Rabu, 30 Januari 2013

Bumihangus dan Pembantaian Rakyat di Kaneyan





                                     Ekspresi Komandan Baron M.Takasaki ketika diadili di Pengadilan Penjahat Perang Dunia II. *)




Kaneyan hanya desa kecil di pelosok Kecamatan Tareran Kabupaten Minahasa Selatan. Tak ada yang mencolok bila mengunjunginya, sebab Kaneyan lazimnya negeri-negeri lain di Tanah Minahasa. Namun, jangan heran, kalau nama Kaneyan harum serta menghiasi buku-buku sejarah yang mengulas tentang Perang Dunia II, khususnya kisah Perang Pasifik serta invasi Jepang ke Indonesia. Dari desa yang di masa tersebut masih masuk wilayah kekuasaan Kepala Distrik Kawangkoan menggelora pertempuran heroik antara pasukan Dai Nippon yang canggih peralatannya melawan sisa-sisa pasukan KNIL dibantu pemuda yang bersenjata senapan mesin ringan seadanya.

Bagi Sersan Johan Meliëzer (kelahiran Ternate 6 Agustus 1896), komandan E Company, peleton (disebut kompi) Reserve Korps (RC) Oud Militairen, Kaneyan merupakan medan pertahanan strategis dalam konsep perang gerilya (gorela) yang telah dikumandangkan Komandan Garnisun (Troepencommandant) Manado Mayor B.F.A.Schilmöller. Kaneyan akan menjadi pertahanan dan medan laga terakhir dari sisa-sisa kompi RK pimpinan Kapten Willem Carel van den Berg yang telah hancur.

Meski sekedar pasukan cadangan, beranggotakan para pensiunan Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), alias militer tua, dengan usia rata-rata di atas 50 tahun, namun semangat juang peleton yang dipimpinnya tidak luntur. Dari 5 peleton awal Reserve Korps, tinggal pasukannya yang tersisa setelah mereka mundur dari Kakas dan Langowan. Pertempuran yang begitu sengit, sehingga banyak menewaskan serdadu Jepang, dan juga banyak korban di pihaknya. Peletonnya ikut menderita kerugian tak terkira, sebab dari tiga brigade (regu) dibawahnya, tinggal tersisa satu regu berkekuatan 15 anggota.

Banyak perwira dan rekannya telah ditahan atau gugur dan dibunuh oleh Jepang yang  tidak mengindahkan aturan baku internasional tentang perlakuan terhadap para tahanan perang (POW). Dari Kompi Manado pimpinan Kapten W.F.J.Kroon, telah dieksekusi di Langowan tanggal 26 Januari Sersan Mayor Infantri Jan Hendrik Kersten, Sersan Mayor Gerrit Bottinga, Sersan J.W.Meijer, Sersan G.H.J.Wissink, Sersan Charles Hendrik Couzijn dan Sersan H.J.A.Rolff ¹.

Willem Carel van den Berg. *)

Di subuh hari Senin tanggal 9 Maret 1942²  yang bersuasana kelabu, ketika sebagian besar penduduk Kaneyan masih terlelap tidur, pasukan Jepang datang menyerang. Jepang mengetahui Sersan Johan Meliëzer beserta sisa-sisa peletonnya bertahan di negeri tersebut. Beberapa serdadu Meliëzer memang asli Kaneyan sehingga sangat menguntungkan rencananya dengan penguasaan medan serta dukungan moral dan materil dari penduduk.

Pasukan Dai Nippon berkekuatan satu kompi organik datang dari dua arah. Tentara berjalan kaki dari arah jembatan Ranotua’na ke Kaneyan, sedang lainnya dengan menggunakan puluhan kendaraan muncul dari jurusan Ritey (kini desa di Kecamatan Amurang Timur). Mereka dihantar langsung Kepala Distrik Amurang, Hukum Besar (Guntjo) Dirk ‘Dicky’ August Theodorus Gerungan serta Kepala Distrik Kedua (Huku Guntjo) Amurang-Tenga, Hukum Kedua Hein ‘Notji’ Constantjin Mantiri.

Pasukan Jepang segera mengepung dengan mengambil steleng di sebelah utara, barat, timur dan selatan negeri untuk mencegah siapa pun meloloskan diri. Ketika penduduk bangun pagi dan mengetahui kedatangan pasukan Jepang, kehebohan segera terjadi. Panik dan ketakutan mereka berlarian tunggang-langgang ke berbagai arah. Namun, dengan mudah ditangkapi, sebab pasukan Jepang telah menyebar dan mencegat di tempat-tempat penting.

Penduduk yang ditangkap langsung diinterogasi disertai dengan penyiksaan. Pukul rata mereka ditanyai dimana pasukan gorela Sersan Johan Meliëzer bersembunyi, dimana rumah-rumah dari para gorela, dimana rumah Hukum Tua dan rumah keluarga Houtman-Pratasis³.

Houtman dimaksud adalah bule keturunan Belgia bernama lengkap Pieter Joseph Houtman yang memperistri wanita asal Kaneyan bernama Carolina Pratasis. Pieter Houtman adalah orang terpandang dan mantan kepala dinas Pekerjaan Umum serta polisi di Kotamobagu Bolaang Mongondow. Ia salah seorang warga sipil penerima gelar kehormatan Ridder (ksatria) in de Militaire Willems-Orde (MWO), yang biasa diberikan untuk tindakan keberanian dan loyalitas. Pieter Houtman diketahui pula seorang yang kaya dan menyimpan puluhan batangan emas murni yang diperolehnya sejak masih bertugas di Kotamobagu.

Pieter dicari Jepang karena menyangkanya sebagai pejabat dari regu pembumihangus (Vernielings Corps) yang dibentuk Belanda untuk menghalangi gerak-maju pasukan Jepang di Minahasa. Regu tersebut bertugas menghancurkan jembatan, gudang-gudang persediaan beras dan kopra yang akan menguntungkan bila nanti jatuh ke tangan Jepang. Selain itu, ia dianggap membantu bekas Reserve Korps KNIL yang bersembunyi di Kaneyan. 

Truk Jepang di (Perlombaan) Kakaskasen Tomohon. *)

Pasukan Jepang segera menyisir menuju ke tengah-tengah negeri dan melakukan penggerebekan. Mereka berhasil menangkap Pieter Houtman dan menyita puluhan batangan emas murni miliknya. Carolina Pratasis istri Pieter berhasil meloloskan diri, lari bersembunyi di hutan bersama-sama dengan keluarga Pratasis lain disertai hukum tua dan keluarga-keluarga dari pasukan Johan Meliëzer.

