Selasa, 16 Oktober 2018

Kerajaan Siau Tempo Dulu (4).
Catatan Harian Padtbrugge






                                     Oleh:Adrianus Kojongian




Tanda paal bekas Benteng Doornenburg di Ulu Siau. *)






Hubungan Siau dengan kerajaan tetangga di Kepulauan Sangihe mengalami pasang surut. Kolongan, Manganitu dan Tabukan, menjadi sekutu ketika penginjilan dari Ordo Fransiskan berhasil mengkristenkan raja-rajanya. Namun, Belanda dengan dibantu Sultan Ternate mengintimidasi kerajaan-kerajaan tersebut, dan memaksakan para raja menghentikan persekutuan dengan Spanyol yang juga mengakhiri pekerjaan misionaris Fransiskan.

Raja Kolongan (Taruna) Don Juan (arsip Spanyol mencatat namanya setelah dibaptis Padri Fray Juan Yranzo 1639 sebagai Don Juan de Buntuan), paling lama menjadi sekutu utama Siau. Tapi, sejak tahun 1666 ia dipaksa bersekutu dengan Belanda, yang mendatangkan kekecewaan Raja Fransisco Xavier sehingga pada September 1670 dilaporkannya kepada Gubernur Spanyol di Manila Manuel de Leon kalau Kolongan telah bersahabat dengan Belanda.

Namun politik pecah-belah yang dilakukan Sultan Ternate Mandarsyah menyebabkan Don Juan de Buntuan bersikap mendua membantu Belanda  dan Ternate. Jogugunya Don Philip Datunseka sengaja diangkat sebagai Raja Saban (baca Raja-raja Manado yang Diinternir Belanda 2).

Kolongan benar-benar menjadi musuh Siau, ketika Don Martin Tatandam menggantikan Buntuan menjadi Raja Kolongan (kemudian mulai disebut Taruna). Raja Francisco Xavier membalas dengan memberi perlindungan kepada Paccarila (Pocarila), saudara Tatandam yang beserta pengikutnya diberi tempat tinggal di Tamako, koloni Siau di Sangihe Besar.

Sekutu lain Siau, Raja Manganitu Don St.Jago (Santiago, dikenal dengan nama Bataha Santiago) yang menentang Ternate dan Belanda, ditangkap dan digantung di Taruna tahun 1675 oleh Sultan Amsterdam, pengganti Mandarsyah. Ia menolak menyediakan pasukan dalam kontingen Sangihe yang diwajibkan Sultan Ternate bagi daerah ‘taklukannya’ untuk membantu Belanda dalam memerangi Sultan Hasanuddin di Makassar.

Piantay, adik Don St.Jago yang mengklaim tahta Manganitu dengan 800 pengikutnya lari ke Tabukan, kemudian mencari perlindungan kepada Raja Francisco Xavier Batahi. Ia meminta bantuan Spanyol dan dibaptis (menurut sumber Spanyol bernama Don Carlos Espana Bantay), serta mengirimkan kemenakannya putra Don St.Jago bersekolah di Manila. Dari Tamako Siau, Don Carlos Piantay menjadi oposisi bagi Raja Martin Takineta yang diangkat Sultan Amsterdam sebagai Raja Manganitu. 1

Kerajaan besar lain di Sangihe Besar yakni Tabukan yang diperintah Raja Kaicil Garuda atau Burudao yang berada dalam pengaruh Sultan Ternate justru menjalankan politik damai dengan Siau. Masa pemerintahan ayahnya, Tabukan menjalin persahabatan dengan Spanyol dan Siau, bahkan ayahnya Gama telah dibaptis tahun 1639 bersama Raja Kolongan yang masih sepupunya. 2

Namun, ketika Raja Garuda berkuasa, Ternate dibantu Belanda berhasil menguasai Kepulauan Sangihe, sehingga Tabukan menjadi musuh Siau. Sikap anti-Ternatenya tersulut ketika Sultan memecah-belah Tabukan dengan membentuk kerajaan boneka Limauw (dan Quisussa) di wilayahnya. Ia masih berharap perbaikan hubungan, dengan mengawinkan putrinya  dengan Sultan Amsterdam yang baru naik tahta. Tapi, bukannya dijadikan permaisuri, putrinya dikembalikan tahun 1675 sehingga Raja Garuda merasa sangat terhina.

