Senin, 14 April 2014

Ridder dan Medali Keberanian Orang Manado (1)


                      

 

                                             

                                              Oleh: Adrianus Kojongian

 

 



SUDAH sejak lama, orang Manado terkenal di dan ke mana-mana sebagai kaum pemberani, jago berkelahi, pantang mundur, dan paling utama kebal.

Banyak kisah, bahkan telah bermula lewat hikayat-hikayat leluhur Minahasa, leluhur Bolaang-Mongondow—juga Sangihe dan Gorontalo menggambar saktinya tokoh-tokoh yang tak terkalahkan, tidak mempan oleh pedang, bahkan timah panas.

Di masa Permesta, kesaktian tokoh-tokoh militernya, bahkan serdadu biasa pun tersiar dengan harum. Ketika itu, hampir saban negeri Minahasa memiliki tokoh idol yang melegenda, karena butir peluru tidak tembus, dan mental begitu saja. Konon, cuma ‘penyalahgunaan’ poso Opo, yang bakal menghapusnya. Kisah mantan ‘Kapten’ Permesta Pieter Tumurang dan Komandan Brigade 999 Permesta ‘Brigjen’ Jan Timbuleng selalu dicontohkan dalam cerita nostalgia kalangan mantan Permesta, betapa kebal pun, kalau melenceng, apalagi melanggar pantang, sanksinya ilmu raib, dan umpama dalam kancah pertempuran, akan tewas disabet pedang, atau tertembus peluru.

‘Mandi kabal’ sebelum berperang telah dilakoni sejak awal, ketika masa keemasan para pahlawan Minahasa. Meski Tumalun yang pendek mengalahkan raksasa Pareipei dengan siasat, namun sebelum pertempuran yang legendaris berabad-abad silam itu, ia telah dibekali kesaktian, dan yang penting mandi kabal.

Para ksatria Minahasa tempo dulu tidak sekedar dibekali jurus-jurus berkelahi, tapi juga dibuat dan sengaja mencari ilmu kekebalan. Lalu ketika datang kaum kolonialis, ketika orang Minahasa berperang mengusir Spanyol di tahun 1644, lalu juga berperang melawan Belanda di tahun 1808 di Tondano, mandi kabal pun massal dilakukan.

Kemudian, ketika orang Minahasa mulai tertarik menjadi soldadu Kompeni sejak awal --dan terutama-- di pertengahan abad ke 19, sudah lazim pula, calon soldadu sengaja dimandikabalkan di negerinya oleh para Opo lewat tangan-tangan Walian dan Tonaas. Walian dan Tonaas ada di hampir tiap negeri Minahasa, karena tiap negeri Minahasa --ini terutama terjadi di peralihan abad tersebut-- mempunyai pemuda yang berminat dan biasanya selalu diterima menjadi soldadu.

Maka, kemudian,  terkenal di era Hindia-Belanda, kisah-kisah para soldadu berasal Minahasa yang membantu Belanda menumpas para pelawan dari Maluku, Jawa, Lombok, Bone, Kalimantan, Sumatra Barat dan paling melegenda dari berbagai kancah pertempuran di Aceh.

Semua bermula pada Perang Patimura di Maluku.  Orang-orang Minahasa mulai tertarik menjadi soldadu. Sampai tahun 1924 pasukan berasal Minahasa sengaja digabungkan dalam kesatuan Ambon, terkenal dengan sebutan Amboineesche. Sejumlah Kawanua berhasil menjadi perwira pribumi di dekade awal dan kedua abad ke-19, meraih pangkat Letnan, karena keberaniannya.

Perang Diponegoro memunculkan banyak perwira tituler Minahasa yang masyur. Keberanian serta keperwiraaan Tololiu Dotulong, Komandan Hulptroepen Minahasa, dengan para letnannya, juga Komandan Hulptroepen Gorontalo, terutama dua letnannya Hadju dan Matalie, tersiar kemana-mana. Mereka dikisah turun-temurun sampai saat ini—yang banyak makin berbunga-- tidak mempan keris, pedang, tombak, dan timah panas. ‘’Senjata lawan seperti menusuk angin, tidak berbekas. Pelor cuma malentek,’’ demikian biasa dihikayatkan para penutur.

PENANGKAP DIPONEGORO
Kehebatan Mayor Tololiu dengan Letnan (lalu Kapten) (Benjamin Thomas) Sigar dari Langowan, Letnan Hendrik Jacob Supit dari Tondano, Letnan Sondag Palar dari Sonder dan Letnan Mandagi dari Sarongsong, melegenda di kalangan keturunannya. Bahkan, mereka disebut sebagai penangkap langsung Pangeran Diponegoro. 

