Rabu, 20 Agustus 2014

Kapitein dan Majoor KNIL

 

                                                

 

                                                    Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 

Foto lain (Letnan Dua) lulusan 1912. *)




Para lulusan pertama Sekolah Perwira Pribumi atau Cursus tot Opleiding van Inlandsche Officieren di Meester Cornelis (Jatinegara sekarang), yang selalu diembeli Inlandsc pada pangkatnya—sehingga digelari Litnan Djawa—kebanyakan mencapai pangkat Kapitein dan tertinggi Majoor ketika dipensiun dalam dinas KNIL. Ada pengecualian, Raden Mas Soegondo, lulusan tahun 1914, meski diberi pensiun Majoor, setelah Jepang kalah, berdinas ulang, dan diberi pangkat Luitenant-Kolonel dan terakhir di tahun 1949 memperoleh promosi sebagai Kolonel KNIL.

Selain Raden Mas Soegondo, perwira pribumi yang dipensiun Majoor adalah dua orang Manado, yakni A.H.H.Kawilarang, dan B.Th.Walangitang. Demikian pula dengan Oerip Soemohardjo yang kelak menjadi perwira tinggi TNI berpangkat Letnan Jenderal.

Lulusan lain Sekolah Perwira Pribumi, rata-rata dipensiun sebagai Kapitein dan Eerste Luitenant (Letnan Satu). Mereka adalah Raden Wardiman, Raden Soemarno, Raden Mardjono, Raden Sanjoto, Raden Soeratman, Raden Bagoes Soendjojo dan Raden Mas Soepama.

Selain Oerip yang menjadi perwira tinggi TNI, pensiunan Kapitein KNIL Raden Soemarno menjadi Mayor Jenderal TNI di tahun 1949.

Seorang lulusan Cursus tot Opleiding van Inlandsche Officieren tercatat diberhentikan setelah desertir dan diadili di pengadilan militer. Lulusan tahun 1913 tersebut, diberhentikan tahun 1917 karena tersandung sebuah kasus hukum. Kemudian, seorang Letnan Satu lulusan tahun 1910, juga di tahun 1917, sempat diperiksa atas sebuah pengaduan.

Berikut saya turunkan nama para perwira bangsa Indonesia pertama di KNIL dari olahan Delpher Kranten. Tulisan ini sedikit melenceng dari keinginan saya sekedar menulis tentang Manado. Saya tertarik menulisnya karena banyak perwira lepasan Cursus tot Opleiding van Inlandsche Officieren, tapi ditulis alumni Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Breda. Khusus tentang B.Th.Walangitang dan A.H.H.Kawilarang saya akan menulisnya tersendiri.


LULUSAN TAHUN 1910
RADEN MARDJONO
Mencatatkan diri sebagai opsir pribumi (Inlandsch Officier) pertama setelah dilantik tanggal 12 Oktober 1910 bersama dua orang rekannya sebagai Inlandsch tweede luitenant. Bulan Oktober 1911 diberitakan dimutasi ke Bataljon 11 dari Bataljon 18, Dan, pada Juni 1913 dipindahkan dari Bataljon 18 ke Bataljon 15. Tahun 1924 ketika berpangkat Kapitein KNIL terpilih menjadi anggota Volksraad.

RADEN SANTOSA
Setelah dilantik perwira, bulan Oktober 1911 itu, ditempatkan di Bataljon 12 dari Bataljon 18 (tempatnya selama tiga bulan sebagai Sersan-Leerlingen). Juni 1913 diberitakan dimutasi dari Bataljon 12 ke Bataljon 8 di Malang. Kemudian di bulan Oktober 1911 dipindah dari Malang ke Depot-Bataljon 3. Promosi menjadi Letnan Satu bulan Juni 1914.

RADEN WARDIMAN
Awal bulan Juni 1914 naik pangkat menjadi Letnan Satu bersama-sama Raden Santosa. Berikutnya promosi sebagai Kapitein awal bulan Juli 1921. Ia mencatatkan diri sebagai Kapitein pribumi pertama Indonesia dalam KNIL. Awal bulan Juli 1924 dipensiun dengan pangkat Kapitein.


LULUSAN TAHUN 1911
B.TH.WALANGITANG  dan A.H.H.KAWILARANG
Keduanya dilantik Letnan Dua Oktober 1911, dan bersama-sama ditempatkan di Bataljon 18. Bersama peroleh promosi Letnan Satu Oktober 1915. Bersama pula promosi sebagai Majoor KNIL, terhitung tanggal 16 Oktober 1933.