Marah tidak menemukan orang-orang yang dicari meski telah menangkap Pieter Houtman, pasukan Jepang mulai membabi-buta. Mereka segera membumihanguskan Kaneyan. Dalam sekejab Kaneyan berubah menjadi lautan api yang meludaskan seisi negeri. Habis terbakar antaranya gedung gereja GMIM yang digunakan pula untuk kegiatan belajar-mengajar Sekolah Rakyat (kini SD) GMIM Kaneyan. Lalu rumah hukum tua dan rumah keluarga Pieter Houtman-Pratasis, begitu pun rumah-rumah dari keluarga para serdadu KNIL yang bergerilya. Sebuah jembatan di tengah Kaneyan ikut dihancurkan. 
  
Kebakaran hebat melanda Kaneyan selama hampir tujuh jam. Akibatnya tiga perempat bagian negeri tersebut musnah terbakar, bersama barang-barang perabot rumah, persediaan padi, jagung dan kopi yang belum lama dipanen. Bahkan terbakar pula semua ternak peliharaan seperti babi, ayam dan anjing.

Pembumihangusan Kaneyan disaksikan Guntjo Amurang Dicky Gerungan serta Huku Guntjo Notji Mantiri yang tidak dapat berbuat apa-apa. Dicky Gerungan yang di kemudian hari menjadi Bupati (KDM, Kepala Daerah Minahasa) pertama, saat itu menjadi kepercayaan Letnan Kolonel Toyoaki Horiuchi dari Teikoku Kaigun (AL Kerajaan Jepang, IJN) yang bermarkas di Langowan yang bertugas mengatur pemerintahan sipil di Minahasa.

Frans Albert Suak, saksi mata peristiwa tanggal 9 Maret 1942 itu mengisahkan semua penduduk yang berlarian ditangkap dan dijadikan sandera, dijaga ketat pasukan bersenjata lengkap yang beringas. Tidak memandang bulu apakah sandera masih anak-anak balita atau remaja, wanita dan orang tua tidak berdaya. Mereka semua dicampur-aduk menjadi satu. Hari yang tidak bakal dilupakan Frans Suak, karena hari itu ia genap berumur empat tahun dan ikut ditahan bersama ibu dan seorang adik lainnya.

Pembakaran serta penyanderaan penduduk Kaneyan itu menyebabkan pasukan KNIL Johan Meliëzer melakukan serangan balik, sehingga kemudian terjadi pertempuran sengit. Personil Meliëzer yang awalnya hanya terdiri satu regu (15 orang) telah berkembang menjadi 30 orang setelah sejumlah pemuda Kaneyan, Ritey dan Maliku dibawah pimpinan Simon Penu dan Yahya Rumagit secara sukarela bergabung untuk melawan Jepang.

Para gorela mantan KNIL dan pemuda yang melakukan perlawanan antara lain: Simon Penu, Gerard Ratag, Erick Ratag, Ulrich Umboh, Jus Sumolang, Harun Rantung, Arie ‘Odie’ Ropa, Sengkey Rantung, Hein Rantung, Piet Umboh, Buang Rumengan, Jost Kawulur, Jon Suak, Jan Winerungan, Nyong Tambajong, Kilapong dan Alex Lambertus Lelengboto (masih remaja. Kelak jadi Bupati Minahasa 1982-1987).

‘’Pertempuran berlangsung seru diwarnai dentuman mortir pasukan Jepang dan balasan tembakan peluru para gorela dan pemuda yang bertahan di bukit-bukit,’’ kisah Frans Suak.

Pertempuran berakhir dramatis. Tak ada korban di pasukan Meliëzer. Justru korban jiwa ada di pihak Jepang yang menggunakan senjata berat. Serdadunya banyak menderita luka, bahkan tewas terkena peluru tembakan eks KNIL yang terkenal sebagai penembak-penembak jitu. Delapan tentara Jepang tewas, sedangkan komandannya Baron Masakaze Takasaki menderika luka-luka.

Kemarahan tentara Jepang tak terbendung. Sejumlah gorela termasuk keluarganya, apalagi yang memiliki fam Pratasis ketika tertangkap langsung disiksa dengan dipukul dan ditendang. Mereka pun segera membunuh enam orang tahanan di ujung Kaneyan di tempat bernama Tolongko. Para korbannya adalah: Petrus Penu, Frederik Joel Rumengan yang menjadi Kepala Sekolah Rakyat GMIM Kaneyan, Runtu Ropa dan Sampel Tambajong. Dua wanita yang ikut dibunuh adalah ibu Hukum Tua Ritey Kimbal-Piay-Imbar dan Dina Pratasis seorang janda. Dina Pratasis adalah nenek (oma) Frans Suak dan kakak dari Carolina Pratasis, istri Pieter Joseph Houtman.

‘’Cara pembunuhan para korban termasuk oma saya, sangat sadis dan tidak berperikemanusiaan. Setelah mata mereka ditutup kain hitam, mereka diperintah membuka mulut, lalu ditusuk menggunakan bayonet seperti menyembelih seekor babi,’’ ungkap Frans Suak yang belakangan menjadi guru serta penginjil Pantekosta.

Mayat keenam korban pembunuhan dibiarkan begitu saja di pinggir jalan. Baru berselang beberapa hari kemudian keluarga dan penduduk memberanikan diri mengambil serta menguburkan jenasah mereka.

Usai melakukan pembunuhan, pasukan Jepang yang secara moril kalah, pulang kembali. Tentara yang ke Amurang dihadang ulang pasukan Meliëzer di lokasi bernama Le’ler, sehingga sempat berlangsung bakutembak. Pieter Joseph Houtman bersama emas sitaan dibawa ke Langowan dan dikabarkan segera dieksekusi mati.

Selang beberapa hari kemudian, tentara Jepang dengan kekuatan lebih besar dan bersenjata lengkap kembali mendatangi Kaneyan. Sisa-sisa bangunan dibakar habis. Dengan dipimpin Suoth dan Kawung, mereka menyisiri wilayah-wilayah perkebunan mencari para gorela dan keluarga Pratasis. Dalam operasi ini tertangkap Sersan Johan Meliëzer, Simon Penu, Carolina Houtman-Pratasis, Joel Pratasis, Hukum Tua Kaneyan, Althin Gode Pratasis, Musa Pratasis, Yahya Rumagit, Jus Sumoked, Ulrich Umboh dan Agam Penu. ‘’Ada versi pasukan gorela menyerahkan diri secara sukarela dan tidak melakukan perlawanan lagi karena penduduk Kaneyan dan keluarganya diancam akan dibunuh habis,’’ ungkap Frans Suak.

Kesemua tahanan tersebut diangkut ke Langowan, sekitar 28 kilometer dari Kaneyan. Mereka mengalami siksaan mengerikan selama diinterogasi, dan tak lama kemudian, diperkirakan di awal bulan April 1942 mereka dibawa ke Totolan Kakas dan dibunuh secara kejam serta dikuburkan dalam satu lubang. Sumber-sumber menyebut sebanyak 27 anggota pasukan dan masyarakat Kaneyan yang dibunuh saat itu. Sersan Johan Meliëzer bersama 12 anak buahnya dan sisanya adalah para penduduk. Yang luput dari eksekusi Jepang hanya Agam Penu. 

