Minggu, 18 Januari 2026

Kisah Putri Hester Manoppo dan Raja Ismael Jacobs

 


Makam Raja Ismael Jacobs di Ondong. Foto Istimewa.


Sejarah Sulawesi Utara mencatat banyak wanita cantik, yang pesonanya melampaui batas kerajaan asalnya, sehingga tersiar dan menjadi buah tutur di mana-mana.

Hal ini yang terjadi dengan Hester Manoppo, seorang putri dari kerajaan Bolaang Mongondow. Ia sangat cantik, apalagi ia bukan wanita sembarangan, karena putri dari Raja Salomon Manoppo yang berkuasa di Bolaang Mongondow tahun 1735-1747, dan ulang memerintah selang tahun 1756-1764. Ayahnya sempat diasingkan selama delapan tahun oleh Kompeni Belanda di Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), Afrika Selatan sekarang. 

Putri Hester adalah anak bungsu Raja Salomon, sehingga sangat disayangi ayahnya. 1   

Kecantikannya menyebabkan ia menjadi dambaan banyak bangsawan, termasuk raja dari kerajaan tetangga, bahkan kerajaan yang berada di Nusa Utara. 

Salah seorang raja yang mendengar kecantikan Putri Hester dan jatuh cinta padanya adalah Ismael Jacobs. Ismael juga rupawan, kaya raya dan menjadi Raja Siau. Ayahnya adalah Raja Daniel Jacobs dan ibunya Pieternella Doelang anak mantan Raja Tabukan Don Mattheus Francisco Makaampo. Setelah ayahnya Raja Daniel meninggal 31 Desember 1751, Ismael Jacobs dilantik menjadi Raja Siau 1 Desember 1752 di Kastil Oranje Ternate. 2 

Tahun 1759, sudah hampir tujuh tahun menjadi raja, Ismael belum memiliki seorang permaisuri. Meski sekedar mendengar dari kisah-kisah banyak orang akan kecantikan Putri Hester, ia jatuh cinta dan ingin mengawininya. 

Kecantikan Putri Hester didengarnya langsung dari Elias Jacobs yang menjadi kapiten laut dan Anthony Jacobs, dua adiknya yang banyak melakukan perjalanan ke kerajaan-kerajaan di pesisir utara dan selatan Sulawesi. 

Lamaran Putri Hester segera diajukan Raja Ismael kepada Raja Salomon Manoppo. Namun pinangan dengan barang hantaran harta ditolak Raja Salomon. Ia tidak ingin berpisah dengan putrinya, karena Siau berada di pulau yang jauh dari Bolaang, negeri kedudukannya. Apalagi ia baru pulang di Bolaang kembali pada 25 Oktober 1756 setelah pengasingan dan belum lama berkumpul dengan anak-anaknya. Putri Hester pula enggan karena sangat mencintai ayah dan tanah kelahirannya. 

Penolakan terjadi berulang. Namun bukannya mundur, Raja Ismael semakin bertekad untuk mengawininya. Untuk menunjukkan keseriusannya, dengan korakora kebesarannya serta banyak kapal dan bangsawan pengiringnya pada bulan Agustus 1759 Ismael berlayar ke negeri Bolaang ibukota Bolaang Mongondow tanpa menyinggahi Manado untuk melapor tujuan perjalanannya kepada Residen Gerard Reynier de Cock yang baru menjabat. Perjalanan masa itu selalu membutuhkan izin sersan komandan pos di Tabukan atau residen di Manado. 

Penolakan secara halus masih diterima Raja Ismael dari Raja Salomon. Namun Ismael sangat bertekad dan gigih, tidak mau meninggalkan Bolaang Mongondow tanpa membawa Putri Hester. Kejadian ini sampai berlangsung berbulan-bulan. 

Akibatnya rombongan Raja Ismael dari Siau membuat hiruk pikuk negeri Bolaang, karena sebagai raja ia harus diperlakukan dengan kehormatan sesuai adat berlaku antarkerajaan. Penduduk Bolaang, bahkan dari pelosok menjadikan mereka tontonan menarik. 

Kesabaran Raja Ismael membuahkan hasil, setelah menunggu beberapa bulan di Bolaang, ketika Raja Salomon merestui dan melangsungkan pernikahan Ismael dan Putri Hester yang meriah pada tanggal 20 Juni 1760. 

Tapi hingga bulan Oktober 1760 Raja Ismael masih bertahan di Bolaang. Karena ayah mertuanya Raja Salomon sangat menginginkan putrinya tinggal selama satu tahun lagi di Bolaang. Sedangkan Raja Ismael tidak ingin pergi tanpa membawa istrinya. 

Masa tinggal Raja Ismael yang lama berbuntut. Pasokan emas dari Bolaang Mongondow yang diwajibkan oleh Kompeni tidak ada. Penduduk tidak menambang atau menggali emas. Bukan hanya Residen de Cock yang gelisah, atasannya Gubernur Maluku di Ternate Jacob van Schoonderwoert menegur keras Raja Ismael dan Raja Salomon. 

Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel bertanda Ternate akhir Juni 1761 Schoonderwoert menyesalkan Raja Ismael yang meninggalkan Siau cukup lama membengkalaikan urusan kerajaannya, selain tanpa izin. Sedangkan Raja Salomon dalam surat kepada Schoonderwoert bertanda Boelang 29 September 1760 mengakui selama menantunya masih berada di Bolaang tidak mungkin ia mengirim rakyatnya untuk menambang, sehingga tidak ada emas yang digali di Bolaang.


