Jumat, 26 Oktober 2018

Kerajaan Siau Tempo Dulu (6).
Protestan Ganti Katolik






                                     Oleh: Adrianus Kojongian


 
 
Jalan di Siau. *)




Kompeni Belanda bersemangat menyebarkan Protestanisme di kalangan penduduk, dengan rutin mengirim pendeta dari Ternate, kemudian juga guru yang banyak bertindak menjadi pemimpin umat lebih dua abad. Kunjungan para pendeta yang biasanya mengikuti perjalanan Gubernur Maluku di Ternate atau komisi-komisi sipil dan militer, meski singkat, karena melakukan hal serupa di kerajaan lain di Kepulauan Sangihe dan Talaud, Manado dan daerah Sulut lainnya--adalah menginspeksi gereja dan persekolahan yang ada, serta melakukan pembaptisan yang selalu massal, ditandai pembuatan raport yang ada sampai sekarang.

Setelah Ds.Zacharias Caheyng tahun 1677 dan Ds.Cornelis de Leeuw 1680, Predikant Ternate yang membezuk dan melakukan pembaptisan di Siau dan Sangihe Besar adalah Ds.Gillius (Gillis) Camminga tahun 1691/1692 dan 1697, Ds.Gerrit van Aken 1694, serta Ds.Joannes Stampion 1696/1698.

Di abad ke-18 Predikant Ternate yang berkunjung adalah Ds.Abraham Feijlingius tahun 1701, Ds.Petrus Nood 1703, Ds.Arnoldus Brands 1705/1706, Ds.Wilhelmus van Welij 1708, Ds.Joachim Petrus Cluisenaar 1720, Ds.Dominicus Sell 1722/1725, Ds.Jan Hendrik Molt 1726/1727 dan Predikant Johannes Scherius 1735. Pendeta terakhir di masa Kompeni Belanda adalah Ds.Ulpianus van Sinderen tahun 1761, Ds.Georgius Jacobus Huther tahun 1781 dan Ds.Johan Ruben Adams 1789.

Agama Katolik sendiri, menurut Padri Pedro Murillo Velarde di tahun 1748, telah benar-benar musnah di Siau. Ia berpendapat demikian dari kesaksian orang Siau yang datang berdagang di Manila dan dari seorang Protestan Siau.

Kristen Protestan awalnya tumbuh pesat, karena penduduk dan para kepala Kristen, banyak berpindah dari Katolik memeluk Protestan.

Surat resmi Gubernur Jenderal Cornelis Speelman tanggal 19 Maret 1683 mencatat penduduk Kristen Siau sebanyak 3.933 orang. Di negeri Pehe 2.580 orang, terdiri 670 pria, 645 wanita dan 1.265 anak laki-laki dan perempuan. Di Ulu yang merupakan negeri utama 1.353 orang Kristen, terdiri 295 pria dewasa, 361 wanita, dan 697 anak laki-laki dan perempuan.

Kendati demikian, Predikant Ternate yang menyertai kunjungan Gubernur Robertus Padtbrugge tahun 1680-1681 Ds.Cornelis de Leeuw tidak puas dengan keadaan Kekristenan di Siau dan tempat lain di Kepulauan Sangihe.

Persekolahan pun terbilang maju. Di tahun 1689 Valentijn mencatat kondisi pendidikan yang ada di Siau. Di negeri Ulu dengan guru (meester) Jan de Silva mempunyai 70 murid, dengan siswa aktif 20. Di Ondong guru Domingos Denamos dengan 40 murid dan yang aktif 25. Di Pehe guru Lucas Furtados memiliki 80 murid, tapi yang selalu hadir 20. Sementara sekolah di Lehi dipimpin Philip Babondak dengan 40 murid, dan siswa aktif 10. Total murid di Siau sebanyak 230 orang, tapi yang aktif hanya 75 siswa. Sementara Tamako yang memiliki 200 orang Kristen, sekolahnya dipimpin guru David Sahari, dengan 40 murid, tapi yang aktif 12 sampai 13 orang.

