Kamis, 04 Juli 2013

Tubagus Buang dan Kampung Jawa Tomohon

                                          

 

 

 

                                              Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 


Pemberontakan Cilegon 1888. *)


Di Tondano ada Kampung Jawa yang didirikan Kyai Modjo, dan di Tomohon pun ada Kampung Jawa yang didirikan para pejuang kemerdekaan berasal Banten. Wilayah Kampung Jawa Tomohon dulunya masuk pinggiran bekas kota Distrik Sarongsong, sekarang merupakan kelurahan di Kecamatan Tomohon Selatan. Penduduknya seratus persen Islam, dan lain dari itu tak ada yang mencolok membedakan dengan pemukiman sekitarnya yang berpenduduk Kristen. Lihat saja rumah-rumahnya, layaknya rumah orang Minahasa lainnya, bahkan bahasa pun, banyak penduduknya fasih berbicara Tombulu.

Kalau ditanya siapa pendiri Kampung Jawa ini, penduduknya spontan akan menjawab Tubagus Buang. Namun, siapa Tubagus Buang ini sangat misterius. Para tokoh Kampung Jawa Tomohon di tahun 1980-an dan 1990-an meyakini Tubagus Buang dimaksud adalah Ratu Bagus Buang, seorang pemimpin pemberontakan di Banten tahun 1750-1752 yang berjuang bersama Kiai Tapa untuk mengenyahkan Kompeni Belanda di Kesultanan Banten.

Pemberontakan Ratu Bagus Buang dan Kiai Tapa, menurut penulis-penulis Banten, dipicu ulah Ratu Syarifah istri Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin (1733-1750). Ia membuang putra mahkota, menyebar fitnah suaminya gila sehingga ditangkap, lalu dengan persetujuan VOC, mengangkat menantunya sebagai sultan baru.

Kampung Jawa Tomohon. *)

Maka, timbul pemberontakan dipimpin Ratu Bagus Buang, keponakan Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin, dan Kiai Tapa masih saudara seayah Sultan Muhammad Zainul Arifin. Tubagus Buang dikabarkan masih melakukan perlawanan di Banten hingga tahun 1757, dan dari versi Banten ia meninggal dan disebut dimakamkan di Pagutan Jasinga. 

VERSI
Ada pendapat lain yang menyebut Tubagus Buang dimaksud adalah Tubagus lebih muda yang dibuang Belanda di periode 1850-an. Bangsawan Banten ini bernama asli Tubagus Mansur, tapi karena dibuang lebih dikenal dengan julukan Tubagus Buang. Menurut sejarawan Kampung Jawa Tondano Abdul Razak Tumenggung, Tubagus Mansur ini adalah cucu dari Tubagus Buang. Ia dibuang ke Kampung Jawa Tomohon bersama-sama Patih Tubagus Diningrat, Jaksa Tubagus Jayakarta, Demang Tubagus Suramarja, Kadi Abu Salam dan Mas Djibeng. Mereka terlibat dalam pemberontakan yang dikenal dengan nama Gudang Batu. 

Pemandangan lain Kampung Jawa. *)

Dari sejarah Banten, disebut tanggal 24 Februari 1850 terjadi kerusuhan dan pembunuhan Demang Cilegon yang tengah menginspeksi Rohjambu. Kerusuhan dipimpin Raden Bagus (Tubagus) Jayakarta, Tubagus Suramarja, Tubagus Mustafa, Tubagus Iskak, Mas Derik, Mas Diad, Satus, Nasid, Asidin, Haji Wakhia dan Penghulu Dempol. Nama Tubagus Mansur tidak disebut, begitu pun Kadi Abu Salam dan Mas Djebeng.
 
Peran Mas Djebeng atau Mas Jabeng ada disebut dalam pemberontakan di Banten tahun 1839 yang dipimpin oleh Ratu Bagus Ali, Pangeran Kadli dan dirinya. Mas Jabeng disebut sebagai putra Mas Jakaria, pemimpin pemberontakan di Pandeglang tahun 1811 dan 1827.

Seperti siapa adanya mereka, tahun kedatangan para tokoh Banten yang dibuang Belanda dan kelak bermukim di Tomohon ini pun berbeda-beda versi. Ada menyebut tahun 1790, lalu 1816 dan juga 1875. Yang pasti adalah di tahun 1850-an penduduk Islam di Kampung Jawa Tomohon, dicatatkan sebanyak 85 jiwa.

Masjid 'Nurul Iman'. *)

Kampung Jawa sendiri baru memperoleh status negeri, dipimpin seorang Hukum Tua di tahun 1928.

