Selasa, 05 Februari 2013

Dari Hashimoto Hingga Hamanaka


 

 

     

        Oleh: Adrianus Kojongian

 

 




Uroko Hashimoto. *)





Bekas Keresidenan Manado setelah jatuh ke tangan pasukan Jepang Januari 1942 dikuasai angkatan laut kerajaan Jepang (Dai-Nippon Teikoku Kaigun), sebagai bagian dari pemerintahan militer sementara untuk Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua dibawah Panglima Armada Selatan ke-2 di Makassar Laksamana Madya Ibo Takahashi lalu kemudian diganti Laksamana Shiro Takashu. Saat itu, sebelum ditegakkan pemerintahan sipil (Minseibu), Manado di’perintah’ 2 institusi. Angkatan Laut di Manado serta unit parasut angkatan laut (Rikusentai dari Dai-Nippon Teikoku Kaigun Koku Hombu) di Langowan yang menguasai fasilitas vital lapangan terbang di dekatnya.

Mayor (lalu Letkol) Uroko Hashimoto sebagai Keibutai Shireikan, membawahi Distrik-Distrik Manado, Tonsea dan Tomohon. Letkol angkatan udara Toyoaki Horiuchi di Langowan memerintah Distrik-distrik: Tondano, Langowan, Kawangkoan, Amurang dan Ratahan. Di negeri-negeri besar ditempatkan hoofd-kwartier (hombo), dengan Hashimoto langsung memimpin Hombo Manado, dan Horiuchi Hombo Langowan. Komandan Hombo Tomohon adalah Kapten Hidemaru Maeda dan Hombo Tondano dipegang Kapten Soeje Yoshi lalu diganti Maeda sejak 25 April 1942. Selain Hashimoto dan Horiuchi, Kapten (lalu Mayor) Mori Kunizo yang ketika pendudukan Manado memimpin gabungan pasukan khusus angkatan laut turut mempengaruhi berbagai kebijakan dan keputusan yang dikeluarkan di masa tersebut.

Uroko Hashimoto berkuasa mutlak ketika Kunizo dipromosikan di Makassar dan Horiuchi pulang kembali ke Jepang. Pemerintahan sipil di Keresidenan Manado kemudian ditegakkan dibawah pimpinan Hashimoto sebagai Kaigun Minseibu dengan sebutan Tidji (Residen) sejak bulan Mei 1942 hingga diganti Letkol N.Endo tahun 1943. Tidak lama kemudian Letkol Koono menjadi Residen Manado sampai kedatangan penggantinya Laksamana Pertama (lalu Laksamana Muda) Kyuho Hamanaka di tahun 1944 memerintah hingga runtuhnya kekuasaan Jepang di tahun 1945.

Kyuho Hamanaka. *)

Untuk Minahasa ditempatkan Kenkanrikan (Asisten Residen) Kawajiri yang tahun 1944 diganti K.Isida. Di Sangihe-Talaud memerintah Kenkanrikan Hirano yang terkenal karena memiliki 2 anak dengan wanita setempat.

Untuk Kota Manado yang di masa Belanda telah diperintah seorang Burgemeester (walikota), diangkat Minoru Yanai sebagai walikota dengan sebutan Sitjo. Yanai sebelumnya bertindak sebagai kepala tolk (penerjemah) penasehat, karena fasih berbahasa Melayu dan Belanda oleh pengalamannya sebagai mata-mata di Manado dan Satal di tahun 1930-an ketika menyamar sebagai seorang pedagang. Yanai menjadi salah seorang tokoh sangat berpengaruh dalam pengambilan berbagai kebijakan strategis selama kekuasaan Jepang di Manado.

