Rabu, 11 Februari 2026

Leluhur Raja Bolaangitang yang Terlupakan

 



Makam Claas Ponto di dekat bekas komalig Bolaangitang. Foto Iftiqar S.A.Ponto




Ponto adalah dinasti yang pernah memerintah kerajaan kecil Bolaangitang, nama yang sekarang terlestari pada dua kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Silsilah keluarga Ponto mencatat nama Ponto anak Duongo yang beristrikan Kinabi sebagai leluhurnya. Saudara lain Ponto adalah Solagu, Goma, Tegila dan Laidi. Duongo sendiri adalah anak Tuhinga dan cucu Anggapuajo, saudara Pugu-Pugu yang dikenal sebagai Raja Kaidipang Binangkal bersama Mobiling, Dotinggula, Pino, Malimang dan Entebu. 

Surat-surat tinggalan Ratu Dona Magdalena Linkakoa, Jogugu Jeremias Solano serta Jogugu Nicolaas Ponto mengungkap detil-detil yang hilang dari sejarah Bolaangitang. 

Dari silsilah para penguasa Bolaangitang tulisan para mantri (bobato) bertanda Boulangitang 23 Juni 1727, Ratu Magdalena Linkakoa adalah anak dari Raja Pinonja dan cucu Raja Pinankan merupakan keturunan langsung Putri Bilobulawa yang dianggap sebagai ratu pendiri kerajaan Bolaangitang. 

Linkakoa kawin beberapa kali. Setidaknya dikenal empat nama yang menjadi suami Linkakoa. 

Pertama adalah Mobiling. Sebuah perkawinan politik yang dirancang oleh Raja Siau dan Raja Bolaang Mongondow setelah penaklukan Kaidipang, dimana Mobiling diangkat sebagai Raja Kaidipang dan Linkakoa Ratu Bolaangitang. Keduanya memerintah atas masing-masing kerajaan bagiannya serta memerintah bersama kedua kerajaan tersebut. Tapi keduanya memiliki karakter berbeda dan tidak mau begitu saja menerima keputusan para penakluk menyatukan kerajaan mereka. Keduanya bercerai. Mobiling memiliki seorang anak dari perkawinan lain bernama Tiaha yang setelah dibaptis Kristen Reformasi menggunakan nama Willem Cornput. Ketika Mobiling meninggal, saudaranya Binangkal datang dari Buol dan mengklaim tahta Kaidipang. 

Cerai dari Mobiling, Linkakoa kawin dengan Intji Mannis seorang pangeran yang tahun 1674 diangkat menjadi Raja Taywila, sekarang Tawaeli kecamatan di Kota Palu. Linkakoa mengangkat suaminya tersebut sebagai Jogugu Bolaangitang pengganti Barmalipu yang dibunuh atas perintah Linkakoa Juni 1680. 

Nama ketiga yang dikenal adalah Don Carlo yang juga menjabat jogugu dan meninggal sebelum tahun 1690. 

Kendati sudah berusia tua, Linkakoa kembali menikah pada Minggu 19 Agustus 1690 dengan laki-laki muda bernama Augustyn Moloto Boegoe (Bugu) asal negeri Langan. Perkawinannya bersama dua pasangan lain dilakukan oleh Predikant Ternate Ds.Gillius Cammiga yang melakukan kunjungan gereja dan sekolah di Bolaangitang.

                                                                             

PEWARIS

Dari perkawinan-perkawinan itu Linkakoa tidak memiliki anak. Namun Linkakoa telah mengangkat sebagai anak kemenakannya bernama Jeremias Solano. Ia adalah putra dari sangaji bernama Fabian Salabi dengan Dona Maria Duongo atau Dwong, adik wanita Linkakoa. Jeremias dibesarkan sedari kecil dan dididik sendiri oleh Linkakoa sebagai calon dan pewaris mahkota kerajaan Bolaangitang. Jeremias mengawini wanita bernama Maria Ceabo yang ditemui Ds.Cammiga Agustus 1690. 

Tanggal 30 April 1694 Linkakoa meninggal dunia setelah menderita sakit. 

