Rabu, 17 Desember 2025

Don Carlos Piantay, Raja Cayuris dan Manganitu

 


Peninggalan rumah Raja Manganitu di Toloarane. Koleksi Persito Lumanauw


Selain kerajaan Saban dan Limau, di Pulau Sangihe Besar pernah berdiri pula kerajaan yang berumur pendek, yakni Cayuris atau Cayuhis di negeri yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kauhis, sebagai pecahan dari kerajaan Manganitu. 

Kerajaan ini tak lepas dari tokoh Don Carlos Piantay, saudara muda dari Raja Manganitu Don Santiago atau Don Saint Jago. Setelah Don Santiago dikalahkan Sultan Amsterdam dari Ternate dan dieksekusi dengan dipenggal kepala tanggal 13 Mei 1675 bersama seorang saudara laki-laki lain yang menjadi kapiten laut, Piantay melarikan diri ke gunung dengan sekitar 500 pengikutnya. Ia kemudian ke Tamako negeri kantong milik Siau di Pulau Sangihe Besar mendapatkan perlindungan dari Raja Siau Don Francisco Xavier Batahi dan padri Spanyol. 

Bersama rakyatnya, Piantay membangun negeri Cayuris. Ia memproklamasikan diri sebagai Raja Manganitu di Cayuris menentang Raja Takanetang yang di kemudian hari bernama Don Martin Takanetang. Sultan Amsterdam telah melantik Takanetang anak Imam Tanjawa menjadi Raja Manganitu pengganti Don Santiago pada 15 Mei 1675. 

Padri Emanuel Espanjol menjadi penasehat dekatnya. Piantay juga memeluk agama Katolik dengan nama Don Carlos atau Carolus Piantay atau menurut sumber Spanyol Don Carlos de Espana Bantay. Sebuah gereja dan sekolah dibangun di Cayuris di bawah guru Tamako Juan de Leon. 

Kepada Gubernur dan Kapten Jenderal Spanyol di Manila pada 1 Agustus 1677, Piantay meminta kiriman meriam untuk melawan Ternate yang membunuh saudaranya. Putra tertuanya sengaja dikirim ke Manila untuk memperjuangkan bantuan dari Spanyol. 

Namun dengan bujukan Gubernur Robertus Padtbrugge serta menyerahnya Siau, Don Carlos Piantay bersedia berdamai dengan Kompeni Belanda dan Raja Takanetang. 

Tanggal 10 Desember 1677 di sloep (chialoup, sekoci) den Eendragt yang berlabuh di Teluk Malahasa Tahuna, Piantay dengan bobatonya Hukum Matheos Papaar dan Sangaji Mattheo Adiel meneken perjanjian sebanyak 14 pasal dengan Gubernur Padtbrugge serta Takanetang. Menurut Padtbrugge setelah Raja Saint Jago dibunuh tahun 1675, Piantay telah diminta untuk menggantikan sebagai raja. Tapi Piantay tidak muncul karena takut akan bernasib sama dengan saudaranya, sehingga Takanetang yang diangkat menjadi raja oleh Sultan Amsterdam. 

Piantay diakui sebagai penguasa tertinggi atas semua rakyat yang pernah memisahkan diri dengannya dan menerima dengan segala kehormatan gelar sebagai raja, berhak mengangkat panglima dan pembesarnya. Sebaliknya ia hanya mengamalkan Kristen Reformasi, melarang para padri dan simbol-simbol Katolik dan semua orang Eropa lain serta menebang habis pohon rempah. 

Wilayah Cayuris ditentukan pula dari Cayuris sampai Tanah Marama dimana penduduknya dapat memperoleh sagu dan buah-buahan. Wilayah selebihnya berada di bawah perintah dari Raja Manganitu.  

Padtbrugge menempatkan untuk sementara waktu Sersan Jan Lodewyksz dari Tahuna sebagai komandan pos di Cayuris. 

