Jumat, 17 Oktober 2014

Kapitein Tionghoa Manado (3)








                                                 Oleh: Adrianus Kojongian






Pria Eropa dan wanita Tionghoa di Manado. *)




Que Tian Po, kelahiran tahun 1872 adalah pedagang dan tokoh Tionghoa Manado yang sangat berpikiran maju. Bulan Februari 1925 dari pangkat tituler Luitenant der Chineezen Manado, ia naik posisi menjadi kapitein. Penggantinya sebagai letnan yang dibeslitkan bersamaan adalah Oei Pek Yong.

Tiga anak Que Tian Po berhasil disekolahkannya ke sekolah dokter. Dokter Que Giok Tong, dokter Que Giok Sien dan dokter Que Giok Tjoan. Putra tertuanya dokter Que Giok Tong, kelak lebih terkenal dengan nama dokter J.Lukas Que, lama menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Katolik ‘Gunung Maria’ di Tomohon sejak 1955. Namanya pun diabadikan di panti asuhan yang berada di Karombasan Sario Manado. 


Kapitein Que Tian Po tidak lama menjabat. Ia minta berhenti. Semestinya pemberhentiannya dengan hormat terhitung per tanggal 15 Desember 1926, tapi baru berlangsung awal Januari 1927 ketika diangkat Bestuur over Vremde Oosterlingen yang baru, yakni Oei Pek Yong, sebelumnya letnan, serta pedagang Lie Oe Kiong sebagai letnan yang baru.

Mantan Kapitein Que Tian Po kelak pindah ke Jakarta, dan meninggal tanggal 5 Desember 1947 dalam usia 75 tahun. Istrinya Tjia Djin An Nio baru meninggal 30 Mei 1956 dalam usia 76 tahun.

Penggantinya, Kapitein Oei Pek Yong yang berpengalaman sebagai Wijkmeester Kampung Cina Manado lalu letnan, dikenal sebagai politisi Tionghoa Manado yang ulung. Saat masih letnan, sejak tanggal 17 Agustus 1926 ia diangkat menjadi anggota Minahasaraad menggantikan Lie Eng Tiong. Posisi wakil golongan Tionghoa masih dilanjutkan saat dilantik sebagai kapitein.

Letnan Lie Oe Kiong masih mendampinginya sampai mundur Januari 1930, digantikan kedudukannya oleh Tan Bian Loe. Tan Bian Loe adalah bekas wijkmeester, dan seorang pengusaha, dikenal sebagai pemilik pabrik es ‘Menado' di Sario. Tan Bian Loe pun seorang kontraktor air dan listrik.


Setelah enam tahun menjabat, Oei Pek Yong minta berhenti sebagai Kapitein Tionghoa Manado, dan disetujui pemberhentiannya terhitung mulai tanggal 30 November 1933. Oei Pek Yong ingin lebih berkonsentrasi memperjuangkan kaumnya di Minahasaraad. 

Berhenti dari keanggotaan di Minahasaraad setahun, terhitung mulai tanggal 21 Agustus 1934 ia dilantik ulang menjadi anggotanya, satu-satunya wakil golongan Tionghoa di Dewan Minahasa. Posisi tersebut dipegang Oei Pek Yong terus-menerus hingga Jepang berkuasa awal tahun 1942.

Namun, begitu Jepang enyah dan Belanda kembali menanamkan kuasanya, Oei Pek Yong bukan hanya diangkat kembali oleh Belanda sebagai Kapitein der Chineezen Manado, tapi juga sebagai salah seorang dari 21 anggota Minahasaraad yang dibentuk kembali dengan beslit Gubernemen tanggal 27 Mei 1946 nomor 1, dan dilantik Conica Manado 31 Mei 1946. Oei Pek Yong menjadi orang pertama dan terakhir yang dua kali dipercaya menjadi Kapitein Tionghoa Manado.

TJIA PAK LIEM
Wijkmeester Kampung Cina Manado Tjia Pak Liem setelah Oei Pek Yong mundur, ditunjuk menjalankan fungsi Kapitein der Chineezen Manado. Ia dikenal pula sebagai pengusaha, pemilik toko 'Banka' yang berlokasi di Jalan Bioskop (Bioscooplaan).


Jabatan Tjia Pak Liem sebagai pengganti sementara kapitein, dijalankannya hingga dilepas resmi terhitung tanggal 30 November 1935, saat turun beslit yang mengangkat Lie Goan Oan, berstatus partikulir sebagai Kapitein Tionghoa Manado yang definitif.  