KISAH DARI TOMOHON
Empat tokoh Kampung Jawa Tomohon yang diwawancarai tahun 1980-an dan 1990-an, Haji Hassan Tubagus (kelahiran 1914), saat itu Imam Masjid ‘Nurul Iman’ Kampung Jawa, dan tiga mantan Hukum Tua: Abdulrahman Tubagus (kelahiran 1916), Rebo Tubagus (kelahiran 1934), dan Djaber Tubagus, seyakin-yakinnya Tubagus Buang, leluhur mereka, adalah seorang pemimpin besar pemberontakan Banten. ‘Ini adalah cerita dari ayah saya Bustari Tubagus, bekas imam, yang diturunkan dari ayahnya Tubagus Abdullah dan diturunkan langsung oleh ayahnya lagi Tubagus Buang sendiri,’’ kisah Haji Hassan Tubagus (lihat silsilah).


Keminahasaan yang kental. *)

Tubagus Buang adalah bangsawan tinggi Kesultanan Banten, menjabat Hulubalang. Malah, menurut Haji Hassan, Tubagus Buang masih sebagai cucu dari Sultan Hasanuddin dan cicit Fatahillah (Sunan  Gunung Jati), pendiri Banten. Meski dari sejarah Banten, Fatahillah mendirikan Kesultanan Banten tahun 1527, sedangkan anaknya Sultan Hasanuddin memerintah Banten 1552-1570, sehingga terdapat jeda panjang.

Tubagus Buang sangat menentang Kompeni Belanda karena intervensinya terhadap Kesultanan Banten, terjadinya kemelaratan, pemerasan, pelecehan agama, pajak yang banyak dan sistem rodi yang membuat rakyat Banten menderita sekali.

Tubagus Buang dengan pengikut-pengikutnya yang tidak membawa istri mereka mengawini gadis-gadis Minahasa, terutama wanita-wanita dari Sarongsong, Sonder, Pineleng dan Tondano. Tubagus Buang sendiri mengawini wanita ber­fam Supit dari Lahendong, sehingga dikisahkan memperoleh hadiah perkawinan wilayah yang meliputi Kampung Jawa kini. Dari istrinya itu, Tubagus Buang memperoleh 3 orang anak le­la­ki, masing-ma­si­ng: Tubagus Agus, Tu­bagus Baii dan Tu­­bagus Abdullah.

Ku­­buran Tubagus Bu­­ang hingga kini ber­­ada di tempat ber­­nama Kayu Pa­yu­­ng. Meski demikian, ada keturunannya yang mempercayai Tubagus Buang telah gaib ketika sedang bersembahyang. Sementara yang lain lagi menutur ia telah balik dan meninggal di Serang Banten.

Selain Tubagus Buang, para tokoh lain yang dibuang bersamanya dan bermukim di Kampung Jawa Tomohon adalah Penghulu Abusalam, Mas Djebeng, Mukali, Abdur Rasjid, Ab­dul Wahid Abdul Haji, Abdur Rais dan lain-lain. Dari antara in­ter­niran Banten ya­ng mempunyai ba­nyak keturunan hingga sekarang di Kampung Jawa, terutama ada­lah Tubagus Buang sendiri, Penghulu Abusalam, imam per­­tama, bekas penghulu perang di Banten (makamnya ki­ni berada di Kampung Kodo Manado), serta Mas Djebeng.

Pengikut lainnya ketika Belanda melonggarkan pengawasan­nya, menyebar di beberapa tempat di dalam dan luar Mi­nahasa. Abdur Rasjid alias Islam adalah anak Penghulu Abu­salam. Sedangkan Abdul Wahid dan Abdur Rais tidak mem­punyai keturunan di Kampung Jawa.

Para pemimpin Geger Cilegon yang ditahan. *)

Berikutnya, datang pula Kasim Maskun pada tahun 1888. Maskun semula adalah Lurah di Cilegon Banten. Ia terlibat dalam pemberontakan yang dikenal dengan nama Geger Cilegon yang tercetus tanggal 9 Juli 1888. Maskun digambarkan oleh keturunannya sebaga tokoh tinggi be­­­sar dan perkasa yang meninggal tahun 1926 dalam usia 117 tahun. Konon, Maskun berambut panjang menggerai hi­ngga kaki, dan sampai berumur 110 tahun sangat kuat, ma­sih memanjat kelapa dan dapat memikul ratusan biji kelapa.

Selain para pejuang yang dibuang Belanda, gelombang pendatang kedua yang menghuni Kampung Jawa Tomohon adalah pedagang Bugis dari Sulawesi Selatan. Tokoh bernama Lasambang dan Lakoro awalnya hanya menyinggahi pelabuhan Kema dan melihat-lihat sambil berdagang. Tapi, kemudian merasa kerasan. Perahu layarnya ditinggalkan. Dua pucuk meriam yang mereka bawa kemudian hilang tidak berbekas.