Penderitaan penduduk Kaneyan setelah pembunuhan para gorela dan warga itu ternyata belum berakhir. Meski tinggal mengungsi di kebun karena rumah dan harta benda sudah habis terbakar, gerak-gerik mereka terus dalam pengawasan Kempetai yang sangat ditakuti.

Belum lama berselang, seluruh warga tanpa pengecualian diperintahkan berkumpul di Amurang. Maka, semua penduduk Kaneyan, laki-laki, perempuan, tua dan muda termasuk anak-anak berjalan kaki sejauh 15 kilometer dengan hanya berpakaian di badan dan tanpa membawa bekal. Ketika tiba di lokasi pemeriksaan (kini sekitar halaman gedung DPRD Kabupaten Minahasa Selatan dan SMP Negeri I Amurang), di bawah pohon beringin, mereka dipisah-pisah. Kaum pria segera diinterogasi tentara Jepang dan Guntjo Dicky Gerungan serta Huku Guntjo Hein Mantiri. Berbekas diingatan Frans Suak yang baru berusia 4 tahun ketika tentara Jepang tanpa segan-segan memukul siapa pun dengan cambuk rotan. Salah satu yang kena cambukan adalah ayahnya sendiri.

Usai pemeriksaan, mereka disuruh pulang kembali dengan berjalan kaki. ‘’Itu merupakan penderitaan tak terhingga, karena rata-rata semua orang dalam kondisi lemah sebab lapar dan kelelahan,’’ kisahnya.

Karena hukum tuanya telah dibunuh, untuk mengisi kevakuman pemerintahan, Guntjo Dicky Gerungan dengan izin Jepang mengangkat Narsisius Ropa menjadi Sontjo (sebutan hukum tua) di Kaneyan.

Belum lama pula, hanya berselisih beberapa minggu kemudian, semua laki-laki Kaneyan diperintahkan untuk bekerjabakti di tempat-t empat jauh, pergi ke Mapanget, Bitung, Kalawiren, Langowan, Kiawa, Tawaang dan bahkan hingga ke Kotamobagu. Mereka diperintah membawa makanan sendiri dan harus jalan kaki tanpa uang. Ketika berangkat, ada penduduk yang mesti membawa roda sapi bersama sapinya, sebab diperintahkan siapa pun yang punya sapi dan roda harus membawanya.

Perwira militer dan angkatan laut Jepang di Manado 1945. *)

Melalui Nantaku, dikisahkan Frans Suak, para laki-laki Kaneyan dipaksa bekerja rodi selama berbulan-bulan. Mereka mesti meninggalkan istri dan anak-anak yang menghuni pondok-pondok kecil di penyingkiran tanpa pakaian dan makanan. Tak heran ketika itu berjangkit penyakit sampar, busung lapar, malaria, luka-luka dan kudis. Untuk membeli obat penduduk tidak memiliki uang. Otomatis obat tradisional yang digunakan.

Kemiskinan luar biasa melanda penduduk. ‘’Kala itu muncul perintah lagi penduduk harus memelihara ayam dan babi yang diperuntukkan Nantaku. Kaum perempuan diwajibkan membuka lahan perkebunan ditanami kapas yang diperuntukkan pabrik tekstil dari perusahaan Jepang Nantaibo. Sehari-suntuk mereka harus bekerja dengan membawa bekal sendiri, sehingga yang menjaga pondok-pondok hanya anak-anak kecil.’’

Penduduk berimprovisasi sendiri. Tak ada pakaian, para lelakinya membuat pakaian cidako dari kulit pohon. Obat malaria diambil dari kulit pohon Kita’ yang diminum sebagai pengganti obat kina.
Selang 3,5 tahun masa pendudukan Jepang di Minahasa, penduduk Kaneyan benar-benar menderita lahir-batin. Tapi, dari penderitaan itu mereka tertempa menjadi orang-orang ulet. Di masa penderitaan itu lahir salah seorang putra Kaneyan yang menjadi terkenal, yakni Alexander Marentek, anak seorang penatua yang juga menjadi korban pembunuhan Jepang di tahun 1942. Marentek adalah diplomat yang pernah menjadi Konsul Jenderal di Davao Filipina dan Amerika Serikat, terakhir sebagai Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri hingga meninggal dalam kecelakaan heli di Bedugul Bali akhir Juni 1978. Ia dimakamkan di TMP Kalibata dan dianugerahi gelar dutabesar anumerta. (adrianus kojongian)
----
¹ Gezocht foto’s van de omgekomen Knil militairen in Java mencatatkan Jan Herman Kersten (kelahiran Groesbeek 12 Mei 1910), Gerrit Bottinga (kelahiran Leeuwarden 22 Juni 1908) serta Charles Hendrik Couzijn (kelahiran Batavia 2 Oktober 1897) dari pasukan Stadswacht (pertahanan kota) dieksekusi tanggal 25 Januari 1942 di Manado. 
² Catatan lain menyebut, pertempuran pertama terjadi tanggal 8 Februari 1942, dan serangan kedua 12 Februari, dimana kelompok Maliëzer berhasil ditangkap
³ Sumber lain menyebut famnya adalah Hoffman, menjabat Kepala polisi di Kotamobagu tahun 1933.

    *).Koleksi foto: www.trove.nla.gov.au, wikipedia.

SUMBER:
-Cahaya Timur Tomohon, edisi no.6 Minggu II Maret 2006, no.7 Minggu III Maret 2006, no.8 Minggu IV Maret 2006 dan no.9 Minggu I April 2006. 
-Gezocht foto's van de omgekomen Knil militairen in Java.
-Adrianus Kojongian dkk: Ensiklopedia Tou Manado.



Minggu, 27 Januari 2013

Misteri Kematian Raja-raja dan Tokoh Satal

 

 

Oleh: Adrianus Kojongian

 

 



Laksamana Muda K.Hamanaka, Residen (Tidji) Manado. *)



Pembunuhan para raja dan tokoh masyarakat Sangihe-Talaud di Bungalawang Tahuna masa penjajahan Jepang menyimpan banyak misteri yang sampai saat ini belum terungkap jelas. Sejumlah penulis, saksi mata, bahkan keturunan dari para korban bersilang pendapat kapan tepatnya tragedi mengenaskan itu terjadi. Ada memastikan kejadiannya berlangsung tahun 1942, lalu 1944 dan paling banyak berpendapat di tahun 1945. Tanggal-tanggalnya bervariasi 7 Juli 1942, 25 Agustus 1942, 9 November 1944, Desember 1944 dan terbanyak tanggal 19 Januari 1945.

