Jumat, 27 November 2015

Philip Laoh, Doktor Pertama Minahasa







                                                        Oleh: Adrianus Kojongian














Siapa sebenarnya doktor pertama orang Minahasa, pernah disebutkan nama Dr.Sam Ratulangi, lalu juga Dr.Roland Tumbelaka. Sam Ratulangi meraih gelar doktor ilmu pasti dan alam 17 Desember 1918 di Universitas Z├╝rich Swiss, dan Roland Tumbelaka doktor geneeskunde 9 Desember 1919 di Universitas Utrecht Negeri Belanda.

Ternyata, dokter Philip Laohlah orang Minahasa pertama yang menjadi penyandang gelar doktor. Philip Laoh adalah kakak Frtis H.Laoh bekas Menteri Perhubungan, dan Ir.Herling Laoh, bekas Menteri Pekerjaan Umum.

Philip Laoh lahir tanggal 26 Mei 1879 di Sonder Minahasa. Ia masuk School tot Opleiding Inlandsch Arts (STOVIA) di Weltevreden tahun 1893, dan berhasil lulus menjadi dokter bumiputera (inlandsch arts) tanggal 23 Desember 1898.

Seperti tamatan lain umumnya ia terikat pekerjaan sebagai dokter Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (BGD=Dinas Kesehatan Sipil) Hindia-Belanda.

Penugasannya sebagai dokter yang saat itu tetap dijuluki sebagai dokter-djawa, seperti tertera pada pengumuman penempatan sebagai pegawai, pertama kali di bulan Januari 1899. Ia ditempatkan di Stadsverband Batavia. Tapi, di rumah sakit gubernemen di Glodok itu, Philip Laoh tidak lama. Bulan Maret 1899 itu juga, ia dipindah ke Bangka, bekerja di Pangkal Pinang.

Philip Laoh ternyata tidak betah bekerja dalam ikatan dinas, apalagi gajinya kecil. Tawaran menjadi dokter di berbagai perkebunan dan perusahaan banyak menarik minat dokter muda kala itu.

Philip Laoh bercita-cita mengambil gelar arts (dokter) di Belanda, bahkan gelar doktor. Jadi, ia minta berhenti sebagai dokter gubernemen, yang baru dikabulkan bulan Februari 1901. Jadilah, ia bekerja di Palembang, lalu sebagai dokter perusahaan minyak BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) di Samarinda Kalimantan. Philip Laoh saat itu bekerja sambil giat menulis di berbagai media, terutama tentang penyakit beri-beri dan cara penanggulangannya.

Bulan April 1903 ketika ia bekerja di Palembang, bukunya yang berjudul Iets over de Aetiologie, Prophylaxis en Therapie der Beri-beri, bijdrage tot de kennis der infectieziekten diterbitkan G.Kolff&Co Batavia, dijual seharga f.1.50 per buku. Buku mana mendapat sambutan serta reaksi meluas di kalangan dokter, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Negeri Belanda.

Dengan cita-cita mengangkat harkat dokter pribumi, awal tahun 1908 ia berangkat ke Negeri Belanda, dan sejak Januari 1909 tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Amsterdam. Teman sesama Minahasa yang juga bersekolah di universitas itu adalah Roland Tumbelaka.

Roland Tumbelaka berhasil mendahuluinya mencapai gelar arts bulan Desember 1909, sebab ia baru lulus ujian dokter, dan mencapai gelar arts, alias dokter Belanda di tanggal 21 April 1910, meski gelar tersebut baru secara resmi keluar 1 Desember 1910.

Tapi, ini beda mereka berdua. Kalau Roland Tumbelaka baru mencapai gelar doktor sembilan tahun kemudian, Philip Laoh justu hanya butuh waktu empat bulan saja dari saat kelulusannya sebagai dokter untuk menjadi doktor itu.

HOOGESCHOOL GENT
Gelar puncak akademis tersebut bukan dicapainya di Belanda, tapi di Belgia. Karena ia tidak dapat menemukan peluang untuk meraih gelar doktor di Belanda, dimana pihak universitas menuntut persyaratan kelulusan sekolah menengah atas (Hoogere Burger School=HBS). 