Tidak heran Raja Garuda menjalin hubungan damai dengan Raja Francisco Xavier, dan berharap putrinya menjadi istri Raja Siau yang menjadi musuh utama Ternate. 3

Tetangga Siau di selatan, Tagulandang meski tidak mendukung Ternate, menjadi sekutu Belanda di Sangihe bersama Taruna (mengganti nama Kolongan sebelumnya), seperti dicatat Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker 13 November 1673 (baca juga Mengenal Raja-raja Tagulandang).

Kerajaan kecil Kandhar (Kendahe) yang diperintah raja Islam justru tidak terlibat langsung dalam sengketa politik dengan Siau dan Spanyol tersebut.

TERLAMBAT
Berbeda dengan para padri Jesuit yang melihat potensi Siau dan Sangihe, penguasa Spanyol sendiri tidak memberi perhatian khusus, karena menganggap Siau tidak menguntungkannya.

Untuk menunjukkan hal sebaliknya, para padri dan orang Spanyol di Siau sejak tahun 1661 mulai menanam kembali pohon cengkih yang diambil dari Tagulandang. Mereka berharap Siau akan menjadi pemasok utama kebutuhan Spanyol akan cengkih karena monopoli perdagangan VOC di Maluku serta politik tebang pohon yang dilakukannya di kawasan lain.

Kedatangan para pengungsi dan misi Spanyol dari benteng terakhirnya di Gamalama Ternate yang diserahkan kepada Belanda tahun 1663, membuat Siau menjadi pos satu-satunya yang masih dimiliki Spanyol di Indonesia. Namun penguasa Spanyol tetap tidak menganggapnya strategis. Berpatokan pada perjanjian yang disepakati di Ternate bahwa Siau menjadi sekutunya, Gubernur di Manila menganggap Siau aman dari agresi Belanda

Setelah gagal mengupayakan pengiriman tentara dari Manila, Padri Francisco Miedes mencoba membangun pertahanan Siau untuk sewaktu-waktu menghadapi invasi Belanda dan Sultan Ternate. Ia merekrut orang-orang Spanyol, Portugis bahkan tahanan yang dibawa pindah dari Ternate.

Keberadaan orang-orang Spanyol di Siau mencemaskan Belanda yang kemudian menganggap mereka sebagai perusuh monopoli perdagangan. Selain itu Belanda khawatir terjadinya gangguan keamanan, bahkan pada kemungkinan pemberontakan dari kerajaan-kerajaan lain di Sangihe.

Laporan Belanda mencatat di tahun 1663 orang-orang Spanyol dari Siau menyerang kembali Sangihe Besar yang menurut Kompeni telah menjadi haknya setelah diserahkan Ternate. Spanyol disebut membajak buah dari banyak pohon kelapa, sehingga Kompeni menaksir kehilangan sebanyak 2.500 kendi minyak.

Laporan lain mengungkap Padri Miedes dengan salah satu koleganya dan 50 orang dari Filipina memiliki niat untuk membangun kekuatan di Siau. Dagregister Batavia tahun 1664 menyebut Miedes bersama konfraternya dan 30 tahanan dari Benteng Spanyol Gamalama tengah menghimpun kekuatan.

Benteng Spanyol Santa Rosa di Ulu tahun 1668 dicatat Belanda hanya berkekuatan 1 sersan, 1 kopral, 11 atau 12 Eropa dan 6 sampai 9 serdadu pribumi.

