.subtitle{ font-family:Trebuchet MS',Verdana,Arial,Sans-serif; font-size:15px; color: #00FFFF Aqua; line-height:20px;

Minggu, 03 Juni 2018

Bintauna, Dua Kerajaan Bersaudara




                                                 



                                                     Oleh: Adrianus Kojongian




 
Rumah di Bone --dimana Bintauna Gorontalo bergabung-- tahun 1860-an.*)





Bintauna, sebuah nama yang masih lestari pada salah satu dari enam kecamatan yang berada di Kabupaten Bolaang-Mongondow Utara, pernah terkenal sebagai satu kerajaan. Meski digolongkan mini dibanding lima kerajaan lain yang pernah ada di wilayah Bolaang-Mongondow, namun  --seperti Bolaang Uki-- mempunyai keunikan tersendiri. Punya timpalan di wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Gorontalo. Sama-sama menyandang nama Bintauna.

Kedua kerajaan memang bersaudara dan berkerabat dekat. Leluhur mereka, yakni penduduk asli Bintauna, menurut Encyclopaedie Nederlandsch-Indie 1939, berasal dari Bwool, seperti hal orang Kaidipang.

Kenapa satu Bintauna, menjadi dua kerajaan (Landschap), dijelaskan dalam memorandum pelantikan Raja Salmon Datunsolang di Manado 15 September 1866.

Penduduk Bintauna telah ada di abad sebelumnya. Terbagi penduduk yang telah menganut agama Islam dan bagian lain yang masih kafir. Yang pertama tinggal di wilayah yang sekarang masuk Gorontalo, sedangkan yang terakhir hidup di sepanjang pantai utara.

Semua orang Bintauna, baik yang Islam mau pun kafir mematuhi satu Raja Bintauna yang berkedudukan di Gorontalo.

Namun, ketika agama Kristen (Protestan) mulai mendapatkan tempat di kalangan penduduk, hal ini melahirkan masalah. Penduduk Bintauna yang masih kafir memeluk agama Kristen. Sedangkan populasi Muslim tetap agamanya dengan Raja Islam yang berkuasa.

Akibatnya timbul perbedaan paham. Orang Kristen Bintauna menolak berada di bawah perintah penguasa Islam. Mereka ingin berada di bawah perintah penguasa Kristen.

Maka, terjadi perpisahan. Terbentuk dua Bintauna yang berdiri sendiri. Bintauna Utara dikhususkan untuk penduduk Kristen. Sedangkan yang Islam berkedudukan di Bintauna Selatan.

Tapi kemudian, ditambahkan penjelasan nota pelantikan Raja Salmon Datunsolang itu, populasi Bintauna Utara, mungkin, karena pengaruh Bugis, berpindah memeluk agama Islam.

Hubungan antara Bintauna Utara dan Selatan dapat dipulihkan, meski pemisahan keduanya tetap terjadi. Bintauna Selatan menjadi bersatu dengan Landschap Bone dan Suwawa, dan terakhir menjadi bagian dari kerajaan Bone dalam Afdeeling Gorontalo.

SURAT MOSSEL
J.Bastiaans dalam Batato’s in het oude Gorontalo mengungkap, pada abad ke-18, Bintauna berpenduduk Islam dan Kristen.

Perpisahan kedua Bintauna, terjadi ketika orang Kristen Bintauna yang bermukim di pantai utara mendirikan pemerintahan sendiri di bawah seorang regent. Kejadiannya terjadi tahun 1755.

Perhubungan dan ‘pengakuan’ dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Kompeni Belanda) terhadap keberadaan Bintauna Utara, ditandai dengan penandatanganan kontrak politik terpisah tanggal 5 Agustus 1769 antara Kristen Bintauna di bawah pimpinan Regent dengan Residen Manado Seidilman (Johan Libregt Seidelman atau Seydelman, 1763-1770). Kemudian nanti penduduk Kristen telah berpindah ke agama Islam.