Para interniran berasal Banten dan pedagang Bugis ini mendapat jodoh gadis-gadis Minahasa dalam ajang baku blantek (barter). Biasanya para tibo-tibo (inang) Minahasa terdiri kaum wanita. Sedangkan warga Kampung Jawa berkebiasaan membuat gula aren yang dalam proses selanjutnya dibeli tibo-tibo dan dijual di pasar Tomohon dan Manado. Dari pertemuan dan barteran itu terjadi perkawinan-perkawinan campuran. 

Rombongan pengikut Tubagus Buang dan anak-istri mereka kelak ditambahi oleh pemukim-pemukim dari Kampung Jawa Tondano. Ketiga keturunan pengikut tersebut berbaur dan berketurunan. Perkawinan masyarakat Kampung Jawa Tomohon pun terjadi dengan warga Islam di Manado, Pineleng, Belang, Bolaang-Mongondow dan Gorontalo. Adat-istiadat Jawa dan agama Islam tetap mereka pelihara. 

Hubungan kekerabatan dominan penduduk Kampung Jawa dengan tanah asalnya Serang lama-kelamaan terjalin kembali dan masih terpelihara dengan baik hingga kini. Dari penuturan Rebo Tubagus, mantan Hukum Tua 1961-1964, di kota Serang ada sebuah tempat khusus. Lokasi di Kampung Kelapa Dua itu, adalah tempat untuk menguji benarkah pejiarah dan pendatang dari Kampung Jawa Tomohon asli keturunan Tubagus Buang.

PINDAH BERKALI
Awalnya para interniran dibawah Tubagus Buang ditempatkan di lokasi Lembuyan Kakaskasen Tomohon, bahkan ada menambahkan sebelumnya lagi pernah di Lota Pineleng, ketika itu ibukota Balak Kakaskasen. Lalu dari Kakaskasen, mereka pindah di Papakanan yang disebut pula Sumboyong (sekitar 1 kilometer dari Kampung Jawa). Tempatnya dinamakan Papakanan karena konon dihuni jin-jin, sehingga penduduk harus melakukan acara Semedi Adat dengan memberi sesajian untuk jin-jin itu. 

Dari Papakanan dipimpin Tubagus Buang mereka kemudian pindah bermukim di Lepo, kini wilayah kebun sawah antara Walian-Lansot, de­kat tempat bernama Mandei. Lalu dari Lepo, tidak la­ma pula mereka pin­dah dan memba­ngun kampung di se­belah selatan (bagian barat Tu­ma­tangtang), pada su­atu daerah hutan lebat yang di masa itu terkenal sangat angker. Lo­ka­si itu kini di­na­mai Lewet atau le­bih dikenal de­ngan nama Kayu Payung atau Kaiwangko (kayu besar), sekitar 2 kilometer selatan Kampung Jawa. 

Disebut Ka­yu Payung, sebab sekitar pemukiman­nya dinau­ngi se­akan dipayungi oleh pohon besar itu, yang diper­ca­­yai mereka dihuni jin-jin dan ke­ra­mat. Di sini Tubagus Buang dan Mas Djebeng meninggal dan dikuburkan.

Berhubung pemu­ki­man Kayu Payung di­rasa terlalu ja­uh da­ri ibukota Dis­trik Tomohon, ju­ga jauh dari ruas ja­lan raya, serta jin-jin yang di­per­caya ada di si­tu, penduduk Kam­pung Jawa me­min­dahkan nege­ri­­nya pada ta­hun 1875 ke tempat se­ka­rang. Ver­si lain, pe­­min­dahan terakhir ini ter­jadi ka­rena berjang­kit­nya penyakit Lu­ti Air (waterpo­ken, cacar air) ya­ng menelan ba­nyak korban jiwa.

‘’Belanda memang sengaja mem­perlakukan pa­ra interniran dan ke­­turunannya se­ba­gai pekerja-pekerja paksa. Mereka me­nyiasati warga Kam­pung Jawa menyuruh membabat hutan ang­ker dan membuka pe­mu­kiman, lalu me­nyuruh pindah kem­bali,’’ kisah Haji Hassan Tubagus, yang menjabat imam Kampung Jawa lebih 50 tahun.

Pembuatan kerupuk Kampung Jawa. *)

Selain versi ini, eksodus war­ga Kampung Jawa, dari tuturan tua-tua yang lain ber­­­­awal dari Kayu Pa­­yung, lalu ke Lem­­buyan di Ka­kas­­kasen, dan ke per­­kebunan Man­dei. Dari sini pen­duduk berpen­car, ber­­gabung de­ngan warga Islam lain di beberapa Kam­pung Ja­wa. 

