Kamis, 12 Juli 2018

Mengenal Raja-raja Tagulandang








                         

 

Puncak Tagulandang. *)





Tagulandang, pulau di Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang dan Biaro, sempat menjadi kerajaan maritim besar di belahan utara Sulawesi. Cakupan luas kerajaannya sebelum digabung negara kesatuan Republik Indonesia meliputi pulau-pulau: Tagulandang, Pasige (Pasigi), Ruang (dengan gunung apinya yang berkali meletus) dan Biaro. Kemudian pulau-pulau kecil Selangka, Seha, Sehakadio, Batutombonang, Kauhagi dan Tandukuang. Di utara berbatas kerajaan Siau, timur dengan Laut Maluku. Selatan Selat Bangka dan Talise; serta sebelah barat dengan Laut Sulawesi.

Dari tradisi, kerajaan Tagulandang yang disebut Mandolokang atau oleh penulis Barat banyak ditulis Pangasar, Pangasare atau Panggasane atau juga Panguisara, didirikan dan pertama diperintah oleh Ratu Putri Lohoraung. Sang ratu dihikayatkan berasal Pulau Manado Tua (Babontehu).

Kemudian awal abad ke-17, cucunya Balango menjadi raja menggantikannya. Balango dihadis sebagai anak Wuatangsembah (Pahawuateng) dengan Tasikoa. Wuatangsembah sendiri adalah anak dan pengganti Makaampo sebagai Raja Tabukan.

Sekitar tahun 1649, Bawias atau Bawios atau Bawiose, anak Raja Tabukan Uda (Don Fransiscus Makaampo) memerintah Tagulandang setelah mengawini Putri Tagulandang Ngijan Dampilan. Kepada putranya, Raja Uda yang merupakan cucu dari penakluk Talaud Makaampo memberikan sebagai hadiah perkawinan negeri-negeri: Pulutan, Dahan, Kalumu, Bohonbaru dan Nunu yang berada di Pulau Karakelang Kepulauan Talaud.

Hadis Tagulandang mencatat Bawios sebagai anak Raja Uda dengan Dolontego, putri Raja Balango, sehingga ia masih terhitung cucu Balango

Catatan tertua yang menerakan Tagulandang adalah dari tulisan Antonio Pigafetta. Sisa-sisa awak kapal Ferdinand Magelhaes (Fernando Magellan) yang dipimpin Sebastian de Elcano pada awal November 1521 berada di Kepulauan Sangihe-Talaud.

Pigafetta menyebut Raja Tagulandang yang ditulisnya sebagai Paghinzara, bernama Babintan. 

Meski tidak ada rujukan lain tentang Raja Babintan, tapi, ini menandakan bahwa kerajaan Tagulandang sebenarnya sudah lama berdiri. Bahkan jauh-jauh hari sebelum Ratu Putri Lohoraung yang ditradisikan baru berkuasa sekitar tahun 1590-an.

Tahun 1544, salah satu kapal dari armada penjelajah Spanyol terkenal Ruy Lopez de Villalobos, di bawah Kapten Garcia d'Escalante yang berlayar dari Tidore pada 28 Mei, tiga hari kemudian tiba di Tagulandang, di negeri Minanga. Kelak dari Filipina ia kembali lagi di tahun sama. Kepala negeri Minanga bernama Banbusarribu telah memintanya untuk membantu mengalahkan negeri lain di pulau itu yang kemudian ditaklukkan d'Escalante.

Kemudian, di tahun 1606, ketika Raja Tagulandang yang dicatat Valentijn dengan nama Roytelet bersama putrinya meminta dan kemudian dibaptis Kristen Katolik oleh Pater Jesuit Antoni Pereira di Siau. Raja Tagulandang dan putrinya datang ke Siau untuk urusan pernikahan dengan Raja Siau. Kepada Pater Antoni Pereira, Raja Tagulandang menjanjikan bahwa semua rakyatnya akan menjadi Kristen asalkan padri tersebut datang ke pulaunya.

Pater Antoni(us) Pereira, asal Portugis bertugas di Siau tahun 1604-1606. Sementara Raja di Siau bernama Hieronymus atau Jeronimo (2), adalah anak Posumah, Raja Siau yang telah dibaptis Pater Diego Mascarenhas 1563 serta memakai nama Hieronymus (1). Raja Hieronymus (2) berkuasa sejak 1590, dan dalam tradisi Siau disebut Jeronimo Winsulangi.

Sayang tidak disebut nama Kristen yang telah dipakai oleh Raja Roytelet setelah dibaptis Pater Antoni Pareira, atau apakah ia identik dengan tokoh Balango yang selama ini banyak ditradisikan berkuasa di Tagulandang sejak tahun 1609. Sebab, tahun 1606 adalah masih masa pemerintahan Lohoraung. Sedangkan raja dari versi tersebut adalah seorang pria.

Begitu pun agama Katolik, tidak diketahui apakah sempat berkembang ketika itu. Namun, menilik nama-nama raja, sangat tidak terdampak seperti Siau, Tabukan,Taruna (Tahuna) atau pun Manganitu yang raja-rajanya banyak memakai gelaran Don atau nama berkesan Portugis atau pun Spanyol sampai Kompeni Belanda berkuasa.

Tagulandang sendiri oleh Kesultanan Ternate dianggap sebagai kerajaan bawahan. Banyak kerajaan di Sulawesi Utara diklaim sudah sejak abad ke-16 berada di bawah supremasi Ternate.

Kontrak yang diteken Laksamana François Wittert dengan Ternate Juli 1609, sebagai penegasan konvensi pertama 26 Mei 1607, telah menyebut Pangasare atau Tagulandang sebagai kerajaan di bawah mahkota Ternate, termasuk Sangihe.

Maka, sejak kontrak tersebut, dengan dalih sebagai ‘pelindung’ Ternate termasuk kewajiban untuk membantu melawan orang-orang Spanyol yang diberikan Sultan Ternate, dimana kontraknya mencakup semua kerajaan di bawah Ternate; Kompeni Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) telah menggunakan pengaruh kuat untuk monopoli perdagangan dan membangun koloni. Pendekatan ditempuh dengan memelihara dan giat menjalin hubungan persahabatan sekaligus hubungan politik dengan penduduk di Sangihe, termasuk dengan Tagulandang.

