Jumat, 19 Oktober 2018

Kerajaan Siau Tempo Dulu (5).
Raja Francisco yang Tampan





                                    Oleh Adrianus Kojongian




 
Kora-kora Sultan Ternate. *)





Raja Siau Don Francisco Xavier setelah mendapat jaminan keselamatan dan perlindungan Padtbrugge, terutama tidak diserahkan kepada Sultan Ternate, akhirnya bersedia bertemu dengan Gubernur Belanda Robertus Padtbrugge.

Hari Selasa tanggal 2 November 1677 dengan diantar penerjemah Hendrik Cors (sebelumnya bernama Henrico Parera) ia datang dari kediamannya di Pehe yang berada di pantai barat Siau. Ia menemui Padtbruge di atas kapal komando de Vliegende Swaan. Ia disambut selayaknya raja oleh barisan kehormatan pasukan Kompeni.

Padtbrugge menggambarkan, sang raja agak takut untuk sementara waktu. Penuh emosi tapi ketakutan. Mengatakan kepadanya sangat sakit dan merasa tidak nyaman dengan kapal. Tapi, kemudian ia mendapat keberanian serta wajahnya menjadi cerah setelah meminum 3 sampai 4 gelas anggur rum.

Raja Don Francisco Xavier, menurutnya, berkulit sangat putih, agak pendek, berusia sekitar dua puluh dua tahun, seorang pria yang tampan seperti ‘orang melukis.’ Ia pun tampak memiliki keberanian seorang pria, tenang dalam esensi dan alasan, serta sangat maskulin. 1

Semua permintaannya berada di bawah Kompeni, perlindungan dan tidak ada Ternate diizinkan Padtbrugge.

Untuk menepis keraguan Raja Siau, Padtbrugge mengirim Asistennya Paulus Harcxe kepada Raja Amsterdam meminta titah dari Sultan Ternate itu. Sore hari Harcxe kembali dengan membawa akta dalam bahasa Arab dan Melayu yang berisikan penyerahan Siau dari Ternate kepada Kompeni Belanda. Upaya Pater Carol Torcotti dan Manuel Espanol untuk menemani raja selama pembicaraan tersebut ditolak mentah-mentah Patdbrugge, sehingga Espanol sangat marah.

Raja Amsterdam kemudian datang. Kedua musuh tersebut bersalaman, dan akhirnya setelah meminum beberapa gelas anggur, mereka berbicara akrab dan berpelukan bersama.

Raja Amsterdam telah menamai benteng Spanyol di Ulu dengan nama Maetsuyker, mengganti nama Santa Rosa. Joan Maetsuyker adalah Gubernur Jenderal VOC ketika itu.

Saat berpisah dan kembali ke darat, Raja Don Francisco Xavier merasa bingung, ketika Padtbrugge memberikan tanda persahabatan dan kehormatan berupa 1 alegia dari perak, 1 selimut dari Surat, 1 bethiles warna biru, topi hitam dan 1 bethiles warna merah.

Untuk tiga orang saudara raja masing-masing memperoleh 2 bethiles warna biru. Sementara mantri (rijksgrooten) yakni Jogugu (Thomas Mahonis) dua salpicados dan 1 bethiles merah. Dua orang Hukum menerima 1 bethiles biru, Kapitein Laut salpicados, dan Kapitein Laut kedua berupa topi.

Mengunjuk perhatian dan rasa perduli, Raja Amsterdam ikut meminta satu bethiles putih. Ia kemudian memberikannya pada Raja Siau sebagai ‘murni dari hati dan kasih sayangnya.’

KONTRAK
Perjanjian perdamaian berisi 7 pasal diteken di tenda lapangan Ulu hari Senin tanggal 8 November 1677, dihadiri kemudian ditandatangani bersama oleh Raja Taruna Don Martin Tatandam, Raja Bolaang (mengatasnamakan Manado) Loloda (Mokoagow) dan Raja Kaidipang Binankal (Maurits).

Raja Francisco Xavier memakai nama Francisco Batahe. Sementara mantrinya yang ikut bertanda adalah Jogugu Don Thomas (Mohonis), Kapitein Laut Juan Nauchas, Kapitein Laut Don St.Jago, Hukum Don Pedro (di kontrak besoknya bernama lengkap Pedro Laomba) serta Sangaji Don Vincent (di kontrak berikutnya bernama lengkap Vincent Gamulala dan telah berpangkat Hukum).