Dice­ri­takan ketiga anak Tu­bagus Buang, yakni Tubagus Agus, Tubagus Baii dan Tu­bagus Ab­dullah yang me­mimpin pemindahan itu beserta ke­­lu­ar­ganya. Mereka pergi ke Tanawangko (Tubagus Agus), Tum­paan (Tubagus Baii) dan malah sampai ke Marisa di Go­rontalo.

Baru di tahun 1890, penduduk kembali ber­kum­pul, dan mulai meng­­huni Kampung Ja­wa sekarang. Dari keturunan Tubagus Buang, yang kembali ke Kampung Jawa adalah Tubagus Abdullah dari Tanawangko. Keturunan Tubagus Bu­­ang yang ada di Kampung Jawa berasal darinya.

SEMPAT KOSONG
Semula Kampung Jawa administratip pemerintahan ma­­sih dipegang oleh Hukum Tua Tumatangtang dan Lansot Sarongsong. Kam­­pung Jawa dibagi atas 2 Jaga Kepolisian. Lalu di ta­­hun 1928 dengan persetujuan Kepala Onderdistrik Tomo­hon dan Kepala Distrik Manado yang membawahinya, Kampung Jawa diresmikan menjadi sebuah negeri oto­nom. Djasmani Tabi­man yang fam asli­nya Rifai dari ga­ris keturunan pe­ngi­kut Kyai Modjo di­angkat menjadi Hu­kum Tua Kampung Ja­wa pertama. Ma­sanya, tahun 1921 to­koh Serikat Is­lam (SI), Haji Omar Said Tjokroa­mi­noto mengunju­ngi Kampung Jawa.


Kantor Lurah Kampung Jawa. *)
 
Tahun 1942 Kampung Jawa mengalami kevakuman pemerintahan, tidak mempunyai hukum tua. Ini setelah Jepang mengeksekusi Hukum Tua Djakaria Kyai Demak dan Kepala Jaga Aminullah Masloman. Se­perti sebelumnya, Kampung Jawa masuk Sarongsong, ber­bentuk 2 jaga, dengan kepala jaga wilayah Lansot Pet Prambahan dan kepala jaga wilayah Tumatangtang Mon­to­ng Kyai Demak. Baru di tahun 1946 Kampung Jawa kembali berstatus negeri ulang, dipimpin Hukum Tua Montong Kyai Demak.

Masa pergolakan daerah Permesta, Kampung Jawa sempat dibumihanguskan dan masjid dijadikan dapur umum serta tahun 1959 terbakar. Penduduk lari mengungsi di kebun-kebun, ke Tomohon dan Manado. Baru ketika Tomohon dibebaskan APRI (TNI), sekitar 700-800 warganya diungsikan ke Manado dibawah Letnan Minu dari Brawijaya. Setelah keadaan aman, penduduk kembali ke Kampung Jawa, dengan pejabat Hukum Tua, ditunjuk Rebo Tubagus sejak bulan April 1961. ***

*). Foto koleks KITLV Digital Media Library dan foto-foto Kampung Jawa: Didi Sigar dan Jootje Umboh tahun 2005 dan 2006.


SUMBER:
Tomohon Kotaku
Tomohon Dulu dan Kini
Berbagai tulisan tentang Banten





              

Selasa, 18 Juni 2013

Pendudukan Inggris di Manado

                       

                        

 

                                           Oleh: Adrianus Kojongian 

 

 

 

 

Lukisan tenggelamnya HMS Resistance oleh Bernard F.Gribble *)



Perubahan politik di Belanda, dengan larinya Stadhouder (Walinegara) Willem V ke Inggris tahun 1795 serta pembentukan Republik Bataafse dibawah kendali  Perancis, berdampak juga di jajahannya Indonesia. Inggris lewat kongsi dagang East India Company (EIC) memanfaatkan peluang dengan mulai merebut pos-pos Belanda berdasar dokumen Kew dari Willem V yang memerintahkan pejabat Belanda menyerahkan wilayahnya dibawah perlindungan armada Inggris.

Bertolak dari Madras India, armada EIC dibawah Rear-Admiral (Laksamana Muda) Peter Rainier mengambil alih Ambon tanpa perlawanan tanggal 16 Februari 1796 dan Banda dengan sedikit perlawanan tanggal 7 Maret 1796. Dari skuadronnya, HMS (Her Majesty’s Ship) Resistance dibawah komandan Captain Edward Pakenham menjadi andalan. Resistance pun yang Juli 1795 menduduki Malaka, bersama-sama HMS.Orpheus dan Centurion.

