Selasa, 09 Oktober 2018

Kerajaan Siau Tempo Dulu (2).
Pembuangan di Pulau Ai










                                   Oleh: Adrianus Kojongian






Kora-kora Maluku. *)






Lepas dari sumpah setianya kepada Spanyol, Raja Don Jeronimo (II) kembali berpaling kepada Portugis. Tahun 1601 ia pergi ke Tidore meminta bantuan Komandan Portugis di Tidore Rui Gonzales de Segueira untuk menghadapi ancaman Sultan Said Barakat dari Ternate dan Belanda. Belanda telah menjadi kekuatan maritim baru di Indonesia Timur, apalagi setelah kongsi dagang Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau dikenal pula dengan nama Kompeni Belanda berdiri tahun 1602.

Putra Don Jeronimo bernama Don Juan yang berumur 5 tahun bersama sembilan pengiringnya dipermandikan di Tidore tahun 1601 ini. 
 

Namun, harapan Don Jeronimo kembali sia-sia. Portugis mengalami kekalahan di mana-mana. Benteng Portugis di Tidore tanggal 11 Juni 1601 mendapat serangan Laksamana Belanda Jacob Cornelisz van Nek atas permintaan Sultan Said. Segueira justru meminta bantuan Gubernur Spanyol di Manila Don Francisco de Tello de Guzman, karena bantuan yang ditunggu dari Malaka tidak pernah datang.

Tahun 1605 Portugis makin terpukul. Ambon di bulan Februari 1605 dikuasai Laksamana Steven van der Hagen, sehingga Padri Antonio Pereyra yang telah menjadi Pemimpin Misi di Ambon kembali ke Siau. Kemudian pula kekuatan Portugis di Tidore dihancurkan Cornelis Sebastiaenszoon, sehingga markas misi Maluku untuk sementara waktu dipindahkan ke Siau.

Baru tahun 1606 pengganti Tello di Filipina Don Pedro Bravo de Acuna memimpin armada besar melawan Kompeni Belanda dan Ternate. Armada de Acuna menyinggahi Siau dan menjanjikan perlindungan. Ia berhasil menduduki Ambon dan Tidore serta mengasingkan Sultan Said di Manila.

Raja Jeronimo ikut berpartisipasi dalam penaklukan tersebut. Kora-kora Siau dilaporkan telah dilengkapi dengan artileri kecil, dan di perairan Sulawesi menjadi kekuatan maritim yang utama, serta menguasai beberapa tempat di pantai utara Sulawesi.

Raja Siau dalam akta pengakuan takluk Sultan Said 10 April 1606 disebut Argensola sebagai sekutu Spanyol bersama Raja Tidore Kaicil Mole, Raja Bacan Kaicil Raxa Laudin dan Sangaji Ruy Pereira dari Labuha.¹

Spanyol menggantikan Portugis. Misi di Siau, Kolongan, Manado, Bolaang dan Kaidipang kembali berkembang. Padri Antonio Pereyra bekerja di Siau, dibantu Bruder Joao Paulo. Tahun 1606 ia membaptis Raja Tagulandang bersama putrinya. Raja yang disebut bernama Roytelet datang di Siau mengantar putrinya untuk kawin dengan Raja Siau (baca Mengenal Raja-raja Tagulandang). Seorang raja lain yang ikut dibaptis di Siau di periode ini juga adalah Raja Tolitoli Don Miguel Pololibuta.

Setelah Pereyra, kemudian bekerja di Siau Pater Ioannes (Johannis) Baptista Scalamonti Oktober 1610 yang kemudian bermisi di Manado hingga meninggal tahun 1620. Datang pula Gaspar vel Emmanuel Monteiro, tapi begitu tiba bulan November 1611, ia terkena penyakit sehingga kembali ke Ternate, dan meninggal Desember tahun yang sama. Lalu Padri Pedro (Petrus) Gomes tahun 1613.