Perjanjian tidak melibatkan Raja Tabukan Kaicil Garuda dan Raja Taywila Intji Mannes yang telah hadir bersama Pangeran dari Gorontalo, Limboto dan mantri Tagulandang.

Kepada Raja Amsterdam, Siau berjanji membayar sebagai denda dan ‘pelanggaran kejahatannya kepada Ternate’ 500 porselin, 50 bilah pedang, 50 gong, 50 musket, 50 kati emas, 50 budak dan 1 kora-kora.

Raja dan mantri Siau berjanji akan menyerahkan semua orang Ternate yang telah datang kepadanya baik orang bebas atau budak.

Demikian pula pengembalian orang-orang dari Manganitu yang telah melarikan diri ke Saluran di Tabukan lalu pindah di Tamako, sekitar 1.500 jiwa (sebagian diantaranya telah menjadi warga dari Don Carlos Piantay yang bersaingan dengan Raja Manganitu Don Martin Takinita).  

Jeronimo d’Arras oleh Raja dan mantri dipulihkan jabatan dan otoritas sebelumnya, harus dihormati dan melihatnya sebagai Jogugu kerajaan.

Raja pun secepatnya mengembalikan kepada Raja Kaidipang miliknya anak perempuan dan ibunya begitu perjanjian ditandatangani (yang kemudian dijemput Raja Binangkal di Pehe). Demikian dengan pengembalian penduduk dan budak dari Taruna yang diserbu di masa silam. Untuk tuntutan Raja Bolaang, dikembalikan budak dan milik saudara perempuannya yang meninggal.

Khusus hubungan antara Kompeni Belanda dengan Siau diatur dalam kontrak politik yang diteken Selasa sore esok harinya (9 November 1677) di atas kapal de Vliegende Swaan yang merapat di benteng Maetsuyker. Raja Siau (dengan nama pula Francisco Batahe) bersama 5 mantrinya terdahulu ditambah d’Arras dalam posisi baru sebagai Jogugu pertama. Sementara Padtbrugge mewakili Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker.

Klausal utama verbond berisi 16 pasal ini, adalah Siau sebagai milik Kompeni, tapi dikembalikan kepada raja sebagai pinjaman. Kemudian tidak mentolerir agama selain Protestan yang direformasi menurut doktrin Sinode Dordrecht. Meski Katolik masih ditoleransi; namun semua simbol-simbolnya dihilangkan. Raja dan mantri harus membantu usaha pendeta dan guru yang akan ditempatkan untuk ‘mempromosikan agama Kristen yang sejati.’

Raja dan mantri Siau tidak menerima Spanyol, Portugis, Perancis, Inggris, Denmark dan Swedia.

Selain itu, semua pohon cengkih di Siau, termasuk di Pulau Kabaruan dan Talaud harus ditebang. Permohonan Raja Francisco untuk memanennya lebih dulu ditolak dengan tegas oleh Padtbrugge.

Raja Siau pun masih diminta untuk mengembalikan pelarian dari Taruna yang berlindung pada Pacarilla, saudara Raja Martin Tatandam di Tamako.

Ikut meneken kontrak tersebut Raja Taruna Don Martin Tatandam dan putra Raja Tabukan Beta Lalero (kemudian 2 Desember 1677 dibaptis bernama Marcus, dan bernama lengkap Jacobus Marcus Lalero).

Raja Amsterdam dengan pasukannya bertolak meninggalkan Ulu hari Kamis 11 November. Ia berpisah dengan Raja Siau dengan pelukan hangat. Raja Amsterdam berharap keselamatan dan berkah luar biasa dalam pernikahannya dengan putri Tabukan bekas istrinya. 2

Gubernur Padtbrugge pada 13 November menyerahkan kembali pada Raja Siau hadiah berupa 4 parcalla putih, 4 bethiles berwarna putih coklat biru, dan 4 chiavon.

Orang-orang Spanyol diangkut ke Batavia melalui Ternate. Tahun 1680 dikirim ke Makau, koloni Portugis di Tiongkok. Dua padri diantaranya dibawa ke Manila oleh Antonio Nieto tahun 1681. Namun, missive Gubernur Jenderal Rijcklof van Goens 21 Desember 1678 mencatat Kapten Andreas Serrano meninggal karena sakit di Ternate 7 Desember, sementara Pater Emmanuel Espanol, Jeronimo de Cebreros dan Carlos Torcotti pada 9 Mei dari Manado dikirim ke Simuay di Mindanau.

Jeronimo d’Arras menjadi Jogugu pertama berkedudukan di Ulu, sementara Thomas Mahonis sebagai Jogugu kedua bertempat di Pehe.