HMS Resistance yang bersenjatakan 44 meriam, sejak diluncurkan dari sungai Thames London bulan Maret 1782 sudah dikomandani 3 orang, Captain James King, Commander John O’Bryen dan sejak 24 Juli 1795 Captain Edward Pakenham.

Edward Pakenham adalah anak Edward Pakenham dengan Elizabeth Weller dan cucu John Weller seorang Laksamana Inggris terkenal.

Awal bulan Maret 1797, kapal Resistance telah tiba di depan pelabuhan Manado, ditemani HMS Orpheus dibawah Captain Henry Newcombe bersenjatakan 32 meriam. Kema telah dikuasai Pakenham tanggal 23 Februari sebelumnya, dan Pakenham mengirim seorang perwira dari Kema menuntut Residen Manado menyerahkan Fort Amsterdam.


HMS Orpheus. *)

Residen Manado George Frederik Durr yang telah berkuasa sejak tahun 1793 dan diperintahkan Gubernur Ternate Johan Godfried Budach untuk mempertahankannya, menolak, dengan alasan belum ada instruksi dari Batavia. Namun, ketika kapal Pakenham tiba di Manado, ia ketakutan. 

Tanpa perlawanan di tanggal 4 Maret 1797 ia menyerahkan Keresidenan Manado kepada Edward Pakenham. Durr berpikir ia toh menyerahkan teritorinya kepada mantan penguasanya, Walinegara Willem V van Oranje-Nassau berdasar dekrit Kew. Apalagi, diketahuinya Ambon yang dipertahankan dengan kuat oleh Gubernur Alexander Cornabe menyerah tanpa melawan, apalagi dirinya. 

Dalam surat kepada atasannya, Durr mendalihkan tidak mampu mempertahankan Fort Amsterdam Manado hanya dengan seorang sersan dan 24 serdadu alifuru Minahasa yang dikhawatirkannya akan segera membuang senjatanya. Selain itu, dinding benteng begitu buruk, dan akan hancur terkena tembakan pertama¹.

Inggris segera menguasai Benteng Amsterdam dan menempatkan seorang perwira dan 20 serdadu. Menyatakan kesetiaannya kepada Inggris dan Walinegara Willem V, bekas Residen Durr dan para pegawainya diberi kepercayaan kembali oleh Edward Pakenham untuk menjalankan roda pemerintahan Keresidenan Manado, karena Inggris kekurangan personilnya. Bekas Sekretaris Werdemuller (Weydemuller), diangkat sebagai Komandan Pos di Kema. Sementara Residen Gorontalo Jacobus Josephus Bax terpaksa menyerah kepada Inggris tanggal 11 Mei 1797, karena 'ketidaksetiaan' beberapa kepala Gorontalo. Bax dan keluarganya dikirim ke Ambon dengan frigat Inggris Bombay.

Maka, sehari-harinya, Manado tidak berubah apa-apa. Hukum dan cara pemerintahan Belanda tetap berjalan. Yang berbeda, hanya bendera Inggris yang berkibar di Fort Amsterdam, juga di pos-pos penting. Selain itu, Durr  menerima gaji dari Inggris, dan tugasnya adalah mengirim banyak hasil dari Manado ke Ambon, pusat kekuasaan Inggris, lalu Ternate setelah berhasil diduduki Inggris tanggal 21 Juni 1801.

Masa Inggris ini, para bajaklaut Mangindano (Mindanau) betul-betul merajalela. Ketika bulan Juli 1801 Amurang, pos Belanda terakhir yang diambilalih Inggris dikepung 40 perahu bajak laut Mangindano. Durr segera meminta bantuan pasukan Inggris dari Ambon untuk mengatasinya. Bajak laut yang berkekuatan 1.200 orang pria dengan modal duabelas senjata kuningan (8 dan 6 pon) itu telah mulai mendarat, ketika kapal Inggris HMS ‘Swift’ tiba awal  bulan Agustus itu.

Swift bersenjatakan 20 meriam yang dikomandani Captain John Hayes segera menghancurkan kapal kawanan bajak laut serta menewaskan 600 orang perompak. Ia kemudian mengejar sisa-sisa bajak laut ke Kepulauan Sangir. Ternyata, para perompak menyempatkan menyamun dan membakar Taruna serta menculik 200 wanita dan sejumlah pria. Naas, kapal bajak laut tenggelam dan kebanyakan tewas. Hanya 1 wanita berhasil diselamatkan oleh kapal Swift. 