Kristen Reformasi berkembang di Cayuris dengan kedatangan Predikant Zacharias Caheyng lalu Ds.Cornelis de Leeuw dan Gillius Cammiga. Piantay sekeluarga pindah menganut Kristen Reformasi. Gereja di Cayuris juga diperbesar serta sebuah sekolah dibuka di bawah guru Caspar Taydi kemudian Wouter de Lima. Bahkan putranya dibaptis Cammiga dengan nama Carel.

 

BERSATU KEMBALI

Umur kerajaan Cayuris hanya berlangsung selama empat tahun dari tahun 1675 hingga tahun 1679, menjadi satu kembali dengan Manganitu dengan Don Carlos Piantay diakui raja berkuasa penuh Manganitu. Alasan Piantay hak kelahirannya sebagai keturunan langsung para Raja Manganitu putra dari Raja Tompor dan saudara kandung Raja Don Santiago. Sementara Takanetang terhitung kerabat jauh. Ibu Takanetang yakni Putri Ilangsariwu adalah anak dari saudara wanita Santiago dan Piantay yang dikawini oleh Agogo seorang jogugu Tabukan di Salurang.                                                  

Dalam jurnalnya bertanda chialoup den Eendragt di Teluk Tahuna Sabtu 11 Februari 1679, Padtbrugge mencatat Raja Takanetang menyerahkan seluruh wewenang pemerintahannya kepada Piantay. Tapi dengan syarat dan perjanjian yang diikrarkan bahwa setelah kematian Piantay kerajaan akan jatuh ke tangan Takanetang yang akan berkuasa dan memiliki otoritas penuh. Meskipun setelah kematian Takanetang pula posisi raja akan kembali jatuh ke tangan salah satu putra atau keponakan dari Piantay. 

Takanetang akan mempertahankan gelar raja dan mempertahankan tanda kehormatan atau apapun miliknya baik rakyat dan budak yang menjadi haknya. Tanda kehormatan demikian akan terus ada pada orang yang hidup paling lama. 

Padtbrugge setuju kesepakatan antara Piantay dan Takanetang, menjaminkan Kompeni mendukung dan menjamin Takanetang yang menemuinya di atas kapal dengan akta terbuka dan tersegel. 

Kesepakatan tersebut mengakhiri era dua raja Manganitu, sehingga Raja Piantay menjadi salah seorang raja paling berkuasa di Kepulauan Sangihe. Raja Takanetang beroleh gelar baru raja muda (jongen koning). Keduanya saling menyapa ayah dan anak, dan Takanetang selalu menunjukkan rasa segan, tunduk dan hormat kepada Piantay yang sudah berusia tua. 

Raja Piantay masih bertahan di negeri Cayuris sampai tahun 1680 ia pindah dan mulai memerintah di Manganitu. 

Manganitu jadi terbagi dua negeri. Dari memorinya kepada penggantinya Gubernur Jacob Lobs bertanda Ternate 31 Agustus 1682, Padtbrugge menyebut Raja Piantay berdiam di negeri Leang yang berpenduduk 700 rumah tangga, dan negerCoejang di bawah Raja Takanetang sebanyak 70 rumah tangga. Manganitu berkewajiban menyediakan tiga korakora dengan 150 tenaga wajib kerja untuk kepentingan Kompeni, dan bersama dengan Kendahe dan Tahuna harus menyetor saban tahun 1.000 tempayan minyak kelapa. 

Padtbrugge ingkar janji. Padtbrugge yang dipromosikan menjadi Komisaris Provinsi Timur (Ambon, Banda dan Maluku) sekaligus Gubernur Ambon, telah menginstruksikan penggantinya sebagai Gubernur Maluku Jacob Lobs untuk memastikan bahwa tidak ada anak Piantay yang diizinkan untuk memimpin kerajaan Manganitu atau menggantikan ayah mereka. Sedangkan kepada Gubernur Jenderal Cornelis Speelman dan Dewan Hindia, 31 Agustus 1682 itu Padtbrugge menggambarkan Raja Piantay sebagai pengikut setia Spanyol yang sangat keras, menuduhnya labil dan tidak stabil dalam semua tindakannya.  

