Minggu, 06 November 2016

Hendrikus Zacharias, Martir Orang Borgo

(Kisah Terbunuhnya Kontrolir Haga) 3

                                             





                                                   Oleh: Adrianus Kojongian







 

Jalan di Kema masa Belanda. *)





Siapa sebenarnya Hendrikus Zacharias, menyisakan misteri. Pemimpin pergerakan menentang pelaksanaan Heerendienst atau kerja paksa di Kema Minahasa tahun 1879 tersebut diketahui sebagai seorang Borgo Ambon. Leluhurnya datang dari Ambon, berdinas sebagai schuters (penembak) di barisan Schutterij Manado.

Di masa silam kolonial Belanda banyak merekrut tenaga milisi untuk membantunya menjaga keamanan di Manado, dari pasukan asal Maluku, seperti dari Ambon atau pun Ternate.

Ayah Hendrikus Zacharias juga bekas anggota Schutterij, demikian pula dengannya sendiri.

Meski demikian, sempat muncul desas-desus kalau Hendrikus Zacharias adalah asli orang Minahasa. Kedua orang tuanya berasal dari Tondano. Ketika ayahnya meninggal, ibunya telah dikawini Zacharias yang kemudian mengangkat Hendrikus sebagai anak.

Senin malam tanggal 29 September 1879 itu, Hendrikus Zacharias menyerahkan diri kepada Residen Manado Mr.P.A.Matthes di Kema dengan membawa barang bukti peda miliknya. Ia sebenarnya telah menyerah secara sukarela kepada Kepala Distrik Tonsea, dan dibawa menghadap Residen dengan diantar langsung oleh pamannya.

Ia kemudian diinterogasi Residen. ‘’Saya mataglap! Saya sebenarnya telah siap berangkat ke Manado. Tapi, Kontrolir datang marah-marah. Saya telah menawarkan kursi, tapi ditolaknya, bahkan Kontrolir menangkap saya dengan tangannya, sehingga saya telah menjadi mata gelap,’’ katanya.

Hendrikus Zacharias kemudian ditahan dan dibawa ke Manado, ditahan di penjara. Bersama dengannya ditangkap pula ke-12 orang rekannya sesama orang Borgo. Penyelidikan yang dilakukan sempat mengarah pada kemungkinan adanya suatu komplotan dalam peristiwa yang menewaskan Kontrolir Haga.

Indikasi mana dikembangkan dari teriakan khas persis kokok ayam jantan yang dilakukan Hendrikus Zacharias selama perkelahian dengan Kontrolir Hendrikus Haga. Teriakan itu dianggap pemeriksa sebagai bentuk isyarat bagi anggota komplotannya untuk melakukan pemberontakan. Tapi, hal itu tidak dapat dibuktikan, apalagi Hendrikus Zacharias membantah.

Menurutnya, tindakannya tersebut murni dilakukan dirinya sendiri, karena telah menjadi mata gelap. Dengan tegas ia meminta rekan-rekannya dibebaskan karena tidak bersalah dan ia sepenuhnya bertanggungjawab.

Pembunuhan Kontrolir Kema seakan memicu perlawanan terang-terangan terhadap pelaksanaan Heerendienst serta Koffiecultuur dan Domeinverklaring di Minahasa. Tindakan para Kontrolir untuk memuluskan program ala Jawa di Minahasa dengan tangan besi, telah memunculkan perlawanan dimana-mana. Setelah pembunuhan terhadap Kontrolir Hendrikus Haga, kembali terjadi serangan terhadap dua Kontrolir lain. Salah satunya adalah terhadap Kontrolir Tondano B.L.Repelius di awal tahun 1880 yang berhasil selamat.

Pemerintah kolonial Belanda mewaspadai kemungkinan terjadi perlawanan, dengan mengirim kapal perang, selain kapal yang berpangkalan di Ternate. Khusus di Kema, karena pasukan Schutterij telah bubar sejak 1878, di awal tahun 1880, ditempatkan sebanyak 25 orang tentara, bermarkas sementara di belakang rumah Kontrolir Kema.