Di Siau, Padtbrugge menempatkan pasukan pendudukan terdiri 1 konstapel, 2 kopral dan 8 serdadu.

Tahun 1682 Belanda membangun benteng baru di Ulu yang diberi nama Doornenburg di bawah komandan Kopral Frans Jacobs dengan kekuatan 21 serdadu. Missive Gubernur Jenderal Cornelis Speelman 19 Maret 1683 menyebut dilakukan perbaikan penjara dan serdadunya dikurangi, tinggal 11 dan terakhir 10 orang (sejak tahun 1691 pos dipimpin Sersan Leendert Hendriksz sampai pasukan pendudukan ditarik 1696). Benteng tersebut dibangun di atas bekas benteng Maetsuyker yang sebelumnya bernama Santa Rosa.

TURUN TAHTA
Resolusi dari Kastil Orange Ternate 20 September 1679 mencatat pengunduran diri Raja Siau, sebagai ‘bentuk penebusan dosanya’. Namun, sumber-sumber Spanyol mencatat ia sengaja diturunkan dari tahtanya. 3

Adiknya diangkat menjadi raja Siau yang baru, meski Don Francisco Xavier Batahi tetap berkuasa di belakang layar.

Tradisi Siau mencatat Monasehiwu anak Don Francisco yang menggantikannya. 4

Tapi, dari missive Gubernur Jenderal VOC saat itu, pengganti Don Francisco Xavier adalah salah satu dari 3 orang adiknya.

Siapa adiknya yang menjadi raja masih misteri. Tapi Pedro Murillo Velarde menyebut nama Pedro Decolivan sebagai prinsipal Siau di tahun 1689.

Don Francisco Xavier, diberhentikan karena upayanya untuk meminta bantuan dari Spanyol. Kegiatannya terus dimata-matai komandan benteng Maetsuyker dan sampai meninggalnya di tahun 1687, ia berupaya mengirimkan duta ke penguasa Spanyol di Manila.

Gubernur Jenderal Johannes Camphuys 23 Desember 1687 mencatat kematian bekas Raja Siau, sehingga saudaranya yang menjadi raja merasa ajalnya pun sudah dekat. Dalam pertemuan dengan para mantrinya, ia dinasihati untuk tetap setia kepada Kompeni dan Kekristenan.

Disebut Camphuys pula kalau putra raja berusia 9 tahun (kelahiran tahun 1678) dibesarkan di kalangan orang Belanda di Ternate, yang menyebabkan ketidaksenangan Raja Amsterdam. Ia dikostkan di rumah Gubernur Maluku Johannes Cops (memerintah 1689-1692) di kompleks Malayu.

Spanyol sendiri menyesali jatuhnya Siau ke tangan Belanda. Penguasa Spanyol di Filipina menganggap Siau dan rajanya sebagai bagian Spanyol. Gubernur Juan de Vargas y Hurtado (dokumen Belanda mencatat sebagai A.de Vergas Urtado) memprotes kepada Hooge Regering (pemerintah tinggi) VOC di Batavia 10 Januari 1679 yang diulang tahun 1680. Ia memasalahkan ‘penghapusan’ garnisunnya dan spiritual mereka (Katolik) dari Siau, juga kekerasan dan penahanan yang dilakukan Gubernur Maluku (terhadap para padri). Ia meminta pengembalian pulau tersebut, memulihkan garnisunnya dan garnisun Kompeni pergi dari Siau.

Namun, pemerintah tinggi Kompeni menjawab dengan dramatis. Dengan surat resminya ke Ternate 17 Januari 1680, sisa-sisa Spanyol di Siau dilarang. Penduduk Siau diminta tidak perlu lagi berbicara bahasa Spanyol. Begitu pun nama-nama Spanyol agar diganti.

Tuntutan penguasa Spanyol di Manila atas Siau dan penghukuman bagi orang Belanda yang bersalah masih dibawa ke Raja Spanyol Carlos II dan pengadilan banding (Real Audiencia) Spanyol di tahun 1681.

DUTA TERAKHIR
Upaya Siau paling akhir untuk berhubungan dengan Spanyol terjadi tahun 1689 ketika Manila sedang mempersiapkan pelantikan Gubernur baru Don Fausto Cruzat y Gongora yang telah ditunjuk sejak 31 Januari 1686, tapi baru resmi menjabat 25 Juli 1690 dengan menggantikan gubernur interim Alonso de Avila Fuertas.