LULUSAN TAHUN 1912
RADEN SOERATMAN
Dilantik bulan Oktober 1912. Dipromosi Letnan Satu Infanteri bulan November 1916. Bertugas di Banjarmasin, lalu Oktober 1920 pindah di Long Iram. Desember 1926 mutasi ke Bataljon 3 Purworejo. Tahun 1929 dipromosi Kapitein, dan Maret 1932 pindah di Bataljon Infanteri 5 di Semarang. Terhitung 31 Desember 1933 dipensiun Kapitein KNIL.  

RADEN MAS SOEPAMA
Promosi Letnan Satu Infanteri bulan November 1916 bersama-sama Raden Soeratman. Lama bertugas di Aceh. Bulan Februari 1923 dari Garnisun Compagnie di Semarang pindah di Bataljon Infanteri 3 di Banju-Biru.


LULUSAN TAHUN 1913
RADEN ASMINO
Dilantik Letnan Dua Infanteri bulan Oktober 1913, langsung ditempatkan di Bataljon Infanteri 18. Kemudian pindah di Bataljon Infanteri 12 sejak Desember 1914. 

RADEN SOEMARNO
Setelah dilantik perwira bersama 3 rekan angkatannya ditempatkan di Bataljon Infanteri 18, lalu 1914 di Bataljon 12. Promosi Kapitein Infanteri KNIL sejak Agustus 1927. Terakhir bertugas di Bataljon 2 di Magelang, dan dipensiun Kapitein KNIL terhitung tanggal 30 Juni 1935. Kelak awal 1949 sebagai Mayor Jenderal TNI.

Kapitein R.Sanjoto.

RADEN SANJOTO
Dipromosi Kapitein KNIL bulan Agustus 1927 bersama Raden Soemarno. Bulan Agustus 1941 menerima penghargaan dari kerajaan Belanda Oranje Nassau-Orde.


LULUSAN TAHUN 1914
RADEN MAS SOEGONDO
Peroleh promosi Kapitein September 1927 bersama dua rekan angkatannya. Dipensiun sebagai Majoor KNIL tahun 1939 dengan jabatan terakhir sebagai Komandan Bataljon 9 di Cimahi. Kemudian aktif kembali, naik pangkat Letnan Kolonel, dan bulan September 1949 dipromosi Kolonel KNIL ketika jadi anggota Komisi Militer dalam Konperensi Meja Bundar di Den Haag.
                
RADEN OERIP SOEMOHARDJO
Berpangkat Letnan Satu bulan September 1927 pindah dari Bataljon 2 di Magelang ke Depot Bataljon 3 di Ambarawa. Promosi Kapitein September 1927. Kelak sebagai Letnan Jenderal TNI.

RADEN BAGOES SOENDJOJO
Terkenal dengan nama Raden Bagoes Soendjojo Holland Soemodilogo. Ketika berpangkat Letnan Satu menerima tanggal 31 Agustus 1924 penghargaan Belanda Orde van Oranje-Nassau. Promosi Kapitein bulan September 1927. Bulan April 1928 dari Tweede Marechaussee-Bataljon, dipindah ke Semarang. Pensiun sebagai Kapitein KNIL. ***

        *). Foto koleksi KITLV Digital Media Library.

BAHAN OLAHAN
Delpher Kranten (Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, Algemeen Indisch Dagblad. Java Bode, De Tijd, Nieuwe Roterdamsche Courant, Algemeen Handelsblad, Bataviaasch Nieuwsblad, De Sumatra Post, De Indische Courant, Soerabaijasch Handelsblad, Het Dagblad, De Locomotief. Semua koran periode 1907-1949).


Kamis, 14 Agustus 2014

Litnan-Djawa Dari Manado



                                 

                                                 Oleh: Adrianus Kojongian

 

 

 


Letnan Dua (lulusan) tahun 1912. *)




BUKAN hanya ada Dokter Djawa, lulusan sekolah perwira pribumi pertama di Indonesia digelari Litnan-Djawa. Litnan dari kata Belanda Luitenant. Penyebutan Djawa adalah untuk pembedaan kelas dan derajat pribumi dengan orang Belanda. Ini pun sebagai pembeda antara Cursus tot Opleiding van Inlandsche Officieren, demikian nama sekolah perwira pribumi tersebut, dengan lulusan Militaire School yang perwiranya meski sama memperoleh pangkat Letnan Dua, namun dengan status berbeda, baik dalam gaji, dan juga posisi yang dapat dicapai.

