Rabu, 02 November 2016

Tanding Dua Hendrikus

(Kisah Terbunuhnya Kontrolir Haga) 2

 

 

                    Oleh: Adrianus Kojongian 

 

  


Rumah Kontrolir Kema 1880. *)

 

Bulan Februari 1879 datang ke Manado empat orang Kontrolir muda usia dikirim Departemen Dalam Negeri Hindia-Belanda (Binnenlandsch-Bestuur, BB) yang status aslinya sebagai ambtenar BB op Java en Madura. Mereka diperbantukan kepada Residen Manado dengan tugas utama memperkenalkan sistem tanam paksa (stelsel voor de cultures) seperti halnya di Jawa, terutama tanam paksa kopi yang sangat menguntungkan pemerintah kolonial.

Orang paling muda diantara mereka adalah Hendrikus Haga. Masih bujangan, lelaki kelahiran Harlingen di Negeri Belanda 26 April 1852 itu berpangkat sebagai kontrolir kelas 2, diangkat memimpin Afdeeling Kema menggantikan Hennige. 

Hendrikus Haga telah datang ke Jawa dari Belanda tahun 1873. Ia memulai kerja ambtenarnya sebagai Aspiran Kontrolir, diangkat sejak April 1874 dan di tempatkan di Keresidenan Besuki Jawa Timur. Bulan Agustus 1875 ia dipindahkan ke Keresidenan Kedu di Jawa Tengah, masih aspiran kontrolir. Bulan Agustus 1876 ia berhasil naik pangkat menjadi Kontrolir klas 2, sekaligus dimutasi di Cirebon Jawa Barat, sampai kemudian ditugaskan ke Kema Minahasa.

Tiba dan bekerja di Kema, Hendrikus Haga segera melakukan tugas-tugasnya. Dengan instruksi agar memulai usahanya secara bertahap, maka ia melakukan penyelidikan karena masuknya laporan banyak dari para wajib kerja yang bersembunyi. Ia meregistrasi ulang data wajib kerja paksa di afdeelingnya. 

Kontrolir Haga awalnya masih melakukan pendekatan kekeluargaan terhadap kaum Borgo yang terkena wajib kerja Heerendienst untuk melakukan pekerjaan tersebut dengan baik-baik.

Tapi, pembangkangan orang Borgo tidak dapat diubah lagi. Mereka yang didaftarnya harus bekerja Heerendienst dan membayar pajak hasil tetap menolak dengan keras, meski diancam dengan dipenjara. Protes dan keluhan justru diterimanya, baik secara lisan dan tertulis, yang juga diterima Residen. 

Bulan Agustus 1879, karena kewalahan dan habis akal, Kontrolir Haga melaporkan perkembangan pekerjaannya kepada Residen Mr.P.A.Matthes, sambil mengharapkan intervensi darinya. 

Buru-buru Residen Matthes pergi ke Kema. Ia justru memerintahkan Kontrolir Haga agar menangkap para pembangkang dan orang-orang yang tidak puas dengan aturan tersebut, serta mengirimkan mereka ke Manado agar dapat dihukum langsung olehnya.

Sudah bukan rahasia lagi keluh-kesah dan penderitaan dari penduduk yang dikirim ke Manado gara-gara menolak Heerendienst itu. Tapi, orang Borgo tidak bergeming sedikit pun untuk mengikuti perintah Kontrolir dan Residen.

Adalah seorang pemberani bernama Hendrikus Zacharias, penduduk Leter B Kema yang menjadi pemimpin dari kaum Borgo yang menolak Heerendienst dan membayar pajak hasil tersebut. Ia berani sekali dan tidak takut menyuarakan nuraninya dan juga suara kaumnya . 

‘’Trada mau. Lebih baik mampos,’’ demikian Hendrikus Zacharias berkata dengan aksen Maluku menyemangati teman-temannya yang diregistrasi mesti bekerja dan giliran Heerendienst.


                                                                        ***

Kemudian terjadi peristiwa September itu. 

Kontrolir Haga telah menghitung ada 40 orang Borgo yang akan mendapatkan giliran Heerendienst untuk mengerjakan jalan.

