.subtitle{ font-family:Trebuchet MS',Verdana,Arial,Sans-serif; font-size:15px; color: #00FFFF Aqua; line-height:20px;

Sabtu, 23 Juni 2018

Bolaang Uki dan Orang Bolango





                                             Oleh: Adrianus Kojongian


            

                (Sebuah masukan untuk Pitres S.)


saya berpuisi,
biar terlambat babad jangan ditulis percuma

menyesakkan, dikutip kata
menjadi kata dalam kata
lalu menjadi patung
bahkan moseleum bernama sejarah

untuk tuan, saya berlelah menelisik kebingungan
tidak sekedar tapa, uki;
jejak-jejak lombagin, totokia, tidupo,
meski hanya di lembar kenang yang usang
mencari wajah-wajah dan detil masa yang hilang dalam kata
terlupakan sejarah

ternyata, baru secuil jawab
enam tahun menanya seribu tanya

baru secuil saja,
sebab tanya selalu dahaga
dan kembali tanya

masih sembilansembilansembilan tanya
masih sembilansembilansembilan penasaran

tapi, tuan, biar baru secuil
siapa tahu bole menjadi masukan




 
Rumah di Bolaang 1866. *)




Bolaang Uki dengan orang Bolango banyak diulas dari dulu. Doktor Johan Gerhard Friedrich Riedel (1832-1911) telah membahasnya panjang-lebar tahun 1870. Sebelumnya juga di tahun 1869 dan kemudian 1871. Sementara Zendeling Nicolaas Philip Wilken (1813-1878) dari Tomohon dan Johannes Albert Traugott Schwarz (1836-1918) dari Sonder  memelopori penulisannya tahun 1867 setelah mengunjungi Bolaang Uki 29 Juni 1866.
Meski demikian, sejarah dari bekas kerajaan kecil yang pernah ada di Indonesia ini tetap mengundang kontroversi dengan aneka ragam versi baik asal usul, mau pun tokoh-tokoh yang pernah memimpinnya.

Riedel tidak mencatat awal keberadaan orang Bolango yang disebutnya berkulit warna gelap dan rambut keriting. Suatu tempat di perairan Maluku menjadi pemukiman awal orang Bolango dan juga Atinggola.

Setelah waktu yang lama, tanpa penjelasan penyebabnya, mereka pindah menetap di Kaburukan, negeri yang kemudian dikenal dengan nama Kema, di pantai Minahasa Utara. Juga di Pulau Lembeh dan Tanjung Pulisan.

Namun, karena perbedaan pendapat dengan suku Tonsea, mendorong orang Bolango menjauh dari sana. Di bawah kepala bernama Intu-intu mereka menyusur sepanjang pantai utara Sulawesi, singgah di Pulau Bangka, Pulau Manado Tua, Mangatasi, sungai di Tombariri sekarang, hingga Ranoiapo di selatan Minahasa. Akhirnya tiba di muara Lombagin di wilayah Mongondo serta menetap di sisi timur sungai tersebut ¹).

Sebagian Bolango, di bawah pimpinan Dugia dan Bantong dengan para pengikutnya, melanjutkan perjalanan di sepanjang pantai selatan Sulawesi. Mereka tiba di Bunongo (sekarang Kotabunan) dan Tanjung Bantong (Hungo lo Potilahu atau Tanjung Flesko). Kemudian sampai di Totoia atau Totokia (dikenal kemudian sebagai Negeri Lama), yang berada di antara Molibagu dan Gorontalo, sekitar sepuluh jam dari ibukota Gorontalo.

Karena berselisih dengan orang Mongondo, Daepeagou membawa penduduk tinggal di Mongoladia, di sekitar Molibagu. Setelah peristiwa kakaknya dengan orang Suwawa, Raja Limboto bernama Moito mendengar kecantikan kedua putri Daepeagou bernama Tanahi dan Damopinda. Ia datang dan mengawini mereka. Bersama kedua istrinya Moito kembali ke Limboto ²). Banyak orang Bolango mengikuti Moito dan istrinya, dan kemudian menetap di Tidupo

Setelah kematian Moito dan dua istrinya, orang Bolango di Tidupo diperlakukan semena-mena, sehingga timbul keinginan orang Bolango untuk kembali ke Mongoladia atau Molibagu. Tapi, di Putanga, mereka kemudian dibujuk oleh Marsaole dari Gorontalo bernama Hulubala dan Olongia (Raja) Ëiato untuk beralih ke Palangguwa ³).

