Minggu, 26 Maret 2023

Raja Francisco Gama Dari Tabukan

 



Makam Makaampo, kakek Raja Gama di Salurang (foto direktoripariwisata.id).



Seorang Raja Tabukan yang namanya kontroversial adalah Gama (Gamma) atau Gadma. Ia adalah Raja Tabukan ketiga dan cucu dari raja legendaris Makaampo. Ayahnya adalah Raja Buaten.

Władcy Tabukanu menulis namanya sebagai Gama, memerintah Tabukan sekitar tahun 1610 hingga 1640. Sementara pengamat sejarah kerajaan Indonesia Donald Tick menulisnya dengan nama Marcus Vascoda Gama Flianena atau di berbagai tulisan pengarang lain dengan nama Marcus Vasco da Gama. Tick yang menjadi Kepala Pusat Dokumentasi Kerajaan di Indonesia, menyebutnya sebagai penguasa Tabukan pertama yang menggunakan gelaran raja serta menghitung masa pemerintahannya tahun 1610 hingga 1640 atau bahkan 1677.

Tidak diketahui bagaimana dan kapan nama Marcus Vascoda Gama melekat pada Raja Gama. Tapi di masa sebelum hidup Raja Gama, telah sangat terkenal penjelajah berkebangsaan Portugis yakni Vasco da Gama yang menemukan India tahun 1498. Sedangkan Raja Gama dari Tabukan hidup di masa awal Kompeni Belanda yang bersekutu dengan Sultan Ternate serta pengaruh kuat saingan mereka Spanyol dari Ternate dan Manila.

Raja Gama sempat dibaptis menjadi Kristen. Sumber satu-satunya tentang peristiwa ini adalah dari laporan Padri Fransiskan (OFM) Juan Yranzo bertanggal Manila 4 Agustus 1645 yang mencatatkan kejadian-kejadian di Sangihe dan Minahasa selang 1639 hingga 1645. Selain itu laporan Predikant Jacobus Montanus  yang berkunjung ke Sangihe tahun 1673, serta pengakuan Raja Tabukan Kaicil Garuda, anak Raja Gama kepada Gubernur Kompeni Belanda Robertus Padtbrugge 3 Desember 1677 ketika dia dan semua keluarganya diserani.

Tulisan Juan Yranzo yang dikutip tiga sejarawan Katolik Padri Juan de la Conception (Historia Generale de las Philipinas, 1788), Padri Domingo Martinez (Compendio Historico de la Apostolica Provincia de San Gregorio de Philipinas, 1755 ), serta Padri B.J.J.Visser MSC (Onder de Compagnie, Geschiedenis der Katholieke Missie van Nederl.-Indie 1606-1800, 1934), tidak mencatatkan nama dari Raja Gama ketika dibaptis Katolik oleh Padri Fransiskan. 

Menurut para sejarawan Katolik, kerajaan Tabukan di tahun 1630-an berada dalam pengaruh kuat Ternate. Tahun 1637 seorang Fransiskan dari Ternate datang berkunjung di Tabukan dimana para kepala berbicara padanya tentang aliansi dengan Spanyol dan tentang memulai misi di antara mereka. 

Tahun 1639 duta besar dari Raja Tabukan tiba di Manila. Kapiten Laut yang menjadi utusan tersebut melaporkan bahwa seluruh kerajaannya telah memutuskan untuk tunduk pada iman sejati dan hukum orang Kristen. Mereka telah memutuskan menolak kepatuhan pada Sultan Ternate dan Belanda dan sekutu lainnya dan memberikannya pada Raja Katolik Spanyol. Raja Tabukan meminta memberi mereka imam Fransiskan karena mendengar dan melihat pekerjaannya yang paling menarik. 

Gubernur dan Kapiten Jenderal Spanyol di Manila Don Sebastian de Corcuera meminta Konfrater Fransiskan Padri Antonio Escalona mengirim religiusnya, atau ia akan mengirim padri Serikat Jesus (SJ) dimana kedua ordo masa itu bersaing keras. 

Pada bulan Februari 1639 bertolak dari Manila ke Ternate Padri Juan Yranzo sebagai komisaris, bersama Padri Bartholome de San Diego, Bruder Miguel de San Buenaventura, dan Bruder Francisco de Alcala.

Di Ternate mereka bertemu dengan Raja Kolongan (nama kerajaan Tahuna ketika itu) bernama Buntuan, sepupu Raja Tabukan Gama yang meminta untuk membaptisnya bersama semua rakyatnya. 1 

Namun Juan Yranzo ditahan selama setahun di Ternate karena gubernurnya memihak Serikat Jesus. 

Setelah pergantian gubernur yang sangat toleran, Juan Yranzo berhasil berangkat ke Kolongan dan Tabukan. Ia segera membaptis 92 orang. Termasuk Raja Buntuan, ratu, anak-anak, saudara laki-laki dan orang-orang terhormat Kolongan. Buntuan memperoleh nama baru Don Juan Buntuan. 