Tjia Pak Liem kembali ke poisisi resminya sebagai wijkmeester. Tapi, masih untuk sementara waktu, Tjia Pak Liem dipercaya menangani administrasi di kantor kapitein, sebagai tangan kanan Lie Goan Oan.

Tiba-tiba, di akhir bulan Februari 1936, tepatnya sejak tanggal 21, secara misterius Tjia Pak Liem yang sampai saat itu bertindak akting kapitein menghilang. Raibnya tersebut ramai diberitakan media-media Hindia-Belanda bahkan di Negeri Belanda. Dalam pemberitaan selama 2 bulan berturut, De Indische Courant, Soerabaijasch Handelsblad, De Sumatra Post dan De Tijd mensinyalir kalau Tjia Pak Liem telah lari ke daratan Tiongkok menggunakan kapal motor (motorschip=ms) ‘Sibajak’, karena dugaan melakukan penyimpangan.

Lie Goan Oan, Kapitein Tionghoa Manado yang baru menemukan tekor keuangan pajak lalulintas (verkeersbelastingen) yang jadi tanggungjawabnya sebesar 600 gulden, bahkan defisit yang terjadi diperkirakan mencapai ribuan. Tjia Pak Liem dinyatakan buron dan melalui telegraf diminta penangkapannya.

ANAK JUTAWAN LIE TJENG LOK
Lie Goan Oan, bukan sekedar swasta biasa. Ia adalah anak Lie Tjeng Lok dari istri pertama Sie Djok Loe, sekaligus firmant di Firma Lie Boen Yat&Co, seperti adiknya Lie Tek Djien (anak Lie Tjeng Lok dari istri kedua Anthoinetta Lopis) yang menjadi salah seorang politisi Tionghoa di Gemeenteraad Manado. Lie Goan Oan yang lahir tanggal 26 Juli 1894 disekolahkan ayahnya tahun 1912 ke Prins Hendrik School di Batavia dan lulus dari Afdeeling Hogere Burger School (HBS) 1916.

Kapitein Lie Goan Oan dan ayahnya Lie Tjeng Lok awal 1942.*).

Begitu kembali dari Jawa, Lie Goan Oan segera menjadi pembantu utama ayahnya. Ia ikut menjadi pemegang saham di N.V.Handel Maatschappij Lie Boen Yat&Co, N.V.Celebes Molukken Cultuur Maatschappij serta N.V.Bouw Maatschappij Noord Celebes


Almanak Rakyat 1940 mencatat Lie Goan Oan diangkat sejak 18 November 1935. Tapi, dalam pembeslitannya disebut pengangkatannya sebagai Kapitein Tionghoa Manado terhitung mulai tanggal 1 Desember 1935.

Awal-awalnya, Lie Goan Oan belum aktif menjalankan tugasnya, sebab setelah dibantu Tjia Pak Liem hingga Februari 1936, masih ditunjuk sebagai pelaksana kapitein adalah Wijkmeester Kampung Cina bernama Ang Seng Lie.

Baru setelah Ang Seng Lie diberhentikan dengan hormat terhitung mulai 1 Oktober 1937, Lie Goan Oan tampil sendirian. Selama kepemimpinannya, Lie Goan Oan mampu meningkatkan pemasukan pajak bagi orang dan usaha orang Tionghoa di Manado, serta mengayomi komunitasnya. Budaya dan tradisi Tionghoa pun terpelihara dengan baik, dengan rutinnya saban tahun diselenggarakan perayaan, terutama pada keramaian Tahun Baru Cina.

Pusara di Menteng Pulo. *)

Ketika Jepang berkuasa, Lie Goan Oan ditangkap bersama ayahnya Lie Tjeng Lok, adiknya Lie Tek Djien atas laporan Minoru Yanai, Chef Firma Jepang ‘Futaba’. Tanggal 13 Februari 1942 bersama dua hukum tua dari Tomohon, mereka dieksekusi Jepang dengan dipancung di lokasi Gunung Wenang. Kuburan mereka digali kembali tahun 1946 dipindahkan di pekuburan Belanda korban kekejaman Jepang di Menteng Pulo Jakarta.

Istri Lie Goan Oan, Liem Ie Hoa. *)

Lie Goan Oan sendiri mengawini Liem Ie Hoa. Menantunya adalah Prof.Dr.dr.Liem Soei Diong (belakangan terkenal dengan nama Djon Semet Kapojos), dengan mengawini putrinya bernama Lie Giok Lian.