Setelah lama berdiam di sini, timbul perbedaan pendapat dengan orang Gorontalo. Kepala mereka bernama Matoka membawa sebagian besar orang Bolango meninggalkan tempat itu, pergi ke Molibagu. Namun, beberapa tetua dengan keluarga mereka tetap tinggal di Palangguwa, berbaur dengan orang Gorontalo, dan memiliki eksistensi independen.

Matoka di Molibagu menerima pesan dari Raja Liu atau Datu Liu, yang memimpin orang Bolango di pantai utara Sulawesi,untuk datang menetap di bagian barat Sungai Lombagin. Orang Bolango pada sisi timur dan barat dari Sungai Lombagin memiliki hak sama. Kemudian Matoka kembali ke Molibagu dan kelak ke Gorontalo, dimana ia meninggal.

Sebagian pengikutnya di bawah Napu memisahkan diri, meninggalkan Lombagin karena gangguan buaya, dan pergi ke Uki, sehingga nama Bolango Uki, atau Bolaang Uki mulai terkenal.

VERSI BERBEDA
Dr.Bauke Jan Haga memberi versi lain. Populasi Bolango berasal dari Suwawa. Raja Bolaang-Mongondow menemukan sekelompok orang di hutan yang mengikutinya ke Mongondo, dimana mereka disebut orang Bolango. Sebagian kemudian pindah ke Gorontalo dan menetap di Tapa. Yang lain pergi ke Atinggola.

Wilken dan Schwarz menggambarkan, leluhur Bolango tinggal selama beberapa abad di kaki Gunung Klabat Minahasa Utara, di sungai yang mendapat nama Ajer-Bolango. Kemudian mereka pindah ke pantai, menyeberang ke Pulau Lembeh.

Namun, satu peristiwa mengerikan akibat serangan serangga dan udang yang tak terhitung jumlahnya yang menghancurkan kebun, pohon dan menyiksa ternak dan orang; kemudian berbuntut terjadinya kelaparan dan wabah penyakit, telah menyebabkan mereka meninggalkan pulau itu.

Sebagian dari mereka menetap di Siau, bagian lain di Kema. Sebagian lagi melewati Kotabunan dan menetap di Totokia (Negeri Lama), di antara Gorontalo dan Molibagu. Kelompok terakhir inilah yang menjadi nenek moyang dari orang Bolango kemudian.

Pernikahan seorang pangeran dari Limboto dengan putri dari Totokia menghasilkan orang Bolango pindah ke Gorontalo, dimana mereka mendirikan sebuah negeri di sekitar Limboto yang disebut Bolango dan dipimpin seorang raja.

Kemudian ketidaksepakatan dengan Raja Limboto soal kepemilikan tanah membuat mereka memutuskan, dengan persetujuan pemerintah Belanda untuk pindah.

Di bawah pimpinan Raja Matoka mereka pindah ke Bangka yang berada di pantai sebelah barat Sungai Lombagin, bersatu dengan sesama mereka yang tinggal di situ. Kejadiannya terjadi sekitar tahun 1802 atau 1803.

Ternyata, di Bangka, mereka banyak menderita oleh angin selatan serta banyaknya buaya di Sungai Lombagin, sehingga pada tahun 1849 atau 1850 mereka pindah ke Teluk Uki. Jika sebelumnya dikenal sebagai Bangka atau Bolango-Bangka, mereka kemudian disebut Bolango-Uki atau Bolaang Uki.

Raja-raja Bolango sejak berada di Bangka, menurut Wilken dan Schwarz, adalah Matoka, Bagole, Napu, Tuwako, Unomongo dan Badiaman. Badiaman inilah Raja Alijudini Iskander Gobel Badiaman yang berkuasa sejak tahun 1837.