TIGA BERSAUDARA
Dari missive para Gubernur Jenderal VOC, Raja Siau, adik dari Don Francisco Xavier meninggal dunia tahun 1690. Pewaris tahta Pangeran Xavier yang bernama Jacobus baru berusia 14 tahun masih tinggal di kompleks benteng dan pemukiman Belanda Malayu di Ternate. Sejak usia 9 tahun, ia dibawa ke Maluku, dididik secara Protestan serta dibesarkan di rumah mantan Gubernur Maluku Johannes Cops.

Surat Gubernur Jenderal Johannes Camphuys 26 Maret 1691 mencatat sepeninggal Raja Siau dan karena Pangeran Xavier masih di Ternate, pemerintahan untuk sementara waktu dijalankan oleh Regent, Kapitein Laut Santiago Manumpil.

Santiago Manumpil yang turut meneken kontrak 9 November 1677, telah menjadi tokoh menonjol di Siau sejak tahun 1687 setelah bekas Raja Don Francisco Xavier meninggal, seperti sebelumnya diungkap Camphuys 23 Desember 1687.

Menurut Francois Valentijn sendiri, Regent Santiago Manumpil menjalankan pemerintahan sementara Siau bersama-sama Jogugu Jeronimo d’Arras, Jogugu Thomas Mahonis, Kapitein Laut Noas (Padtbrugge: Juan Nauchas) dan Hukum Andries Backomisie; sampai putra mahkota Pangeran Xavier mampu memerintah.

Penunjukan Santiago Manumpil, ipar dua raja sebelumnya, melangkahi dua jogugu di atasnya Jeronimo d’Arras yang baru kembali dari Maluku dan Thomas Mahonis.

Tidak heran muncul ketidakpuasan. Tanggal 8 Desember 1691 Rijksgrooten (para mantri) bersama sangaji dan bobato Siau lainnya menyurat ke Ternate.

Menurut pengganti Camphuys, Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn dalam surat 24 Maret 1692 pemerintahan Regent Kapitein Laut Santiago Manumpil menjengkelkan dan brutal, sehingga menimbulkan keluhan. Rijksgrooten Siau telah meminta agar Pangeran Jacobus Xavier yang telah mendapatkan pendidikan Belanda termasuk pendidikan agama Kristen (Protestan) dilantik di Benteng Orange Ternate.

Jogugu Jeronimo d’Arras kemudian menggantikan peran Santiago Manumpil. Surat-suratan dari Gubernur Maluku Cornelis van der Duin selalu ditujukan kepadanya.

Tapi, sejak tahun 1694 Jogugu Thomas Mahonis tampil berkuasa setelah putrinya dikawini oleh raja muda Jacobus Xavier yang telah resmi menjalankan pemerintahan.

Protestan di masa Raja Jacobus Xavier dan Jogugu Thomas Mahonis justru tumbuh lamban.

Valentijn mencatat tahun 1695 hanya terdapat 3.934 orang Kristen dengan 11 anggota sidi (bandingkan tahun 1683 sebanyak 3.933 orang). Kemudian ada 4 gereja, 4 sekolah, 4 guru dengan 263 siswa.

Koloni Siau di Kepulauan Talaud, yakni Pulau Kabaruan tahun 1695 memiliki 1.164 orang Kristen di dua negeri utama Taduwale dan Mangaran, dengan 2 gereja dan 2 sekolah dipimpin 1 guru dengan 20 murid (baca Kepulauan Talaud Tempo Dulu 3).

Raport Ds.Arnoldus Brands dari Ternate tahun 1705 mengungkap penduduk Kristen Siau bertambah. Ulu sebagai ibukota mempunyai 1.450 orang Kristen dan 150 murid, tapi putrinya sedikit. Ondong terdapat 492 orang Kristen, 25 murid dan 40 anak dibaptis. Pehe 1.000 orang Kristen dan 44 murid. Negeri Lehi 356 Kristen, 25 murid dan 25 anak baptis. Sementara Tamako 588 Kristen dengan 55 murid sekolah, 40 anak dibaptis dan 4 pasangan dikawinkan.