Jumlah korban dan siapa-siapa yang dipancung pun dipertentangkan. Beberapa kalangan memastikan sepuluh orang yang dipenggal kepalanya, tapi banyak pihak dan saksi mata menyebut lebih. Bahkan sebelum eksekusi mereka, di Bungalawang (kini kelurahan di Kecamatan Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe) pada hari bersamaan Kempetai (polisi militer) Tahuna terlebih dulu telah mengeksekusi satu keluarga besar terdiri 30 orang berasal dari Tabukan.

Pendapat seragam adalah korban terkenal yang dibunuh bersamaan, yakni: Raja Tahuna (Kendahe-Tahuna) Engelhard Bastiaan, Raja Tagulandang Willem Philips Jacob Simbat, Raja Manganitu Willem Manuel Pandengsolang Mocodompis, Raja Talaud P.G.Koagow, mantan Raja Tahuna Christiaan Nomor Pontoh, Jogugu (sebutan Kepala Distrik) Kendahe Anthoni, Jogugu Manalu (Tabukan Selatan) Karel Patras Macpal, serta istri dokter Gyula Cseszko bernama Emma Rosza Haday von Oerhalma, tenaga Zending di Tahuna Sangihe-Talaud asal Hongaria Eropa. 

Ada menambahkan yang dieksekusi hari itu pun termasuk sang dokter sendiri (meski ditolak anak-anaknya dan saksi mata lain yang memastikan dokter Gyula tewas dalam kamp interniran di Tondano). Lalu terdapat nama guru agama G.Tatengkeng, kepala negeri Buang Kaliapas Jacobs yang versi lain telah dibunuh 25 Agustus 1942, Jogugu Tagulandang B.Jacobs, Jogugu Manganitu B.L.P.Jacobs (versi lain 1942); Jogugu Tamako H.J.P.Macahekum (selain versi Desember 1944). Kemudian ada Jogugu Ondong E.Marthing, Jogugu Taidi dan W.A.Kansil, ipar Raja Manganitu Willem Mocodompis yang memimpin Komite Nasional Siau. Data Belanda masih menambahkan nama B.Hengkenbala, seorang Bootsman (kepala kelasi) KM Eiland Tahuna dari kesatuan KM-KNIL yang dieksekusi 19 Januari 1945.

Raja Willem Mocodompis dan Ratu Ella. *)

Raja Tahuna Engelhard Bastiaan masih muda. Ia menduduki tahtanya tahun 1941 menggantikan ayahnya Albert Bastiaan yang wafat. Raja yang memperistri wanita berfam Parengkuan dari Minahasa itu, saat Jepang berkuasa sedari Mei 1942 hingga Juli 1943 dipercaya menjalankan pemerintahan di bekas Onderafdeeling Sangihe en Talaud-eilanden yang sebelumnya dikendalikan Kontrolir J.G.H.Kramps dan Kontrolir W.Langendonk. Lalu dengan tuduhan dibuat-buat ia ditangkap Kempetai. Ada versi, posisi Syutjo (sebutan raja di masa Jepang) itu tidak lama dipegang, karena ia disebut sudah dieksekusi di tahun 1942 juga.

Raja Willem Philips Jacob Simbat menjadi Raja Tagulandang sejak tahun 1934 menggantikan Hendrik Philips Jacob Malempe. 

Raja Levinus Israel Petrus Macpal dari kerajaan Tabukan kelahiran tahun 1891 adalah anak mantan Jogugu Manalu (Tabukan Selatan). Ia menjabat Jogugu Tabukan Selatan ketika naik tahta menggantikan raja sebelumnya Willem Alexander Kahendake Sarapil yang diberhentikan dan diasingkan Belanda ke Kolonedale Sulawesi Tengah. Pengangkatannya disebut tahun 1929, juga 15 September 1930, namun dari Almanak 1931 disebut ia masih sekedar wd (pejabat, akting ) raja Tabukan di tahun itu.

Raja Manganitu Willem Manuel Pandengsolang Mocodompis kelahiran 11 Juni 1877 memerintah sejak 1910, versi Almanak 1931 dinobatkan 2 Mei 1914. Ia anak mantan raja Manganitu Manuel Soaha ‘Hariraya’ Mocodompis yang memerintah 1864-1880. Ia memindahkan ibukotanya ke Tamako tahun 1916. Dianggap mampu, ia pun dipercaya merangkap jadi pejabat Raja Tahuna periode 1928-1930, dan menerima bintang jasa penghargaan dari Residen Manado tanggal 19 Mei 1936. Permaisuri (Boki)nya adalah Ella Louise Kansil (12 April 1890-Jakarta 2 Mei 1969), putri mantan Raja Siau Lodewijk Kansil. Putri mereka Yolanda Wilhelmina Joachine Mocodompis (Manganitu 10 Januari 1910-Tahuna 20 November 1986) meraih gelar meester in de rechten (Mr, sarjana hukum) dari Universitas Leiden Negeri Belanda. Menurut keluarganya, Raja Willem Mocodompis ditangkap Kempetai bulan Desember 1944 dengan tuduhan mata-mata Sekutu, dipenjarakan sebulan, lalu dieksekusi pancung tanggal 19 Januari 1945 di Tanjung Tahuna bersama mantan Raja Tahuna Christian Pontoh, Raja Tahuna E.Bastiaan, Raja Tabukan Levinus Macpal serta 6 orang tokoh lainnya.

Christiaan Nomor Pontoh adalah tokoh politik terkenal dari Tahuna. Mantan raja lulusan Hoofdenschool (Sekolah Raja) Tondano dan Landbouwschool Buitenzorg ini pernah dipilih menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat, DPR Hindia-Belanda) tahun 1920-1924 duduk di 'fraksi' Christelijk-Ethische Partij. Tanggal 13 Desember 1923 ia memperoleh Ridder in de Orde van Oranje-Nassau. Ia naik tahta kerajaan Tahuna (Kendahe-Tahuna) tahun 1914 (versi lain baru dinobatkan 1917) menggantikan ayahnya Soleman (Salmon) R.Pontoh. Karena kritis terhadap Belanda, di tahun 1929 diturunkan dari tahtanya lalu diasingkan ke Luwuk Sulawesi Tengah, dan baru kembali di Tahuna tahun 1933.

W.A.Kansil, seorang pejuang yang memimpin Komite Nasional Siau (KNS). Dalam kapasitas demikian tanggal 11 Desember 1941 ia mengambilalih kekuasaan di Siau dari tangan Belanda. Jepang kemudian menunjuknya sebagai koordinator pemerintahan di Satal sampai diambilalih Kenkanrikan (Asisten Residen) Hirano. Setelah Raja Willem Mocodompis ditahan, ia ditunjuk sebagai Wakil Syutjo (wakil raja) Manganitu di Tamako menggantikan iparnya tersebut (yang resmi disebut pengganti sebagai raja adalah Jogugu Manganitu Alexander ‘Ambong’ Ambrosius Darondo). Di tahun 1945 Kansil ditangkap dengan tuduhan terlibat pemberontakan di Sangihe Besar serta dieksekusi mati.