NOTA RAJA ISKANDER ALI
Nota penjelasan akte pelantikan Raja Bolaang Uki Mohamad Alijoedini Iskander Ali van Gobel (tercatat pertama kali memakai van pada namanya) bertanggal 30 April 1868, mengungkap sejarah ringkas perpecahan Bolango tersebut.

Populasi Landschap Bolaang Uki, awalnya terpilah oleh penduduk beragama Islam dan bagian lain yang kafir. Populasi kafir berada di Mongondo, sedangkan yang Islam pergi ke barat di Gorontalo, berdiri sebagai kerajaan kecil yang independen, yang seperti kerajaan lain ketika itu berada di bawah supremasi Sultan Ternate, hingga digantikan kendali Kompeni Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) dengan Kontrak 1683.

Di masa kekuasaan Kompeni Inggris (East India Company, Maret 1797-Maret 1803), banyak orang Bolango menolak kendali Raja Gorontalo, meninggalkan rajanya mengatasi sendiri, dan mencari perlindungan di Bolaang-Mongondow. Kapal mereka diizinkan mendarat di pantai utara Sungai Lombagin, sehingga terjadi persatuan kembali dengan penduduk yang masih kafir.

Mereka kemudian mendapat izin membangun Bangka dekat gunung emas Lolak. Namun karena banyak buaya, juga karena sering banjir dan angin kencang, orang Bolango meninggalkan negeri Bangka. Dengan izin Raja Bolaang-Mongondow mereka memilih sedikit lebih ke barat satu tempat di Teluk Uki yang dapat diakses kapal dan aman di semua musim. Di sini mereka membangun satu negeri di teluk, menyandang nama Uki, sehingga timbul Landschap Bolaang-Uki, yang berbatasan di timur dan selatan dengan Bolaang-Mongondow dan sebelah barat Bintauna.

Dalam nota Raja Iskander Ali van Gobel pula, disinggung adanya agama Kristen di masa sebelumnya yang surut karena pengaruh Bugis dimana penduduk pindah ke agama Islam. Hal tersebut seperti terjadi di kerajaan Bintauna (baca Bintauna, Dua Kerajaan Bersaudara).

RAJA AWAL
Menilik fakta sejarah, Daepeagou masih hidup di awal abad ke-16, sebab Raja Moito dihistoriskan berkuasa di Limboto sekitar 1500-an.

Setelah Raja Daepeagou, terkenal pula Ratu Putri Bolango bernama Polunie. Menurut Riedel, Ratu Polunie kawin dengan Podunge (Podungge) atau Padunge, Raja Di Bawah (Olongia to Huliyalio) Gorontalo, adik Detu, Raja Di Atas (to Tilayo) Gorontalo yang berkuasa di tahun 1550-an.

Setelah perkawinannya, Raja Podunge membawa istrinya tinggal di Gorontalo. Bersamanya ikut sejumlah orang Bolango yang tinggal di Tidupo, pergi bermukim di tepi Sungai Palanggua. Di bawah Raja Detu dan Padunge inilah perang terjadi dengan Limboto.

Sementara peristiwa orang Bolango mengungsi besar-besaran dari Tidupo di kerajaan Limboto ke wilayah kekuasaan Gorontalo di Palangguwa atau Palanggua berlangsung tahun 1670. Ditandai pendirian negeri Tapa, ketika Eiato berkuasa sebagai Raja Di Atas Gorontalo.

Riedel menyebut tokoh bernama Hulango yang memimpin pemindahan penduduk Bolango dari wilayah kerajaan Limboto ke Palangguwa tersebut. Hulango pula yang menjadi raja pertama Bolango.

Kerajaan Bolango sejak pemerintahan Raja Hulango, tergabung dalam Lipu lo Holontalo atau Limo lo Pahalaa. Menurut Riedel yang sebelas tahun menjadi Asisten-Residen Gorontalo (7 Februari1864-September 1875), Lipu lo Holontalo terdiri Gorontalo dan Limboto, Bone dan Suwawa, Bintauna, Bolango dan Atinggola. 