Pulau Kabaruan mempunyai komunitas Kristen besar. Negeri Taduwale dengan 1.020 orang Kristen dan sekolahnya mempunyai 82 murid. Sementara Mangaran berpenduduk 1.000 orang Kristen dengan 82 siswa.

Di tahun 1705 ini, menurut Valentijn, dari penduduk negeri Ulu terdapat 500 pria dewasa, di Pehe 300 orang, Ondong 160, dan Lehi 110 pria dewasa. Dari total 3.298 penduduk Siau terdapat 1.070 pria dewasa yang sewaktu-waktu dipanggil bertugas sebagai prajurit.

Bila Kompeni berperang atau untuk melawan bajak laut Mindanau dan Sulu, berdasar order Gubernur Maluku, Siau diwajibkan menyiapkan 6 kora-kora, dan 300 prajurit, seperti halnya Tabukan. Dari Pehe 4 kora-kora dengan 200 prajurit, dan Ulu 2 kora-kora serta 100 prajurit. 

Raja Siau Jacobus Xavier meninggal dalam usia muda tahun 1703. Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn tanggal 1 Desember 1703 mencatat kematiannya, serta kedatangan dari Jogugu Siau Thomas Mahonis di Ternate bersama empat bobato Siau. Mereka membawa keputusan pertemuan para mantri Siau tanggal 28 Agustus berkaitan pemilihan raja baru untuk menggantikan Jacobus Xavier yang meninggal.

Mantri bobato Siau telah memilih dari dua saudara Raja Jacobus Xavier, pangeran yang termuda, David Munasa alias Xavier.

Gubernur Jenderal Joan van Hoorn memberitakan tanggal 30 November 1706 Raja David Munasa mengunjungi pantai barat Sulawesi, Manado, Kaidipang di Bolaang-Mongondow hingga Bwool di Sulawesi Tengah. Ia hendak menghukum beberapa rakyatnya yang melarikan diri setelah terlibat tindak kriminal. Tapi, ia diminta kembali, setelah didesak para raja yang dilawatinya.

Raja David Munasa alias Xavier memerintah tidak lama pula. Tahun 1707 ia digantikan saudara lainnya Pangeran Jacobus Raramo yang disebut Gubernur Jenderal Christoffel van Swoll telah meninggal di tahun 1714.

Dalam kronik Siau fam Raja Jacobus Raramo lebih dikenal sebagai Raramenusa, dan disebut bernama lengkap Hendrik Daniel Jacobus Raramenusa.

Menurut Valentijn, pada tahun 1712 terjadi letusan hebat Gunung Awu (sekitar 1900 meter) di utara pulau. Namun tidak ada kerusakan berarti, karena lahar mengalir melalui jurang besar, sementara batu-batu terlontar dan berakhir di laut.

Van Swoll dalam surat tanggal 26 November 1714 mengungkap mantri Siau telah memilih putra dari raja mangkat Jacobus Raramo, yakni Pangeran muda Daniel Jacobs (z) sebagai pengganti.

Jogugu bersama mantri Siau datang ke Manado meminta Residen Hendrik van den Burgh untuk melantiknya. Namun, Residen menyarankan mereka berangkat ke Ternate, agar Daniel Jacobs dilantik oleh Gubernur Maluku (David van Petersom) dengan meneken kontrak politik. Utusan Siau terdiri Jogugu dan mantri dicatat tiba di Ternate 13 Juli 1714.

Tahun 1728, raja yang bergelar Lohintundali membangun sekolah baru di Pehe serta meminta seorang guru.

Masa memerintahnya, terjadi permusuhan dengan Manganitu memperebutkan pulau-pulau kecil di dekat Siau dan Manganitu. Tahun 1726 Raja Manganitu melaporkan pengusiran penduduknya dari Pulau Karakitan dan Kalama. Tahun 1728 ia pun melaporkan pembunuhan beberapa orang Manganitu. Raja Manganitu mengeluhkan pula aktivitas Siau di Pulau Para, Salunkere, Seha dan Nitu di selatan Karakelang yang kelak diputus menjadi milik Siau.

