Minggu, 27 Januari 2013

Misteri Kematian Raja-raja dan Tokoh Satal

 

 

Oleh: Adrianus Kojongian

 

 



Laksamana Muda K.Hamanaka, Residen (Tidji) Manado. *)



Pembunuhan para raja dan tokoh masyarakat Sangihe-Talaud di Bungalawang Tahuna masa penjajahan Jepang menyimpan banyak misteri yang sampai saat ini belum terungkap jelas. Sejumlah penulis, saksi mata, bahkan keturunan dari para korban bersilang pendapat kapan tepatnya tragedi mengenaskan itu terjadi. Ada memastikan kejadiannya berlangsung tahun 1942, lalu 1944 dan paling banyak berpendapat di tahun 1945. Tanggal-tanggalnya bervariasi 7 Juli 1942, 25 Agustus 1942, 9 November 1944, Desember 1944 dan terbanyak tanggal 19 Januari 1945.

Jumlah korban dan siapa-siapa yang dipancung pun dipertentangkan. Beberapa kalangan memastikan sepuluh orang yang dipenggal kepalanya, tapi banyak pihak dan saksi mata menyebut lebih. Bahkan sebelum eksekusi mereka, di Bungalawang (kini kelurahan di Kecamatan Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe) pada hari bersamaan Kempetai (polisi militer) Tahuna terlebih dulu telah mengeksekusi satu keluarga besar terdiri 30 orang berasal dari Tabukan.

Pendapat seragam adalah korban terkenal yang dibunuh bersamaan, yakni: Raja Tahuna (Kendahe-Tahuna) Engelhard Bastiaan, Raja Tagulandang Willem Philips Jacob Simbat, Raja Manganitu Willem Manuel Pandengsolang Mocodompis, Raja Talaud P.G.Koagow, mantan Raja Tahuna Christiaan Nomor Pontoh, Jogugu (sebutan Kepala Distrik) Kendahe Anthoni, Jogugu Manalu (Tabukan Selatan) Karel Patras Macpal, serta istri dokter Gyula Cseszko bernama Emma Rosza Haday von Oerhalma, tenaga Zending di Tahuna Sangihe-Talaud asal Hongaria Eropa. 

Ada menambahkan yang dieksekusi hari itu pun termasuk sang dokter sendiri (meski ditolak anak-anaknya dan saksi mata lain yang memastikan dokter Gyula tewas dalam kamp interniran di Tondano). Lalu terdapat nama guru agama G.Tatengkeng, kepala negeri Buang Kaliapas Jacobs yang versi lain telah dibunuh 25 Agustus 1942, Jogugu Tagulandang B.Jacobs, Jogugu Manganitu B.L.P.Jacobs (versi lain 1942); Jogugu Tamako H.J.P.Macahekum (selain versi Desember 1944). Kemudian ada Jogugu Ondong E.Marthing, Jogugu Taidi dan W.A.Kansil, ipar Raja Manganitu Willem Mocodompis yang memimpin Komite Nasional Siau. Data Belanda masih menambahkan nama B.Hengkenbala, seorang Bootsman (kepala kelasi) KM Eiland Tahuna dari kesatuan KM-KNIL yang dieksekusi 19 Januari 1945.

Raja Willem Mocodompis dan Ratu Ella. *)

Raja Tahuna Engelhard Bastiaan masih muda. Ia menduduki tahtanya tahun 1941 menggantikan ayahnya Albert Bastiaan yang wafat. Raja yang memperistri wanita berfam Parengkuan dari Minahasa itu, saat Jepang berkuasa sedari Mei 1942 hingga Juli 1943 dipercaya menjalankan pemerintahan di bekas Onderafdeeling Sangihe en Talaud-eilanden yang sebelumnya dikendalikan Kontrolir J.G.H.Kramps dan Kontrolir W.Langendonk. Lalu dengan tuduhan dibuat-buat ia ditangkap Kempetai. Ada versi, posisi Syutjo (sebutan raja di masa Jepang) itu tidak lama dipegang, karena ia disebut sudah dieksekusi di tahun 1942 juga.

