ Waworoentoe, (1861-17 Desember 1887).
 Dengan Hukum Kedua anak Tololiu, yakni Willem Hermanus Dotulong sejak 6 September  1864, lalu diganti anaknya Albert L.Waworoentoe.
-Hukum Besar lalu Majoor Albert ‘Bert’ Lasut Waworoentoe, (17 Desember 1887-17 Juli 1896).
 Dengan Hukum Kedua (wakil) adiknya Pius Waworoentoe. Ia berhenti atas permintaan sendiri, karena sakit. Namun, secara resmi dipensiun sebagai Majoor Sonder September 1904.


-Hukum Besar Exaverius ‘Pius’ Walewangko Jacob Waworoentoe, (17 Juli 1896-21 September 1904).
 Dengan Hukum Kedua Herman Carl Wajong, lalu 1897 A.Lumentut berkedudukan di Tumpaan.

Jalan di Sonder awal abad ke-20. *)

-Mayoor Frederik Hendrik Dotulong, (21 September 1904-Agustus 1913).
 Dengan Hukum Kedua Jan S.Lumanauw. 


-Hukum Besar Gerrit J.Tambajong, (Agustus 1913-1921).***  

   *). Foto: Koleksi KITLV, Nationaal Archief, Tropenmuseum, Tropisch Nederland dan Bodewijn Talumewo.

SUMBER PUSTAKA:
-Ch.Tangkere, ‘Sejarah Masuknya Injil di Kawangkoan, 1936.
-C.G.C.Reinwardt, 'Reis in den Indischen Archipel in het jaar 1821'.
-J.E. Heeres, 'Generale Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie 1602-1800'. Bijdragen Tot de Taal-,Land-en Volkenkunde van Nederlansch-Indie, Brill Online.
-Koninklijke Bibliotheek-Delpher Kranten (De Locomotief 5 Juni 1882, 17 Oktober 1890, 25 Juli 1896, 16 April 1901; Java Bode 23 Desember 1892;  Bataviaasch Nieuwsblad 4 September 1913; Soerabaiasch Handelsblad 2 Februari 1880, 28 Desember 1889).
-Berbagai literatur dan data lainnya.
-Catatan Mayoor tua Sonder A.B.Wawo-Roentoe.
-Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie 1892,1895,1896,1898,1904,1905,1910,1912.
-Adrianus Kojongian dkk, ‘Ensiklopedia Tou Manado’.


Poskan Komentar