Gubernur Maluku Wouter Seroyen bahkan di tahun 1646 telah membangun garnisun militer di Tagulandang. Ia pun memerintahkan penduduk untuk menanam cengkih (nagelboomen).

Cengkih Tagulandang telah terkenal sejak lama. Karena orang-orang Spanyol di Siau pertama memperolehnya dari Tagulandang, seperti dicatat Ds.Gualterus Peregrinus. Tanaman cengkih Tagulandang tahun 1653 diberantas seperti di tempat lain dalam wilayah Gubernemen Maluku atas perintah Gubernur Jacob Hustaard. Valentijn mencatat di tahun 1680  ditemukan kembali satu pohon cengkih yang telah ditebang. Kemudian pula ditemukan tahun 1683 menurut missive Gubernur Jenderal Cornelis Speelman 19 Maret 1683.

Delegasi Tagulandang giat pula berkunjung ke Ternate, pertanda besarnya hubungan khusus Tagulandang dengan Kompeni Belanda. Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker 24 Desember 1655 mencatat kedatangan orang-orang Tagulandang ( juga Tabukan) ke Ternate.

Bahkan, sebelumnya pada 11 Mei 1664 Raja Tagulandang sendiri muncul di Ternate, dengan menggunakan perahu.

Di tanggal 23 Juni 1664 (versi lain 21 Juli) Raja Tagulandang telah meneken kontrak politik dengan Kompeni Belanda diwakili Gubernur Maluku Anthony van Voorst. Ini menjadi langkah berani Tagulandang, juga pertanda begitu longgarnya ikatan antara Ternate dan Tagulandang.

Kontrak tersebut menjadi perjanjian yang pertama terjadi dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Kepulauan Sangihe dan Talaud.

Di balik itu, kekuatan gabungan Belanda dengan Sultan Ternate berkali dikerahkan untuk mengusir Spanyol yang sejak 1580 bersatu dengan Portugis. Sehingga di tahun 1663 hanya Siau yang didudukinya, setelah sebelumnya terusir dari Ternate dan Tidore. Pos terakhir Spanyol di benteng Santa Rosa Siau itu pun ditaklukan tahun 1677.

Gubernur Robertus Padtbrugge kemudian melakukan kontrak dengan para raja di antero Sangihe, termasuk Tagulandang dan Siau. Kerajaan-kerajaan tersebut dinyatakan menjadi milik Kompeni, dan dikembalikan kepada para raja sebagai pinjaman. Klausal penting lain adalah tidak mentolerir agama selain Protestan yang direformasi menurut doktrin Sinode Dordrecht; serta tidak menerima di kerajaannya Spanyol, Portugis, Perancis, Inggris, Denmark dan Swedia.

Klaim Ternate baru resmi berakhir, ketika Sultan Amsterdam (Kaitjil Sibori) yang ditahan Kompeni Belanda meneken kontrak 7 Juli 1683 di Kastil Batavia. Dengan kontrak tersebut, Ternate menjadi bagian sepenuhnya sebagai wilayah Belanda. Otomatis pula menurut Kompeni Belanda wilayah klaim mahkotanya.

RAJA BAPIAS
Kristen Protestan telah berkembang di Tagulandang ketika Raja Tagulandang dan sejumlah penduduknya memeluk agama Kristen. Daghregister Batavia 1664 mencatat Raja Tagulandang bersama istrinya telah dibaptis oleh Predikant Ternate Ds.Sibelio (Petrus Sibelius), bersama 152 orang dewasa dan 31 anak-anak.

Meski tidak menyebut nama raja, tapi dapat dipastikan kalau raja dimaksud adalah Bawias atau Bawioso. Nama serani yang dipakainya adalah Anthony (Anthonie atau Anthonisz) Bapias atau menurut Valentijn Anthoni Bapeas.

Tidak disebutkan tempat pembaptisan dilangsungkan. Tapi, kuat dugaan di Ternate, karena Raja Tagulandang berada di Ternate dari 11 Mei hingga akhir bulan Juni ketika ia meneken kontrak politik dengan Kompeni Belanda.Ia sendiri memakai nama Anthony, menurut nama depan Gubernur Anthony van Voorst.

Yang menarik, karena Daghregister mencatat sang raja ketika itu masih berusia muda, sehingga bisa jadi ia belum lama naik tahta kerajaan. Mantan Residen Manado A.J.F.Jansen mencatat dalam raport 12 Agustus 1857 kalau Raja Bawias baru memerintah pada tahun 1664.

Kemungkinan ketika berada di Ternate, meski telah naik tahta jauh-jauh hari sebelumnya, Raja Bawias meminta untuk dinobatkan oleh Kompeni Belanda. Hal yang banyak dilakukan oleh raja-raja di Sulut dan Gorontalo ketika itu.

Tahun 1675, berkunjung di Tagulandang Predikant Jacobus Montanus yang melakukan pembaptisan kudus. Ds.Montanus mencatat dalam raport bulan November, di Tagulandang terdapat satu gereja. Kemudian satu sekolah dipimpin guru David Jacobsz, yang telah ditempatkan oleh Predikant Fransiscus Dionysius sejak 1674; dengan murid sekolah sebanyak 50 anak. Juga 30 anak baptis, 15 orang tua dibaptis serta 30 wanita yang telah katekisasi.

Raport Ds.Gualterus Peregrinus Agustus 1676, sekolah di Tagulandang telah dipimpin oleh guru Andries Furtados, dengan 22 murid sekolah, 73 orang dibaptis dan 4 pasangan dikawinkan. Sementara guru David Jacobz pindah mengajar di Minanga.

MONIA
Tahun 1675 Raja Anthony Bapias mangkat. Karena putranya masih muda, pemerintahan Tagulandang dijalankan oleh Monia yang menurut jurnal Gubernur Robertus Padtbrugge adalah raja. Meski disebut Predikant Montanus dan Peregrinus, hanya sebagai President atau Raja Pengganti (substituut-koning), seperti diakui sendiri oleh Monia ketika dipilih setelah kematian Raja Anthony Bapias.

