Rabu, 06 Agustus 2014

Tondano Tahun 1821

                                           



                                                      Oleh: Adrianus Kojongian










Sketsa A.J.Bik  koleksi Rijksmuseum Nederland di atas, merupakan lukisan paling detil yang menggambarkan pusat kota Tondano berhiaskan tiang-tiang kayu, di tahun 1821, atau sekitar seratus sembilan puluh tiga tahun silam. Rumah-rumah panggung khas Minahasa, terlihat mengelilingi bangunan loji bertangga dua yang menjadi  kantor sekaligus rumah kediaman Opziener Tondano bernama (J.B.) Weidemuller (Weydemuller), dimana bendera tiga warna Belanda terlihat berkibar megah di bubungan.

Sangat khas tangga-tangga rumah penduduk, termasuk Loji Opziener, bukan berada di bagian depan seperti lazimnya membudaya kemudian, tapi justru di bagian samping. Sebuah bangunan kecil di sampingnya bisa jadi adalah rumah jaga.

Loji Opziener diapit oleh sungai (Tondano), serta kemungkinan sebuah anak sungainya atau selokan, dengan penghubung dua jembatan kecil, sehingga pastinya bukan Loji Tondano yang ada sampai sekarang di Kelurahan Rinegetan Kecamatan Tondano Barat. Namun, lokasinya pasti tidak terlalu jauh, masih di kawasan stad Tondano, mendekati aliran sungai Tondano.

Bangunan besar di bagian belakang Loji Opziener justru hampir mirip dengan Loji yang pernah berdiri di pekarangan Kantor Bupati Minahasa Jalan Sam Ratulangi di Kelurahan Wawalintouan. Namun, Loji Tondano yang oleh Bupati J.O.Bolang dijadikan Museum Minahasa, baru didirikan Kepala Distrik Tondano-Touliang Majoor Dirk Ratumbuysang tahun 1840-an, meski versi lain sudah ada sejak  tahun 1824, dibangun Kepala Balak Tondano-Touliang Matulandi.

Dapat dipastikan pemukiman penduduk, termasuk loji Opziener dalam sketsa Bik, semuanya menghadap ke timur, sehingga pemukiman yang dilukis A.J.Bik menggambarkan pemandangan negeri Tondano di bagian Touliang. Pembagian wilayah Tondano ketika itu, sebelah  barat sungai Tondano (sungai Temberan) merupakan daerah kekuasaan Balak Tondano-Touliang, dan sebelah timurnya masuk wilayah Balak Tondano-Toulimambot.

Balak Tondano-Touliang mencakup negeri-negeri: Wewelen, Watulambot, Rerewokan, Wawalintouan, Tounkuramber, Rinegetan, Tuutu, Roong, Koya dan Tataaran. Lalu negeri masuk Balak Tondano-Toulimambot terdiri Luaan, Ranowangko-atas, Wengkol, Kendis, Katinggolan, Liningaan, Taler, Kiniar dan Papakelan.

Tondano di tahun 1821 baru berumur sekitar sebelas tahun, setelah Residen Inggris Thomas Nelson memindahkan Tondano ke hilir dari bekas negeri lama di pulau delta Minawanua. Tondano lama dihancurkan dan dibakar habis Kapten Lodewijk Weintre dalam perang Minahasa di Tondano 1808-1809. Penduduk kemudian membangun rumah-rumahnya di sebelah-menyebelah sepanjang aliran hingga ke dekat muara sungai Tondano, entah karena mereka masih mengenang rumah-rumah panggungnya yang tegak berdiri di pasang air Danau Tondano di Minawanua.

Lukisan kedua A.J.Bik memperlihatkan bagian lain pemukiman yang berada di pinggiran sungai Tondano pula, dengan latar jauh tertampak bendera, bangunan-bangunan besar dan barisan bukit-bukit kecil Pegunungan Lembean. Boleh dipastikan objeknya tidak terlalu berjauhan dengan posisi Tondano dalam sketsa. Bik kemungkinan melukiskannya dari arah seberangnya di Touliang, sehingga pemandangan bagian Tondano-Toulimambot yang terlihat, bisa jadi di Wengkol. Kebalikan dari sketsa, posisi rumah dalam lukisan tidak beraturan, namun tangga 2 rumah di seberang sungai terlihat menghadap ke timur. 