R.G.Koagow, Raja Talaud, adalah ambtenar (pejabat) kolonial berasal Minahasa. Semula ia menjabat sebagai Bestuur Asistent, posisi penting dibawah komando langsung Kontrolir. Kemudian oleh Jepang diangkat menjadi Syutjo (Raja) Talaud menggantikan Metusala Tamawiwij, raja sebelumnya yang dipecat. 

Dokter Gyula Cseszko kelahiran tahun 1902 asal Hongaria, diutus tahun 1931 oleh lembaga gereja bekerja sebagai tenaga dokter Zending di Sangihe. Ia dibantu istrinya Emma Rosza Haday von Oerhalma (kelahiran 1907). Dirintisnya rumah sakit yang dinamai Liung Kendage yang pembangunannya dimulai tanggal 10 Januari 1933. Di masa kesulitan besar, bersama istrinya tetap berkarya. Namun dengan tuduhan memiliki bendera Belanda, dituduh melakukan kontak dengan Sekutu serta konon pernah meneriakkan ‘Hidup Ratu’ (Ratu Belanda Wilhelmina), tanggal 29 Maret 1944 ditangkap Kempetai. Menurut putrinya yang juga bernama Emma, saksi melihat dokter tersebut di Airmadidi ketika diseret dari mobil, dan sebulan kemudian ada di penjara Tondano. Ia meninggal di sana setelah luka parah terkena pecahan bom yang dijatuhkan Sekutu. Istri dokter Gyula, yakni Emma Rosza masih tetap bekerja di rumah sakit setelah suaminya ditangkap. Dipercaya beberapa staf tidak menyukai diperintah wanita kulit putih dan menyebar sas-sus ia memiliki radio yang sebenarnya tidak dipunyainya. Tanpa periksa, tanggal 8 Agustus 1944 ia diciduk Kempetai Tahuna dan disiksa bahkan disirami air keras dan dipukuli. Anak gadisnya Emma yang berulangtahun ke-13 diambil dari perawatannya. Lalu tanggal 9 November 1944 (catatan keluarganya) dipenggal di Tanjung Tahuna bersama para tokoh Satal lain.

Dr.Gyula Cseszko bersama Emma von Oerhalma dan para perawat. *)


KISAH CARLOS MAKAGANSA
Carlos Makagansa sepintas tidak berkaitan dengan peristiwanya. Apalagi ia adalah penduduk Kelurahan Kamasi Kecamatan Tomohon Tengah Kota Tomohon. Mantan polisi ini bahkan belasan tahun bekerja sebagai perangkat di Tomohon hingga pensiun sekretaris kelurahan di Paslaten Tomohon.

Sebagai asli orang Sangihe kelahiran Soataloara (kini kelurahan di Tahuna) tanggal 22 Agustus 1929, ia mengaku sebagai saksi mata, satu dari hanya dua orang saksi mata tragedi berdarah yang menewaskan raja-raja, para bangsawan dan istri dokter Gyula tersebut. ‘’Yang melihat banyak orang, meski sembunyi-sembunyi karena takut, tapi itu ketika mereka dibawa dari kantor Kempetai. Sebab, di lokasi Bungalawang hanya 2 orang yang melihat. Saya dan Kopral Wangkai,’’ ungkapnya.

Sayang Carlos tidak mengingat persis lagi tanggal kejadiannya, namun ia yakin peristiwa itu terjadi di tahun 1942. ‘’Saya saat itu baru 12 tahun, tapi dipercayai Jepang. Apalagi saya sedikit tahu bahasa Jepang, belajar pada mata-mata Jepang yang membuka toko Futaba dan kursus bahasa Jepang di Tahuna sebelum pecah Perang Dunia II.’’

Menurutnya, para korban kebanyakan dituduh sebagai kaki tangan atau mata-mata Belanda dan Sekutu. Hari itu, mereka dikeluarkan dari kantor Kempetai, bekas rumah milik orang Tionghoa yang berada di pusat kota Tahuna, di lokasi kelurahan Sawangbendar sekarang. Dari kawasan ‘Pecinan’ Tahuna itu, para korban yang diangkut truk terbuka dibawa ke Bungalawang yang berjarak sekitar 2 kilometer dengan dikawal seregu pasukan Kempetai. Karena takut, masyarakat tidak berani menyaksikan dari dekat. Tapi berbeda dengan Carlos yang saat itu masih sebagai murid Sekolah Zending Tahuna. Ia mengikuti dan melihat peristiwanya dari tempat terlindung ketika para korban mulai dipenggal oleh 2 orang algojo. 

‘’Saya tidak lagi mengingat siapa lebih dulu dieksekusi, sebab yang saya kenal dekat hanya rajaku Engelhard. Jadi dia yang saya ingat dan perhatikan jelas, apalagi eksekusinya dilakukan paling akhir. Sebelum eksekusi berlangsung algojonya sengaja menghambur-hamburkan garam ke mana-mana, entah apa maksudnya,’’ kisah Carlos yang mengungkap lagi masanya di Tahuna 1929-1947 sering berada di istana raja Tahuna di Apengsembeka, dimulai ketika Raja Albert Bastiaan meninggal dunia tahun 1939, dimana seluruh murid Sekolah Zending hadir menyanyikan lagu penghiburan sekaligus penghormatan. Salah seorang anaknya, yakni adik bungsu Raja Engelhard adalah teman sekelasnya ketika pindah dari Hollands Inlands School (HIS) Tahuna yang ditutup Jepang.

Sebelum pembunuhan para raja sendiri, sang algojo telah melakukan pembantaian terhadap satu keluarga besar berasal Tabukan, sebanyak 30 orang. Mereka, menurut Carlos, dituduh melakukan pencurian di lokasi penimbunan persediaan perang Jepang yang dikira sebagai gudang makanan. Hampir semua peristiwa pencurian yang terjadi di kawasan Tahuna dan sekitarnya ditimpakan kepada mereka sebagai pelaku. Setelah dibunuh mereka dikubur bersama dalam satu lubang tersendiri. 