Tanggal 17 Oktobert 1689 prinsipal Siau bernama Pedro Decolivan (sumber lain sebagai utusannya) dengan kapal kecil tiba di Iloilo (Pulau Panay) dengan tujuan meminta Gubernur Filipina membebaskan mereka dari kuk Belanda.

Decolivan dan rombongannya semua orang Kristen, datang ke Filipina pada bulan Agustus dengan dalih akan pergi ke benteng Belanda Malayu di Ternate untuk menghindari kecurigaan. Mereka berhasil mencapai Pulau Mindanau, di Ligan (Iligan), lalu ke Dapitan kemudian menyeberang ke Iloilo yang berada di Pulau Panay.

Dalam perjalanan, mereka berdoa Rosario setiap hari. Mereka pun bernasar menghadiri Misa di kota Kristen pertama yang ditemui (Dapitan) karena Tuhan membantu mereka dalam perjalanan yang sulit dan berbahaya, serta mempersembahkan sedikit uang yang mereka bawa.

Setelah sampai di Dapitan, mereka memutuskan pergi ke Iloilo untuk mencari Padri Jesuit Jeronimo Cebreros yang pernah bekerja di Siau sampai tahun 1677 (Cebreros meninggal di Manila Agustus 1713). 

Sumber Spanyol lain mengungkap yang datang adalah orang-orang utusan Raja Siau. 

Dari Iloilo mereka ke Manila bertemu dengan anggota sementara Audiencia yang berkuasa di Filipina. Selama pembicaraan, para utusan mengatakan Belanda telah memotong semua pohon cengkih mereka, membangun sebuah benteng di Santa Rosa dan Belanda berusaha memperluas ajaran Calvinisme di Siau.

Jadi, orang-orang Siau meminta diizinkan kembali berada di bawah perlindungan Spanyol. Mereka menyatakan bahwa raja yang baru mau pun penduduk Siau (dan Sangihe) akan mendukung mereka dengan suara bulat ketika mereka pulang.

Mereka pun yakin, apabila orang Spanyol memutuskan untuk kembali ke Siau, maka para prajurit Kompeni Belanda di pulaunya tidak punya pilihan lain untuk pergi selamanya. 

Menurut para utusan, mereka dikirim raja lama yang sebelum kematiannya telah memerintahkan semua kepala Siau untuk menghubungi Spanyol. Bahwa dia (raja lama) belum pernah melakukannya meski sangat diinginkannya selama tiga tahun terakhir, disebabkan penentangan seorang kepala yang mengembik orang-orang Belanda yang terus memata-matai semua gerakannya dan menuduhnya berupaya mendekati Spanyol yang dicintainya. 

Para utusan menjelaskan bahwa jika Spanyol kembali, mereka akan mengiringnya, dan Siau siap bergabung dengan Spanyol dengan segenap kekuatan mereka untuk mengusir Belanda. 

Namun, ambisi ekspansi Spanyol di Siau yang didukung padri Jesuit bertolak belakang dengan pendapat Fausto Cruzat y Gongora. Gubernur baru itu sejak awal menentang untuk melakukan tindakan eksternal apapun, sementara Manila, menurutnya, tidak memiliki kendali penuh atas wilayah yang termasuk dalam provinsinya. 

Kepala dimaksud utusan tersebut, Jogugu d’Arras sangat berkuasa di masa pemerintahan Gubernur Padtbrugge. Ia ikut menyertai ekpedisi terakhir Padtbrugge (21 Oktober 1680-11 Agustus 1681) dengan kapal ‘t Wapen van Middelburgh hingga ke Bwool, Toli-Toli dan Gorontalo.

Raja Siau menurut Valentijn banyak berselisih dengan Jeronimo d’ Arras. Ketika Padtbrugge diganti Gubernur baru Jacob Lobs tahun 1682, Raja menggunakan kesempatan memberhentikannya. Tapi, masih masa Lobs sebagai Gubernur Maluku, Gubernur Jenderal Cornelis Speelman 19 Maret 1683 mencatat raja mengangkat kembali d’Arras sebagai Jogugu.

Tahun 1688 raja kembali berhasil menyingkirkannya. Menurut surat Gubernur Jenderal Johannes Camphuys 30 Desember 1689, Jogugu d’Arras dari Siau (bersama Jogugu Taruna Philip Datunseka, bekas Raja Saban) oleh Gubernur Johan Henrik Thim ditahan dan dengan dirantai dibawa ke Batavia dan kemudian dibuang ke Pulau Obi di Halmahera Selatan (Datunseka di Ceylon).