Riedel bersama Raja dan mantri Gorontalo. *)


Para pengganti Hulango sebagai Raja Bolango adalah: Tuluaia, Mohulaingo, Patuma, Tengio, Dangkato, Hubulo, Pilubulawa, dan Polinggula.

Arsip dan dokumen tua di abad ke-17 dan 18 mencatat Bolango dengan aneka nama. Seperti Boelangse atau Boelanga, Boelangers, Balongers, Bolanga atau pula Bolonga. Valentijn malah menulisnya Balangas atau Boelangas.

Surat resmi Gubernur Jenderal Joannes Camphuys 26 Maret 1691 menerakan Raja Bolango bernama Pangeran Palamatta dan pewaris tahtanya, yakni Pangeran Sangilatu yang beragama Kristen (Protestan), dengan nama Kristen Abraham Sangilatu. Sangilatu dari versi Riedel adalah Dangkato dan dalam tradisi Bolaang Uki lebih dikenal dengan nama Sangian Datu.

Dr.Willem Phillipus Coolhaas dalam missive para Gubernur Jenderal berpendapat Pangeran Abraham Sangilatu adalah kemenakan dari Palamatta, anak saudaranya.

Kristen Protestan berkembang di Bolango di masa pemerintahan Raja Palamatta akhir tahun 1670-an atau awal 1680-an.

Gubernur Jenderal Cornelis Speelman 19 Maret 1683 menyebut semangat dan hubungan yang sangat baik dari orang Bolango dan Atinggola terhadap agama Kristen. Ia mengutip laporan Gubernur dan Direktur Maluku Dr.Robertus Padtbrugge yang melakukan kunjungan ke Gorontalo dan Limboto dengan disertai Predikant Ternate Ds.Cornelis van der Sluys, yang kemungkinan besar telah membaptis Sangilatu.

Pengganti Camphuys, yakni Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn tanggal 9 Februari 1693 masih menyingung ketertarikan Padtbrugge pada Bolango, ketika mengungkap perkembangan terbaru yang terjadi di Bolango. Raja Palamatta yang telah lama memerintah, meninggal dunia tahun 1692. Anaknya Sangilatu yang bernama Kristen Abraham Sangilatu menjadi raja pengganti. Tapi, dengan syarat dari penduduk bahwa untuk memiliki tahtanya, tidak lagi memeluk agama Kristen.

RAJA GOBEL
Kemudian, terkenal Raja Gobel yang dinobatkan di Ternate tahun 1731, meski telah mulai bertahta sejak 1726. Raja Gobel dikenal pula dengan nama Hubulo, atau dengan nama Abraham Duaulu. Ia telah mengembangkan agama Islam di kerajaannya, mengakhiri era Kristen yang singkat.

Dokumen mencatat Raja Bolango di dekade kedua abad ke-18 dengan nama Kitjil Gobolo atau Kitjil Goubouko yang merupakan pencatatan Belanda dari aksen (berbeda-beda) nama Raja Gobel atau Hubulo.

Gubernur Jenderal Mattheus de Haan pada missive 5 Desember 1726 menulis Raja Bolango (Abraham Sangilatu) telah mengajukan pengunduran dirinya karena usianya yang sangat tinggi (tua). Ia lalu diberhentikan, dan putranya bernama Kitjil Gobolo diangkat sebagai raja pengganti.

Sementara, nama Kitjil Goubouko sebagai Raja Bolango tertera ketika bersama para mantrinya ia menyurati Gubernur dan Direktur Maluku Jacob Christiaan Pielat dengan kapal ‘t Wijnglas 22 April 1729, seperti dicatat Tanap Ternate.

Dalam kontrak yang diteken sekaligus penobatan dirinya sebagai Raja Bolango di Kastil Orange Ternate 30 April 1731 oleh Gubernur Jacob Christiaan Pielat yang mewakili Gubernur Jenderal Mr.Diederik Durven, ia dicatat dengan nama Pangeran Gobol.