Militaire School untuk mendidik perwira-perwira KNIL, meski sempat ditutup Juli 1896, telah ada sejak bulan Oktober 1852. Sementara desakan untuk pengadaan sekolah perwira khusus untuk pribumi Hindia-Belanda baru berkembang dekade akhir abad ke-19. Dengan keputusan pemerintah (Gouvernementsbesluit) tanggal 10 Mei 1907, berdiri Cursus tot Opleiding van Inlandsche Officieren, mendompleng di Militaire School yang berada di Meester Cornelis (Jatinegara sekarang). Mendompleng karena kemudian para direktur dan tenaga pengajarnya merangkap tugas di Militaire School pula.
Militaire School tahun 1910. *)
Meski kalah rang dari Militaire School, para siswa Cursus tot Opleiding van Inlandch Officieren adalah merupakan nyong-nyong dari keluarga aristokrat Jawa, dan Manado. Pengumuman penerimaan siswa yang diedarkan di seluruh Indonesia jauh-jauh hari ketika itu, yakni sejak awal bulan Januari 1907, menspesialkan calon siswa dari Jawa, Ambon dan Manado (Minahasa).

Persyaratan siswanya adalah berusia 16 tahun dan belum mencapai serta melebihi 20 tahun untuk lama pendidikan tiga tahunan. Tidak diketahui pasti berapa banyak pendaftar dan dari daerah mana saja yang telah ikut tes ketika itu. Tapi, kemudian berhasil lolos tes penerimaan dapat diketahui adalah dari Jawa, sebanyak empat siswa.

Cursus tot Opleiding van Inlandsch Officieren resmi dibuka tanggal 1 Juli 1907. Menurut berita harian Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie tanggal 18 Juni 1907, keempat siswa tersebut, masing-masing adalah: Raden Santasa (Santosa), Raden Mardjono, Raden Wardiman dan Raden Padmawinangoen.

Tahun 1908, baru orang Manado (Minahasa) ikut seleksi Sekolah Perwira Pribumi ini. Bahkan tercatat ada sebanyak lima pemuda Minahasa yang telah mendaftar. Kelima nyong Minahasa ini merupakan putra-putra para kepala dan tokoh terkemuka Minahasa. Mereka adalah: A.H.H.Kawilarang, J.W.Supit, B.Th.Walangitang, F.K.Wawo Roentoe dan E.J.A.Gerungan. Rata-rata—dari famnya—berasal dari Tondano. A.H.H.Kawilarang saat itu dicatatkan berdomisili di Buitenzorg, dan sisanya di Manado (Minahasa).

Untuk penerimaan siswa tahun ajar kedua 1908, Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie 27 Maret 1908 memberitakan pembentukan komisi untuk ujian masuk kursus. Sebagai ketua merangkap anggota Kapten H.J.de Voogt, Direktur Cursus tot Opleiding van Inlandsch Officieren. Anggota: Kapten G.J.Velds, pengajar kursus dan Letnan Satu P.D.Visser, pengajar Militaire School. Kemudian Sekretaris Letnan Satu G.P.Hoekman, pengajar kursus.

Selain lima kandidat dari Minahasa di atas, ada tujuh peserta lain asal Jawa yang ikut tes penerimaan. Rata-rata dari Jawa Timur. Raden Mas Abdoelrachman, Raden Saripodin, Raden Ka Djoedin, Raden Achmad alias Raden Nitiadikoesomo, Raden Oerip alias Soemowinoto, Raden Ngabihi Moerakab serta Raden Soekardi.

Ujian tes dilaksanakan di wilayah calon pelamar. Tujuh kandidat Jawa diuji komisi di Surabaya. A.H.H.Kawilarang di Buitenzorg (sekarang Bogor), dan empat nyong Manado lain di tes langsung di Manado.


Ternyata, dari lima kandidat Manado, hanya dua orang yang diterima. A.H.H.Kawilarang dan B.Th.Walangitang.

