Jumat, 22 Maret 2013

TENTANG KEPALA MINAHASA (G-L)






Oleh: Adrianus Kojongian







Theodorus Gerungan. *)







GERUNGAN, Theodorus Estefanus, (25 Desember 1859-15 November 1926). Pamongpraja karir. Kepala Distrik Kedua (tweede districtshoofd, Hukum Kedua), di Kawangkoan 1888, lalu pindah Hukum Kedua di Tondano-Touliang hingga 1897. Tahun 1897 juga diangkat sebagai Hukum Kedua Klas 1 (eerste klasse) Kawangkoan berkedudukan di Lansot. Berikutnya naik jadi Kepala Distrik  Pertama (eerste districtshoofd) Tombasian bertitel Hukum Besar tanggal 24 Mei 1898 menggantikan P.B.Tambajong. Kemudian pindah Kepala Distrik Kawangkoan 3 Juli 1904. Terakhir pindah Kepala Distrik Tomohon-Sarongsong 8 Oktober 1909 hingga 1919 dengan titel Hukum Besar klas satu hingga pensiun. Ia jadi orang luar pertama (bukan Tontemboan dan Tombulu) yang memerintah di Distrik Tombasian, Kawangkoan dan Tomohon. Sampai bulan Februari 1897 anggota Landraad Manado untuk Afdeeeling Tondano, lalu pindah anggota Landraad untuk Afdeeeling Amurang. Tahun 1919 terpilih dari Kiesdistrict (distrik pemilihan) Tomohon-Sarongsong sebagai anggota Minahasaraad hingga 1923. Kawin pertama dengan sepupunya Augustina Gerungan (lahir 1867), lalu dengan Martha Warokka. Anak-anak dari Augustina Gerungan: Wilhelmina dan Estefanus J.Gerungan. Anak-anak dari Martha Warokka: Adelaida, Jacob, Dirk ‘Dicky’ August Theodorus, M.Jacob, Petronella dan Alexander J.Gerungan. Kubur di pemakaman keluarga Gerungan di Lewet Tondano.


GOHAN, Kepala Ponosakan berpangkat Kapitein, yang mengatasnamakan Balak Ponosakan pada Perjanjian 10 September 1699 di Benteng Amsterdam Manado.

GOLOSUMPALA, Kepala Distrik Ponosakan tahun 1840, ditulis juga dengan nama Golo Sumbala, bertitel Majoor. Dihadiskan sebagai keturunan dari penyebar Islam pertama di Belang Said Abdulwahid Rais. Diganti oleh anaknya Oesman Sumbala.
 
GOLOSUMPALA, Oesman, Kepala Distrik Ponosakan tahun 1859 bergelar Majoor. Disebut juga Oesman Sumbala, anak Golo Sumbala. Tahun 1840 masih sebagai Hukum Kedua dibawah ayahnya Golo Sumbala. Masih memerintah di tahun 1888. Sebagai Hukum Kedua adalah Oeteng (Uteng), iparnya. Sebelumnya Baba Abdullah.

GONI, Kepala Balak Pasan (kini Ratahan ibukota Kabupaten Minahasa Tenggara), putra Wela. Kawini Konda, putri Kepala Balak Ratahan Batulumanap, sehingga Pasan dan Ratahan  bersatu. Anak keduanya bernama Komaling dan cucunya dibaptis Kristen di Ratahan tahun 1855 bernama Daniel Maringka.

HOMPENGAN (HOMPEGANG),  Alias Rampengan. Kepala orang Manado seperti dilaporkan Gubernur VOC di Ternate Dr.Robertus Padtbrugge tahun 1682. Ia memimpin penduduk 'negeri' (kelak Balak Manado) terdiri 40 orang sejak tahun 1679, yang digambarkan sangat mengkhawatirkan sebagai orang paling jahat dan paling buruk. Hompengan disebut Padtbrugge sebagai orang yang paling cerdik dan paling penghasut, tapi sudah beragama Kristen bersama penduduknya. Dipastikan sebagai Kepala Balak Manado pertama bergelar Hukum Majoor.

HUMAISI HUMOPA, Leluhur Bantik. Diangkat menjadi Kepala Bantik (gudangne) di Pogidon Manado.