Ternyata Spanyol hanya berjaya sementara di Maluku. Laksamana Belanda Cornelis Matelief de Jonge memulihkan supremasi Belanda. Ia membuat perjanjian dengan Sultan Modafar tanggal  26 Juni 1607 yang mengizinkan Belanda membangun benteng di Ternate yang dinamai Malayu. Kedua pihak akan saling membantu melawan Spanyol, serta Belanda memperoleh hak monopoli (octrooi) cengkih².

Siau yang berperan sebagai tempat persinggahan vital armada Spanyol dari Maluku ke Manila atau sebaliknya, dengan pelabuhan yang aman, hanya memperoleh perhatian kecil dari Gubernur Spanyol di Manila dan Ternate.

Meski memiliki benteng, tentara pendudukan Spanyol di Siau hanya beberapa gelintir, kebanyakan serdadu rekrutan orang Pampango dari Pulau Luzon Filipina.

Komandan benteng berpangkat paling tinggi sersan mayor. Kapten-kapten Spanyol yang muncul di Siau sekedar menginspeksi, lalu mengambil hasil Siau. Terutama sagu dan kebutuhan logistik lainnya. Sagu dibuat tortilla karena benteng-benteng Spanyol di Maluku kekurangan bahan makanan. Cengkih sudah ditanam di Siau, namun, tidak banyak menghasilkan.

Sejak tahun 1612 Siau terancam oleh Ternate yang membangun kekuatan di Sangihe Besar. Gubernur Maluku dari Spanyol di Ternate Don Jeronimo (Geronimo) de Silva mencatat pada Mei 1612 panglima Ternate Kaicil Ali, saudara sepupu Sultan Modafar, telah ‘merongrong’ Raja Siau untuk meninggalkan persahabatan dengan Spanyol dan bersahabat dengan Belanda.

Raja Siau menolak. Ternate, menurutnya, hanya ingin menguasai pulaunya sebagai batu loncatan untuk pergi dan datang ke Manila serta sebagai sumber memasok kebutuhan makanan dan persediaan perangnya.  

Gubernur Jeronimo de Silva khawatir Raja Siau mencari bantuan dari Raja Makassar. Maka, secepatnya ia mengirim sebuah fregat ke Siau dipimpin oleh Sersan Mayor Don Fernando Ayala.

Tapi, sebelum fregat tersebut tiba, Siau telah dikepung. Sekutu Ternate dari Pulau Miaos (Mayau), mengepung Siau untuk membantu Kaicil Ali. Ketika mendarat, mereka membakar sembilan dari sebelas tempat di Siau. Mereka pun menebang pohon buah-buahan dan cengkih serta memusnahkan ternak penduduk.

Raja Siau dengan prajurit dan armadanya berhasil menghancurkan pengepungan dan mengusir penyerbu yang lari ke Tagulandang bergabung pasukan Kaicil Ali.

Raja Don Jeronimo berupaya mendapatkan bantuan dari sekutu-sekutunya, di Tidore dan pulau lain di Maluku. Gubernur Jeronimo de Silva dalam suratnya kepada Gubernur Filipina Don Juan de Silva tahun 1613, mencatat adanya keluhan dari Raja Tidore, bagaimana dia dikepung Raja Siau yang memintanya untuk membantu dengan galai-galai. Baru tanggal 20 Oktober, Raja Siau yang disertai Kapten Gregorio de Vidana pergi dari Tidore menggunakan dua kora-kora.

Kali ini Siau mendapat perhatian besar. Selang tahun 1613, Gubernur Jeronimo de Silva mengirim ke Siau Kapten Gregorio de Vidana. Kemudian Kapten Esteban de Alcaraz dan Kapten Don Pedro Telles.

Namun pengiriman para kapten tersebut tidak membawa kemajuan apa-apa, karena hanya singkat, terutama untuk tujuan utama mengambil kebutuhan logistik.

PENDUDUKAN BELANDA
Awal tahun 1614 suasana di perairan Laut Sulawesi semakin memanas karena ancaman pasukan gabungan Ternate dan Belanda.