Uniknya, adalah waruga-waruga masih berada di pekarangan. Tradisi Minahasa masa itu memang masih memakamkan keluarga meninggal di kintal rumahnya. Lukisan Bik yang kedua ini memperlihatkan perbedaan pada tinggi tiang rumah, sementara dalam sketsa, tiang-tiang bangunan meski besar tidak setinggi yang ada dalam lukisannya. Dapat ditebak, karena antisipasi sewaktu-waktu menghadapi luberan dan banjir Danau Tondano.

Karena posisi lukisan A.J.Bik berada di stad Tondano, maka kemungkinan besar Loji Opziener di tahun 1821 berada di lokasi yang masa itu masuk Wawalintouan. Namun melihat tampilannya seperti berada di sebuah tonjolan tanah di tepi sungai, lokasinya lebih pas berada di Kelurahan Ranowangko sekarang, berdekatan Kantor Pegadaian Tondano.

Sungai Tondano ketika itu tampak masih sangat jernih, dalam dan  lebar. Air luberannya mencapai rumah-rumah penduduk di kedua tepi. Terlihat dalam sketsanya dua pria tengah berperahu bolotu, di dekat –mungkin-- pangkalan perahu. Kemungkinan, ketika Bik melukis Tondano, Danau Tondano sedang meluap dan terjadi banjir, karena ketika itu tengah bulan Oktober, biasanya merupakan musim penghujan.

Pada lukisan kedua A.J.Bik, waruga-waruga masih berada di pekarangan rumah. Bik tertarik pula dengan pekuburan khas penduduk Minahasa, sehingga ia menjadikan sejumlah waruga sebagai objek lukisnya. 


Salah satu dari waruga lukisannya menunjukkan sang meninggal adalah seorang tokoh yang wafat belum lama berselang. Waruganya dipakaikan katu, berhiaskan topi kuningan Portugis, loto, payung simbol kebesaran, guci porselin dan barang khas lain milik si meninggal.

Sepertinya kerusakan waruga di Tondano telah terjadi sejak sebelum tahun 1821. A.J.Bik melukis pula waruga kosong yang terpisah dari penutupnya.

Tidak diketahui pasti apakah A.J.Bik menyempatkan diri mengunjungi pemukiman tua Tondano di Minawanua yang memiliki ratusan waruga. Soalnya, di masa itu waruga masih gampang ditemui di mana-mana pemukiman penduduk Tondano dan Minahasa umumnya, yakni di pekarangan rumah penduduk. 

LIMA HARI
Adrianus Johannes Bik (1790-1872), adalah seorang pelukis terkenal di Hindia-Belanda. Ia antara lain melukis wajah Pangeran Diponegoro. A.J.Bik bersama adiknya Jannus Theodorus Bik (1796-1875) --yang juga pelukis--, ikut dalam perjalanan Prof.Dr.Caspar Georg Karl Reinwardt, Direktur Pertanian, Seni dan Pendidikan untuk Pulau Jawa. Reinwardt dikenal juga sebagai pendiri dan pemimpin pertama Kebun Raya Bogor.

Selama ekspedisi Reinwardt ke Indonesia Timur dari 27 Februari 1821 sampai 26 Juni 1822, Bik melukis berbagai pemandangan, barang antik, penduduk setempat, termasuk pohon dan tanaman. Beberapa sketsa dan lukisan karya Bik tentang Manado (Minahasa) merupakan koleksi Rijksmuseum Volkenkunde di Leiden Negeri Belanda.

Dalam bukunya Reis naar het Oostelijk gedeelte van den Indischen Archipel in het jaar 1821, yang juga memuat lukisan-lukisan Bik, Reinwardt (1773-1854) menulis tiba di Tondano melalui Tataaran dan Koya dari Tomohon pada tanggal 19 Oktober 1821. Ia disambut oleh Opziener Tondano, Komandan Weidemuller, serta para Hukum dan penduduk. Ketika tiba di rumah Oud Hukum yang berada di tengah-tengah negeri, rumah yang jadi tempat Reinwardt menginap selama di Tondano, kerumunan orang dan para Hukum dengan berbagai atribut segera memenuhi pula. Melihatnya, Reinwardt menyimpulkan bahwa Tondano jarang dikunjungi orang Eropa.  