Hari Senin pagi, tanggal 29 September 1879, sekitar pukul 08.30, Kontrolir Haga memanggil sebanyak 13 orang diantara ke-40 wajib Heerendienst. Salah seorang diantara mereka adalah Hendrikus Zacharias sendiri.

Di pekarangan rumah Kontrolir yang berada di Leter A, ketika ke-13 orang Borgo telah hadir di depannya, ia memerintahkan mereka melakukan pekerjaan Heerendienst. 

‘’Kalian harus bekerja menurut Heerendienst, karena ini merupakan peraturan dari pemerintah untuk semua penduduk Minahasa,’’ kata Kontrolir Haga.

‘’Ya, mijnheer (tuan) Kontrolir, kami meminta banyak maaf, tuan. Kami tidak dapat melakukannya. Karena di masa lalu mulai dari kakek dan ayah kami sampai kami anak-anak mereka, orang Borgo bebas dari pekerjaan di jalan-jalan, tapi memiliki pekerjaan lain atau membayar kontribusi. Oleh karena itu, kami tidak ingin bekerja di jalan,’’ sahut mereka semua, serentak. 

Mendengar jawaban demikian,  Kontrolir Haga sangat marah dan mengancam. ‘’Jika kalian benar-benar tidak mengikuti semua perintahku, kalian akan dibawa ke Manado dan dikurung selama satu bulan,’’ katanya tegas. 

Hendrikus Zacharias segera tampil sebagai jurubicara. Ia menjawab kontrolir: ‘’Ya tuan, bekerja di jalan atau di penjara lagi di Kema, atau tuan mengirim kami ke Manado, itu tidak penting. Sama terakhir tuan, tujuh hari kami ditahan di Kema dan empat belas hari di Manado. Tapi, sekarang, saya katakan, saya tidak bekerja! Akan lebih baik jika peluru tuan menghancurkan kepala saya terlebih dahulu.’’

Jawaban Hendrikus Zaharias itu persis tamparan di muka Kontrolir Hendrikus Haga. 

Ketika suasana panas meningkat, kemarahan Kontrolir sudah memuncak. Ia mengirim Opas untuk memanggil tiga Kepala Jaga yang bekerja mengawasi pekerjaan di jalan agar segera menghadapnya. Dan, ketika ketiga orang itu muncul, ia segera memerintah mereka: ‘’Kepala Jaga, bawa orang-orang ini ke Manado, dan jaga mereka.’’  ¹

Kontrolir Haga kemudian membuat surat resmi yang ditujukan kepada Residen dan kembali memberi perintah para Kepala Jaga membawa surat serta ketiga belas orang Borgo ke Manado. 

Tapi, Hendrikus Zacharias dan dua belas orang Borgo itu tidak mengikuti para Kepala Jaga, bahkan dengan santai mereka berbalik untuk kembali ke rumah masing-masing.

Ternyata, kepada ketiga Kepala Jaga itu mereka memberi alasan, ‘’Kami pergi dulu ke rumah kami untuk mengabarkan istri kami kalau kami akan pergi selama satu bulan di Manado. Juga untuk mengambil pakaian kami,’’ kata mereka.

Jadi ketiga Kepala Jaga menunggu mereka di jalan dekat pasar Kema, tapi, tidak satu pun dari ke-13 orang itu yang muncul. Sia-sia menunggu, Kepala Jaga kembali melaporkan kejadiannya pada Kontrolir, ‘’Orang-orang itu tidak mengikuti perintah dari tuan. Mereka semua pulang ke rumah masing-masing.’’

Ketika mengetahui kejadian itu, kemurkaan Kontrolir Haga tidak tertahan lagi. Ia mau ke rumah masing-masing wajib Heerendienst dan menangkapnya. Ia memanggil W.C.van Duim Wijkmeester Leter A dan memintanya untuk ikut dengannya tapi tanpa mengatakan kemana tujuannya. Mereka berdua dengan diikuti ketiga orang Kepala Jaga serta Opas menyelusuri jalanan di Kema.

Setelah berjalan cukup jauh, baru kemudian Kontrolir bertanya kepada Wijkmeester van Duim, ‘’Dimana rumah Hendrikus Zacharias?’’ Wijkmeester yang mengenalnya segera mengajak Kontrolir menuju rumah Hendrikus Zacharias yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan. 