Setelah tiga tahun bersengketa, dengan desakan Gubernur Maluku Jacob Christiaan Pielat, Raja Daniel Jacobs menandatangani perjanjian damai dengan Raja Jacob Marten Lasarus dari Manganitu di Kastil Orange Ternate tanggal 15 Maret 1729.

Tapi, kemudian perselisihan timbul kembali dengan Manganitu. Kedua kerajaan bersengketa soal Tamako, enklave Siau di Sangihe Besar yang berbatasan Manganitu.

Gubernur Jenderal Diderik Durven 30 November 1730 mencatat protes dari Raja Daniel Jacobs karena Raja Manganitu mengangkat pejabatnya di Tamako. Kimelaha Johannes Bangkilang sebagai sadaha, David Tavoliu sebagai kimelaha. Johannes Dangenan sebagai sadaha serta Salmon Lasienken sebagai mirinjo.

Selain itu, Raja Daniel Jacobs mengeluh karena pengusiran penduduknya dari Pulau Kalama.

Masalah Tamako akan berlarut-larut meski kedua raja mencoba menyelesaikannya di tahun 1733.

Setelah memerintah 37 tahun, Raja Daniel Jacobs meninggal akhir bulan Desember 1751.

Terjadi kekosongan hampir 1 tahun. Anaknya Ismael Jacobsz berangkat ke Ternate, dan dilantik menjadi Raja Siau tanggal 1 Desember 1752 setelah meneken kontrak politik di Kastil Orange dengan Gubernur Maluku Jan Elias van Mijlendonk yang mewakili Gubernur Jenderal Jacob Mossel.

Dalam kontrak terdiri 29 pasal, masalah perbatasan antara Siau dan Manganitu di Tamako yang telah berlangsung lama ditetapkan di Taranke. Klausal lain adalah pembatasan aktivitas penduduk di Kepulauan Talaud. Harus ada persetujuan khusus dari Sersan Komandan di Tabukan, bila bepergian di luar wilayah Pulau Kabaruan yang menjadi miliknya.

Siau kemudian terlibat perang dengan Malurong dan Mangindano (Mindanau).

Tahun 1762 Kapitein Laut Lulie dan sejumlah penduduk Siau membunuh seorang pangeran dari Sarangani bernama Salawo dengan semua pengikutnya di Pulau Masauw. Orang-orang Malurong di Sarangani yang sebenarnya dimiliki oleh kerajaan Kandhar (Kendahe) ingin membalaskan dendamnya dan meminta bantuan dari Mangindano.

Tahun 1764 mereka menyerbu Siau, membakar negeri dan menawan penduduk dijadikan budak.

Raja Ismael Jacobs meminta bantuan kerajaan tetangga di Sangihe Besar untuk melengkapi armada honginya. Ia pun meminta izin Gubernur di Ternate (Jacob van Schoonderwoert) yang bahkan bergabung dengan mengirim beberapa kora-kora dipimpin oleh Hemmekam (Koopman Francois Bartholomeus Hemmekam).

Hasil dari ekspedisi bersama tersebut Malurong dan Mangindano dikalahkan dan dihancurkan. Rumah-rumah dibakar habis.

Tanggal 7 Oktober 1786 Ericus Jacobsz, putra Ismael menjadi Raja Siau yang baru dengan meneken renovasi dari kontrak lama yang dibuat ayahnya pada 1 Desember 1752 silam.

Kemudian adiknya Eugenius Jacobsz yang terkenal dengan nama Umboliwutang menjadi raja sejak tahun 1790.

Bangkrutnya Kompeni Belanda menyebabkan kunjungan para predikant yang semakin jarang benar-benar terhenti. Namun, pengajaran agama tetap digembalakan oleh para guru.

Lebih tiga dekade tanpa dibezuk pendeta, baru tahun 1822 di bawah pemerintah Hindia-Belanda, Siau kembali dikunjungi Predikant Makassar P.van der Dussen. Ia meninggal ketika berada di Ondong, sehingga dikuburkan di situ.