Dengan persetujuan Amiens yang diteken 27 Maret 1802, Inggris harus mengembalikan sebagian Indonesia timur yang didudukinya kepada Republik Bataafse, termasuk Manado. Maka, Inggris menyerahkan kembali Minahasa sejak tanggal 1 Maret 1803, meski secara resmi baru setelah Ternate diserahkan tanggal 5 Agustus 1803. Carel Cristoffel Prediger mengambilalih pemerintahan dari Durr yang dipecat tanggal 6 November 1803.

Gencatan senjata Inggris-Perancis tidak berlangsung lama. Armada Inggris yang bermarkas di India kembali berupaya mencaplok jajahan-jajahan Belanda yang kemudian diperintah Louis Napoleon, adik Kaisar Perancis, menggantikan pemerintahan Republik Bataafse.

Di tahun 1809 EIC mengirim espedisi besar dari India, dibawah pimpinan Rear-Admiral William O’Bryen Drury. Jawa dan Maluku diblokade ketat, dan sebagai strategi diputuskan Drury merebut jajahan Belanda di timur. 

Captain Edward Tucker, komandan HMS ‘Dover’ yang bersenjatakan 44 meriam dibantu HMS Cornwalis dan Samarang, dengan mudah menaklukkan Ambon (19 Februari 1810). Lalu dalam tempo dua minggu berikutnya mengambil Saparua, Haruku, Nusa Laut, Buru, dan Manipa. 

Edward Tucker dengan Dover kemudian berlayar ke pelabuhan Gorontalo di Teluk Tomini. Meski pun bendera Belanda berkibar di Benteng Nassau Gorontalo, ternyata tidak ada pejabat Belanda di situ. Gorontalo hanya diatur oleh Sultan dan dua putranya atas nama pemerintah Hindia-Belanda. Sultan dapat dibujuk untuk melayani Inggris, sehingga Gorontalo resmi dikuasai tanggal 16 Juni 1810.


Meriam VOC. *)

Sukses mengambilalih Gorontalo, Tucker segera berlayar ke Manado. Pertahanan Manado termasuk cukup kuat. Garnisunnya dipertahankan oleh 113 orang, termasuk pejabatnya, sementara Benteng  Amsterdam dilindungi oleh dua baterai dengan 50 meriam terpasang. Baterai terkuat berada di pinggir pantai, sementara baterai lainnya di atas bukit. 

Pasukan Inggris di HMS Dover sendiri berjumlah lebih dari  200 orang, terdiri pelaut dan marinir (85 orang), lalu detasemen artileri (46 orang) dan Madras European Regiment (130 orang), ditambah serdadu Ambon.

Frigat Inggris itu siap menggempur Manado, tapi sebelum memulai serangannya Edward Tucker mengirim utusan dengan bendera gencatan senjata dan surat kepada Marinus Balfour Residen Manado untuk menyerahkan Manado tanpa melakukan perlawanan.

Para pegawai sipil Belanda diberi kesempatan bebas kembali ke Jawa, namun semua militer akan menjadi tawanan perang, sampai nanti diberikan pembebasan bersyarat. Tanpa menunggu lama Marinus Balfour menerima semua persyaratan Edward Tucker. Maka, Manado dan semua wilayahnya serta harta milik Belanda lainnya, termasuk meriamnya jatuh ke tangan Inggris, tanggal 24 Juni 1810.

Pengambilalihan Manado itu dilakukan oleh para marinir dibawah komando Letnan Higginson dengan dibantu Letnan Fireworker Thomas Nelson dari pasukan artileri, ditambah 30 pasukan Ambon.

Penaklukan Edward Tucker kemudian berlanjut ke Ternate yang kemudian jatuh tanggal 31 Agustus 1817. Seluruh Hindia-Belanda akhirnya dikuasai Inggris setelah Batavia diduduki dan Gubernur Jenderal Jan Willem Janssens menyerah.

KONTRAK
Berbeda dengan kejadian tahun 1797, pejabat Inggris langsung mengendalikan Keresidenan Manado. Letnan Thomas Nelson ditunjuk menjadi Residen di Manado. Kemudian hari ia digantikan Letnan John Cursham.

Dengan para kepala balak Minahasa, Residen Thomas Nelson membuat kontrak baru, terutama dalam hal pemasukan hasil untuk EIC. Begitu pun dengan para raja di kawasan Sulawesi Utara lainnya, termasuk dengan raja-raja di wilayah yang sekarang menjadi Sulawesi Tengah. 

Fort (Nieuw) Amsterdam tahun 1910. *)

Kontrak-kontrak tersebut adalah dengan para kepala Minahasa tanggal 14 September 1810. Tanggal 19 Januari 1811 dengan Raja Manganitu. Tanggal 1 April 1811 dengan Raja Bolaang Itang. Tanggal 10 April 1811 dengan Raja Taruna (Tahuna). Tanggal 20 Juni 1811 dengan Raja Bolaang-Mongondow. Tanggal 10 Oktober 1811 dengan Raja Atinggola dan Raja Buol.