Tahun 1909, tidak diperoleh catatan kandidat yang berhasil diterima di Sekolah Perwira Pribumi Mester Cornelis. Namun dari berita Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie 17 Mei 1910 dicatat keberhasilan 3 siswa yang naik dari tahun pelajaran pertama ke tahun kedua. Artinya tiga siswa berasal Jawa ini yang diterima di tahun 1909. Mereka adalah: Raden Soeratman, Raden Mas Soepama dan Raden Bagoes Soendjojo.
Letnan Dua (lulusan) tahun 1912. *)
Selain ketiga siswa berasal tahun 1909 tersebut, ikut dicatat koran ini, tes masuk untuk tahun 1910 telah diikuti delapan kandidat. Namun, yang berhasil dan diterima sebagai pelajar kursus hanya tiga orang, yakni: Raden Asmino, Raden Soemarno dan Raden Sanjoto. Dua kandidat ditolak, satu telah ‘pensiun’ dan dua lainnya belum memenuhi syarat.

ANGKATAN KEDUA
Cursus tot Opleiding van Inlandsch Officieren pertama meluluskan perwiranya tahun 1910. Ujian akhir diperkirakan berlangsung bulan Mei, karena lulusannya telah diumumkan koran saat itu. Aspirant-Inlandsche Officieren Raden Mardjana, Raden Santosa dan Raden Wardiman mencatatkan diri sebagai sersan leerlingen selama setidaknya tiga bulan, sebelum dilantik resmi sebagai opsir pertama KNIL dari unsur pribumi.

Hampir semua koran Hindia-Belanda dan di Negeri Belanda, seperti Java Bode, De Tijd, Nieuwe Roterdamsche Courant, Algemeen Handelsblad, Bataviaasch Nieuwsblad, De Sumatra Post dan lain-lainnya  memberitakan pelulusan dan pelantikan para perwira pertama bangsa Indonesia tersebut.

Tanggal 12 Oktober 1910 Raden Mardjono (ditulis juga Mardjana atau Mordjana), Raden Santosa dan Raden Wardiman resmi dilantik sebagai Letnan Dua Infanteri.


Kemudian, dua siswa Manado, yakni B.Th.Walangitang dan A.H.H.Kawilarang lulus, dan dibenum sebagai Letnan Dua Infantri di bulan Oktober 1911, sebagai lulusan angkatan kedua. 




Rekan Jawa yang ikut dites tahun 1908 berkemungkinan tidak lulus. Umpama, Raden Oerip alias Soemowinoto, pasti berbeda dengan Raden Oerip (Soemohardjo) yang kelak menjadi Letnan Jenderal ketika Indonesia merdeka. Raden Oerip terakhir baru masuk tahun 1911 dan lulus tahun 1914.

Bulan Oktober tahun 1912 dua sersan pelajar asal Jawa dari Sekolah Perwira Pribumi kembali dilantik sebagai Letnan Dua Infantri. Raden Soeratman dan Raden Mas Soepama (juga ditulis Soepono). 


Tahun 1913, juga bulan Oktober, tiga lulusan. Yakni Raden Asmino, Raden Soemarno dan Raden Sanyoto.


Oktober 1914, tiga (dari empat) sersan leerlingen dibenum sebagai Letnan Dua Infanteri, Raden Mas Soegondo, Raden Oerip dan Raden Bagoes Soendjojo.



Total sampai tahun 1914 ada 13 'Litnan-Djawa' yang dilantik sebagai letnan dua pribumi. Persentase lulusan Cursus tot Opleiding van Inlandsch Officieren yang tiga letnan dua setiap tahunnya ini, dikomentari sebuah koran besar masa itu, sebagai sudah sangat memadai dan cukup besar. Itu, bila dibanding lulusan Koninklijk Militaire Academie dan Hoofdcursus yang rata-rata hanya sekitar 24 orang.

GAGAL TAPI JADI DOKTER
Kemana tiga peserta tes kursus perwira pribumi asal Manado di tahun 1908 yang gagal diterima tidak banyak diketahui. Koran-koran tidak memberitakan kabar selanjutnya dari J.W.Supit dan E.J.A.Gerungan. 

Namun, F.K.Wawo Roentoe berhasil menjadi terkenal di bidang lain, yakni sebagai dokter hewan. Gagal jadi opsir, ia melamar dan berhasil masuk sekolah dokter hewan, Inlandschen Veeartsenschool di Buitenzorg (Bogor). Bulan Agustus 1912 ia berhasil naik dari kelas tiga ke kelas empat. Artinya, Wawo Roentoe masuk sekolah tersebut di tahun 1910.