Menurut Ds.Montanus di tahun 1675, Monia bertempat tinggal di negeri Tagulandang, sedangkan Jogugu Joan Abbema di negeri Minanga.

President Monia meninggal bulan September 1677, sebelum berlangsung penandatanganan kontrak Tagulandang dengan Kompeni Belanda. Ia masih menulis surat terakhir per tanggal 16 September 1677, dan membahasakan diri sebagai President.

Perjanjian Tagulandang berisi 13 artikel (pasal) dengan Kompeni Belanda di bawah Gubernur Padtbrugge yang mewakili Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker berlangsung 9 November 1677 (dari rangkaian kontrak yang dibuat Padtbrugge dengan raja-raja Sangihe selang 3 November-20 Desember). Meski ada versi perjanjian Tagulandang baru diteken pada 20 Desember. Klausal-klausal kontrak tersebut mengikat Tagulandang sebagai vassal dari Kompeni.

Kontrak kerajaan Tagulandang diteken oleh Jogugu Jacobus Totuho, Jogugu Joan Hofman Batansuko, Kapitein Laut Cornelis Franx, Hukum Petrus Casaheyn, Sangaji Minanga Claes Papene, serta Sangaji Pedro Macasa.

RAJA PHILIP ANTHONISZ
Philip Anthonisz atau ditulis Valentijn Philip Antoniszoon, anak Anthony Bapias, yang muda usia (masih di bawah umur), belum dinobatkan memerintah sepeninggal ayahnya atau President Monia. Pemerintahan sehari-hari sepeninggal Monia dijalankan oleh Regent, yakni Jogugu Jacobus Totuho dan Kapitein Laut Cornelis Franz (Fransen). Keduanya disebut pula menjadi regent masa akhir pemerintahan President Monia.

Jogugu Jacobus Totuho yang sudah berusia tua, sebelumnya beragama Islam, tapi sejak tahun 1673 masuk Kristen. Famnya dicatat Padtbrugge sebagai Tontuo, atau disebut juga Tontaco, atau menurut Ds.Montanus, Tenthuhon.

Gubernur Padtbrugge sangat tidak menyukai sang raja muda. Apalagi raja tersebut menderita penyakit kulit yang parah, bahkan Padtbrugge menyebutnya lazerij, yang kemudian dikutip pula oleh Gubernur Jenderal Cornelis Speelman 19 Maret 1683.

Namun, Komandan Garnisun Tagulandang Sersan Joannes van der Linden menyerahkan kepada Padtbrugge surat yang berisi kehendak terakhir President Monia tanggal 16 September 1677. Isinya adalah permintaan untuk mempertahankan sang raja muda.

Meski demikian, Padtbrugge tetap menghormati raja muda ini. Seperti kepada raja dan mantri lain di Kepulauan Sangihe atau di Sulawesi Utara dan Gorontalo yang dikunjungi dalam ekspedisinya (16 Agustus-23 Desember 1677); pada hari Rabu 3 November 1677 Padtbrugge menghadiahkan raja muda berbagai tanda mata ‘kehormatan’. Kain bethilles dari Coromandel India model jilbab atau turban, selimut dari Surats India, salpicados, parcalla putih dari Coromandel, dan topi coddebeij dari Normandia. Termasuk mantri bobato (rijksgrooten), kepada dua orang Jogugunya (8 ellen sergie merah), Kapitein Laut (3 ellen sergie merah), Hukum (2 ps cheuvonys putih), Kapitein dan Sangaji (4 ps cheavonys putih).

Untuk pemecahan masalah raja, solusi yang ditawarkan oleh Gubernur Padtbrugge kepada Jogugu Totuhu adalah raja yang masih muda dan belum berpengalaman, akan tinggal dan dididik di Benteng Malayu yang menjadi tempat kediaman Gubernur Maluku di Ternate. Lamanya, setidaknya selama dua tahun.

Raja muda, menurut Padtbrugge, akan ‘dijinakkan dan ditundukkan’ selagi masih muda, sebelum terlambat. Sehingga, nanti akan layak memerintah. Selain itu, penyakitnya akan diobati.

Gubernur Jenderal Rijcklof van Goens 13 Februari 1679 mencatat perawatan terhadapnya. Sedangkan Gubernur Jenderal Cornelis Speelman 19 Maret 1683 mengungkap penyakit Raja Tagulandang telah disembuhkan. Di Ternate, ia diajarkan dalam agama Kristen bersama Raja Tabukan Jacobus Marcus Lalero yang tahun sebelumnya mengganti ayahnya Fransiscus Makaampo.

Didikan dan pengobatan rupanya berhasil, karena Raja Philip Anthonisz di masa berikut sangat dipujikan para Gubernur Maluku.

Model pendidikan kepadanya, tahun 1687 telah diterapkan pula pada putera mahkota Siau Pangeran Xavier (Jacobus Xavier), anak Raja Fransisco Xavier (Don Francisco Xavier Batahe) yang berusia 9 tahun. Ia dikostkan di rumah Gubernur Maluku Johannes Cops di Ternate hingga usia 14 tahun, ketika dilantik sebagai Raja Siau di Ternate 1692.

Awal tahun 1684, untuk penobatan secara resmi, Raja Philip Anthonisz yang bergelar Aralungnusa bersama bobatonya berangkat ke Ternate. Ia meminta persetujuan Gubernur dan Direktur Maluku Jacobus Lobs untuk melantiknya..

Gubernur Lobs memanfaatkan peluang tersebut agar Raja Tagulandang meneken kontrak baru. Maka, bertempat di Kastil Orange Ternate tanggal 29 Juni 1684, Raja Philip Anthonisz meneken kontrak berisi 19 pasal dengan Lobs sebagai wakil dari Gubernur Jenderal Joannes Camphuys. Dengan demikian pula, Philip Anthonisz dinobatkan sebagai Raja Tagulandang.

Bobato yang ikut bertanda pada kontrak tersebut adalah Jogugu Joan Abbema dan Manuel Fransen serta Sangaji Mathias dan Frans Clasen.