Philip Laoh pergi ke Hoogeschool Gent. Perguruan tinggi kedokteran terkenal di kota Gent yang sampai sekarang masih ada di Belgia itu menerimanya dengan tangan terbuka. Bahkan, promosi gelar doktornya sesegera mungkin dilaksanakan secara terbuka. Di bulan Agustus 1910, ia berhasil meraih gelar doctor in de geneeskunde dengan cum laude.

Philip Laoh mengikuti jejak kakak kelasnya di STOVIA, Abdoel Rivai, yang lulus Sekolah Dokter-Djawa  1894. Abdoel Rivai, asal Bengkulu, telah meraih gelar arts di Universitas Amsterdam Juni 1908, dan seperti dirinya ditolak untuk maju mengambil gelar doktor karena alasan ijazah HBS-nya. Namun, Hoogeschool Gent menerima, dan di akhir bulan Juli 1908, hanya sebulan dari waktu meraih gelar dokternya, ia lulus ujian doktor. Abdoel Rivai mencatatkan diri sebagai orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor kesehatan.

Masa di Negeri Belanda, Philip Laoh sudah terkenal sebagai aktivis di Indische Vereeniging yang didirikan para pelajar asal Indonesia di Leiden. Organisasi mana kelak menjadi cikal bakal dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Eropa.

Ketika masih bergelar semi-arts, satu bulan sebelum Philip Laoh meraih gelar dokter, Maret 1910 bersama Abdoel Rivai, Roland Tumbelaka dan kandidat dokter Indonesia lain di Belanda, mereka menerbitkan dari Amsterdam sebuah brosur menyeru dilakukan reorganisasi terhadap dinas kesehatan sipil di Indonesia.

Di Amsterdam 15 November 1910, doktor Philip Laoh kawin dengan Anna Jeanette Govers (1892-1941). Anna adalah anak Jacobus Johannes Govers Bzn yang meninggal di Amsterdam 30 November 1924. Bersama istrinya melalui pelabuhan Marseille di Perancis, awal Desember 1910 mereka bertolak kembali ke Batavia, naik ss ‘Rindjani’ yang dinahkodai T.Baker.




Di Indonesia, Philip Laoh kembali bekerja sebagai dokter BPM. Ia jadi anggota Komite Indie-Weerbaar 1917. Bulan Mei 1918 oleh BGD, ia ditunjuk sebagai dokter untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bagi kuli kontrak di Surabaya.

Setelah berpindah-pindah tempat, pulang dari berlibur bersama istri dan ketiga anaknya di Eropa 1924, ia berdomisili tetap di Bandung, membuka praktek yang sangat terkenal. Philip Laoh jadi banyak memiliki kesempatan menulis di suratkabar dan bergiat dalam organisasi Minahasa. Bahkan, ia tercatat sebagai salah seorang tokoh Perserikatan Minahasa dan juga pendiri Persatuan Minahasa di Weltevreden 1927. Juga sebagai ketua Menadonese Interstedelijke Tennis Organisatie (MITO) di Bandung 1925-1936.

Philip Laoh pun bertahun-tahun menjadi komisaris di bank tabungan pertama yang berdiri di Indonesia, yakni De Eerste Nederlandsch-Indische Spaarkas en Hypotheekbank Bandung yang terkenal dengan nama singkat DENIS.

Tahun 1937, Philip Laoh mulai sakit, dan bulan Agustus 1937 ia berangkat ke Eropa untuk memulihkan kesehatan. Tapi, ketika berada di kota Locarno di Swiss, tanggal 29 April 1938, di usia 59 tahun, ia meninggal dunia.

Putra Philip Laoh bernama Johannes Philip Laoh, memperoleh gelar insinyur dari Landbouwhoogeschool di Wageningen Belanda dan bekerja di Brazil. Ia kawin di Hilversum Agustus 1956  dengan Wilhelmina Marguerite Gieskes. Istrinya adalah anak Ir.Johannes Gerhardus Engelbertus Gieskes, mantan Presiden Direktur Philips Telecommunicatie Industrie, yang namanya terpatri di Gulden Boek (Buku Emas) Kota Hilversum. ***

                                        
*). Foto repro Bode.