Peristiwa di dekade tersebut diperkuat oleh surat resmi Gubernur Jenderal Kompeni Belanda Jacob Mossel 31 Desember 1759. Ia menulis adanya permintaan Putri Manilha asal Boni (Bone, Landschap yang berada di Gorontalo), agar kerajaan kecil itu untuk anak kakaknya Pangeran Abouli. Sementara, menurut Mossel, sebagian besar penduduk Bintauna menjadi Kristen. Mereka justru meminta seorang Kristen untuk menggantikannya. 

Kemudian dalam surat resmi 31 Desember 1760, Mossel mencatat pengaduan para mantri (rijksgrooten) Bintauna atas pemerintahan Ratu Putri Manilha. Juga permintaan untuk mengangkat Jogugu Salmon Datunsolang (ditulis Salomon Datonsola), seorang Kristen sebagai Regent pengganti.

Namun, tidak diketahui kapan dan siapa pendeta yang mengkristenkan Salmon Datunsolang serta penduduk Bintauna (utara) ketika itu. Tapi diperkirakan, agama Kristen (Protestan) berkembang di Bintauna Utara, baru pada dekade kedua atau ketiga abad ke-18. Kemungkinan besar karena pengaruh penduduk Kristen, yang telah lebih dulu berkembang di Bolaang-Itang, Bolaang- Mongondow dan Kaidipang; serta dari kerajaan Atinggola di Gorontalo.

Raport para Predikant Belanda di Ternate yang rutin melakukan kunjungan di Sulawesi Utara menguatkan dugaan ini. Predikant Abraham Feilingius tahun 1701 dan Ds.Arnoldus Brands 1705 mencatat di Bolaang (Mongondow) terdapat 153 orang Kristen. Bolaang-Itang 472 Kristen. Bwool 1.618 Kristen. Lewaas dan Attingola 300 Kristen, serta Dauw di Kaidipang 486 Kristen.

Pendeta Brands bahkan membangun sebuah sekolah Kristen di Bolaang tahun 1705. Sekolah tersebut tetap bertahan hingga tahun 1831. Terakhir di bawah pimpinan guru Jacobus Bastiaan.

Sementara di Atinggola terdapat sekolah lain yang tahun 1739 dipimpin oleh guru Bastian Lokkoo, dengan rajanya saat itu Adriaan Patalima (Patilima), juga Kristen. Begitu pun dengan Kaidipang dan Bolaang-Itang, dimana raja dan regent awal masih Kristen Protestan (baca: Mengenal (Beberapa) RajaKaidipang, dan Mengenal Sedikit Raja-Raja Bolaang-Itang).

Regent Salmon Datunsolang lah yang pada 5 Agustus 1769 meneken verbond (perjanjian) dengan Kompeni Belanda diwakili Residen Manado Seidelman. Tandingannya, Raja Bintauna di Gorontalo baru tanggal 4 November 1769 meneken konvensi dengan Kompeni Belanda untuk penyediaan debu emas, bersama-sama Raja Atinggola, Bolango dan Bone.

Kontrak berikut yang diteken atas nama Regent Bintauna (di Bolmong) berlangsung 8 November 1776. Raja Bintauna (di Gorontalo) bersama Raja Atinggola, Bolango dan Bone mendahului pada 5 Agustus 1776 meneken renovasi dan ampliasi dari konvensi 1769. Regent Bintauna (utara) masih meneken verbond 10 April 1777 pula.

Setelah Bintauna (utara) dipimpin oleh seorang raja, perjanjian dengan Kompeni Belanda diteken Raja Bintauna 24 Juli 1795 berupa acte van assopiatie dengan Raja Bolaang-Mongondow.

Sementara dengan pemerintah Hindia-Belanda (pengganti Kompeni Belanda), Raja Bintauna meneken kontrak 18 November 1829 untuk pemasukan emas, sebanyak 50 oncen per tahun.