Raja Philip Anthonisz membangun gereja yang baik serta pemeliharaannya di Tagulandang. Ia pun mengembangkan sekolah, dipimpin guru muda yang tahun 1683 telah dilatih di Ternate. Salah satu dari 7 guru asal Sangihe hasil didikan Ternate itu, yakni Francisco Matbons ditempatkan di Minanga. Sekolah di Tagulandang tahun 1689 memilki 117 siswa, sementara di Minanga 40 anak.

Gubernur Jenderal Joannes Camphuys memuji Raja Philip Anthonisz. Dalam missive 26 Maret 1691, Camphuys menyebut sang raja telah melakukan yang terbaik. Ia melakukan perbaikan Kastil Orange dan bangunan lain di Ternate.

Pos militer Kompeni di Tagulandang tahun 1691 itu dipimpin oleh Kopral Jacob Jojeus. Sejak tahun 1682 garnizun Tagulandang tinggal dipimpin oleh komandan setingkat kopral.

Tahun 1695, Tagulandang dicatat memiliki 3 orang guru di dua sekolah, serta dua gereja dengan 1.764 orang Kristen, 148 murid dan 53 anggota sidi. Kemudian terjadi ‘penurunan’, karena Ds.Arnoldus Brands tahun 1705 mencatat hanya satu gereja dan satu sekolah di Tagulandang, dengan penduduk Kristen di negeri Tagulandang sebanyak 1.590 orang dan 18 anggota sidi, sementara di Minanga terdapat 320 orang Kristen dan 7 anggota sidi. Jumlah siswa 150 anak, dengan sekolah di Tagulandang 130 murid.

Tagulandang di masa Raja Philip Anthonisz, seperti Siau, Tabukan, Kandhar (Kendahe), Taruna (Tahuna) dan Manganitu memasok kepada Kompeni Belanda ratusan kendi minyak kelapa. Kalau ditotal bersama-sama berjumlah tiga ribuan, termasuk pasokan kapur dan kayu. Bahkan, di tahun 1682 penyetoran minyak kelapa mencapai puncaknya sebanyak sepuluh ribu kendi berasal ketiga pulau tersebut.

REBUTAN TAHTA
Tanggal 14 Maret 1715 Raja Philip Anthonisz meninggal dunia, seperti dicatat surat resmi Gubernur Jenderal Christoffel van Swoll 28 November 1715. Terjadi kekosongan pemerintahan, sehingga ditunjuk mantri utama, yakni Jogugu Manuel Fransz, dibantu Kapitein Laut Martijn Babole (Bawole?) untuk mengemudikan kerajaan.

Masalah suksesi Tagulandang sampai berlarut-larut. Van Swoll mencatat 30 November 1716 kedatangan para kepala Tagulandang di Ternate menyoal pengangkatan raja. Kemudian 30 November 1717 ia menyebut adanya saran tertulis berbahasa Melayu dari Raja Siau (Daniel Jacobsz bergelar Lehintundali), Raja Kaidipang (Willem Korompot) dan Raja Tabukan (Jacobus Marcus Lalero) ketika berada di Ternate tentang pemilihan Raja Tagulandang.

Pengganti van Swoll, Gubernur Jenderal Hendrik Zwaardecroon dalam missive 6 Desember 1718 mengungkap pemerintahan Tagulandang masih dijalankan sementara oleh Jogugu Manuel Fransz (Fransen). Sang Jogugu kelak dinyatakan Zwaardecroon 30 November 1722 sebagai tidak dapat diandalkan.

Dalam surat Zwaardecroon 30 November tersebut, diungkap pula penunjukan Pangeran Philip Anthonisz Makaampo anak Pangeran Tabukan Mattheus Makaampo dan cucu Raja Fransiscus Makaampo, sebagai Raja Tagulandang yang baru.

Namun, ternyata pemilihan Makaampo tidak dikehendaki oleh penduduk Tagulandang. Karena mereka lebih menginginkan Pangeran Philip Ratumaniki atau Rattemaniki atau ditulis pula Ratimanikis sebagai raja.

Siapa Pangeran Philip Rattemaniki tidak ada data penjelasan. Tapi, pasti adalah kerabat dekat mendiang Raja Philip Anthonisz dan berhak pula duduk di tahta Tagulandang. Kemungkinan besar adalah kemenakan.

Begitu pun tidak ada data resmi yang menyamakan Pangeran Philip Ratumaniki, dengan Johannis Anthonie (Anthonisz) berjuluk Manihise atau dalam tradisi Tagulandang dikenal dengan nama Johannis Batahi Jacobus Manihise, putra bekas Raja Siau Jacobus Raramo (Raramenusa) dengan saudara wanita Raja Philip Anthonisz bernama Belisehiwu. Kakak Raja Siau Daniel Jacobsz ini banyak dihadiskan berkuasa di Tagulandang sebagai pengganti Raja Philip Anthonisz.

Tapi, julukan Manihise memang punya kemiripan dengan nama Ratumaniki atau Ratimanikis dalam dokumen resmi Belanda yang ada.

Surat Zwaardecroon tanggal 28 Maret 1724 masih menyebut pertanyaan menyangkut suksesi Tagulandang di antara Pangeran Philip Ratumaniki atau Pangeran Philip Makaampo yang belum diputuskan.

Bahkan Ratumaniki dan Makaampo pun, diungkapkannya, sama-sama memperebutkan tahta Tabukan, sepeninggal Raja Jacobus Marcus Lalero (Dalore). Keduanya mengklaim berhak menjadi rajanya.

Jalan tengah kemudian diambil oleh Kompeni Belanda. Pangeran Philip Anthonisz Makaampo 10 Februari 1724 dilantik menjadi Raja Tabukan menggantikan pamannya Jacobus Marcus Lalero. Sementara Pangeran Philip Ratumaniki tanggal 17 Agustus 1724 diangkat sebagai Raja Tagulandang dengan meneken kontrak baru.

Menurut surat Zwaardecroon 30 November 1724, pengangkatan Pangeran Philip Ratumaniki tersebut setelah hampir 11 tahun Tagulandang tanpa seorang raja.

Raja Philip Ratumaniki kemudian memerintah dengan mulus. Tahun 1726 Gubernur Jenderal Mattheus de Haan melaporkan Raja Tagulandang membayar 12 musket (senapan) dengan 576 kendi minyak kelapa.