BAHAN OLAHAN:
DELPHER KRANTEN:
Bataviaasch Nieuwsblad 17 Maret 1899, 14 April 1903, 24 Mei 1910, 2 Mei 1938.
De Locomotief 22 Maret 1899, 26 Februari 1901.
De Sumatra Post 7 September 1910, 7 Juni 1916.
De Tijd 22 April 1910.
Het Nieuws van den Dag 4 April 1910, 16 November 1910, 15 Desember 1910, 2 Mei 1938.
Java-Bode 1 Mei 1893.
Soerabaijasch Handelsblad 21 Agustus 1931.
ENSIKLOPEDIA TOU MANADO

Senin, 23 November 2015

Hebatnya Keluarga Ratulangi









                                                                Oleh: Adrianus Kojongian











Jozias Ratu-Langie, istri  Agustina, putri Wulankajes, dan di sebelah Wulan, Sam kecil. *).






Kepintaran Doktor Sam Ratulangi, sudah pasti menurun dari ayahnya Jozias Ratulangi, guru tua lulusan Negeri Belanda. Bukan hanya Sam Ratulangi, tapi juga dua orang kakak wanitanya, merupakan wanita-wanita terpintar di zamannya. Dan, karena kepintarannya bisa menempuh pendidikan super tinggi untuk ukuran wanita masa tersebut.  

Jozias Ratu-Langie, (demikian famnya banyak dicatat masa lalu), terlahir di Tondano tanggal 4 Juli 1853. Ia menempuh pendidikan formal untuk menjadi guru di Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzer Tondano, dibawah didikan Guru Kepala Leendert Gerardus van der Hoek, dan Guru Kedua Lambertus Mangindaan, yang lulusan Sekolah Guru di Belanda. Untuk bersekolah di sini juga, kandidat gurunya mesti melalui seleksi ekstra ketat.
                                                                            
Jozias Ratu-Langie lulus dari sekolah pendidikan guru pribumi tersebut tahun 1873 bersama-sama Elias Kandou, murid berasal Tonsea Lama. 

Kalau Elias Kandou setelah lulus ditempatkan sebagai guru di Openbare Inlandsche School Airmadidi, penempatan Jozias Ratu-Langie sebagai guru tidak diketahui. Namun, dalam ujian seleksi calon guru yang akan dipilih untuk mengikuti pendidikan guru tinggi di Rijkskweekschool di Haarlem Negeri Belanda, Jozias dan Elias berhasil terpilih mewakili Keresidenan Manado. Terpilihnya keduanya adalah dibawah penilikan langsung guru Van der Hoek dan Lambertus Mangindaan, dengan menyisihkan banyak kandidat yang pintar-pintar pula.

Ternyata, dari seluruh Indonesia (masih Hindia-Belanda), yang lolos seleksi pendidikan ke Negeri Belanda hanya tiga orang saja. Dua dari Minahasa, yakni Jozias Ratu-Langie dan Esau Kandou. Guru lainnya dari Jawa, berasal Muntilan mewakili Keresidenan Kedu (sekarang di Kabupaten Magelang Jawa Tengah), adalah Raden Kamil.

Akhir bulan April 1878 itu juga keduanya dengan stooms (kapal uap) ‘Prins van Oranje’ yang dinahkodai Ankes bertolak ke Belanda dari Batavia. Mereka mulai bersekolah di Rijkskweekschool di kota Haarlem.


Setelah bersekolah hampir dua tahun, Jozias Ratu-Langie berhasil lulus dan meraih acte-examens voor Hulponderwijzers yang berlangsung tanggal 21 September 1880.

Lulus bersama juga Elias Kandou dan Raden Kamil. Dari pencatatan siswa lulusan Provinsi Noord-Holland tersebut, ujian voor guru bantu itu telah diikuti 16 kandidat, 10 berhasil lulus dan 6 gagal. Hebatnya, karena orang Indonesia, khususnya Minahasa bisa membuktikan kepintarannya diatas rata-rata peserta orang Belanda.