Lulus sebagai dokter hewan berbagai jabatan penting disandangnya. Terakhir di bulan Juni 1948 Dr.F.K.Wawo Roentoe yang telah pensiun diangkat kembali sebagai akting kepala di Burgerlijke Veeartsenijkundige Dienst (Pusat Jawatan Kehewanan).***


      *). Foto koleksi KITLV Digital Media Library.
              
BAHAN OLAHAN
Delpher Kranten Koninklijk Bibliotheek.

Rabu, 06 Agustus 2014

Tondano Tahun 1821

                                           



                                                      Oleh: Adrianus Kojongian










Sketsa A.J.Bik  koleksi Rijksmuseum Nederland di atas, merupakan lukisan paling detil yang menggambarkan pusat kota Tondano berhiaskan tiang-tiang kayu, di tahun 1821, atau sekitar seratus sembilan puluh tiga tahun silam. Rumah-rumah panggung khas Minahasa, terlihat mengelilingi bangunan loji bertangga dua yang menjadi  kantor sekaligus rumah kediaman Opziener Tondano bernama (J.B.) Weidemuller (Weydemuller), dimana bendera tiga warna Belanda terlihat berkibar megah di bubungan.

Sangat khas tangga-tangga rumah penduduk, termasuk Loji Opziener, bukan berada di bagian depan seperti lazimnya membudaya kemudian, tapi justru di bagian samping. Sebuah bangunan kecil di sampingnya bisa jadi adalah rumah jaga.

Loji Opziener diapit oleh sungai (Tondano), serta kemungkinan sebuah anak sungainya atau selokan, dengan penghubung dua jembatan kecil, sehingga pastinya bukan Loji Tondano yang ada sampai sekarang di Kelurahan Rinegetan Kecamatan Tondano Barat. Namun, lokasinya pasti tidak terlalu jauh, masih di kawasan stad Tondano, mendekati aliran sungai Tondano.

Bangunan besar di bagian belakang Loji Opziener justru hampir mirip dengan Loji yang pernah berdiri di pekarangan Kantor Bupati Minahasa Jalan Sam Ratulangi di Kelurahan Wawalintouan. Namun, Loji Tondano yang oleh Bupati J.O.Bolang dijadikan Museum Minahasa, baru didirikan Kepala Distrik Tondano-Touliang Majoor Dirk Ratumbuysang tahun 1840-an, meski versi lain sudah ada sejak  tahun 1824, dibangun Kepala Balak Tondano-Touliang Matulandi.

Dapat dipastikan pemukiman penduduk, termasuk loji Opziener dalam sketsa Bik, semuanya menghadap ke timur, sehingga pemukiman yang dilukis A.J.Bik menggambarkan pemandangan negeri Tondano di bagian Touliang. Pembagian wilayah Tondano ketika itu, sebelah  barat sungai Tondano (sungai Temberan) merupakan daerah kekuasaan Balak Tondano-Touliang, dan sebelah timurnya masuk wilayah Balak Tondano-Toulimambot.

Balak Tondano-Touliang mencakup negeri-negeri: Wewelen, Watulambot, Rerewokan, Wawalintouan, Tounkuramber, Rinegetan, Tuutu, Roong, Koya dan Tataaran. Lalu negeri masuk Balak Tondano-Toulimambot terdiri Luaan, Ranowangko-atas, Wengkol, Kendis, Katinggolan, Liningaan, Taler, Kiniar dan Papakelan.

Tondano di tahun 1821 baru berumur sekitar sebelas tahun, setelah Residen Inggris Thomas Nelson memindahkan Tondano ke hilir dari bekas negeri lama di pulau delta Minawanua. Tondano lama dihancurkan dan dibakar habis Kapten Lodewijk Weintre dalam perang Minahasa di Tondano 1808-1809. Penduduk kemudian membangun rumah-rumahnya di sebelah-menyebelah sepanjang aliran hingga ke dekat muara sungai Tondano, entah karena mereka masih mengenang rumah-rumah panggungnya yang tegak berdiri di pasang air Danau Tondano di Minawanua.