Berikut tahun 1829 Predikant Ambon Joseph Kam dan tahun 1832 Predikant Manado Gerrit Jan Hellendorn datang berkunjung ditemani oleh Zendeling Johan Friedrich Riedel dari Tondano .

Raja Eugenius Jacobs meninggal tahun 1823. Ia dicatat membuat pasar pertama di Siau, sehingga memajukan perdagangan.

Ketika berjangkit wabah cacar yang menelan banyak korban jiwa di seluruh Sangihe tahun 1823, salah seorang anak Raja Eugenius Jacobs, yakni Pangeran Taba ikut terkena. Ia telah divaksinasi dengan obat koepokstof dari Ternate, tapi tidak mempan, justru sembuh ketika dicacar alam dengan menggunakan sulfur berasal letusan Gunung Awu (Api). Pengobatan ini menyebabkan Siau menjadi yang pertama mampu mengatasi wabah tersebut, sehingga kemudian diikuti kerajaan lain..

Pengganti Raja Eugenius di tahun 1823 adalah kemenakannya Octavianus Paparang.

Tahun 1825, masa memerintahnya, E.de Wal mencatat raja berkediaman di negeri Ondong sebagai ibukota (sekarang Kecamatan Siau Barat). Negeri Ondong, menurutnya, dibentuk oleh 3 kampung, yakni Ondong, Kalumpang dan Paniki. Negeri besar lain adalah Ulu terbentuk oleh 4 kampung: Bahu, Akesimbeka (dicatat Aki-Sanbokka), Tarorane (Taroerame) dan Tatahadeng (Tatahading).   

Di sebelah barat Siau, sekitar dua mil di laut, terdapat pulau kecil Makalehi, dimana telah ditanam pohon kelapa dan buah-buahan. Di sisi timur Pulau Siau, setengah sampai satu mil dari pantai terdapat pulau-pulau Buhias, Pondang, Mohoro, Laweang dan Massane, dimana ketiga pulau yang pertama dihuni. Pulau Mohoro memiliki usaha sarang burung yang dikelola oleh penduduk

Kemudian lebih ke utara, terdapat rangkaian pulau di bawah Raja Siau, yakni Babondeka, batu Mamaloko, Sangasolang yang seperti dua pulau kecil; Nitu, Para, Sarankere, Siha, Mahangetang, Massape, Karakitan dan Kalama.

Pulau Babondeka, Sangalosang dan Mahangetang tidak dihuni. Karakitan dan Kalama memiliki usaha sarang burung yang menjadi milik pribadi dari Raja Siau.

Di Sangihe Besar, enklave milik Siau negeri Tamako terbentuk oleh kampung Pakol (Pakal), Balana (Balane) dan Naga (Nagie). Kemudian ada pula kampung Dagho.

Tahun 1836 penduduk Siau (termasuk pulau-pulau miliknya serta negeri Tamako dan Dagho di Sangihe Besar) dicatat terdiri 1.300 laki-laki serta 3.700 wanita dan anak-anak.

Raja Octavianus Paparang menjabat hingga tahun 1839 ketika Nicolaas Ponto, anak kedua Raja Salmon Ponto dari Bolaang Itang diangkat menjadi Raja Siau yang baru. Silagonda ibu Raja Nicolaas adalah putri dari bekas raja Ismael Jacobs (baca pula Mengenal Sedikit Raja-raja Bolaang-Itang).

Raja Nicolaas Ponto meninggal akhir tahun 1849. Kemenakannya Jacob Ponto (dalam dokumen banyak ditulis Jacobsz Ponto), anak kakaknya Daud Ponto yang menjadi Raja Bolaang Itang, dipilih sebagai Raja Siau tanggal 22 Januari 1850.

Raja Jacob Ponto mulai menduduki tahtanya sejak 26 September 1850 (versi lain 12 September 1850). Ia memperoleh pengukuhan dalam martabat raja dari Gubernur Jenderal Hindia-Belanda A.J.Duymaer van Twist dengan beslit tanggal 23 Oktober 1854.