GURU SEKOLAH RAJA
Ketiganya baru tiba kembali di Batavia dari Amsterdam awal bulan Maret 1881, juga menumpang kapal uap Prins van Oranje. Jozias Ratu-Langie ditetapkan untuk sementara sebagai guru klas 3, ditempatkan di School voor Zonen van Inlandsche Hoofden en van andere aanzienlijke inlanders di Tondano. Sekolah mana lebih terkenal sebagai Hoofdenschool atau Sekolah Raja, karena para muridnya merupakan putra-putra para raja, kepala-kepala pribumi lain dan tokoh-tokoh yang derajatnya dieropakan.


Bulan Maret 1886 Jozias Ratu-Langie dikukuhkan sebagai Inlandschen hulponderwijzer  van den 1 sten rang di sekolah tersebut.

Tidak seperti temannya Elias Kandou yang berpindah-pindah tempat tugas, Jozias Ratu-Langie tetap menjadi guru di Sekolah Raja. Sayang, Jozias Ratu-Langie meninggal di usia 51 tahun, tanggal 7 April 1904 di Tondano.

Dari perkawinannya tahun 1882 dengan Agustina Petronela Gerungan (7 November 1847-19 November 1911), yang putri Majoor Kepala Distrik Tondano-Touliang Jacob Gerungan, terlahir anak-anak super pintar pula. Tiga anak yang banyak disebut, adalah: Wulankajes Rachel Wilhelmina Maria Ratu-Langie, Wulan Ratu-Langie, dan pahlawan nasional Dr.Sam Ratu-Langie.

Wulankajes Rachel Wilhelmina Maria Ratu-Langie (Tondano, 2 April 1883-Tondano, 17 Juni 1971), si sulung bersekolah di Sekolah Raja Tondano dan meraih akte dari kleinambtenaars examens tahun 1898. Ia kemudian kawin dengan Alexander Supit, kelak Kepala Distrik Tondano.

DR.G.S.S.J.RATU-LANGIE
Gerungan Saul Samuel Jacob Ratu-Langie (Tondano, 5 November 1891-Jakarta, 30 Juni 1949), yang lebih terkenal dengan nama Sam Ratu-Langie (kini Ratulangi) banyak orang telah membahasnya. Namun, kepintarannya perlu disentil.


Di Belanda, tanggal 9 September 1915, ia berhasil lulus Examen Wiskunde M.O (Middelbare Onderwijs) yang berlangsung di ‘s-Gravenhage.


Lalu Wiskunde LO (Lager Onderwijs) akte di ‘s Gravenhage juga Mei 1917. Kemudian, karena tidak diperkenankan untuk menempuh ujian karena alasan tidak memiliki ijazah HBS atau sederajat, ia pindah kuliah di Universitas Zurich di Swiss, dan tanggal 17 Desember 1918 meraih gelar doktor dalam Natuur Philosophie (doctor’s degree in science=ilmu pasti dan alam).

Riwayat perjuangannya yang heroisme bersebaran di mana-mana. Tapi, kejeniusannya ikut menular kepada semua anaknya pula yang sama-sama jadi akademisi. Lihat saja nama dan gelaran mereka. Anak dari istri pertama bernama Susi Emilie Suzane Houtman (Batavia, 12 Agustus 1890-Fitzroy Australia, 1951) yang juga meraih gelar doktor geneeskunde dari Universitas Amsterdam Januari 1919, ada Dr. Corneille Jose Albert ’Oddy’ Ratu Langie (lahir 26 Juni 1920), dan Prof. Dr. Emilia ‘Zoes’ Augustine Ratu-Langie (Bandung, 23 Juli 1922).


Sementara dari istri kedua yang dikawini 23 Juni 1928 di Buitenzorg, Marie Catharina Josephine Tambajong (Amurang, 2 Maret 1901-Jakarta, 10 Juni 1983), putri Jan Nicolaas Tambajong, bekas Kepala Distrik di Tompaso, Rumoong-Tombasian, Maumbi dan Kakas-Remboken, ada tiga putri.


Milia ‘Milly’ Maria Matulanda Ratu-Langie (Pengalengan, 3 Mei 1929-Papua, 5 Agustus 1996), lalu Dr. Ir. Everdina Augustina Matulanda  ‘Lani’ Ratu-Langie (Batavia, 21 Desember 1932), dan Dr. Wulanrugian ‘Uki’ Manampira Ratu-Langie (Bandung, 1 Februari 1938).