Terancam oleh Belanda dan Ternate, sementara tidak diperdulikan penguasa Spanyol, Raja Francisco Xavier Batahi tidak berputus asa. Tahun 1669 ia menulis ke Manila meminta bantuan pasukan Spanyol dan padri Jesuit.

Tidak berbalas, awal tahun 1670 Raja Francisco mengirim duta resmi ke Filipina. Sang duta tiba di Manila bulan Februari 1670, dan diterima Gubernur Spanyol Manuel de Leon (memerintah 24 September 1669-11 April 1677) dalam audiensi yang diadakan di Colegio para Jesuit (Seminari San Joseph atau San Jose).

Duta tersebut membawa surat dari padri di Siau (Francisco Miedes), menjelaskan tindakannya membangun kekuatan di Siau dengan harapan mendapatkan perhatian dan bantuan militer besar dari gubernur. Miedes berbicara niat Belanda untuk menguasai Siau yang menuntunnya pada pengabdiannya untuk mempertahankan persahabatan (dengan Siau). Karena itu para religius (di Siau) diberdayakan untuk meredam kepura-puraan Belanda, dan pada saat yang sama (tindakannya) untuk meyakinkan Raja Siau akan dukungan dari Spanyol.

Ternyata tidak juga dibantu. Jadi tidak sabar, Raja Don Francisco Xavier Batahi mengikuti jejak ayahnya Don Ventura Pinto de Morales, dengan datang langsung ke Manila. Ia tiba di ibukota jajahan Spanyol tersebut bulan September 1671, dan selama di Manila menginap di Seminari San Joseph serta bertemu dengan Gubernur Manuel de Leon. 4

Kepada Gubernur Manuel de Leon, Raja Francisco Xavier  membentangkan kecemasannya yang besar terhadap aksi Belanda dari Maluku yang memanfaatkan Sultan Ternate. Ia merasa terganggu, apalagi Sultan Ternate (Mandarsyah) telah mengancam akan mengambil kerajaan dan negerinya. Oleh sebab itu ia meminta Gubernur Spanyol memberinya tentara.

Selain meminta bantuan militer untuk menghadapi Belanda dan Ternate, ia meminta pengabaran injil terus dilanjutkan, serta pengorganisasian sakramen. Ia pun memprotes karena kepedulian Padri Provincial SJ yang masih kecil di Siau.

Gubernur Manuel de Leon memberi Raja Siau dua puluh tentara Spanyol dan beberapa Pampango dari Luzon di bawah komando Kapten Andreas Serrano. Padri Provincial saat sama mengirim ke Siau seorang imam Jesuit . 5

Padri Miguel de Pareja asal Spanyol yang menyertai Raja Siau sebagai visitator bertugas hingga tahun 1671. Ia mencatat hampir tidak ada Katolik di pulau-pulau dalam lingkup pengaruh Belanda setelah kepergian Spanyol dari Maluku. Tinggal Siau yang menolak semua tawaran perlindungan Belanda. Gubernur Maluku dari Belanda di Ternate (Abraham Verspreet) yang juga seorang Katolik menjelaskan kepada Pareja bahwa ia mendapat perintah dari Batavia untuk ‘mengambil’ Siau dengan paksa, tetapi diputuskannya untuk mengesampingkan tanpa batas. 

Upaya perdamaian semu dicapai ketika di Manado President (Gubernur) Maluku Cornelis Francx tanggal 13 Juli 1673 meneken perjanjian dengan Kapten Spanyol Andreas Serrano dan Padri Francisco Miedes.

Tidak lama kemudian, menurut Belanda, perjanjian damai dilanggar dengan terjadinya pembunuhan beberapa orang Talaud.

Tanggal 4 Juli 1676, Raja Siau unjuk kekuatan. Dengan armada Hongi ia datang ke Tagulandang, bahkan tinggal selama 12 hari.