Upaya Piantay sebelum kedatangan Padtbrugge dengan mengirim putra sulungnya ke Manila dengan sebuah korakora besar untuk meminta bantuan Spanyol melawan Kompeni diungkit-ungkit. Piantay tidak pernah dapat dibujuk untuk memulangkan kembali putranya tersebut. 

Hubungan Raja Piantay dengan Takanetang berubah memburuk di tahun-tahun akhir hidupnya. Ia dilaporkan bersengketa pula dengan dua jogugu Tabukan David Pandjalang dan Thomas Wala. 

Bobatonya ikut mengadukannya. Sangaji Simon Makalibu dalam surat kepada Raja Muda Don Martin Takanetang bertanda Manganitu 18 Juli 1689 melaporkan Piantay melakukan tindakan melawan Kompeni lima tahun sebelumnya. Ketika itu Piantay telah mengumpulkan semua bobato di rumahnya dan memutuskan mengirim Louis Coenca ke Manila kepada Gubernur Spanyol, mengaku bahwa dia ingin keluar dari Kompeni dan meninggalkan iman Kristen Protestan.

Surat yang turut diteken Gabriel Tamoesora, guru bantu Anthony Makapedua dan guru Lucas Fortados diteruskan Takanetang kepada Kompeni dan diterima Komisaris Dirck de Haas dan Gubernur Joannes Cops. 

Menurut Makalibu, Louis Coenca dengan 18 orang yang berangkat bersamanya akan memanggil Spanyol dan Inggris, dimana Piantay akan menyerahkan kerajaannya kepada Spanyol atau Inggris, dan jika mereka tidak setuju untuk datang membantunya, ia bermaksud melarikan diri ke Manila dan menyerang Kompeni. 

Namun Gubernur Joannes Cops tidak bertindak apa-apa, meski mengkhawatirkan musuh Kompeni akan memanfaatkan keadaan dengan suasana hati Raja Piantay yang berubah-ubah. TapPiantay sendiri dalam suratnya berkali-kali menyatakan kesetiaannya kepada Kompeni. 

''Selama-lamanya saya memegang tuan Kompeni. Saya belum lawan sabda dan titah tuan-tuan,’’ demikian jawaban Piantay bertanda Manganitu 2 Juni 1693.

 

SELISIH MAHKOTA   

Raja Carlos Piantay memiliki sejumlah anak dari ratunya bernama Michaela Licotaja serta selir bernama Dominga Belia. Dari inventarisasi warisannya diketahui Piantay sangat kaya, memiliki banyak harta, emas dan budak. 

Raja Piantay meninggal dalam usia tua tanggal 15 Juni 1693. 

Putra keduanya Pangeran Dirk Piantay atau Dirk Oudouman segera menuntut haknya untuk menggantikan ayahnya. Tapi permintaannya tidak disetujui pengganti Cops, Gubernur Cornelis van der Duyn dan Dewan Maluku. Duyn menjalankan pesan Padtbrugge untuk menunjuk raja muda Martin Takanetang menjadi satu-satunya raja berkuasa penuh di Manganitu. 

Menunggu pengangkatan kembali Don Martin Takanetang sebagai raja berkuasa penuh atas Manganitu, pemerintahan Manganitu dijalankan Kapiten Laut Goan Manepugu, Sangaji Simon Makalibu dan Kimelaha Joan Sasasionge.  

Don Martin Takanetang mulai memerintah Manganitu sebagai pengganti Raja Piantay sejak 27 Agustus 1694 dan dikukuhkan kembali menjadi Raja Manganitu di Kastil Oranje Ternate pada tanggal 29 Januari 1695 dengan menandatangani pembaruan dari kontrak yang diteken Raja Piantay 10 Desember 1677. Pengangkatannya diperkuat dengan keputusan Gubernur Duyn 21 Februari 1695 yang menegaskannya sebagai raja absolut Manganitu. 

Klaim atas tahta Manganitu datang dari Pangeran Dirk Piantay. Selain itu ada sepupu Dirk, anak dari mantan Raja Don Santiago yang bernama Ferdinando Saint Jago. Tapi, berbeda dengan Dirk Piantay, Don Ferdinando tidak ambisius. Ia digambarkan komisi yang berkunjung sebagai seorang yang jujur dan berbudi luhur, juga takut akan Tuhan.