WULAN RATU-LANGIE
Kakak kedua Dr.Sam Ratu-Langie, yakni Wulan Ratu-Langie mempunyai inisial nama hampir sama persis dengan kakak tertuanya, W.W.M.R.Ratu-Langie, sesuai nama pada pembeslitan tugas gurunya. 


Dari pemberian status sama dengan orang Eropa bulan Juli 1914, nama penerima Wulangkajes Wilhelmina Maria Rachel Ratu-Langie kalau diinisialkan juga menjadi identik W.W.M.R.Ratu-Langie, namun, bisa jadi dia adalah kakak tertua Wulan, yang sekarang banyak dituliskan Wulankajes Rachel Wilhelmina Maria Ratulangi, karena juga penerima status dicatat di Manado.


Sementara Wulan Ratu-Langie (kelahiran Tondano, 1 Maret 1886), saat bersamaan sementara bersekolah di Batavia. Bulan Mei (bulan kelulusan sekolah-sekolah di Hindia-Belanda masa itu) di tahun 1914, ia berhasil lulus Europeesch Onderwijzeres-examen, menjadi wanita Indonesia pertama yang meraih akte demikian.

Pembeslitannya sebagai guru dengan nama inisial W.W.M.R.Ratu-Langie tidak banyak. Agaknya Wulan ditempatkan pertama kali di Manado, mengajar di Sekolah Klas 3, sebab bulan Februari 1915, ia dipindah ke Sekolah Klas 2 Manado.

Namun, bulan Desember 1915, keluar penempatannya di Openbare Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Bangkalan Madura. 


Kemudian tidak ada berita lagi, sampai muncul  pemberitaan penugasannya kembali di HIS Tondano, pindah dari HIS Langowan terhitung 17 April 1931.


Tidak lama, karena bulan Juli 1932, ia diposting dari HIS Tondano ke HIS Manado.

Dan, pada September 1934, ia diperbantukan pula mengajar di Europeesche School Kedua Manado.

Di masa akhir hidupnya, Wulan Ratu-Langie yang tetap berstatus nona, tercatat sebagai guru Gouvernement Meisjesschool Manado, juga Ketua Pertalian Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT). Menderita sakit parah, ia berobat ke Batavia, dan tanggal 31 Agustus 1936 meninggal dunia.


Dari iklan keluarga yang dibuat Dr.Sam Ratu-Langie, ia dinyatakan akan dikuburkan di pemakaman Tanah Abang Jakarta. Namun, kemudian, minggu berikutnya jenasahnya dibawa dan dimakam di Tondano.

                                                                                                                                             
*). Foto dari Lani’s Blog, ‘Sam Ratu Langie’s Parents&Sisters’.

BAHAN OLAHAN:
DELPHER KRANTEN
Algemeen Handelsblad 2 Maret 1881
Bataviaasch Nieuwsblad 23 Maret 1886, 14 Juli 1914, 13 Februari 1915, 23 Juni 1928.
De Indische Courant  9 April 1931.
De Standaard 23 September 1880.
De Tijd 11 Mei 1914, 11 September 1915, 9 Juni 1917.
Het Nieuws van den Dag 24 April 1886, 16 Februari 1915, 16 Oktober 1915, 1 September 1936, 2 September 1936, 8 September 1936.
Java Bode 26 November 1880, 23 Maret 1886.
Rotterdamsch Nieuwsblad 13 September 1915, 7 Desember 1915.
Soerabaiasch-Handelsblad 20 Juli 1932, 21 September 1934.
            ENSIKLOPEDIA TOU MANADO

Jumat, 06 November 2015

Lambertus Mangindaan, Guru Pertama Lulusan Belanda

                                                  

 

 

 

 

                                                                 Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 

 

 



Rumah Zendeling Karl Herrmann. *).






Siapa pun kenal Lambertus Mangindaan. Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) menganggapnya sebagai perintis dan pelopor gereja. Namun, tidak banyak yang mengetahui kalau tokoh yang kemudian dianggap sebagai cendekiawan Minahasa pertama ini harus bersusah-payah terlebih dahulu untuk mencapai cita-citanya.