Akhirnya tiba giliran eksekusi bagi korban terakhir yang masih hidup, yakni Raja Tahuna Engelhard Bastiaan. Raja muda tersebut menolak ketika matanya akan ditutup. Ia membungkuk di depan lobang galian lain yang telah berisi jenasah rekan-rekan raja, para bangsawan dan Emma Rosza Cseszko. Lalu sang algojo sambil berteriak keras mengayunkan samurainya, telak mengena tengkuk sang raja. Namun, ajaib tidak terjadi apa-apa, bahkan mata pedang samurai hilang, entah kemana. Algojo kedua mengambilalih. Kembali kejadian seperti tadi terjadi, mata samurai algojo raib. Setelah dua kali gagal, kini kedua algojo beraksi bersama dengan mengganti samurainya dengan bayonet. Mereka menikam menyilang dari sebelah-menyebelah. ‘’Kelihatannya bayonet algojo menembus dari leher ke dada. Namun, kejadian gaib terulang. Rajaku hanya memberontak dan tidak apa-apa, ia masih hidup. Malah ia berteriak dalam bahasa Sangir bahwa Jepang tidak akan dapat membunuhnya. Sambil berteriak demikian ia melepaskan diri dan lari,’’ kisah Carlos Makagansa.

Komandan Kempetai mengancam akan membunuh semua keluarga sang raja. ‘’Bole lari dan hidup, tapi semua keluarga, ibu dan adikmu akan dibunuh,’’ seru komandan. Kontan Raja Engelhard yang baru lari sekitar 50 meter dari lobang galian berhenti. Sang raja ingat ibu dan 3 adiknya, dua gadis dan satu laki-laki, si bungsu teman kelas Carlos.

Disinilah Kopral Wangkai, menurut Carlos, berperan ikut mengambil bagian. Raja berseru-seru mengatakan ia tidak akan dapat dibunuh oleh Jepang lalu meminta tolong papok (sebutan bagi tentara KNIL) tersebut untuk menembaknya mati. Latar belakang sang kopral ternyata unik. ‘’Dia sebenarnya tahanan Jepang, pernah dieksekusi, tapi samurai, bayonet dan tembakan peluru tidak membunuhnya. Jepang lalu mengancam membantai seluruh keluarganya kalau tidak memberitahu kelemahan dari ilmu kebalnya. Ternyata sang papok tidak mempunya istri dan keluarga, sehingga nyawanya selamat. Sejak itu ia dipercaya Jepang, bebas berkeliaran di Tahuna, bahkan semua kebutuhan hidupnya diberi Jepang dengan cuma-cuma.’’

Ketika diminta Raja Engelhard demikian spontan Kopral Wangkai menolak. Namun raja kebal itu kembali memohon. ‘’Oom, bunuh saya. Tolong tembak agar saya mati. Saya tidak akan mati kalau Jepang yang melakukannya. Kalau saya hidup ibu dan saudara saya akan mati. Lebih baik saya yang mati,’’ tutur Carlos menirukan bicara rajanya dalam bahasa Sangir.

Setelah diminta berkali, Kopral Wangkai menyanggupi dengan syarat dibuat perjanjian tertulis bahwa di kemudian hari dia tidak akan dituntut, karena sekedar iba hati membantu sang raja untuk keselamatan keluarganya. Maka, nyawa Raja Tahuna akhirnya melayang setelah ditembak sekali saja oleh Kopral Wangkai. Jasadnya dikubur di lobang bersama tokoh Satal lainnya. 


Istana Raja Tahuna. *)

Kuburan para korban kekejaman Jepang di Bungalawang tersebut pernah digali ulang oleh pasukan Australia ketika Jepang sudah menyerah tak bersyarat pada Sekutu. Saat itu konon telah dilakukan otopsi dan identifikasi. Tentang para korbannya Pejabat Conica (Residen) Manado Kolonel Inf.C.C.de Rooy dalam surat bertanggal 23 Oktober 1945 melaporkan hasil kunjungan Asisten Residen Mayor NICA W.Scheffer yang ikut 'inspeksi' Sekutu ke Satal dibawah pimpinan Mayor R.C.Garnsey A.I.F. Para korban eksekusi Jepang, ungkap de Rooy selain istri dokter Gyula terdiri 4 zelfbestuurders, 6 kepala distrik dan banyak kepala negeri.

Carlos Makagansa dan Kopral Wangkai sendiri setelah kekuasaan Jepang runtuh telah dipanggil dan diperiksa oleh Jaksa Victor Macahekum yang ternyata adalah anak dari Jogugu Tamako H.J.P.Macahekum yang turut dieksekusi Jepang. Konon, menurut Carlos, dirinya bebas karena sekedar saksi mata, begitu pun Wangkai tidak dituntut setelah memperlihatkan surat perjanjian yang diteken Raja Engelhard sebelum eksekusinya.

Peristiwa pembantaian dan penyelamatan anak-anak dokter Gyula baru menyentak dunia ketika suratkabar bergengsi yang terbit di Singapura The Straits Times, edisi 21 Agustus 1947 dan 22 Mei 1955 menurunkan tulisan veteran Richard Hardwick tentang kisah tragis keluarga Cseszko. Anak-anak dokter Gyula dan Emma, yakni: Emma (lahir 1931), Eva (1934), Gyula (1936) dan Jozsef (1939) setelah eksekusi ibu mereka telah dirawat bidan asal Tagulandang, bekas anak buah dokter Gyula di Minanga (kini desa di KecamatanTagulandang Utara) berjarak sekitar 10 kilometer dari Tahuna. Mereka diselamatkan bulan Maret 1945, di saat Keresidenan Manado dan Satal masih dikuasai Jepang. Kondisi mereka sangat menyedihkan. Menderita penyakit tropis dan gizi buruk dengan tubuh penuh bisul. Paling parah adalah Emma selain lemah dan ketakutan, ia pun menderita disentri akut dan terus-menerus pingsan. Mereka diterbangkan diam-diam dengan pesawat Catalina oleh Sekutu ke pulau Morotai Maluku Utara yang telah dibebaskan, baru kemudian ke  Australia. ***

          *). Foto Koleksi: www.trove.nla.gov.au, www.kitlv.nl, www.tropenmuseum.nl.


SUMBER:
-Berbagai literatur tentang Sangihe-Talaud.
-Java Post Nederland, 15 April 2011
-The Staits Times Singapura,  21 Agustus 1947.
-Adrianus Kojongian dkk: Ensiklopedia Tou Manado.

Selasa, 22 Januari 2013

Korban Eksekusi Jepang di Tomohon






Oleh: Adrianus Kojongian

 







Tokoh Tomohon dan Kapten Hidemaru Maeda di depan Gereja Sion. Di pintu digantung tulisan Kolonel Uroko Hashimoto.  *)





Dimana-mana Jepang bertindak tidak manusiawi, tidak terkecuali selama masa pendudukannya yang singkat di bekas Keresidenan Manado selang tahun 1942-1945. Hanya dari kota kecil Tomohon saja ada belasan korban yang dieksekusi mati baik dengan cara ditembak mati atau pun dipancung. Cara terakhir ini paling banyak dilakukan sang algojo, Hideo Yamada yang oleh penduduk setempat sangat ditakuti dan lebih dikenal dengan sebutan Barewok, karena jambang-bauknya. 