TENDENO DAN TOLUCCI
Menurut Dr.J.G.F.Riedel, Tendenolah yang menjadi raja pertama dari kerajaan Bintauna, di masa kerajaan Suwawa diperintah oleh Olongia (Raja) Bumbulo.

Masa Tendeno dan Bumbulo diperkirakan awal abad ke-18. Sementara menurut taksiran satu sumber lain, Tendeno baru menjadi Raja Bintauna, sekitar tahun 1730, sehingga agak mustahil karena hampir sejaman dengan Kitjili Tolucci yang diangkat Kompeni Belanda sebagai Raja Bintauna 1735.

Riedel menjelaskan Tendeno adalah Raja Putri (Ratu) Bintauna, anak Tumungku. Bersama dengan pengikutnya, Tendeno datang ke kerajaan Suwawa untuk mengunjungi kakaknya bernama Gulabu yang telah meninggalkan Bintauna untuk waktu yang lama.

Tendeno meminta kepada Raja Bumbulo agar diizinkan untuk menetap di tempat itu. Karena ia tidak ingin kembali ke Bintauna, dimana ayahnya Tumungku terbunuh.

Raja Bumbulo mengizinkannya. Setelah Tendeno membeli sebidang tanah di Suwawa, dia tinggal di situ sebagai ratu bagi pengikutnya.

Maka, seperti dicatat pula oleh Dr.B.J.Haga, berdiri 3 kerajaan di wilayah tersebut. Suwawa yang memang penghuninya sejak awal. Lalu Bone yang penduduknya datang dari kerajaan Bone di Sulawesi Selatan; serta Bintauna yang datang dari Bolaang-Mongondow; dengan menandatangani kontrak bersama dengan Kompeni Belanda. Masing-masing ketiga kerajaan dengan raja sendiri dan dua orang marsaole.

Riedel bahkan berpendapat, kejadian tersebut terjadi di pertengahan abad ke 18, ketika Raja Bone dan Bintauna mendapat izin dari Kompeni Belanda untuk bergabung dengan Suwawa, dan hidup tanpa gangguan dari kerajaan lain.

Ratu Putri Tendeno digantikan berturut-turut oleh Raja Bauda, Talu-e-daa, kemudian Talu-e-kiki.

Pengganti berikut adalah Iskander Monoarfa dari Gorontalo. Raja Iskander Monoarfa lebih terkenal sebagai Raja Di bawah (Raja Kompeni, to  huliyalio) Gorontalo sejak 1757, sampai ditahan Belanda di Ternate 1777.

Raja Iskander Monoarfa inilah yang pada 4 November 1769 telah meneken verbond dengan Kompeni Belanda atas nama Bintauna (Gorontalo). Juga dalam kapasitas sebagai Raja (Di bawah) Gorontalo.

KONTRAK PERTAMA
Kontrak politik paling awal kerajaan Bintauna dengan Kompeni Belanda sendiri telah berlangsung 2 April 1735 (hampir persis pendapat Riedel), yakni ketika eksploitasi emas di wilayah itu, mulai menarik perhatian Kompeni Belanda.

Dalam Corpus, Dr.F.W.Stapel menggarisbawahi bahwa kontrak 2 April 1735 itu menegaskan Bintauna menjadi kerajaan yang ‘merdeka’ dan independen. Karena sebelumnya masih tunduk ke Gorontalo.

Hari itu, Johannes Bernard Raad-extraordinaris van Nederlands-Indie dan Komisaris Maluku mewakili Gubernur Jenderal Dirk van Cloon melantik Pangeran Kitjili Tolucci sebagai Raja Bintauna, bertempat di Logie Kompeni di Gorontalo. Sebelumnya di tempat sama, Komisaris Bernard pada 19 Maret 1735, dengan pembaruan kontrak, melantik Kitjili Kilat (Nuwa) sebagai Raja Gorontalo (to tilayo, raja di atas, raja negeri) menggantikan Kitjili Lepe (Lepehulawa alias Tinito).