Pada Selasa tanggal 9 Juli 1697 dilaksanakan sidang raja dan mantri dengan Daniel Fiers dan Jan Walraven de la Fontaine komisi dari Gubernur Salomon Lesage, untuk memilih posisi jogugu yang selama beberapa tahun tidak diisi. Pangeran Dirk dan Ferdinando menjadi calon yang diusulkan. 

Tapi Dirk Piantay tegas menolak sebab berharap suatu saat akan menjadi raja. Jabatan jogugu dianggap upaya menyingkirkannya menjadi raja karena menyebabkan kehinaan. Dengan suara bulat pertemuan memilih Don Ferdinando Saint Jago yang menerimanya dengan memperoleh pengukuhan dari Gubernur Lesage. 

Sedari tahun 1709 hingga tahun 1715 Dirk Piantay didukung pamannya Kapiten Gillius Salomon Riol gencar menuntut adanya dua raja seperti di zaman ayahnya serta haknya untuk menjadi penguasa bersama Manganitu dengan gelaran raja. Dirk mendasarkan tuntutannya pada kontrak dan kesepakatan antara ayahnya Raja Carlos Piantay dan raja bersama Martin Takanetang. 

Tapi pemerintah Kompeni di Ternate lebih mendukung Manganitu di bawah satu raja, serta anak tertua Raja Martin Takanetang yakni Jacob Martin Lazarus sebagai calon pengganti ayahnya kelak. 

Ketika Martin Takanetang meninggal 13 Desember 1722, putranya Jacob Martin Lazarus yang dilantik sebagai raja, menyisihkan Dirk Piantay putra Raja Don Carlos Piantay ataupun Don Ferdinando Saint Jago putra Raja Don Santiago.

 

(Sumber tulisan naskah Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud).

 

SUMBER LAIN:

Colin, Francisco, Pablo Pastells, Labor Evangelica, ministerios apostolicos de los obreros de la Compania de Iesvs en las Islas Filipina, 1, Imprenta y Litografia de Henrich y compania, Barcelona, 1900.  

Heeres, J.E., F.W.Stapel,Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum 3 (1676-1691), BKI deel 91, Martinus Nijhoff,‘s-Gravenhage, 1934.

Jacobs, Hubert, Documenta Malucencia, vol.III 1606-1682, Instititum Historicum Societatis Iesu (vol.126), Roma, 1984.

Leupe, P.A., Het Journal van Padtbrugge's reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, BKI 14, 1867.

Valentijn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, 5, Joannes van Bram dan Gerard Onder de Linden, Dordrecht-Amsterdam, 1724.


Rabu, 10 Desember 2025

Sejarah Kerajaan Saban dan Limau

 


 Perahu khas rimpolaen kerajaan Tabukan.
Indie, Juni 1921. 

 

(Tulisan disarikan dari naskah Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud).

 

Di Pulau Sangihe Besar pernah berdiri kerajaan Saban dan Limau, bersesakan dengan kerajaan tradisional seperti Tabukan, Manganitu, Tahuna, Kendahe bahkan sempalan Manganitu Cayuris (Kauhistermasuk Tamako kantong Siau di Sangihe. Selain Tabukan yang merupakan kerajaan terbesar, kerajaan-kerajaan ini tergolong mini karena hanya memiliki beberapa negeri. Bahkan hanya satu atau dua negeri dengan penduduk dari ratusan hingga beberapa ribuan orang saja di dekade akhir paruh kedua abad ke-17. 

Kerajaan Saban dan Limaupun masing-masing hanya terdiri satu negeri saja. Kedua kerajaan bukan merupakan kerajaan asli yang didirikan oleh penduduk Sangihe, karena dibentuk oleh kesultanan Ternate yang mengklaim kepemilikan atas Sangihe. Umur kedua kerajaan tersebut hanya singkat berlangsung sedari tahun 1673 hingga tahun 1679. 