Hebatnya, Barewok yang bertempat tinggal di Kamasi hampir setiap pagi suka memamerkan ketajaman golok samurainya untuk disaksikan masyarakat yang tengah beraktivitas di tengah kota, apakah hendak ke pasar atau pun ke tempat bekerja.

Sang Barewok akan beraksi dengan tampang sangarnya usai mengasah samurai. Ia bakal mengayun-ayunkan samurainya memainkan jurus-jurus kendo, yakni silat Jepang menggunakan pedang. Pemandangan demikian tentu mendatangkan kegentaran dan rasa ngeri bagi orang-orang yang lewat yang harus cepat-cepat membungkuk sedalam-dalamnya memberi penghormatan. Dia ditakuti, apalagi setiap pemenggalan yang dilakukannya, boleh malah seakan dirancangkan untuk dilihat oleh khalayak ramai.

Tempat pembantaian Jepang berlokasi di dua tempat di Kuranga, sekarang masuk Kelurahan Talete Dua Kecamatan Tomohon Tengah Kota Tomohon. Pertama di lapangan bekas Normaalschool Protestan (Sekolah Guru Kristen) dimana kini telah berdiri kantor Sinode GMIM yang baru. Kemudian tempat eksekusi Kempetai, terletak di bagian belakang kantornya (sekarang ditempati kantor PLN Tomohon),  sekitar 200 meter dari lokasi pertama.


Kepala Kempetai Tomohon. *)

Memang, Jepang bertindak tegas terhadap siapa pun yang dianggap sebagai mata-mata dan kaki tangan Belanda, bekas KNIL yang bergerilya (Gorela), terlebih bagi orang yang dicapnya sebagai penjahat. Ada yang digelandang terlebih dulu ke kantor polisi (tokei) yang berlokasi di pusat kota, menempati rumah bekas direktur STOVIL (sekolah pendeta) di Paslaten. Kepala tokeinya bernama Kamiura berdiam di Walian, sekitar 2 kilometer selatan kota.
  
Yang diperiksa di kantor Tokei banyak masih selamat karena wakil kepala polisinya adalah sesama orang Manado, Wariki, Butje Oroh, Mamahit, Pelenkahu dan Wim Kumontoy, seorang mantan KNIL. Selain itu Kepala Distrik Kedua Tomohon, Hukum Kedua (camat masa ini yang masa Jepang disebut Huku Guntjo) Ryclof Constantyn Lodewijk Lasut, biasa disapa Notji atau RCL, turut berperan meminimalisir korban Jepang di Tomohon. Tokoh ini kelak di tahun 1944 diangkat Jepang menjadi Guntjo (hukum besar kepala distrik, rank wedana di Jawa).

Namun tersangka yang dibawa ke kantor Kempetai (polisi militer) di Kuranga, lokasi di Talete Dua itu tidak bakalan selamat, karena nasibnya seakan sudah divonis, yakni mati.


R.C.L.Lasut dalam atribut Hukum Kedua. *)


Arie Michail Mandagi, mantan Kepala Distrik Tomohon dan Wakil Bupati Minahasa angkatan Permesta mengungkapkan, selain faktor di atas, ‘dendam’ Jepang kemungkinan sebagai balas dendam atas penangkapan Yamata, seorang perwira angkatan laut Imperial Jepang yang di tahun 1930-an masuk Tomohon dan bertindak sebagai mata-mata. Yamata menyamar sebagai pedagang, membuka toko sandang-pangan di Kamasi (belakangan menjadi gedung bioskop Sonya dan kini supermarket). Tokonya merupakan toko terlengkap dan paling besar di Tomohon.

Yamata yang terkenal ramah ternyata sering membantu masyarakat sekitar dengan memberi persenan atau potongan harga bagi mereka yang berbelanja di tokonya. Ia memiliki lebih sepuluh kendaraan yang uniknya semuanya diberi nama ‘Matahari Terbit’ sebagai tanda kebanggaan atas tanah airnya. Seorang anak dari Kolongan diangkatnya sebagai anak pungut.

Sebelum penangkapannya oleh pemerintah Hindia-Belanda menjelang Perang Pasifik pecah, ia sempat menyelenggarakan pesta besar-besaran yang sangat meriah di Kamasi ketika menyambut para awak kapal perang Jepang yang berpesiar di Tomohon dalam kunjungan muhibahnya di daerah ini. Nasib Yamata tidak diketahui setelah ditangkap pemerintah Hindia Belanda sebelum Manado diduduki Jepang. Konon, seperti anggapan banyak penduduk Tomohon saat itu, ia telah dibunuh Belanda dengan dikenai pasal mata-mata.
 

Yamada, sketsa interniran di kamp Louwerierschool Kaaten. *)


Korban eksekusi pertama di Tomohon adalah Tobias Lucas, asal Lesa Tagulandang Sitaro yang dalam pasukan KNIL berpangkat Fuselier. Lelaki kelahiran 27 November 1911 itu  dibunuh tanggal 11 Januari 1942. Jepang marah besar setelah sejumlah tentaranya tewas akibat penghadangan oleh pasukan Reserve Corps pimpinan Letnan W.G.van de Laar di Tinoor hari itu. Kemarahan belum reda, esok harinya, kembali serdadu KNIL bernama Eng Tjoan Lie --seorang keturunan Tionghoa kelahiran Tahuna Sangihe 2 Maret 1902-- yang ikut ditangkap, dipancung di Kuranga.
  
Penangkapan besar-besaran segera dilancarkan. Frans Rindengan, Hukum Tua Tinoor yang menjabat sejak tahun 1938 diciduk, buntut peristiwa Tambulinas Tinoor. Di Talete, Hukum Tua Jusop Mait (kelahiran 25 November 1881) yang dipilih tahun 1934 ditangkap karena dianggap antek Belanda. Jagoan anggar itu adalah pensiunan Sersan KNIL bergaji 105 gulden (rupiah) sehingga dijuluki Sersan Seratus Lima. Ditangkap bersamanya anaknya bernama Leendert Philips Mongdong Mait kelahiran Rurukan Tomohon 7 April 1904, seorang pensiunan jurutulis bagian personalia (Gep.Staf Schrijver) KNIL. Seorang anak lain Jusop Mait selamat, karena masih kecil.

Frans Rindengan dan Jusop Mait dibawa ke Manado, dan dipancung tanggal 13 Februari 1942 di Gunung Wenang Manado bersama sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa Manado (baca: Akhir Tragis Lie Tjeng Lok, Konglomerat Tempo Doeloe). Leendert P.M.Mait, anak Jusop Mait dieksekusi di Kuranga 19 Februari 1942 bersama-sama Johannis Pangemanan, warga Talete lainnya.