Para direktur (Bewindhebbers, Tuan-tuan 6) VOC yang memimpin Kompeni, akhirnya memerintahkan Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia 'untuk membawa Siau dengan cara teraman di bawah perlindungan kami.’

Belanda mengunakan kepanjangan tangan Ternate. Raja dan mantri Ternate pada 3 Mei 1677 memutuskan bertindak melawan Siau, dimana Gubernur Belanda Dr.Robertus Padtbrugge dengan senang hati menawarkan kerjasama penuh, sambil ‘menjaga perdamaian dengan Spanyol’. 6

Sultan Amsterdam alias Kaicil Sibori sejak berkuasa tahun 1672 mengganti ayahnya Mandarsjah mengklaim Siau sebagai wilayah miliknya.

Tanggal 1 Agustus Raja Amsterdam bertolak dengan chaloup de Rooden Haan dan de Eendracht dengan dua kora-kora melintasi Pulau Sulu, Gapi dan Banggai ke Manado dimana ia bergabung dengan Padtbrugge yang memimpin kapal Vliegende Swaan dan chaloup Terlucco.

Di Manado tanggal 16 Oktober telah berkumpul raja-raja lain. Dalam pertemuan bersama Padtbrugge dan Sultan Ternate, mereka menyampaikan berbagai tuntutan. Oleh Raja Bolaang, Raja Siau dituntut penggantian budak saudara perempuannya yang meninggal di Siau. Raja Kaidipang restitusi bagi putrinya yang menurutnya diperlakukan tidak baik oleh Raja Siau. Raja Taywila Intji Mannes suami Ratu Bolaang Itang menuntut perkara pembunuhan Raja Taywila sebelumnya. Tabukan untuk atas nama D’Arras menuntut pengembalian semua orang, budak dan teman-temannya yang bersamanya ketika masih jadi Jogugu, mengganti bila budak telah mati, begitu pun penggunaan lahannya diganti, selain itu pemulihan jabatan dan martabatnya. Sedangkan Raja Taruna menuntut pengembalian budak dan penduduknya .

Perang diputuskan hari itu, dan pernyataan perang yang ditujukan kepada Kapten Spanyol langsung dibawa oleh Sersan Hendrik Muschke.

Kapal-kapal bertolak dari Manado 22 Oktober dan pada sore harinya telah tiba di sudut selatan dari Pulau Pondang yang berada di sebelah timur Siau.

Manila di saat terakhir mengupayakan bantuan tentara bagi Siau. Namun pasukan yang dipimpin seorang kapten itu tidak berani meneruskan perjalanannya dari Zamboanga, mengetahui Siau telah dikepung armada Ternate dan Belanda.

Meski di belakang layar, Gubernur Patdbrugge memimpin sendiri ekspedisi. Selain kapal VOC, armada diperkuat 25 kora-kora dari Banggai, 23 kora-kora dari Ternate dan Xula, 1 kora-kora dari Tagulandang (kemudian bertambah 2 lagi). Kora-kora Raja Bolaang Loloda datang dalam iringan 7 kora-kora bersama Ternate yang mengerahkan 1.180 prajurit di bawah Kapitein Laut Rheti. Bolaang mengirim lagi 1 gilala (galai kecil). Kemudian Raja Kaidipang dan Gorontalo dengan 180 prajurit serta1 kora-kora dari Limboto. Termasuk dari Tabukan, Taruna dan Kandhar (Kendahe). Selain itu Ternate masih dibantu pasukan bantuan dari daerah taklukannya di Sulawesi Tenggara Tambuku dan Lohia di bawah Kapitein Baccary. 

Tidak diketahui pasti jumlah prajurit dari Sangihe yang terlibat dalam ekspedisi. Spanyol sendiri mencatat Belanda dan Ternate mengerahkan 2 galeon, 4 charivas, 4 pataches dan 30 kora-kora.