Lambertus Mangindaan lahir tahun 1831 di Pondang Tombasian, sekarang kelurahan di Kecamatan Amurang Timur Kabupaten Minahasa Selatan, yang saat itu masih masuk Distrik Tombasian. Pertumbuhannya ke remaja, ditandai dengan datangnya penginjil NZG asal Jerman Karl Traugot Herrmann (Sagan Silesia 30 Agustus 1808-Amurang 27 September 1851) yang disertai istrinya Magdalena Bertha Cammerrer ¹ . Herrmann membuka pos penginjilan di Amurang tahun 1836, bekerja untuk menggembalakan sedikit umat Kristen yang ada di stad Amurang, serta untuk menseranikan orang-orang dari Distrik Tombasian, Rumoong,Tompaso dan wilayah seputarannya.

Kerja keras Karl Herrmann membangkitkan semangat Lambertus yang diserani dan diangkat jadi murid piaranya. Selain belajar Alkitab, bermacam pengetahuan dan tentunya bahasa Belanda, Lambertus sering mengikuti penginjil Herrmann dalam perjalanannya ke berbagai negeri seputaran Amurang sampai seberang Ranoiapo. Di rumah tangga Herman, ia sering membantu pekerjaan rumah sang nyonya, Clasina Clarissa Constans ², yang dikawini Karl Herrmann setelah Magdalene Cammerrer meninggal. Corry, panggilan Clasina banyak menolongnya memperlancar bahasa Belanda.



Teluk Amurang 1847. *)

Lambertus Mangindaan terhitung paling menonjol diantara beberapa murid piara Hermmann. Bahkan, ada kisah, Lambertus Mangindaan turut berandil membantu Karl Herrmann ketika menyusun buku pelajaran bahasa Tontemboan yang terbit tahun 1847 dan buku injil Matius berbahasa Tontemboan.

Karl Herrmann yang melihat kepandaian juga ketekunan muridnya itu berkeinginan menyekolahkan Lambertus ke Negeri Belanda, bukan hanya sekedar guru, tapi juga sebagai zendeling persis dirinya. Keinginannya itu disampaikan kepada pengurus NZG yang ragu orang pribumi dapat menjadi penginjil. 

Tekad Lambertus sendiri sangat kuat. Tahun 1848 ia berangkat ke Batavia, untuk pergi ke Belanda. Tapi, di ibukota kolonial masa itu, nasib Lambertus jadi terkatung-katung. Apalagi, guru yang sangat dihormati dan dikasihinya Karl Hermann kemudian meninggal di Amurang tanggal 27 September 1851.

Namun, keinginan untuk pergi belajar di Belanda tidak surut. Setelah bekerja serabutan, ia melihat satu-satunya peluang dapat menginjak Tanah Wolanda dengan gratis adalah dengan menjadi awak kapal. Maka, setelah melihat banyak bagian lain belahan dunia, di tahun 1853 Lambertus Mangindaan berhasil tiba di pelabuhan Rotterdam, dan melanjutkan perjalanan ke Amsterdam.

Dengan bantuan dan pertolongan Hulpgenootschap der Luthersche Gemeente di Amsterdam, ia dapat bersekolah, dan tahun 1856 mengikuti ujian untuk menjadi guru rang kelas empat (examen voor vierden onderwijsrang). Lambertus yang berusia 25 tahun, cukup tua dibanding murid-murid lainnya. Ia dinyatakan lulus dan memperoleh akte pada ujian yang dilaksanakan Provinsi Noordholland tanggal 1 April 1856. Statusnya dicatat sebagai kweekeling dari Amsterdam.




Nederlandsch Zendeling Genootscap (NZG) melihat potensi dirinya akan sangat membantu pekerjaan penginjilan di Minahasa, melatihnya untuk menjadi Hulpzendeling, dengan didikan teologis (katekis) di Rotterdam.