Gubernur Jeronimo de Silva putus asa dengan pertahanan Siau. Ia mencatat 1 Maret 1614 bantuan yang ditunggu-tunggu dari Kapten Tellez tidak pernah tiba di Siau. Ia pun tidak dapat berharap bantuan dari pasukan Kapten Sebastian Alvares Barroso. Siau sendiri hanya dipertahankan pasukan kecil di bawah Sersan Mayor Pedro Zapata, dengan 5 serdadu, padahal artileri di benteng Siau telah ditarik ke Tidore.

Awal bulan Juni 1614 tempo pasukan gabungan Belanda dan Ternate datang menyerbu, Raja Don Jeronimo yang telah berusia tua dengan ditemani putranya meninggalkan Siau. Hal yang sangat disesalinya.

Raja Don Jeronimo mengikuti galera Spanyol yang dipimpin Kapten Aguado menyerang Tagulandang yang justru mengakibatkan banyak kematian prajuritnya dan serdadu dari Spanyol sendiri.

Tagulandang menjadi musuh Siau setelah ekspedisi Kaicil Ali di Sangihe. Juga tersulut oleh peristiwa martirnya dua padri Fransiskan (Ordo Fratrum Minorum, OFM) asal Spanyol Antonio de Santa Ana dan Sebastian de San Jose di Tagulandang yang terjadi tahun 1610.

Saat Raja Jeronimo berada di Tagulandang inilah, tanggal 20 Juni 1614 Laksamana Laurens Reael dengan 3 kapal (de Roode Leeuw, de Maen dan jacht de Pauw) bersama 7 kora-kora dari Sultan Ternate di bawah Kaitjil Ali dengan mudah menaklukan Siau serta mengusir orang-orang Spanyol. Penduduk Siau tanpa rajanya menjadi kacau balau. Banyak diantaranya melarikan diri ke hutan, karena mereka tidak bisa tetap sebagai orang Kristen di bawah Ternate.

Sersan Mayor Pedro Zapata sendiri telah berangkat sebelumnya ke Tidore mengantar Padri Komisaris Fransiskan Pedro de los Cobos.

Laurens Real menempatkan Kapten Mathys sebagai komandan tentara pendudukan, tapi meninggal, digantikan Letnan Cassiopijn dengan kekuatan 30 serdadu. Jacht de Pauw ditinggalkan untuk menjaga Siau.

Gubernur Ternate Jeronimo de Silva tanggal 20 September 1614 mengungkap kedatangan Raja Siau dan putranya ke Ternate.

Raja Jeronimo sangat menyesali tindakan pasukan Aguado yang barbar di Tagulandang. Apalagi ia harus kehilangan kerajaan, reputasi dan rakyatnya di saat tidak berada di Siau. Kapalnya juga dicuri musuh, sehingga ia harus menderita, sebelum diselamatkan jacht orang Cina pelo dibawa ke Gilolo (Jailolo) yang menjadi basis Spanyol.

Target utama Dr.Laurens Reael yang menjadi Gubernur Maluku (kemudian Gubernur Jenderal VOC) adalah menyerang Spanyol di Filipina. Siau sekedar batu loncatan, sehingga mesti diamankan. Pasukan perintis dikirim dari Ternate di bawah Fiscaal Jan Lodewijk Rossingeyn dengan kapal De Arend, De Hollandsche Leeuw dan De Maen.

Tiba di Siau tanggal 15 Agustus 1614, Jan Rossingeyn segera mengangkat Raja Siau yang baru, Kaicil Kaluwan atau Kaliwen, seperti dicatat Gubernur Reael dalam resolusinya. Orang-orang Spanyol memberinya nama Duarte, sementara Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen dalam surat 13 Desember 1619 kepada Raja Siau menulisnya Duarte Pereira. Menurut laporan Belanda, orang-orang Spanyol akan membawa raja lama dan putranya ke Manila ³.
 
Kedatangan Raja Don Jeronimo dan Don Juan, putra mahkota bersama saudara lainnya di Manila adalah untuk meminta bantuan Spanyol melawan Belanda. Menurut sumber Spanyol Raja Jeronimo tiba di Manila dengan 29 orang pengikut. 
 