Robertus Padtbrugge, tokoh utama aneksasi Siau meraih gelar doktor dalam kedokteran tahun1663 di Leiden. Ia bekerja di dinas Kompeni Belanda, memulai di Basra (Iran) 1667 sebagai Koopman, lalu Opperkoopman 1670 di Ceylon (Srilanka) dan misi ke Muscat (Oman) 1672. Ia diangkat menjadi Gubernur Maluku di Ternate tahun 1676 (kelak 1680 merangkap di Banda dan 1682-1687 Gubernur Ambon).

DETIK-DETIK MENENTUKAN
Hari Sabtu tanggal 23 Oktober 1677, armada menuju negeri Ulu dengan benteng Spanyol Santa Rosa berada. Kapal dan kora-kora memblokade Ulu dari jarak 2 mil dari daratan, dengan tembakan pembuka dari meriam.

Guru Don Juan de Leon, murid Pater Emmanuel Espanol yang mengerti bahasa Spanyol dari kapal Terlucco dikirim ke darat mengumumkan kedatangan mereka kepada Kapten Spanyol dengan membawa surat dan hadiah dari Padtbrugge.

Tapi ditunggu sekian lama, utusan tidak kembali lagi. Padtbrugge mengirim kembali surat kepada Kapten Spanyol disertai anggur dan daging ham yang diberikan pula untuk Pater Espanol.

Utusan terakhir yakni kapten kapal de Vliegende Swaan Jan van der Wal, Boekhouder Cornelis Ringerijk dan Asisten Paulus Harcxe kembali dengan cerita bagaimana sang Kapten Spanyol mengamuk tapi panik ketika membaca dan menafsirkan surat Padtbrugge, sementara Pater Espanol tidak berbicara.

Kepada mereka, Kapten Spanyol menegas akan mempertahankan benteng Santa Rosa bersama 17 orang Portugis lainnya. Ia tidak menginginkan orang Ternate menjadi tuan di Siau. Harxce mengatas namakan Raja Amsterdam, meminta Kapten Spanyol menyerah mengingat perjanjian damai antara Spanyol dan Belanda.

Malam hari datang Juan de  Leon membawa protes dalam bahasa Spanyol dari kapten.

Meriam dari kapal kembali ditembakkan Minggu 24 Oktober di dekat gereja ketika berlangsung ibadah, sehingga menimbulkan ketakutan penduduk. Pendaratan dengan perahu bersenjata mulai dilakukan. Kapten kembali melakukan protes. Siang hari terjadi kebakaran dan karena angin kencang membakar gereja dan pastori.

Kamis 26 Oktober, dilakukan penembakan meriam lagi. Sekitar tengah hari guru de Leon muncul untuk kedua kalinya hari itu, meminta kedatangan ke pantai dengan tongkang untuk berbicara dengan Kapten Spanyol. Namun, tidak ada pertemuan, bahkan sang guru dilarang kapten untuk datang ke kapal.

Karena Spanyol tidak menginginkan mediasi. Padtbrugge dan Sultan Amsterdam memutuskan menurunkan 2 pengikut Jeronimo d’Arras ke darat. Kemudian d’Arras sendiri dengan pengikutnya mendarat dan terlibat pertempuran dengan prajurit raja yang dipimpin saudaranya Kapitein Laut Santiago Manumpil.

Jumat 29 Oktober, terjadi aktivitas Gunung Awu (Gunung Api) dengan lontaran material debu, sehingga kapal-kapal jadi berselimut abu.

Pendaratan di darat dilakukan pada hari Sabtu tanggal 30 Oktober. Jeronimo d’Arras menjadi pelopor dengan 10 atau 12 pengikutnya melompat ke darat di bawah lindungan tembakan dari kapal Rooden Haan, kemudian diikuti prajurit Ternate. Meriam dari benteng Santa Rosa membalas menembak Rooden Haan yang mendaratkan pasukan di darat.