Sekitar jam sebelas siang itu, mereka tiba di pekarangan rumah Hendrikus Zacharias di Wijk Leter A.

Ternyata, Hendrikus Zacharias sedang duduk di kursi bambu. Ketika melihat Kontrolir datang, ia berdiri, mengambil kursi bambu, meletakkannya dan berkata: ‘’Duduklah, tuan.’’

Namun, kontrolir tidak berkeinginan untuk duduk. Ia langsung berkata, ‘’Apakah kau tidak pergi? Lebih baik bagimu untuk pergi ke Manado, untuk menyampaikan keberatan langsung kepada Residen.’’

Tapi, Hendrikus Zacharias menjawab: ‘’Seperti saya katakan di rumah tuan Kontrolir. Lebih baik pasang mati. deri pigi ka Manado,’’ tegasnya menolak. ‘’Biar pun peluru di kepala, saya tidak pergi!.’’

‘’Kau harus pergi, apakah suka atau tidak!’’ teriak Kontrolir Haga. 

Sambil berkata demikian, Kontrolir Haga tiba-tiba meraih lengan Hendrikus Zacharias dan menariknya untuk diserahkan kepada Kepala Jaga dan Opas.

Ternyata, Hendrikus Zacharias sangat tangkas, cepat menepisnya, lalu dengan tak terduga menyambar bilah pedanya yang diselip di balik pintu, lalu disertai teriakan keras ia membacok kepala lawannya. Kontrolir Haga menangkis serangan Hendrikus Zacharias dengan lengan kanannya. Maka ia segera menderita luka di bagian kepala di atas telinga dan lengan kanan.

Kejadian itu telah berlangsung dengan sangat cepat tanpa dapat dicegah Wijkmeester van Duim dan ketiga Kepala Jaga. Mereka bahkan menggigil ketakutan, tidak berani berbuat apa-apa, karena mereka bertangan kosong, sementara Zacharias bersenjata tajam. ² 

Opas yang bertugas sebagai pengawal pribadi Kontrolir juga ikut gemetar ketakutan dan tidak mampu bertindak apa-apa untuk membela tuannya. Ia hanya menarik Kontrolir untuk segera lari.

Kontrolir Haga yang kehilangan banyak darah dari lukanya mencoba menyelamatkan diri dengan lari keluar pekarangan rumah Hendrikus Zacharias, namun ia tersandung di got halaman rumah tersebut. ³ 

Segera ia jatuh terjerambab. Hendrikus Zacharias yang memburunya, kembali menyerangnya dengan sengit, sambil berkukuk khas teriakan kemenangan orang Minahasa, memberinya lima pukulan di bagian belakang. Kontrolir luka pada leher, tangan, serta di kedua paha dan pinggangnya.

Wijkmeester serta lain-lain mencari potongan kayu atau batu untuk membantu Kontrolir. Ternyata kemudian Hendrikus Zacharias telah melarikan diri sambil berteriak keras. 

Kontrolir yang luka parah, didukung oleh dua orang penduduk dibawa pulang ke rumahnya. 4

Begitu tiba di rumah, ia masih sempat mengirim ketiga Kepala Jaga ke kampung-kampung, mengabarkan kejadian yang dialaminya, sehingga kehebohan segera terjadi. Kabar pun dikirim ke Manado kepada Residen Matthes.

Ketika Wijkmeester Leter A melihat kondisinya, Kontrolir Haga telah sangat lemah dan jatuh hampir pingsan.

Wijkmeester van Duim memanggil Borgo bernama S.Chrestoffel yang segera datang ke rumah Kontrolir. Ia membersihkan tubuh kontrolir yang berlumuran darah dan membalut luka-lukanya dengan perban kain putih. Ketika ditanya, Kontrolir Haga yang kesakitan dan masih sangat ketakutan meminta agar di rumahnya dilakukan penjagaan, berjaga apabila Hendrikus Zacharias datang untuk membunuhnya.

Segera tiba pula beberapa pria yang ikut membantu membersihkan luka-luka kontrolir.
Hampir pukul tiga sore, Dokter Jawa tiba dari Airmadidi. Ia pun segera melakukan pertolongan medis dengan obat-obatan yang dibawanya.