Namun Spanyol tidak dapat memberinya bantuan dengan segera. Kepada raja dan putranya oleh Spanyol diberi tunjangan tahunan untuk tinggal di Manila. Putra-putranya  mendapatkan pendidikan di sekolah para Jesuit.
 
Di Manila, Don Juan kawin dengan Dona Jeronimo dari Ternate yang sebelumnya menjadi istri dari seorang kepala dari Sultan Modafar. Saat berada di Ternate Dona Jeronimo telah melarikan diri ke benteng Spanyol, menjadi Katolik serta dibaptis, dan dipindahkan ke Manila karena takut akan balas dendam.
 
Selama di Filipina, Raja Siau Don Jeronimo ikut menemani Gubernur dan Kapten Jenderal Filipina Don Juan de Silva dalam ekspedisinya ke Malaka 1616, dan kemudian kembali ke Manila.
 
DITIPU
Nasib Siau diputuskan di Ternate bulan September 1615. Gubernur Jenderal Gerard Reynst dengan disposisi Raad Maluku di bawah Gubernur Dr.Reael memerintahkan pemindahan penduduk Siau ke Kepulauan Banda dengan alasan, ‘’untuk mencegahnya melayani lebih lanjut orang-orang Spanyol.’’

Penduduk Siau dianggap cocok untuk dijadikan tenaga pekerja di perkebunan pala di Kepulauan Banda. Jadi diputuskan mereka akan dibawa ke Neira (Bandaneira) dengan dilindungi benteng dan serdadu. Selain itu Reynst memerintahkan penarikan pos militer Siau yang dipertahankan 30 serdadu.

Tanggal 12 Oktober 1615 tiba di Mangnitou di sisi timur Pulau Siau kapal Old Zealand dan jacht De Arent kiriman Gubernur Reael yang bertolak dari Ternate 23 September 1615. Pemimpin misi yang dirahasiakan ini adalah Kapten Adriaan van der Dussen dan Kapten Frederick Hamel.

Penangkapan massal penduduk Siau dilakukan. Dengan dalih akan dibangun benteng dan negeri baru, maka benteng Belanda yang berada di sisi utara pulau akan dipindahkan di lokasi tersebut. Dalih ini memikat raja angkatan Belanda Duarte dan para kepala (Jogugu, Kapitein Laut, Hukum) serta mayoritas penduduk untuk naik ke kapal yang telah dijaga ketat.

Ketika semua kepala dan penduduk telah berada di kapal, mereka semua terkejut setelah mendengar bahwa atas perintah Gubernur Reael mereka akan dipindahkan.

Adriaan van der Dusen dalam laporannya kepada Bewindhebbers (para direktur) VOC 25 Juli 1616, mengisahkan kejadian berikut setelah pengumuman itu adalah sebuah tragedi. Kecemasan penduduk yang disebutnya sebagai ‘mangsa komedi kami’ tidak dapat dilukiskan. Kepanikan terjadi, dimana beberapa orang berhasil melompat ke laut dan melarikan diri dengan berenang. Kapitein Laut, ipar Raja Duarte, salah satu tokoh Siau yang berhasil melarikan diri.

Di darat, penangkapan penduduk dipimpin langsung oleh Letnan Cassiopijn dengan anak buahnya. Ia hanya berhasil menangkap 30 anak laki-laki. Banyak penduduk telah melarikan diri dan bersembunyi di hutan.

Kabar penangkapan penduduk Siau lekas tersiar. Raja Kolongan (kemudian dikenal sebagai Taruna atau Tahuna) dan Raja Manado (dalam berita Spanyol bernama Kaicil Tulo) yang menjadi sekutu Siau mencoba memberi pertolongan dengan 15 atau 16 kora-kora. Namun upaya mereka gagal.

Kapal yang mengangkut penduduk Siau secepatnya telah berlayar balik ke Benteng Malayu di Ternate. Tercatat sebanyak 446 orang Siau yang ditangkap, terdiri 244 wanita, 78 anak-anak, 30 anak muda dan 94 pria dewasa, termasuk kaum bangsawan. Salah seorang yang ikut ditangkap adalah putri Raja Jeronimo.