Setelah usai Perang Dunia II, Belanda menghidupkan kembali jabatan Kapitein der Chineezen dengan mengangkat mantan kapitein Oei Pek Yong sebagai kapitein yang baru. Kemudian menggantikannya Tjia Goan Tjong, pengusaha yang di tahun 1930-an adalah pemilik merk Seng Goan.***


*). Foto koleksi KITLV dan keluarga keturunan Lie Tjeng Lok.

BAHAN OLAHAN:
Delpher Kranten:
Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie 21 Februari 1925, 21 November 1935,1 Oktober 1937.
Soerabaijasch Handelsblad 24 Agustus 1934, 23 Mei 1935, 29 Februari 1936.
De Indische Courant 20 Agustus 1926, 10 Januari 1927, 28 Januari 1930.
De Sumatra Post 24 Februari 1927, 9 Desember 1933, 5 Maret 1936.
Bataviaasch Nieuwsblad 14 Mei 1914, 8 Januari 1927, 14 Januari 1930.
Het Dagblad 6 Desember 1947.
De Tijd 6 Maret 1935.
Ensiklopedia Tou Manado.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Kapitein Tionghoa Manado (2)

                        

                                                     

                                              Oleh: Adrianus Kojongian






Suasana Gemeenteraad Manado 1926, wakil Tionghoa Tong Sian Eng.*)



Sejak awal abad ke-20, masyarakat Tionghoa dan peranakan Tionghoa di Manado, semakin maju. Dalam pendidikan, dagang, dan perpolitikan. Mereka pun menaruh minat, solidaritas dan keprihatinan besar terhadap masalah-masalah yang terjadi di tanah leluhurnya Tiongkok.

Tanggal 12 Oktober 1909, pemerintah kolonial Belanda membuka Hollandsch-Chineesche School (HCS) di Manado yang menerima para murid berasal kaum Tionghoa, selain anak orang terkemuka Minahasa. Sangat banyak anak-anak orang kaya Tionghoa bersekolah di sini, dan setamat melanjutkan pendidikan di Mulo (Meer uitgebreid lager onderwijs), lalu  sekolah-sekolah bergengsi di pulau Jawa, semisal Koningin Wilhelmina School serta Prins Hendrik-School di Batavia (Jakarta) yang memiliki afdeeling HBS (Hogere Burger School) dan Handelsschool. 

Dari sini lahir banyak kaum intelektual dan pedagang-pedagang sukses Tionghoa Manado yang berkiprah bukan hanya di kota Manado, namun juga di Surabaya, Batavia dan lain-lain kota.  Bahkan, banyak pula menempuh pendidikan tinggi dalam berbagai disiplin ilmu di Batavia serta di Negeri Belanda, dan kemudian Tiongkok.

Piet Teng, anak Teng Tjin Seng, menjadi pionir Tionghoa dari Manado yang belajar di Tiongkok. Menyandang diploma Mulo Don Bosco 1934, ia berkeinginan kuat menjadi pilot, sehingga belajar di Sekolah Yok Tjoe. Pertengahan tahun 1936 dengan m.s. (motorschip) 'Sibajak' ia berangkat ke Tiongkok untuk masuk sekolah penerbang di Nanking. Sampai Menteri Pendidikan Tiongkok merespon, dengan menyatakan Piet Teng diterima dengan baik di sekolah yang memiliki nama lengkap Chung Yang Hang Khung Academy (Central Aviation Academy) itu. Sekolah tersebut berada di bawah kendali pribadi Jenderal Chiang Kai-shek

Selain Hollandsch-Chineesche School, kelak berdiri di Manado, Sekolah Chung Hwa Hui. Lalu bulan Oktober 1936, sebuah sekolah Tionghoa dibawah Chineesche Schoolvereeniging Tiong Hoa Hak Tong pimpinan Yoh Yong Tjoh (berbadan hukum dengan beslit awal tahun 1926).

Tionghoa Manado 1930. *)

Dikenal sebagai pedagang ulet, maka di Manado segera berdiri usaha-usaha besar berupa firma dari orang-orang Tionghoa Manado. Paling terkenal, Firma Lie Boen Yat &Co.


Meski awalnya berdiri di Makassar Maret 1889 dibawah Lie Goan Tjiong dan Lie Tjeng Sioe, anak tertua Lie Boen Yat, yakni Lie Tjeng Lok yang membuatnya berkibar megah.