Tokoh utama dibalik pembentukan kedua kerajaan ini adalah Don Philip Datunseka atau menurut Gubernur Robertus Padtbrugge bernama Philip Sasukul, seorang bangsawan Tahuna dari negeri Saban yang sekarang dikenal dengan nama Sawang. Philip Datunseka adalah putra dari Don Pedro Melangin penguasa Saban sebelumnya. Bersama ayahnya, ia dibaptis menjadi Kristen Katolik oleh padri Spanyol. 

Don Philip Datunseka kemudian mengawini putri Raja Tahuna Don Juan Buntuan yang masih berkedudukan di negeri Kolongan. Ia menjadi salah seorang penasehat dekat Buntuan bahkan dipromosikan ayah mantunya menjadi jogugu di Saban. Tahuna ketika itu merupakan sekutu Spanyol. Di negeri Kolongan yang kemudian dipindahkan ke Tahuna berada sebuah garnisun kecil Spanyol. 

Pengaruh Kompeni Belanda yang semakin kuat di Kepulauan Sangihe menyebabkan Raja Don Juan Buntuan diam-diam sejak tahun 1663 berkomunikasi menyatakan keinginan dan komitmennya untuk bersekutu dengan Kompeni. 

Tahun 1666 Raja Don Juan Buntuan dan jogugunya di Saban Don Philip Datunseka sengaja datang ke Ternate bertemu dengan penguasa Maluku Komandan Anthony van Voorst.  

Tanggal 25 Agustus 1666 Komandan Anthony van Voorst melaporkan kepada Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker dan Dewan Hindia Belanda, Tahuna dan Saban telah meninggalkan Spanyol. Bersama dengan Raja Tabukan Kaicil Garuda menjadi teman dan sekutu dari Kompeni termasuk Raja Tagulandang Anthony Bapias (Bawias) yang merupakan anak dari Raja Tabukan. Tahuna dan Saban bahkan telah mengirimkan pasokan minyak kelapa untuk Ternate. 

Saban berkembang menjadi negeri semi merdeka karena ketokohan Don Philip dengan kekuatan prajurit yang hampir mengimbangi jumlah prajurit Tahuna. Pengganti van Voorst President Maximilian de Jonge tanggal 6 Juli 1669 mengungkap jumlah pria dewasa Tahuna yang sewaktu-waktu dapat dikerahkan untuk berperang sebanyak 400 orang sedangkan Saban berjumlah 300 orang. 

Dengan kekuatan sebesar itu Don Philip Datunseka menantang perang Raja Tabukan Kaicil Garuda yang memiliki 1.500 pria sebagai prajurit. Pemicunya masalah persipatan Saban dengan negeri Matane yang menjadi milik Tabukan. 

Don Philip Datunseka mengalami kekalahan. Tapberkat campur tangan dari President Maximilian de Jonge perdamaian dideklarasikan dengan Raja Garuda. 

Bahkan untuk mempererat kekerabatan Don Philip Datunseka kawin kembali dengan seorang saudara wanita dari Raja Garuda. Istri pertamanya putri Raja Don Juan Buntuan telah meninggal dunia. 

Raja Don Juan Buntuan wafat tahun 1668. Dan yang menggantikannya dari antara dua orang putranya Don Juan Pacarila dan Don Martin Tatandam, dipilih oleh President Abraham Verspreet tahun 1669 adalah putra bungsunya Don Martin Tatandam sehingga menyulut pemberontakan. Pacarila harus kalah dan lari dengan seratus pengikutnya meminta perlindungan dari Raja Siau Don Francisco Xavier Batahi di Tamako. 

Don Philip Datunseka yang ambisius tidak menghormati Raja Don Martin Tatandam, karena negeri Saban yang dipimpinnya hampir menyamai Tahuna, baik prajurit dan jumlah penduduk. Don Philip Datunseka tidak puas, ia ingin menjadi raja.  