INELEWAN, Kepala Tondano sampai tahun 1600, digelari Mamapekasa. Dikisahkan, sebagai anak dan pengganti Rao (ditulis juga Rauw). Ibunya bernama Weno. Memperistri Simbo, dan berputra Tewu yang kemudian menggantikannya tahun 1610 (ada menyamakannya dengan Tewu yang memerintah Tondano-Touliang di awal tahun 1800-an).
Albert Inkiriwang. *)
INKIRIWANG, Albert W.R,, Pamongpraja. Menjabat Hukum Besar Distrik Langowan sejak 25 Agustus 1910 dengan titel Hukum Besar Klas 1 Juni 1914. Sebelumnya sebagai Hukum Kedua (Onderdistrictshoofd) Klas 1 Tonsea. Pensiun tahun 1920. Distrik Langowan kemudian diturunkan status tinggal sebagai Onderdistrik. Masih Hukum Besar tahun 1919 dipilih dari Kiesdistrict Langowan sebagai anggota Minahasaraad hingga 1923. Anak Daniel Inkiriwang Majoor Kakas. Kawin dengan Annatje Kawilarang, dan ayah dari: Noni, Frits, Marie, Marietje serta Nick Inkiriwang (cucunya dari Nick adalah Ir.Fred Inkiriwang, mantan Menteri Perindustrian).


INKIRIWANG, Daniel J., (meninggal 1885). Kepala Distrik Kakas menggantikan ayahnya Johanis Inkiriwang. Memperoleh gelar kehormatan Majoor. Sebelumnya sebagai Hukum Kedua. Memperoleh penghargaan Zilveren ster. Tahun 1877 melancarkan protes domein verklaring bersama para kepala Minahasa lain. Ia kemudian meminta mundur setelah 30 tahun menjabat kepala distrik. Diberhentikan dengan pensiun bulan Desember 1879. Kawini E.Ratumbuysang, putri Majoor Tondano-Touliang Dirk Ratumbuysang, dan berputra A.W.R.Inkiriwang yang jadi Kepala Distrik Langowan.


INKIRIWANG, Emiel W., Salah seorang tokoh Komite Ketatanegaraan Minahasa (KKM) tahun 1949. Jadi Hukum Kedua Tombariri 1949-1951 serta Konsul Indonesia di Davao Filipina.
Inskripsi nisan Johanis Inkiriwang. *)
INKIRIWANG, Johanis, (Kakas, 1776-Kakas, 31 Oktober 1852). Kepala Distrik Kakas bergelar Majoor, anak Zacharias Telew Inkiriwang. Tahun 1816 diangkat menjadi Hukum Kedua Kakas, lalu 1829 berpangkat Kapitein dalam pasukan Tulungan asal Kakas ke Jawa Tengah berperang melawan Pangeran Diponegoro. Kembali di tahun 1830 langsung diangkat menjadi Kepala Distrik Kakas dengan gelaran Majoor. Pada tanggal 1 Juli 1835 membeli tanah Kalakeran Kakas bersama-sama Hukum Besar Distrik Tomohon Ngantung dan Hukum Besar Sarongsong Waworuntu, dari Martinus Catharinoes Lans seharga f.1.000. Kawin dengan Agustina Panungkelan, berputra sulung Daniel Inkiriwang diangkatnya sebagai Hukum Kedua, dan Hendrik Inkiriwang yang menjadi Hukum Tua Tounelet-Kakas.

INKIRIWANG, J.D., Hukum Kedua Eris di Tondano-Toulimambot tahun 1897 ketika bulan Februari 1897 diangkat jadi jadi anggota Landraad Manado voor Afdeeling Tondano. Tanggal 3 Juli 1904 dipromosi jadi Kepala Distrik Tombasian mengganti Th.E.Gerungan. Kemudian 8 Oktober 1909 pindah jadi Kepala Distrik Tonsawang dengan titel hukum besar klas 1.

INKIRIWANG, Zacharias Telew Kalekean, Kepala Balak Kakas hingga tahun 1830. Ayah Johanis Inkiriwang. Ada versi sekedar Hukum atau Hukum Kedua.

IROOT (IROTH), Kepala Balak Langowan di tahun 1808. Tanggal 14 September 1810 bersama 27 kepala Minahasa lainnya, meneken Kontrak dengan Residen Inggris Thomas Nelson. Namanya ditulis Tiscal, berada di urutan ke-18, di bawah Lela dan di atas Momuat. Besar kemungkinan ayah atau malah identik dengan Fiscal Iroot yang dihadiskan memerintah Langowan 1829-1841.

IROOT, Fiskal, Kepala Balak Langowan bergelar Majoor, disebut menjabat 1829-1841, diangkat Residen Mr.Daniel Francois Willem Pietermaat. Menjadi kepala balak setelah Tendap Saerang dicopot. Anak Iroot. Dikisahkan, ayahnya sempat bertemu dengan Marinus Balfour, yang pernah menjadi Fiscaal dan anggota Dewan Pemerintah (Politiek Raad) Maluku di Ternate, serta kemudian menjadi Residen Manado Juli 1809-1810.

ITEM, Pemimpin Tondano di negeri lama Minawanua, yakni di Uluna Moraya (sedang Emor di Uluna Paapal). Berjuang dalam perang di Minawanua. Sisa rumah kayunya masih terlihat di tahun 1959, berada di muara Temberan Moraya.