Tanggal 24 Maret 1919 Lie Tjeng Lok resmi mendirikan N.V. (Naamloze Vennootschap=perseroan terbatas) Handel Maatschappij Lie Boen Yat &Co yang kemudian mengambilalih 20 Agustus 1929 NV Celebes Molukken Cultuur Maatschappij yang bergerak dalam bidang perkebunan besar. Kerajaan bisnis Lie Tjeng Lok bergerak dalam bidang ekspor, menguasai sebagian besar pasar ekspor di Amerika Serikat dan benua Eropa dengan mengirim kopra dan hasil bumi lain. Begitu pun pasar impor di wilayah Keresidenan Manado dan Maluku dikuasainya, khusus impor obat-obatan, parfum dan minuman.

Namun, firma yang dianggap perintis dan berdiri di Manado adalah yang dibangun oleh Wijkmeester Kampung Cina Tan Tjin Bie, kelak Letnan dan Kapitein Manado. Bulan Juni 1905 bersama dengan Tan Tjin Giok dan pengusaha B.A.Renesse van Duivenbode, ia mendirikan Firma Giok Bie en Co.

Toko Koppa. *)

Firma lain yang terkenal adalah N.V.Liem Oei Tiong&Co. Liem memiliki toko besar Koppa serta percetakan. Tahun 1923 Liem menerbitkan mingguan berbahasa Tionghoa-Melayu bernama Keng Hwa Poo, yang sering bersaingan dengan mingguan Fikiran terbitan Lie Boen Yat&Co.

Kebanyakan firma dan usaha dagang Tionghoa di Manado tergabung menjadi anggota kongsie (perkumpulan dagang)  Siang Hwee. Siang Hwee adalah federasi pedagang Tionghoa di Hindia-Belanda (Ho In Tiong Hoa Siang Hwee Lian Hap Hwee)

Di bawah Siang Hwee inilah, para pengusaha Tionghoa Manado tergerak dan bersolidaritas tinggi terhadap tanah leluhurnya Tiongkok pimpinan Jenderal Chiang yang menghadapi agresi tentara kekaisaran Jepang.

Asosiasi pedagang Tionghoa Manado, umpama, awal bulan Agustus 1925 berhasil mengumpulkan sebanyak 5.000 tael, dan mengirimkannya ke Shanghai Tiongkok. Dana dari Manado itu, untuk membantu wabah penyakit yang terjadi di sana.

Tahun 1938, di bulan Mei, ‘Comite Fonds Amal Tiongkok’ di Manado berhasil mengumpul dana sebesar f.7.668 untuk membantu penduduk kota Hankau di Tiongkok yang dilanda wabah penyakit malaria. Bantuan ke Hankau saat itu datang dari berbagai kota Indonesia. ‘Comite Pasar Malem Palembang’ berhasil mengumpul f.9000, sementara ‘Fonds Amal Djogja’ sebesar f.1.175.

Rekor bantuan berasal Tionghoa Manado dicatat di tahun 1939, ketika Tiongkok diagresi Jepang. Konsul-Jenderal Tiongkok di Batavia Tschou Kwong Kah dengan disertai Konsul di Makassar datang ke Manado bulan Mei, mengunjungi dan berbicara dengan berbagai kalangan.

Tokoh-tokoh Tionghoa Manado dibawah Kapitein Lie Goan Oan dan ayahnya Lie Tjeng Lok berhasil menggalang dana atas nama serikat pedagang Tionghoa Manado sebesar 40.000 dolar Cina. Uang tersebut adalah untuk membantu para korban perang di Tiongkok. Ini kemudian berbuntut, menjadi salahsatu alasan utama ketika sejumlah pedagang kaya serta politikus Tionghoa Manado dieksekusi Jepang di tahun 1942. Bantuan kemanusiaan tersebut dituduh Jepang adalah untuk membantu pemerintahan Chiang Kai-shek di Chungking membiayai perlawanannya.


Gubernur-Jenderal A.C.D.de Graeff di Kampung Cina 1927.*)

Banyak menyumbang tanah leluhurnya, kaum Tionghoa Manado tidak melupakan tanah dimana mereka lahir dan menjadi besar. Ada perkumpulan Tjeng Lian Hwee yang berbadan hukum di Manado tahun 1921. Tjeng Lian Hwe banyak bergerak di bidang sosial, dengan tubercolosefonds, kindervacantie-kolonie dan Haktongfonds.  