Di tahun 1812, kontrak ditandatangani dengan RajaTabukan tanggal 10 Februari, dan dengan Raja Tagulandang tanggal 25 Maret.

Anehnya, tidak ada kontrak antara Inggris dengan sejumlah raja lain yang berada dalam pengawasan Residen Manado, termasuk Gorontalo dan daerah teritorialnya. Seperti dengan Raja Siau dan Kandahar (Kandar) di Kepulauan Sangir. Begitu pun tidak dibuat kontrak antara EIC dengan raja-raja Gorontalo, Limboto, Bolango, Bone, Boalemo, Parigi, Bintauna dan Tontoli (Toli-Toli). 

NASIB DUA EDWARD
Kedua Edward penakluk Manado memiliki akhir berbeda. Penakluk Manado tahun 1810, kelak memperoleh gelar kebangsawanan Inggris, sehingga namanya menjadi Captain Sir Edward Tucker RN. Di masa kekuasaan Raffles, perwira dari Bombay Marine Regiment ini menjabat Deputy Pay-master General di General Staff Army. Bekas kapalnya HMS Dover tahun 1811 mengalami kerusakan

Nasib mengenaskan justru menimpa Edward Pakenham, penakluk Manado tahun 1797. Kakak kandung  dari Vice Admiral John Pakenham ini, tenggelam bersama kapalnya Resistance di Selat Bangka tanggal 24 Juli 1798. 

Penyebabnya tidak dapat dijelaskan, tapi mungkin karena sambaran petir, lalu meledak dan tenggelam ke dasar laut.  Ada dua versi jumlah korbannya. Versi pertama, terdapat 345 orang di kapal tersebut. Sejumlah 332 orang tewas, dan 13 selamat. Yang selamat, menempel di reruntuhan kapal, membangun rakit dan berlayar ke Sumatera. Tapi, badai tiba-tiba muncul. Hanya lima orang selamat mencapai Sumatera dan dipenjarakan orang Melayu. Dan, akhirnya hanya satu yang berhasil lolos, diselamatkan dibawa kapal Carysfort ke London 16 November 1799. 

Versi kedua yang beredar, kapal Resistance saat itu membawa Pakenham, petugas dan awak terdiri 250 pelaut dan 30 marinir, ditambah 14 tahanan Spanyol dan beberapa penumpang. Mereka semua tewas setelah kapal meledak dan tenggelam. Yang selamat empat orang, dan hanya satu yang akhirnya tiba kembali di London.


Inilah dua surat Captain Edward Tucker kepada Rear-Admiral William O’Bryen Drury, dengan sebuah salinan suratnya kepada Residen Manado Marinus Balfour.


H.M.S. Dover, at Sea, off Gorontalo, June 16.
Sir,
In prosecution of your excellency’s orders to distress the enemy as much as possible in the Molucca sea,  I beg leave to inform you, that, after having sent all the Dutch officers and troops from Amboyna to Java,  I proceeded to the Dutch port of Gorontello, in the bay of Tommine, on the northern part of the Island of Celebes, where I found the colours of the King of Holland flying on the fort, and on the three batteries at the entrance of the harbour.  Finding, however, that no Dutch officer had charge of these post,  but that the whole settlement was vested in the hands of the sultan and his two son (who bore Dutch commissions) for the Dutch company,  I therefore, instead of making a descent, landed, and waited upon his majesty, to whom I addressed a letter.  The proposals contained in this letter having been duly considered by his majesty and the nobles in council, were acceded to with satisfaction.  The Dutch colours were hauled down, and the British supplied their place in Fort Nassau, under every demonstration of their attachment to the English government.
Having thus opened a large proportion of this part of the Celebes to the English trade, from whence also various kinds of supplies can be constantly thrown into our possessions in the Moluccas   it is my intention to proceed to Manado, where there is a very good fort, with a heavy battery in front,  close to the sea, and the fort again commanded by a battery on a hill immediately over it, and front whence musketry can play ino the fort;  but as the ship can be brought to bear on the latter and lower battery, and 60 picked men, under Liutenants Incledon and Higginson, are ready to storm the battery on the hill, I have no doubt but the attack will be successful.
       To Rear-Admiral DRURY, &c.&c.   (Signed,)      EDWARD TUCKER.