Raja Willem Philips Jacob Simbat menjadi Raja Tagulandang sejak tahun 1934 menggantikan Hendrik Philips Jacob Malempe. 

Raja Levinus Israel Petrus Macpal dari kerajaan Tabukan kelahiran tahun 1891 adalah anak mantan Jogugu Manalu (Tabukan Selatan). Ia menjabat Jogugu Tabukan Selatan ketika naik tahta menggantikan raja sebelumnya Willem Alexander Kahendake Sarapil yang diberhentikan dan diasingkan Belanda ke Kolonedale Sulawesi Tengah. Pengangkatannya disebut tahun 1929, juga 15 September 1930, namun dari Almanak 1931 disebut ia masih sekedar wd (pejabat, akting ) raja Tabukan di tahun itu.

Raja Manganitu Willem Manuel Pandengsolang Mocodompis kelahiran 11 Juni 1877 memerintah sejak 1910, versi Almanak 1931 dinobatkan 2 Mei 1914. Ia anak mantan raja Manganitu Manuel Soaha ‘Hariraya’ Mocodompis yang memerintah 1864-1880. Ia memindahkan ibukotanya ke Tamako tahun 1916. Dianggap mampu, ia pun dipercaya merangkap jadi pejabat Raja Tahuna periode 1928-1930, dan menerima bintang jasa penghargaan dari Residen Manado tanggal 19 Mei 1936. Permaisuri (Boki)nya adalah Ella Louise Kansil (12 April 1890-Jakarta 2 Mei 1969), putri mantan Raja Siau Lodewijk Kansil. Putri mereka Yolanda Wilhelmina Joachine Mocodompis (Manganitu 10 Januari 1910-Tahuna 20 November 1986) meraih gelar meester in de rechten (Mr, sarjana hukum) dari Universitas Leiden Negeri Belanda. Menurut keluarganya, Raja Willem Mocodompis ditangkap Kempetai bulan Desember 1944 dengan tuduhan mata-mata Sekutu, dipenjarakan sebulan, lalu dieksekusi pancung tanggal 19 Januari 1945 di Tanjung Tahuna bersama mantan Raja Tahuna Christian Pontoh, Raja Tahuna E.Bastiaan, Raja Tabukan Levinus Macpal serta 6 orang tokoh lainnya.

Christiaan Nomor Pontoh adalah tokoh politik terkenal dari Tahuna. Mantan raja lulusan Hoofdenschool (Sekolah Raja) Tondano dan Landbouwschool Buitenzorg ini pernah dipilih menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat, DPR Hindia-Belanda) tahun 1920-1924 duduk di 'fraksi' Christelijk-Ethische Partij. Tanggal 13 Desember 1923 ia memperoleh Ridder in de Orde van Oranje-Nassau. Ia naik tahta kerajaan Tahuna (Kendahe-Tahuna) tahun 1914 (versi lain baru dinobatkan 1917) menggantikan ayahnya Soleman (Salmon) R.Pontoh. Karena kritis terhadap Belanda, di tahun 1929 diturunkan dari tahtanya lalu diasingkan ke Luwuk Sulawesi Tengah, dan baru kembali di Tahuna tahun 1933.

W.A.Kansil, seorang pejuang yang memimpin Komite Nasional Siau (KNS). Dalam kapasitas demikian tanggal 11 Desember 1941 ia mengambilalih kekuasaan di Siau dari tangan Belanda. Jepang kemudian menunjuknya sebagai koordinator pemerintahan di Satal sampai diambilalih Kenkanrikan (Asisten Residen) Hirano. Setelah Raja Willem Mocodompis ditahan, ia ditunjuk sebagai Wakil Syutjo (wakil raja) Manganitu di Tamako menggantikan iparnya tersebut (yang resmi disebut pengganti sebagai raja adalah Jogugu Manganitu Alexander ‘Ambong’ Ambrosius Darondo). Di tahun 1945 Kansil ditangkap dengan tuduhan terlibat pemberontakan di Sangihe Besar serta dieksekusi mati.