Namun, jabatan Raja Philip Ratumaniki awal Oktober 1733 dibekukan. Gubernur Jenderal Dirk van Cloon 22 Desember 1733 menyebut Raja Tagulandang ditangguhkan jabatannya selama satu setengah tahun karena masalah 75 orang budak. Pemerintahan untuk sementara waktu diserahkan kepada Kapitein Laut.

Ketika itu, raja-raja di Sangihe, Siau, Tagulandang hingga di pantai barat laut Sulawesi banyak bersengketa soal budak.

Ternyata, penangguhan jabatan Raja Philip Ratumaniki tidak berlangsung lama. Surat resmi dari Ternate kepada rijksgroten (mantri) Tabukan mengembalikan martabat dan kehormatan rajanya pada 27 Januari 1734.

Raja Philip Ratumaniki meninggal tahun 1754. Missive Gubernur Jenderal Jacob Mossel 31 Desember 1754 mencatat terpilihnya Kapitein Laut Andries Tamarol sebagai Raja Tagulandang menggantikannya.

Andries Tamarol dilantik resmi menjadi Raja Tagulandang tanggal 16 Agustus 1754. Ia meneken kontrak baru dengan Kompeni Belanda 9 April 1755.

Sepeninggalnya, Andries Tamarol digantikan anaknya Cornelis Tamarol yang naik tahta 20 Juni 1782 dengan meneken bevestiging dan pembaruan kontrak yang dibuat ayahnya tahun 1755.   ***  


*). Lukisan koleksi Maritiem Digitaal Belanda.


LITERATUR
Alderley, Lord Stanley of, The First Voyage Round the World Magellan, London, Hakluyt,1874. Internet  Archief
Brilman,D. De Zending op de Sangi-en Talaud-Eilanden, 1938.
Coolhaas, Dr.W.Ph. Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel III, 1656-1674, deel IV 1675-1676, deel V 1686-1697, deel VII 1713-1724; deel VIII 1725-1729; deel IX 1729-1737, dan deel XII 1756-1761. Resources.huygens.knaw.nl.
Daghregistergeh Batavia 1664. ANRI.
Heeres, Mr. J.E. Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, eerste deel (1596-1650), Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel LVII, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1907.
Heeres, Mr.J.E. dan Dr.F.W.Stapel, Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, derde deel (1676-1691),  Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 91, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1934.
Het Journal van Padtbrugge’s Reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden (16 Aug-23 Dec.1677), Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Nederlandsche Indie, tweede deel, ‘s Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1867.
Jansen, A.J.F., Rapport Resident Menado 12 Agustus 1857, dalam Explanation of the Netherlands Government in reply to a request made on December 21,1926 by the arbitrator in the dispute concerning the Island of Palmas (or Miangas), The Hague, 1927.
Staten Generaal Digitaal, Overeenkomsten met Islandsche Vorsten in den Oost-Indischen Archipel.
Stibbe, D.G. dan Mr.Dr.F.J.W.H.Sandbergen, Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, achtste deel, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1939. 
Tiele, P.A. De Europeers in den Maleischen Arcipel, Acehbooks
Valentyn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, Dordrecht-Amsterdam, 1724.
Van de Velde van Cappellen, S.D., Verslag eener Bezoekreis naar de Sangi-Eilanden, Mededeelingen van wege Nederlandsche Zendelinggenootschap, eerste jaargang, M.Wijt&Zonen, Rotterdam, 1857.
Van der Aa, Robide, De Vermeestering van Siau door de Oost-Indische Compagnie, Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Nederlandsche Indie, tweede deel, ‘s Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1867.
Van der Chijs, Mr.J.A. Inventaris van ‘s Lands Archief te Batavia (1602-1816),  Batavia, 1882, Koleksi ANRI. 
Visser, MSC, B.J. Onder Portugeesch-Spaansche Vlag, de Katholieke Missie van  Indonesie 1511-1605, Amsterdam 1925.
Wessels,SJ, P.Cornelio, Catalogus Patrum et Fratrum e Societate Iesu Qui in Missione Moluccana, Archivum Historicum Societatis Iesu 1,

Senin, 25 Juni 2018

Bolaang Uki dan Orang Bolango (2)






                  








Raja Badiaman atau dikenal kemudian sebagai Budiman, adalah raja terakhir Bolango-Bangka, tapi juga sebagai raja pertama Bolango Uki atau kemudian lebih terkenal sebagai Bolaang Uki. Nama lengkapnya, seperti tercatat pada arsip-arsip lama adalah Mohamad Alijudini (Alijoedini) Iskander Gobel Badiaman. Menurut almanak resmi Hindia Belanda, ia naik tahta sejak tanggal 17 Desember 1837.

Raja Iskander Gobel Badiaman memerintah Bolaang Uki sangat lama, yakni tempo 30 tahun.

Masa pemerintahannya, penduduk kerajaan Bolaang Uki tahun 1850-an, dicatat Dr.Buddingh, sebanyak 40 tjatja (rumah tangga). Tahun 1852 terdiri 450 jiwa.Tahun 1862 818 jiwa. Tahun 1866, menurut Wilken dan Schwarz sebanyak 250 sampai 300 jiwa, dengan sekitar 50 sampai 60 rumah tangga. Kemudian, tahun 1868 antara 300 sampai 400 jiwa. Semua penduduk beragama Islam.

Ketika itu, mata pencaharian utama penduduk adalah menangkap ikan dan bertani, sementara di masa silam banyak menggali emas. Ibukota Uki yang kelak terdiri Uki Pantai dan Uki Labuhan, berada di pantai utara yang berawa. Sementara Molibagu, pemukiman besar Bolango lain berada di pantai selatan, dipimpin oleh seorang Penghulu (Kepala Distrik) dan beberapa kepala bawahan.

Para mantri (rijksgrooten) Bolaang Uki dengan gelar jogugu, kapitein laut, marsaole, walaapulu, hukum dan kimalaha, berjumlah besar. Mereka termasuk bagian dari kaum bangsawan. Sebagian mereka yang berkedudukan paling penting dipilih oleh negeri, yaitu oleh para pemimpin dan ditunjuk oleh raja. Hanya satu dari jogugu dan satu dari kapitein laut yang menerima pengangkatan mereka dari Residen Manado atas permintaan raja. Tanpa mantrinya, raja tidak dapat mengambil keputusan dalam hal-hal yang penting.