Vandrig David Haak, komisi dari Gubernur Cornelis van der Duyn dalam catatan hariannya bertanda loji Kompeni di benteng Amsterdam Manado 3 Mei 1694 mengungkap pesan terakhir Linkakoa kepada komandan pos Kaidipang Kopral Jacob Jojeus. Ketika Jojeus bertanya apakah Linkakoa memiliki sesuatu untuk diungkapkan kepada Kompeni, Linkakoa mengaku tidak memiliki permintaan apa-apa, selain bahwa setelah kematiannya adalah Jeremias Solano yang akan menggantikannya sebagai raja, dan saudara Jeremias bernama Augustin Solago sebagai jogugu, keduanya putra saudara perempuannya Dona Maria Duongo. 

Sebelumnya juga Linkakoa kepada Fiskal Jacob Claasz serta para bobato telah memesan anak angkatnya Jeremias sebagai raja pengganti. 

Namun Haak menolak keinginan terakhir Linkakoa ini. Ia memerintahkan Jojeus agar pemerintahan Bolaangitang untuk sementara dijalankan oleh para bobato di bawah Kapiten Laut Pedro Goma. 

Pemerintahan Goma dianggap tidak efektif sehingga dengan keputusan Gubernur Duyn 11 Februari 1695 dipilih Willem Cornput anak tiri Linkakoa sebagai regent Bolaangitang. Duyn menjalankan pesan mantan Gubernur Robertus Padtbrugge bahwa sepeninggal Linkakoa penggantinya adalah Willem anak Mobiling. 

Willem Cornput mendapat dukungan kuat dari pamannya Raja Kaidipang Maurits Binangkal yang menginginkan Bolaangitang menjadi satu dengan Kaidipang. Binangkal termasuk Padtbrugge selalu menganggap Bolaangitang adalah bagian Kaidipang yang terpisahkan ketika diinvasi dan dibagi dua oleh Siau dan Bolaang Mongondow. Cornput sebelumnya telah dipercaya Binangkal sebagai Jogugu Kaidipang dan calon penggantinya kelak. 

Keputusan Gubernur Duyn diprotes Jeremias Solano beserta ayahnya Fabian Salabi dan ibunya Dona Maria Duongo serta hampir semua bobato Bolaangitang yang ingin mengikuti wasiat Linkakoa. Tapi penolakan mereka berakhir ketika Sekretaris Pieter Alsteyn yang dikirim sebagai komisi mengancam akan menggabungkan Bolaangitang di bawah Dauw Kaidipang apabila tidak mendukung Willem Cornput. Alsteyn beralasan Willem Cornput berhak menjadi pengganti Linkakoa, karena ayahnya Mobiling pernah menikah dan memerintah bersama dengan Linkakoa. 

Dalam jurnalnya Alsteyn mencatat pertemuan yang dipimpinnya di rumah Kopral Jojeus Rabu di Dauw 1 Juni 1695 dihadiri Raja Binangkal, Jogugu Willem Cornput serta mantri Kaidipang dan di lain pihak para mantri Bolaangitang terdiri Jeremias Solano, Augustin Solago, Sangaji Fabian Salabi dan Kapiten Laut Pedro Goma. Pertemuan yang berlangsung hingga esok hari menyepakati Willem Cornput menjadi Raja Bolaangitang dengan Jeremias Solano sebagai jogugu. 

Keputusan resmi dari pemerintah tinggi di Batavia untuk Solano sebagai jogugu turun 28 Januari 1696 bersama pengangkatan Raja Tahuna Don Louis Melangin.

 

SENGKETA PANJANG

Kendati demikian hubungan antara Jogugu Solano dan Raja Willem tidak mulus, meski mereka berbesanan.

Putra tertua Jeremias dari istrinya Maria Ceabo bernama Nicolaas atau Claas Solano yang belakangan menggunakan nama Claas Ponto kawin dengan Jacomina Kinabi, putri Willem Cornput. 

Tahun 1697 ketegangan kembali timbul. Dona Maria Duongo dalam surat bertanda Boulang Itang 11 Oktober 1697 bermohon pada Gubernur Lesage supaya mahkota Bolaangitang diberikan kepada cucunya Claas Solano. Permintaan ini didukung Jogugu Jeremias Solano. 

Namun komisi di bawah Fiskal Pedagang Daniel Fiers dan Boekhouder Pedagang Muda Jan Walraven de la Fontaine mendamaikan mereka dalam pertemuan di Dauw dan Bolaangitang 6 dan 8 Agustus 1698. Jeremias Solano dan Willem Cornput menandatangani perjanjian kesepahaman, pengakuan terhadap Raja Willem sekaligus penyelesaian masalah-masalah budak tinggalan Ratu Linkakoa. 