Penangkapan Diponegoro, lukisan Raden Saleh. *)

Kisah penangkapan Diponegoro malah telah berbumbu ada uji sakti dulu, seakan masih dalam suasana pertempuran. Skenario sejarahnya mengungkap Diponegoro ditangkap dalam perundingan setelah pengiringnya dilucuti. Memang, kemungkinan besar pasukan yang melakukan pelucutan lalu penangkapan adalah kesatuan berasal Hulptroepen Minahasa. Berita-berita mengungkapkan Diponegoro di tanggal 27 Maret 1830 hanya bersedia menyerahkan diri kepada pasukan Tulungan Minahasa, dan ia berulangkali mengutarakan kekagumannya terhadap keberanian Mayor Tololiu.

Mencari bukti sejarah peran pasukan Hulptroepen Minahasa dalam Perang Jawa 1825-1830 itu cukup sulit. Namun, tergambarkan sekali ketika perang berakhir dan Raja Belanda Willem membagi-bagikan penghargaan dan tanda jasa keberanian ridder serta medali kehormatan untuk orang-orang yang dianggap sangat berjasa di tahun 1831. Ternyata, tidak ada satu pun orang dalam pasukan Hulptroepen Minahasa yang memperolehnya.

Tanda jasa keberanian Belanda tertinggi dengan beslit kerajaan ketika itu, tentu saja Militaire Willems Orde (MWO) yang berjenjang dari Grootkruis, Ridder klas 2 atau Komandeur, Ridder klas 3 dan Ridder klas 4. Kemudian ada medali-medali untuk keberanian dan loyalitas, yakni Gouden Medaille (medali emas), serta Zilveren Medaille (medali perak). Saat itu pun, spesial diserahkan Komandeur dan sejumlah rang Ridder Orde van den Nederlandschen Leeuw.


Di tahun 1831 itu, hanya ada satu orang Minahasa yang menerima ridder, yakni  Abraham Donatius Wakkary, mendapatkan Ridder Militaire Willems Orde Klas 4. Dalam daftar penerima, namanya ditulis Wakkarie dengan pangkat opp.wachtmeester (Sersan Kepala), asal kesatuan Kavaleri (Hussaren). Dari 25 orang penerima medali emas dan perak tidak ada nama Tololiu Dotulong atau pun para letnannya. Dari sekian banyak pasukan Hulptroepen yang ikut membantu Belanda menumpas perlawanan Pangeran Diponegoro, dari peringkat terbawah tanda jasa, yakni medali emas dan perak, yang menerima hanya komandan dan perwira Troepen Yogyakarta, Legiun Mangkunegara, Hulptroepen Sultan Madura,  Hulptroepen Sultan Sumenap, dan beberapa perwira serta bintara infantri, Jayang Sekar dan Amboineesche.

Terdapat nama Mayor Koelabath, Komandan Hulptroepen Ternate, serta Komandan Hulptroepen Tidore Mayor Saffi-oed-din.  Koelabath atau Koelbat memimpin 550 orang Hulptroepen Ternate, dan Saffi-oed-din 300 orang. Tentu saja, jumlahnya kecil dan sedikit berbanding pasukan Tulungan Minahasa (disebut Menadoneesch) pimpinan Mayor Tololiu Dotulong yang berjumlah 1.600 orang.


Dibalik itu, tentu terdapat penilaian Letjen H.M.de Kock Komandan tertinggi tentara Hindia-Belanda serta para perwira tingginya, ketika itu, bahwa peran komandan dan perwira berasal Hulptroepen Minahasa meski berani, tidak luar biasa untuk menerima tanda jasa kehormatan Ridder mau pun medali. Mayor Tololiu sekedar diberi pangkat tituler Groot Majoor, yang diterima juga oleh Abraham Donatius Wakkary. Peristiwa penangkapan Diponegoro hanya lumrah di mata para atasan, karena memang Diponegoro tidak bisa melawan lagi, terkepung kekuatan militer di Magelang.

Baru di tahun 1833, karena desakan mantan Residen Mr.Daniel Francois Willem Pietermaat, teman dekatnya ketika bertugas di Manado, serta Residen Manado Joan Pieter Cornelis Cambier, maka di bulan April, dari Residen Cambier ia menerima medali emas serta pedang kehormatan bersepuh emas (Gouden eere-sabel). Tololiu Dotulong kelak pula menerima uang pensiun sebesar sembilan ratus gulden tiap tahunnya dengan pangkat tituler mayor. ***

SUMBER TULISAN:
Koninklijk Bibliotheek-Delpher Kranten (De Sumatra Post 13 September 1939, dan Het Nieuws van den Dag voor  Nederlandsch-Indie 6 September 1939).
Google ebook (Gedenkschrift van den Oorlog op Java van 1825 tot 1830, Jhr.F.V.A.Ridder de Stuers, Amsterdam Johannes Muller, 1847).