SELALU KEMBALI

Putri Hester di Siau terus merindukan Bolaang, dan karena Raja Ismael sangat mencintai istrinya, banyak kali ia mengantarnya. Hal ini menyebabkan ia berkali ditegur residen dan gubernur. 

Ini terjadi pula ketika Raja Salomon Manoppo meninggal tanggal 30 Agustus 1764, dan keduanya turut hadir memakamkannya. 

Dan saat keduanya masih berada di Bolaang, di Siau terjadi serangan Sarangani dan Mindanau. Gubernur Schoonderwoert yang menerima kabar tersebut 29 Mei 1765 meminta Raja Ismael dan adiknya Elias Jacobs segera datang ke Ternate untuk penyelidikan masalah tersebut. Schoonderwoert mengkritik Raja Ismael karena ia berlama-lama di Bolaang, apalagi ketika kembali ia bukan langsung pulang ke Siau, tapi berlayar lebih jauh ke Amurang. 

Awal tahun 1765 itu orang-orang Sarangani dibantu Mindanau menyerbu Siau menghancurkan tiga negeri dan menawan tiga putrInya serta Pangeran Hendrik Jacobs Larabuwatan dan enam orang lainnya. Negeri Pehe dan Lehi paling menderita karena dijarah dan dibakar. Pemicunya peristiwa tahun 1762 ketika Elias Jacobs membunuh dan memenggal kepala lima orang Sarangani berasal Pulau Malurang di Pulau Majau, termasuk seorang pangeran bernama Salobo. Mereka tidak mau meninggalkan Siau menuntut pembunuh diserahkan. 3 

Putri Hester masih sering ke Bolaang, termasuk mendukung saudaranya Eugenius Manoppo menjadi raja pengganti ayah mereka dan bersedih ketika kemudian ditahan Desember 1768 dan diasingkan seperti ayah mereka di Tanjung Harapan. Tapi ia telah dijemput suaminya pulang ke Siau sebelum penangkapan tersebut. Hesterpun mendukung Manuel Manoppo menuntut tahta Bolaang tahun 1773, namun Belanda lebih mendukung sepupu mereka Marcus Manoppo.4 

Terakhir kunjungan Putri Hester di Bolaang tahun 1789 memperjuangkan warisan mendiang ayahnya Raja Salomon yang dikelola bobato dan Raja Marcus Manoppo. 

Raja Ismael Jacobs lebih dulu meninggal, dari laporan Residen Willem Fredrik Mertsz, pada tanggal 9 Agustus 1784. 5 

Putri Hester Manoppo masih menyaksikan putra tertuanya Ericus Jacobs menjadi raja pengganti ayahnya 7 Oktober 1786. Putra lainnya Eugenius Jacobs menjadi raja berikut tahun 1796. Seorang putri bernama Filipina Silagonda dikawini Raja Bolaangitang Salomon Ponto.

 

 

1.   Selain Hester, anak Raja Salomon adalah Putri Sarah Manoppo, sedangkan para putra adalah Eugenius Manoppo dan Manuel Manoppo. Kedua putranya belakangan menjadi Raja Bolaang Mongondow pula. Menurut surat Manuel Manoppo 28 Januari 1790 mereka enam bersaudara, selain dia dan Eugenius, empat lainnya adalah wanita yang ketika itu masih hidup. Sementara dari dua surat puluhan bobato Bolaang dan Mongondow bertanda Mogondo 19 Agustus 1752, tiga anak lain Raja Salomon meninggal akibat perlakuan buruk sejak Raja Salomon ditahan dengan tipu muslihat oleh Kompeni 15 September 1746.

2.   Fam raja-raja Siau dalam tulisan menggunakan nama Jacobs atau sering dicatat Jacobsz seperti bukti surat-surat tinggalan dan berbagai laporan masa itu.

3.   A.J.van Delden menyebut nama Kapiten Laut Elias Jacobs adalah Lulie. Untuk kasus ini Gubernur Hendrik Breton melaporkan Elias Jacobs dipenjarakan di Manado 26 Desember 1765, dan meninggal 8 Januari 1767 sebelum persidangannya. Raja Manganitu Daniel Katiandagho yang diutus para Raja Sangihe 17 Agustus 1765 berhasil membujuk Sultan Mindanau dan membawa pulang para tawanan. Namun ekspedisi balas dendam atas invasi Sarangani-Mindanau baru dilakukan Oktober 1770 dipimpin Kapten Letnan Francois Le Grand dan Pedagang Muda sekaligus penerjemah Francois Bartholomeus Hemmekam, dengan 956 pasukan, dimana Raja Ismael dipercayakan memimpin sebanyak 750 prajurit Sangihe. Negeri Batu Laki di Sarangani dihancurkan dan dibakar, serta Pulau Malurang dibombardemen dengan meriam dan granat tangan.

4.   Manuel atau Emanuel Manoppo baru dipilih Dewan Politik Maluku di bawah Gubernur Alexander Cornabe menjadi Raja Bolaang Mongondow 25 Januari 1793 sebagai pengganti Marcus Manoppo yang sudah tua.

5.   Kubur Raja Ismael di Ondong menerakan masa menjabatnya hingga 1788.

 

 

 

(Sumber tulisan naskah Sejarah Kerajaan di Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, dan Bolaang Mongondow Masa Kompeni dan Hindia-Belanda). 

 

 

SUMBER LAIN:

Delden, A.J.van, De Sangir-eilanden in 1825, Indische Magazijn, 1844.

Dunnebier, W., Over de vorsten van Bolaang Mongondow, BKI 105, 1949.

Wilken, N.P.dan J.A.Schwarz, Allerlei over het land en volk van Bolaang Mongondou, MNZG, 11 1867.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.