Menurut Dr.S.A.Buddingh, pendidikan terakhir Raja Jacob Ponto, adalah sekolah gubernemen (Gouvernements Lager School), sekolah paling bermutu yang ada di Manado di bawah pimpinan guru Belanda Herman Carl Dircks serta Kweekeling C.A.Winter.

Zendeling NZG di Amurang Simon van de Velde van Cappelen ketika berkunjung di Siau tahun 1855 mencatat model rumah penduduk yang masih sederhana, atap tinggi dari daun nipah berlantai bambu belah, di atas tiang kayu atau pilar, dengan tirai sebagai pemisah untuk kamar tidur dan ruang duduk. Bahkan banyak yang masih lebih sederhana, dan banyak pula yang dihuni beberapa keluarga, dan rata-rata tanpa furnitur. Baik pangeran mau pun rakyat lebih suka tidak menggunakan meja dan kursi. Tapi, rumah raja, sudah dari batu.

Antara Ondong, ibukota di barat dengan Ulu di timur, yakni dua negeri besarnya, terdapat jalan yang cukup bagus, meski menurutnya baru berupa jalan setapak.

Komunitas Kristen berada di Ondong, Ulu, Sawan, Makalehi, Para, Karakitan, Kalama, Dagho dan Tamako. Jemaat yang setia ditemukannya di Ondong. Pembaptisan paling banyak dilakukannya di sini. Ia membaptis di Jemaat Ondong lebih dari 1.200 orang.

Guru sekolah gubernemen di Ondong L.P.Lalockij yang menerima pelatihan selama beberapa tahun dari Pendeta Joseph Kam di Ambon telah bekerja selama 20 tahun. Guru sekolah negeri lainnya adalah muridnya dan mereka rata-rata telah bekerja selama lebih dari dua puluh tahun.

Sekolah gubernemen Ondong memiliki murid aktif sebanyak 91 orang. Di Tamako, sekolah gubernemen dipimpin A.Makagiansar (yang telah bekerja selama 35 tahun), dengan murid 86 siswa. Sekolah lain merupakan sekolah negeri. Di Ulu sekolahnya dipimpin guru J.Lakihad dengan 46 murid. Di Sawan, 30 murid dipimpin P.Loeminka. Di Makalehi guru L.Johannis mempunyai 23 murid. Di Karakitan, guru P.Gamonsinan 20 murid. Di Para guru D.Makkahebi 12 murid, serta di Dagho guru J.Makahikang dengan 24 murid. Sementara sekolah negeri di Kalama, yang gurunya meninggal, memiliki 12 murid aktif.

Tahun 1855 Komisaris Emanuel Francis mencatat penduduk Siau sebanyak 6.000 jiwa. Guru di Ondong dan Tamako masing-masing bergaji 8 gulden per bulan, sementara guru di Ulu bergaji 5 gulden.

Menurut Ds.Steven Adriani Buddingh yang datang ke Siau bersama Residen Albert Jacques Frederic Jansen tahun 1859 beberapa rumah batu kasar di Ondong dimiliki para Jogugu dan mantri lain dengan perabotan sangat jarang.

Ondong berpenduduk 2.307 orang, semua Kristen, dengan jumlah murid 78 siswa. Begitu pula dengan negeri kedua Siau Ulu yang memiliki benteng Doornenburg di pantai timur, semua Kristen, sama halnya dengan penduduk di Pulau Para dan Makalehi yang memilki 2 sekolah. Gereja Ondong telah terbuat dari batu dengan atap daun nipah dan tembok dikapur, dengan ruang interior cukup luas berisi beberapa bangku kayu, khusus untuk pembesar kerajaan. Gereja dimanfaatkan pula untuk sekolah, hampir semua anak laki-laki, karena anak gadis masih langka pergi ke sekolah. Para siswa masih duduk di tanah dengan papan tulisnya.