Tapi, Kontrolir Haga telah mengalami luka-luka yang terlalu besar dan dalam serta banyak kehilangan darah. Setelah sekitar lima jam bertahan, bahkan sempat makan sepotong roti, pada pukul tiga sore, hari Senin itu, ia menghembuskan nafas terakhir di usia 27 tahun, jauh dari ayah-ibu dan saudaranya yang ada di Belanda.

Residen Mr.P.A.Matthes datang dengan disertai Kontrolir Manado E.J.Jellesma, dokter militer Timmermans yang bertugas di Benteng Nieuwe Amsterdam Manado, Hulpprediker (pendeta) dan Hoofddjaksa (Jaksa Kepala). Masih di Airmadidi, ia telah menerima kabar Kontrolir Haga telah meninggal. Baru malam hari ia tiba di Kema. Ia pula sambil menangis telah memimpin upacara penguburan Kontrolir Hendrikus Haga esok sorenya. ***

¹.  Ada versi Kontrolir Hendrikus Haga memberi waktu setengah jam agar mereka berubah pikiran. Ketika saat itu tiba, mereka terus bersikeras dengan niatnya dan semua orang Borgo menjawab ‘’Trada mau.’’
 ². Beredar kabar kalau Kontrolir Haga menggunakan cambuk kuda. Wijkmeester dan para kepala Jaga bahkan disebut langsung kabur.
³.  Versi lain sepatunya terkait dipagar.
4.   Berita diatas menyebut karena Kontrolir telah ditinggalkan kabur, dengan susah payah ia berjalan pulang sendirian ke rumahnya.


*). Foto repro koleksi KITLV Digital Media Library.

BAHAN OLAHAN:
Delpher Kranten:
Algemen Handelsblad 1879, 1880; Bataviaasch Handelsblad 1875, 1876, 1879; De Locomotief 1876, 1879,1880; Het Nieuws van den Dag 1879, Java Bode 1874,1879; Leeuwarder Courant 1880;  Soerabaiasch Handelsblad 1879; Soematra-Courant 1879.
Ensiklopedia Tou Manado
 

 

Minggu, 30 Oktober 2016

Kema dan Orang Borgo

(Kisah Terbunuhnya Kontrolir Haga) 1

                                           

                                      Oleh: Adrianus Kojongian

 

  


Wanita Borgo Kristen di Kema *).

Kema di tahun 1879 adalah negeri yang mulai ditinggalkan. Statusnya, memang tetap nomor satu sebagai pelabuhan utama di Keresidenan Manado, namun perannya sebagai kemudi pemerintahan orang Minahasa telah habis, ketika Kepala Distrik Tonsea Majoor Outford Johan Pelenkahu lebih memilih tinggal dan mengatur administrasi daerahnya dari Airmadidi. Anaknya yang menggantikan, yakni Hukum Besar Jan Hendrik Pelenkahu menirunya pula, jarang ke Kema, kecuali ketika harus berurusan dengan Kontrolir.

Memang, Kema masih berstatus ibukota Distrik Tonsea, namun kepala tertinggi orang Minahasa ketika itu yang tinggal di Kema hanyalah Kepala Distrik Kedua, yakni Hukum Kedua H.Pinangkaan yang tetap bekerja dan mewakili kepala distrik memerintah lebih 200-an orang Minahasa asli.

Meski Kema didirikan orang Tonsea, tapi, sejak masa Belanda negeri ini telah berkembang menjadi 'kota' orang Burger yang lebih dikenal dengan nama Borgo. Kaum yang berasal dari persilangan ras orang Eropa dan pribumi, baik Minahasa dan Ambon atau Ternate ini sejak masa pemerintahan Kompeni (VOC) sampai Hindia-Belanda telah memiliki hak eksklusif dibanding penduduk asli Minahasa. 

Berbagai hak istimewa tersebut berhasil diperoleh kaum Borgo dan keturunannya karena perannya sebagai pembantu terpercaya Belanda. Mereka bergenerasi dan turun-temurun telah direkrut dan bekerja sebagai milisi bersenjata lokal yang dikenal dengan nama Schutterij. Selain menjaga pelabuhan Kema dan pemukiman penduduk, mereka pun bertugas menjaga keamanan negeri-negeri di pesisiran Afdeeling Kema yang mencakup hingga Likupang dan wilayah lain Tonsea terutama dari ancaman para bajak laut. 