JOHUNTU, alias Kahuntu. Kepala Bantik berpangkat Gudangne. Masanya dikisahkan didirikan Buha, lalu Bengkol, disusul Bailang, Molas dan Meras.

KAAWOAN, Salah seorang pemimpin Balak di Tompaso tahun 1808. Disebut juga pernah jadi kepala balaknya.

KAAWOAN (KAUWAN),  Tonaas Tombariri dari Kakaskasen, anak Pukul. Dianggap pendiri Tombariri di negeri Katingolan (kini Woloan, Kota Tomohon). Bersaudara dengan Sumoindong, pemimpin Kakaskasen, dan Tumbelwoto pendiri Sarongsong di Tulau.

KAIRUPAN, Eky E., (meninggal 1945). Pamongpraja. Pernah menjadi Hoofdafdeling Belastingen di Minahasaraad 1933 lalu Hukum Kedua Tatelu tahun 1933, dan Hukum Kedua Manado, merangkap anggota Minahasaraad 1939-1940. Ketika masa Jepang dipertahankan sebagai Huku Guntjo (sebutan hukum kedua) tetap di Manado. Namun kemudian ditahan, serta diadili di Tondano dan dieksekusi Jepang setelah dituduh mata-mata Sekutu.
Waruga Kalalo. *)
KALALO, Kepala Kakaskasen, di masa awal berkuasanya Kompeni Belanda di Minahasa. Seorang pahlawan sakti yang ikut memerangi Raja Bolaang (Mongondow). Waruganya dipindahkan dari negeri lama di Nawanua ke lokasi baru di Kakaskasen III (kini Kecamatan Tomohon Utara Kota Tomohon) di masa Gubernur H.V.Worang.

KALALO, Kepala Balak di Kakas tahun 1808 bersama Kawengian. Disebut kaya-raya dan memiliki kebun-kebun luas. Pernah diperas Residen Belanda di Manado George Frederik Durr (1793-1803) membayar 1.000 gulden ditambah beberapa budak, gara-gara Durr terperosok dari kursi tandunya. Tanggal 14 September 1810 atas nama Balak Kakas meneken Perjanjian dengan Residen Inggris Thomas Nelson. Namanya dibawah Momuat dan diatas Kojongian.

KALALO, Kumarua (Hukum Kedua) Sarongsong (kini masuk Kecamatan Tomohon Selatan Kota Tomohon) dibawah Kepala Distrik Majoor Waworuntu (Herman Carl Waworuntu). Di bulan Januari 1846 memimpin pemindahan Sarongsong dari negeri tua Tulau-Amian Nimawanua ke lokasi sekarang. 

KALALO, Hermanus, Kepala Balak Kakas yang sebelum masuk Kristen bernama Mandolang. Ia mengawini Wilhelmensi anak Muntu-Untu Ratumbyusang, saudara Rumondor Ratumbuysang dari Tondano. Salah seorang putrinya, yakni Ontoy Elisabeth Aleto Kalalo dikawini 10 Agustus 1827 Majoor  Tololiu Hermanus Willem Dotulong, Kepala Balak lalu Distrik Sonder.

KALANGI, Tonaas Tombasian yang dianggap menjadi Kepala Balak Tombasian pertama (berpusat di Tombasian Kawangkoan kini). Bergelar Mopololewo. Ia pindahkan sebagian penduduk ke pesisir Teluk Amurang dan perangi Bolaang yang menyerbu untuk mengambil kembali Tanah Lewet. Dikisahkan, pasukan Bolaang diusir hingga ke ibukotanya sehingga rajanya minta berdamai.

KALANGI, A., Pejabat karir. Pernah Hukum Kedua, seperti di Kauditan 1957-1961. Berikutnya, Pejabat Sekwilda Minahasa 2 Oktober 1973-17 April 1976, lalu definitif 17 April 1976-24 Juni 1977.

KALELE, Tonaas Sarongsong terkenal sakti, cucu Kaleletua dan anak Karwur. Ia dianggap sebagai Kepala Pakasaan Sarongsong. Dikisahkan karena melanggar larangan, tewas terjepit di lokasi yang hingga kini dinamai Kinupitan di dekat Tulau, kota lama Sarongsong. Itu sebabnya juga ia dinamai Kalelekinupit.

KALENKONGAN, Andries Bernardus, (Manado, 13 Januari 1804-Manado, 12 Desember 1877). Kepala Distrik Likupang. Kawin dengan Johanna Wakkarij (1810-1910), dan ayah dari Arnoldus Bernardus Kalenkongan. 