Upaya pelarian dicoba berkali-kali, namun banyak yang gagal, dan pelakunya di hukum berat. Ketika tiba di Ambon 26 November 1615, 45 pria dan 2 wanita mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Mereka diselamatkan di benteng Spanyol di Ternate.

Sisanya dikirim ke Pulau Ai di Kepulauan Banda (sekarang desa di Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku). Penduduk Ai banyak terbunuh atau melarikan diri, sehingga populasinya perlu diisi ulang, untuk tujuan kelangsungan budidaya pala dan fuli.

Mereka mendarat di Pulau Ai yang sebelumnya dikuasai Inggris tanggal 6 April 1616 menggunakan kapal Cheylon dan Rooden Leeuw dari Ambon dan Banda di bawah Letnan Gubernur Banda Gysbert van Vianen dalam armada 12 kapal Kompeni yang dipimpin Jan Dirksz Lam.

Selain penduduk dari Siau, terdapat 100 orang Solor (orang bebas, vrij lieden atau kemudian digolongkan orang Borgo), 26 Guserat (tahanan dari India), 38 tahanan Spanyol dan 30 Mardiker (Mardijker, bekas tahanan yang dimerdekakan).

Mereka semua bekerja paksa di perkebunan pala, diawasi dua kompeni tentara berkekuatan 154 serdadu.

Tokoh-tokoh Siauw yang berada di Banda antara lain Raja Duarte, Don Emanuel, salah satu tokoh terkemuka di Siau, Dona Isabella (saudara perempuan raja) istri Hukum yang berhasil melarikan diri di Siau, dan Quenco (kakak raja). Nenek raja sendiri meninggal ketika mereka singgah di Ambon.

Tanggal 2 Juni 1616 sebanyak 84 pekerja paksa (diantaranya 50 orang wanita dan anak-anak) kembali berhasil melarikan diri dengan menggunakan kora-kora di bawah pimpinan Quenco saudara raja, yang dibantu orang-orang Banda. Quenco sering bertindak mewakili raja berhubungan dengan orang Belanda dan kaum Mardiker, sehingga bebas bergerak di Pulau Ai.

Tapi, 35 wanita dan anak-anak serta 8 pria Siau lain berhasil ditangkap kembali bersama 13 orang Banda. Dona Isabella, dan ibunya serta 3 pejabat Siau berpangkat Sangaji ditahan karena dituduh menjadi perencana pelarian yang dibayar Dona Isabella dengan rantai emas Portugis.

Kemudian pula, lebih banyak lagi yang menghilang.

Sisa orang Siau di Banda kemudian hari banyak dipekerjakan sebagai serdadu. Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen dalam surat ke para Direktur VOC 6 Mei 1621 mencatat garnisun di Neira dan Pulau Ai di benteng Revengie (Revenge) diperkuat satu kompeni Siau berkekuatan 56 orang, dan ikut berperan dalam perebutan Pulau Run.

Selain itu, orang Siau bekerja di perk-perk perkebunan pala. Mereka tidak digolongkan sebagai kaum budak yang kemudian banyak didatangkan dari Sulawesi, Jawa dan Sumatra.

Salah seorang Siau yang kemudian terkenal di Banda bernama Philip. Ia dianggap bekerja dengan sangat baik, sehingga diangkat menjadi Kapitein orang Siau dan kaum Mardiker yang tinggal di Pulau Ai.

Namun, dari laporan Gubernur Banda Dr.Marten Sonck (Valentijn: Martyn Sonk) 23 September 1622 ia telah ditahan setelah dituduh merencanakan melarikan diri serta membantu upaya pelarian tahanan penduduk Pulau Run ke Pulau Seram yang dikuasai Inggris.