Tahun 1858, setelah lima tahun berada di Negeri Belanda, Lambertus Mangindaan dikirim pulang kembali ke Minahasa sebagai tenaga Hulpzendeling, penolong atau pembantu penginjil. Oleh NZG ia ditempatkan sebagai Hulpzendeling di Jemaat Protestan Manado, membantu Zendeling Ds.Fokke Hendriks Linneman yang juga sebagai pejabat Predikant Manado, melayani di gereja Tikala.

Ternyata kemudian, ide-ide Lambertus Mangindaan dianggap sangat radikal, sebab, ia berani kotbahkan gagasan perlu pemisahan urusan gereja dan negara. Ini dipraktikkannya dengan gereja berdiri sendiri di Tikala, sehingga diberhentikan kemudian sebagai pembantu pendeta di tahun 1865.

Namun, pemberhentian itu sendiri lebih dikaitkan dengan pindah tugasnya dan pembeslitan Lambertus Mangindaan untuk mengajar di Tondano tahun 1864.




Karirnya sebagai guru, telah berawal bulan Mei 1861 ketika ia diangkat, meski dengan ijazah Belanda, sebagai hulponderwijzer (guru bantu) di Gouvernement Lagere School Manado. Pangkatnya ondermeester derde rang (guru bantu tingkat tiga), sementara kepala sekolahnya adalah Leendert Gerardus van der Hoek, berstatus guru klas dua. Van der Hoek kemudian menjadi rekan dan sahabat dekatnya. Bahkan, mereka bersama-sama ketika untuk urusan pekerjaannya pergi ke Batavia akhir tahun 1872.

Ketika di Tondano dibuka School voor Zonen van Inlandsche Hoofden en van Aanzienlijke Inlandsche Partikulieren in de Minahasa (dikenal sebagai Sekolah Raja), dengan beslit Gubernur Jenderal 15 Oktober 1864, Lambertus Mangindaan pindah dari Manado. Ia diangkat jadi Tweede Onderwijzer (Guru kedua), juga sebagai wakil dari van der Hoek yang pindah bersama jadi Guru Pertama. 

Bekerja di Tondano, meski bersama van der Hoek terkena pengurangan gaji dengan alasan reorganisasi di Kweekschool September 1872, ia sangat giat mendidik para calon guru yang belakangan banyak menjadi terkenal, dan bekerja di berbagai pelosok, bahkan di luar Minahasa. 




Lambertus Mangindaan diberhentikan dari dinasnya sebagai guru tingkat tiga di Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzer Tondano, bulan Maret 1882. Ia digantikan Elias Kandou, lulusan Sekolah Guru dari Belanda yang belum lama tiba di Minahasa.

MISTERIUS
Tulisannya Oud Tondano, yang merupakan hasil penelusurannya dari cerita-cerita oleh para orang tua di Tondano, dipublikasikan dalam Tijdschrift van Indische Taal-,Land-en Volkenkunde Nomor XX tahun 1883 dibawah redaksi Mr.W.Stortenbeker Jr dan L.J.J.Michielsen.

Kabar selanjutnya dari kehidupan Lambertus Mangindaan serba misterius, karena tidak diketahui jelas apakah ia masih bekerja di usianya yang mencapai 51 tahun.

Ia sendiri kawin di Manado tanggal 28 Maret 1866 dengan wanita keturunan Borgo bernama Petronella Weijdemuller. Petronella lahir di Manado 24 September 1830, dan meninggal 26 September 1911, juga di Manado.

Perkawinan mereka melahirkan beberapa anak. Besarnya kecintaan Lambertus Mangindaan terhadap istrinya membuat iklan kelahiran dua anaknya di Tondano pada 13 Februari 1868 dan 19 Juni 1869 yang dimuat di suratkabar Batavia ketika itu, justru tidak menyebutkan nama anaknya, selain ungkapan penuh kasih terhadap istrinya.




Salah seorang putranya yang diketahui bernama Johan Carel Lambertus Mangindaan. J.C.L.Mangindaan berdomisili di Tumpaan, ketika awal Agustus 1892 memperoleh status disamakan dengan orang Eropa (gelijkgesteld). Keputusan naik status dari sekedar derajat inlander itu, turun bersamaan dengan nama-nama yang besar kemungkinan adalah saudara-saudaranya. Mereka adalah: C.J.Ch.Mangindaan dengan domisili Tanawangko, P.L.B.Mangindaan di Manado dan Mejuffrouw P.A.J.Mangindaan di Manado.