KALENKONGAN, Arnoldus Bernardus, (meninggal di Manado, 27 Maret 1902). Pemilik tanah luas di Manado, yang pada 17 Maret 1847 menjualnya seharga f.750 menjadi tanah Kalakeran Distrik Langowan. Anak Andries Bernardus Kalenkongan serta Johanna Wakkarij. Jadi Inlandsch Bestuur sejak tahun 1847, dengan memulai sebagai klerk, lalu Hukum Kedua dan kemudian Hukum Besar. Tahun 1848 ia dicatat sebagai Wijkmeester Letter E di Manado sekaligus Letnan Satu di Schutterij Manado sejak 1833. Posisi Wijkmeester dipegang sampai  tahun 1868. Menjadi Kepala Distrik (eerste districtshoofd) Likupang sejak 1852 menggantikan kakaknya L.Kalengkongan. Di tahun 1856 ia memperoleh gelar kehormatan Majoor karena jasa-jasanya mengusir bajak laut Mindanau yang mengganggu pesisir pantai utara Minahasa. Kemudian menjadi anggota Land-of Minahassa-Raad (kelak Landraad) dari unsur kepala distrik, dan di tanggal 22 Agustus 1861 diangkat sebagai Hoofddjaksa bij den Land-of Minahassa-raad te Manado en bij de Rijksraden voor de Landschappen op de Noordkust van Celebes en de Sangie-eilanden, mengganti A.B.Waworuntu. Mei 1882 masa Residen F.L.Wattendorff dibenum (kembali) sebagai Inlandsch Officier van Justitie, dengan titel Hoofddjaksa Landraad Manado. Dengan beslit 4 Oktober 1871 nomor 35, tahun 1875 terima penghargaan medali emas (gouden medaille) untuk jasa sipil dari Gubernur Jenderal. Diberhentikan Hoofddjaksa Landraad Manado dengan beslit Gubernur Jenderal nomor 11 tanggal 15 September 1889 sehingga dia menyurat ke Regent Ratu 1 Agustus 1891. Kawin di Manado 8 Desember 1877 dengan Paulina Ward (Manado 17 Mei 1848-Manado 24 November 1892), dan ayah dari Petrus S.L.Ward Kalenkongan, Johanna C.Kalenkongan (diperistri J.C.Winckler), Charlotta A.Kalenkongan (diperistri B.C.Kuitert) serta L.Kalenkongan. Ia lama duduk sebagai anggota Inlandsch Schoolcommissie. Terakhir menjadi Ketua Komisi Adat Kebiasaan Minahasa
.


KALENKONGAN, Bernardus, Kepala di Likupang tahun 1803. Tanggal 14 September 1810 meneken Kontrak Perjanjian atas nama Likupang dengan pihak Inggris, sebagai Kepala Balak. Di kontrak dari 26 Balak Minahasa itu, namanya ditulis Bernardus Kalengkongan, berada kedua akhir (di atas Lokke dan dibawah Pelle Daniel Tumbelaka).


KALENKONGAN, J.B., Hukum Besar Kepala Distrik Likupang terakhir hingga diberhentikan April 1878. Sebelumnya tahun 1877 ikut melancarkan protes bersama kepala-kepala Minahasa lain atas pemberlakukan domein verklaring. Distrik Likupang kemudian dihapuskan, digabung dengan Distrik Klabat di-Atas (beribukota di Maumbi) menjadi Distrik Maumbi.

KALENKONGAN, K., Kepala Distrik Likupang  hingga tahun 1870. Diangkat dengan menggantikan pamannya A.B.Kalengkongan. Sebelumnya sebagai Hukum Kedua. Kemenakannya A.Kalengkongan menjabat Hukum Kedua dibawahnya.

KALENKONGAN, L., Anak dan pengganti P.Kalengkongan sebagai Kepala Distrik Likupang sejak tahun 1848 hingga 1852. Sebelumnya menjabat Hukum Kedua dibawah ayahnya. Digantikan oleh saudaranya A.B.Kalengkongan.

KALENKONGAN, P., Kepala Distrik Likupang yang berkuasa hingga tahun 1840. Dua anaknya kemudian menggantikan, yakni L.Kalengkongan dan kemudian A.B.Kalengkongan.

KAPANTOUW, Kepala Balak Kawangkoan 1815-1825 menggantikan Tuju. Masih alifuru.

KAPUGU, Kepala Bantik. Dikisahkan adalah kakak Malo. Malo diperistri Loloda Mokoagow yang lahirkan putra bernama Manopo yang dibaptis Kristen bernama Jacobus Manopo, dan jadi Raja Bolaang (Mongondow) tahun 1695. Versi lain Malo alias Malu alias Malangka adalah keturunan Ginupit dari Tontemboan asal dan bermukim di Amurang.

KAPUGU, Kepala Balak Bantik di dekade kedua dan ketiga tahun 1800-an. Sangat menentang tanaman paksa kopi bagi rakyatnya, dan dikisahkan merencanakan perlawanan terhadap Belanda. Namun sebelum pemberontakan meletus, ditangkap lalu diasingkan ke Belang. Nanti di hari tua dipulangkan.  