Kesempatan ini datang ketika President Cornelis Francx datang di Manado bersama Ds.Daniel Brouwerius dengan jagt de Fortuyn dan chialoup de Perkit tahun 1673. Francx akan menandatangani kontrak persahabatan dengan Kapten Spanyol Andreas Serano dan Padri Francisco Miedes atas nama Raja Siau Don Francisco Xavier Batahi di Benteng Amsterdam Manado 13 Juli 1673 untuk tidak saling menggunakan kekerasan dalam keadaan apapun. Don Philip Datunseka dari Katolik pindah menganut agama Kristen Reformasi (Protestan).  

Menurut Predikant Jacobus Montanus yang berkunjung di Manado tahun 1673 dan 1675, President Cornelis Francx telah menjanjikan kepada Don Philip Datunseka sebuah tongkat rotan dan topi sebagai hadiah untuk konversi agamanya tersebut.  

Sementara President Francx ketika itu hanya mengukuhkan kembali Don Philip Datunseka dalam posisi jogugu di Saban dan Don Francisco Gotou di Tahuna. Mereka bersama tiga kapiten laut lainnya diberikan sebagai tanda jabatan satu tongkat rotan serta hadiah kain poti


PEMBENTUKAN KERAJAAN

Meski belum lama dikukuhkan Francx dalam jabatan jogugu, Don Philip Datunseka berangkat ke Ternate bersama jogugu dan kapiten laut Tabukan bernama Takaluman. Mereka menemui Sultan Mandarsaha di istananya yang segera melantik Don Philip Datunseka sebagai pejabat Raja Saban, dan jogugu Tabukan menjadi pejabat Raja Limau. Don Philip Datunseka diislamkan pula oleh seorang kasisi. Takaluman diangkat sebagajogugu Limau

Don Philip Datunseka menafsirkan hadiah darpresident ketika ia menjadi Kristen Reformasi sebagai janji pengangkatannya sebagai raja. Menurut Ds.Jacobus Montanus pula, Don Philip Datunseka berangkat ke Malayu dan muncul di rumah President Cornelis Francx. Tapi Don Philip Datunseka tidak menerima apapun dari apa yang dijanjikan. Dari sana ia pergi ke istana Sultan Mandarsaha. Dia ditanya Mandarsaha apakah hadiah yang dijanjikan telah diberikan kepadanya. Segera setelah mengetahui bahwa hadiah belum diberikan, Mandarsaha menghadiahinya dengan serban dan mengangkatnya sebagaraja. 

Fiskal Daniel Hellemans mencatat pengangkatan Don Philip Datunseka sebagai Raja Saban dengan anugrah topi, tongkat rotan, tulband, rok dan selendang dilakukan oleh Kaicil Majuda, sekretaris Sultan Mandarsaha, sadaha dan imam bernama Balangtangara. Sedangkan pejabat Raja Limau dilantik oleh Imam Bessi, Kapiten Laut Rheti dan seorang kimelaha. Ia pun menerima kehormatan sama. 

Kerajaan Saban mengambil penduduk dan wilayah milik Tahuna. Begitu pula kerajaan Limau mengambil penduduk dan wilayah Tabukan. Sultan Mandarsaha tidak merasa perlu meminta izin Raja Tahuna dan Raja Tabukan. 

Berbeda Raja Garuda dari Tabukan yang menahan dirkarena putrinya Somporiboan dijodohkan dengan Kaicil Sibori Amsterdam putra Sultan Mandarsaha dan tinggal di istana Sultan Ternate, Raja Tahuna Don Martin Tatandam tidak terima. 

Pembentukan kerajaan baru di tanah Tahuna ini membangkitkan kemarahan Raja Don Martin Tatandam. Kepada President Cornelis Francx tahun 1673 ia mencela tindakan Sultan Mandarsaha mengintervensi kerajaannya serta sikap plin-plan Don Philip. Tapi President Maluku tersebut tidak bertindak apa-apa. 

Raja Don Martin Tatandam menaruh harapan President baru Willem van Cornput akan menyelesaikan masalah tersebut. Dengan surat bertanda Taroena 14 April 1675 kepada pengganti Francx itu ia memprotes Don Philip karena Saban adalah negeri miliknya termasuk rakyatnya yang diambil dan dari Kristen dijadikan Islam. Tapi jawaban yang diperolehnya dari Ternate tanggal 19 Juni 1675 Cornput meninggal pada 15 Juni beberapa hari sebelumnya. 