Raja Iskander Gobel Badiaman terkenal karena meneken perjanjian 1 November 1856 terdiri 21 pasal (artikel) dengan Residen Manado Albert Jacques Frederic Jansen di Manado. Perjanjian yang diratifikasi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Chs.F.Pahud 18 April 1857.

Perjanjian tersebut menetapkan kerajaannya sebagai ‘milik’ Belanda. Raja Belanda dan pemerintah Hindia-Belanda diakui menjadi kepala dan tuan (opperheer), termasuk hak eksklusif untuk memberhentikan dan menunjuk pengganti raja. 



Para mantrinya yang ikut meneken perjanjian (sesuai tulisan dalam naskah berbahasa Belanda) adalah Jogugu Idmsi, Kapitan Laut Gibu, Walaapulu Mansula, Majoor Sanggibula dan Kimalaha Wahabu.

Penduduk Bolaang Uki, dengan kontrak tersebut mulai membayar pajak rumah tangga yang disebut hacil atau uang kepala. Besarnya 5 gulden per kepala per tahunnya, yang dapat diganti emas, tripang, karet, katun atau koffo. Dengan 50 kepala keluarga yang ada di tahun 1856, Bolaang Uki mesti menyetor 250 gulden kepada pemerintah kolonial.

Sepersepuluh bagian dari total pendapatan pajak menjadi insentif raja dan mantri. Untuk raja sebesar 5/20, jogugu 3/20, kapitein laut 3/20, marsaole 3/20; dan walaapulu 2/20, sama untuk jatah hukum dan kimalaha. Termasuk yang menerima persentase hacil adalah Penghulu Molibagu dan kepala bawahannya.

Selain upah dari persentase hacil, raja dan mantri pun memperoleh bagian dari kulak of bobo, kupang dapur dan dari pungutan barang yang diekspor.

BERHENTI
Sebuah peristiwa menghebohkan terjadi bulan Februari 1864. Ketika Raja Iskander Gobel Badiaman sedang berkunjung kepada Residen di Manado, dan pemerintahan sehari-hari dijalankan oleh Jogugu, terjadi pembajakan kapal layar jenis junk yang berawak orang Cina dan baru pulang dari Jepang. Kapal tersebut dibakar dan awak kapal terbunuh.

Karena kejadiannya berlangsung di Pulau Tiga yang berada dalam wilayah kekuasaan kerajaan Bolaang Uki, Jogugu yang menjalankan pemerintahan sementara, dianggap bertanggungjawab. Ia dibawa ke Manado dan dijatuhi hukuman kerja paksa. Padahal, sang Jogugu, seperti kepada Wilken dan Schwarz, mengakui dirinya tidak mengetahui kejadian tersebut (baca Tiga Raja Bolaang dan Bajak Laut).

Setelah peristiwa itu, atas permintaan sendiri, Raja Iskander Gobel Badiaman mengundurkan diri tahun 1867. Dicatatkan dalam dokumen resmi, ia telah sangat tua serta kelelahan.

Padahal, ketika ditemui Wilken dan Schwarz di Uki tahun 1866 usianya ditaksir baru sekitar 60 tahun, meski kelihatan lelah. Kepada kedua pendeta itu, Raja Iskander Gobel Badiaman meminta bantuan, sebab ia ingin menyusun surat untuk Residen Manado dimana ia mengajukan pengunduran dirinya. Tidak lama kemudian, sebelum pelantikan penggantinya secara resmi, ia meninggal dunia.

Memilih penggantinya, sempat timbul pertikaian. Maka para mantri Bolaang Uki yang terdiri jogugu, kapitein laut, marsaole dan hukum yang membentuk rijksraad (dewan atau majelis kerajaan yang berhak memilih raja), mengundang Residen untuk menyelesaikannya.

Setelah musyawarah, terpilih kemenakan Raja Iskander Gobel Badiaman bernama Iskander Ali yang memimpin kerajaan Bolaang Uki sejak 30 Desember 1867.

Wilken dan Schwarz mengomentari, kalau alih kekuasaan ketika itu berdasar pilihan rijksraad. Tidak secara otomatis kedudukan dan martabat raja turun dari ayah ke anak laki-laki. Meski raja lama memiliki putra, yang bahkan saudara laki-laki Ali van Gobel masih lebih tua darinya.

Raja Iskander Ali van Gobel resmi dinobatkan di Manado oleh Residen Frederik Justus Herbert van Deinse tanggal 30 April 1868 dengan meneken acte van bevestiging. Ia memperoleh pengukuhan dengan beslit Gubernur Jenderal Hindia-Belanda P.Mijer 19 Maret 1869.



Nama resmi yang dipakainya adalah Mohamad Alijoedini Iskander Ali van Gobel (masih dicatat sebagai Goebal atau Gubal, tapi pertamakali memakai van pada namanya).

Seperti pamannya, Raja Iskander Ali van Gobel minta berhenti pada awal November 1874. Ia telah memerintah Bolaang Uki hampir 7 tahun lamanya.

PINJAMAN
Pengganti Raja Iskander Ali van Gobel adalah Willem van Gobel. Awalnya Willem van Gobel masih bertindak sebagai President Raja. Kemudian definitif raja dilantik tanggal 6 Maret 1875, serta dikukuhkan dengan beslit Gubernemen Hindia-Belanda 14 Mei 1875. Namanya dalam dokumen-dokumen dicatat pula sebagai Willem Abadie van Gobel atau juga Willem Abdoe van Gobel.

Raja Willem van Gobel meneken kontrak panjang (lange contract) 11 September 1895, berisi 34 pasal, dengan Residen Manado Eeltje Jelles Jelesma di Manado.

Kontrak tersebut makin menegas hegemoni kolonial Belanda atas kedaulatan Bolaang Uki. Karena landschap Bolaang Uki dinyatakan sebagai pinjaman kepada raja. Tujuh orang mantri Bolaang Uki meneken nama mereka di kontrak dengan tanda kruis (x) saja.