KAPUGU, Kepala Distrik Bantik beribukotakan Singkil di tahun 1840. Ada versi identik Kapugu yang diasingkan di Belang (dari catatan mantan Kepala Distrik Sonder Majoor Albertus Bernadus Waworuntu masih memerintah di awal tahun 1880-an, dengan Hukum Kedua M.Kapugu anaknya).

KAPUGU, M., Hukum Kedua Distrik Bantik dibawah ayahnya Kapugu.

KARINDAAlexander, Hukum Kepala Balak Negeri Baru yang namanya dicatat Gubernur Jenderal Mattheus de Haan 30 November 1727. Ia tanggal 14 Mei 1729 menyurat ke Gubernur dan Directeur Maluku Jacob Christiaen Pielat. Sudah Kristen

KARINDA, A(u)gustin, Kepala Balak Negeri Baru beribukotakan Titiwungen. Namanya tercatat sebagai salah seorang kepala yang beragama Kristen di Manado tahun 1773. Masih memerintah di masa Residen George Friedrick Durr 1791-1803, dan  diberhentikan pengganti Durr yakni Carel Prediger.

KARINDA, Johannes, Kepala Balak Negeri Baru menggantikan Agustin Karinda.

KARUNDENG, Johannes, Kepala Balak Negeri Baru. Meneken Kontrak tanggal 14 September 1810 dengan Residen Inggris Thomas Nelson atas nama balaknya (ditulis Negerie Bahroe). Namanya ditulis Johannes Carunding, berada di urutan ke-5.

KARWUR, Kepala Balak Tondano-Touliang, diriwayatkan memerintah 1790-1806, mengganti Moningka.

KAUNANG, Eman, Tokoh Balak Sonder dan tahun 1829 diangkat menjadi Letnan Dua Pasukan Tulungan dari Sonder yang berperang di Jawa melawan Pangeran Diponegoro.

KAWILARANG, Alexander Johanes, Majoor Kepala Distrik Tondano-Toulimambot, diangkat tahun 1850 mengganti Hendrik J.Supit, menjabat hingga tahun 1888. Anak Majoor Johanis dengan Lingkanbene Tewu. Kawini pertama Nona Lasut dan kedua Sandrana Adriana Supit, putri Majoor Hendrik J.Supit. Putranya dari Sandrana yakni Jan Alexander Kawilarang kelak menjadi kepala distrik juga.
Majoor Jan A.Kawilarang. *)
KAWILARANG, Jan Alexander, (Tondano, 1843-17 Juli 1922). Hukum Kedua Klas 1 Tondano-Toulimambot, kemudian dibenum Kepala Distrik Tondano-Touliang dengan titel hukum besar 12 Mei 1902 mengganti Estefanus A.Gerungan. Tanggal 6 Juni 1907 pindah jadi Kepala Distrik Tondano-Toulimambot. Peroleh penghargaan titel Majoor Agustus 1909. Menjabat hingga 1917 (versi lain 1920) saat diToulimambot gabung dengan Touliang menjadi Distrik Tondano. Anak Majoor Alexander Johannes Kawilarang dengan Sandrana Supit. Mengawini Amelia Sarah Lumanauw, putri Jan L.Lumanauw. Anak-anaknya adalah: Paul Kawilarang, Apeles J.H.W.Kawilarang, Letkol KNIL dr.J.A.J.Kawilarang, Lingkan Amelia Helena Kawilarang, Mayor KNIL Alexander Hermanus  Kawilarang serta Adriane Paula Adeline Kawilarang. Kakek tokoh Permesta Alex Kawilarang.


KAWILARANG, Johanis ‘Umpel’, Kepala Distrik Tondano-Toulimambot bergelar Majoor, memerintah tahun 1847-1848, menggantikan Abraham Lotulong. Anak Kawilarang (Awilarang) dan Sapewuat serta adik Rogi Lucas Kawilarang. Awalnya menjadi sebagai Hukum di Tondano-Toulimambot, lalu di tahun 1829 ikut pasukan Tulungan memerangi Pangeran Diponegoro, dengan memperoleh pangkat sebagai Letnan Satu. Pulang kembali, diangkat sebagai Hukum Kedua dibawah ayah mantunya. Dalam kepemimpinannya sebagai kepala distrik, iparnya Apeles Hendrik Supit menjadi hukum kedua. Kawini Lingkanbene Suanen Warentewan Magdalena Augustina Tewu, cucu Tewu, dan kedua dengan Maas, putri Matulandi. Dari Lingkanbene Tewu peroleh anak Alexander Johannes Kawilarang yang kelak jadi Majoor kepala distrik, serta Karel Kawilarang (kelak Hukum Tua). Ada versi menyamakannya dengan Johanis Sangari (Sangare), telah memerintah sejak 1825. Namun versi bertentangan, Umpel menggantikan Sangari sebagai Wakil Kepala Balak, lalu kemudian Kepala Distrik. Dicatatkan masih hidup di tahun 1867. 