Prajurit Kaidipang, Bolango dan Gorontalo dikejutkan serangan orang Siau sehingga lari kembali ke kapalnya.

D’Arras dengan sedikit pengikutnya bertempur gagah berani. Demikian pula dengan Sadaha tua Calamata dari Banggay, Majuda dan Kapitein Laut Rheti terlibat pertempuran seru, sementara Raja Amsterdam dan saudaranya Kapitein Djena (Rotterdam) menyaksikan pertempuran yang berlangsung dari kejauhan.

Banyak orang yang tewas dan terluka di kedua belah pihak. Perang baru berakhir ketika malam tiba, dimana pihak Ternate membuat barikade kuat.

Minggu 31 Oktober, tidak terjadi pertempuran, namun Raja Amsterdam terus menembakkan meriam 6 pon hingga sore hari. Para mantri Tagulandang yang disertai raja muda mengutarakan keprihatinannya dengan Siau, dan meminta izin Gubernur dengan salah satu kapalnya untuk pergi ke Pehe di pantai barat Siau, yang menjadi tempat tinggal Raja Francisco untuk mencoba membujuk dengan cara lembut, serta membawa jaminan dan ‘itikad baik’ Padtbrugge untuk melindungi Siau.

Padtbrugge melihat ketakutan besar di kalangan Siau karena Ternate. Ini pun menyebabkan keengganan dari prajurit Binangkal, Gorontalo dan Limboto, apalagi Bolaang yang dipimpin Pangeran Makarompis saudara Raja Loloda untuk berperang di bawah Ternate.

Raja Amsterdam telah menunjuk Kapitein Laut Rheti untuk memimpin penyerbuan esok paginya. Malam itu justru para prajurit Kaidipang, Gorontalo, Limboto dan Bolaang tidur dengan nyenyak setelah minum-minum dan tanpa penjagaan. Bahkan di kora-koranya mereka memakai bendera putih serta pakaian pun sama putih.

Hari Senin tanggal 1 November, armada diperkuat chaloup Terlucco yang baru kembali dari Sangihe.

Sekitar jam sepuluh, dengan dentuman meriam, pertempuran kembali terjadi antara Siau dengan Ternate yang berlangsung selama satu jam penuh. Kemudian berulang lagi selama satu jam lebih, dimana banyak jatuh korban di pihak Ternate, termasuk Sadaha yang terluka dan kemudian meninggal esoknya. Kapitein Laut Rheti sempat terdesak dan lari karena keperwiraan prajurit Siau.

Namun kemudian orang-orang Siau terpukul mundur, apalagi pasukan Ternate dibantu granat, meriam dan tembakan kanon dari Raja Amsterdam dan dari kapal-kapal di lepas pantai.

Meski membekali diri dengan banyak senapan, prajurit Gorontalo, Limboto, Bolaang dan Kaidipang tidak banyak menggunakannya. Namun dalam serangan terakhir, andil mereka telah mendorong Ternate memenangkan pertempuran. Di pihak Ternate jatuh korban jiwa 9 orang dan 23 terluka.

Akhirnya sore hari sekitar pukul tiga, dua bendera putih dikibarkan dari pihak benteng Santa Rosa. Padtbrugge segera mengirim tongkang dengan bendera perdamaian, sambil meminta Raja Amsterdam menghentikan tembakan ke pihak Spanyol. Tiga tentara Spanyol mendatangi kapal Padtbrugge membicarakan penyerahan benteng, sambil meminta perlindungan Kompeni.

Kapten Serrano datang dengan tongkang tersebut dan resmi menyerah. Ia meminta orang-orang Siau tidak di bawah Ternate, tapi berada di bawah Kompeni, selain perlindungan terhadap para padri, sehingga juga Raja Siau akan puas dan rela di bawah Kompeni.

Kendati demikian penjarahan serta pembakaran tetap berlangsung.