R.G.Koagow, Raja Talaud, adalah ambtenar (pejabat) kolonial berasal Minahasa. Semula ia menjabat sebagai Bestuur Asistent, posisi penting dibawah komando langsung Kontrolir. Kemudian oleh Jepang diangkat menjadi Syutjo (Raja) Talaud menggantikan Metusala Tamawiwij, raja sebelumnya yang dipecat. 

Dokter Gyula Cseszko kelahiran tahun 1902 asal Hongaria, diutus tahun 1931 oleh lembaga gereja bekerja sebagai tenaga dokter Zending di Sangihe. Ia dibantu istrinya Emma Rosza Haday von Oerhalma (kelahiran 1907). Dirintisnya rumah sakit yang dinamai Liung Kendage yang pembangunannya dimulai tanggal 10 Januari 1933. Di masa kesulitan besar, bersama istrinya tetap berkarya. Namun dengan tuduhan memiliki bendera Belanda, dituduh melakukan kontak dengan Sekutu serta konon pernah meneriakkan ‘Hidup Ratu’ (Ratu Belanda Wilhelmina), tanggal 29 Maret 1944 ditangkap Kempetai. Menurut putrinya yang juga bernama Emma, saksi melihat dokter tersebut di Airmadidi ketika diseret dari mobil, dan sebulan kemudian ada di penjara Tondano. Ia meninggal di sana setelah luka parah terkena pecahan bom yang dijatuhkan Sekutu. Istri dokter Gyula, yakni Emma Rosza masih tetap bekerja di rumah sakit setelah suaminya ditangkap. Dipercaya beberapa staf tidak menyukai diperintah wanita kulit putih dan menyebar sas-sus ia memiliki radio yang sebenarnya tidak dipunyainya. Tanpa periksa, tanggal 8 Agustus 1944 ia diciduk Kempetai Tahuna dan disiksa bahkan disirami air keras dan dipukuli. Anak gadisnya Emma yang berulangtahun ke-13 diambil dari perawatannya. Lalu tanggal 9 November 1944 (catatan keluarganya) dipenggal di Tanjung Tahuna bersama para tokoh Satal lain.

Dr.Gyula Cseszko bersama Emma von Oerhalma dan para perawat. *)


KISAH CARLOS MAKAGANSA
Carlos Makagansa sepintas tidak berkaitan dengan peristiwanya. Apalagi ia adalah penduduk Kelurahan Kamasi Kecamatan Tomohon Tengah Kota Tomohon. Mantan polisi ini bahkan belasan tahun bekerja sebagai perangkat di Tomohon hingga pensiun sekretaris kelurahan di Paslaten Tomohon.

Sebagai asli orang Sangihe kelahiran Soataloara (kini kelurahan di Tahuna) tanggal 22 Agustus 1929, ia mengaku sebagai saksi mata, satu dari hanya dua orang saksi mata tragedi berdarah yang menewaskan raja-raja, para bangsawan dan istri dokter Gyula tersebut. ‘’Yang melihat banyak orang, meski sembunyi-sembunyi karena takut, tapi itu ketika mereka dibawa dari kantor Kempetai. Sebab, di lokasi Bungalawang hanya 2 orang yang melihat. Saya dan Kopral Wangkai,’’ ungkapnya.

Sayang Carlos tidak mengingat persis lagi tanggal kejadiannya, namun ia yakin peristiwa itu terjadi di tahun 1942. ‘’Saya saat itu baru 12 tahun, tapi dipercayai Jepang. Apalagi saya sedikit tahu bahasa Jepang, belajar pada mata-mata Jepang yang membuka toko Futaba dan kursus bahasa Jepang di Tahuna sebelum pecah Perang Dunia II.’’

Menurutnya, para korban kebanyakan dituduh sebagai kaki tangan atau mata-mata Belanda dan Sekutu. Hari itu, mereka dikeluarkan dari kantor Kempetai, bekas rumah milik orang Tionghoa yang berada di pusat kota Tahuna, di lokasi kelurahan Sawangbendar sekarang. Dari kawasan ‘Pecinan’ Tahuna itu, para korban yang diangkut truk terbuka dibawa ke Bungalawang yang berjarak sekitar 2 kilometer dengan dikawal seregu pasukan Kempetai. Karena takut, masyarakat tidak berani menyaksikan dari dekat. Tapi berbeda dengan Carlos yang saat itu masih sebagai murid Sekolah Zending Tahuna. Ia mengikuti dan melihat peristiwanya dari tempat terlindung ketika para korban mulai dipenggal oleh 2 orang algojo. 