Nani, panggilan Johannis (kelahiran Talete, 16 Maret 1910) seorang sopir (Cfr.D.V.O.KNIL). Ia dituduh menyembunyikan peti uang Belanda. Menurut kisah, ketika Belanda terdesak dan melarikan diri terutama liwat Rurukan banyak peti uang dibuang begitu saja, dan Nani beralasan hanya memungutnya. Alasan mana tidak diterima, dan hukumannya mati.
 

Serdadu Kempetai di area kantornya saat ditahan Sekutu. *)
                                          

Berikutnya, Henri Albert Tronchet, perwira muda KNIL berpangkat Letnan. Pria kelahiran Sarongsong Tomohon tanggal 1 Mei 1909 yang biasa dipanggil Harry atau Ary itu dicari-cari Jepang. Pencarian mana berbuntut pada para pemimpin Kampung Jawa Tomohon, negeri mayoritas Islam yang didirikan oleh tokoh-tokoh perlawanan asal Banten yang diinternir Belanda ke Tanah Minahasa seabad silam. Penangkapan besar-besaran dilakukan. 

 ‘’Jepang melakukan penggerebekan, dan karena tak ada yang mengaku menyembunyikan Ary Tronchet, para pemimpin Kampung Jawa  ditangkap, dibawa ke kantor Tokei di Paslaten lalu ke kantor Kempetai di Kuranga Talete,’’ kisah Haji Hassan Tubagus, tokoh masyarakat Kampung Jawa Tomohon yang beberapa dekade menjabat Imam di Masjid ‘Nurul Iman’ Kampung Jawa Tomohon, sekaligus saksi mata peristiwa tersebut.

Mereka yang ditangkap dan diinterogasi intensif adalah Djakaria Kyai Demak yang sementara menjabat Hukum Tua Kampung Jawa. Berikutnya, mantan Hukum Tua Umar Hadji Ali, tokoh masyarakat Tubagus Arsad, Aminullah Masloman seorang kepala jaga serta Ustad (guru agama) Said Elong.

Tubagus Arsad dan Said Elong, kakak dan ipar Haji Hassan, akhirnya dibebaskan karena dapat memberikan alibi masuk diakal. Namun Hukum Tua Djakaria yang dianggap paling bertanggungjawab sebagai pemimpin negeri, bersama-sama mantan Hukum Tua Umar Hadji Ali dan Aminullah Masloman segera digiring ke lapangan bekas Kweekschool NZG. Disana ketiganya kembali diusut, tapi terus mengaku tidak mengetahui.

Ketiganya pun disuruh menggali lobang. Usai menggali saat ditanya Djakaria mengatakan ia memiliki kartu pas. Petugas memeriksa keabsahan kartu yang diperlihatkannya, dan serta merta ia dibebaskan. Tapi, tidak demikian dengan Djakaria dan Aminullah Masloman. Seketika mereka dibunuh di depan lobang galiannya.

Harry Tronchet yang memperistri Mas Engelen dan ayah dari Vons dan Vonny akhirnya ditangkap di persembunyiannya di Sawangan Sonder, masih berdekatan Kampung Jawa. Ia dibawa ke Manado, dan dieksekusi mati 20 Maret 1942 di lokasi Gunung Wenang Manado.
 
Dari Kamasi, ditangkap Karel Pandeirot, seorang soldadu KNIL. Ia dibawa ke kantor Kempetai. Ketika pemeriksanya lengah, ia meraih samurai di meja, melompat dari jendela lalu lari menyeberangi ruas jalan raya Tomohon-Manado ke arah barat dengan melewati pematang-pematang sawah. Tindakannya sangat nekad. Sambil lari ia melakukan harakiri ala Jepang, menusuk perutnya dengan samurai, dan akhirnya tewas di areal kebun sawah tersebut. Serdadu KNIL lain Yoseph Kainde, ditangkap di Woloan dan dibunuh di Kuranga. Tuduhan baginya selain sebagai gorela, adalah ancaman mau membunuh Huku Guntjo R.C.L.Lasut.

Bekas kopral KNIL Wahani, Lontoh Wowiling dan George Polii (ada menyebutnya George Pinontoan) berasal Paslaten dibunuh ‘divonis’ penjahat dengan tuduhan membunuh seorang Tionghoa tukang blik bernama Chai Chi. Penangkapan baru berlangsung mulus setelah orangtua mereka, istri dan anak-anak mereka bahkan Hukum Tua Paslaten diancam akan ditangkap dan ikut dibunuh bila tidak segera menyerahkan diri.

Dari mereka bertiga, Lontoh Wowiling yang bikin geger. Ia ditakuti serta dianggap mempunyai ilmu kesaktian. Jepang selalu gagal menangkapnya, bahkan Lontoh mencemohi para pemburunya dengan berteriak-teriak lantang (ba kukuk) dari Bukit Kilapong di kaki Gunung Masarang. Namun, setelah keluarganya ditahan ia terpaksa menyerah. Saat dieksekusi, samurai algojo Jepang ternyata tidak mempan memenggal kepalanya. Ia diancam memberitahu kelemahannya kalau tidak seluruh keluarganya termasuk Notji istrinya akan dibunuh. Konon, ia memberitahu kekuatannya ada pada tali pusar (pusak) yang ditanam di bawah tangga rumahnya. Baru eksekusinya berjalan lancar. 

Menurut penuturan, ada banyak lagi orang, kebanyakan bekas KNIL dari luar Tomohon yang dieksekusi Jepang di Kuranga, namun dilakukan secara diam-diam. Dua penerbang Sekutu asal Australia (salah seorang wanita) yang pesawatnya ditembak jatuh di Wawo Walian awal 1945, disiksa sambil dipertontonkan kepada masyarakat Tomohon di lapangan depan gereja 'Sion' Talete Tomohon sebelum dibawa ke Manado dan dihukum mati. Di bawah guyuran hujan deras, para penonton disuruh menyanyi dan berjel-jel : ‘’Amerika kita seterika, Inggris kita linggis.’’ 

Paling akhir sebelum Jepang menyerah kepada Sekutu, mereka menangkap Huku Guntjo Tomohon Jelles Sumayku, wakil dari R.C.L.Lasut yang telah naik sebagai Guntjo, serta wakil kepala Tokei Tomohon Wim Kumontoy. Keduanya dibawa ke Tondano, dan dengan tuduhan sebagai mata-mata Sekutu, dieksekusi awal tahun 1945. ***



    *).Foto Koleksi Kel.R.C.L.Lasut/Bode Talumewo, nla.gov.au, KITLV


SUMBER PUSTAKA: 
Adrianus Kojongian, ‘’Tomohon Dulu dan Kini’’
Adrianus Koj ongian dkk, ‘’Ensiklopedia Tou Manado’’