Perjanjian dengan Raja Kitjili Tolucci pendek, hanya terdiri 3 pasal. Antara lain, raja dan mantri Bintauna bersama Raja Gorontalo, Limboto, Bolango dan Atinggola membantu pembangunan Logie Kompeni di Illolodoa (Doloduo), untuk kelancaran transportasi barang ke sentra emasTomecalang (Tomakalang).

Kitjili Tolucci sebelumnya menjabat sebagai Jogugu Bintauna. Ketika masih Jogugu, di tahun 1734 ia sempat dimasalahkan soal pengembalian tiga puluh budak dan barang lain. Kemudian adanya perbedaan yang terjadi dengan Raja Atinggola Adriaan Patilima.

Ada versi menyamakan Kitjili Tolucci sebagai Talu-e-daa, Raja Bintauna ke-3. Sebutan Kitjili atau Kitjil atau Kaicil adalah gelaran pangeran Ternate dan raja serta bangsawan di daerah yang pernah berada di bawah supremasi Ternate, termasuk raja-raja di wilayah Gorontalo.

Nama Tolucci atau mungkin Tolucco atau Terloko atau Toloko pun umum. Entah mengambil nama dari benteng di Ternate. Atau pun karena pamor Pangeran Tolucco, putra Sultan Mandarsjah, yang kemudian bernama Pangeran Rotterdam, dan menjadi Sultan Ternate 1692-1714.

Seorang pangeran dari Gorontalo pun bernama Tolucco dan hidup bersamaan dengan Kitjili Tolucci.

Pangeran Tolucco van Gorontalo bersama Pangeran Tuleabo dari Limboto adalah tokoh-tokoh yang meneken kontrak Gorontalo dan Limboto bersama Gubernur dan Direktur Maluku Jacob Christiaan Pielat di Kastil Orange Ternate 26 September 1730.

BINTAUNA GORONTALO
Setelah Bintauna terbagi dua, kerajaan Bintauna di Gorontalo, dipimpin oleh Muhammad Zain Buingi (Bohinga) tahun 1777 dengan menggantikan Iskander Monoarfa. Kemudian Bintauna diperintah para Raja Suwawa, di bawah Raja Walango van Gorontalo dan penggantinya Pulumodoiong.

Ketika Raja Bone Hulopango meninggal, Raja Pulumodoing ditunjuk sebagai raja atas ketiga landschap, dengan sebutan Raja Bone, Bintauna dan Suwawa (Haga mencatat sebaliknya, bahwa ketika Raja Suwawa meninggal, kerajaannya ditempatkan di bawah Raja Bone, dan hal yang sama terjadi pada Bintauna).

Raja Pulumodoing digantikan oleh Humungo, dan sejak 1839 Raja Warotabone (Wartabone) yang bernama lengkap Sapjatidien Iskander Muhammad Warotabone Illahu.

Pengganti Raja Wartabone adalah Pangeran Rohobanie 26 Desember 1856.

Paling akhir, Raja Abdul Latief Mohammad Tengaho, memerintah 21 Mei 1859 hingga 1870, ketika landschapnya tinggal disebut Bone. Dengan beslit 4 September 1864 nomor 17, yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap, landschap-landschap berakhir, dan pemerintahan langsung di bawah kendali pemerintah Hindia-Belanda, dimana raja tidak digantikan lagi.

Bintauna Gorontalo pun tinggal sebagai satu distrik, dipimpin seorang kepala distrik dengan gelar adat Marsaole, terdiri atas 3 kampung. Distrik lain adalah Bone dan Suwawa.

Tahun 1864 ketiga distrik tadi resmi digabung satu menjadi Distrik Bone. Sementara Bintauna dan Suwawa tinggal berderajat Onderdistrik (distrik kedua atau distrik bawahan) dipimpin kepala dengan gelar Walaapulu.