Orang Borgo yang menentang Heerendienst langsung ditahan. Salah seorang tokohnya, yakni Kepala Borgo Likupang bernama Gerrit Pelenkahu dipenjara setelah dituduh hendak membunuh Kontrolir.


EKSEKUSI 
Perkara Hendrikus Zacharias sendiri cukup berlarut-larut. Baru bulan Februari 1881, setelah lebih lima belas bulan kemudian putusan akhirnya baru turun. Grasinya kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ditolak.

Momen eksekusinya yang menimbulkan keharuan dan perasaan kasih digambarkan banyak suratkabar masa itu. 

Ia telah divonis hukuman mati dengan cara digantung di penjara Manado. Pelaksanaannya ditentukan pada pagi hari Rabu tanggal 18 Februari 1881.

Tiga hari sebelum waktu eksekusi, vonis mati dan penolakan grasi disampaikan kepadanya. Hendrikus Zacharias sangat tenang, dan meminta keluarganya di Kema tidak diberitahukan agar tidak mendatangkan kedukaan mendalam bagi mereka.

Malam hari sebelum digantung, Hendrikus Zacharias masih bermain dengan beberapa temannya sesama tahanan. Ia tampil sangat rapi, dan meminum anggur yang diberikan kepadanya.

Kepala Penjara Manado yang mungkin melihat keceriaan Hendrikus Zacharias sebagai pertanda buruk bertanya apakah ia dengan senang hati akan menerima Tuan Pandita dan berbicara dengannya.

Kepada Pendeta yang berdoa untuknya, Hendrikus Zacharias berkata kalau ia menyadari panggilannya telah datang kepadanya atas kemauan sendiri.

Sang sipir mengingatkannya untuk menjaga sikapnya dengan baik dan jangan melakukan hal yang salah, karena ia berprasangka Hendrikus Zacharias akan melawan di saat pelaksanaan eksekusi.

‘’Tidak ada! Saya ingin besok mati dengan kehormatan,’’ sahut Hendrikus Zacharias.

Seperti kesaksian sipir, Hendrikus Zacharias masih menambahkan kalimat, ’’Saya mati sebagai martir! Seperti Yesus, Tuhan kita, untuk mengampuni dosa-dosa kami, telah mati di kayu salib. Jadi, saya mati juga untuk pembebasan Heerendienst orang Borgo Kema.’’

Melihat ke arah sipir, Hendrikus Zacharias berkata kembali. ‘’Ya, nama saya karena itu akan diabadikan. Tuan, jangan khawatir. Tidak ada! Saya ingin besok mati dengan kehormatan.’’

Kekhawatiran Kepala Penjara Manado memang tidak beralasan, Karena esok paginya, di hari Rabu tanggal 16 Februari 1881 itu Hendrikus Zacharias berperilaku sangat tenang.

Dia pun dengan tenang mendengarkan Hoofddjaksa Manado membacakan keputusan hukuman matinya. Jaksa Kepala itu kemudian bertanya apakah ia masih akan menyampaikan pesan atau sepatah kata perpisahan.

Hendrikus Zacharias menggeleng, ‘’Apa yang harus saya katakan? Saya bertanya pengampunan dari hukuman mati, tapi Tuan Besar (Gubernur Jenderal) tidak memberinya. Jadi, saya akan mati!’’

Kemudian tanpa rasa takut Hendrikus Zacharias menaiki tangga ke tiang gantungan. Ia menyongsong maut hingga detik nafasnya terakhir, dengan senyum tersungging di bibir.

Kesedihan justru terlihat di hampir semua wajah orang-orang yang menyaksikan proses eksekusi gantung Hendrikus Zacharias. Beberapa orang meneteskan air mata, ada juga yang merasa kasihan dan menyesalkan Hendrikus Zacharias harus meninggal dengan cara demikian.