Namun dari berita Camphuys 14 Maret 1690, diungkap perintah pemulangan d Arras ke Siau kembali.




1. Gubernur Jenderal Rijcklof van Goens 13 Februari 1679 menulis Raja Siau sebagai seorang pemuda.
2. Putri Raja Tabukan Kaicil Garuda (Burudao) menurut tradisi bernama Maimuna. Dikawinkan dengan Sultan Ternate Kaicil Sibori (Amsterdam), tapi tahun 1675 dikirim kembali ke ayahnya, beralasan tidak diterima di Ternate. Alasan lain yang dikemukakan Sultan Amsterdam, sang putri ingin pulang kembali dan ia tidak mampu menahannya. Namun Raja Tabukan merasa sangat terhina dan ingin mengenal agama Kristen serta menjodohkannya dengan Raja Siau musuh utama Ternate. Maka kesempatan Padtbrugge datang, ia menjelaskan Tabukan bukan milik Ternate dan ingin berada di bawah perlindungan Kompeni Belanda. Tanggal 2 Desember 1677 Raja sekeluarga dibaptis Kristen Protestan oleh Pdt.Zacharias Caheyng di Tabukan dengan Padtbruge dan Raja Taruna Don Martin Tatandam --yang sebenarnya ingin dikawinkan oleh Sultan Amsterdam-- menjadi saksi atau ayah baptis. Raja memakai nama seperti ayahnya dulu Franciscus (tradisi menyebut ayahnya Marcus Vasco da Gama) dan 3 putranya bernama Mattheus, Marcus dan Martinus. Ratu memakai nama Maria, kedua putri Catharina dan Anna, sementara menantunya Susanna (istri putra kedua). Maimuna kuat dugaan adalah putri keduayang mendapat nama baptis Anna. Tokoh adat dan budayawan Siau Micojan Bawuna menyebut istri Batahi bernama Dona Anastasya, ibu dari Monasehiwu.
3. Resolusi menyebut pengunduran dirinya bersama Raja Tabukan dan Tagulandang. Namun Raja Tabukan ternyata tidak mengundurkan diri. Surat Gubernur Jenderal Cornelis Speelman 10 Maret 1683 menjelaskan Raja Fransiscus Makaampo meninggal dan digantikan putra keduanya Jacobus Marcus Lalero. Sementara Raja Tagulandang Philip Anthoniszoon baru meninggal 14 Maret 1715. Valentijn dalam bukunya menyebut bahwa raja yang ada di sini (Siau) sebelum tahun 1689 bernama Francisco Xavier. Gubernur Jenderal Speelman 19 Maret 1683 juga menulis Raja Siau yang berayah mantukan Raja Tabukan.
4. Berdasar missive para Gubernur Jenderal, 3 putra Raja Francisco Xavier yang kemudian memerintah setelah adiknya adalah Jacobus Xavier, David Munasa alias Xavier dan Jacobus Raramo yang dalam tradisi Siau dikenal sebagai Raramenusa. Kalau Monasehiwu adalah putra Francisco Xavier, maka jelas dialah David Munasa dalam laporan Belanda.


*). Lukisan dari buku Valentijn.


LITERATUR
Artigas y Cuerva, Manuel, Historia de Filipinas, Manila 1916. Internet Archief.
Coolhaas, Dr.W.Ph. Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel III, 1656-1674, deel IV 1675-1685,dan deel V 1686-1697.
de la Costa SJ, H. The Jesuits in the Philipines 1581-1768, Harvard University Press, Cambridge Massachusetts,1961. Google Books.
Heeres, Mr.J.E. dan Dr.F.W.Stapel, Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, derde deel (1676-1691),  Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 91, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1934.
Het Journal van Padtbrugge’s Reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden (16 Aug-23 Dec.1677), Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Nederlandsche Indie, tweede deel, ‘s Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1867.
Klerk, R.de, J.E.Mijlendonk dan W.A.Alting, Rapport over ‘s Compagnie regt op de Groote-Oost.
Miguel Herrera Reviriego, Jose, Manila y Filipinas en el mundo interconectado de la segunda mitad del siglo XVII. www.academia.edu.
Murillo Velarde, P.Pedro, Historia de la Provincia de Philipinas de la Compania de Jesus, segunda parte 1616-1716, 1749, Internet Archief..
TANAP Ternate.
Valentijn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, Dordrecht-Amsterdam 1724
Van der Aa, Robide, De Vermeestering van Siau door de Oost-Indische Compagnie, Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Nederlandsche Indie, tweede deel, ‘s Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1867

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.