KAWILARANG, K.J.A., Pamongpraja. Bulan Agustus 1909 dalam kedudukan Hukum Kedua Klas 1 Remboken di Distrik Kakas-Remboken, memperoleh penghargaan zilveren ster dengan beslit Gubernur Jenderal.
Paul Kawilarang. *)
KAWILARANG, Paul J.A., (lahir 1874). Pamongpraja. Anak Jan A.Kawilarang. Menjadi Hukum Kedua Tondano-Toulimambot, 1905. Hukum Besar Kepala Distrik Toulour 1949 gantikan E.W.Lalamentik. Namun menjabat hanya selama 1 bulan, kemudian diangkat menjadi Kepala Polisi di Manado. Kawini Griet Wenas, anak Majoor Tomohon Herman A.Wenas. Jadi salah seorang pimpinan Hoofdenbond.

KEBA. Disebut salah seorang dari tiga tonaas pendiri Ares.

KEINCEM (KEINTJEM), Kepala Balak Sonder, disebut memerintah tahun 1650-1700 bersama-sama Palar, Mangowal, Toporundeng dan Pesik.

KEINCEM (KEINTJEM), Kumarua (Hukum Kedua) Sonder memerintah 1809-1815 dibawah Kepala Balak Palar Tambuwun. Tanggal 14 September 1810 meneken Kontrak dengan Residen Inggris Thomas Nelson mewakili Balak Sonder. Namanya ditulis Sentjam Tugo (dibawah Pantouw dan di atas Lela).

KILAPONG, Alias Walintukan. Kepala Balak Tondano-Toulimambot, dihadiskan memerintah tahun 1780-1791, menggantikan Pangalila.

KILAPONG, Kepala Tondano di-Bawah (pemukiman orang asal Tondano) di Manado permulaan tahun 1800-an. Tanggal 14 September 1810 bertanda dalam Kontrak Minahasa-Inggris, dimana namanya ditulis Cilapon.

KINDANGEN, A., Kepala Distrik Tonsawang. Telah menjabat di tahun 1860-an. Tahun 1877 melancarkan protes terhadap pemberlakukan domein verklaring, sehingga kemudian diberhentikan.
.
KOAGOUW, Rein, Pejabat pamongpraja. Di jaman Jepang sebagai Huku Gunco (hukum kedua) di Tondano.

KIROYAN, Hukum Majoor Kepala Balak Kawangkoan dengan gelaran lain Penghulu, menggantikan Topurendeng. Masanya Mononutu dan Makiolor keluar dan mendirikan negeri Songkel yang kelak jadi Sonder.

KIWEL, Dianggap Kepala Balak Kawangkoan setelah Wolah. Saatnya panglima Mamarimbing memukul mundur pasukan Bolaang sampai di Buyungon. Digantikan oleh Legi.

KOJONGIAN, Kepala di Langowan permulaan tahun 1800-an, sebagai wakil kepala balak Iroth.

KOJONGIAN, Kepala Balak Sarongsong tahun 1810-1819. Meneken Kontrak dengan Residen Inggris Thomas Nelson tanggal 14 September 1810 atas nama Balak Sarongsong. Namanya berada di urutan 21 (di bawah Kalalo dan di atas Mokolensang). Sebelumnya pembantu dari Lontoh Tuunan (2) yang memerintah Balak Tomohon sekaligus Sarongsong. Dikisahkan berasal dari Woloan Balak Tombariri (kini masuk Tomohon). Versi lain adalah Kepala berasal Langowan yang bertanda mewakili balak tersebut.
Patung buatan Alexander Bastian Wetik. *)
KORENGKENG, Pada 1808 disebut Kepala Balak Tondano-Toulimambot. Ditahan Belanda 19 Oktober 1808 setelah musyawarah. Lalu 2 November 1808 dibebaskan bersama Kepel. Setelah Tondano ditaklukkan mengungsi ke Kapataran-Sawangan. Pada 31 Desember 1817 diangkat kembali menjadi Kepala Balak Tondano-Toulimambot oleh Gubernur Ambon Komisaris Jenderal Laksamana Arnold Adrian Buyskes atas nama Raja Belanda, serta memerintah hingga tahun 1825. Waruganya disebut terdapat di areal Moraya Tondano.

KOROMPIS, Jan, Tokoh Balak Rumoong. Tahun 1829 ditunjuk kepala balaknya Lao(h) jadi salah seorang pemimpin pasukan Rumoong dalam tentara Tulungan yang berperang di Jawa, dan memperoleh pangkat dari Residen sebagai Letnan Satu.