Sangat mungkin Oud Hukum dimaksud Reinwardt adalah Kepala Balak Tondano-Touliang Matulandi yang memerintah tahun 1817-1829. Sementara Kepala Balak di Tondano-Toulimambot adalah Korengkeng. Keduanya menggantikan Kepala Balak Tondano bersatu Majoor Jacob Mantilen Supit yang memimpin Tondano setelah pindah dari negeri lama Minawanua 1810.

Majoor Jacob Supit kemungkinan telah meninggal dan waruganya dipercayai berada di dekat selokan sungai Tondano, di tempat sekarang berdiri SMP Negeri 1 Tondano di Kelurahan Liningaan Kecamatan Tondano Timur. Bisa jadi salah satu lukisan waruga A.J.Bik, adalah kuburannya itu.
                                    
Rumah-rumah di Tondano dicatat Reinwardt sangat besar dan luas, dengan tiang tinggi dan balok-balok berat. Terutama, rumah Oud Hukum dimana ia tinggal, menurut Reinwardt, memiliki penampilan yang sangat baik dan pasti yang terbaik dari seluruh tempat di Tondano.

Namun, dari temuannya, ditambahkan Reinwardt ketika ia mengamati lebih jauh, gambaran bagus itu tidaklah memenuhi penampilan cantik. Digambarkannya, seperti umumnya rumah-rumah Minahasa, di tengah adalah bagian utama dari rumah. Selain kecil, ruang sempit, tanpa furnitur selain ranjang. Lebih jauh lagi, jendela kecil yang tebal, dekat satu sama lain. Lubang persegi di lantai untuk membuang kotoran, pintu tanpa kunci dan hanya sepotong kain untuk pemisah satu sama lain. Kemudian di seberang pintu melalui galeri rumah, sebuah portal kecil berada dapur-dapur.

Ketidaknyamanan lain rumah-rumah besar di Tondano, diungkap Reinwardt pula, karena letaknya berada di tengah jalan, dan jarang dikelilingi pagar halaman. Lalu ketika meninggalkan rumah, tangganya curam, sehingga banyak menimbulkan kecelakaan bagi anak-anak.

Jalan-jalan semua sangat luas dan secara keseluruhan sangat bersih, tetapi dengan banyak ruang di bawah rumah, hal ini jarang terjadi. Pemandangan bertolak belakang, justru terlihat sampai ke ujung tempat rumah-rumah di sepanjang sungai dibangun. Terutama di dekat danau, yang berawa-rawa dan selalu dilanda banjir, menurut Reinwardt, penampilannya sangat tidak menguntungkan dan lusuh. Rumah-rumah kecil di tempat itu sangat buruk dan menggambarkan kemiskinan penduduknya. Lokasinya banyak tidak dapat diakses dengan berjalan kaki, tapi harus melalui air dan lumpur menggunakan bolotu (ditulisnya bloto), perahu kecil yang dibuat dari batang pohon.

Reinwardt menyinggung pula tentang negeri lama Tondano di Minawanua, dengan sisa-sisa pertempuran dan pembumihangusan yang dilakukan Kapten Lodewijk Weintre di tahun 1809 berupa  puing-puing tiang-tiang tinggi rumah panggung penduduk di atas air. Tondano lama dikalahkan setelah pengepungan sembilan bulan. Penduduk dilarang kembali ke Minawanua, dan harus membangun rumah di daratan.

Reinwardt dan rombongannya meninggalkan Tondano lewat Danau Tondano pada hari Rabu tanggal 24 Oktober dengan menggunakan perahu bolotu menuju Remboken. ***

         *Foto Koleksi Rijksmuseum dan repro buku Reinwardt

BAHAN OLAHAN
-C.G.C.Reinwardt, Reis naar het Oostelijk gedeelte van den Indischen Archipel in het jaar 1821.  (ebook Google)
-Wikipedia