Kuasa Raja Willem justu makin besar ketika Raja Kaidipang Maurits Binangkal meninggal 19 September 1699. Gubernur Lesage ingin Bolaangitang disatukan dengan Kaidipang. Dengan surat bertanda Ternate 29 Mei 1700 Lesage melapor kepada Gubernur Jenderal Mr.Willem van Outhoorn telah menginstruksikan Komandan Manado Sersan Henry de Chieze, agar Kaidipang dan Bolaangitang berada di bawah kekuasaan Willem Cornput. 

Tanggal 17 Maret 1702 Willem Cornput diangkat resmi sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang berkedudukan di Dauw Kaidipang. Satu kerajaan tapi dengan dua mantri terpisah di Kaidipang, dan mantri di Bolaangitang yang memiliki otonomi sendiri di bawah Jogugu Jeremias. 

Tapi pengabungan Bolaangitang dengan Kaidipang tidak menyudahi perselisihan mereka. Raja Willem berkali melaporkan Jogugu Jeremias kepada gubernur dan Dewan Maluku sebagai tidak setia kepadanya.

Perselisihan memuncak tahun 1723, 1724 dan 1727. Jogugu Jeremias Solano dan mantri Bolaangitang meminta Gubernur Jacob Cloek mengangkat Claas Ponto sebagai raja. 

Kepada Pedagang Kepala Jacob Boner yang menjadi pemangku sementara gubernur Maluku, Jogugu Jeremias dalam surat bertanda Boulang Itam 23 Juni 1727 kembali mengingatkan Bolaangitang sejak awal merupakan kerajaan merdeka dan terpisah dari Kaidipang dimulai Ratu Bilobulawa hingga Ratu Linkakoa. Dirinya sebagai pewaris sah Linkakoa menagih Kompeni untuk mengangkat anaknya Claas sebagai Raja Bolaangitang. 

Namun dalam surat bertanda Kastil Oranje Ternate 24 Mei 1727, Raja Willem Cornput menentang pemisahan kembali. Alasannya bertentangan dengan kontrak 1702 yang mengakui dirinya sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang. Perjanjian mana dihadiri dan ikut ditandatangani oleh Jogugu Jeremias. 

Rekonsiliasi ditandatangani 2 Juli 1727 di depan Boner di Kastil Oranje antara Claas Ponto yang mewakili ayahnya bersama mantri Bolaangitang dengan Raja Willem dan mantri Kaidipang. Keputusan Bolaangitang tetap mengakui Willem Cornput sebagai raja mereka. 

Raja Willem kemudian mengundurkan diri dan putranya Albertus Cornput dilantik 4 Agustus 1729 sebagai Raja Kaidipang dan Bolaangitang. Jeremias Solano yang lanjut usia ikut mengundurkan diri. Claas Ponto dilantik Gubernur Elias de Haeze sebagai jogugu baru Bolaangitang 3 Oktober 1729. 

Perselisihan justru melebar. Ketika Claas kembali dari Ternate 8 November 1729 setelah pelantikannya ia tidak menemukan istrinya Jacomina Kinabi. Kinabi yang telah memberinya empat anak, 3 perempuan dan 1 laki-laki telah diambil kembali oleh ayahnya mantan Raja Willem serta saudaranya Raja Albertus. Kinabi membela ayahnya dan saudaranya. Dalam surat bertanda Caudipan 10 April 1732 Kinabi mengaku tidak bahagia, karena Claas memiliki wanita lain, bahkan sampai enam orang dan ada yang memiliki anak. 

Sengketa mahkota Bolaangitang terus berlanjut diantara keturunan Jeremias Solano dan Willem Cornput. 

Ketika Claas Ponto meninggal April 1752, pemerintahan Bolaangitang untuk sementara waktu dijalankan bobato, karena Raja David Cornput menolak Israel Ponto anak Claas menjadi jogugu pengganti. Sampai tiga kali dipanggil ke Ternate oleh Gubernur Jan Elias Mylendonk baru Raja David setuju.

Israel Ponto diangkat sebagai jogugu Bolaangitang oleh Residen Jan Smith dengan keputusan gubernur baru Abraham Abeleven 23 Februari 1757. 