KOWAAS, Jimmy Hendrik Daniel, (meninggal 1985). Kepala Distrik Tomohon terakhir (1965-1966) asal Woloan Tomohon. Sebelumnya polisi lalu pamongpraja. Pernah jadi Hukum Kedua (Camat) di Tompaso dan Tareran 1962 dan di Pineleng 1964-1965.

KUMOLANTANG (KUMOLONTANG), P., (meninggal 1853). Tokoh Langowan. Tahun 1829 berangkat ke Jawa memerangi Pangeran Diponegoro, berpangkat Letnan (ditulis Kumelantan) dibawah Kapitein Sigar. Menjadi Hukum Kedua Langowan sejak 1848 dibawah Majoor Sigar yang telah jadi Kristen dengan nama Thomas Sigar.

KUMOLONTANG, Oscar Gerung, Kepala Langowan. Putranya Jan jadi Hukum Tua di Koyawas. 

KUNDOI. Dotu dihadiskan sebagai pendiri Pakasaan Klabat di-Bawah bersama-sama Wangke dan Saumanen. Datang dari Klabat di-Atas (Maumbi kini) yang sebelumnya dibuka pemukim yang datang dari Kakaskasen-Kinilow. Di bagian Kota Manado kini, ia membuka Kalawat Kaleosan yang menjadi Wanua Ure dan Komo Luar sekarang, sebagai ibukota. Kemudian dibuka pula negeri-negeri Paniki di-Bawah, Paniki di-Atas, Tombuluan dan Kairagi.

LALAMENTIK, Kepala Kakas yang memimpin orang Kakas mengusir Raja Bolaang Loloda di sekitar tahun 1660 bersama Muri.
Waruga Lalamentik. *)
LALAMENTIK, Kepala Balak Kakas. Di waruganya yang telah dipugar di depan gereja GMIM Talikuran, namanya hanya tertulis Kepala Balak Lalmentik. Namun, ada versi pemerintahannya sampai tahun 1830, dan ialah kepala balak saat mengirim pasukan tulungan dipimpin Kapitein Inkiriwang.

LALAMENTIK, Efraim ‘Bob’ Willem, Pamongpraja. Hukum Kedua Kakas 1942, dan Kauditan 1944-1945, lalu Hukum Besar Kepala Distrik Toulour (Tondano) 1947-1949. Jadi salah seorang tokoh KKM dan Hoofdenbond, bahkan di tahun 1950 sebagai ketua dari Persekutuan Kepala Distrik (Hoofdenbond) itu. Kawini Johana Magdalena Waworuntu (1903-1938), dan ayah Petrus ‘Willy’ Willem, Adeline, Esther dan Gijsje Juliana.

LALAMENTIK, Willem Josep ‘Hein’, Birokrat. Tamatan HIS, dan OSVIA Makassar. Menjadi Hukum Kedua Manado Utara 1942, Hukum Kedua Kakas 1946, dan Kauditan 1946-1947, Hukum Kedua Toulour, lalu Hukum Besar Kepala Distrik (Toulour) 1953 sampai tahun 1954 dengan SK Gubernur Sulawesi dipindahkan ke Timor Propinsi Nusa Tenggara sebagai bupati. Kemudian menjadi Gubernur pertama Provinsi Nusa Tenggara Timur sejak Desember 1958 hingga 1966, diganti El Tari.

LAMIA, Kumajas, Kepala Sonder yang ikut dalam Pasukan Tulungan 1829 untuk memerangi Diponegoro. Memperoleh pangkat sebagai Letnan Satu.

LAOH, Kepala Balak Rumoong yang tanggal 20 Januari 1829 dengan nama Lauw, meneken kontrak perjanjian dengan Residen Manado Mr.Daniel Francois Willem Pietermaat bersama-sama Kepala Balak Sonder dan Tombasian, dimana ia berjanji menyediakan 30 orang Rumoong jadi serdadu pasukan Tulungan berperang di Jawa. Disebut pula Lao (Lauw) Runtuwene.

LAOH, Pahlawan Sonder di negeri tua Kiawa sekitar tahun 1770-an. Berperan juga sebagai seorang Wa’ilan. Disebut-sebut merupakan suami pertama dari Porongkahu, putri Kepala Balak Sonder Walewangko yang tahun 1795 dikawini Kepala Balak Tonsea Waro Welong Gerard Willem Dotulong. Sehingga Tololiu Dotulong dikisahkan sebagai anak kandungnya.