Lukisan kedua A.J.Bik memperlihatkan bagian lain pemukiman yang berada di pinggiran sungai Tondano pula, dengan latar jauh tertampak bendera, bangunan-bangunan besar dan barisan bukit-bukit kecil Pegunungan Lembean. Boleh dipastikan objeknya tidak terlalu berjauhan dengan posisi Tondano dalam sketsa. Bik kemungkinan melukiskannya dari arah seberangnya di Touliang, sehingga pemandangan bagian Tondano-Toulimambot yang terlihat, bisa jadi di Wengkol. Kebalikan dari sketsa, posisi rumah dalam lukisan tidak beraturan, namun tangga 2 rumah di seberang sungai terlihat menghadap ke timur. 


Uniknya, adalah waruga-waruga masih berada di pekarangan. Tradisi Minahasa masa itu memang masih memakamkan keluarga meninggal di kintal rumahnya. Lukisan Bik yang kedua ini memperlihatkan perbedaan pada tinggi tiang rumah, sementara dalam sketsa, tiang-tiang bangunan meski besar tidak setinggi yang ada dalam lukisannya. Dapat ditebak, karena antisipasi sewaktu-waktu menghadapi luberan dan banjir Danau Tondano.

Karena posisi lukisan A.J.Bik berada di stad Tondano, maka kemungkinan besar Loji Opziener di tahun 1821 berada di lokasi yang masa itu masuk Wawalintouan. Namun melihat tampilannya seperti berada di sebuah tonjolan tanah di tepi sungai, lokasinya lebih pas berada di Kelurahan Ranowangko sekarang, berdekatan Kantor Pegadaian Tondano.

Sungai Tondano ketika itu tampak masih sangat jernih, dalam dan  lebar. Air luberannya mencapai rumah-rumah penduduk di kedua tepi. Terlihat dalam sketsanya dua pria tengah berperahu bolotu, di dekat –mungkin-- pangkalan perahu. Kemungkinan, ketika Bik melukis Tondano, Danau Tondano sedang meluap dan terjadi banjir, karena ketika itu tengah bulan Oktober, biasanya merupakan musim penghujan.

Pada lukisan kedua A.J.Bik, waruga-waruga masih berada di pekarangan rumah. Bik tertarik pula dengan pekuburan khas penduduk Minahasa, sehingga ia menjadikan sejumlah waruga sebagai objek lukisnya. 


Salah satu dari waruga lukisannya menunjukkan sang meninggal adalah seorang tokoh yang wafat belum lama berselang. Waruganya dipakaikan katu, berhiaskan topi kuningan Portugis, loto, payung simbol kebesaran, guci porselin dan barang khas lain milik si meninggal.

Sepertinya kerusakan waruga di Tondano telah terjadi sejak sebelum tahun 1821. A.J.Bik melukis pula waruga kosong yang terpisah dari penutupnya.

Tidak diketahui pasti apakah A.J.Bik menyempatkan diri mengunjungi pemukiman tua Tondano di Minawanua yang memiliki ratusan waruga. Soalnya, di masa itu waruga masih gampang ditemui di mana-mana pemukiman penduduk Tondano dan Minahasa umumnya, yakni di pekarangan rumah penduduk. 

LIMA HARI
Adrianus Johannes Bik (1790-1872), adalah seorang pelukis terkenal di Hindia-Belanda. Ia antara lain melukis wajah Pangeran Diponegoro. A.J.Bik bersama adiknya Jannus Theodorus Bik (1796-1875) --yang juga pelukis--, ikut dalam perjalanan Prof.Dr.Caspar Georg Karl Reinwardt, Direktur Pertanian, Seni dan Pendidikan untuk Pulau Jawa. Reinwardt dikenal juga sebagai pendiri dan pemimpin pertama Kebun Raya Bogor.

Selama ekspedisi Reinwardt ke Indonesia Timur dari 27 Februari 1821 sampai 26 Juni 1822, Bik melukis berbagai pemandangan, barang antik, penduduk setempat, termasuk pohon dan tanaman. Beberapa sketsa dan lukisan karya Bik tentang Manado (Minahasa) merupakan koleksi Rijksmuseum Volkenkunde di Leiden Negeri Belanda.