Pembuka Kontrak Raja Gobel 1731. *)


Hadir dan mendisposisi perjanjian 30 April 1731dari Raja Gobel dengan Kompeni Belanda di Ternate para mantrinya. Abraham Panomanigi sebagai Jogugu, Into-Into Kapitein Laut, Bileito Marsaole, Balaiya Hukum dan Banta sebagai Sangadi.

Kontrak politik tersebut merupakan perjanjian pertama yang dilakukan oleh kerajaan Bolango dengan Kompeni Belanda.

Seperti kepada raja-raja dan mantri kerajaan lain di wilayah Gorontalo, Raja dan mantri Bolango dituntut membantu pembangunan Logie Kompeni di Illolodoa (Duluduo) untuk kelancaran transportasi barang ke sentra emas Tomecalang (Tomakalang).

Untuk produksi emas, raja, mantri dan penduduk Bolango harus menjual kepada Kompeni Belanda, dengan harga 10 rijksdaalders (1 rijksdaalders senilai 60 sen). Kemudian dilarang dengan ancaman hukuman adanya pemalsuan atau pencampuran mineral, atau penjualannya kepada individu.

Kontrak berikut serta pembaharuan kontrak antara Bolango dengan Kompeni Belanda berlangsung tanggal 4 November 1769 bersama Raja Atinggola, Bone dan Bintauna untuk penyediaan debu emas;  5 Agustus 1776 renovasi dan ampliasi kontrak lama. Kemudian 5 Oktober 1776 kontrak VOC dengan Raja Bolango, serta 26 Mei 1787 pembaruan kontrak Bolango sebelumnya.

Dokumen mengungkap pula, adanya nama seorang Raja Bolango yang dicatat missive Gubernur Jenderal Jacob Mossel 31 Desember 1758, bernama Amiroe Kaharoedien Kitjiliwa-adoe. Namun, dengan nama kerajaan Bolango-Bone.

TIGA BOLANGO
Orang Bolango di wilayah Bolaang-Mongondow yang masih kafir dan bertahan tinggal di Lombagin memiliki kepala pula.

Nama Lombagin sendiri telah tercatatkan sejak awal abad ke-17. Riedel mengutip B.L.de Argensola dalam Conquista de las Islas Malucas yang terbit di Madrid Spanyol 1609, mengungkap bagian kerajaan Ternate bernama Labague, atau Lombagin. Wilayah mahkotanya yang lain adalah Gaydupa (Kaidipang),Gorontalo (Holontalo), Hiboto (Limboto) dan Minado (Manado).

Kemudian pula, Lombagin berada di bawah supremasi kerajaan Makassar (Goa), hingga Makassar dikalahkan Kompeni Belanda. Nama Lombagin tertera di artikel 17 Traktat Bongaya yang diteken Laksamana Cornelis Speelman dengan Sultan Hassanudin 18 November 1667. Lombagin ditulis sebagai de landen van Langagij’.

Orang Bolango di Lombagin menentang pemerintahan Ternate karena tidak pernah berada dalam hubungan bawahan dengan para penguasanya, sehingga hendak diperangi Sultan Kaitjil Sibori (Sultan Amsterdam) tahun 1677.

Sayang, tidak diketahui, apakah Lombagin dimaksud menyeluruh penamaan bagi orang Bolango. Baik Bolango yang ketika itu tinggal di wilayah kerajaan Limboto dan kemudian ke Gorontalo, atau hanya orang Bolango yang masih bertahan tinggal di tepian barat dari Sungai Lombagin.

Para Raja Bolango di Lombagin juga tidak diketahui. Tapi, salah seorang yang menjadi kepala orang Lombagin di awal abad ke-19 adalah Raja (Datu) Liu.

Wilken dan Schwarz mengungkap perpindahan orang Bolango serta pembangunan kerajaan Bolango-Bangka yang dipimpin Raja Matoka terjadi di masa kekuasaan Kompeni Inggris, tahun 1802 atau 1803. Sementara orang Bolango berpindah dari Bangka ke Teluk Uki, sehingga nama kerajaan menjadi Bolaang Uki, terjadi di tahun 1849 atau 1850. Hal ini disinggung pula di nota pelantikan dari Raja Mohamad Alijoedini Iskander Ali van Gobel 1868.