Maka, tidak mengherankan bila Kema menjadi salahsatu pusat pertumbuhan Borgo terbesar di Tanah Minahasa setelah Manado. Mereka bahkan menjadi mayoritas dari penduduk Kema, mencapai lebih dari seribu jiwa. Paling banyak sebagai pemeluk agama Kristen (Protestan) dan sedikit Islam.

Karena istimewa dan menjadi kelas tersendiri dibawah orang Belanda, kaum Borgo pun memiliki kekebalan, tidak tersentuh oleh tangan-tangan dari kepala Minahasa. Ini pula menjadi salahsatu penyebab Kepala Distrik Tonsea pindah ke Airmadidi yang berjarak sembilan paal dari Kema. Orang Borgo ketika itu dianggap besar kepala dan sering tidak menghormat kepala Minahasa, karena merasa.derajatnya yang tinggi.

Hak istimewa yang mereka miliki secara turun-temurun itu, karena mereka tidak perlu membayar pajak hasil (hasilbelasting) atau pun mengerjakan Heerendienst yakni kerja wajib atau lebih tepat kerja paksa karena orang yang bekerja demikian tidak akan menerima upah satu sen pun. 

Berbeda dengan penduduk asli Minahasa yang harus dibebani bayar pajak hasil sebesar 5 gulden per tahun, serta melakukan pekerjaan Heerendienst. Untuk Heerendienst, saban orang Minahasa mesti bekerja selama 36 hari dalam setahun, atau bahkan ada lebih 90 hari. Mereka juga harus melakukan pekerjaan negeri, yakni pinontol dan sawang untuk para kepalanya. 

Semua orang Borgo tidak diperintah oleh Kepala Distrik Tonsea, tapi langsung diperintah Kontrolir Kema yang berkedudukan di Kema dan terakhir dipegang oleh F.A.Hennige. 

Kontrolir adalah pejabat berkuasa dibawah Residen, bertugas pula memata-matai dan mengawasi para kepala distrik di wilayah kerjanya. Afdeeling Kema yang dipimpinnya, mencakup seluruhnya Distrik Tonsea ditambahi Distrik gabungan Likupang-Klabat di-Atas yang baru saja di tahun 1878 digabung satu, dan kemudian akan bernama Distrik Maumbi. 

Orang Borgo memiliki kepala sendiri, yakni seorang yang bergelar Wijkmeester. Mereka bermukim di dua kampung atau Wijk yang disebut dengan nama Leter A dan Leter B. Mayoritas dari Borgo Kristen tinggal di Leter A yang di tahun 1879 dipimpin oleh W.C.van Duim sebagai Wijkmeester.  

Tentu saja, hak-hak istimewa yang selama ini hanya dikecapi orang Borgo tersebut menimbulkan kecemburuan besar di kalangan para kepala dan penduduk asli Minahasa.

REFORMASI SWAVING
Tahun 1879 Keresidenan Manado dipimpin oleh Residen bernama Mr.Peter Adriaan Matthes. Meski baru memerintah sejak Mei 1878, namun ia mewarisi ‘bom waktu’ yang ditinggalkan oleh Anthonie Hendrik Swaving yang digantikannya. Ada ketidaksenangan besar berkecamuk di kalangan orang Minahasa, terutama di kalangan para kepala yang merasakan penderitaan besar warganya akibat dari ‘reformasi’ Swaving, yang selalu bekerja di tanah Jawa, dan tiba-tiba dipindahkan ke Manado, kemudian memperkenalkan pembaruan gaya Jawa tersebut.

Paling utama protes dibuat karena domeinverklaring, dimana tanah-tanah yang tidak atau belum digarap dinyatakan sebagai milik negara, mengorbankan banyak lahan pasini penduduk. Orang Minahasa disuarakan oleh para kepala dalam protesnya kepada pemerintah kolonial di Batavia dan Staten-Generaal (parlemen Belanda), meyakini mereka tidak pernah menjadi hamba Belanda atau merasa telah ditaklukkan dengan senjata. Hubungannya dengan Belanda lewat pemerintah VOC ketika itu, dijalin oleh kontrak persahabatan alias bondgenoten, jadi sama setara dan Minahasa merupakan sekutu terhormat.