Raja Gama belum dibaptis, karena menurut Juan Yranzo, Raja Tabukan sangat berhutang budi kepada Sultan Ternate dan Belanda. 

Juan Yranzo kemudian berangkat ke Manado bersama Alcala, meninggalkan Padri Bartholome dan Bruder Buanaventura yang melayani setengah tahun di Kolongan dan setengah tahun sisa di Tabukan. 

Kedua misionaris ini selama lima tahun berhasil membaptis 4.500 penduduk di dua kerajaan. Antara lain Raja Tabukan Gama, saudara laki-laki dan anak-anaknya dengan banyak kepala dan bangsawan di wilayahnya. 

Namun, nama serani Raja Tabukan tidak dicatatkan, demikian juga tanggal pembaptisannya. 

Peristiwa tersebut setidaknya terjadi sebelum tahun 1643 ketika Bruder Miguel de San Buanaventura jatuh sakit dan kembali ke Manila, sementara Padri Bartholome de San Diego pulang ke Manila pula, melalui Ternate Maret 1643. 

Pemberontakan yang timbul mencegah pekerjaan dilanjutkan selama sembilan tahun, sampai Raja Gama dan Buntuan menaklukkan pemberontak dengan bantuan Spanyol. 

Padri Bartholome sendiri berhasil membangun gereja dan biara di Tabukan dan Kolongan. Di gereja Tabukan, Visser mengutip Perez, ada lukisan penghakiman terakhir bersama Kristus dan orang suci, api penyucian dan neraka, dimana Bartholome menggunakan gambar-gambar tersebut untuk mengajar. 

Ditinggalkan Spanyol, Raja Gama kembali mendekati Kompeni Belanda dan Ternate.


Pada tahun 1654 Raja Gama mendatangi Belanda di Ternate dengan tiga perahu. Kedatangannya hampir bersamaan dengan Raja Balango dari Tagulandang, seperti dicatat Gubernur Jacob Hustardt kepada Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker 10 Juli 1655.

 

Hal ini diprotes keras Gubernur Spanyol di Ternate Francisco d’Esteibar 25 Februari 1655 yang menyebut Tabukan sebagai sekutu (bondgenoot) Spanyol bersama Siau, Manganitu, Tagulandang bahkan Manado. Tapi dibantah Hustardt dua hari kemudian sebagai milik Mandarsyah Sultan Ternate.

 

SUMBER BELANDA

Dokumen Kompeni Belanda justru mengungkap nama yang dipakai oleh Raja Gama ketika diseranikan padri Fransiskan.

 

Menurut Predikant Ternate Ds.Jacobus Montanus yang berkunjung ke Sangihe 9 Juni-30 September 1673, nama Raja Tabukan tersebut adalah Francisco Gama.

 

Catatan Montanus singkat, bahwa Raja Tabukan Francisco Gama dibaptis imam Fransiskan bersama-sama dengan Jogugunya dan Kapiten Laut yang bernama Tabbuli.

 

Nama Francisco Gama yang digunakan Raja Gama diakui pula oleh anaknya Kaicil Garuda atau disebut juga dengan nama Burudao.

 

P.A.Leupe mencatat dari Jurnal Gubernur Robertus Padtbrugge, pengakuan Raja Garuda kepada Padtbrugge kenapa ia memilih nama Francisco untuk dirinya saat diseranikan oleh Pendeta Caheyng pada hari Jumat 3 Desember 1677.

 

Karena menurut Raja Garuda ayahnya Raja Gama ketika diseranikan padri Fransiskan memakai nama Francisco pula.

 

Malam hari itu, Jumat 3 Desember 1677 Raja Garuda dibaptis dengan nama Francisco Makaampo, mengambil fam nama leluhurnya Makaampo yang terkenal dan nama baptis ayahnya. Ratunya bernama Maria. Anak tertuanya Mattheus, anak kedua Marcus dan ketiga Martinus. Dua putrinya memakai nama Catharina dan Anna. Sementara anak mantunya, istri Marcus, bernama Susanna. ***

 

 

 

 1.Dari surat Raja Tahuna Zacharias Paparang 15 Juni 1727 pada Gezaghebber Jacob Boner, Raja Tabukan Makaampo memiliki dua anak. Buaten yang menjadi pengganti sebagai Raja Tabukan, serta Putri Lelomeleij (Luwelij) yang dikawini Tatehe, Raja Tahuna. Buaten beranak Gama, penggantinya sebagai Raja Tabukan. Sementara Lelomeleij dan Tatehe beranak Buntuan. Saudara lain dari Gama adalah Balango yang menjadi Raja Tagulandang. Putri dari Balango yang menjadi Ratu Maria, istri Raja Francisco Makaampo.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.