Kamis, 17 Maret 2016

Pelukis Paulus Najoan dan Frederik Kasenda








                                                      Oleh: Adrianus Kojongian







Lukisan Frederik Kasenda. *)







Pelukis asal Minahasa telah tersohor sejak lebih satu abad lalu. Adalah Paulus Najoan yang menjadi perintis munculnya pelukis-pelukis hebat dari Minahasa. Meski kemudian ia lebih dikenal sebagai fotografer Indonesia, ketika masih Hindia-Belanda, tapi, lukisannya menjadi sangat antik dan dicari.

Paulus Najoan belajar melukis dan memotret --bakat lainnya yang mengantarnya menjadi lebih terkenal-- di Jakarta ketika masih Batavia. Ia masih menimba ilmu dari guru kepala Hoofdenschool di Makassar. Usai pendidikan, ia bekerja di Ambon Maluku sebagai guru seni di Sekolah Guru (Kweekschool) Ambon.

Sejak tahun 1880-an, karya-karyanya telah memenangkan penghargaan di Batavia. Bulan November 1884 tiga buah potret pemandangan dari kapur karyanya, memperoleh penghargaan medali perak (zilver).

Tapi yang membuat nama Paulus Najoan masih diingat adalah dua lukisan pemandangan yang dibuatnya di Ambon tahun 1892. Lukisan tersebut berlatar pemandangan Teluk Ambon. Dilihat ke barat saat matahari terbenam, dan melihat ke arah timur ketika matahari terbit di (gunung) Salahutu.

Lukisan pemandangan Teluk Ambon itu dibuat Paulus Najoan khusus untuk Gerrit Willem Wolter Carel Baron van Hoevell, Residen Ambon tahun 1891-1896. Baron van Hoevell (1848-1920), sebelumnya menjabat Asisten-Residen di Gorontalo, dan di belakang hari sebagai Gubernur Sulawesi 1898-1903



Paulus Najoan di bencana Ambon 1898. *)


Di masa berikut, lukisan Paulus Najoan tersebut telah diwariskan sebagai koleksi milik putri sang Baron, yakni Baronesse van Hoevel yang dikawini mantan Residen Tapanuli J.W.Th.Heringa. Karena kondisinya memprihatinkan, kedua suami-istri itu merestorasi lukisan Paulus Najoan pada Jan Frank, seorang pelukis terkenal di Batavia ketika itu. Usai diperbaiki lukisan Paulus Najoan sempat dipamerkan di depan umum di Batavia pada bulan Juli 1937.

Kemudian tidak diketahui lagi bagaimana nasib lukisan pemandangan Teluk Ambon karya Paulus Najoan. Namun, ketika pameran 1937 sang Baronesse mengutarakan keinginannya agar lukisan tersebut kembali ke Ambon, sebagai penghias rumah Residen Ambon.  

Seakan raib tanpa bekas, baru lima puluh sembilan tahun kelak, yakni di tahun 1996 diketahui kalau lukisan Paulus Najoan dilelang di Indonesian&South East Asian Picture Glerum Auctioneers Singapura, meski pihak pelelang salah menaksir perkiraan usianya, 1902. Padahal semestinya lebih tua lagi, karena dibuat tahun 1892. Nilai penjualannya adalah 3.600 SGD Hammer, atau saat itu hampir 35 juta rupiah.

Kehidupan pribadi Paulus Najoan tidak banyak diketahui. Hanya diketahui ia lahir sekitar tahun 1860-an dan kawin di Ambon dengan Johanna Wilhelmina Abrahamse yang meninggal 9 November 1900. Ia memperoleh status disamakan dengan orang Eropa, begitu pun anak-anaknya yang lahir di Ambon seperti Johannes Paul Simon Najoan, Willem Johan Carel Najoan dan Henriette Johanna Wilhelmina Najoan. Regeeringsalmanak mencatat, Paulus Najoan dengan nama lengkap J.P.S.Najoan (seperti inisial anaknya), diangkat menjadi guru handteekenen di Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers Amboina terhitung tanggal 10 Oktober 1885.

ASAL REMBOKEN
Pelukis terkenal Indonesia asal Minahasa berikutnya adalah Frederik Kasenda. Ia dilahirkan di Remboken Minahasa tanggal 31 Mei 1891. Bakatnya telah terasah sejak belia, dan menarik perhatian Johan Ernst Jasper (1874-1945) yang kelak menjadi Residen di Tapanuli dan Gubernur Yogyakarta. Jasper membantu Kasenda studi dan mengembangkan bakatnya di Jawa.



Rumah di tepi sungai karya Frederik Kasenda. *)


Pamor Frederik Kasenda sebagai pelukis, terkenal di periode tahun 1920-an dan 1930-an. Ia sangat giat mengadakan pameran di berbagai tempat di Jakarta, kemudian Surabaya serta kota-kota besar lain. Karyanya membuat banyak pengusaha Tionghoa sangat mengaguminya. Dua lukisan wajah pemimpin Tiongkok, yakni Dr.Sun Yat Sen dan Jenderal Chiang Kai-Shek yang dibuatnya ketika itu sangat terkenal, sehingga Frederik Kasenda sempat disponsori mengadakan pameran di Singapura.

Frederik Kasenda meninggal di Jakarta, 1 Januari 1942 sebelum Jepang berkuasa. 

Sekarang lukisan-lukisannya banyak dilelang di luar negeri. Seperti di Glerum Auctioneers Gravenhage, Glerum Auctioneers Singapura, Christie’s Amsterdam, dan Sotheby’s Amsterdam. Semisal lukisan people escaping eruption of Merapi in December 193, dilelang di Glerum Auctioneers Singapura 30 Juni 1996 senikai $1.987 USD. Lalu Stream through the bamboo forest di Christi’e Amsterdam 26 September 2006 senilai $1.015 USD. Selang 1994-2009 diketahui ada sebanyak 10 buah lukisannya dijual dengan harga maksimum $ 1.987. ***

*). Lukisan dari auction catawiki, pinterest dan foto KITLV Digital Media Library.

BAHAN OLAHAN
Delpher Kranten
                 Ensiklopedia Tou Manado.