Orang Tionghoa kelahiran Manado yang sukses di rantau pun mendirikan berbagai organisasi. Paling terkenal, serikat Tiong Hoa-Menado di Surabaya yang berdiri pertengahan tahun 1930. Tokoh-tokohnya adalah: H.H.Ong, dokter Yap I Sian, Ong Kiem Hok, Yap I Hong, Tan Tek Beng dan Tjoa Tiang An.

H.H.Ong adalah ambtenar yang kemudian terpilih menjadi anggota Gemeenteraad Surabaya dan commies-redacteur lalu 1939 Hoofdcommies Provinsi Jawa Timur. Dokter Yap I Sian yang mengganti posisi Ong sebagai Ketua Tiong Hoa Menado tahun 1932, kelak ke Belanda dan meraih arts di Amsterdam 1938.

Jalan retak di Kampung Cina, akibat gempa 1932.*)

Serikat Tiong Hoa Menado banyak berpeduli dengan Manado. Ketika tahun 1932 terjadi gempabumi besar di Minahasa, di bulan Mei 1932 mereka mengumpul dan menyalurkan bantuan untuk para korban. Dana diperoleh dengan pemutaran film Das Lied ist aus di Capitol-theater dan Luxor-theater. Kemudian, Agustus 1932 mereka mengirim lagi bantuan sebesar f.283.

Kaum Tionghoa Manado pun terlibat aktif dalam politik lokal. Ketika Minahasaraad, terutama Gemeenteraad Manado dibentuk 1 Juli 1939, golongan orang timur asing (vreemde oosterlingen), hanya terwakili unsur Tionghoa. 

Awalnya hanya satu anggota, Tong Goan Tjae di Gemeenteraad Manado dan Si Lae Hoeat di Minahasaraad. Sejak 1931 wakil Tionghoa di Gemeenteraad bahkan menjadi tiga orang (Lie Goan Oan, Sie Tjie Hian dan Tjang Eng Soei), sehingga membentuk satu fraksi.

Tahun 1935 Tan Tek Hoe, seorang pedagang dan anggota Gemeenteraad Manado lulusan Prins Hendrik-School, menjadi kandidat kuat untuk anggota Volksraad dari unsur Tionghoa. Demikian pula dengan Lie Tek Djin, anggota Gemeenteraad dan firmant dari Firma Lie Boen Yat&Co, serta Tjang Eng Soei ketika itu beheerder Gemeentebank.  

JUTAWAN LIE TJENG LOK

Kapitein Lie Tjeng Lok. *)

Setelah Tjoa Tie berhenti dengan hormat, Lie Tjeng Lok, diangkat menjadi kapitein der Chineezen Manado terhitung mulai tanggal 13 April 1907. Lie Tjeng Lok sebelumnya menjabat sebagai letnan sejak akhir 1904. 


Namun, karena ingin berkonsenstrasi dengan usaha bisnisnya, tidak sampai satu tahun menjabat Kapten Tionghoa Manado, Lie Tjeng Lok minta berhenti, dan diberhentikan dengan hormat Februari 1908.

Lie Tjeng Lok kelahiran tanggal 21 Juli 1871 adalah anak dari Lie Boen Yat, pengusaha yang pindah dari daratan Tiongkok dan meninggal tahun 1897 yang namanya kemudian diabadikan pada firma Lie Boen Yat&Co pimpinannya. Ketika firma Lie Boen Yat &Co didirikan pertama Maret 1889 di Makassar, Lie Tjeng Lok bertindak sebagai kreditur dan debiturnya di Manado, seperti diberitakan koran Bataviaasch Nieuwsblad 16 Juli 1892.

Lie Tjeng Lok memang lebih terkenal sebagai pedagang sukses. Ia memulai dengan bisnis kecil-kecilan, menjual tembakau, kue, pakaian bekas, beras dan menjahit. Lalu melebarkan usahanya, dari sebuah toko kecil yang dibuka Lie Boen Yat di Manado tahun 1869, ia mengembangkan dengan jasa perdagangan dan membeli tanah milik orang Belanda serta penduduk Minahasa. Di atas tanah-tanah tersebut lalu dibangunnya rumah tinggal kemudian disewakan.

Keluarga Lie Tjeng Lok di Huize Eldorado. *)

Wisma-wisma miliknya mencapai belasan. Salah satu diantaranya adalah Wisma Eldorado di Sario Tumpaan sekarang, menjadi bangunan termegah di kota Manado. Kelak, ketika Jepang membuka konsulatnya di Manado, bangunannya ditawari pengelola Firma 'Futaba' Minoru Yanai untuk dipakai konsul, tapi ditolak Lie Tjeng Lok. Yanai belakangan diketahui adalah mata-mata. Ketika Jepang berkuasa, sebagai penasehat pemerintahan militer dan Walikota (Sitjo) Manado.