LAOH, Kepala dari Sonder, ditulis Lauw. Di tahun 1829 diangkat menjadi Kapitein dalam pasukan Tulungan asal Balak Sonder bersama-sama Runtulalo dan Sondang Palar.
B.W.Lapian. *)
LAPIAN, Bernard Wilhelm, (1892-Jakarta, 5 April 1977). Pamongpraja terkenal, pahlawan nasional, tokoh pejuang dan gereja, asal Sendangan Kawangkoan. Anak Enos Lapian (kepala Gouvernement Volkschool Kawangkoan) dan Petronela Mapaliey. Anggota Minahasaraad 1931-1942 dan Volksraad hingga 1942, Gunco (Kepala Distrik) Langowan 1944-1945, Kepala Distrik Manado 1945-1946, dan jadi salah seorang tokoh sipil penting pada perebutan kekuasaan 14 Februari 1946. Saat itu ia dipilih sebagai Residen Sulawesi Utara dan Tengah, 16 Februari 1946. Ditahan dan dihukum selama 6 tahun oleh Belanda, dan baru dibebaskan dari penjara Glodok 21 Desember 1950. Diangkat pemerintah menjadi Pejabat (Acting) Gubernur Sulawesi berkedudukan di Makassar 17 Agustus 1950 hingga Februari 1952 (versi lain hingga 1 Juli 1951). Diperbantukan di Kementerian Pertahanan sebagai salah seorang pemimpin Biro Rekonstruksi Nasional (BRN). Pensiun 1957 dengan pangkat Kolonel TNI. Di KGPM menjadi Sekretaris 18 Maret 1933 lalu Ketua Pucuk Pimpinan KGPM 1933-1974. Menerima bintang Mahaputera Pratama 13 Agustus 1976. Dimakam di TMP Kalibata Jakarta. Kawin dengan Maria Adriana Pangkey. Ayah Prof.Dr.A.B.Lapian, dan kakak Benjamin J.Lapian serta Emile Yosis Lapian.

LAPIAN, Mien SUMAMPOUW-, Tokoh wanita. Sebagai anggota Majelis Badan Pekerja Harian Minahasa (MBPDM) akhir 1949 setelah penyerahan kedaulatan, mengambilalih pemerintahan Minahasa dibawah P.M.Tangkilisan. Sempat memangku jabatan Kepala Distrik Kawangkoan. Hingga 1950-an sebagai aktivis Barisan Nasional Indonesia (NBI), dan tahun 1960-an tokoh Partindo. Juga dikenal sebagai tokoh wanita KGPM, pernah 1950 sebagai Ketua Persatuan Ibu-ibu Masehi (Perima) dari KGPM.

LASUT, Hukum Majoor Kepala Balak Ares, yang dicatat sebagai salah seorang peneken Kontrak 10 September 1699 di Benteng Amsterdam Manado dengan wakil Kompeni Belanda Kapten Paulus de Brievings dan Onderkoopman Samuel Hatingh. Namanya disebut bersama Hukum Majoor Lolaby, namun dicatat dari Beneden Negoriy. 

LASUT, Hukum Majoor Kepala Balak Ares yang mengganti Tololiu Supit, ayah mantunya, memerintah hingga akhir 1700-an. Ia mengawini putri Tololiu bernama Marawulawan. Disebut juga sebagai Worosangan Lasut. Putranya dari Marawulawan menggantikannya.

LASUT, Bastiaan Hubertus, (meninggal 1842). Kepala Balak Ares bergelar Majoor, menggantikan ayahnya Londok Kambey Lasut. Memerintah sejak tahun 1827 hingga meninggalnya. Namanya sebelum diseranikan adalah Loway. Mengawini Tamene Parengkuan, putri Kepala Balak Kakaskasen. Digantikan adiknya Johakim B.Lasut. ***

 *). Koleksi foto dan repro foto Bodewijn Talumewo serta Didi Sigar.

PUSTAKA
-Adrianus Kojongian Dkk., ‘Ensiklopedia Tou Manado’
-Berbagai sumber literatur Minahasa.
-Catatan Mayoor Tua Sonder A.B.Waworoentoe.
-Almanak en Naamregister van Nederlandsch-Indie 1848, 1850, 1959 dan 1864, digitized by Google.
Koninklijke Bibliotheek-Historische (lalu Delpher) Kranten (De Locomotief 22 Desember 1879, 20 Mei 1882, Java Bode 1 Februari 1873, 23 Desember 1892; Soerabaiasch-Handelsblad 11 September 1891, 23 Desember 1892; Het Nieuws van den Dag 9 Oktober 1909; Bataviaasch Nieuwsblad 26 Agustus 1910 dan 20 Juni 1914). 
-Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie 1892,1895,1896,1898,1899,1903,1905,1910,1912.
-Genealogi Online Nederland serta berbagai silsilah dan slagbom keluarga keturunan penguasa Minahasa.
-Berbagai nama lepas di berbagai media lain.


Posting Komentar