‘’Saya tidak lagi mengingat siapa lebih dulu dieksekusi, sebab yang saya kenal dekat hanya rajaku Engelhard. Jadi dia yang saya ingat dan perhatikan jelas, apalagi eksekusinya dilakukan paling akhir. Sebelum eksekusi berlangsung algojonya sengaja menghambur-hamburkan garam ke mana-mana, entah apa maksudnya,’’ kisah Carlos yang mengungkap lagi masanya di Tahuna 1929-1947 sering berada di istana raja Tahuna di Apengsembeka, dimulai ketika Raja Albert Bastiaan meninggal dunia tahun 1939, dimana seluruh murid Sekolah Zending hadir menyanyikan lagu penghiburan sekaligus penghormatan. Salah seorang anaknya, yakni adik bungsu Raja Engelhard adalah teman sekelasnya ketika pindah dari Hollands Inlands School (HIS) Tahuna yang ditutup Jepang.

Sebelum pembunuhan para raja sendiri, sang algojo telah melakukan pembantaian terhadap satu keluarga besar berasal Tabukan, sebanyak 30 orang. Mereka, menurut Carlos, dituduh melakukan pencurian di lokasi penimbunan persediaan perang Jepang yang dikira sebagai gudang makanan. Hampir semua peristiwa pencurian yang terjadi di kawasan Tahuna dan sekitarnya ditimpakan kepada mereka sebagai pelaku. Setelah dibunuh mereka dikubur bersama dalam satu lubang tersendiri. 

Akhirnya tiba giliran eksekusi bagi korban terakhir yang masih hidup, yakni Raja Tahuna Engelhard Bastiaan. Raja muda tersebut menolak ketika matanya akan ditutup. Ia membungkuk di depan lobang galian lain yang telah berisi jenasah rekan-rekan raja, para bangsawan dan Emma Rosza Cseszko. Lalu sang algojo sambil berteriak keras mengayunkan samurainya, telak mengena tengkuk sang raja. Namun, ajaib tidak terjadi apa-apa, bahkan mata pedang samurai hilang, entah kemana. Algojo kedua mengambilalih. Kembali kejadian seperti tadi terjadi, mata samurai algojo raib. Setelah dua kali gagal, kini kedua algojo beraksi bersama dengan mengganti samurainya dengan bayonet. Mereka menikam menyilang dari sebelah-menyebelah. ‘’Kelihatannya bayonet algojo menembus dari leher ke dada. Namun, kejadian gaib terulang. Rajaku hanya memberontak dan tidak apa-apa, ia masih hidup. Malah ia berteriak dalam bahasa Sangir bahwa Jepang tidak akan dapat membunuhnya. Sambil berteriak demikian ia melepaskan diri dan lari,’’ kisah Carlos Makagansa.

Komandan Kempetai mengancam akan membunuh semua keluarga sang raja. ‘’Bole lari dan hidup, tapi semua keluarga, ibu dan adikmu akan dibunuh,’’ seru komandan. Kontan Raja Engelhard yang baru lari sekitar 50 meter dari lobang galian berhenti. Sang raja ingat ibu dan 3 adiknya, dua gadis dan satu laki-laki, si bungsu teman kelas Carlos.

Disinilah Kopral Wangkai, menurut Carlos, berperan ikut mengambil bagian. Raja berseru-seru mengatakan ia tidak akan dapat dibunuh oleh Jepang lalu meminta tolong papok (sebutan bagi tentara KNIL) tersebut untuk menembaknya mati. Latar belakang sang kopral ternyata unik. ‘’Dia sebenarnya tahanan Jepang, pernah dieksekusi, tapi samurai, bayonet dan tembakan peluru tidak membunuhnya. Jepang lalu mengancam membantai seluruh keluarganya kalau tidak memberitahu kelemahan dari ilmu kebalnya. Ternyata sang papok tidak mempunya istri dan keluarga, sehingga nyawanya selamat. Sejak itu ia dipercaya Jepang, bebas berkeliaran di Tahuna, bahkan semua kebutuhan hidupnya diberi Jepang dengan cuma-cuma.’’