Buddingh membaptis hingga kelelahan 391orang di Ondong. Negeri Tamako, menurutnya, memiliki jemaat sebanyak 1.500 orang Kristen dengan 1 sekolah dan 150 murid. Siswa di sini membayar uang sekolah dalam bentuk beras, kopi dan buah-buahan. Uang seperti umumnya di Sangihe tidak dikenal. Semua perdagangan dilakukan dengan barter. Sarang burung dan minyak kelapa ditukar umpama tembikar Cina. Botol kosong atau pakaian Eropa juga menjadi alat pembayaran.

Empat Zendeling pekerja dari Gossnersche Zendingvereeniging, semua orang Jerman, untuk Kepulauan Sangihe dibeslit 15 Juli 1854, tiba di Siau tanggal 15 Juli 1856. C(arl) J(oachim) M(ichael) L(udwiq) Schroder ditempatkan di Tabukan. E(rnst) F(raugott) Steller di Manganitu, serta J(ohann) F(riedrich) Kelling menangani Tagulandang. Kemudian A(ugust) Grohe untuk Siau berkedudukan di Ulu.

Tahun 1867 Zendeling Grohe pindah di Tamako (meninggal 30 Juni 1885). Ulu Siau ganti dilayani oleh C(arl) F(riederich) W(ilhelm) Tauffmann yang sebelumnya bekerja di Makatara Kepulauan Talaud. Ketika Java-Comite (lalu Sangi en Talaud-comite) menangani pelayanan, Tauffmann pindah di Tabukan.

Dua kakak-beradik putra Zendeling Tagulandang J.F.Kelling bekerja di Siau. Martin Kelling (kelahiran Tagulandang 27 Februari 1863) sejak tanggal 13 Januari 1888 ditempatkan di Ulu, kemudian pindah di Dagho 1890 dan terakhir di Tamako tahun 1893 hingga meninggal di Tamako 12 Juli 1912. Adiknya Paul Kelling (kelahiran Tagulandang 10 Desember 1865) mulai melayani di Ulu tahun 1890 sebagai ganti Martin dan bekerja hampir 34 tahun hingga meninggal di Ulu tanggal 22 Juli 1924. ***.




 *).Foto dari Wikimedia Commons.


LITERATUR
Algemeen Verslag van den staat van het schoolwezen in Nederlandsch-Indie, Batavia 1855,1859.
Brilman, D. De Zending op de Sangi-en Talaud-Eilanden, 1938. Delpher Boeken.
Brumund, J.F.G. Indiana, Amsterdam, 1854.
Buddingh, Dr.S.A., Neerlands Oost-Indie, 1852-1857, Rotterdam 1860.
Cappelen, S.D.van de Velde van, Verslag eener Bezoekreis naar de Sangi-Eilanden, Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootscahp, eerste jaargang, 1857.
Coolhaas, Dr.W.Ph. Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel 6 1698-1713, deel 7 1713-1724, deel 8 1725-1729, deel 9 1729-1737, deel 10 1737-1743, deel 11 1743-1750 dan deel 12 1750-1755. Resources huygens.knaw.nl.
Dinter, B.C.A.J.van, Eenige geographische en ethnographische aanteekeningen betreffende het eilad Siaoe, Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel XLI, 1899. MMKITLV.
Francis, E. Herinneringen uit den levensloop van een Indisch’ Ambtenaar van 1815-1851, Batavia 1859.
Heeres, Mr.J.E. dan Dr.F.W.Stapel, Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, derde deel (1726-1752), Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 96, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1938. Internet Archief.
Murillo Velarde, P.Pedro, Historia de la Provincia de Philipinas de la Compania de Jesus, segunda parte 1616-1716, 1749, Internet Archief.
Naamboek van de wel-edele heeren der Hooge Indiansche Regeering Batavia, ultimo 1789, Batavia. DPO.
Regeeringsalmanak 1867,1871,1872,1873,1875,1878,1880,1889,1892. Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin.
TANAP Ternate.
Valentijn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, Dordrecht-Amsterdam 1724.
Waal, E.de, De Sangir-Eilanden in 1825, dalam Indisch Magazijn, ter Lands Drukkerij, Batavia,1844. 
Wladcy Celebesu, Wladcy Siau, Wikipedia, wolna encyclopedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.