Kematiannya telah menimbulkan perasaan hormat dan kagum orang-orang yang hadir, karena Hendrikus Zacharias tanpa memperlihatkan rasa takut, dan menemui kematiannya dengan riang. ***



*). Foto repro koleksi Maritiem Digitaal Nederland.

SUMBER TULISAN:
Delpher Kranten:
Algemen Handelsblad 1 Desember 1879, 4 April 1880; De Locomotief  20 November 1879; Het Nieuws van den Dag 18 Desember 1879, 31 Desember 1879; Leeuwarder Courant 7 Februari 1880;  Soerabaiasch Handelsblad 23 Juni 1881; Soematra-Courant 13 Desember 1879.
Ensiklopedia Tou Manado
 












Rabu, 02 November 2016

Tanding Dua Hendrikus

(Kisah Terbunuhnya Kontrolir Haga) 2

 

 

 

 

 

                                                Oleh: Adrianus Kojongian 

 

 

 

 

 

Rumah Kontrolir Kema 1880. *)

 

 

 

Bulan Februari 1879 datang ke Manado empat orang Kontrolir muda usia dikirim Departemen Dalam Negeri Hindia-Belanda (Binnenlandsch-Bestuur, BB) yang status aslinya sebagai ambtenar BB op Java en Madura. Mereka diperbantukan kepada Residen Manado dengan tugas utama memperkenalkan sistem tanam paksa (stelsel voor de cultures) seperti halnya di Jawa, terutama tanam paksa kopi yang sangat menguntungkan pemerintah kolonial.

Orang paling muda diantara mereka adalah Hendrikus Haga. Masih bujangan, lelaki kelahiran Harlingen di Negeri Belanda 26 April 1852 itu berpangkat sebagai kontrolir kelas 2, diangkat memimpin Afdeeling Kema menggantikan Hennige. 

Hendrikus Haga telah datang ke Jawa dari Belanda tahun 1873. Ia memulai kerja ambtenarnya sebagai Aspiran Kontrolir, diangkat sejak April 1874 dan di tempatkan di Keresidenan Besuki Jawa Timur. Bulan Agustus 1875 ia dipindahkan ke Keresidenan Kedu di Jawa Tengah, masih aspiran kontrolir. Bulan Agustus 1876 ia berhasil naik pangkat menjadi Kontrolir klas 2, sekaligus dimutasi di Cirebon Jawa Barat, sampai kemudian ditugaskan ke Kema Minahasa.

Tiba dan bekerja di Kema, Hendrikus Haga segera melakukan tugas-tugasnya. Dengan instruksi agar memulai usahanya secara bertahap, maka ia melakukan penyelidikan karena masuknya laporan banyak dari para wajib kerja yang bersembunyi. Ia meregistrasi ulang data wajib kerja paksa di afdeelingnya. 

Kontrolir Haga awalnya masih melakukan pendekatan kekeluargaan terhadap kaum Borgo yang terkena wajib kerja Heerendienst untuk melakukan pekerjaan tersebut dengan baik-baik.

Tapi, pembangkangan orang Borgo tidak dapat diubah lagi. Mereka yang didaftarnya harus bekerja Heerendienst dan membayar pajak hasil tetap menolak dengan keras, meski diancam dengan dipenjara. Protes dan keluhan justru diterimanya, baik secara lisan dan tertulis, yang juga diterima Residen. 

Bulan Agustus 1879, karena kewalahan dan habis akal, Kontrolir Haga melaporkan perkembangan pekerjaannya kepada Residen Mr.P.A.Matthes, sambil mengharapkan intervensi darinya. 

Buru-buru Residen Matthes pergi ke Kema. Ia justru memerintahkan Kontrolir Haga agar menangkap para pembangkang dan orang-orang yang tidak puas dengan aturan tersebut, serta mengirimkan mereka ke Manado agar dapat dihukum langsung olehnya.