Sultan Kaicil Sibori Amsterdam pengganti Mandarsaha justru bertindak lebih jauh. Ketika datang ke Pulau Sangihe Besar Maret 1675 untuk memerangi Raja Manganitu Don Santiago, di Tabukan ia mengukuhkan Don Philip Datunseka menjadi raja berkuasa penuh negeri Saban.

Lalu pada tanggal 24 Mei 1675 pejabat Raja Limau dikukuhkannya sebagai raja absolut Limau. Don Philip dihiasi dengan cassis Moor oleh Sultan Amsterdam. 

Raja Don Martin Tatandam masih menaruh harapan dengan menyurati pengganti sementara Cornput, Gezaghebber Pedagang Kepala (oppercoopman) Jacobus de Gheyn 5 Januari 1676, yang juga sia-sia.

Tapi Gubernur baru Robertus Padtbrugge berbeda. Padtbrugge yang ingin Kristen Reformasi dianut penduduk bersikap tegas terhadap kedua kerajaan tersebut. 

Raja Tabukan Kaicil Garuda yang kemudian menggunakan nama Don Francisco Makaampo sejak tahun 1675 terang-terangan pula menolak keberadaan kerajaan Limau setelah putrinya dipulangkan Sultan Amsterdam. Tuntutannya makin kuat setelah Padtbrugge memberi jaminan perlindungan tanpa keterlibatan atau campur tangan dari Ternate lagi. 

Raja Limau sejak tahun 1677 itu telah membentengi negerinya, dan Raja Garuda menuduhnya hendak melawan Tabukan. Pada tanggal 3 Desember 1677 Padtbrugge disertai Raja Garuda dan Raja Tahuna Don Martin Tatandam mendatangi Limau dan menemukan Limau membangun garis pertahanan terhadap Tabukan serta sedang membangun sebuah benteng kecil. 

Raja Limau mengaku ia tidak memperkuat diri terhadap Tabukan yang berada di bawah Kompeni, melainkan terhadap Manganitu di selatan karena takut diserang. Tapi Padtbrugge mendesaknya untuk membongkar pertahanan tersebut dan mengembalikan ke keadaan sebelumnya. 

Limau ternyata tidak membongkar pertahanan mereka. 

 

TIDAK DIAKUI

Padtbrugge bertindak tegas dengan kerajaan bentukan Ternate Limau dan Saban. Ia menolak keberadaan kedua kerajaan tersebut. Tahun 1679 Padtbrugge memutuskan Limau adalah milik dari Tabukan dan Saban milik Tahuna. Don Philip Datunseka hanya dianggap sebagai satu jogugu dari Raja Tahuna Don Martin Tatandam dan Raja Limau sebagai satu jogugu Raja Don Francisco Makaampo. 

Penolakan terjadi. Tapi Padtbrugge tidak menoleransi. Ia mengirim ekspedisi dengan jagt Sampson, Amsterdam, Experiment dan chialoup den Eendragt di bawah pimpinan komandan militer Maluku Kapten Cornelis Sweerus dengan 98 serdadu yang berlabuh di Teluk Petta Tabukan pada 2 April 1679. 

Don Philip Datunseka dimakzulkan dari kedudukan raja. Don Philip menyerah ketika Saban diduduki Sweerus yang dibantu pasukan tulungan dari seluruh kerajaan di Sangihe, Siau dan Tagulandang. Don Philip segera menyatakan kesetiaannya kepada Don Martin Tatandam dan menerima kembali jabatan sebagai jogugu Tahuna. 

Raja Limau awalnya ingin memenuhpanggilan Padtbrugge dchialoup den Eendragt. Tapia dicegah Jogugu Takaluman. Limau yang berpenduduk 1.200 orang makin dibentengdengan pagar pertahanan yang kuat. 