Pajak rumah tangga turun menjadi 2 gulden tiap tahun, yang dapat dibayar tunai, atau ditukar hasil seperti minyak, tripang, kopi dan lain-lain. Raja dan para mantri masih menerima bagian sama seperti kontrak 1867, yakni sepuluh persen pendapatan, seperti kontrak 1867.

Tapi, kemudian pasal kontrak diperbaiki. Pajak rumah tangga menjadi 2,50 gulden. Beban pajak untuk Uki sebesar 250 gulden dan penduduk Molibagu  di selatan 150 gulden. Dari total 400 gulden, raja dan mantri memperoleh bagian 150 gulden.

Raja Wilem van Gobel masih meneken perjanjian tambahan dengan Residen Jelesma 26 Juli 1897, 19 September 1897 dan terakhir kontrak baru 25 Mei 1901. Masing-masing berkait pertambangan, hak (Belanda) memungut bea impor dan ekspor, dengan kompensasi 100 gulden per tahun, serta pengaturan pelabuhan (Uki Labuhan dan Molibagu), dikompensasi 40 gulden/tahun.

Sebagai enclave di tanah Bolaang-Mongondow, tapal batas menjadi masalah utama di masa Raja Willem van Gobel. Baik Uki di pantai utara mau pun Molibagu di pantai selatan. Dalam lampiran kontrak, disebut ia mesti menyerahkan lewat kesepakatan dengan Raja Bolaang-Mongondow, tanah yang terletak di pantai utara antara Sungai Lonni dan Teluk Uki, serta di pantai selatan antara Sungai Tojobuan dan Tolondan, dengan alasan telah ditinggalkan dan akan digunakan Bolaang-Mongondow.

Bolaang Uki di pantai selatan terletak antara perbatasan timur Gorontalo (Kuwala Taludaa, Tanjung Putigada) dan Tanjung Pinolosian, belum jelas pula tanda-tanda batasnya, termasuk sipat timur dengan Bolaang-Mongondow di Pinolosian.

Demikian pun masalah dengan bekas Negeri Lama (Totokia) yang ditinggalkan orang Bolango sebelum menetap di Gorontalo. Klaim Bolango ditolak Bolaang-Mongondow. Orang Bolango yang mencoba menetap di daerah itu tahun sebelumnya telah diusir.

Ketika itu wilayah pesisir barat Molibagu, meski jarang, telah ditempati oleh warga kedua kerajaan.

Setelah memerintah lama, karena usia tua dan sakit-sakitan, Raja Willem Abadie van Gobel mengundurkan diri. Pengundurannya disetujui pemerintah kolonial dengan beslit gubernemen Hindia-Belanda 28 November 1901 nomor 25.

RAJA HASSAN VAN GOBEL
Pengganti Raja Willem van Gobel adalah putra sulungnya, yakni Hassan van Gobel, sebagai pejabat (President Raja) sejak tanggal turunnya beslit tersebut.

Hassan van Gobel kelahiran tahun 1874, dengan nama lengkap Mohammad Kaharuddin Hassan van Gobel baru dilantik di Bolaang Uki (nama negeri Uki di pantai utara ketika itu) sebagai Raja Bolaang Uki tanggal 23 Juni 1903, dengan gelaran Paduka Raja. Ia meneken akte van verband dan bevestiging di depan Kontrolir Onderafdeeling de landschappen gelegen tusschen de Minahasa en de afdeeling Gorontalo, Anton Christiaan Veenhuijzen yang mewakili Residen Manado S.J.M.van Geuns.



Sejak tahun 1901 landschap-landschap di wilayah Bolaang-Mongondow berada di bawah kontrol kepala onderafdeeling berkedudukan di Poopo. Onderafdeeling mana menggantikan bekas Onderafdeeling Noordkust van Celebes yang masih berkedudukan di Kwandang hingga pendirian terpisahnya. Tapi, tidak lama, tahun 1903 juga onderafdeeling tersebut ganti nama Onderafdeeling Bolaang-Mongondow berkedudukan di Kota Baru.

Raja Hassan van Gobel memperoleh pengukuhan dari Gubernur Jenderal Hindia-Belanda W.Rooseboom dengan beslit 27 Oktober 1903 nomor 4.

Kemudian Raja Hassan van Gobel meneken tambahan kontrak 17 Maret 1907 dengan Kontrolir Bolaang-Mongondow Abraham Coomans di Molibagu, menyangkut tapal batas kerajaan; serta korte verklaring (pernyataan singkat) uniform model 3 Oktober 1912.

Batas-batas Bolaang Uki yang disahkan Gubernur Jenderal J.B.van Heutsz 12 September 1907 menyebut di utara daerah aliran sungai (batas air) antara pantai utara dan selatan. Timur di daerah aliran sungai sekunder yang berdekatan dengan Gunung Sogoeo dari daerah aliran sungai utama di perbatasan utara atas pegunungan Tapa, Tolondad dan Panang memanjang ke arah selatan ke Tanjung Labotta. Sebelah selatan berbatas dengan Teluk Tomini, dan sebelah barat Sungai Taludaa dari hulunya ke pemisahan air utama antara pantai utara dan selatan ke laut, serta sepanjang Sungai Topi (perbatasan dengan Gorontalo).

Beslit Gubernemen 1 Maret 1913 nomor 9 memperjelas batas di sebelah barat sebagai bagian belakang pegunungan Hunajokiki dari Tanjung Hunajouki ke hulu Sungai Taludaa di pemisahan air utama pegunungan.

Ibukota Bolaang Uki sendiri telah dipindahkan dari (Bolaang) Uki di pantai utara ke Molibagu (sekarang ibukota Kabupaten Bolaang-Mongondow Selatan) di pantai selatan. Di Molibagu, dibangun sebuah Sekolah Rakyat (Volkschool), dengan 55 siswa di tahun 1916.

Raja Hassan van Gobel kemudian memperoleh gaji bulanan sebesar 160 gulden (dikorting 17 persen). Ia pun menerima tunjangan serta ongkos perjalanan dan akomodasi yang diambil dari kas onderafdeeling. Juga tetap menerima bagian dari kulak of bobo, kupang dapur.

Sejak tahun 1927 Raja Hassan van Gobel dibantu putra tertuanya, bernama Eduard van Gobel dalam kedudukan sebagai Raja Muda.