J.C.L.Mangindaan sendiri kawin 7 Desember 1893 di Manado dengan Jansje Doortje Kalenkongan. Ia pasti berhasil dalam pekerjaannya. Sebab, dari pengumuman berkait pajak pendapatan di Batavia 29 Desember 1927, ia dikenai pajak pendapatan sebesar 163,80 gulden.

C.J.Ch.Mangindaan tercatat bekerja sebagai Klerk di kantor Residen Manado. Berhenti Agustus 1910, ia pindah sebagai klerk lalu naik pangkat Komis di Kantor Residen Bangka di Pangkal Pinang, sampai berhenti September 1917. Dari penelusuran, ia jelas pernah dikunjungi L.Mangindaan. L.Mangindaan ketika itu penumpang kapal uap 'van Swool', yang dicatat bertolak dari Pangkal Pinang 24 Maret 1915.

P.L.B.Mangindaan, juga bekerja sebagai Klerk, tapi di kantor Asisten-Residen Gorontalo. Ia dinyatakan berhenti dari pekerjaan klerk Maret 1898. Sebab di bulan Juli 1898, diberitakan ia telah melakukan penelitian pertambangan di Bone bersama Ir.Ohlendorff Speak. Juni 1902 ia dicatat ada di Sidenreng, juga di Sulawesi Selatan, dengan jenis kerja yang sama.

Nona P.A.J.Mangindaan, ternyata, di bulan Juni 1902, bersama P.L.B.Mangindaan, bekerja di Sidenreng.

Kapan dan dimana Lambertus Mangindaan meninggal tidak ada detil pasti. Di Amurang tahun 1980-an ada kisah, kalau sebagai bekas pelaut, ia telah diterima jadi pegawai KPM, dan meninggal di Bandung.

Namun, dari data di Delpher Kranten Belanda, L.Mangindaan dimaksud, employe KPM yang berdomisili di Bandung, baru meninggal tanggal 12 Agustus 1936, dan dimakam di pekuburan Tanah Abang Jakarta. 




Artinya, kalau L.Mangindaan yang beristri M.Ch.Wilkens ini identik dengan Lambertus Mangindaan, usianya sangat lanjut, mencapai sekitar 105 tahun. Artinya pula ia kawin ulang, sepeninggal istri pertama. 




Ternyata, ada berita lain di media menyangkut L.Mangindaan. Sebuah iklan mengumumkan pernikahan antara L.Mangindaan dengan E.Muller di Weltevreden 9 Oktober 1926. ***

¹).Magdalena Bertha Cammerrer lahir di Berlin 6 Oktober 1814, kawin dengan Karl Traugott Herrmann di Rotterdam 29 Juli 1835. Meninggal di Amurang 17 Juli 1839.
²).Clasina Clarisa Constans lahir 2 Desember 1821, putri mantan Opziener Tomohon, dikawini Karl Traugott Herrmann 23 Oktober 1839. Sepeninggal Karl Hermann, Clasina kawin kembali 29 Juli 1866 dengan Jacobus Pieter Tokaija.

*). Repro gambar buku Reis door den Indischen Archipel in het belang der evangelische zending, Ds.L.J.van Rhjin. Buku Google.

BAHAN OLAHAN:
Delpher Boeken:
Schoolnieuws, Lijst van Schoolonderwijzer jaar 1856.
Delpher Kranten:
Bataviaasch Nieuwsblad 24 Juni 1902,13 Agustus 1936.
De Locomotief 28 Maret 1898.
De Oostpost 15 Agustus 1861.
Het Nieuws van den Dag 10 September 1917,9 Oktober 1926, 13 Agustus 1936.
Java Bode 21 Maret 1868, 21 Juli 1869, 24 Desember 1872,15 Januari 1873, 1 April 1882, 4 Agustus 1892.
Opregte Haarlemsche Courant 6 Desember 1864.
Rotterdamsche Courant 23 Juli 1860.
                            Ensiklopedia Tou Manado.