1. Gubernur Robertus Padtbrugge membuat solusi pembagian kekuasaan di Manganitu dengan kontrak 10 Desember 1677. Don Carlos Piantay menjadi Pangeran dan Kepala Kaum Kristen di Cajuris, dan Raja Martin Takineta sebagai pemimpin kaum Islam (kelak masuk Kristen).
2. Menurut tradisi memakai nama Marcus Vasco da Gama. Namun ketika Kaicil Garuda sekeluarga dibaptis Ds.Zacharias Caheing 2 Desember 1677, ia memilih nama Franciscus (Francisco), diakuinya kepada Padtbrugge, seperti nama ayahnya ketika dibaptis Kristen Katolik dulu. Dalam kontrak dengan Padtbrugge, Raja Garuda memakai nama Francisco Maccarompus atau Macarompo, tapi lebih dikenal Makaampo.
3. Jose Miguel Herrera Reviriego menyebut putri Raja Tabukan kawin dengan Sultan Mandarsyah, dan perkawinannya dengan Raja Francisco terjadi sebelum aneksasi Siau, dimana Raja Francisco menuntut sang putri masuk Kristen. Namun dari Jurnal Padtbrugge, ia dijodohkan dengan Sultan Amsterdam, dan perkawinan dengan Raja Siau baru terjadi setelahnya. Padtbrugge sendiri ketika berkunjung ke Tabukan menyerahkan mas kawin titipan dari Raja Francisco.
4. Menurut H.de la Costa, Raja Francisco Xavier tercatat sebagai alumnus non-Spanyol dari Colegio Jesuit bergengsi San Jose (San Joseph) Manila tahun 1672. Ia datang ke Manila masih sebagai putra mahkota untuk bersekolah di Colegio San Jose, dan kembali setelah menyelesaikan pendidikannya bersama Padri Miedes dan Cebreros yang cuti pendek. Ia kemudian menggantikan ayahnya, dan mengirim adiknya yang akan menggantikannya sesuai hukum Siau untuk menerima pendidikan di perguruan tinggi sama.
5. Padri Fray Juan de la Conception dan Padri Pedro Murillo Velarde menyebut audiensi Raja Francisco Xavier dengan Gubernur Manuel de Leon berlangsung tahun 1670. Sementara Manuel Artigas menyebut tentara yang diberikan Gubernur kepada Raja Fransisco Xavier sebanyak 14 orang.
6. Kastilia atau Spanyol di Jurnal Padtbrugge, justru dikambinghitamkan sebagai musuh besar dalam aneksasi Siau, meski sebenarnya hanya terdiri 17 orang.


*).Foto koleksi KITLV.


LITERATUR
Artigas y Cuerva, Manuel, Historia de Filipinas, Manila 1916. Internet Archief.
Chijs, Mr.J.A.van der, Dagh-register gehouden int Casteel Batavia aano 1664, 1893.
Chirino, Padre (Pedro) Labor Evangelica Ministerios Apostolicos,  Madrid 1660. Google Books.
de la Conception, Padre Fr.Juan, Historia General de Philipinas, tomo VII,1789. Google Books.
de la Costa SJ, H. The Jesuits in the Philipines 1581-1768, Harvard University Press, Cambridge Massachusetts,1961. Google Books.
Het Journal van Padtbrugge’s Reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden (16 Aug-23 Dec.1677), Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, tweede deel, ‘s Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1867.
Miguel Herrera Reviriego, Jose, Manila y Filipinas en el mundo interconectado de la segunda mitad del siglo XVII. www.academia.edu.
Murillo Velarde, P. Pedro, Historia de la Provincia de Philipinas de la Compania de Jesus, segunda parte 1616-1716, Manila 1749. Internet Archief.
Van der Aa, Robide, De Vermeestering van Siau door de Oost-Indische Compagnie, Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Nederlandsche Indie, tweede deel, ‘s Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1867.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.