Sudah bukan rahasia lagi keluh-kesah dan penderitaan dari penduduk yang dikirim ke Manado gara-gara menolak Heerendienst itu. Tapi, orang Borgo tidak bergeming sedikit pun untuk mengikuti perintah Kontrolir dan Residen.

Adalah seorang pemberani bernama Hendrikus Zacharias, penduduk Leter B Kema yang menjadi pemimpin dari kaum Borgo yang menolak Heerendienst dan membayar pajak hasil tersebut. Ia berani sekali dan tidak takut menyuarakan nuraninya dan juga suara kaumnya . 

‘’Trada mau. Lebih baik mampos,’’ demikian Hendrikus Zacharias berkata dengan aksen Maluku menyemangati teman-temannya yang diregistrasi mesti bekerja dan giliran Heerendienst.


                                                                        ***

Kemudian terjadi peristiwa September itu. 

Kontrolir Haga telah menghitung ada 40 orang Borgo yang akan mendapatkan giliran Heerendienst untuk mengerjakan jalan.

Hari Senin pagi, tanggal 29 September 1879, sekitar pukul 08.30, Kontrolir Haga memanggil sebanyak 13 orang diantara ke-40 wajib Heerendienst. Salah seorang diantara mereka adalah Hendrikus Zacharias sendiri.

Di pekarangan rumah Kontrolir yang berada di Leter A, ketika ke-13 orang Borgo telah hadir di depannya, ia memerintahkan mereka melakukan pekerjaan Heerendienst. 

‘’Kalian harus bekerja menurut Heerendienst, karena ini merupakan peraturan dari pemerintah untuk semua penduduk Minahasa,’’ kata Kontrolir Haga.

‘’Ya, mijnheer (tuan) Kontrolir, kami meminta banyak maaf, tuan. Kami tidak dapat melakukannya. Karena di masa lalu mulai dari kakek dan ayah kami sampai kami anak-anak mereka, orang Borgo bebas dari pekerjaan di jalan-jalan, tapi memiliki pekerjaan lain atau membayar kontribusi. Oleh karena itu, kami tidak ingin bekerja di jalan,’’ sahut mereka semua, serentak. 

Mendengar jawaban demikian,  Kontrolir Haga sangat marah dan mengancam. ‘’Jika kalian benar-benar tidak mengikuti semua perintahku, kalian akan dibawa ke Manado dan dikurung selama satu bulan,’’ katanya tegas. 

Hendrikus Zacharias segera tampil sebagai jurubicara. Ia menjawab kontrolir: ‘’Ya tuan, bekerja di jalan atau di penjara lagi di Kema, atau tuan mengirim kami ke Manado, itu tidak penting. Sama terakhir tuan, tujuh hari kami ditahan di Kema dan empat belas hari di Manado. Tapi, sekarang, saya katakan, saya tidak bekerja! Akan lebih baik jika peluru tuan menghancurkan kepala saya terlebih dahulu.’’

Jawaban Hendrikus Zaharias itu persis tamparan di muka Kontrolir Hendrikus Haga. 

Ketika suasana panas meningkat, kemarahan Kontrolir sudah memuncak. Ia mengirim Opas untuk memanggil tiga Kepala Jaga yang bekerja mengawasi pekerjaan di jalan agar segera menghadapnya. Dan, ketika ketiga orang itu muncul, ia segera memerintah mereka: ‘’Kepala Jaga, bawa orang-orang ini ke Manado, dan jaga mereka.’’  ¹

Kontrolir Haga kemudian membuat surat resmi yang ditujukan kepada Residen dan kembali memberi perintah para Kepala Jaga membawa surat serta ketiga belas orang Borgo ke Manado. 

Tapi, Hendrikus Zacharias dan dua belas orang Borgo itu tidak mengikuti para Kepala Jaga, bahkan dengan santai mereka berbalik untuk kembali ke rumah masing-masing.