Lie Tjeng Lok telah mengembangkan usahanya dengan pertokoan di pusat kota Manado. Lalu mendirikan N.V.Handel Maatschappij Lie Boen Yat&Co tanggal 24 Maret 1919.

Resepsi Jubileum (60 tahun) Lie Boen Yat &Co yang dilaksanakan dengan mewah awal April 1929 di Manado dihadiri Residen H.J.Schmidt, Burgemeester F.H.Wetering dan para ambtenar. Residen Schmidt bangga karena Manado menjadi pusat bisnis Lie Boen Yat&Co. Ia memuji Direktur Lie Tjeng Lok berhasil mengembangkan perusahaan dari toko kecil yang ada sejak 1869. ‘’Kini perusahaan menjadi lembaga perdagangan yang kuat yang mengimpor setiap tahunnya beras bernilai jutaan (gulden),’’ katanya.

Bakat bisnis Lie Tjeng Lok besar. Ia pun mengambilalih Agustus 1929 itu N.V. Celebes Molukken Cultuur Maatschappij yang memiliki aset erfpak Pandu, Talawaan Besar, Talawaan Kecil dan Wusa. Lalu mendirikan 1 Agustus 1938 N.V.Bouw Maatschappij Noord Celebes. Sampai Jepang datang, ‘monopoli’ perdagangan di Keresidenan Manado dikuasainya.

Lie Tjeng Lok menolak ajakan untuk lari ke Australia. Begitu Jepang menduduki Manado, firmanya segera dibeslah dan ia ditangkap di persembunyiannya di Kayawu, sekarang kelurahan di Kecamatan Tomohon Utara Kota Tomohon. Dalam usia 70 tahun, jutawan Tionghoa Manado ini dieksekusi dengan dipancung di Gunung Wenang Manado tanggal 13 Februari 1942 (baca: Akhir Tragis Lie Tjeng Lok, Konglomerat Tempo Doeloe,).


TAN TJIN BIE dan TENG TJENG TIONG
Letnan Tionghoa Manado di masa Kapitein Lie Tjeng Lok, yakni pengusaha Tan Tjin Bie, awal Mei 1913 resmi diangkat menjadi Kapitein Tionghoa Manado yang baru. Bersama dengannya dilantik Teng Tjeng Tiong yang sementara menjabat Wijkmeester Kampung Cina sebagai letnan yang baru.


Keduanya menjabat hingga Oktober 1916, ketika Tan Tjin Bie berhenti. Bestuur over Vreemde Oosterlingen Manado yang baru adalah Kapitein Teng Tjeng Tiong dan Luitenant Tjoa Jaoe Hoei, sebelumnya Wijkmeester Kampung Cina.

Menjabat lebih sembilan tahun, awal Maret 1924, atas permintaan sendiri Teng Tjeng Tiong berhenti kapitein, dan meneruskan usahanya sebagai pedagang, sampai usahanya dinyatakan pailit awal 1932. ***


        *). Foto koleksi keluarga keturunan Lie Tjeng Lok, Tonggowasito dan KITLV Digital Media Library.


SUMBER TULISAN:
Delpher Kranten:
Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie 27 Oktober 1916, 11 Agustus 1925, 7 Januari 1926, 16 Maret 1935, 18 Agustus 1939.
Bataviaasch Nieuwsblad 25 Maret 1889, 16 Juli 1892, 21 Juni 1905, 6 Mei 1913, 11 Agustus 1925, 3 April 1929, 30 Mei 1939.
De Indische Courant 10 Maret 1924, 3 Juni 1930, 2 November 1931, 22 Desember 1931, 1 April 1932, 21 Mei 1932,4 Juli 1936,  6 Juni 1939, 9 Oktober 1939.
Soerabaijasch Handelsblad 16 April 1907, 28 Mei 1932, 27 Agustus 1932, 26 Oktober 1934, 24 Oktober 1936
Het Vaderland 14 Juni 1936,10 Juni 1938.
Utrechts Volksblad 7 Juli 1938.
Ensiklopedia Tou Manado.
Mini Biografi Lie Tjeng Lok dan Perusahaan-perusahaannya, Leonardi Tonggowasito dan Frits Mayer, 2001.