Pengaruh Teikoku Kaigun Manado setelah Hashimoto menjadi Tidji tidak besar lagi. Para penggantinya hanya berpangkat kapten (Nobe sejak 1942). Bahkan kemudian tinggal letnan (Yunomura 1943 lalu F.Katagiri 1944-1945). Justru memainkan peran besar adalah polisi rahasia angkatan laut (Tokkeitai) dengan komandan pertamanya di tahun 1942 Mayor Yamaguchi. Terakhir hingga Jepang menyerah komandan Tokketai adalah Baron Masakaze Takasaki. Selain mereka, Kamiura kepala polisi Manado dan juga Tomohon sangat terkenal sejak berkuasanya Jepang.

Hamanaka bersama Baron Takasaki dan perwira AL di Manado. *)

Rantai komando Jepang di bekas Keresidenan Manado seakan dualisma ketika angkatan darat (Rikugun) muncul dengan kedatangan pasukan kombinasi Jenderal (Taisyu) Anami yang menjadikan Kaaten di Matani Tomohon sebagai markas pasukan Kagayaki Butai (Go, Hoku Butai). Divisi ke-32 Jepang ini dipersiapkan merebut Australia Utara, tapi porak-poranda dibombardir pesawat Sekutu di Laut Sulawesi. 

Kempetai (polisi rahasia militer) dari Rikugun yang telah ada sejak awal kekuasaan Jepang semakin berperan besar. Aparatnya menyebar di berbagai kota dan negeri besar di Sulawesi Utara dan Tengah mengimbangi Tokketai. Kepalanya yang terkenal adalah Mayor Odamura dan wakilnya yang sangat berpengaruh Junshikan (Pembantu Letnan Dua) Matsumoto. Konon, Matsumoto memanfaatkan rahasia Odamura yang memiliki wanita simpanan Tionghoa.

Mayor Odamura. *)

Pengganti Jenderal Anami di tahun 1944 adalah Mayor Jenderal (Syosyo) Endo dari Katsura Butai (Ryodan, Kongo Butai), dengan kepala stafnya Letnan Kolonel Komura. Di Minahasa terdapat delapan batalion militer. Nakamura Butai (Syosa, mayor) di Kulo Tondano, Iwamoto Butai  (Syosa) di Sonder, Sagara Butai  (Syosa) di Tewasen Tenga, Hara Butai (Taii, kapten) di Tawaan Tenga, Syu Butai (AU) di Langowan dipimpin Mayor Hara, Yamasaki Butai (Taisa, kolonel) di Kakaskasen, Rikugun Butai di Tomohon serta satu batalion lagi di Touliang Oki. Selain itu ada Tabata Taisa yang membawahi Yoko E Tai, Watanabe Butai, Nichida Tai (bagian kendaraan), Kihara Butai (Taiwan) serta Iwadate Tai. 

Mayjen Endo keluar dari Markas Sekutu di Paslaten Tomohon. *)

Sedangkan komandan di Sangihe-Talaud dari Resimen 111 Divisi ke-32 Jepang seorang berpangkat kolonel, yakni Kolonel Shigerie Koba, dengan salah satu batalionnya yang terkenal di Beo Talaud dipimpin oleh Mayor Tamura.

Yamada ketika ditangkap pasukan Australia. *)

Kamp-kamp interniran tahanan perang (POW=prisoners of war) serta tahanan sipil semuanya dalam penguasaan polisi militer angkatan darat. Kamp Teling Hitam dan Teling Putih di Manado awalnya dipimpin Hideo ‘Wo’ Yamada alias Barewok, lalu kemudian dipegang Kapten Saiki. Kamp wanita di bekas Louwerierschool (kini bangunan SD GMIM III Tomohon) Kaaten Matani dipegang Yamada yang juga memimpin kamp wanita dan anak-anak di Airmadidi. ***

*). Foto koleksi: Austalia War Memorial www.ww2incolor, Trove-Digitised newspaper  and more. 

PUSTAKA:
-Catatan G.Wuntu.
-Catatan R.C.L.Lasut.
-Nationaal Archief - Afscheid van Indië.
-Beldbank Nationaal Archief.
-National Library of Australia.

Posting Komentar