Menurut Dr.Haga, penduduk Bone telah campur aduk, sehingga orang tidak tahu lagi apakah mereka berasal dari Bintauna, Bone atau Suwawa.

MORETEO DAN SOLAGU
Tradisi lisan Bintauna mencatat Lepeo Mooreteo, sebagai raja pertama Bintauna di wilayah Bolaang-Mongondow.

Dihistorisasikan awal pemerintahannya tahun 1675. Mooreteo yang kemudian beragama Kristen, menurut satu hadis, adalah anak Tendeno. Ia dipilih sebagai raja, setelah Tumungku terbunuh.

Sayang tidak diketahui nama serani yang dipilih oleh Mooreteo ketika masuk Kristen, seperti lazim terjadi di masa itu. Tapi, sangat kuat dugaan, fam pilihannya ketika itu adalah Datunsolang.

Di dekat makam Mooreteo di Bintauna terdapat kubur seorang ‘pendeta’ asal Ambon, bernama Talahutu. Aslinya pasti hanya seorang guru injil yang ditempatkan oleh seorang pendeta. Sebab, selang akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-19 para pendeta biasanya masih orang Belanda, dan baru satu orang predikant berkedudukan di Ternate, kemudian juga Ambon, yang pada periode tertentu datang mengunjungi, serta melakukan pembaptisan penduduk di kawasan Sulawesi Utara. Para guru injil yang dididik langsung pendeta, baik di Ternate mau pun Ambon, selalu ditempatkan di daerah terpencil di pelosok wilayah Keresidenan Manado. Guru-guru tersebut bertugas untuk mengajar di sekolah, memimpin ibadah di hari Minggu dan mengajak masyarakat masuk Kristen.

Sayang raport-raport para Predikant Ternate mau pun Ambon yang pernah berkunjung dan melakukan pembaptisan di masa silam, banyak belum terpublikasi.

Mooreteo menurut hadis digantikan anaknya Datu. Lalu anak Datu bernama Patilima Datunsolang dilantik sebagai raja di Ternate 1783. Patilima menjadikan Islam sebagai agama kerajaan. Bintauna kemudian dipimpin berturut oleh dua anak Patilima yakni Raja Salmon Datunsolang dan Raja Elias Datunsolang.

Ada versi lain lagi. Solagu yang menurut silsilah keluarga Ponto dari Bolaang-Itang adalah anak Duongo dan cucu Tuhinga, juga kemenakan Pugu-Pugu (dikenal kemudian sebagai Raja Kaidipang Maurits Binangkal), adalah tokoh yang mendirikan Bintauna di bagian utara. Keturunannya kemudian memakai pula fam Datunsolang.

Perpecahan dua Bintauna seakan terjadi ketika Raja Putri Tendeno pindah ke Suwawa dan mendirikan kerajaan Bintauna Gorontalo serta pengangkatan Mooreteo sebagai Raja Bintauna di Bolmong.

Namun, menilik nota penjelasan dari Raja Bintauna Salmon Datunsolang (kedua) 1866, surat resmi Gubernur Jenderal Jacob Mossel 1759 dan arsip temuan J.Bastiaans 1939, perpecahan dua Bintauna baru terjadi tahun 1755. Sehingga sampai saat pengangkatan Salmon Datunsolang sebagai Regent dengan menggantikan Putri Manilha, maka Bintauna (utara) pun masih diperintah oleh seorang Raja Bintauna di Gorontalo.

Lalu siapa Mooreteo dan siapa Regent Salmon Datunsolang sendiri, memerlukan penelitian dan telaah mendalam dari para peneliti dan sejarawan Bolaang-Mongondow dan Gorontalo. Termasuk sangat penting kepedulian dari pemerintah Kabupaten Bolaang-Mongondow Utara untuk melakukan penelitian serta pengumpulan arsip-arsip berkaitan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di wilayahnya, baik dokumen yang ada di ANRI, Perpustakaan Nasional, bahkan hingga ke Negeri Belanda.