Ternyata, kepada ketiga Kepala Jaga itu mereka memberi alasan, ‘’Kami pergi dulu ke rumah kami untuk mengabarkan istri kami kalau kami akan pergi selama satu bulan di Manado. Juga untuk mengambil pakaian kami,’’ kata mereka.

Jadi ketiga Kepala Jaga menunggu mereka di jalan dekat pasar Kema, tapi, tidak satu pun dari ke-13 orang itu yang muncul. Sia-sia menunggu, Kepala Jaga kembali melaporkan kejadiannya pada Kontrolir, ‘’Orang-orang itu tidak mengikuti perintah dari tuan. Mereka semua pulang ke rumah masing-masing.’’

Ketika mengetahui kejadian itu, kemurkaan Kontrolir Haga tidak tertahan lagi. Ia mau ke rumah masing-masing wajib Heerendienst dan menangkapnya. Ia memanggil W.C.van Duim Wijkmeester Leter A dan memintanya untuk ikut dengannya tapi tanpa mengatakan kemana tujuannya. Mereka berdua dengan diikuti ketiga orang Kepala Jaga serta Opas menyelusuri jalanan di Kema.

Setelah berjalan cukup jauh, baru kemudian Kontrolir bertanya kepada Wijkmeester van Duim, ‘’Dimana rumah Hendrikus Zacharias?’’ Wijkmeester yang mengenalnya segera mengajak Kontrolir menuju rumah Hendrikus Zacharias yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan. 

Sekitar jam sebelas siang itu, mereka tiba di pekarangan rumah Hendrikus Zacharias di Wijk Leter A.

Ternyata, Hendrikus Zacharias sedang duduk di kursi bambu. Ketika melihat Kontrolir datang, ia berdiri, mengambil kursi bambu, meletakkannya dan berkata: ‘’Duduklah, tuan.’’

Namun, kontrolir tidak berkeinginan untuk duduk. Ia langsung berkata, ‘’Apakah kau tidak pergi? Lebih baik bagimu untuk pergi ke Manado, untuk menyampaikan keberatan langsung kepada Residen.’’

Tapi, Hendrikus Zacharias menjawab: ‘’Seperti saya katakan di rumah tuan Kontrolir. Lebih baik pasang mati. deri pigi ka Manado,’’ tegasnya menolak. ‘’Biar pun peluru di kepala, saya tidak pergi!.’’

‘’Kau harus pergi, apakah suka atau tidak!’’ teriak Kontrolir Haga. 

Sambil berkata demikian, Kontrolir Haga tiba-tiba meraih lengan Hendrikus Zacharias dan menariknya untuk diserahkan kepada Kepala Jaga dan Opas.

Ternyata, Hendrikus Zacharias sangat tangkas, cepat menepisnya, lalu dengan tak terduga menyambar bilah pedanya yang diselip di balik pintu, lalu disertai teriakan keras ia membacok kepala lawannya. Kontrolir Haga menangkis serangan Hendrikus Zacharias dengan lengan kanannya. Maka ia segera menderita luka di bagian kepala di atas telinga dan lengan kanan.

Kejadian itu telah berlangsung dengan sangat cepat tanpa dapat dicegah Wijkmeester van Duim dan ketiga Kepala Jaga. Mereka bahkan menggigil ketakutan, tidak berani berbuat apa-apa, karena mereka bertangan kosong, sementara Zacharias bersenjata tajam. ² 

Opas yang bertugas sebagai pengawal pribadi Kontrolir juga ikut gemetar ketakutan dan tidak mampu bertindak apa-apa untuk membela tuannya. Ia hanya menarik Kontrolir untuk segera lari.