Sultan Amsterdam dari Ternate mencoba membela kedua raja yang telah diangkatnya tersebut sebagai orang yang dihormatinya. Ia mengatakan dalam surat kepada Padtbrugge apabila Raja Limau seperti kakeknya sendiri sedang Raja Saban Don Philip sebagasaudara muda. Sultan Amsterdam telah mengirim ke Saban jogugunya Pangeran Alam bersama Kapiten Laut Rheti dengan satu perahu dan 6 orang pengiring. Tapi tidak mempengaruhi kebijakan Padtbrugge. 

Raja Limau disertadua putranya menemuSweerus, namun kemudian dibujuk Jogugu Takaluman kembali. Padtbrugge telah memerintahkan menangkap Takaluman hidup atau mati. 

Putra tertuanya lebih dulu terbunuh, kemudian Raja Limau bersama putra keduanya gugur tanggal 8 April 1679 dalam kebakaran besar yang terjadi. 

Perlawanan penduduk yang lari ke hutan masih gigih, dan baru berakhir dengan terbunuhnya Jogugu Takaluman pada tanggal 22 Juli 1679. Menurut surat Raja Tabukan Don Francisco Makaampo, darTakaluman disita barang emas dan tongkat rotan lambang raja pemberian Sultan Amsterdam. Turut ditangkap Pangeran Lauta, Sangaji Cacana bersama 30 wanita dan anak-anak. Korban tewas dpihak Limau hampir 100 orang.   

Pemimpin ekspedisi Kapten Cornelis Sweerus terbunuh di Limau pada 8 April 1679. Korban lainnya limserdadu Belanda. Dua serdadu terbunuh di Limau 6 April, satu serdadu 9 April serta dua serdadu lain yang luka parah menyusul tewas tanggal 26 April. 

Limau hilang dari peta Tabukan. Penduduk sisa pindah dKuma, Manalu dan Salurang, tapyang datang ke Kuma pindah lagdManganitu. 

Seperti negeri Limau, Saban dihancurkan Padtbrugge pada November 1680. Semua penduduk dipindahkan Padtbrugge ke Tahuna. Sebanyak 416 laki-laki terdiri 46 dewasa yang telah dibaptis, 188 dewasa belum dibaptis, dan 182 anak laki-laki belum dibaptis, serta 392 perempuan (12 perempuan dewasa yang telah dibaptis, 290 perempuan dewasa belum dibaptis, dan 190 anak perempuan belum dibaptis). Terhitung 60 tambahan baru, total penduduk yang dipindahkan ke Tahuna berjumlah 868 orang. Semua rumah di negeri Saban dibakar habis. 

Kerajaan Saban dan Limau berakhir. 

Nasib Jogugu Don Philip Datunseka berakhir tragis pula. Tahun 1687 ia ditahan atas perintah Gubernur Joan Henric Thim bersama Jogugu Siau Jeronimo Daras. Datunseka dituduh hendak melakukan pemberontakan terhadap Raja Don Martin Tatandam dan Belanda. Bekas Raja Saban tersebut dengan dirantai dibawa ke Batavia, dan kemudian dibuang dan meninggal di Pulau Ceylon sekarang Sri Lanka, sedangkan Daras dibuang di Pulau Obi Maluku. 

Putra Don Philip Datunseka Pangeran Carlos Cacambon pada tahun 1702 diangkat menjadi jogugu kedua negeri Saban yang menjadi bagian dari negeri Tahuna. Kejoguguan Saban dihapus ketika Carlos Cacambon meninggal tahun 1721, tinggal kejoguguan Tahuna dan Kolongan. Joannes Carlos Cacambon anak Carlos Cacambon ditunjuk sebagai jogugu Tahuna tahun 1727. Belakangan negeri Saban berdiri kembali di bawah perintah seorang jogugu pula. 

Salah seorang keturunan Raja Limau yang selamat Pangeran Lauta memilih dibaptis Kristen dengan nama Pieter Lauta. 

 

 

SUMBER:

Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, naskah.

P.A.Leupe, Het Journal van Padtbrugge's reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, BKI 14, 1867.

W.Ph.Coolhaas, Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel III, 1656-1674, deel IV 1675-1676.