H.M.S.Dover, Manado Roads, June 25.
Sir,
Conformably to my intentions as expressed in a former letter to your excelleency,  dated the 16th inst.off Gorontello, I proceeded to Manado, where I arrived yesterday at two p.m.;  and having taken up a station in his Majesty’s ship under my command to the right of Fort Amsterdam, and well reconnoitred the positions,  I instantly sent a flag of truce on shore, with a summons to the governor, a copy of which I herewith inclose.
The enemy having thought proper to accede to the terms proposed,  the marines were landed, under the command of Lieutenant Higginson, assisted by Lieutenant Fireworker Nelson of the Honourable Company’s coast artillery, and 30 of the Amboynese troops, embarked in the Dover for the purpose of garrisoning it after its capture, who immediately took possession for his Majesty.  Had the enemy chosen the other alternative,  I am well convinced, from the experience I have repeatedly had, that the officers and men I have the honour to command, would have added to the credit which they have already so well earned, particularly in the attack of Amboyna.
The dependencies which have fallen with Manado are very extensive, being the ports of Kemar, Le Copang, Amenang, and Tawangwoo; the capture thereof, as well as Gorontello,  has been very opportune, as large supplies were preparing at all these places, and ready to be shipped for the Isles of Ternate and Banda.
I have the honour to transmit returns of the garrison found here, and of the ordnance in Fort Amsterdam and the adjacent batteries.
      To Rear-Admiral DRURY,&c.&c.         (Signed,)  EDWARD TUCKER.


Copy of a letter to MARINUS BALFOUR, Esq.Prefect at Manado, dated Dover, off Castle Amsterdam, June 24.

Sir,_______ It has no doubt, ere this, been made known to you,  that the English are in considerable force in these seas, and that the Island of Amboyna, with all its dependencies, are already in their possession. You now see before your fort and batteries an English frigate, ready to open her fire, and volunteers in her boats, only waiting the order to land and storm your position: it remains for you to decide on this point.
Being perfectly acquainted with the exact strength of your garrison, and all your means of defence,  I am enabled to judge with what probability of success you can oppose me; I therefore summon you to surrender the fort of Amsterdam, with all its dependencies thereunto belonging.  On condition of your instantly complying and delivering up all public property,  I promise protection to the persons and private property of the inhabitans;  that de Dutch civil servants shall be at liberty to return to Java:  the military, being prisoners of war, may likewise return there, on their parole of honour.
The officer in charge of this has instructions to wait half an hour for your determination, which, should it be in the affirmative, be pleased to notify by striking the colours of the fort; if in the negative,  by hauling down the flag of truce.
                                                  (Signed,)   EDWARD TUCKER.

RETURN of the Garrison found in Fort Amsterdam, Manado, June 24.
1 Captain commandant, 3 lieutenants, 3 sergeants, 1 bombardier, 13 corporals, 1 fifer, 1 drummer, 70 privates, 1 boatswain,  and 10 fore-mast-men.
Total, including officers, 113.

RETURN of Ordnance found at Manado, June 24.
1 Brass 6-pounder, 4 ditto 1-pounders, and 5 ditto½-pounders.
3 Iron 12-pounders, 5 ditto 8-pounders, 9 ditto 6 pounders, 6 ditto 4-pounders, 5 ditto 2-pounders, and 14 ditto 1-pounders.
Total, 50 guns.

           -----
¹ Pertahanan Manado masa Residen George Frederik Durr, per tanggal 31 Agustus 1796 terdiri besi: 8 pon (2), 6 pon (8) dan 4 pon (2). Logam: 4 pon (15) dan 1 pon (1). Total 28 senjata, Sementara kekuatan Garnizun Manado per 31 Juni 1796 terdiri: 1 sergeant, 5 korporaal, 1 tamboer pijper, 37 soldaten, 1 kanonnier, 3 bosschieters dengan total 48 personil.



*). Lukisan Gribble Nick, freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com dan lain-lain.
    Foto koleksi KITLV dan National Archives of the Netherlands


SUMBER:
-The Naval Chronology of Great Britain; or, An Historical Account of Naval, James Ralfe. Digitized by Google.
-Full text of Commodore Sir John Hayes His Voyage and Life (1767-1831), Ida Lee, 1912, California Digital Library.
-The Naval History of Great Britain, from the Declaration of War by France, in Februari 1793, William James, London 1826. Digitized by Google.
-Zamengesteld en Uitgegeven op last van de Nederlandsch-Indische Regering, Mr.J.A.van der Chijs, Inventaris van ‘s lands Archief te Batavia, KITLV.
-De Verdediging van Ternate onder den Gouverneur Johan Godfried Budach 1796-1799,
-P.A.Leupe, Bijdragen T.L.V., Achtste Deel, Digitized by Google.
-Genealogical Edward Pakenham, The Peerage.