Kontrolir Haga yang kehilangan banyak darah dari lukanya mencoba menyelamatkan diri dengan lari keluar pekarangan rumah Hendrikus Zacharias, namun ia tersandung di got halaman rumah tersebut. ³ 

Segera ia jatuh terjerambab. Hendrikus Zacharias yang memburunya, kembali menyerangnya dengan sengit, sambil berkukuk khas teriakan kemenangan orang Minahasa, memberinya lima pukulan di bagian belakang. Kontrolir luka pada leher, tangan, serta di kedua paha dan pinggangnya.

Wijkmeester serta lain-lain mencari potongan kayu atau batu untuk membantu Kontrolir. Ternyata kemudian Hendrikus Zacharias telah melarikan diri sambil berteriak keras. 

Kontrolir yang luka parah, didukung oleh dua orang penduduk dibawa pulang ke rumahnya. 4

Begitu tiba di rumah, ia masih sempat mengirim ketiga Kepala Jaga ke kampung-kampung, mengabarkan kejadian yang dialaminya, sehingga kehebohan segera terjadi. Kabar pun dikirim ke Manado kepada Residen Matthes.

Ketika Wijkmeester Leter A melihat kondisinya, Kontrolir Haga telah sangat lemah dan jatuh hampir pingsan.

Wijkmeester van Duim memanggil Borgo bernama S.Chrestoffel yang segera datang ke rumah Kontrolir. Ia membersihkan tubuh kontrolir yang berlumuran darah dan membalut luka-lukanya dengan perban kain putih. Ketika ditanya, Kontrolir Haga yang kesakitan dan masih sangat ketakutan meminta agar di rumahnya dilakukan penjagaan, berjaga apabila Hendrikus Zacharias datang untuk membunuhnya.

Segera tiba pula beberapa pria yang ikut membantu membersihkan luka-luka kontrolir.
Hampir pukul tiga sore, Dokter Jawa tiba dari Airmadidi. Ia pun segera melakukan pertolongan medis dengan obat-obatan yang dibawanya.

Tapi, Kontrolir Haga telah mengalami luka-luka yang terlalu besar dan dalam serta banyak kehilangan darah. Setelah sekitar lima jam bertahan, bahkan sempat makan sepotong roti, pada pukul tiga sore, hari Senin itu, ia menghembuskan nafas terakhir di usia 27 tahun, jauh dari ayah-ibu dan saudaranya yang ada di Belanda.

Residen Mr.P.A.Matthes datang dengan disertai Kontrolir Manado E.J.Jellesma, dokter militer Timmermans yang bertugas di Benteng Nieuwe Amsterdam Manado, Hulpprediker (pendeta) dan Hoofddjaksa (Jaksa Kepala). Masih di Airmadidi, ia telah menerima kabar Kontrolir Haga telah meninggal. Baru malam hari ia tiba di Kema. Ia pula sambil menangis telah memimpin upacara penguburan Kontrolir Hendrikus Haga esok sorenya. ***

¹.  Ada versi Kontrolir Hendrikus Haga memberi waktu setengah jam agar mereka berubah pikiran. Ketika saat itu tiba, mereka terus bersikeras dengan niatnya dan semua orang Borgo menjawab ‘’Trada mau.’’
 ². Beredar kabar kalau Kontrolir Haga menggunakan cambuk kuda. Wijkmeester dan para kepala Jaga bahkan disebut langsung kabur.
³.  Versi lain sepatunya terkait dipagar.
4.   Berita diatas menyebut karena Kontrolir telah ditinggalkan kabur, dengan susah payah ia berjalan pulang sendirian ke rumahnya.


*). Foto repro koleksi KITLV Digital Media Library.

BAHAN OLAHAN:
Delpher Kranten:
Algemen Handelsblad 1879, 1880; Bataviaasch Handelsblad 1875, 1876, 1879; De Locomotief 1876, 1879,1880; Het Nieuws van den Dag 1879, Java Bode 1874,1879; Leeuwarder Courant 1880;  Soerabaiasch Handelsblad 1879; Soematra-Courant 1879.
Ensiklopedia Tou Manado