Pemindahan dari Bangka ke Uki tersebut berlangsung ketika Bolaang Uki telah dipimpin oleh Raja Budiman (dalam arsip dan dokumen namanya dicatat Badiaman atau Radiaman atau juga Boediaman). Kendati menurut Riedel, pemindahannya telah berawal di masa Raja Napu.

Raja Budiman yang memiliki nama lengkap Mohamad Alijudini Iskander Gobel Badiaman (fam masih ditulis Goebal), telah naik tahta sejak tahun 1837.

Almanak resmi Hindia-Belanda sampai tahun 1858, masih menulis Raja Budiman sebagai Raja Bolaang-Bangka. Sementara pada perjanjian 1856 dengan Residen A.J.F.Jansen, ia telah tercatatkan sebagai Raja Bolango Uki.

Bekas ibukota Bangka di tahun 1840, dilaporkan sebagai negeri yang tinggal dipimpin oleh seorang Penghulu, meski rumah raja masih ada di situ. Dicatat pula sekitar 40 keluarga telah pindah di dekat pantai.  

Kerajaan orang Bolango lain tetap bertahan di Tapa Gorontalo. Bahkan, Raja Matoka yang mendirikan kerajaan Bolango-Bangka, menurut Riedel, sebagai Raja Bolango di Gorontalo. Termasuk pula dua penggantinya di Bolaang-Bangka, yakni Napu dan Tuwako.

Setelah Tuwako, menurut Riedel, Raja Bolango di Gorontalo berturut-turut dipegang oleh Sunge, Katili, Habi, Usmani, Humonggilu dan terakhir Tilahunga.

Almanak Hindia-Belanda 1855 menyebut Raja Bolango di Gorontalo bernama Mohamad Kaitjil Iskander Baren Duaulu. Penduduk Bolango masanya sebanyak 800 jiwa di tahun 1840, dan 1852 759 jiwa.

Kemudian, berkuasa Pangeran Usman 1856, dan tahun 1857 Pangeran Humongilo. Terakhir Pangeran Tilahunga, anak Raja Di Atas Gorontalo Wadipalapa dinobatkan menjadi Raja Bolango 27 April 1857dan berkuasa sampai tahun 1862. Raja Tilahunga dipujikan Riedel karena ingatannya yang luar biasa.

Bekas wilayah Bolango sejak tahun 1858 dimasukkan Onderafdeeling Gorontalo, menjadi sebuah Distrik (Tapa), dipimpin seorang Kepala Distrik bergelar Marsaole, dan Kepala Distrik Kedua Walaapulu. Mereka langsung di bawah kontrol Belanda lewat tangan para kepala onderafdeeling, seorang Kontrolir. Distrik Tapa terdiri sebelas kampung dengan Kampung Talulobuto, bekas tempat kedudukan Raja Bolango, sebagai ibukotanya.

Orang Bolango Gorontalo banyak pindah ke Molibagu dan ke Teluk Uki. Dengan demikian kerajaan Bolango resmi menghilang 1862, ketika Boalemo mengisi tempat kosong yang ditinggalkannya dalam Lipu lo Holontalo.

Meski kerajaannya telah hilang, masih banyak orang Bolango tinggal dan berkiprah di Gorontalo. Di pemerintahan, umpama, terkenal sejumlah tokoh Bolango dari keluarga van Gobel.

Seperti Beaba van Gobel, menjadi Marsaole Paguat 10 Oktober 1892 lalu pindah Distrik Boalemo, menjabat hingga Desember 1893. Mohamad van Gobel, Marsaole Atinggola 18 September 1890-11 Mei 1894. Kemudian, paling lama menjadi kepala distrik, bahkan sampai lebih 16 tahun, adalah Marsaole Oeno van Gobel di Distrik Tibawa, 5 Agustus 1891-20 November 1907.