Dalam bukunya Reis naar het Oostelijk gedeelte van den Indischen Archipel in het jaar 1821, yang juga memuat lukisan-lukisan Bik, Reinwardt (1773-1854) menulis tiba di Tondano melalui Tataaran dan Koya dari Tomohon pada tanggal 19 Oktober 1821. Ia disambut oleh Opziener Tondano, Komandan Weidemuller, serta para Hukum dan penduduk. Ketika tiba di rumah Oud Hukum yang berada di tengah-tengah negeri, rumah yang jadi tempat Reinwardt menginap selama di Tondano, kerumunan orang dan para Hukum dengan berbagai atribut segera memenuhi pula. Melihatnya, Reinwardt menyimpulkan bahwa Tondano jarang dikunjungi orang Eropa.  

Sangat mungkin Oud Hukum dimaksud Reinwardt adalah Kepala Balak Tondano-Touliang Matulandi yang memerintah tahun 1817-1829. Sementara Kepala Balak di Tondano-Toulimambot adalah Korengkeng. Keduanya menggantikan Kepala Balak Tondano bersatu Majoor Jacob Mantilen Supit yang memimpin Tondano setelah pindah dari negeri lama Minawanua 1810.

Majoor Jacob Supit kemungkinan telah meninggal dan waruganya dipercayai berada di dekat selokan sungai Tondano, di tempat sekarang berdiri SMP Negeri 1 Tondano di Kelurahan Liningaan Kecamatan Tondano Timur. Bisa jadi salah satu lukisan waruga A.J.Bik, adalah kuburannya itu.
                                    
Rumah-rumah di Tondano dicatat Reinwardt sangat besar dan luas, dengan tiang tinggi dan balok-balok berat. Terutama, rumah Oud Hukum dimana ia tinggal, menurut Reinwardt, memiliki penampilan yang sangat baik dan pasti yang terbaik dari seluruh tempat di Tondano.

Namun, dari temuannya, ditambahkan Reinwardt ketika ia mengamati lebih jauh, gambaran bagus itu tidaklah memenuhi penampilan cantik. Digambarkannya, seperti umumnya rumah-rumah Minahasa, di tengah adalah bagian utama dari rumah. Selain kecil, ruang sempit, tanpa furnitur selain ranjang. Lebih jauh lagi, jendela kecil yang tebal, dekat satu sama lain. Lubang persegi di lantai untuk membuang kotoran, pintu tanpa kunci dan hanya sepotong kain untuk pemisah satu sama lain. Kemudian di seberang pintu melalui galeri rumah, sebuah portal kecil berada dapur-dapur.

Ketidaknyamanan lain rumah-rumah besar di Tondano, diungkap Reinwardt pula, karena letaknya berada di tengah jalan, dan jarang dikelilingi pagar halaman. Lalu ketika meninggalkan rumah, tangganya curam, sehingga banyak menimbulkan kecelakaan bagi anak-anak.

Jalan-jalan semua sangat luas dan secara keseluruhan sangat bersih, tetapi dengan banyak ruang di bawah rumah, hal ini jarang terjadi. Pemandangan bertolak belakang, justru terlihat sampai ke ujung tempat rumah-rumah di sepanjang sungai dibangun. Terutama di dekat danau, yang berawa-rawa dan selalu dilanda banjir, menurut Reinwardt, penampilannya sangat tidak menguntungkan dan lusuh. Rumah-rumah kecil di tempat itu sangat buruk dan menggambarkan kemiskinan penduduknya. Lokasinya banyak tidak dapat diakses dengan berjalan kaki, tapi harus melalui air dan lumpur menggunakan bolotu (ditulisnya bloto), perahu kecil yang dibuat dari batang pohon.

Reinwardt menyinggung pula tentang negeri lama Tondano di Minawanua, dengan sisa-sisa pertempuran dan pembumihangusan yang dilakukan Kapten Lodewijk Weintre di tahun 1809 berupa  puing-puing tiang-tiang tinggi rumah panggung penduduk di atas air. Tondano lama dikalahkan setelah pengepungan sembilan bulan. Penduduk dilarang kembali ke Minawanua, dan harus membangun rumah di daratan.

Reinwardt dan rombongannya meninggalkan Tondano lewat Danau Tondano pada hari Rabu tanggal 24 Oktober dengan menggunakan perahu bolotu menuju Remboken. ***

         *Foto Koleksi Rijksmuseum dan repro buku Reinwardt

BAHAN OLAHAN
-C.G.C.Reinwardt, Reis naar het Oostelijk gedeelte van den Indischen Archipel in het jaar 1821.  (ebook Google)
-Wikipedia