Ketika diminta Raja Engelhard demikian spontan Kopral Wangkai menolak. Namun raja kebal itu kembali memohon. ‘’Oom, bunuh saya. Tolong tembak agar saya mati. Saya tidak akan mati kalau Jepang yang melakukannya. Kalau saya hidup ibu dan saudara saya akan mati. Lebih baik saya yang mati,’’ tutur Carlos menirukan bicara rajanya dalam bahasa Sangir.

Setelah diminta berkali, Kopral Wangkai menyanggupi dengan syarat dibuat perjanjian tertulis bahwa di kemudian hari dia tidak akan dituntut, karena sekedar iba hati membantu sang raja untuk keselamatan keluarganya. Maka, nyawa Raja Tahuna akhirnya melayang setelah ditembak sekali saja oleh Kopral Wangkai. Jasadnya dikubur di lobang bersama tokoh Satal lainnya. 


Istana Raja Tahuna. *)

Kuburan para korban kekejaman Jepang di Bungalawang tersebut pernah digali ulang oleh pasukan Australia ketika Jepang sudah menyerah tak bersyarat pada Sekutu. Saat itu konon telah dilakukan otopsi dan identifikasi. Tentang para korbannya Pejabat Conica (Residen) Manado Kolonel Inf.C.C.de Rooy dalam surat bertanggal 23 Oktober 1945 melaporkan hasil kunjungan Asisten Residen Mayor NICA W.Scheffer yang ikut 'inspeksi' Sekutu ke Satal dibawah pimpinan Mayor R.C.Garnsey A.I.F. Para korban eksekusi Jepang, ungkap de Rooy selain istri dokter Gyula terdiri 4 zelfbestuurders, 6 kepala distrik dan banyak kepala negeri.

Carlos Makagansa dan Kopral Wangkai sendiri setelah kekuasaan Jepang runtuh telah dipanggil dan diperiksa oleh Jaksa Victor Macahekum yang ternyata adalah anak dari Jogugu Tamako H.J.P.Macahekum yang turut dieksekusi Jepang. Konon, menurut Carlos, dirinya bebas karena sekedar saksi mata, begitu pun Wangkai tidak dituntut setelah memperlihatkan surat perjanjian yang diteken Raja Engelhard sebelum eksekusinya.

Peristiwa pembantaian dan penyelamatan anak-anak dokter Gyula baru menyentak dunia ketika suratkabar bergengsi yang terbit di Singapura The Straits Times, edisi 21 Agustus 1947 dan 22 Mei 1955 menurunkan tulisan veteran Richard Hardwick tentang kisah tragis keluarga Cseszko. Anak-anak dokter Gyula dan Emma, yakni: Emma (lahir 1931), Eva (1934), Gyula (1936) dan Jozsef (1939) setelah eksekusi ibu mereka telah dirawat bidan asal Tagulandang, bekas anak buah dokter Gyula di Minanga (kini desa di KecamatanTagulandang Utara) berjarak sekitar 10 kilometer dari Tahuna. Mereka diselamatkan bulan Maret 1945, di saat Keresidenan Manado dan Satal masih dikuasai Jepang. Kondisi mereka sangat menyedihkan. Menderita penyakit tropis dan gizi buruk dengan tubuh penuh bisul. Paling parah adalah Emma selain lemah dan ketakutan, ia pun menderita disentri akut dan terus-menerus pingsan. Mereka diterbangkan diam-diam dengan pesawat Catalina oleh Sekutu ke pulau Morotai Maluku Utara yang telah dibebaskan, baru kemudian ke  Australia. ***

          *). Foto Koleksi: www.trove.nla.gov.au, www.kitlv.nl, www.tropenmuseum.nl.


SUMBER:
-Berbagai literatur tentang Sangihe-Talaud.
-Java Post Nederland, 15 April 2011
-The Staits Times Singapura,  21 Agustus 1947.
-Adrianus Kojongian dkk: Ensiklopedia Tou Manado.