Tahun 1916 penduduk Landschap Bolaang Uki sebanyak 3.541 jiwa, semuanya Islam. Tahun 1932 jumlah penduduk adalah 4.474 jiwa, terdiri 4.449 pribumi, 13 Cina, 7 orang timur asing (vreemde oosterlingen) dan lainnya, serta 5 Eropa dan yang berasimilasi dengannya.

Raja Hassan van Gobel yang bergelar Ta Loo Piduduta Lipu meninggal 24 April 1941. Putra keduanya Arie Bansye Hassan van Gobel menggantikan, hingga kerajaan Bolaang Uki dihapus 11 Juni 1950.

Sekarang ini, nama Bolaang Uki masih dilestarikan pada sebuah kecamatan di pantai selatan, termasuk Kabupaten Bolaang-Mongondow Selatan, beribukotakan Molibagu. Sementara bekas ibukotanya Uki, yang dulunya terdiri dua kampung yakni Uki Pantai dan Uki Labuhan, tinggal menyisakan Uki Labuhan, sekarang sebuah desa di Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang-Mongondow. ***



                     
Inilah Raja-raja Bolango dan Bolaang Uki



Kerajaan Bolango
      (versi Riedel)
Di Lembeh, Lombagin, Mongoladia dan di Tidupo


Raja Intu-Intu.
Raja Ago.
Raja Damo-poliih.
Raja Daepeagou.
Ratu Putri Polunie.


Kerajaan Bolango
                     (versi Riedel)
di Palanggua/Tapa.


Raja Hulango, 1670-.
Raja Tuluaia.
Raja Mohulaingo.
Raja Patuma.
Raja Tengio.
Raja Dangkato.
Raja Hubulo.
Raja Pulubulawa.
Raja Polinggula.



Kerajaan Bolango
         di Tapa
(versi missive Gubernur Jenderal)


Raja Palamatta, hingga 1692.
Raja Abraham Sangilatu, 1692-1726.
Raja Gobel, Hubulo, Kitjil Gobolo (Kitjili Goubouko), sejak 1726, dilantik di Ternate 30 April 1731.



Kerajaan Bolango
         di Tapa
(setelah perpindahan sebagian  Bolango ke Bangka)


Raja Matoka.
Raja Napu.
Raja Tuwako.
Raja Sunge.
Raja Katili.
Raja Habi (Mohamad Kaitjil Iskander Baren Duaulu), hingga 1855.
Raja Usmani (Usman), 1855-1856.
Raja Humonggilu 1856-1857.
Raja Tilahunga, 27 April 1857-1862.



 Kerajaan Bolango-Bangka atau Bolaang-Bangka
     (versi Wilken dan Schwarz)
               di Bangka.


Raja Matoka, sejak 1802 atau 1803.
Raja Bagole.
Raja Napu.
Raja Tuwako.
Raja Unomongo, hingga 1837.
Raja Badiaman (Mohamad Alijudini Iskander Gobel Badiaman), sejak 17 Desember 1837.



Kerajaan Bolaang Uki
     Di Uki lalu Molibagu.


Raja Mohamad Alijudini Iskander Gobel Badiaman, 17 Desember 1837-3 Desember 1867.
Raja Mohamad Alijudini Iskander Ali van Gobel, 30 Desember 1867/ 30 April 1868-November 1874.
President Raja Willem Abadie van Gobel, November 1874-6 Maret 1875.
Raja Willem Abadie van Gobel, 6 Maret 1875-28 November 1901.
President Raja Hassan van Gobel, 28 November 1901-23 Juni 1903.
Raja Hassan van Gobel, 23 Juni 1903-24 April 1941.
Raja Muda Eduard van Gobel sejak 1927.
Raja Muda Arie Bansye Hassan van Gobel, 1941-11 Juni 1950.




*). Peta dan krop dari koleksi Staten Generaal Digitaal.



LITERATUR
Almanak van Nederlandsch-Indie, 1853,1855,1856,1857,1858,1859, 1861,1863,1867,1871,1872.1873,1879,1880,1884,1890,
1898,1903,1904,1907,1912. Dari Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin.dan Google Boeken
Bleeker, P. Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel, eerste deel, Batavia, 1856.
Buddingh, Dr.S.A. Neerlands-Oost-Indie, Rotterdam, 1860.
Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel XIII 1756-1761. Resources.huygens.knaw.nl.
Haga, Dr.B.J. De Lima-pahalaa (Gorontalo) volksordening, adatrecht en bestuuurspolitiek, Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel LXXI, 1931.
Heeres, Mr.J.E. dan Dr.F.W.Stapel, Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, tweede deel (1650-1675), Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 87, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1931 dan vijfde deel (1726-1752), deel 96, 1938.
Hollander, Dr.J.J. Aardrijksbeschrijving van Nederlandsch Oost-Indie, Amsterdam, 1868.
Overeenkomsten met Islandsche Vorsten in den Oost-Indischen Archipel, Staten Generaal Digitaal.
Riedel, J.G.F. De Landschappen Holontalo, Limoeto, Bone, Boalemo en Kattinggola, of Andagile, dalam Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-,en Volkenkunde, deel XIX, 1870.
--De volksoverleveringen betreffende de voormalige gedaante van Noord-Selebes en den oorsprong zijner bewoners, dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, derde serie 5de jaargang, 1871.
-- Het Oppergezag der Vorsten van Bolaang over de Minahasa (Bijdrage tot de Kennis der oude Geschiedenis Noord-Selebes), dalam Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel XVII, 1869.
Rosenberg, C.B.H.von. Reistogten in de Afdeeling Gorontalo, Amsterdam, 1865.
Stibbe, D.G. dan Mr.Dr.F.J.W.H.Sandbergen, Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, achtste deel, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1939.
Tanap Ternate.
van der Chijs, Mr. J.A. Inventaris van ‘s Lands Archief te Batavia (1602-1816), Batavia, 1882.
Valentyn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, Dordrecht-Amsterdam, 1726. 
Wilken, N.P.dan J.A.Schwarz, Verhaal eener reis naar Bolaang-Mongondow, dalam Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap, elfde jaargang, 1867.