Tanah-tanah yang dirampas itu bukan hanya untuk disewakan kepada pemodal swasta, tapi juga untuk pengembangan berbagai tanaman produktif, terutama kopi yang sangat menguntungkan. Meski kopi telah lama ditanam dan dibudidayakan di Minahasa, untuk terus menggalakkan koffiecultuur, dan mulusnya lalulintas produksi, maka penduduk mesti digelorakan. Maka untuk itu banyak pejabat usia muda yang masih bujangan dikirim dari Batavia untuk mengaturnya.

Pejabat muda yang sangat bersemangat nekad melakukan berbagai upaya untuk memperoleh pujian atasan serta meraih prestasi setinggi mungkin. Cara yang ditempuh adalah dengan memacu serta memeras sebanyak mungkin sumberdaya manusia, yakni penduduk sebagai tenaga cuma-cuma dengan bekerja Heerendienst di kebun-kebun kopi dan berbagai fasilitas umum (publieke werken). Untuk yang terakhir ini, penduduk dipaksa membangun jalan dan jembatan serta pemeliharaannya, termasuk berbagai fasilitas lain seperti air.

Arus 'reformasi' mantan Residen Swaving berdampak pula pada orang Borgo. Awalnya masih ada kelonggaran bagi mereka yang bekerja sebagai anggota Schutterij. Tapi kemudian sisa-sisa hak istimewa orang Borgo benar-benar berakhir di tahun 1878. 

Dengan aturan baru yang dibuat menyangkut Schutterij, maka di bulan Oktober 1878 Detasemen Schutterij Kema yang dipimpin oleh Letnan Satu David Ferdinand Celosse ditarik ke Manado. Anggota pasukan asal Borgo di Kema dibubarkan. Akibatnya benteng perlindungan terakhir orang Borgo Kema tidak ada lagi. Ditambah keluarnya aturan baru tentang Heerendienst, mereka diwajibkan harus melaksanakan kedua hal yang dibenci tersebut.

Aturan baru tentang Schutterij dan Heerendienst itu berlaku pula bagi para Borgo yang tinggal atau bekerja di Amurang dan Belang. Seperti orang Minahasa umumnya, mereka pun harus tunduk, mesti membayar pajak dan bekerja di berbagai fasilitas umum dengan tidak memperoleh upah. 

Tidak mengherankan bila dicatat di tahun 1878 terjadi bom kopi di Minahasa. Produksinya mencapai 35.462 pikul. Tapi, hanya berselang dua tahun saja, gara-gara perlawanan diam-diam yang berkecamuk dengan keengganan penduduk melakukan kerja paksa, di tahun 1880, hasil kopi Minahasa yang masuk di gudang-gudang kopi milik Belanda turun sangat drastis, tinggal 13.500 pikul. Jumlah ini pun sudah terhitung dengan produksi dari perkebunan kopi Masarang di Tondano yang dikelola Firma De Bordes, sebanyak 820 pikul.

Banyak orang Borgo memprotes dan melawan perampasan hak-hak yang telah mereka nikmati sejak nenek moyangnya. Mereka melakukan aksi pembangkangan atau bersembunyi ketika dipanggil Heerendienst. Akibatnya Kontrolir Kema bertindak keras menahan mereka di penjara Kema. Ia bahkan mengirim mereka ke Manado dan dibui berbulan. Di Manado, mereka pun dipaksa bekerja membuat jalan dengan dirantai untuk pelanggaran yang tergolong berat yang dikenal dengan nama dwangarbeid atau pekerjaan hina. Semua itu dianggap sangat merendahkan martabat dan kebanggaan kaum Borgo. ***  


*). Foto repro koleksi KITLV Digital Media Library.

BAHAN OLAHAN:
Delpher Kranten:
Algemen Handelsblad 1879, Het Nieuws van den Dag 1879, Java Bode 1879, Soerabaiasch Handelsblad 1879, Soematra-Courant 1879.
Ensiklopedia Tou Manado