Sekarang ini, Tapa, bekas ibukota kerajaan Bolango, tinggal sebuah kecamatan di Kabupaten Bone-Bolango. Nama yang setidaknya masih melestarikan bekas kerajaan tersebut. ***



  ¹).Riedel menyebut Intu-Intu masih memimpin orang Bolango di tepian Sungai Lombagin, dan mencoba menaklukkan penduduk asli Mongondo dengan berbagai cara. Cucunya bernama Ago mengikuti teladannya, tetapi tidak berhasil.
  ²).Menurut Riedel, Moito adalah anak Raja Limboto Datautapu dengan putri Mongondo Duluo. Dari istri pertama Tanahi, berputra Datau dan Putri Boiodili. Dari istri kedua Damopinda, berputra Pilohibuta dan Putri Potonuo. Datau kemudian menjadi Raja Di Atas (To Tilayo, kelak disebut juga Raja Negeri) Limboto sekitar tahun 1536, sedangkan adiknya Pilohibuta lebih dulu diangkat sebagai Raja Di Bawah (To Huliyalio, kelak Raja Kompeni atau Raja Gubernemen) Limboto.
  ³). Dalam tulisan lain, Riedel menyebut selama perselisihan dan perang dengan Limboto, orang Bolango meninggalkan Atinggola di Tidupo, berniat kembali ke Tambulinas (Mongoladia). Tapi ketika tiba di seputaran sungai Palanggua, Olongia Gorontalo Eiato pada tahun 1670 mengajak mereka tinggal di situ, dan di sinilah Negeri Tapa didirikan.  

*).Lukisan dari Mededeelingen NZG 1867, Tropenmuseum dan krop Corpus.


LITERATUR
Almanak van Nederlandsch-Indie, 1853,1855,1856,1857,1858,1859,1893,1895,1891,1895,1908. Dari Sammlungen der Staatsbibliothek zu Berlin.
Bleeker, P. Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel, eerste deel, Batavia, 1856.
Coolhaas, Dr.W.Ph. Generale Missiven van Gouverneurs-Generaal en Raden aan Heren XVII, deel IV 1675-1683, deel V 1686-1697, deel VIII 1725-1729, deel XIII 1756-1761. Resources.huygens.knaw.nl.
Haga, Dr.B.J. De Lima-pahalaa (Gorontalo) volksordening, adatrecht en bestuuurspolitiek, Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel LXXI, 1931.
Heeres, Mr.J.E. dan Dr.F.W.Stapel, Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, tweede deel (1650-1675), Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsche-Indie, deel 87, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1931; dan vijfde deel (1726-1752), deel 96, 1938.
Hollander, Dr.J.J. Aardrijksbeschrijving van Nederlandsch Oost-Indie, Amsterdam, 1868.
Overeenkomsten met Islandsche Vorsten in den Oost-Indischen Archipel, Staten Generaal Digitaal.
Riedel, J.G.F. De Landschappen Holontalo, Limoeto, Bone, Boalemo en Kattinggola, of Andagile, Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-,en Volkenkunde, deel XIX, 1870.
--De Volksoverleveringen betreffende de voormalige gedaante van Noord-Selebes en den oorsprong zijner bewoners, Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, derde serie 5de jaargang, 1871.
-- Het Oppergezag der Vorsten van Bolaang over de Minahasa (Bijdrage tot de Kennis der oude Geschiedenis Noord-Selebes), Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde, deel XVII, 1869.
Rosenberg, C.B.H.von. Reistogten in de Afdeeling Gorontalo, Amsterdam, Frederik Muller, 1865.
Statistieke aanteekeningen over de Residentie Menado, Tijdschrift voor Neerland’s Indie, 1840.
Stibbe, D.G. dan Mr.Dr.F.J.W.H.Sandbergen, Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, achtste deel, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1939.
Tanap Ternate.
van der Chijs, Mr. J.A. Inventaris van ‘s Lands Archief te Batavia (1602-1816), Batavia, 1882.
Valentyn, Francois, Oud en Nieuw Oost-Indien, Dordrecht-Amsterdam, 1726. 
Wilken, N.P.dan J.A.Schwarz, Verhaal eener reis naar Bolaang-Mongondow, Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap, elfde jaargang, 1867.
Posting Komentar