Seperti ayahnya Israel Ponto memperjuangkan kemerdekaan Bolaangitang dari Kaidipang. Untuk meredakan tuntutan Bolaangitang Abeleven menaikkan jabatan Israel dari jogugu menjadi Jogugu Penghulu atau regent. 

Israel Ponto meninggal akhir tahun 1769. Pengganti sebagai jogugu penghulu sejak 1770 adalah putranya yang bernama Nicolaas Ponto. Namanya sama seperti kakeknya Claas.1 

Nicolaas bertindak berani. Tahun 1771 ia menunjuk Anthony Daniaenu menjadi jogugu dan dua orang lainnya sebagai kapiten raja. Raja Jacobus Cornput menolak sebab jabatan kapiten raja adalah hal baru. Kepada Gubernur Jacob Valckenaer ia beralasan Nicolaas bukan raja. Komisi di bawah Sekretaris Bartholomeus van de Walle dan Dirk Vrymoet menyetujui promosi tapi dengan koreksi pada posisi kapiten raja. Ia diingatkan pengangkatan mantri harus dengan izin dan sepengetahuan raja di Kaidipang dan Kompeni. 

Pada tahun 1788 Nicolaas Ponto kembali berselisih dengan Raja Willem David Cornput. Ia meminta rakyat menghormatinya dengan gelar raja, dan untuk merayakan dilaksanakan pertunjukan kolintang sepanjang malam. Residen Johan Daniel Schierstein dalam surat kepada Gubernur Alexander Cornabe bertanda Benteng Amsterdam Manado 11 Desember 1788 mengutip utusan yang menemuinya bahwa, ‘’Tuan Raja Boelangitam minta bermain koelintang entero malam.’’ 

Schierstein mengaku menegur Nicolaas Ponto karena Kompeni belum membuat kontrak pribadi dengannya. Ia memastikan bahwa tidak ada satupun hak istimewa yang diberikan kepadanya oleh Kompeni. Nicolaas Ponto menjawab utusannya mungkin telah menggunakan nama raja karena ketidaktahuannya. 

Bolaangitang baru menjadi kerajaan kembali ketika anak Nicolaas yakni Salomon Ponto menyatakan Bolaangitang menjadi kerajaan independen yang terpisah dari Kaidipang pada masa pemerintahan Kompeni Inggris.2 

Salomon Ponto diakui sebagai Raja Bolaangitang ketika bersama mantrinya pada 1 April 1811 menandatangani kontrak politik dengan Residen Inggris Kapten Charles Forbes di Benteng Amsterdam Manado.

  

 

1.Dari tradisi Bolaangitang anak dan pengganti Israel Ponto bernama Antogia Ponto.

2.Tradisi menyebut pula Salomon Ponto mengganti ayahnya Antogia dan dilantik sebagai Raja Bolaangitang pertama pada 21 November 1793. Mantan Residen D.F.W.Pietermaat, J.B.J van Doren dan Komisaris Emanuel Francis memastikan peristiwa ini baru terjadi masa pemerintahan Kompeni Inggris. 

 

 

(Sumber tulisan naskah Bolaang Mongondow Masa Kompeni dan Hindia-Belanda).

 

SUMBER LAIN:  

Coolhaas, W.Ph., Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel 7 1713-1724; deel 8 1725-1729; deel 9 1729-1737.

Doren, J.B.J.van, Bijdragen tot de kennis van verschillende overzeesche landen, volken, enz, 1 Amsterdam, 1860.

Francis, E., Herinneringen uit den levensloop van een Indisch Ambtenaar van 1845 tot 1854, 3, Batavia, 1860.

Leupe, P.A., Het Journal van Padtbrugge's reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, BKI 14, 1867.

Pietermaat, D.F.W., Statistieke aanteekeningen over de Residentie Menado, TNI jrg 3, 1840 (1e deel) no.3.

Silsilah Keluarga Ponto koleksi Iftiqar S.A.Ponto.

Usup, H.T., Sejarah Singkat Kerajaan Kaidipang Besar (Kaidipang dan Bolaang-Itang), 2, Manado, 1979.

Valentijn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, 5, Joannes van Bram dan Gerard Onder de Linden, Dordrecht-Amsterdam, 1724.