Sisa penduduk Siau di Pulau Ai anehnya di masa berikut (sejak 1634) tidak tercatatkan lagi, baik dalam laporan-laporan para penguasa di Ai dan Banda Neira. Valentijn juga tidak menyebut dalam bukunya, ketika membahas keberadaan penduduk di Kepulauan Banda. Kemungkinan besar orang Siau telah menyatu dengan penduduk setempat atau digolongkan sebagai kaum Mardiker dan Borgo. Dr.Tiele menyebut sebagian besar orang Siau berhasil melarikan diri. ***


¹.Raja Siau dalam akta tersebut menurut Argensola bernama Cachil (Kaicil) Dini. Namun, ia menyebut sebagai Raja Siam. Tiele memastikan Siam dimaksud sebagai Siau dan raja ditulisnya Kaicil Dimi. Siam (Thailand) dalam berbagai arsip Portugis banyak ditulis sebagai Siao, nama yang dipakai Spanyol untuk menyebut pulau dan kerajaan Siau pula.
².Brilman mencatat adanya invasi Laksamana Paulus van Caerden 1608 di Siau. Namun, serangan tanggal 27 Agustus 1608 dari van Caerden dengan kapal Banda dan Patane disebut bukan di Siau, tapi di Tsjau atau Tjio sebuah pulau kecil dekat pantai Gilolo (Jailolo). Setelah sukses di Tsjau, van Caerden dicegat 2 kapal Spanyol di bawah pimpinan Don Pedro de Hereda dari Ternate. Dalam pertempuran yang terjadi 17 September, ia dikalahkan dan ditawan di benteng Portugis Gamalama.
³.Tidak diketahui hubungan Duarte dan Raja Don Jeronimo. Kemungkinan kuat adalah salah satu mantri Don Jeronimo berpangkat sangaji yang hadir di Manila dan bertanda pada perjanjian dengan Gubernur Spanyol Dasmarinas 16 Agustus 1593 dengan nama Duarte. Dari nama lain yang dipakainya Kaicil Kaliwen, dapat dipastikan ia mengakui supremasi Sultan Ternate.


*).Sketsa Captain Thomas Forrest dari A Voyage to New Guinea and the Moluccas 1779.


LITERATUR
Argensola, Bartolome Leonardo de, Conquista de las Islas Malucas, Madrid 1609. Google Books.
Brilman, D. De Zending op de Sangi-en Talaud-Eilanden, 1938. Delpher Boeken.
Chirino, Padre (Pedro), Labor Evangelica Ministerios Apostolicos,  Madrid 1660. Google Books.
Coleccion de Documentos Ineditos Para la Historia de Espana, Correspondencia de Don Geronimo de Silva, Madrid,1868. Google Books.
de la Conception, Padre Fr.Juan, Historia General de Philipinas, tomo VII,1789. Google Books.
de Jonge, Jhr.Mr.J.K.J. De opkomst van het Nederlandsch Gezag in Oost-Indie (1596-1610), derde deel, 1865. Internet Archief.
De Portugezen uit de Molukken verdreven; aanhoudende schermutselingen tussen Hollanders en Spanjaarden. De Molukken, Banda, Ambon en Sarangani (1560-1640). Colonial Voyage.
Sanches Pons, Jean- Noël, Mision y Dimision, Las Molucas en el siglo XVII entre jesuitas portugueses ya espanoles.
Tiele, Dr.P.A. -De Europeers in den Maleischen Archipel,
 Acehbooks
-De opkomst van het Nederlandsch gezag in Oost-Indie, deel 1 1886; dan tweede deel 1890, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhof. Internet Archief dan Digitalisierde SSB
Valentijn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, Dordrecht-Amsterdam 1724.
Visser MSC, B.J. Onder Portugeesch-Spaansche Vlag, de Katholieke Missie van Indonesia 1511-1605, Amsterdam 1925.
         ---Onder de Compagnie, Geschiedenis der Katholieke Missie van Nedel-Indie 1606-1800, G.Kolff&Co, Batavia, 1934.
Wessels,SJ, P.Cornelio, Catalogus Patrum et Fratrum e Societate Iesu Qui in Missione Moluccana, Archivum Historicum Societatis Iesu 1, 1932.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.