Berbagai kontrak, pembaharuan atau pun perjanjian tambahan, surat-surat para raja, termasuk sumpah pelantikan dan beslit mereka di masa silam, kemudian raport para Residen Manado (juga raport Residen dan kemudian Asisten Residen Gorontalo); bahkan missive para Gubernur Belanda di Maluku dan Gubernur Jenderal, akan membuka lebar tabir sejarah Bintauna yang selama ini gelap dan belum tercatatkan. Dengan demikian akan tersusun sebuah buku sejarah yang sangat mendetil dan benar-benar sahih, bukan hanya sejarah Bintauna saja, tapi juga sejarah dari bekas kerajaan Bolaang-Itang dan Kaidipang yang terakhir bersatu sebagai Kaidipang Besar.

Ambil misal, keberadaan Salmon Datunsolang (pertama) yang sebelum periode raja-raja menjadi Regent Bintauna pertama, serta jauh-jauh hari sebelum Raja Patilima Datunsolang telah memakai fam Datunsolang (berdasar surat Mossel), selama ini tidak terdatakan di sejarah Bintauna.

Sementara, menurut J.Bastiaans, Raja Bintauna berikut, justru adalah keturunan dari Regent Salmon Datunsolang. ***


        

          *).Lukisan dari buku C.B.H.von Rosenberg, Reistogten in de Afdeeling Gorontalo.



LITERATUR
Almanak van Nederlandsch-Indie, 1853,1855,1858,1859,1861,1863,1867,1871,1872.1873,1879,1884,1890,1898,1903,1904,1907,1912. Google Boeken dan dari Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin.
Bastiaans, J. Batato’s in het oude Gorontalo, in verband met den Gorontaleeschen staatsbouw. Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel LXXIX,1939.
Bleeker,P. Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel, eerste del, Batavia, 1856.
Buddingh, Dr.S.A. Neerlands-Oost-Indie, Rotterdam,1860.
Coolhaas, Dr.W.Ph. Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel IX 1729-1737, dan deel XIII 1756-1761, resources.huygens.knaw.nl.
Haga, Dr.B.J. De Lima-pahalaa (Gorontalo) volksordening, adatrecht en bestuuurspolitiek. Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel LXXI,1931.
Heeres, Mr.J.E. Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, tweede deel (1650-1675). Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 87, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage, 1931.
Lasahinda, Hariana (dkk), Kerajaan Bintauna (Kajian historis 1901-1950), Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo,
Riedel, J.G.F. --De Landschappen Holontalo, Limoeto, Bone, Boalemo en Kattinggola, of Andagile. Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-,en Volkenkunde, deel XIX, 1870.
           --De Volksoverleveringen betreffende de voormalige gedaante van Noord-Selebes en den oorsprong zijner bewoners. Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, derde serie 5de jaargang, 1871.
--Het Oppergezag der Vorsten van Bolaang over de Minahasa (Bijdrage tot de Kennis der oude Geschiedenis Noord-Selebes). Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel XVII, 1869.
Rosenberg, C.B.H.von, Reistogten in de Afdeeling Gorontalo, Amsterdam 1865.
Stapel, Dr.F.W. Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, vijfde deel (1726-1752). Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 96, Martinus Nijhoff, ‘s-Gravenhage (1938).
Staten Generaal Digitaal, Overeenkomsten met Islandsche Vorsten in den Oost-Indischen Archipel, dan Koloniaal Verslag.
Stibbe, D.G. dan Mr.Dr.F.J.W.H.Sandbergen, Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, achtste deel, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1939.
Valentyn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, Dordrecht-Amsterdam, 1724.
Van der Chijs, Mr.J.A. Inventaris van ‘s Lands Archief te Batavia (1602-1816),  Batavia,1882, Koleksi ANRI.
Posting Komentar